Jejak Kata :

CARA MENGIRIM CERPEN ANAK KE MAJALAH UMMI

Written By Mang Yus on Rabu, 05 April 2017 | 06.31

Cara Mengirim Cerpen ke Ummi
 Tampilan sisipan Kampung Permata di majalah Ummi

Majalah Ummi adalah majalah yang diperuntukkan bagi keluarga muslim. Terbitnya sebulan sekali. Sudah lama banyak penulis yang tahu bahwa Ummi menerima kiriman cerpen dari penulis lepas. Tapi masih banyak yang belum tahu bahwa Ummi mempunyai sisipan buat pembaca anak-anak. Nama sisipan itu adalah KAMPUNG PERMATA.
Nah, di sisipan KAMPUNG PERMATA ini ada rubrik cerpen untuk anak. Tentu saja siapa pun boleh mengirim cerpen anak ke KAMPUNG PERMATA. Pengalaman saya mengirim cerpen anak ke KAMPUNG PERMATA, sangat menyenangkan. Bisa disebutkan juga bahwa KAMPUNG PERMATA Ummi termasuk media yang “ramah” kepada penulis.
Tahun 2014  saya mulai mengirim cerpen anak ke KAMPUNG PERMATA. Beberapa bulan kemudian ada pemberitahuan, apakah cerpen anak kita mau dimuat atau belum bisa dimuat. Tapi bulan-bulan kemarin saya kirim lagi, tidak ada pemberitahuan. Bila cerpen anak kita mau dimuat, pemberitahuannya baru ada.
Bila seperti itu, beberapa bulan, misalnya 4-5 bulan, kita bisa kirim email konfirmas, menanyakan nasib cerpen anak kita. Insyaalah sepertinya Redaksi KAMPUNG PERMATA akan menjawabnya.
Oh iya, naskah bisa dikirim ke email kru_ummi@yahoo.com atau dikirim via pos ke Redaksi Ummi, Jl. Mede No. 42A Utan Kayu, Jakarta Timur.
Saya biasanya hanya dikirim via email saja. Sebagai pengetahuan tambahan, panjang naskah maksimal 5500 karakter. Pembaca KAMPUNG PERMATA adalah anak berusia 5-13 tahun. Kata Redaksi  KAMPUNG PERMATA, usahakan temanya sederhana, bahasanya mudah dipahami, dan tentu saja mengandung hikmah.
Honor untuk cerpen anak KAMPUNG PERMATA ini awalnya Rp. 250.000 tapi sekarang menjadi Rp. 300.000 biasanya dikirim sebelum bulan beredar. Misalnya dimuat edisi November 2015, honornya sudah ditransfer akhir Oktober 2015.
Selamat mencoba mengirim cerpen anak ke KAMPUNG PERMATA. Ini cerpen anak saya yang pernah dimuat KAMPUNG PERMATA, JUARAYANG LANCUNG dan KOMPUTER KANG TARJI.


CARA MENGIRIM CERPEN KE MAJALAH BOBO

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 04 April 2017 | 06.56

Cerpen "Kambing Mang Obing" dimuat Bobo setelah setahun sejak tanggal dikirim.

Bagi yang belajar menulis cerita anak, majalah Bobo adalah media yang utama untuk dikirim naskah. Tapi kemudian banyak yang mundur teratur. Kenapa? Saya merasa sudah siap mental untuk urusan menulis. Tahun 2012 saya memulai belajar menulis cerita anak. Awalnya hanya menemani anak yang sedang belajar menulis. Cerita anak saya dimuat di Kompas Anak, Permata-Ummi, Solo Pos, Lampung Pos, Analisa, koran anak Berani, dsb. Naskah yang diterbitkan juga ada beberapa buku. Tapi untuk majalah Bobo, ada catatan tersendiri hehe....
Saya dapat bocoran dari penulis top Bobo seperti Ali Muakhir, Benny Ramdhani, masa tunggu di Bobo sekitar 5-6 bulan. “Kirim saja 4-5 naskah, nanti juga bisa dimuat satu-satu,” kata Mas Ali.
Maka saya pun mengirim dengan kesiapan mental 5-6 bulan itu. Tidak hanya empat naskah, tapi belasan, kemudian puluhan. Sudah setahun sejak tanggal pengiriman (nah, tanggal pengiriman harus selalu dicatat, ya....) belum juga ada yang dimuat. Setelah lebih dari setahun baru ada yang dimuat, satu judul. Tentu saya punya harapan baru, yang lainnya pasti nyusul nih. Eh, ternyata tidak ada lagi. Setahun kemudian baru ada yang dimuat lagi. Wah, ini ajaib secara mental. Nunggu tulisan dimuat sampai bertahun-tahun....
Kesimpulan sementara saya: cerpen anak / dongeng yang saya tulis terlalu jadul tema-temanya, terlalu panjang naskahnya, dan entah apa lagi. Untungnya, majalah Bobo termasuk yang enak dalam berkomunikasi. Dikirim lewat pos dan tidak bisa dimuat, dikembalikan. Ditanya lewat email, dijawab. Jadi ini catatan saya, bila ingin mengirim naskah ke Bobo :
1.      Kirim boleh lewa pos (alamatnya cari di majalah ya, saya sudah posisi enak di kursinya hehe...) boleh lewat email : naskahbobo@gramedia-majalah.com . 
2.      Font Arial, dengan  ukuran 12, spasi 1.5, sekitar 600-700 kata, untuk cerita dua halaman, kalau untuk satu halaman, 250-300 kata. (Jangan ikuti jejak saya, mengirim cerpen dengan panjang rata-rata 900 kata....)
3.      Kirim, catat tanggal pengiriman, dan kembali berpikir menulis cerita baru. Jangan kirim satu lalu menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Nanti kamu lumutan hehe....
4.      Kirimlah secara berkala, misalnya sebulan satu judul. Kalau bisa seminggu satu. Yang istikomah ya. Jangan minggu ini kirim dua judul, setahun berikutnya tidak kirim-kirim.
5.      Belajar yang keras, baca cerpen / dongeng yang pernah dimuat Bobo (dan media lainnya)
6.      Isi saja sendiri-sendiri, jangan nyontek hehe....
Oh, iya, ini cerpen saya yang pernah dimuat Bobo. KOLECER BARALAKKAMBING MANG OBING dan PANEN UBI MADU.



KOLECER BARALAK



Kolecer Baralak
 Majalah BOBO, Januari 2017

Kolecer baralak adalah baling-baling dari baralak, daun kelapa kering. Tentu saja kolecer baralak berukuran kecil. Anak-anak di kampung Cilembu bisa membuatnya. Cilembu adalah sebuah kampung di kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Hari ketiga Rakey berlibur di Cilembu, Dindin mengajaknya membuat kolecer baralak.
“Kebetulan di Cilembu sedang panen padi,” kata Dindin. “Karena kolecer baralak biasanya dibuat saat panen padi.”
“Memangnya kenapa?”
“Kan dangdanannya dari pohon padi yang bulir-bulirnya sudah dipanen.”
“Apaan tuh dangdanan?”
Dangdanan itu aksesoris untuk menyimpan kolecer baralak agar bisa berputar dan disimpan di pematang sawah.”
Tentu saja Rakey tidak mengerti. Tapi pagi-pagi ketika Dindin dan Yayat menjemput, Rakey ikut ke sawah. Mereka membawa tas masing-masing, yang berisi segala perbekalan.
**
Awalnya mereka memilih baralak. Baralak yang baik adalah yang lurus dan lentur. Baralak itu dipotong sekitar sejengkal. Lidinya dihilangkan. Kedua ujungnya dirapikan. Lalu ditusuk dengan lidi sepajang satu jengkal.
“Untuk dangdanan kita pilih batang padi yang kecil dan besar,” kata Dindin. Lalu Yayat dan Dindin memilih batang-batang padi besar dan kecil. Batang padi besar dikorek dengan peso raut, pisau untuk menghaluskan atau melubangi sesuatu. Peso raut sangat tajam, ujungnya lancip. Dindin dan Yayat masing-masing membawa peso raut.
Batang padi kecil dimasukkan ke batang padi besar yang sudah berlubang. Lidi daun kelapa basah yang masih lentur ditusukkan ke batang padi, dibiarkan memanjang sebagai ekornya. Dangdanan pun selesai.
Kolecer baralak yang tadi sudah jadi, lidinya dimasukkan ke lubang dangdanan. Lalu dihadapkan ke arah angin. Angin sawah berhembus kencang. Kolecer baralak itu pun berputar. Rakey bertepuk tangan saking senangnya.
Dangdanan kolecer baralak itu diikat ke batang bambu sepanjang satu setengah meter. Lalu bambu itu ditancapkan ke pematang sawah. Kolecer baralak itu berputar semakin kencang. Ekornya yang ditambah rumbai-rumbai tali rapia bergetar tertiup angin.
“Kata ayahku, dulu di kampung kita ini ada pesta kolecer baralak,” kata Yayat. “Ratusan kolecer baralak dibuat dan ditancapkan sepanjang pematang sawah ini.”
Rakey membayangkan pematang-pematang sawah itu penuh dengan kolecer baralak. Sungguh pemandangan yang indah. Tentu mengabadikan dengan kamera kecilnya menjadi sesuatu yang berkesan.
Hari itu mereka membuat sekitar sepuluh kolecer baralak. Itu juga setelah ada anak-anak lainnya yang ikut bergabung, membantu membuat dangdanannya. Sepuluh buah kolecer baralak itu berputar bersamaan. Mereka berfoto-foto di sekitar kolecer baralak itu.
**
Kang Ramdan, anak yang punya sawah paling luas di Cilembu, mendatangi anak-anak. Kang Ramdan ini sudah kuliah di Institut Pertanian Bogor. Kang Ramdan pun ikut berfoto dan bercanda.
“Tahu tidak, ada cerita menarik tentang kolecer baralak ini,” kata Kang Ramdan. Anak-anak menggeleng.
“Rakey, anak Jakarta, tahu tidak?”
“Tidak Kang. Kolecer baralaknya juga baru tahu sekarang.”
“Ada orang pintar, sering dia memandang permainan anak-anak kolecer baralak,” cerita Kang Ramdan. “Orang pintar itu kemudian mempunyai ide, baling-baling dipakai memindahkan air dari sungai ke persawahan yang lebih tinggi. Baling-baling kemudian dipakai tenaga listrik. Baling-baling kemudian dipakai... apapun yang belum tercipta. Tahu siapa orang pintar itu?”
Anak-anak menggeleng.
“Orang pintar itu adalah... kalian. Nanti setelah besar, kalian akan terkenang dengan permainan kolecer baralak ini. Dan kalian akan mendapatkan ide besar.”
Rakey dan teman-temannya tertawa. Mereka lalu bermain sepak bola di petakan sawah yang sudah dipanen. Keringat mengalir di sekujur tubuh Rakey. Hari untungnya tidak terlalu panas. Petakan sawah untuk bermain sepak bola itu memang sengaja memilih yang diteduhi rumpun-rumpun bambu.
Permainan sepak bola baru berhenti ketika suara adzan berkumandang dari mushola. Mushola itu tidak terlalu besar, tapi bersih dan indah. Di halamannya yang luas tumbuh pohon mangga harumanis dan berbagai bunga-bungaan. Mushola itu berdiri di pinggir sawah.
“Woy, ayo ke mushola. Sepak bolanya udahan!” teriak Yayat.
Anak-anak lalu berebut mandi di pancuran. Airnya bening dan besar karena langsung dialirkan dari mataair. Rakey merasa segar mandi di air bening yang melimpah. Baju bersih dan sarung dikeluarkannya dari tas. Anak-anak lalu sholat berjamaah. Imamnya adalah Mang Asip yang tadi ikut menyabit padi.
Selesai sholat Rakey merasakan perutnya berkerubuk. Untungnya segalanya sudah disiapkan Nenek. Bekal nasi dan air pun dikeluarkan. Di bawah pohon mangga aromanis anak-anak makan perbekalannya masing-masing. Sambil makan bersama, sambil saling bercerita, saling tukar perbekalan.
Pulang dari sawah Rakey tersenyum. Pengalaman yang luar biasa. Rakey ingat apa yang dikatakan Kang Ramdan: “Orang pintar itu adalah... kalian. Dan kalian akan mendapatkan ide besar.”
Besoknya Rakey dan Dindin ke sawah lagi, kolecer baralak yang berjajar itu sudah tidak berputar lagi. Batang-batang padinya sudah mengkerut. Baling-balingnya ada yang hilang diterbangkan angin kencang.

Begitulah, usia kolecer baralak itu biasanya hanya sehari. Tapi sampai pulang ke Jakarta, Rakey selalu mengingatnya. Dia mempunyai banyak cerita dan foto untuk diperlihatkan kepada teman-teman. ***

PILIHAN

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni