Jejak Kata :
BARAKATAK (2) BUKU (4) CARPON (52) CATATAN (1) CERPEN (80) CERPEN ANAK (9) DIARI (6) DONGENG (7) DONGENG SUNDA (5) FIKMIN (3) info (1) JEJAK CERPEN (5) KOLOM (2) mengarang (4) MENGIRIM NASKAH (9) NOVEL (2) PUISI (39) RESENSI (1) tps (1)

Kebahagiaan Hati Itu Tak Ada Harganya

Written By Keluarga Semilir on Rabu, 21 Maret 2018 | 00.38


dongengyusrismail.blogspot.com

Saya mengenalnya sebagai Guru Ngaji. Setiap sore dia ke madrasah mengajar iqro sampai Al-Qur’an. Pekerjaan sehari-harinya berjualan bakso. Bukan membuat bakso sendiri dan punya roda atau motor sendiri. Dia bekerja di juragan bakso. Setiap hari berkeliling ke kampung-kampung memakai motor, dan pulangnya mendapat upah. Dia tinggal di rumah kontrakan sederhana bersama istri dan dua orang anaknya yang baru sepuluh dan tujuh tahun.
Suatu hari saat diajak bossnya ke Bandung, saat sedang sibuk berbelanja, dia menyempatkan sholat di masjid. Biasa setelah sholat dia berzikir dan berdo’a. Setelah berdo’a seseorang menghampiri dan mengajaknya berbincang. Entah apa yang dibicarakan awalnya, Guru Ngaji ini merasa tidak mengingat sampai sekarang, orang itu menitipkan sejumlah uang untuk dibagikan kepada fakir-miskin dan anak yatim.
Setelah pulang Guru Ngaji itu membagikan yang diamanatkan kepadanya. Selanjutnya dia membuat nomor rekening. Dan setiap bulan “orang misterius” itu mentransfer sejumlah uang shodaqoh. Guru ngaji itu membagikannya kepada orang tua jompo, anak yatim dan fakir miskin. Dia sangat berbahagia ada yang mempercayai seperti itu. Sudah lama dia berniat ingin membagi rejeki dengan orang-orang yang disebutkan tadi, tapi jangankan untuk berbagi, keluarganya saja seringnya kekurangan.


Dan karena “orang misterius” itu tidak pernah berkata ada bagian untuknya, Guru Ngaji itu pun tidak pernah mengambil sedikit pun setiap membagikan uang jutaan rupiah itu. Malah bensin motor untuk mengambil uang dan berkeliling membagikan, membeli amplop, dia sendiri yang mengeluarkan uang. Itu sudah diniatkan olehnya. Itulah shodaqoh yang bisa dia berikan.
“Setiap membagikan uang jutaan rupiah, saya merasa berbahagia. Istri yang ikut membantu membagikan juga merasakan hal yang sama. Walau di rumah hanya ada beras satu kg,” kisahnya. “Mendengar orang-orang itu mengucapkan terima kasih, mendo’akan, melihat senyum dan kegembiraan di wajah mereka; itu kebahagiaan yang sulit diceritakan.”
Tentu karena keadaan perekonomian Guru Ngaji itu yang jauh dari mapan, peristiwa mengharukan sering terjadi. “Bagi orang tua jompo, selain memberikan uang, sebagian saya berikan berupa beras, minyak, kue-kue dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Para jompo itu kadang berbelanja saja bermasalah, jadi itung-itung membantunya,” kisahnya. “Bila tidak terbagikan semuanya, belanjaan itu suka dibawa dulu ke rumah. Di rumah itu kadang anak-anak saya mengetahuinya dan menginginkan kue-kuenya. Saya sering terharu melihat anak-anak berlinang air mata karena ingin kue, sementara saya tidak punya uang, dan kue-kue itu hak orang lain.”
Guru Ngaji itu sebenarnya bisa saja mengambil sebagian uang yang dititipkan kepadanya. Toh dia tidak mesti membuat laporan. Tidak akan ada orang yang tahu. Tapi dia tidak pernah melakukannya. “Kebahagiaan hati itu tidak ada harganya,” katanya. “Bila saya mengambil sedikit saja uang amanat itu, berarti saya sudah menjual kebahagiaan hati.”


Dongeng Putri Bulan

Written By Keluarga Semilir on Sabtu, 17 Maret 2018 | 23.16

Dongeng Putri Bulan




Bila saya boleh memilih, sebagai penulis, saya ingin selalu menulis cerpen-cerpen seperti yang terkumpul di buku ini. Lepas, bebas, menulis seenaknya, seingatnya, seperti melayang-layang di dunia sendiri. Tak ada lingkungan. Tak ada siapapun. Kalaupun ada, semuanya adalah pelengkap saja tempat saya berkata-kata, tempat saya melepaskan lamunan.
Di buku ini terkumpul 15 cerpen. Cerpen BAJU, BUKAN KISAH CINTA BIASA, DONGENG, DEWI, HARI PALING ANEH DALAM HIDUP SAYA, LEGENDA PENAKLUK HARIMAU, LEGENDA HARIMAU DAN SUMUR TUA,  LELAKI YANG MENCARI KEINDAHAN, LUKISAN, MAYA, PUTRI BULAN, RINDU, RUMAH KONTRAKAN, TETANGGA, dan TAMU.
Bila sudah membaca cerpen-cerpen ini, sepertinya akan maklum dengan yang saya katakan tadi. Cerpen-cerpen ini seperti cermin. Saya ada dengan jelas di sana. Saya ingin terus mengembangkan diri seperti itu....
Tapi hidup kadang berjalan tidak seperti yang diinginkan. Tekanan dari berbagai pihak memaksa saya untuk menulis juga hal-hal yang lain. Bukan berarti tidak menikmati menulis "yang dipaksa" itu. Karena pemaksaan itu juga memberi warna pada diri seseorang. Saya seperti yang terlihat di cerpen-cerpen di buku ini, mungkin tidak akan seperti itu, bila tidak ada pemaksaan, penekanan, jatuh-bangun, dalam perjalanan kehiupan yang terjal ini.
Buku ini diterbitkan oleh Bitread, 2017. Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Bitread yang telah dengan tekun mengerjakan editing, setting, cover buku yang indah, sampai selesainya buku ini. Bagi yang ingin memiliki buku ini, bisa kontak langsung ke penerbit BITREAD.

CARA MENGIRIM CERPEN & PUISI KE HARIAN RAKYAT SULTRA

Written By Keluarga Semilir on Jumat, 17 November 2017 | 10.24

Cerpen Yus R. Ismail

Ketika banyak media cetak daerah terasa kemundurannya, Harian Rakyat Sultra tetap tangguh, khususnya untuk rubrik sastra. Maksudnya kemunduran minimal dilihat dari pengalaman saya (dan juga banyak penulis lainnya) yang semakin susah mendapatkan honor yang lancar. Di kalangan penulis malah ada joke: penulis saat ini harus merangkap dengan menjadi debt collector. Masih untung bila sudah ditagih kemudian bayar honornya. Banyak juga penulis yang malah mendapat umpatan. Padahal honor itu adalah hak mereka. (Lain kali sepertinya saya mesti menulis “babak-belurnya” media cetak menghadapi jaman digital ini.)

Baiklah, kembali kepada Harian Rakyat Sultra. Di media kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara ini ada satu halaman rubrik sastra. Di sana setiap hari Senin dimuatkan cerpen, puisi dan artikel. Halaman ini tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Sulawesi Tenggara. Saya beberapa kali mengirim tulisan ke sana, baik cerpen atau puisi. Alhamdulillah, ada juga yang dimuat.
Secara administrasi Harian Rakyat Sultra ini sangat menyenangkan. Begitu kita mengirim tulisan (cerpen, puisi, artikel), langsung ada balasan. Isinya: Terima kasih, tulisannya sudah diterima. Bila dalam waktu tiga bulan tidak ada pemberitahuan lagi, artinya karyanya tidak lolos seleksi. Dan memang saat dua kali cerpen dan dua kali puisi saya dimuat, ada pemberitahuan seminggu sebelumnya. Bukan hanya pemberitahuan, tapi juga dapat pdf halaman sastra itu yang memuat karya kita itu.
Mengenai honornya, dibayarkan per tiga bulan. Saat pemberiahuan, juga diterangkan bahwa pemberian honor tiga bulan sekali. Misalnya untuk pemuatan bulan Januari, Pebruari, Maret, honornya diberikan akhir Maret. Bila karya kita dimuat Januari awal, honornya akhir Maret. Juga bila karya kita dimuat Maret, honornya ya akhir Maret. Begitu setidaknya pengalaman saya. Besarnya honor, cerpen dan puisi, adalah Rp 340.000 (setelah dipotong pajak). Oh iya, alamat emailnya adalah: bastra.kbsultra@gmail.com. Halaman sastra ini adalah kerja sama Harian Sultra dengan Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. 
Upps, sori, ada yang terlewat. Untuk artikel, panjangnya antara 5000 – 5500 karakter (with space ya), cerpen antara 7500 – 8500 karakter, puisi 5-10 judul. Sertakan juga biodata (dengan alamat dan no rekening), dan foto.
Selamat mencoba.
Ini contoh cerpen saya yang pernah dimuat Harian Rakyat Sultra:
1. MENANG UNDIAN
2. LELAKI YANG MENCARI KEINDAHAN

MENANG UNDIAN

Cerpen Yus R. Ismail

Jantung Tardi berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya setelah mendapat telepon. Seseorang yang mengaku dari perusahaan kopi menghubunginya. Dia mengucapkan selamat. Tardi katanya mendapatkan hadiah utama, sebuah mobil pajero sport. Tardi diminta datang ke kantor kopi itu besok dengan membawa berkas yang diperlukan.
“Bila ini memang betul, kita akan kaya mendadak,” kata Tardi kepada istrinya. “Terima kasih ya Allah, doaku dikabulkan.”
“Tapi Akang kan memang pernah mengirimkan undian kopi?” Istrinya malah balik bertanya.
“Iya, sebulan yang lalu Akang mengirimnya, hanya satu bungkus kopi.”
“Itulah Kang, Allah itu tidak salah memberi rejeki. Kalau sudah rejeki kita, ya tidak akan tertukar.”
Besoknya, Tardi dan istrinya datang ke kantor perusahaan kopi. Betul saja, setelah dicocokkan segala dokumentasinya, Tardi dan istrinya dikasih kunci mobil dalam sebuah acara meriah.
Tentu saja Tardi tidak membawa mobil ke rumah kontrakannya. Mobil seharga empat ratus juta rupiah itu masuk lagi ke dealer. Setelah membayar segala tetek-bengek dan memberi amplop orang-orang yang membantunya, Tardi dan istrinya menyimpan tiga ratus tiga puluh juta rupiah di bank.
Tentu juga uang sebesar itu adalah mimpi indah bagi Tardi dan istrinya. Sudah sepuluh tahun mereka berkeluarga, mempunyai dua orang anak, tapi hidup sepertinya semakin susah. Mereka hanya sanggup mengontrak sebuah rumah yang belum selesai di pinggiran kota seharga satu juta rupiah per tahun. Makan sehari-hari bila tidak nasi dengan tempe, nasi dengan tahu, ya nasi dengan oseng kangkung. Penghasilan laden (pembantu) tukang tembok di proyek bangunan tidak cukup hanya untuk hidup sederhana.
Tiba-tiba sekarang mereka mempunyai buku tabungan dengan saldo Rp 330.000.000,00. Dua hari dua malam mereka meyakini diri bahwa itu bukan mimpi. “Coba lihat di bawah lemari baju, benarkah kita mempunyai tabungan tiga ratus tiga puluh juta rupiah?” kata Tardi kepada istrinya. Pertanyaan kesepuluh kalinya di hari pertama itu diturut oleh istrinya. Betul saja, di bawah tumpukan baju usang mereka memang ada buku tabungan dengan saldo sebesar yang disebutkan tadi.
**
Setelah yakin bahwa mereka tidak bermimpi, Tardi dan istrinya mulai merencanakan membeli ini membeli itu. Rumah dengan perabotannya menjadi prioritas utama. Tanah atau sawah di kampung, sepeda motor, membawa anak-anak ke tempat wisata, pakaian, dan lainnya. Saat itulah istrinya bertanya yang tidak terpikirkan sebelumnya.
“Kang, apakah kita tidak akan syukuran?” tanya istrinya.
“Syukuran? Membuat nasi kuning atau uduk, menggulai ayam, balado telur, capcay, kerupuk, sambal goreng ati, begitu?”
“Ya, seperti itu. Kita membagi ke tetangga-tetangga. Sampai lupa kita membicarakan syukuran, karena kita tidak pernah melakukannya.”
“Tapi nanti tetanga-tetangga tahu kita mendapat hadiiah utama ratusan juta rupiah. Mereka pasti banyak yang datang, meminjam uang, atau malah ada yang terang-terangan meminta.”
Istrinya terdiam. Berarti, tetangga-tetangganya memang tidak ada yang tahu acara pemberian hadiah undian itu. Memang acara itu tidak disiarkan televisi, tapi wartawan dari koran kan banyak. Tapi siapa juga tetangga-tetangga di sini yang berlangganan koran? Mereka hanya membaca sobekan koran bekas pembungkus ikan asin.
“Jadi bagaimana baiknya?” tanya istrinya.
“Baiknya tidak usah syukuran, agar tetangga kita tidak ada yang tahu. Kalau belanja pun kita jangan terlalu mecolok. Jangan belanja siang hari, nanti tetangga kita curiga. Kita harus belanja malam hari.”
Maka dengan menyewa motor dari tukang ojek sebesar dua puluh lima ribu rupiah, Tardi dan istrinya belanja ke swalayan di tengah kota tepat pukul 22.00 WIBB. Jeruk, apel, lengkeng, mangga, telor, daging ayam, daging sapi, makanan kalengan, mie instan, minyak kelapa kemasan, pakaian buat sekeluarga, dan banyak lagi. Sebenarnya istrinya, juga Tardi sendiri, masih ngiler melihat barang-barang yang ada di swalayan itu. Karena baru kali itu mereka belanja di swalayan, apalagi tanpa dibatasi untuk membayarnya.
Pulang dari swalayan Tardi mengendarai motor sambil bersenandung. Istrinya senyum-senyum sendiri sambil mendekap pakaian yang barusan dibelinya. Tapi hanya seperempat jam motor mereka melaju nyaman. Setelah belok ke jalan yang sepi, tiba-tiba di pinggir jalan ada motor-motor yang lampunya menyala.
“Kejjaarr... itu mangsa kita!” teriak seseorang. Motor-motor yang jumlahnya belasan itu pun melesat mengejar motor Tardi. Tentu saja Tardi gugup. Gas ditarik lebih kencang. Tapi tentu bukan tandingan para geng motor itu. Dalam waktu semenit motor Tardi sudah dipepet ke pinggir. Tardi dan istrinya dipukuli. Motor dan belanjaannya direbut.
“Kojek, maju sini...!” kata ketua geng motor itu. Seorang remaja maju dengan wajah gugup dan badan gemetar. “Kamu lulus jadi anggota geng Sadis ini asal keberanianmu mantap! Habisi orang itu! Dan perkosa yang perempuannya, lalu habisi juga!”
Tardi dan istrinya gemetar badannya. Darah mengucur dari hidung dan pelipisnya. Tardi terkesiap ketika ketua geng motor itu mencabut samurai. Besi putih itu berkilat dalam cahaya remang. Bunyi “sreengng” ketika samurai dicabut menghancurkan hati Tardi dan istrinya. Mereka menangis meski matanya terpejam. “Ya Allah, tolong kami. Kami ikhlas kehilangan apapun, asal selamatkan kami,” doa Tardi dan istrinya.
“Habisi!” perintah ketua geng motor itu.
Samurai diangkat remaja itu, lalu angin berdesir oleh sabetan samurai. Saat itulah seseorang meloncat menahan sabetan samurai dengan goloknya. Perkelahian terjadi sekitar satu menit. Geng motor itu pun kabur melarikan diri.
**
Tardi dan istrinya sangat berterima kasih kepada Kang Majun. Tukang sayur di pasar itu mengantar Tardi dan istrinya sampai ke rumah. Tardi dan istrinya segera diobati luka-lukanya. Saat Kang Majun pamitan, Tardi memberi amplop berisi uang satu juta rupiah, semua uang sisa belanja. Tapi Kang Majun menolaknya. Saat ditawari belanjaan sebagai oleh-oleh untuk anaknya, Kang Majun pun menolak.
“Terima kasih banyak, Kang. Tuhan telah menolong kami melalui tangan Kang Majun,” kata Tardi. “Bila Kang Majun menginginkan sesuatu, jangan sungkan datang ke sini.”
Besoknya, meski luka masih terasa nyeri dan perih, Tardi membawa uang ke bank sebesar lima belas juta rupiah. Tardi dan istrinya merencanakan untuk membeli sepeda motor seorang guru yang baru dibeli sebulan lalu. Tapi sebelum mereka ke rumah pak guru itu, Kang Majun datang.
“Wah, maaf mengganggu ya. Kang Majun ini ingat kemarin yang dikatakan kalian berdua, bila menginginkan sesuatu, datang saja ke sini. Kang Majun ini ingin membeli sepeda motor untuk jualan sayuran. Bila punya lima belas juta rupiah....”
Tanpa bicara sepatah pun, Tardi segera mengambil uang dan memberikannya kepada Kang Majun. Tiga hari kemudian Tardi mengambil uang lagi untuk membeli rumah di kampung tetangga. Tapi sebelum Tardi dan istrinya berangkat ke kampung tetangga itu, Kang Majun datang dan meminta uang untuk membeli rumah. Beberapa hari kemudian Kang Majun datang lagi meminta uang untuk membeli gerobak dagangan. Lalu datang meminta uang untuk membeli tanah, modal usaha, membeli beras, ternak, bibit tanaman dan pupuknya, dan entah untuk apa lagi.
“Kang, sudah lebih dari dua ratus juta rupiah uang kita diminta Kang Majun. Kita sendiri, selain belanjaan pertama itu, belum menikmatinya lagi,” kata istrinya.
“Tapi berapapun yang dimintanya jadi terasa murah bila mengingat nyawa kita telah diselamatkannya,” jawab Tardi.
Betul saja, hari-hari berikutnya Kang Majun masih datang meminta ini meminta itu. Dan akhirnya uang tabungan Tardi habis. Setelah Kang Majun pulang, tetangganya ada yang datang ke rumah Tardi.
“Wah, selamat. Tadi saya lihat Kang Majun baru pulang dari sini,” kata tetangganya itu. “Berarti kalian pun diberi uang untuk membeli rumah sederhana, ya?”
“Memangnya kamu diberi uang?” Tardi malah balik bertanya.
“Semua orang miskin di kampung kita ini sepertinya dikasih oleh Kang Majun. Saya ini sudah tiga puluh tahun berkeluarga tapi masih mengontrak rumah tidak selesai ini. Kang Majun membelikan rumah seharga tiga puluh juta rupiah di sebuah kampung terpencil. Saya akan pindah rumah dan alih profesi jadi peternak ikan lele. Ada juga yang diberinya sebidang tanah, gerobak-gerobak untuk jualan beserta modalnya, uang untuk membayar tunggakan sekolah anak-anak, dan banyak lagi.”
Tardi dan istrinya saling memandang. Lalu keduanya menangis, entah menyesali apa. ***

Cilembu, 6 April 2016
Cerpen ini dimuat Harian Rakyat Sultra, 13 November 2017

TATO

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 26 September 2017 | 05.56

sumber gambar: wildtattooart.com

Cerpen ini dimuat Radar Malang 24 September 2017. KLIK di SINI bila ingin membacanya.

PEREMPUAN SUNYI dan SAUDARANYA

Written By Keluarga Semilir on Senin, 11 September 2017 | 05.35


Orang-orang menyebut saya Perempuan Sunyi. Mungkin karena keberadaan saya tidak ditandai dengan suara. Saya tidak berbicara, apalagi keras, apalagi berteriak. Sering ada yang bertamu ke rumah Nenek, setelah lama berbincang dengan Nenek atau Kakek, baru menyadari kehadiran saya di kursi pojok sedang membaca buku.
“Oh, itu Anelis cucu Ibu itu, ya?” tanya tamu sambil tersenyum kepada saya. Nenek selalu mengangguk menjawab pertanyaan seperti itu. Sang tamu kemudian menghampiri saya. “Oh, cantik sekali. Rambutnya begitu indah, matanya begitu cerlang.”
Nenek selalu tersenyum mendengarnya. Mungkin karena tahu, bila tidak ada Nenek, komentar tamu atau orang lain yang melihat saya itu sedikit ada penyimpangan. Mereka akan mengatakan seperti ini: “Kasihan sekali, cantik-cantik kok bisu, tuli dan lumpuh.”
Apapun komentar mereka, saya akan tersenyum. Ya, karena saya tidak bisa bicara. Sudah lama saya berlatih, setiap ingin bicara atau berteriak saya mengalihkannya dengan tersenyum. Karena suara yang keluar dari mulut saya hanya melenguh. Dan saya tidak menyukai suara lenguhan.
**

Kata Nenek, saya sudah bisu, tuli dan lumpuh sejak lahir. Meski begitu, ketika saya lahir ada suara tangis bayi yang keras. Suara tangis bayi yang membuat pendengarnya bersyukur. Tapi suara tangis itu bukan keluar dari mulut saya. Suara tangis itu kepunyaan saudara kembar saya, namanya Inalis.
Nenek selalu bilang, di antara kami berdua yang lebih mirip Ibu adalah saya. Ibu adalah perempuan yang cantik dengan  rambut indah bergelombang, mata cerlang bercahaya, dan senyum seperti bunga yang selalu mekar. Dan Ibu pun perempuan sunyi; bisu, tuli dan lumpuh.
Meski mengalami keterbelakangan mental, tubuh Ibu nyaris normal. Kulit kuning langsat seperti bercahaya, halus mengundang orang untuk membelainya. Ibu bisa berjalan mengesot, bisa melakukan apapun keperluannya sendiri. Mandi, ganti baju, mengambil makanan dari meja makan, Ibu bisa melakukannya. Ibu pernah sekolah, tapi hanya beberapa tahun. Entah kenapa Ibu tidak melanjutkan sekolah, Nenek tidak pernah bercerita.
Suatu hari sepulang bermain di teras belakang rumah, Ibu menangis. Melenguh-lenguh, lalu diam dengan airmata mengalir membasahi pipinya yang ranum. Tangis yang tidak biasa. Karena berhari-hari kemudian, berminggu-minggu kemudian, tangis itu tidak berhenti.
Nenek dan Kakek tentu saja bingung. Tapi kemudian Ibu melupakan tangisnya. Ibu sibuk lagi dengan keterampilan menyulamnya, keterampilan yang diajarkan Nenek sejak kecil. Apapun disulamnya. Taplak meja, sarung bantal, bajunya, hiasan dinding, dan apapun. Sebagian hasil sulaman Ibu dibagikan kepada saudara-saudara yang datang dan tetangga.
Tapi Nenek dan Kakek tidak berhenti bingungnya. Karena beberapa bulan kemudian Ibu tidak juga datang bulan. Waktu dibawa ke dokter, Ibu dinyatakan hamil. Waktu itu usia Ibu dua puluh tahun. Sampai saya dan Inalis lahir, Nenek dan Kakek tidak tahu siapa sebenarnya ayah kami. Ibu selalu menangis setiap ditanya. Ibu pun meninggal waktu melahirkan saya dan Inalis.
**

Kata orang, saya dan Inalis seperti pinang dibelah dua. Hanya yang membedakannya, Inalis lebih besar dan tinggi. Karena sejak kecil Inalis biasa bergerak, menari, menyanyi, dan bermain berlari-larian. Sementara saya hanya menemaninya dari pinggir halaman, tersenyum, bertepuk-tangan, dan ngesot untuk mengejarnya.
Inalis sangat menyayangi saya, seperti juga saya sangat menyayanginya. Inalis selalu membantu saya. Saya dipangkunya untuk dipindahkan dari lantai ke kursi atau tempat tidur. Saya digendongnya ketika ingin melihat pawai kendaraan hias saat perayaan hari kemerdekaan. Saya diberinya makanan dan mainan apapun yang dipunyainya.
Hanya saja Inalis tidak pernah bisa menguasai bibirnya. Bila sudah marah, bicaranya akan panjang, mengomel mengatai apapun yang tidak berhubungan dengan yang membuatnya marah.
Suatu hari saya tidak mau diajaknya bermain.
“Setiap hari saya pangku, saya gendong, saya beri apapun yang saya punya; eh balasannya penolakan hanya dajak bermain. Saudara seperti apa kamu itu?” kata Inalis dengan wajah sinis. “Dasar, anak tidak tahu diri. Sudah lumpuh, bisu dan tuli lagi!”
Inalis tidak tahu kepala saya pening sehingga saya tidak kuat bermain.       
Tentu saja saya terkejut. Saya tidak menyangka Inalis mengatakan kalimat-kalimat pedas seperti itu. Saya menangis saking sedihnya. Tapi Inalis malah seperti yang berbahagia, merasa puas, melihat airmata saya mengalir menyusuri pipi.
“Makanya kamu bicara! Jangan hanya ah-uh auh-ah, seperti monyet! Tahu diri, kamu itu manusia tidak berguna!” katanya semakin membuat airmata saya banjir.
Sejak itu saya tidak ingin bisa bicara seperti Inalis bicara. Keinginan yang sejak saya ingat dan sadar bahwa saya tidak bisa bicara seperti itu, berhenti begitu saja. Seperti sinar matahari yang tertutup awan dan hujan. Saya lalu lebih mempercayai tersenyum sebagai kata-kata. Itulah awalnya mengapa saya dikenal sebagai Perempuan Sunyi yang selalu tersenyum.
“Coba, kamu tahu apa arti senyum Perempuan Sunyi itu kali ini?” tanya seseorang kepada temannya saat melihat saya sedang menyulam di teras rumah. Saat itu senja turun dengan matahari jingga kekuningan.
“Mungkin dia bangga bisa membuat sulaman,” jawab temannya.
“Bukan. Dia pasti berbahagia begitu menyadari bahwa dirinya tidak bisa bicara.”
“Haha... masa karena bisu jadi bahagia?”
“Iya, karena dia tahu, banyak berkata-kata seringkali menutup orang untuk tersenyum.”
Mendengar percakapan seperti itu senyum di bibir saya semakin merekah.
**

Setelah kami dewasa, kata-kata seperti kutukan bagi Inalis. Dia sangat baik kepada siapapun. Tapi begitu sudah berselisih, mulutnya seperti senapan yang tidak akan berhenti sebelum ada peristiwa besar. Sekali waktu, saat Inalis sekolah SMP, teman akrabnya sendiri dikatakan pelit, bodoh, tidak tahu diri, kurang ajar, sengsara, buruk rupa, pecundang, dan entah apa lagi; hanya karena tidak memberinya pinjaman buku. Tentu saja temannya itu marah. Dia memutuskan hubungan pertemanannya.
Saya sendiri tidak sekolah. Nenek mengundang guru les ke rumah. Saya belajar membaca, berhitung, dan menggambar. Saya sangat senang membaca. Saya bisa belajar banyak hal dari bacaan. Ketika guru les saya harus meneruskan kuliah ke luar kota, saya tidak mau lagi belajar. Saya tidak mau guru baru. Lagipula, setelah bisa membaca, saya bisa belajar sendiri.
Lulus kuliah, bekerja, Inalis menikah dan berpisah rumah dengan Nenek dan Kakek. Saya diajaknya juga tinggal di rumah Inalis. Suaminya baik mengijinkan saya ikut tinggal dengan mereka. Lima tahun mereka berkeluarga tapi belum dikasih momongan juga. Sekali waktu Inalis dan suaminya berselisih. Seperti yang sudah-sudah, mulut Inalis seperti senjata yang tidak berhenti menembak.
“Dasar lelaki mandul, miskin, pecundang, tidak tahu diri, pemalas, pengangguran, dan....” Saya tidak hapal apa lagi yang dikatakan Inalis. Suaminya kemudian pergi. Beberapa hari kemudian datang surat cerai dari pengadilan.
Sebulan kemudian Inalis berselisih dengan tetangganya. Setahun kemudian Inalis dijauhi oleh semua tetangganya. Hidup Inalis seperti terasing. Hidup menyendiri di tengah keramaian. Bertemu dengan saya para tetangga itu menyapa dan tersenyum. Tapi begitu melihat Inalis, mereka seperti tidak saling mengenal.
Sekali waktu Inalis menangis. Ujung bibirnya robek berdarah. Awalnya hanya karena ada orang yang lewat tidak bilang permisi. Mulut Inalis lalu menjadi senjata lagi mengeluarkan perbendaharaan kata yang begitu tidak terbayangkan banyaknya. Setiap orang itu lewat, mulut Inalis menembaknya dengan jutaan kata-kata. Orang itu awalnya bingung. Tapi begitu tahu kata-kata sumpah serapah dan ejekan itu ditujukan kepadanya, orang itu memukul Inalis.
Inalis memeluk saya. “An, tahukah engkau, sejak dulu, sejak kita kecil, aku ingin sepertimu,” katanya sambil menangis. “Aku ingin bisu sepertimu.”
Saya tentu saja tersenyum sambil membelai rambutnya.    
**

Sekali waktu keinginan Inalis untuk bisu itu terkabul. Dia tidak bisa berteriak, menembak orang dengan kata-katanya yang tajam, bahkan melenguh pun tidak bisa. Saya memeluknya. “Bicaralah, In, bicaralah seperti biasa,” bisik saya. Tapi Inalis membisu.

Darah segar membasahi tangan saya saat tersentuh belati yang menancap di dada Inalis. 
**
Cerpen ini dimuat Media Indonesia 10 September 2017

PILIHAN

PEREMPUAN SUNYI dan SAUDARANYA

Orang-orang menyebut saya Perempuan Sunyi. Mungkin karena keberadaan saya tidak ditandai dengan suara. Saya tidak berbicara, apalagi ke...

Populer

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni