Jejak Kata :
BARAKATAK (2) BUKU (3) CARPON (52) CATATAN (1) CERPEN (85) CERPEN ANAK (9) DIARI (5) DONGENG (7) DONGENG SUNDA (5) FIKMIN (3) info (1) JEJAK CERPEN (5) KOLOM (2) mengarang (4) MENGIRIM NASKAH (9) NOVEL (2) PUISI (39) RESENSI (1) tps (1)

CARA MENGIRIM CERPEN & PUISI KE HARIAN RAKYAT SULTRA

Written By Keluarga Semilir on Jumat, 17 November 2017 | 10.24

Cerpen Yus R. Ismail

Ketika banyak media cetak daerah terasa kemundurannya, Harian Rakyat Sultra tetap tangguh, khususnya untuk rubrik sastra. Maksudnya kemunduran minimal dilihat dari pengalaman saya (dan juga banyak penulis lainnya) yang semakin susah mendapatkan honor yang lancar. Di kalangan penulis malah ada joke: penulis saat ini harus merangkap dengan menjadi debt collector. Masih untung bila sudah ditagih kemudian bayar honornya. Banyak juga penulis yang malah mendapat umpatan. Padahal honor itu adalah hak mereka. (Lain kali sepertinya saya mesti menulis “babak-belurnya” media cetak menghadapi jaman digital ini.)

Baiklah, kembali kepada Harian Rakyat Sultra. Di media kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara ini ada satu halaman rubrik sastra. Di sana setiap hari Senin dimuatkan cerpen, puisi dan artikel. Halaman ini tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Sulawesi Tenggara. Saya beberapa kali mengirim tulisan ke sana, baik cerpen atau puisi. Alhamdulillah, ada juga yang dimuat.
Secara administrasi Harian Rakyat Sultra ini sangat menyenangkan. Begitu kita mengirim tulisan (cerpen, puisi, artikel), langsung ada balasan. Isinya: Terima kasih, tulisannya sudah diterima. Bila dalam waktu tiga bulan tidak ada pemberitahuan lagi, artinya karyanya tidak lolos seleksi. Dan memang saat dua kali cerpen dan dua kali puisi saya dimuat, ada pemberitahuan seminggu sebelumnya. Bukan hanya pemberitahuan, tapi juga dapat pdf halaman sastra itu yang memuat karya kita itu.
Mengenai honornya, dibayarkan per tiga bulan. Saat pemberiahuan, juga diterangkan bahwa pemberian honor tiga bulan sekali. Misalnya untuk pemuatan bulan Januari, Pebruari, Maret, honornya diberikan akhir Maret. Bila karya kita dimuat Januari awal, honornya akhir Maret. Juga bila karya kita dimuat Maret, honornya ya akhir Maret. Begitu setidaknya pengalaman saya. Besarnya honor, cerpen dan puisi, adalah Rp 340.000 (setelah dipotong pajak). Oh iya, alamat emailnya adalah: bastra.kbsultra@gmail.com. Halaman sastra ini adalah kerja sama Harian Sultra dengan Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara. 
Upps, sori, ada yang terlewat. Untuk artikel, panjangnya antara 5000 – 5500 karakter (with space ya), cerpen antara 7500 – 8500 karakter, puisi 5-10 judul. Sertakan juga biodata (dengan alamat dan no rekening), dan foto.
Selamat mencoba.
Ini contoh cerpen saya yang pernah dimuat Harian Rakyat Sultra:
1. MENANG UNDIAN
2. LELAKI YANG MENCARI KEINDAHAN

MENANG UNDIAN

Cerpen Yus R. Ismail

Jantung Tardi berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya setelah mendapat telepon. Seseorang yang mengaku dari perusahaan kopi menghubunginya. Dia mengucapkan selamat. Tardi katanya mendapatkan hadiah utama, sebuah mobil pajero sport. Tardi diminta datang ke kantor kopi itu besok dengan membawa berkas yang diperlukan.
“Bila ini memang betul, kita akan kaya mendadak,” kata Tardi kepada istrinya. “Terima kasih ya Allah, doaku dikabulkan.”
“Tapi Akang kan memang pernah mengirimkan undian kopi?” Istrinya malah balik bertanya.
“Iya, sebulan yang lalu Akang mengirimnya, hanya satu bungkus kopi.”
“Itulah Kang, Allah itu tidak salah memberi rejeki. Kalau sudah rejeki kita, ya tidak akan tertukar.”
Besoknya, Tardi dan istrinya datang ke kantor perusahaan kopi. Betul saja, setelah dicocokkan segala dokumentasinya, Tardi dan istrinya dikasih kunci mobil dalam sebuah acara meriah.
Tentu saja Tardi tidak membawa mobil ke rumah kontrakannya. Mobil seharga empat ratus juta rupiah itu masuk lagi ke dealer. Setelah membayar segala tetek-bengek dan memberi amplop orang-orang yang membantunya, Tardi dan istrinya menyimpan tiga ratus tiga puluh juta rupiah di bank.
Tentu juga uang sebesar itu adalah mimpi indah bagi Tardi dan istrinya. Sudah sepuluh tahun mereka berkeluarga, mempunyai dua orang anak, tapi hidup sepertinya semakin susah. Mereka hanya sanggup mengontrak sebuah rumah yang belum selesai di pinggiran kota seharga satu juta rupiah per tahun. Makan sehari-hari bila tidak nasi dengan tempe, nasi dengan tahu, ya nasi dengan oseng kangkung. Penghasilan laden (pembantu) tukang tembok di proyek bangunan tidak cukup hanya untuk hidup sederhana.
Tiba-tiba sekarang mereka mempunyai buku tabungan dengan saldo Rp 330.000.000,00. Dua hari dua malam mereka meyakini diri bahwa itu bukan mimpi. “Coba lihat di bawah lemari baju, benarkah kita mempunyai tabungan tiga ratus tiga puluh juta rupiah?” kata Tardi kepada istrinya. Pertanyaan kesepuluh kalinya di hari pertama itu diturut oleh istrinya. Betul saja, di bawah tumpukan baju usang mereka memang ada buku tabungan dengan saldo sebesar yang disebutkan tadi.
**
Setelah yakin bahwa mereka tidak bermimpi, Tardi dan istrinya mulai merencanakan membeli ini membeli itu. Rumah dengan perabotannya menjadi prioritas utama. Tanah atau sawah di kampung, sepeda motor, membawa anak-anak ke tempat wisata, pakaian, dan lainnya. Saat itulah istrinya bertanya yang tidak terpikirkan sebelumnya.
“Kang, apakah kita tidak akan syukuran?” tanya istrinya.
“Syukuran? Membuat nasi kuning atau uduk, menggulai ayam, balado telur, capcay, kerupuk, sambal goreng ati, begitu?”
“Ya, seperti itu. Kita membagi ke tetangga-tetangga. Sampai lupa kita membicarakan syukuran, karena kita tidak pernah melakukannya.”
“Tapi nanti tetanga-tetangga tahu kita mendapat hadiiah utama ratusan juta rupiah. Mereka pasti banyak yang datang, meminjam uang, atau malah ada yang terang-terangan meminta.”
Istrinya terdiam. Berarti, tetangga-tetangganya memang tidak ada yang tahu acara pemberian hadiah undian itu. Memang acara itu tidak disiarkan televisi, tapi wartawan dari koran kan banyak. Tapi siapa juga tetangga-tetangga di sini yang berlangganan koran? Mereka hanya membaca sobekan koran bekas pembungkus ikan asin.
“Jadi bagaimana baiknya?” tanya istrinya.
“Baiknya tidak usah syukuran, agar tetangga kita tidak ada yang tahu. Kalau belanja pun kita jangan terlalu mecolok. Jangan belanja siang hari, nanti tetangga kita curiga. Kita harus belanja malam hari.”
Maka dengan menyewa motor dari tukang ojek sebesar dua puluh lima ribu rupiah, Tardi dan istrinya belanja ke swalayan di tengah kota tepat pukul 22.00 WIBB. Jeruk, apel, lengkeng, mangga, telor, daging ayam, daging sapi, makanan kalengan, mie instan, minyak kelapa kemasan, pakaian buat sekeluarga, dan banyak lagi. Sebenarnya istrinya, juga Tardi sendiri, masih ngiler melihat barang-barang yang ada di swalayan itu. Karena baru kali itu mereka belanja di swalayan, apalagi tanpa dibatasi untuk membayarnya.
Pulang dari swalayan Tardi mengendarai motor sambil bersenandung. Istrinya senyum-senyum sendiri sambil mendekap pakaian yang barusan dibelinya. Tapi hanya seperempat jam motor mereka melaju nyaman. Setelah belok ke jalan yang sepi, tiba-tiba di pinggir jalan ada motor-motor yang lampunya menyala.
“Kejjaarr... itu mangsa kita!” teriak seseorang. Motor-motor yang jumlahnya belasan itu pun melesat mengejar motor Tardi. Tentu saja Tardi gugup. Gas ditarik lebih kencang. Tapi tentu bukan tandingan para geng motor itu. Dalam waktu semenit motor Tardi sudah dipepet ke pinggir. Tardi dan istrinya dipukuli. Motor dan belanjaannya direbut.
“Kojek, maju sini...!” kata ketua geng motor itu. Seorang remaja maju dengan wajah gugup dan badan gemetar. “Kamu lulus jadi anggota geng Sadis ini asal keberanianmu mantap! Habisi orang itu! Dan perkosa yang perempuannya, lalu habisi juga!”
Tardi dan istrinya gemetar badannya. Darah mengucur dari hidung dan pelipisnya. Tardi terkesiap ketika ketua geng motor itu mencabut samurai. Besi putih itu berkilat dalam cahaya remang. Bunyi “sreengng” ketika samurai dicabut menghancurkan hati Tardi dan istrinya. Mereka menangis meski matanya terpejam. “Ya Allah, tolong kami. Kami ikhlas kehilangan apapun, asal selamatkan kami,” doa Tardi dan istrinya.
“Habisi!” perintah ketua geng motor itu.
Samurai diangkat remaja itu, lalu angin berdesir oleh sabetan samurai. Saat itulah seseorang meloncat menahan sabetan samurai dengan goloknya. Perkelahian terjadi sekitar satu menit. Geng motor itu pun kabur melarikan diri.
**
Tardi dan istrinya sangat berterima kasih kepada Kang Majun. Tukang sayur di pasar itu mengantar Tardi dan istrinya sampai ke rumah. Tardi dan istrinya segera diobati luka-lukanya. Saat Kang Majun pamitan, Tardi memberi amplop berisi uang satu juta rupiah, semua uang sisa belanja. Tapi Kang Majun menolaknya. Saat ditawari belanjaan sebagai oleh-oleh untuk anaknya, Kang Majun pun menolak.
“Terima kasih banyak, Kang. Tuhan telah menolong kami melalui tangan Kang Majun,” kata Tardi. “Bila Kang Majun menginginkan sesuatu, jangan sungkan datang ke sini.”
Besoknya, meski luka masih terasa nyeri dan perih, Tardi membawa uang ke bank sebesar lima belas juta rupiah. Tardi dan istrinya merencanakan untuk membeli sepeda motor seorang guru yang baru dibeli sebulan lalu. Tapi sebelum mereka ke rumah pak guru itu, Kang Majun datang.
“Wah, maaf mengganggu ya. Kang Majun ini ingat kemarin yang dikatakan kalian berdua, bila menginginkan sesuatu, datang saja ke sini. Kang Majun ini ingin membeli sepeda motor untuk jualan sayuran. Bila punya lima belas juta rupiah....”
Tanpa bicara sepatah pun, Tardi segera mengambil uang dan memberikannya kepada Kang Majun. Tiga hari kemudian Tardi mengambil uang lagi untuk membeli rumah di kampung tetangga. Tapi sebelum Tardi dan istrinya berangkat ke kampung tetangga itu, Kang Majun datang dan meminta uang untuk membeli rumah. Beberapa hari kemudian Kang Majun datang lagi meminta uang untuk membeli gerobak dagangan. Lalu datang meminta uang untuk membeli tanah, modal usaha, membeli beras, ternak, bibit tanaman dan pupuknya, dan entah untuk apa lagi.
“Kang, sudah lebih dari dua ratus juta rupiah uang kita diminta Kang Majun. Kita sendiri, selain belanjaan pertama itu, belum menikmatinya lagi,” kata istrinya.
“Tapi berapapun yang dimintanya jadi terasa murah bila mengingat nyawa kita telah diselamatkannya,” jawab Tardi.
Betul saja, hari-hari berikutnya Kang Majun masih datang meminta ini meminta itu. Dan akhirnya uang tabungan Tardi habis. Setelah Kang Majun pulang, tetangganya ada yang datang ke rumah Tardi.
“Wah, selamat. Tadi saya lihat Kang Majun baru pulang dari sini,” kata tetangganya itu. “Berarti kalian pun diberi uang untuk membeli rumah sederhana, ya?”
“Memangnya kamu diberi uang?” Tardi malah balik bertanya.
“Semua orang miskin di kampung kita ini sepertinya dikasih oleh Kang Majun. Saya ini sudah tiga puluh tahun berkeluarga tapi masih mengontrak rumah tidak selesai ini. Kang Majun membelikan rumah seharga tiga puluh juta rupiah di sebuah kampung terpencil. Saya akan pindah rumah dan alih profesi jadi peternak ikan lele. Ada juga yang diberinya sebidang tanah, gerobak-gerobak untuk jualan beserta modalnya, uang untuk membayar tunggakan sekolah anak-anak, dan banyak lagi.”
Tardi dan istrinya saling memandang. Lalu keduanya menangis, entah menyesali apa. ***

Cilembu, 6 April 2016
Cerpen ini dimuat Harian Rakyat Sultra, 13 November 2017

KEMBANG BAKUNG

Written By Keluarga Semilir on Kamis, 28 September 2017 | 11.14

cerpen yus r. ismail

“Menggigil tapi badannya panas, Bu,” kata Mang Karta menceritakan keadaan anaknya, Siti. “Sejak dua hari yang lalu panasnya, Bu.”
“Kenapa tidak dibawa ke Puskesmas?”
“Katanya mau sama Ibu saja.” Mang Karta diam beberapa saat. “Maafkan anak saya, Bu, sudah semakin kurang ajar sama Ibu.”
Saya meneguk segelas air putih, mengambil tas stetoskop, mewadahi obat ke dalam plastik; lalu keluar rumah.
Bik Minah mencegat saya di pintu. “Katanya Ibu mau mandi, air hangatnya sudah siap,” katanya.
“Nanti saja, Bik, saya nengok Siti dulu,” kata saya. Lalu berangkat dengan Mang Karta.
Hari menjelang maghrib. Saya sebenarnya baru sampai setelah tiga hari ada keperluan ke kota. Yang dimaksud kota adalah Sumedang, ibu kota kabupaten, atau Bandung, ibu kota propinsi. Karena keperluan saya ke Bandung, sekalian saya mampir ke rumah Om Ardi, adik Ayah.
Pulang dari Bandung bukanlah perjalanan ringan bagi saya. Berdesakan di elf dari terminal Cicaheum, kadang berjam-jam ngetem di Cibiru. Sampai di Cadas Pangeran, dilanjutkan dengan angkutan umum sampai Ciwening. Terakhir naik ojek selama satu jam, melewati perkebunan penduduk, tepi hutan, dan jalan berbatu. Bila musim hujan tiba seperti sekarang, lebih sengsara lagi. Jalanan licin, motor bisa terpeleset di mana saja. Untungnya ada beberapa tukang ojek tetangga saya yang siap mengantar atau menjemput saya kapan saja, selalu hormat dan menjaga saya.
Badan Siti memang panas, 38.7 derajat celcius. Tapi anak itu seperti tidak merasakannya. Saya kasih parasetamol dan vitamin.
“Bu, jadi kita belajar bahasa Inggris itu?” tanyanya.
“Tentu dong, tapi Siti harus sembuh dulu,” jawab saya. “Pasti gara-gara hujan-hujanan lagi, ya?”
Siti tersenyum. “Besok juga sembuh, Bu,” katanya yakin.
**


Sampai di depan rumah hari sudah mulai gelap. Lampu depan sudah dinyalakan Bik Minah. Rumah sederhana, kecil, terlampau sederhana malah buat saya yang sejak kecil tinggal di perumahan elit di Jakarta. Rumah dinas buat dokter di kampung terpencil ini.
Kebun seluas sepuluh bata (140 meter per segi) di sebelah rumah, dibuat taman dengan bantuan Mang Karta dan tetangga lainnya. Sebuah gubuk bambu, panggung, berdiri cantik di tengah taman. Gubuk tempat anak-anak membaca buku dan belajar apa saja. Baru sebulan gubuk itu dibangun.
Siti yang mempunyai ide. Anak kurus itu membaca buku hampir setiap hari. Kebetulan saya mempunyai koleksi buku bacaan. Mulai dari cerita, dongeng, sampai ensiklopedia. Sejak kecil hobi saya membaca dan mengoleksi buku. Untuk teman sepi saja sebagian saya bawa ke sini.
“Seandainya Ibu punya taman, ada gubuk di tengahnya, kita bisa lebih leluasa membaca dan belajar ya, Bu,” kata Siti suatu kali. Mungkin dia merasa canggung saat datang untuk membaca buku saya kelihatan masih lelah.
Besoknya Siti datang lagi dengan laporan baru. “Bu, kata Abah saya, kalau Ibu ingin dibuatkan gubuk, boleh dipakai saja kebun di sebelah rumah ini,” katanya. “Kebun itu kan dititipkan ke Abah saya.”
Tiga hari kemudian, hari minggu, Mang Karta datang bersama tetangga lainnya. Mereka membersihkan kebun, membuat taman, membangun gubuk bambu. Anak-anak bergembira ikut membantu. Ibu-ibunya membuat nasi liwet. Sorenya sudah berdiri sebuah gubuk, taman yang tertata rapi meski tanamannya baru sedikit.
**
Duduk di gubuk panggung menjelang gelap, saya seperti menyusuri perjalanan yang menakjubkan. Sampai tiga tahun yang lalu ketika begitu gembiranya saya diantar Ayah dan Ibu menghadiri wisuda, tidak terbayangkan sedikit pun episode perjalanan hidup seperti ini.
“Jadi pegawai negeri itu lebih terjamin saat ini,” kata Ayah. Entah apa yang ada di pikiran Ayah saat itu. Karena Ayah sendiri adalah seorang pengusaha. Ibu yang menjadi pegawai negeri, guru di sebuah SMU. “Mendaftarlah ke Departemen Kesehatan, pengabdian ke pelosok tidak terlalu lama.”
Tapi waktu yang tidak terlalu lama itu telah membuat saya terpana. Seorang anak yang batuk menyambut saya di Puskesmas yang sangat sederhana. Batuk yang memercikkan setetes darah tbc.
Saya merasa ngeri waktu meraba dada anak yang kurus itu. Ngeri karena dada tulang berbungkus kulit itu menggambarkan lingkaran setan kemiskinan – kebodohan – kurang gizi. Nyatanya saya menghadapi lingkaran setan itu setiap hari.
**
Lembah Ciceuri sebenarnya bertanah subur. Sepertinya pohon apapun yang ditanam di sini akan tumbuh bagus. Katanya, mata air memancar di mana-mana. Dulu, sebelum pepohonan ditebang. Sebelum kebun-kebun penduduk berpindah tangan ke pemilik yang jarang datang. Sebelum hutan Ciceuri gundul karena dibuat peternakan ayam.
Orang-orang kota berebut membeli tanah di sini. Mungkin karena harganya sangat murah. Tanah seluas sepuluh hektar, dua puluh hektar, lalu dibatasi tembok tinggi atau pagar kawat. Pemiliknya hanya dikenal dengan nama sandinya, “pejabat di Bandung” atau “orang terkenal di Jakarta”.
Pepohonan besar ditebangi. Mata air semakin jarang. Penduduk asli kemudian menjadi petani penggarap atau pengurus kebun. Mereka tinggal di rumah-rumah sederhana, berjauhan, kadang hanya satu-dua rumah di kebun yang luas.
Cerita seperti itu tentu saya tidak mengalaminya. Karena ketika saya datang tiga tahun yang lalu, Lembah Ciceuri sudah gersang. Bila kemarau tiba, penduduk menghemat air. Bila musim hujan tiba, jalanan becek, licin, dan sunyi.
Tapi di dalam hati saya lebih sunyi lagi. Saya teringat suatu pagi di hari minggu, saat jalan-jalan menyusuri perkampungan, saya mampir ke sebuah rumah. Mereka sedang makan. Saya ikut makan. Saya harus mencoba akrab dengan mereka, membiasakan diri makan apa yang mereka makan. Saya begitu terpana saat suap pertama masuk ke mulut. Gigi saya berhenti mengunyah. Saya ingin muntah, tapi ditahan.
“Maaf, Bu, nasinya tidak pakai bumbu-bumbu,” kata Mak Esih sudah terus rasa. “Saya tidak mengira Ibu akan ikut makan, jadi beras raskin saya tanak biasa saja.”
Semalaman saya tidak bisa tidur. Hampir setiap hari mereka makan seperti itu. Bagaimana bisa kebutuhan gizi mereka cukup? Bagaimana dengan anak-anak? Mereka memelihara ayam, tapi menjelang musim hujan ayamnya mereka jual. Mereka tidak menganggap penting menanam sayuran di halaman.
**
Setelah dua tahun saya mengabdi di Puskesmas terpencil ini, Ayah dan Ibu menjemput.
“Saatnya sekarang kamu pulang. Meneruskan profesi atau spesialis. Masa depanmu ada di Jakarta atau kota besar lainnya,” kata Ayah.
Tapi saya menangis. Saya pulang ke Jakarta. Jakarta yang ramai. Jakarta yang padat. Tapi saya merasa kesepian. Ada sesuatu yang perih di dalam hati saat memandang anak-anak kecil menadahkan tangan di stopan-stopan, orang-orang mengais sampah di pembuangan akhir, orang-orang berdesakan sampai ada yang pingsan bahkan meninggal setiap orang kaya atau pejabat membagikan sembako gratis atau angpau. Saya seperti orang buta yang baru saja diberi keajaiban bisa melihat.
“Saya mau sekolah lagi, tapi mau kembali lagi ke Ciceuri,” kata saya.
“Kenapa?” Ayah seperti yang bingung. “Bagaimana kamu akan mendapat jodoh kalau kamu tetap di sana?”
Saya tersenyum. “Ah, Ayah, itu kan urusan Tuhan. Kita hanya wajib terbuka dan berusaha,” kata saya.
Ibu memeluk saya. “Ibu percaya, hati kamu begitu indah,” bisiknya. Airmatanya terasa membasahi pipi saya.
**
Hari minggu pagi Siti datang dengan membawa bibit bunga bakung.
“Ini bunga bakung hutan, Bu,” katanya. “Bunganya merah menyala, fink, ada juga yang putih. Orang sini biasa memakai bunga bakung ini sebagai pertanda musim hujan. Meski hujan sudah turun sekali-kali, tapi bila bunga bakung ini belum berbunga, orang sini tidak berani bertani.”
“Oh, jadi kemarin demam itu karena mencari bunga bakung hutan kehujanan, ya?”
Siti tersenyum. “Tapi nanti taman kita akan indah, Bu,” katanya. “Saya ingin pintar, Bu.”
Teman-teman Siti mulai berdatangan. Mereka menjinjing pepohanan, entah pohon apa. Mereka mencium tangan saya. Saling bercanda dengan yang lainnya.
Saya tersenyum. Tapi hati ini tetap merasa sepi. Saya seperti orang buta yang baru saja diberi keajaiban bisa melihat. ***
 Keterangan :
 Raskin = Beras miskin, beras dari pemerintah yang dibagikan untuk masyarakat miskin. Di RT/RW biasanya harus ditebus dengan harga sekiar 2-3 ribu rupiah per kilogram. Raskin seringkali berbau apek yang luar biasa. Memasaknya harus memakai bumbu pandan, salam, serai, biar bau apeknya berkurang.
Cerpen ini pernah dimuat tabloid Genie akhir April 2017
foto: dokumen pribadi. 

TATO

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 26 September 2017 | 05.56

sumber gambar: wildtattooart.com

Cerpen ini dimuat Radar Malang 24 September 2017. KLIK di SINI bila ingin membacanya.

PEREMPUAN SUNYI dan SAUDARANYA

Written By Keluarga Semilir on Senin, 11 September 2017 | 05.35


Orang-orang menyebut saya Perempuan Sunyi. Mungkin karena keberadaan saya tidak ditandai dengan suara. Saya tidak berbicara, apalagi keras, apalagi berteriak. Sering ada yang bertamu ke rumah Nenek, setelah lama berbincang dengan Nenek atau Kakek, baru menyadari kehadiran saya di kursi pojok sedang membaca buku.
“Oh, itu Anelis cucu Ibu itu, ya?” tanya tamu sambil tersenyum kepada saya. Nenek selalu mengangguk menjawab pertanyaan seperti itu. Sang tamu kemudian menghampiri saya. “Oh, cantik sekali. Rambutnya begitu indah, matanya begitu cerlang.”
Nenek selalu tersenyum mendengarnya. Mungkin karena tahu, bila tidak ada Nenek, komentar tamu atau orang lain yang melihat saya itu sedikit ada penyimpangan. Mereka akan mengatakan seperti ini: “Kasihan sekali, cantik-cantik kok bisu, tuli dan lumpuh.”
Apapun komentar mereka, saya akan tersenyum. Ya, karena saya tidak bisa bicara. Sudah lama saya berlatih, setiap ingin bicara atau berteriak saya mengalihkannya dengan tersenyum. Karena suara yang keluar dari mulut saya hanya melenguh. Dan saya tidak menyukai suara lenguhan.
**

Kata Nenek, saya sudah bisu, tuli dan lumpuh sejak lahir. Meski begitu, ketika saya lahir ada suara tangis bayi yang keras. Suara tangis bayi yang membuat pendengarnya bersyukur. Tapi suara tangis itu bukan keluar dari mulut saya. Suara tangis itu kepunyaan saudara kembar saya, namanya Inalis.
Nenek selalu bilang, di antara kami berdua yang lebih mirip Ibu adalah saya. Ibu adalah perempuan yang cantik dengan  rambut indah bergelombang, mata cerlang bercahaya, dan senyum seperti bunga yang selalu mekar. Dan Ibu pun perempuan sunyi; bisu, tuli dan lumpuh.
Meski mengalami keterbelakangan mental, tubuh Ibu nyaris normal. Kulit kuning langsat seperti bercahaya, halus mengundang orang untuk membelainya. Ibu bisa berjalan mengesot, bisa melakukan apapun keperluannya sendiri. Mandi, ganti baju, mengambil makanan dari meja makan, Ibu bisa melakukannya. Ibu pernah sekolah, tapi hanya beberapa tahun. Entah kenapa Ibu tidak melanjutkan sekolah, Nenek tidak pernah bercerita.
Suatu hari sepulang bermain di teras belakang rumah, Ibu menangis. Melenguh-lenguh, lalu diam dengan airmata mengalir membasahi pipinya yang ranum. Tangis yang tidak biasa. Karena berhari-hari kemudian, berminggu-minggu kemudian, tangis itu tidak berhenti.
Nenek dan Kakek tentu saja bingung. Tapi kemudian Ibu melupakan tangisnya. Ibu sibuk lagi dengan keterampilan menyulamnya, keterampilan yang diajarkan Nenek sejak kecil. Apapun disulamnya. Taplak meja, sarung bantal, bajunya, hiasan dinding, dan apapun. Sebagian hasil sulaman Ibu dibagikan kepada saudara-saudara yang datang dan tetangga.
Tapi Nenek dan Kakek tidak berhenti bingungnya. Karena beberapa bulan kemudian Ibu tidak juga datang bulan. Waktu dibawa ke dokter, Ibu dinyatakan hamil. Waktu itu usia Ibu dua puluh tahun. Sampai saya dan Inalis lahir, Nenek dan Kakek tidak tahu siapa sebenarnya ayah kami. Ibu selalu menangis setiap ditanya. Ibu pun meninggal waktu melahirkan saya dan Inalis.
**

Kata orang, saya dan Inalis seperti pinang dibelah dua. Hanya yang membedakannya, Inalis lebih besar dan tinggi. Karena sejak kecil Inalis biasa bergerak, menari, menyanyi, dan bermain berlari-larian. Sementara saya hanya menemaninya dari pinggir halaman, tersenyum, bertepuk-tangan, dan ngesot untuk mengejarnya.
Inalis sangat menyayangi saya, seperti juga saya sangat menyayanginya. Inalis selalu membantu saya. Saya dipangkunya untuk dipindahkan dari lantai ke kursi atau tempat tidur. Saya digendongnya ketika ingin melihat pawai kendaraan hias saat perayaan hari kemerdekaan. Saya diberinya makanan dan mainan apapun yang dipunyainya.
Hanya saja Inalis tidak pernah bisa menguasai bibirnya. Bila sudah marah, bicaranya akan panjang, mengomel mengatai apapun yang tidak berhubungan dengan yang membuatnya marah.
Suatu hari saya tidak mau diajaknya bermain.
“Setiap hari saya pangku, saya gendong, saya beri apapun yang saya punya; eh balasannya penolakan hanya dajak bermain. Saudara seperti apa kamu itu?” kata Inalis dengan wajah sinis. “Dasar, anak tidak tahu diri. Sudah lumpuh, bisu dan tuli lagi!”
Inalis tidak tahu kepala saya pening sehingga saya tidak kuat bermain.       
Tentu saja saya terkejut. Saya tidak menyangka Inalis mengatakan kalimat-kalimat pedas seperti itu. Saya menangis saking sedihnya. Tapi Inalis malah seperti yang berbahagia, merasa puas, melihat airmata saya mengalir menyusuri pipi.
“Makanya kamu bicara! Jangan hanya ah-uh auh-ah, seperti monyet! Tahu diri, kamu itu manusia tidak berguna!” katanya semakin membuat airmata saya banjir.
Sejak itu saya tidak ingin bisa bicara seperti Inalis bicara. Keinginan yang sejak saya ingat dan sadar bahwa saya tidak bisa bicara seperti itu, berhenti begitu saja. Seperti sinar matahari yang tertutup awan dan hujan. Saya lalu lebih mempercayai tersenyum sebagai kata-kata. Itulah awalnya mengapa saya dikenal sebagai Perempuan Sunyi yang selalu tersenyum.
“Coba, kamu tahu apa arti senyum Perempuan Sunyi itu kali ini?” tanya seseorang kepada temannya saat melihat saya sedang menyulam di teras rumah. Saat itu senja turun dengan matahari jingga kekuningan.
“Mungkin dia bangga bisa membuat sulaman,” jawab temannya.
“Bukan. Dia pasti berbahagia begitu menyadari bahwa dirinya tidak bisa bicara.”
“Haha... masa karena bisu jadi bahagia?”
“Iya, karena dia tahu, banyak berkata-kata seringkali menutup orang untuk tersenyum.”
Mendengar percakapan seperti itu senyum di bibir saya semakin merekah.
**

Setelah kami dewasa, kata-kata seperti kutukan bagi Inalis. Dia sangat baik kepada siapapun. Tapi begitu sudah berselisih, mulutnya seperti senapan yang tidak akan berhenti sebelum ada peristiwa besar. Sekali waktu, saat Inalis sekolah SMP, teman akrabnya sendiri dikatakan pelit, bodoh, tidak tahu diri, kurang ajar, sengsara, buruk rupa, pecundang, dan entah apa lagi; hanya karena tidak memberinya pinjaman buku. Tentu saja temannya itu marah. Dia memutuskan hubungan pertemanannya.
Saya sendiri tidak sekolah. Nenek mengundang guru les ke rumah. Saya belajar membaca, berhitung, dan menggambar. Saya sangat senang membaca. Saya bisa belajar banyak hal dari bacaan. Ketika guru les saya harus meneruskan kuliah ke luar kota, saya tidak mau lagi belajar. Saya tidak mau guru baru. Lagipula, setelah bisa membaca, saya bisa belajar sendiri.
Lulus kuliah, bekerja, Inalis menikah dan berpisah rumah dengan Nenek dan Kakek. Saya diajaknya juga tinggal di rumah Inalis. Suaminya baik mengijinkan saya ikut tinggal dengan mereka. Lima tahun mereka berkeluarga tapi belum dikasih momongan juga. Sekali waktu Inalis dan suaminya berselisih. Seperti yang sudah-sudah, mulut Inalis seperti senjata yang tidak berhenti menembak.
“Dasar lelaki mandul, miskin, pecundang, tidak tahu diri, pemalas, pengangguran, dan....” Saya tidak hapal apa lagi yang dikatakan Inalis. Suaminya kemudian pergi. Beberapa hari kemudian datang surat cerai dari pengadilan.
Sebulan kemudian Inalis berselisih dengan tetangganya. Setahun kemudian Inalis dijauhi oleh semua tetangganya. Hidup Inalis seperti terasing. Hidup menyendiri di tengah keramaian. Bertemu dengan saya para tetangga itu menyapa dan tersenyum. Tapi begitu melihat Inalis, mereka seperti tidak saling mengenal.
Sekali waktu Inalis menangis. Ujung bibirnya robek berdarah. Awalnya hanya karena ada orang yang lewat tidak bilang permisi. Mulut Inalis lalu menjadi senjata lagi mengeluarkan perbendaharaan kata yang begitu tidak terbayangkan banyaknya. Setiap orang itu lewat, mulut Inalis menembaknya dengan jutaan kata-kata. Orang itu awalnya bingung. Tapi begitu tahu kata-kata sumpah serapah dan ejekan itu ditujukan kepadanya, orang itu memukul Inalis.
Inalis memeluk saya. “An, tahukah engkau, sejak dulu, sejak kita kecil, aku ingin sepertimu,” katanya sambil menangis. “Aku ingin bisu sepertimu.”
Saya tentu saja tersenyum sambil membelai rambutnya.    
**

Sekali waktu keinginan Inalis untuk bisu itu terkabul. Dia tidak bisa berteriak, menembak orang dengan kata-katanya yang tajam, bahkan melenguh pun tidak bisa. Saya memeluknya. “Bicaralah, In, bicaralah seperti biasa,” bisik saya. Tapi Inalis membisu.

Darah segar membasahi tangan saya saat tersentuh belati yang menancap di dada Inalis. 
**
Cerpen ini dimuat Media Indonesia 10 September 2017

"MASALAH PENGARANG" dan "MASALAH CALON PENGARANG"

Written By Keluarga Semilir on Rabu, 30 Agustus 2017 | 11.02


Seorang kenalan selalu bilang ingin belajar menulis cerpen. Kadang dia berbicara cerpen-cerpen sastra. Dia menyebut Seno Gumira Adjidarma, Agus Noor, Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, dan banyak lagi, lengkap dengan cerpen-cerpen mereka. Kadang dia berbicara cerpen-cerpen remaja, menyebut Asma Nadia dan banyak pengarang FLP (Forum Lingkar Pena) lengkap dengan karya mereka. Kadang dia bercerita cerpen-cerpen anak yang banyak dimuat majalan Bobo, Ummi, dan banyak lagi.
Saya seringkali hanya menjadi pendengar. Hanya sesekali menanggapi bila dirasa sangat perlu. Ya, karena awalnya saya sangat antusias menanggapi “keinginannya belajar menulis cerpen”. Tapi saya merasa bertepuk sebelah tangan. Dia mungkin tidak mempercayai saya meski tahu cerpen saya pernah dimuat banyak koran dan majalah. Jadi saya tidak berlanjut mengajaknya “belajar bersama” dan menghadapi “permasalahan pengarang” bersama.
Dia pernah bilang seperti ini: “Saya ingin mengikuti workshop profesional yang berbayar satu setengah juta rupiah,” katanya sambil memperlihatkan brosur. Pembicaranya di brosur itu ada Asma Nadia, Habiburahman, Tere Liye. “Ini profesional. Uang kan tidak akan membodohi,” katanya lagi.
Sebagai orang yang tidak pernah profesional seperti itu, tentu saja saya hanya tersenyum. Ada beberapa orang yang pernah belajar kepada saya. Bertemu secara tidak rutin, kadang kontak lewat medsos yang tidak berjadwal (kadang terhambat karena saya lagi banyak kerjaan kadang karena dia lagi males nulis). Beberapa kali karangannya dimuat majalah dan koran. Saya rasa dia sudah bisa melanjutkan sendiri. Kalaupun masih kontak, ya membahas “masalah pengarang” itu.


Kenalan saya yang ini, tidak seperti itu. Dia tidak ingin belajar bersama saya karena tidak profesional, bicara menggebu tentang banyak pengarang dan cerpennya, semangatnya begitu tinggi untuk menjadi pengarang. “Saya juga pasti bisa menulis seperti mereka!” katanya.
Tentu saya juga hanya tersenyum menanggapinya. Ya, karena aslinya dia sering menghindari “masalah pengarang”. Dia baru berkutat pada semangat “calon pengarang”. Setiap ditanyakan hasil karyanya, dia akan bicara panjang tentang banyak karya orang lain. Karyanya sendiri sepertinya memerlukan waktu berbulan-bulan untuk dituliskan. Dipikirkan harus sangat matang, dituliskan dengan direnungkan kalimat per kalimat. Jadi perlu waktu lama untuk menyelesaikan sebuah cerpen.
Itulah yang menjadikan saya seringkali hanya menjadi pendengar.
Sementara kenalan lain yang tertarik menulis cerpen, saya kasih tips awal: jadilah pencuri yang baik. Dia menulis cerpen anak. Katanya suka dengan sebuah cerpen tentang seorang anak yang menunggui padi yang mau dipanen. Dia pun menulis tentang anak yang mengawali menjadi pemerah susu sapi. Dengan proses “membaca”, lalu “menulis”, selalu ada cerpen untuk dibahas.
Begitulah, kadang banyak orang yang mengaku ingin belajar menulis tapi hanya sampai pada “masalah calon penulis”. Biasanya belajar ke sana ke situ ke sini, masuk perkumpulan ini-itu, ikut pelatihan ini-itu, tapi menyelesaikan satu tulisan pun butuh waktu berbulan-bulan. Lalu berkilah, “Produktif itu seperti pabrik, hanya menghasilkan karya yang kurang bermutu.”
Sementara “masalah penulis” itu ya bekerja keras membuat tulisan. Ngotot mempelajari cerpen yang ditulis orang lain, menganalisanya, dan menulis dengan caranya. Eksperimen dengan banyak hal juga kadang diperlukan. Setiap pribadi juga mengalami proses masing-masing. Bila menulis hanya satu-dua, bagaimana proses akan terjadi?
Apalagi bila mengingat bahwa menulis (terutama cerpen) bukanlah profesi yang ramah finansial, untuk saat ini, di sini, negeri Indonesia ini. Dari ribuan orang yang belajar menulis cerpen, mungkin hanya satu dua yang bisa lolos untuk menikmati dimuat media besar yang honorariumnya memuaskan (besar bayarannya, cepat dibayarkannya, dsb.) Karena sekarang ini mulai ada media besar yang untuk tembusnya begitu perlu kesabaran dan kerja keras, giliran dimuat honornya juga perlu diperjuangkan dengan menjadi debt-colektor dan itu pun belum tentu dibayarkan.
Ok. Sudah terlalu menyimpang. Nanti dilanjutkan “masalah pengarang” ini....
30-8-2017
   



PILIHAN

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

Populer

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni