Jejak Kata :

SIT-UNCUING

Written By Mang Yus on Jumat, 16 Juni 2017 | 00.48

Cerpen Tribun Jabar
Tribun Jabar, 11 Juni 2017

Sit-uncuing bernyanyi di atas pohon. Tapi entah pohon yang mana. Nining sudah beberapa kali mengamati pepohonan tinggi yang tumbuh di sekitar rumahnya. Jambu air, sawo, mangga, rambutan, yang tumbuh di halaman belakang, diperhatikan sampai hapal jumlah dahan besarnya. Burung itu masih tidak tertemukan meski suaranya begitu jelas dan nyaring.
Pagi datang sedikit muram. Entah kenapa matahari yang tadi cerah tertutup lagi awan yang semakin tebal. Sepertinya gerimis sebentar lagi turun. Apakah ini pertanda dari pesan malapetaka sit-uncuing? Mungkin benar mitos itu, pikir Nining. Mitos bahwa bila burung sit-uncuing bernyanyi maka itu adalah nyanyian kematian. Ah, tapi ada atau tidak pun burung itu bernyanyi, kematian pasti datang. Pasti datang kepada yang dikehendakiNya.
Seandainya burung sit-uncuing itu tertangkap wujudnya, Nining ingin melemparnya, mengusirnya jauh-jauh. Tapi percuma bila hal itu dilakukannya. Karena kabar itu sudah datang. Nunung, kakak Nining satu-satunya, menjadi salah seorang korban kecelakaan kereta api. Hujan besar telah menyebabkan longsor yang menimpa rel di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Nunung yang bekerja di Surabaya rencananya pulang selama seminggu ke Bandung.
Semalam Nining menerima kabar dari orang yang mengaku Tim Pengendalian Bencana.
“Sebaiknya ada keluarga yang datang ke sini,” kata orang Tim Pengendali Bencana itu.
Mang Sakri dan Wa Enjum malam itu juga berangkat ke tempat bencana. Tugas Nining adalah menyampaikan kabar buruk itu kepada Ambu. Semua saudaranya, amang-ibi-alo-uwa sampai nini-akinya, merasa tidak sanggup menyampaikan kabar itu kepada Ambu. Nining sebagai sarjana psikologi dan anak yang dekat dengan Ambu, mereka anggap akan lebih bisa menyampaikan kabar itu.
Menurut kabar televisi, kecelakaan kereta api itu menelan puluhan korban jiwa.
“Nunung mengalami patah tulang kaki dan tangan. Itu yang paling beratnya. Sementara di kepala, pinggul, tangan, tidak terlalu parah,” kata Mang Sakri melelui telepon genggam. “Kamu harus bisa menyampaikan kabar ini kepada Ambu, harus hati-hati.”
Ambu adalah ibu dari Nining dan Nunung. Usianya enam puluh satu tahun. Abah, suaminya, ayah Nunung dan Nining, sudah meninggal lima tahun yang lalu. Sejak Abah meninggal Ambu sakit jantung, sakit yang membuat wajahnya kurang segar. Tidak boleh terlalu lelah, tidak boleh tertekan, tidak boleh terkejut. Menurut riwayat sakitnya, tiga kali mendapat serangan jantung parah. Penyebabnya hanya karena tertekan ada yang bertanya kenapa kedua anak gadisnya belum juga menikah, mendapat kabar kematian sahabatnya, dan jengkel karena anak tetangga semalaman menyalakan kembang api saat tahun baru.
**
  
Sekali lagi Nining memandang Ambu yang sedang duduk di bangku taman. Tadi waktu Nining membawa susu hangat dan kue untuk sarapan, Ambu bertanya tentang Nunung. “Mestinya kakakmu itu datang pagi ini, ya? Tapi kok belum juga datang. Memangnya sekarang pukul berapa?” tanyanya.
Nining tidak menjawab apapun. Ya, apa yang harus dijawabnya? Bagaimana menceritakan kabar buruk itu? Nining memilih menjauhi Ambu. Dan sekarang, setelah menatap Ambu sekian lama, Nining akhirnya masuk ke kamarnya.  
Di kamar Nining mereka-reka apa yang ingin dikatakannya kepada Ambu.
“Ambu, ada beberapa hal yang kita sebagai manusia tidak bisa menghindarinya,” kata Nining sambil memandang bantal.
“Ya iya atuh, Ning. Kalau kita bisa menghindari semuanya, Ambu pasti ingin menghindari sakit jantung ini.” Sepertinya Ambu akan berkata seperti itu.
“Bukan hanya sakit, Ambu. Kecelakaan pun seringkali tidak bisa dihindari meski kita sangat hati-hati sekali.”
“Iya betul.” Ambu pantasnya sambil memandang Nining lebih tajam, mungkin mulai curiga kenapa Nining membicarakan itu.
“Kecelakaan itu sering terjadi, jadi tidak usah membuat kita terkejut.” Nining berhenti sebentar, memandang bantal lebih seksama seolah-olah bantal itu adalah Ambu. “Teh Nunung mengalami kec....”
Ah, Nining tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ambu pasti terkejut mendengar kabar seperti itu. Dadanya akan berdebar, napasnya turun-naik lebih cepat. Kalau sudah begitu, Nining pasti akan khawatir. Sebaiknya bukan begitu cara mengabarinya.
Sorenya Nining pergi ke taman kota. Dia bilang kepada Ambu akan membeli keperluan dapur sekalian membeli pulsa. Ambu tadi memintanya untuk menghubungi Nunung, tapi Nining beralasan pulsanya habis. Ambu sendiri, sejak mengidap sakit jantung itu tidak lagi memegang hp sendiri, tidak juga boleh menonton televisi dan mendengarkan radio.
Di taman kota Nining duduk di bangku sambil membaca buku. Tepatnya pura-pura membaca buku. Karena pikirannya masih melayang kepada Ambu. Nanti malam, sebelum tidur, Nining akan menyampaikan kabar buruk itu.
“Waktu kecil Ambu selalu mendongeng buat Nining dan Teh Nunung. Kali ini Nining yang akan mendongeng buat Ambu.” Begitu Nining akan memulai pembicaraannya.
Ambu pantasnya akan tersenyum.
“Jaman nabi Sulaiman as, ada seorang sahabat yang sangat besar jasanya. Suatu hari sahabat itu melihat kedatangan malaikat Izroil ke kotanya. Dia terkejut. Mau mendatangi siapa malaikat pencabut nyawa itu? Karena takut Izroil akan mencabut nyawanya, sahabat itu meminta nabi Sulaiman as untuk menerbangkannya ke tanah India. Jarak dari Yerusalem tempat nabi Sulaiman as berkuasa ke India tentu saja sangat jauh, dipisahkan lautan dan negara-negara Timur Tengah. Tapi sahabat itu yakin nabi Sulaiman bisa meminta angin menerbangkannya ke India.”
Ambu pantasnya mendengarkan dongeng sambil membelai rambut Nining. Ambu berbahagia.
“Akhirnya nabi Sulaiman as menerbangkan sahabatnya itu ke India. Selang beberapa menit malaikat Izroil yang menghadap nabi Sulaiman as karena bingung. Bingung karena dalam catatan ketentuan, dia harus mencabut nyawa di India, tapi orangnya kok ada di Yerusalem? ‘Jangan bingung-bingung, Tuan Malaikat. Silakan saja Tuan pergi ke India, orang itu sekarang sudah ada di India,’ kata nabi Sulaiman as.”[1]
Ambu pantasnya akan tersenyum mendengar dongeng itu.
“Nah Ambu, seperti juga kematian yang sudah ada catatannya, kecelakaan pun....”
Lamunan Nining berhenti sampai di sana. Mendongeng dan menyampaikan kabar buruk yang sebenarnya mempunyai ketegangan yang sangat berbeda. Nining lalu pulang berjalan kaki. Sepanjang jalan masih juga terpikir cara menyampaikan kabar buruk yang lain.
“Ambu, dari kemarin burung sit-uncuing bernyanyi di pepohonan. Kata mitos orang dulu, nyanyian burung kecil itu membawa pesan buruk. Tidak hanya pesan ada kerabat atau kenalan yang meninggal. Tapi juga pesan kabar buruk lainnya. Misalnya kecelakaan....”
Ah, Nining selalu tidak yakin, bagaimana menyampaikan kabar buruk yang sebenarnya? Apalagi saat sampai di rumah banyak saudara dan tetangga yang menengok Ambu. Teh Encih, Aa Ajim, Mang Iwan, Nini Jumsih, Aki Atang, Uwa Oo, Kang Asep, Pa Ujang; terlihat geumpeur dan menahan tangis. Ambu terbaring di kasur, napasnya turun-naik cepat. Tidak lama kemudian terdengar sirine ambulan. Ambu dibawa ke rumah sakit.
**

Hanya sehari Ambu di rumah sakit. Alhamdulillah, kata dokter tidak apa-apa. Selain didiagnosa jantungnya baik, Ambu ingin cepat pulang karena Teh Nunung pun rencananya pulang siang harinya.
Siang itu sekali lagi ambulan dengan suara sirine mencekam datang lagi ke rumah Ambu. Mang Sakri mendorong kursi roda Teh Nunung. Kaki dan tangan digip dan dibalut perban membuat Teh Nunung seperti setengah mumi. Tapi kali ini bukan waktunya tertawa. Teh Nunung menangis meski belum ketemu Ambu. Tangis yang semakin mengeras meski ditahan ketika bertemu tangis Ambu yang terbaring di kasur.
“Ambu, alhamdulillah Ambu sehat dan kuat mendengar kabar ini,” kata Teh Nunung sambil memeluk Ambu dengan tangan sebelah.
“Kabar kecelakaanmu menjadi tidak seberapa, Nung, setelah kemarin kabar Nining tertabrak mobil sampai meninggal.”
Tangis Nunung mengeras sebentar, setelah itu tidak ingat apa-apa. Nining yang merasa berdiri di sebelah kakaknya sama terkejutnya. Dia sudah meninggal kemarin tertabrak mobil? Dia sudah meninggal kemarin? Meninggal? ***




[1] Dongeng nabi Sulaiman as dan malaikat Izroil ini diambil dari kisah Jalaluddin Rummi.

KIRIM-KIRIMAN MAKANAN

Cerpen anak Solo Pos
Solo Pos, 11 Juni 2017

Di kampung saya, setiap memasuki bulan puasa masih ada kebiasaan kirim-kiriman makanan. Tidak saja antarsaudara atau tetangga sebelah rumah. Kirim-kiriman makanan itu bisa kepada kenalan di kampung lain.
Kebiasaan itu biasanya dilakukan di awal bulan puasa atau di akhir saat menjelang Idul Fitri. Emak pernah mengalami kejadian lucu yang berhubungan dengan kirim-kiriman makanan itu. Suatu pagi emak mengirim kue bolu bikinannya kepada Bik Irah. Besoknya kue bolu itu datang lagi ke rumah, kiriman dari Wak Mumun. Ceritanya, emak mengirim kue bolu kepada Bik Irah, oleh Bik Irah dikirimkan lagi kepada Wak Esih. Wak Esih mengirimkan kue bolu itu kepada Bu Ening. Bu Ening mengirimkannya kepada Wak Mumun. Wak Mumun tidak tahu kue bolu itu buatan emak, jadi mengirimkannya kepada emak.
“Tidak apa peristiwa lucu seperti itu terjadi, asal kita ikhlas dalam melakukannya, ikhlas saat mengirimkan makanan,” kata emak.
**


Saya ingin menceritakan kejadian lucu yang saya alami sendiri. Saya sering main ke rumah Nenek Amih, tetangga sebelah rumah. Nenek Amih bukan nenek asli saya. Hanya saudara jauh, tapi sejak ingat saya memanggilnya Nenek Amih. Sore hari di bale-bale rumah Nenek Amih, saya dan anak-anak lainnya, sering mendengarkan dongeng Nenek Amih.
Suatu pagi Nenek Amih sedang mengupas ubi. Di kampung saya, ubi harganya murah. Hampir setiap kebun ditanami ubi. Kalau kita ingin makan ubi, tinggal minta saja, pasti banyak yang memberi. Setiap panen ubi, yang punya kebun suka memisahkan untuk diberikan kepada yang mau.
Saya membantu mengupas ubi ketika tahu ubi yang akan dikupas Nenek Amih begitu banyak.
“Buat apa, Nek, ubi sebanyak ini?” tanya saya.
“Mau bikin kolak. Kasih tahu anak-anak, bantu Nenek untuk memberikan kolak ini nanti, ya?” Nenek Amih malah balik bertanya.
“Memberikan kepada siapa?”
“Kalau cukup buat orang sekampung. Kalau tidak cukup, buat tetangga yang dekat saja dulu.” Nenek Amih bicara sambil memotong-motong ubi yang sudah dikupas. “Nanti anak-anak buka bersama di sini. Boleh bawa nasi dari rumah masing-masing. Habis makan kolak, kita makan nasi bersama-sama di bale-bale.”
“Asyik…,” kata saya sambil beranjak pergi.
“Mau kemana?”
“Memberi tahu teman-teman, Nek.”
**


Siang menjelang sore saya dan anak-anak lainnya mengirimkan kolak bikinan Nenek Amih. Ada beberapa rumah yang setelah dikirim meminta saya menunggu, kemudian mereka memberikan makanan buat Nenek Amih. Istilahnya mulang. Kalau kita dikirim makanan, ya kita harus mulang, membalas memberi makanan.
Mulang yang paling menarik adalah dari Bu Isti, yaitu opor ayam serantang besar. Bu Isti orang kaya di kampung saya. Nenek Amih menyimpan opor ayam itu. “Buat berbuka bersama nanti,” katanya.
Bik Iroh, tetangga lainnya, memanggil saya. Dia bertanya, “Dipulang apa oleh Bu Isti?”
“Opor ayam.”
“Opor ayam? Sebanyak itu?”
“Iya.”
Sore itu Bik Iroh menangkap ayam. Saya membantu memegang ayam saat menyembelihnya.
“Wah, makan besar, Bik,” kata saya, siapa tahu kebagian ati ampelanya.
“Hus, ini buat ngirim ke Bu Isti. Nanti tolong kirimkan goreng ayamnya sepulang tarawih, ya?” kata Bik Iroh sambil mencabuti bulu-bulu ayam. “Kalau Nenek Amih saja ngirim kolak ubi dipulang opor ayam. Bik Iroh kan ngirim ayam goreng, tentu dipulang makanan enak dari kota.”
“Siap, Bik!”
Sepulang tarawih saya mengantarkan kiriman Bik Iroh ke Bu Isti. Wadahnya rantang besar. Pulangnya saya disuruh menunggu. Rantang besar itu diisi lagi, entah oleh apa. Sampai di rumah Bik Iroh, saya langsung pulang. Bik Iroh tersenyum ketika tahu rantangnya berat.
Tapi besoknya Bik Iroh cemberut.
“Dikirim kolak ubi saja mulangnya opor ayam. Masa dikirim ayam goreng mulangnya dengan kolak ubi,” kata Bik Iroh. Saya tertawa. ***
kisah humor klasik SI KABAYAN, tidak hanya mengundang tawa, tapi juga ada sesuatu yang menyentuh "perenungan". KLIK untuk mendapatkannya.



PILIHAN

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni