Jejak Kata :
BARAKATAK (2) BUKU (3) CARPON (52) CATATAN (1) CERPEN (82) CERPEN ANAK (9) DIARI (5) DONGENG (7) DONGENG SUNDA (5) FIKMIN (3) info (1) JEJAK CERPEN (5) KOLOM (2) mengarang (4) MENGIRIM NASKAH (8) NOVEL (2) PUISI (39) RESENSI (1) tps (1)

PEREMPUAN SUNYI dan SAUDARANYA

Written By Keluarga Semilir on Senin, 11 September 2017 | 05.35


Orang-orang menyebut saya Perempuan Sunyi. Mungkin karena keberadaan saya tidak ditandai dengan suara. Saya tidak berbicara, apalagi keras, apalagi berteriak. Sering ada yang bertamu ke rumah Nenek, setelah lama berbincang dengan Nenek atau Kakek, baru menyadari kehadiran saya di kursi pojok sedang membaca buku.
“Oh, itu Anelis cucu Ibu itu, ya?” tanya tamu sambil tersenyum kepada saya. Nenek selalu mengangguk menjawab pertanyaan seperti itu. Sang tamu kemudian menghampiri saya. “Oh, cantik sekali. Rambutnya begitu indah, matanya begitu cerlang.”
Nenek selalu tersenyum mendengarnya. Mungkin karena tahu, bila tidak ada Nenek, komentar tamu atau orang lain yang melihat saya itu sedikit ada penyimpangan. Mereka akan mengatakan seperti ini: “Kasihan sekali, cantik-cantik kok bisu, tuli dan lumpuh.”
Apapun komentar mereka, saya akan tersenyum. Ya, karena saya tidak bisa bicara. Sudah lama saya berlatih, setiap ingin bicara atau berteriak saya mengalihkannya dengan tersenyum. Karena suara yang keluar dari mulut saya hanya melenguh. Dan saya tidak menyukai suara lenguhan.
**

Kata Nenek, saya sudah bisu, tuli dan lumpuh sejak lahir. Meski begitu, ketika saya lahir ada suara tangis bayi yang keras. Suara tangis bayi yang membuat pendengarnya bersyukur. Tapi suara tangis itu bukan keluar dari mulut saya. Suara tangis itu kepunyaan saudara kembar saya, namanya Inalis.
Nenek selalu bilang, di antara kami berdua yang lebih mirip Ibu adalah saya. Ibu adalah perempuan yang cantik dengan  rambut indah bergelombang, mata cerlang bercahaya, dan senyum seperti bunga yang selalu mekar. Dan Ibu pun perempuan sunyi; bisu, tuli dan lumpuh.
Meski mengalami keterbelakangan mental, tubuh Ibu nyaris normal. Kulit kuning langsat seperti bercahaya, halus mengundang orang untuk membelainya. Ibu bisa berjalan mengesot, bisa melakukan apapun keperluannya sendiri. Mandi, ganti baju, mengambil makanan dari meja makan, Ibu bisa melakukannya. Ibu pernah sekolah, tapi hanya beberapa tahun. Entah kenapa Ibu tidak melanjutkan sekolah, Nenek tidak pernah bercerita.
Suatu hari sepulang bermain di teras belakang rumah, Ibu menangis. Melenguh-lenguh, lalu diam dengan airmata mengalir membasahi pipinya yang ranum. Tangis yang tidak biasa. Karena berhari-hari kemudian, berminggu-minggu kemudian, tangis itu tidak berhenti.
Nenek dan Kakek tentu saja bingung. Tapi kemudian Ibu melupakan tangisnya. Ibu sibuk lagi dengan keterampilan menyulamnya, keterampilan yang diajarkan Nenek sejak kecil. Apapun disulamnya. Taplak meja, sarung bantal, bajunya, hiasan dinding, dan apapun. Sebagian hasil sulaman Ibu dibagikan kepada saudara-saudara yang datang dan tetangga.
Tapi Nenek dan Kakek tidak berhenti bingungnya. Karena beberapa bulan kemudian Ibu tidak juga datang bulan. Waktu dibawa ke dokter, Ibu dinyatakan hamil. Waktu itu usia Ibu dua puluh tahun. Sampai saya dan Inalis lahir, Nenek dan Kakek tidak tahu siapa sebenarnya ayah kami. Ibu selalu menangis setiap ditanya. Ibu pun meninggal waktu melahirkan saya dan Inalis.
**

Kata orang, saya dan Inalis seperti pinang dibelah dua. Hanya yang membedakannya, Inalis lebih besar dan tinggi. Karena sejak kecil Inalis biasa bergerak, menari, menyanyi, dan bermain berlari-larian. Sementara saya hanya menemaninya dari pinggir halaman, tersenyum, bertepuk-tangan, dan ngesot untuk mengejarnya.
Inalis sangat menyayangi saya, seperti juga saya sangat menyayanginya. Inalis selalu membantu saya. Saya dipangkunya untuk dipindahkan dari lantai ke kursi atau tempat tidur. Saya digendongnya ketika ingin melihat pawai kendaraan hias saat perayaan hari kemerdekaan. Saya diberinya makanan dan mainan apapun yang dipunyainya.
Hanya saja Inalis tidak pernah bisa menguasai bibirnya. Bila sudah marah, bicaranya akan panjang, mengomel mengatai apapun yang tidak berhubungan dengan yang membuatnya marah.
Suatu hari saya tidak mau diajaknya bermain.
“Setiap hari saya pangku, saya gendong, saya beri apapun yang saya punya; eh balasannya penolakan hanya dajak bermain. Saudara seperti apa kamu itu?” kata Inalis dengan wajah sinis. “Dasar, anak tidak tahu diri. Sudah lumpuh, bisu dan tuli lagi!”
Inalis tidak tahu kepala saya pening sehingga saya tidak kuat bermain.       
Tentu saja saya terkejut. Saya tidak menyangka Inalis mengatakan kalimat-kalimat pedas seperti itu. Saya menangis saking sedihnya. Tapi Inalis malah seperti yang berbahagia, merasa puas, melihat airmata saya mengalir menyusuri pipi.
“Makanya kamu bicara! Jangan hanya ah-uh auh-ah, seperti monyet! Tahu diri, kamu itu manusia tidak berguna!” katanya semakin membuat airmata saya banjir.
Sejak itu saya tidak ingin bisa bicara seperti Inalis bicara. Keinginan yang sejak saya ingat dan sadar bahwa saya tidak bisa bicara seperti itu, berhenti begitu saja. Seperti sinar matahari yang tertutup awan dan hujan. Saya lalu lebih mempercayai tersenyum sebagai kata-kata. Itulah awalnya mengapa saya dikenal sebagai Perempuan Sunyi yang selalu tersenyum.
“Coba, kamu tahu apa arti senyum Perempuan Sunyi itu kali ini?” tanya seseorang kepada temannya saat melihat saya sedang menyulam di teras rumah. Saat itu senja turun dengan matahari jingga kekuningan.
“Mungkin dia bangga bisa membuat sulaman,” jawab temannya.
“Bukan. Dia pasti berbahagia begitu menyadari bahwa dirinya tidak bisa bicara.”
“Haha... masa karena bisu jadi bahagia?”
“Iya, karena dia tahu, banyak berkata-kata seringkali menutup orang untuk tersenyum.”
Mendengar percakapan seperti itu senyum di bibir saya semakin merekah.
**

Setelah kami dewasa, kata-kata seperti kutukan bagi Inalis. Dia sangat baik kepada siapapun. Tapi begitu sudah berselisih, mulutnya seperti senapan yang tidak akan berhenti sebelum ada peristiwa besar. Sekali waktu, saat Inalis sekolah SMP, teman akrabnya sendiri dikatakan pelit, bodoh, tidak tahu diri, kurang ajar, sengsara, buruk rupa, pecundang, dan entah apa lagi; hanya karena tidak memberinya pinjaman buku. Tentu saja temannya itu marah. Dia memutuskan hubungan pertemanannya.
Saya sendiri tidak sekolah. Nenek mengundang guru les ke rumah. Saya belajar membaca, berhitung, dan menggambar. Saya sangat senang membaca. Saya bisa belajar banyak hal dari bacaan. Ketika guru les saya harus meneruskan kuliah ke luar kota, saya tidak mau lagi belajar. Saya tidak mau guru baru. Lagipula, setelah bisa membaca, saya bisa belajar sendiri.
Lulus kuliah, bekerja, Inalis menikah dan berpisah rumah dengan Nenek dan Kakek. Saya diajaknya juga tinggal di rumah Inalis. Suaminya baik mengijinkan saya ikut tinggal dengan mereka. Lima tahun mereka berkeluarga tapi belum dikasih momongan juga. Sekali waktu Inalis dan suaminya berselisih. Seperti yang sudah-sudah, mulut Inalis seperti senjata yang tidak berhenti menembak.
“Dasar lelaki mandul, miskin, pecundang, tidak tahu diri, pemalas, pengangguran, dan....” Saya tidak hapal apa lagi yang dikatakan Inalis. Suaminya kemudian pergi. Beberapa hari kemudian datang surat cerai dari pengadilan.
Sebulan kemudian Inalis berselisih dengan tetangganya. Setahun kemudian Inalis dijauhi oleh semua tetangganya. Hidup Inalis seperti terasing. Hidup menyendiri di tengah keramaian. Bertemu dengan saya para tetangga itu menyapa dan tersenyum. Tapi begitu melihat Inalis, mereka seperti tidak saling mengenal.
Sekali waktu Inalis menangis. Ujung bibirnya robek berdarah. Awalnya hanya karena ada orang yang lewat tidak bilang permisi. Mulut Inalis lalu menjadi senjata lagi mengeluarkan perbendaharaan kata yang begitu tidak terbayangkan banyaknya. Setiap orang itu lewat, mulut Inalis menembaknya dengan jutaan kata-kata. Orang itu awalnya bingung. Tapi begitu tahu kata-kata sumpah serapah dan ejekan itu ditujukan kepadanya, orang itu memukul Inalis.
Inalis memeluk saya. “An, tahukah engkau, sejak dulu, sejak kita kecil, aku ingin sepertimu,” katanya sambil menangis. “Aku ingin bisu sepertimu.”
Saya tentu saja tersenyum sambil membelai rambutnya.    
**

Sekali waktu keinginan Inalis untuk bisu itu terkabul. Dia tidak bisa berteriak, menembak orang dengan kata-katanya yang tajam, bahkan melenguh pun tidak bisa. Saya memeluknya. “Bicaralah, In, bicaralah seperti biasa,” bisik saya. Tapi Inalis membisu.

Darah segar membasahi tangan saya saat tersentuh belati yang menancap di dada Inalis. 
**
Cerpen ini dimuat Media Indonesia 10 September 2017

"MASALAH PENGARANG" dan "MASALAH CALON PENGARANG"

Written By Keluarga Semilir on Rabu, 30 Agustus 2017 | 11.02


Seorang kenalan selalu bilang ingin belajar menulis cerpen. Kadang dia berbicara cerpen-cerpen sastra. Dia menyebut Seno Gumira Adjidarma, Agus Noor, Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, dan banyak lagi, lengkap dengan cerpen-cerpen mereka. Kadang dia berbicara cerpen-cerpen remaja, menyebut Asma Nadia dan banyak pengarang FLP (Forum Lingkar Pena) lengkap dengan karya mereka. Kadang dia bercerita cerpen-cerpen anak yang banyak dimuat majalan Bobo, Ummi, dan banyak lagi.
Saya seringkali hanya menjadi pendengar. Hanya sesekali menanggapi bila dirasa sangat perlu. Ya, karena awalnya saya sangat antusias menanggapi “keinginannya belajar menulis cerpen”. Tapi saya merasa bertepuk sebelah tangan. Dia mungkin tidak mempercayai saya meski tahu cerpen saya pernah dimuat banyak koran dan majalah. Jadi saya tidak berlanjut mengajaknya “belajar bersama” dan menghadapi “permasalahan pengarang” bersama.
Dia pernah bilang seperti ini: “Saya ingin mengikuti workshop profesional yang berbayar satu setengah juta rupiah,” katanya sambil memperlihatkan brosur. Pembicaranya di brosur itu ada Asma Nadia, Habiburahman, Tere Liye. “Ini profesional. Uang kan tidak akan membodohi,” katanya lagi.
Sebagai orang yang tidak pernah profesional seperti itu, tentu saja saya hanya tersenyum. Ada beberapa orang yang pernah belajar kepada saya. Bertemu secara tidak rutin, kadang kontak lewat medsos yang tidak berjadwal (kadang terhambat karena saya lagi banyak kerjaan kadang karena dia lagi males nulis). Beberapa kali karangannya dimuat majalah dan koran. Saya rasa dia sudah bisa melanjutkan sendiri. Kalaupun masih kontak, ya membahas “masalah pengarang” itu.


Kenalan saya yang ini, tidak seperti itu. Dia tidak ingin belajar bersama saya karena tidak profesional, bicara menggebu tentang banyak pengarang dan cerpennya, semangatnya begitu tinggi untuk menjadi pengarang. “Saya juga pasti bisa menulis seperti mereka!” katanya.
Tentu saya juga hanya tersenyum menanggapinya. Ya, karena aslinya dia sering menghindari “masalah pengarang”. Dia baru berkutat pada semangat “calon pengarang”. Setiap ditanyakan hasil karyanya, dia akan bicara panjang tentang banyak karya orang lain. Karyanya sendiri sepertinya memerlukan waktu berbulan-bulan untuk dituliskan. Dipikirkan harus sangat matang, dituliskan dengan direnungkan kalimat per kalimat. Jadi perlu waktu lama untuk menyelesaikan sebuah cerpen.
Itulah yang menjadikan saya seringkali hanya menjadi pendengar.
Sementara kenalan lain yang tertarik menulis cerpen, saya kasih tips awal: jadilah pencuri yang baik. Dia menulis cerpen anak. Katanya suka dengan sebuah cerpen tentang seorang anak yang menunggui padi yang mau dipanen. Dia pun menulis tentang anak yang mengawali menjadi pemerah susu sapi. Dengan proses “membaca”, lalu “menulis”, selalu ada cerpen untuk dibahas.
Begitulah, kadang banyak orang yang mengaku ingin belajar menulis tapi hanya sampai pada “masalah calon penulis”. Biasanya belajar ke sana ke situ ke sini, masuk perkumpulan ini-itu, ikut pelatihan ini-itu, tapi menyelesaikan satu tulisan pun butuh waktu berbulan-bulan. Lalu berkilah, “Produktif itu seperti pabrik, hanya menghasilkan karya yang kurang bermutu.”
Sementara “masalah penulis” itu ya bekerja keras membuat tulisan. Ngotot mempelajari cerpen yang ditulis orang lain, menganalisanya, dan menulis dengan caranya. Eksperimen dengan banyak hal juga kadang diperlukan. Setiap pribadi juga mengalami proses masing-masing. Bila menulis hanya satu-dua, bagaimana proses akan terjadi?
Apalagi bila mengingat bahwa menulis (terutama cerpen) bukanlah profesi yang ramah finansial, untuk saat ini, di sini, negeri Indonesia ini. Dari ribuan orang yang belajar menulis cerpen, mungkin hanya satu dua yang bisa lolos untuk menikmati dimuat media besar yang honorariumnya memuaskan (besar bayarannya, cepat dibayarkannya, dsb.) Karena sekarang ini mulai ada media besar yang untuk tembusnya begitu perlu kesabaran dan kerja keras, giliran dimuat honornya juga perlu diperjuangkan dengan menjadi debt-colektor dan itu pun belum tentu dibayarkan.
Ok. Sudah terlalu menyimpang. Nanti dilanjutkan “masalah pengarang” ini....
30-8-2017
   



SI KABAYAN DISEMANGATI ZAMAN

Written By Keluarga Semilir on Minggu, 13 Agustus 2017 | 23.45


humor klasik si kabayan

PEMESANAN HUB:
WA :  085220060628
BBM : 5CEFDB37

Si Kabayan adalah tokoh dongeng di daerah Pasundan, Jawa Barat. Dia hidup sejak zaman dongeng disampaikan secara lisan, sampai dongeng dituliskan atau direkam dalam media audio-visual. Untuk saat ini, rasanya tidak ada orang Sunda yang tidak tahu Si Kabayan. Bahkan karena dongeng Si Kabayan menyebar juga melalui bahasa Indonesia dalam media cetak dan media audio-visual, rasanya tokoh ini sudah dikenal lebih luas lagi.
Pertama kali saya mengenal Si Kabayan ketika orang-orang tua sering mendongengkan satu dua cerita di madrasah tempat mengaji. Atau dari Bapak (almarhum) yang pengucapan “el, da deet”-nya dalam episode “Si Kabayan Memancing Siput” tersimpan rapi dalam kenangan. Saya rasa setiap mereka mendongengkan Si Kabayan, ada tujuan untuk lebih “menghibur”. Para orang tua di madrasah bermaksud agar anak-anak tidak ngantuk, atau kecewa tercegat hujan ketika mau pulang. Bapak selalu berhasil memindahkan suasana isak tangis saya ke tertawa dengan ucapan “el, da deet” sambil mengangkat kaki.
Jadi dalam rekaman pikiran saya, Si Kabayan adalah tokoh dongeng untuk memancing tertawa. Baru kemudian saya tahu bahwa tertawa pun bermacam ragam. Achdiat K. Mihardja menulis serangkaian cerita Si Kabayan dalam buku Si Kabayan, Manusia Lucu dengan rasa “akademis”. Bagi Achdiat, cerita lucu haruslah berunsur ngageuhgeuykeun (mentertawan, baik berupa kritik sosial atau kritik diri). Karenanya dalam versi Achdiat, cerita Si Kabayan yang sudah klasik seperti dalam episode “Mencari Jalan Ke Surga” menjadi panjang dan penuh keterangan. Belum lagi cerita baru semisal Si Kabayan dan Sastra Kontekstual, Si Kabayan dan Filsafat Kerakusan, Si Kabayan Mau Melawat ke Luar Negeri.
Itu semua memberi kepercayaan kepada saya bahwa bagaimana ragam kelucuan dongeng Si Kabayan tergantung penuturnya. Si Kabayan pun bisa menjadi apa saja. Dia hidup di setiap zaman. Disemangati zamannya. Cerita-cerita yang tidak sesuai lagi ditinggalkan dan lambat laun hilang dari ingatan. Dalam buku yang terbit tahun 1920-an (penulisnya seorang Belanda, tapi saya lupa detailnya karena buku itu tidak tertemukan lagi), begitu banyak cerita Si Kabayan yang cawokah (jorok, mentertawakan tentang seksualitas). Lambat laun cerita seperti itu hilang, meski dalam kesenian tradisional seperti wayang golek humor cawokah menjadi ciri tersendiri dalang-dalang tertentu.
Mungkin karena berdasar karakter Si Kabayan seperti itu, Ajip Rosidi dalam pengantar cerita Si Kabayan Jadi Dukun karangan Moh. Ambri menyatakan: siapapun bisa menciptakan tokoh Si Kabayan, yang sifat-sifatnya dianggap sudah baku: kedul, teu boga kaera, cunihin, cilimit, hawek – tentunya sifat-sifat manusia yang tidak terpuji.
Sifat-sifat seperti itu saya rasa bermetamorfosa juga sesuai semangat zaman. Selain sifat Si Kabayan yang disebutkan di atas, semakin sering ditemukan Si Kabayan yang bijaksana, merdeka, dan cerdas. Dalam versi film, malah tergambarkan Si Kabayan yang lugu, jujur, dan baik hati. Sementara sifat cunihin, cilimit dan hawek, semakin menurun frekwensinya. Barangkali karena Si Kabayan pun berinteraksi dengan tokoh-tokoh jenaka lainnya seperti Nasruddin Hoja atau Abu Nawas. Dalam beberapa cerita mereka ada kesamaan. Seperti ketika Nasruddin Hoja ditanya, berapa banyak bintang di langit? Jawabannya, sama dengan bulu keledai di tubuhnya. Si Kabayan pun ada yang nanya seperti itu, “berapa banyak bintang di langit, tolong ikat tangan dengan air”. Jawaban Si Kabayan, “bintang di langit sama dengan pasir di pantai, sebelum mengikat tangan tolong buatkan dulu tali dari air itu.”. Seperti kita tahu, Nasruddin Hoja adalah tokoh jenaka yang lebih nyupi (bersifat sufi). Jadi sifat Si Kabayan pun bisa berubah terus menerus. Sifat abadinya hanyalah mengundang tertawa, bagaimanapun ragamnya.
Bagi saya, sifat cunihin, cilimit, hawek, kurang ajar (terutama terhadap mertua) Si Kabayan, menjadi termaafkan dengan sifat-sifat humor. Mungkin karena kita tahu dan percaya, humor adalah maqom tertinggi dari manusia yang senantiasa belajar manusiawi.
Tahun 2004 saya mengumpulkan dongeng-dongeng Si Kabayan dalam buku Si Kabayan Jadi Sufi (Pustaka Latifah). Di buku itu tidak semua dongeng klasik Si Kabayan yang dikumpulkan, karena saya menyatukannya dengan dongeng Si Kabayan "baru" yang benar-benar karangan saya. Tahun 2017 ini saya berkesempatan lagi mengumpulkan dongeng-dongeng Si Kabayan, maka saya memilih menuliskan kembali dongeng-dongeng yang klasiknya. Si Kabayan Memancing Siput, Si Kabayan Memetik Buah Nangka, Si Kabayan Ingin Diundang (dalam bahasa Sunda: Ngadeupaan Lincar), yang atau ada dalam buku Si Kabayan Jadi Sufi, ditambahkan dengan dongeng klasiknya yang dulu belum sempat dituliskan. Buku baru ini diterbitkan oleh Bhuana Ilmu Populer (Gramedia Grup). 
Tentu saja saya sangat berterima kepada banyak pihak yang memungkinkan saya ikut "mengingat" dan "merasakan" kelucuan Si Kabayan ini. Apa Abun Ismail (almarhum, semoga Allah swt merahmati) dan Mamah Pipin Sumirah (almarhumah, semoga Allah swt merahmati), yang pertama mengenalkan Si Kabayan kepada saya. Anak-anak saya (Semilir, Rofi, Rakey) yang selalu antusian didongengi Si Kabayan. Dan istri saya tercinta, Lina Herlina, yang sering menganggap saya sebagai Si Kabayan. Tentu semuanya terutama karena kesempata dan rahmat Allah swt.
Semoga ada manfaatnya.

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

Written By Mang Yus on Kamis, 10 Agustus 2017 | 00.46

kumpulan cerpen yus r. ismail

Buku kumpulan cerpen “Pohon Tumbuh Tidak Tergesa-gesa” ini diterbitkan oleh Syaamil tahun 2003. Berisi 16 cerpen yang semuanya pernah dimuat media cetak. Media cetak yang pernah memuat cerpen di buku ini adalah Media Indonesia, Republika, Kompas, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Matra, dan Horison. 

Cerpen-cerpen yang ada di buku ini adalah di antaranya:
1.      GUBUKDI PINGGIR KOLAM
2.      KELUARGA HITAM
5.      PUTERI BULAN
SENYUMYANG ABADI

Ada beberapa catatan mengenai buku/cerpen ini. Saya selalu bahagia membacanya, karena yang membuat  "catatan" ini adalah para remaja yang masih belasan tahun. Di antaranya seperti ini:

RESENSI "POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA"

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

CATATAN BUNDO: POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

PAK SUTAR DAN SEEKOR KUCING

cerpen esquire
majalah Esquire, Juli 2017

Pak Sutar adalah orang kaya. Rumahnya ada lima. Rumah pertama ditempati keluarganya, istri dan dua anaknya yang sudah remaja. Rumah kedua dan ketiga dikontrakkan, karena tadinya juga dibeli dengan tujuan investasi. Rumah keempat ditempati Empi, istri mudanya yang dinikahi secara siri. Rumah kelima dikosongkan, sekedar ditengok oleh Mang Engkos dan Bik Erum, suami istri yang bertugas membersihkan rumah itu setiap hari. Rumah kelima itulah yang biasa dipakai istirahat oleh Pak Sutar saat sedang ingin sendirian.
Seperti sekarang, sudah dua hari Pak Sutar beristirahat di rumah kosongnya. Ada masalah rumit yang sedang dihadapinya. Awalnya adalah kabar dari Rudi, staf di kantornya. “Pak, saya mendengar kabar, bakal ada audit mendadak mengenai proyek-proyek tahun ini,” kata Rudi. “Bila selamat proyek tahun ini, tahun-tahun lalu tidak akan diaudit. Tapi bila ada indikasi penyelewengan, proyek tahun-tahun sebelumnya juga bakal diaudit.”
Kabar itu yang membuat Pak Sutar gelisah. Menyesal bila sudah seperti itu. Tahun lalu sebenarnya sudah terpikir untuk berhenti. Sudah waktunya untuk bersih-bersih diri dari kelakuan seperti itu. Sudah kaya ini. Pemerintah kan dari Pusat sedang mendengungkan clean governement. Rapat-rapat atau acara yang diadakan instansi diusahakan jangan dilakukan di hotél.
Tapi setiap mengajukan proyek, disetujui, selalu sayang bila dilepaskan kepada pengusaha. Apalagi dari Pusat diharuskan menolak hadiah apapun dari pengusaha.
“Rudi tahu siapa pengawasnya?” kata Pak Sutar waktu itu.
“Katanya dari Pusat. Gampang sebenarnya bila ingin tahu, Pak. Tinggal tanya-tanya aja orang Pusat, tapi buat apa?”
“Tinggal ajak makan-makan, atau jalan-jalan seperti biasanya.”
“Sekarang tidak bisa seperti itu, Pak. Bila kita berlaku seperti itu, bisa-bisa langsung dicurigai. Pusat sekarang sedang mencari kambing hitam dari banyak perilaku korup instansi.”
Itu yang membuat gelisah Pak Sutar. Bila mau dihadapi seperti yang tidak berdosa, akhirnya pasti ketahuan. Sejak jadi Kabid Sejarah dan Kepurbakalaan, setiap mengajukan proyek sebenarnya buat dirinya sendiri. Tender akhirnya dimenangkan oleh perusahaannya. Perusahaan dirinya yang memakai nama dan alamat fiktif. Tidak susah nyari pengangguran yang datang ke kantor memakai kemeja bersih, suruh tanda tangan ini itu, pulangnya diajak makan-makan dan amplop satu juta. Apalagi proyek yang di bawah seratus juta rupiah yang tidak mesti tender dulu, lebih gampang mengakalinya.
Ya, dengan cara mengakali proyek seperti itu Pak Sutar bisa investasi di kebun dan sawah, rumah, pom bensin, saham trading, juga membiayai Empi yang boros dan selalu ingin up to date. Tapi Pak Sutar tidak bisa melepaskan Empi. Selain punya anak yang sedang lucu-lucunya, baru dua tahun, Empi cantik seperti pemain sinetron.
Terpikir oleh Pak Sutar, bila diaudit satu proyek, lalu dicari perusahaannya, pasti ketahuan fiktifnya. Bila diaudit proyek lainnya, proyek tahun-tahun yang lalu, pasti ketahuan caranya serupa. Sepertinya milyaran rupiah yang dituduhkan kepadanya. Bila masuk ke pengadilan langsung jadi tersangka, dipecat dari pns, investasi mungkin disita. Malunya pasti terbawa sampai kapan pun, mungkin juga sengsara lagi, mungkin Empi akan kabur, mungkin....  
**

Bila sedang beristirahat di rumah kosong, Pak Sutar lebih suka duduk-duduk di balkon loteng. Duduk di kursi malas yang sengaja dipesan dari Jepara. Memandang anak-anak bermain di pesawahan, ibu-ibu memetik kangkung, para petani membersihkan rumput-rumput liar di seputar rumpun padi, para pedagang yang lewat di jalan kecil pinggir sawah.
Bila melihat pemandangan seperti itu, kadang terpikir oleh Pak Sutar untuk bertaubat. Dia ingat kembali waktu kuliah dia termasuk aktivis masjid. Sholat lima waktu tidak pernah tertinggal. Hanya setelah kerja jadi pns, sholat mulai tercecer, apalagi setelah sesekali mengakali keperluan kantor, dan akhirnya ikut mengakali proyek. Sholat lima waktu hanya agar terlihat alim saja, apalagi kemudian dia umrah dan menunaikan ibadah haji.
Saat mendengar adzan magrib, perasaan ingin bertaubat itu datang lagi. Pak Sutar pun kemudian sholat. Selesai sholat lalu berdo’a.
“Ya Allah, saya rela rumah ini dijual, hasilnya dibagikan kepada panti-panti asuhan, asal gelisah saya cepat sirna. Saya tidak akan melakukan lagi perbuatan tercela mengakali proyek,” gumam Pak Sutar dalam do’anya.
**

Besoknya waktu Rudi mencegat di tempat parkir, Pak Sutar terkejut. “Pak, barusan saya mendengar lagi kabar, audit mendadak itu tidak jadi hari ini,” kata Rudi. “Auditnya ternyata acak. Yang kena audit dari Dinas kita adalah Bidang Pendidikan Luar Sekolah.”
Entah Pak Sutar terkejut karena senang, entah terkejut karena ingat do’anya. Pulang dari kantor masih ke rumah tempat istirahat itu. Dia merenung. Do’a saya ternyata dikobul, Tuhan ternyata sayang kepada saya, gumam Pak Sutar. Tapi menjual rumah ini dan hasilnya disedekahkan kepada panti-panti asuhan, apakah tidak akan sayang? Rumah ini harganya tidak akan kurang dari sembilan ratus juta rupiah. Harga beberapa tahu yang lalu itu. Kaya juga keterlaluan bila mesti sedekah sebesar itu, gumamnya lagi.
Pak Sutar sekarang gelisah dan berpikir keras bukan karena takut. Tapi gelisah karena hatinya pernah berdo’a. Kata kyai, yang seperti itu namanya nadar, dan nadar wajib dilakukan. Tapi kan belum bicara kepada siapapun, gumam Pak Sutar. Bila tidak dilakukan juga tidak apa-apa. Anggap saja niat baik yang tidak jadi dilakukan.
Begitu yang ada di pikiran Pak Sutar. Tapi setiap mau dilupakan, do’a itu muncul kembali. Hatinya tidak tenang bila nadar itu belum dilakukan. Namanya juga gumam di dalam hati, janji kepada diri sendiri, bagaimana melupakannya?
Saat sedang berpikir keras antara sayang bersedekah rumah dan merasa berhutang itulah Pak Sutar melihat kucing di atap rumahnya, lalu ke balkon, lalu melompat ke kaca nako yang terbuka. Pak Sutar tersenyum. Kucing itu peliharaannya. Pak Sutar sendiri yang membelinya setahun yang lalu. Tadinya kado buat ulang tahun anaknya, ternyata anak remajanya itu hanya senang beberapa minggu kepada kucing itu. Seterusnya dibawa ke rumah tempat istirahat itu, diurus oleh Mang Engkos. Pak Sutar lalu memanggil penunggu rumahnya itu.
“Mang, kucing yang berbulu kelabu itu kucing kita?” tanya Pak Sutar.
“Iya, kucing yang dulu dibawa Bapak itu,” jawab Mang Engkos. “Sama saya sering dilepas, Pak. Kasihan tidak ada temannya.”
“Masukkan lagi ke kandang, Mang. Jangan dilepas lagi, ya!:  
Pak Sutar lalu memasang iklan di koran: Dijual rumah, murah! Karena embel-embel murahnya itu, hari itu dipasang iklan hari itu juga ada yang datang.
“Inginnya berapa, Pak, rumah ini?” tanya seorang calon pembeli setelah melihat-lihat sekeliling rumah.
“Rumah ini sebenarnya murah. Murah sekali. Bapak beruntung dan Bapak tidak akan percaya awalnya,” kata Pak Sutar. “Harganya hanya lima juta rupiah.”
“Lima juta rupiah?” Calon pembeli itu terkejut. Beberapa saat dia tidak mengedipkan penglihatannya, tidak percaya dengan pendengarannya.
“Iya, lima juta rupiah. Tapi yang membeli rumah ini, wajib membeli kucing itu,” kata Pak Sutar sambil menunjuk kandang kucing. “Bagaimana tertarik?”
Calon pembeli rumah tersenyum. Dia cepat menduga, sepertinya ada apa-apanya dengan harga kucing itu. Makanya dia bertanya begitu tenang, “Berapa harga kucingnya?”
“Harga kucing tidak bisa ditawar, harganya sembilan ratus juta rupiah.”
Calon pembeli tertawa. Dia mengira Pak Sutar bercanda. Tapi setelah beberapa kali Pak Sutar meyakinkan bahwa harganya harus seperti itu, calon pembeli itu setuju. Ya, karena setelah dijumlah, harga rumah dan kucing itu masih tetap lebih murah dibanding rumah-rumah lainnya di perumahan itu.
Besoknya transaksi jual-beli dilaksanakan di hadapan notaris. Pulang dari notaris, Pak Sutar mampir ke panti asukan, lalu sedekah lima juta rupiah, seharga rumahnya. Keluar dari panti asuhan Pak Sutar senyum-senyum. Pak Sutar merasa dirinya pintar. Kata hatinya, hanya manusia pilihan yang bisa berkelit dari situasi rumit. Meski di dalam hati, di dalam hatinya yang paling dalam, Pak Sutar merasa bodoh lebih dari sebelumnya.
Di saku celana Pak Sutar ada buku tabungan yang saldonya sembilan ratus juta rupiah, hasil menjual kucingnya. Waktu jari-jari tangannya memegang buku tabungan, Pak Sutar tersenyum. Dia merasa tetap kaya. Tabungan ini tidak mesti disedekahkaan karena hasil menjual kucing. Meski di dalam hatinya, di dalam hatinya yang paling dalam, Pak Sutar merasa sengsara lebih dari sebelumnya. ***

Pamulihan, 13 Mei 2017

BEBEGIG

Written By Keluarga Semilir on Kamis, 03 Agustus 2017 | 11.58

bebegig
Suara Ntb, 29-7-2017

Tidak banyak orang yang tahu lelaki berusia dua puluh tahun itu. Dia tinggal bersama neneknya di sebuah gubuk di ujung kampung Gulamping. Setiap hari dia pergi ke sawah seorang diri. Berangkat pukul tujuh pagi dan pulang setelah senja. Berjalannya tidak sempurna karena kakinya yang pengkor. Tangannya yang kanan selalu di depan dada karena kengkong. Punggungnya menggendong tas kumal berisi perbekalan; nasi bungkus kecil dan botol air.

PILIHAN

PEREMPUAN SUNYI dan SAUDARANYA

Orang-orang menyebut saya Perempuan Sunyi. Mungkin karena keberadaan saya tidak ditandai dengan suara. Saya tidak berbicara, apalagi ke...

Populer

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni