Jejak Kata :

SI KABAYAN DISEMANGATI ZAMAN

Written By Keluarga Semilir on Minggu, 13 Agustus 2017 | 23.45


humor klasik si kabayan

PEMESANAN HUB:
WA :  085220060628
BBM : 5CEFDB37

Si Kabayan adalah tokoh dongeng di daerah Pasundan, Jawa Barat. Dia hidup sejak zaman dongeng disampaikan secara lisan, sampai dongeng dituliskan atau direkam dalam media audio-visual. Untuk saat ini, rasanya tidak ada orang Sunda yang tidak tahu Si Kabayan. Bahkan karena dongeng Si Kabayan menyebar juga melalui bahasa Indonesia dalam media cetak dan media audio-visual, rasanya tokoh ini sudah dikenal lebih luas lagi.
Pertama kali saya mengenal Si Kabayan ketika orang-orang tua sering mendongengkan satu dua cerita di madrasah tempat mengaji. Atau dari Bapak (almarhum) yang pengucapan “el, da deet”-nya dalam episode “Si Kabayan Memancing Siput” tersimpan rapi dalam kenangan. Saya rasa setiap mereka mendongengkan Si Kabayan, ada tujuan untuk lebih “menghibur”. Para orang tua di madrasah bermaksud agar anak-anak tidak ngantuk, atau kecewa tercegat hujan ketika mau pulang. Bapak selalu berhasil memindahkan suasana isak tangis saya ke tertawa dengan ucapan “el, da deet” sambil mengangkat kaki.
Jadi dalam rekaman pikiran saya, Si Kabayan adalah tokoh dongeng untuk memancing tertawa. Baru kemudian saya tahu bahwa tertawa pun bermacam ragam. Achdiat K. Mihardja menulis serangkaian cerita Si Kabayan dalam buku Si Kabayan, Manusia Lucu dengan rasa “akademis”. Bagi Achdiat, cerita lucu haruslah berunsur ngageuhgeuykeun (mentertawan, baik berupa kritik sosial atau kritik diri). Karenanya dalam versi Achdiat, cerita Si Kabayan yang sudah klasik seperti dalam episode “Mencari Jalan Ke Surga” menjadi panjang dan penuh keterangan. Belum lagi cerita baru semisal Si Kabayan dan Sastra Kontekstual, Si Kabayan dan Filsafat Kerakusan, Si Kabayan Mau Melawat ke Luar Negeri.
Itu semua memberi kepercayaan kepada saya bahwa bagaimana ragam kelucuan dongeng Si Kabayan tergantung penuturnya. Si Kabayan pun bisa menjadi apa saja. Dia hidup di setiap zaman. Disemangati zamannya. Cerita-cerita yang tidak sesuai lagi ditinggalkan dan lambat laun hilang dari ingatan. Dalam buku yang terbit tahun 1920-an (penulisnya seorang Belanda, tapi saya lupa detailnya karena buku itu tidak tertemukan lagi), begitu banyak cerita Si Kabayan yang cawokah (jorok, mentertawakan tentang seksualitas). Lambat laun cerita seperti itu hilang, meski dalam kesenian tradisional seperti wayang golek humor cawokah menjadi ciri tersendiri dalang-dalang tertentu.
Mungkin karena berdasar karakter Si Kabayan seperti itu, Ajip Rosidi dalam pengantar cerita Si Kabayan Jadi Dukun karangan Moh. Ambri menyatakan: siapapun bisa menciptakan tokoh Si Kabayan, yang sifat-sifatnya dianggap sudah baku: kedul, teu boga kaera, cunihin, cilimit, hawek – tentunya sifat-sifat manusia yang tidak terpuji.
Sifat-sifat seperti itu saya rasa bermetamorfosa juga sesuai semangat zaman. Selain sifat Si Kabayan yang disebutkan di atas, semakin sering ditemukan Si Kabayan yang bijaksana, merdeka, dan cerdas. Dalam versi film, malah tergambarkan Si Kabayan yang lugu, jujur, dan baik hati. Sementara sifat cunihin, cilimit dan hawek, semakin menurun frekwensinya. Barangkali karena Si Kabayan pun berinteraksi dengan tokoh-tokoh jenaka lainnya seperti Nasruddin Hoja atau Abu Nawas. Dalam beberapa cerita mereka ada kesamaan. Seperti ketika Nasruddin Hoja ditanya, berapa banyak bintang di langit? Jawabannya, sama dengan bulu keledai di tubuhnya. Si Kabayan pun ada yang nanya seperti itu, “berapa banyak bintang di langit, tolong ikat tangan dengan air”. Jawaban Si Kabayan, “bintang di langit sama dengan pasir di pantai, sebelum mengikat tangan tolong buatkan dulu tali dari air itu.”. Seperti kita tahu, Nasruddin Hoja adalah tokoh jenaka yang lebih nyupi (bersifat sufi). Jadi sifat Si Kabayan pun bisa berubah terus menerus. Sifat abadinya hanyalah mengundang tertawa, bagaimanapun ragamnya.
Bagi saya, sifat cunihin, cilimit, hawek, kurang ajar (terutama terhadap mertua) Si Kabayan, menjadi termaafkan dengan sifat-sifat humor. Mungkin karena kita tahu dan percaya, humor adalah maqom tertinggi dari manusia yang senantiasa belajar manusiawi.
Tahun 2004 saya mengumpulkan dongeng-dongeng Si Kabayan dalam buku Si Kabayan Jadi Sufi (Pustaka Latifah). Di buku itu tidak semua dongeng klasik Si Kabayan yang dikumpulkan, karena saya menyatukannya dengan dongeng Si Kabayan "baru" yang benar-benar karangan saya. Tahun 2017 ini saya berkesempatan lagi mengumpulkan dongeng-dongeng Si Kabayan, maka saya memilih menuliskan kembali dongeng-dongeng yang klasiknya. Si Kabayan Memancing Siput, Si Kabayan Memetik Buah Nangka, Si Kabayan Ingin Diundang (dalam bahasa Sunda: Ngadeupaan Lincar), yang atau ada dalam buku Si Kabayan Jadi Sufi, ditambahkan dengan dongeng klasiknya yang dulu belum sempat dituliskan. Buku baru ini diterbitkan oleh Bhuana Ilmu Populer (Gramedia Grup). 
Tentu saja saya sangat berterima kepada banyak pihak yang memungkinkan saya ikut "mengingat" dan "merasakan" kelucuan Si Kabayan ini. Apa Abun Ismail (almarhum, semoga Allah swt merahmati) dan Mamah Pipin Sumirah (almarhumah, semoga Allah swt merahmati), yang pertama mengenalkan Si Kabayan kepada saya. Anak-anak saya (Semilir, Rofi, Rakey) yang selalu antusian didongengi Si Kabayan. Dan istri saya tercinta, Lina Herlina, yang sering menganggap saya sebagai Si Kabayan. Tentu semuanya terutama karena kesempata dan rahmat Allah swt.
Semoga ada manfaatnya.

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

Written By Mang Yus on Kamis, 10 Agustus 2017 | 00.46

kumpulan cerpen yus r. ismail

Buku kumpulan cerpen “Pohon Tumbuh Tidak Tergesa-gesa” ini diterbitkan oleh Syaamil tahun 2003. Berisi 16 cerpen yang semuanya pernah dimuat media cetak. Media cetak yang pernah memuat cerpen di buku ini adalah Media Indonesia, Republika, Kompas, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Matra, dan Horison. 

Cerpen-cerpen yang ada di buku ini adalah di antaranya:
1.      GUBUKDI PINGGIR KOLAM
2.      KELUARGA HITAM
5.      PUTERI BULAN
SENYUMYANG ABADI

Ada beberapa catatan mengenai buku/cerpen ini. Saya selalu bahagia membacanya, karena yang membuat  "catatan" ini adalah para remaja yang masih belasan tahun. Di antaranya seperti ini:

RESENSI "POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA"

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

CATATAN BUNDO: POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

PAK SUTAR DAN SEEKOR KUCING

cerpen esquire
majalah Esquire, Juli 2017

Pak Sutar adalah orang kaya. Rumahnya ada lima. Rumah pertama ditempati keluarganya, istri dan dua anaknya yang sudah remaja. Rumah kedua dan ketiga dikontrakkan, karena tadinya juga dibeli dengan tujuan investasi. Rumah keempat ditempati Empi, istri mudanya yang dinikahi secara siri. Rumah kelima dikosongkan, sekedar ditengok oleh Mang Engkos dan Bik Erum, suami istri yang bertugas membersihkan rumah itu setiap hari. Rumah kelima itulah yang biasa dipakai istirahat oleh Pak Sutar saat sedang ingin sendirian.
Seperti sekarang, sudah dua hari Pak Sutar beristirahat di rumah kosongnya. Ada masalah rumit yang sedang dihadapinya. Awalnya adalah kabar dari Rudi, staf di kantornya. “Pak, saya mendengar kabar, bakal ada audit mendadak mengenai proyek-proyek tahun ini,” kata Rudi. “Bila selamat proyek tahun ini, tahun-tahun lalu tidak akan diaudit. Tapi bila ada indikasi penyelewengan, proyek tahun-tahun sebelumnya juga bakal diaudit.”
Kabar itu yang membuat Pak Sutar gelisah. Menyesal bila sudah seperti itu. Tahun lalu sebenarnya sudah terpikir untuk berhenti. Sudah waktunya untuk bersih-bersih diri dari kelakuan seperti itu. Sudah kaya ini. Pemerintah kan dari Pusat sedang mendengungkan clean governement. Rapat-rapat atau acara yang diadakan instansi diusahakan jangan dilakukan di hotél.
Tapi setiap mengajukan proyek, disetujui, selalu sayang bila dilepaskan kepada pengusaha. Apalagi dari Pusat diharuskan menolak hadiah apapun dari pengusaha.
“Rudi tahu siapa pengawasnya?” kata Pak Sutar waktu itu.
“Katanya dari Pusat. Gampang sebenarnya bila ingin tahu, Pak. Tinggal tanya-tanya aja orang Pusat, tapi buat apa?”
“Tinggal ajak makan-makan, atau jalan-jalan seperti biasanya.”
“Sekarang tidak bisa seperti itu, Pak. Bila kita berlaku seperti itu, bisa-bisa langsung dicurigai. Pusat sekarang sedang mencari kambing hitam dari banyak perilaku korup instansi.”
Itu yang membuat gelisah Pak Sutar. Bila mau dihadapi seperti yang tidak berdosa, akhirnya pasti ketahuan. Sejak jadi Kabid Sejarah dan Kepurbakalaan, setiap mengajukan proyek sebenarnya buat dirinya sendiri. Tender akhirnya dimenangkan oleh perusahaannya. Perusahaan dirinya yang memakai nama dan alamat fiktif. Tidak susah nyari pengangguran yang datang ke kantor memakai kemeja bersih, suruh tanda tangan ini itu, pulangnya diajak makan-makan dan amplop satu juta. Apalagi proyek yang di bawah seratus juta rupiah yang tidak mesti tender dulu, lebih gampang mengakalinya.
Ya, dengan cara mengakali proyek seperti itu Pak Sutar bisa investasi di kebun dan sawah, rumah, pom bensin, saham trading, juga membiayai Empi yang boros dan selalu ingin up to date. Tapi Pak Sutar tidak bisa melepaskan Empi. Selain punya anak yang sedang lucu-lucunya, baru dua tahun, Empi cantik seperti pemain sinetron.
Terpikir oleh Pak Sutar, bila diaudit satu proyek, lalu dicari perusahaannya, pasti ketahuan fiktifnya. Bila diaudit proyek lainnya, proyek tahun-tahun yang lalu, pasti ketahuan caranya serupa. Sepertinya milyaran rupiah yang dituduhkan kepadanya. Bila masuk ke pengadilan langsung jadi tersangka, dipecat dari pns, investasi mungkin disita. Malunya pasti terbawa sampai kapan pun, mungkin juga sengsara lagi, mungkin Empi akan kabur, mungkin....  
**

Bila sedang beristirahat di rumah kosong, Pak Sutar lebih suka duduk-duduk di balkon loteng. Duduk di kursi malas yang sengaja dipesan dari Jepara. Memandang anak-anak bermain di pesawahan, ibu-ibu memetik kangkung, para petani membersihkan rumput-rumput liar di seputar rumpun padi, para pedagang yang lewat di jalan kecil pinggir sawah.
Bila melihat pemandangan seperti itu, kadang terpikir oleh Pak Sutar untuk bertaubat. Dia ingat kembali waktu kuliah dia termasuk aktivis masjid. Sholat lima waktu tidak pernah tertinggal. Hanya setelah kerja jadi pns, sholat mulai tercecer, apalagi setelah sesekali mengakali keperluan kantor, dan akhirnya ikut mengakali proyek. Sholat lima waktu hanya agar terlihat alim saja, apalagi kemudian dia umrah dan menunaikan ibadah haji.
Saat mendengar adzan magrib, perasaan ingin bertaubat itu datang lagi. Pak Sutar pun kemudian sholat. Selesai sholat lalu berdo’a.
“Ya Allah, saya rela rumah ini dijual, hasilnya dibagikan kepada panti-panti asuhan, asal gelisah saya cepat sirna. Saya tidak akan melakukan lagi perbuatan tercela mengakali proyek,” gumam Pak Sutar dalam do’anya.
**

Besoknya waktu Rudi mencegat di tempat parkir, Pak Sutar terkejut. “Pak, barusan saya mendengar lagi kabar, audit mendadak itu tidak jadi hari ini,” kata Rudi. “Auditnya ternyata acak. Yang kena audit dari Dinas kita adalah Bidang Pendidikan Luar Sekolah.”
Entah Pak Sutar terkejut karena senang, entah terkejut karena ingat do’anya. Pulang dari kantor masih ke rumah tempat istirahat itu. Dia merenung. Do’a saya ternyata dikobul, Tuhan ternyata sayang kepada saya, gumam Pak Sutar. Tapi menjual rumah ini dan hasilnya disedekahkan kepada panti-panti asuhan, apakah tidak akan sayang? Rumah ini harganya tidak akan kurang dari sembilan ratus juta rupiah. Harga beberapa tahu yang lalu itu. Kaya juga keterlaluan bila mesti sedekah sebesar itu, gumamnya lagi.
Pak Sutar sekarang gelisah dan berpikir keras bukan karena takut. Tapi gelisah karena hatinya pernah berdo’a. Kata kyai, yang seperti itu namanya nadar, dan nadar wajib dilakukan. Tapi kan belum bicara kepada siapapun, gumam Pak Sutar. Bila tidak dilakukan juga tidak apa-apa. Anggap saja niat baik yang tidak jadi dilakukan.
Begitu yang ada di pikiran Pak Sutar. Tapi setiap mau dilupakan, do’a itu muncul kembali. Hatinya tidak tenang bila nadar itu belum dilakukan. Namanya juga gumam di dalam hati, janji kepada diri sendiri, bagaimana melupakannya?
Saat sedang berpikir keras antara sayang bersedekah rumah dan merasa berhutang itulah Pak Sutar melihat kucing di atap rumahnya, lalu ke balkon, lalu melompat ke kaca nako yang terbuka. Pak Sutar tersenyum. Kucing itu peliharaannya. Pak Sutar sendiri yang membelinya setahun yang lalu. Tadinya kado buat ulang tahun anaknya, ternyata anak remajanya itu hanya senang beberapa minggu kepada kucing itu. Seterusnya dibawa ke rumah tempat istirahat itu, diurus oleh Mang Engkos. Pak Sutar lalu memanggil penunggu rumahnya itu.
“Mang, kucing yang berbulu kelabu itu kucing kita?” tanya Pak Sutar.
“Iya, kucing yang dulu dibawa Bapak itu,” jawab Mang Engkos. “Sama saya sering dilepas, Pak. Kasihan tidak ada temannya.”
“Masukkan lagi ke kandang, Mang. Jangan dilepas lagi, ya!:  
Pak Sutar lalu memasang iklan di koran: Dijual rumah, murah! Karena embel-embel murahnya itu, hari itu dipasang iklan hari itu juga ada yang datang.
“Inginnya berapa, Pak, rumah ini?” tanya seorang calon pembeli setelah melihat-lihat sekeliling rumah.
“Rumah ini sebenarnya murah. Murah sekali. Bapak beruntung dan Bapak tidak akan percaya awalnya,” kata Pak Sutar. “Harganya hanya lima juta rupiah.”
“Lima juta rupiah?” Calon pembeli itu terkejut. Beberapa saat dia tidak mengedipkan penglihatannya, tidak percaya dengan pendengarannya.
“Iya, lima juta rupiah. Tapi yang membeli rumah ini, wajib membeli kucing itu,” kata Pak Sutar sambil menunjuk kandang kucing. “Bagaimana tertarik?”
Calon pembeli rumah tersenyum. Dia cepat menduga, sepertinya ada apa-apanya dengan harga kucing itu. Makanya dia bertanya begitu tenang, “Berapa harga kucingnya?”
“Harga kucing tidak bisa ditawar, harganya sembilan ratus juta rupiah.”
Calon pembeli tertawa. Dia mengira Pak Sutar bercanda. Tapi setelah beberapa kali Pak Sutar meyakinkan bahwa harganya harus seperti itu, calon pembeli itu setuju. Ya, karena setelah dijumlah, harga rumah dan kucing itu masih tetap lebih murah dibanding rumah-rumah lainnya di perumahan itu.
Besoknya transaksi jual-beli dilaksanakan di hadapan notaris. Pulang dari notaris, Pak Sutar mampir ke panti asukan, lalu sedekah lima juta rupiah, seharga rumahnya. Keluar dari panti asuhan Pak Sutar senyum-senyum. Pak Sutar merasa dirinya pintar. Kata hatinya, hanya manusia pilihan yang bisa berkelit dari situasi rumit. Meski di dalam hati, di dalam hatinya yang paling dalam, Pak Sutar merasa bodoh lebih dari sebelumnya.
Di saku celana Pak Sutar ada buku tabungan yang saldonya sembilan ratus juta rupiah, hasil menjual kucingnya. Waktu jari-jari tangannya memegang buku tabungan, Pak Sutar tersenyum. Dia merasa tetap kaya. Tabungan ini tidak mesti disedekahkaan karena hasil menjual kucing. Meski di dalam hatinya, di dalam hatinya yang paling dalam, Pak Sutar merasa sengsara lebih dari sebelumnya. ***

Pamulihan, 13 Mei 2017

BEBEGIG

Written By Keluarga Semilir on Kamis, 03 Agustus 2017 | 11.58

bebegig
Suara Ntb, 29-7-2017

Tidak banyak orang yang tahu lelaki berusia dua puluh tahun itu. Dia tinggal bersama neneknya di sebuah gubuk di ujung kampung Gulamping. Setiap hari dia pergi ke sawah seorang diri. Berangkat pukul tujuh pagi dan pulang setelah senja. Berjalannya tidak sempurna karena kakinya yang pengkor. Tangannya yang kanan selalu di depan dada karena kengkong. Punggungnya menggendong tas kumal berisi perbekalan; nasi bungkus kecil dan botol air.

RANGGON PANYAWANGAN

Written By Mang Yus on Selasa, 18 Juli 2017 | 20.13

carpon yus r. ismail

Tribun Jabar, 23-25 Mei 2017

Bada solat subuh di masjid téh henteu terus balik ka imah. Hayoh ngadon ngajanteng ngawaskeun saung ranggon luhureun perumahan. Enya ogé masih poék, katingali belegbeg saung mah. Kamari beurang ningali téh basa ngaliwat tas meuli pulsa di warung Ceu Imih. Masih weweg jeung tambah nyari da puguh tihang awi jeung bilikna dipérnis, enya ogé diadegkeunna 20 taun katukang. Meureun awi jeung kaina anu bobo geus sababaraha kali diayuman. Di hareupna ditulisan: SANGGAR SENI RANGGON PANYAWANGAN. Duka saha anu nambahanana, da baheula mah ngaranna cukup RANGGON PANYAWANGAN.
Disebut ranggon saenyana mah henteu matut, da puguh saung téh kolongna henteu pati jangkung. Ngan lantaran diadegkeunna di lahan luhureun perumahan, jadi ti handap mah asa luhur. Atuh Pa RW jeung Kang Dodo mupakat méré ngaran ka éta saung Ranggon Panyawangan. Puguh atuh lamun geus nyawang pasawahan, pakebonan, pakampungan, solokan tengah sawah, asa jararauh panineungan. Henteu kungsi aya anu protés ku ngaran Ranggon Panyawangan. Barina ogé keur naon ngamasalahkeun anu henteu perlu.
Dua puluh taun katukang basa mimiti diadegkeun, ranggon téh asal ngadeg jeung saayana lain bohong. Harita kuring kakara kelas 3 SMP. Lantaran barudak henteu boga tempat ulin matuh, Kang Dodo anu jadi Ketua Karang Taruna ngumaha lahan luhureun perumahan ka Pa RW. Ari pék ku urut dépéloper dihempékeun asal dipaké keur umum. Der wé diadegkeun ku saréréa. Barudak karang taruna marilu ngakutan awi ti sisi leuweung, awéwéna nyieun konsumsi. Bapa-bapa anu garawé atawa daragang, pasosoré jeung poé minggu mah marantuan. Awi mah ngabadeg di sisi leuweung, rék ngala sakumaha ogé dihempékkeun ku Pa Kuwu.
Henteu kungsi saminggu ranggon téh ngadeg. Poé minggu, bari sakalian kerja-bakti di sabudeureun perumahan, maké numpeng sagala. Unggal gang, aya 13 gang di perumahan téh, ibu-ibuna narumpeng. Pukul sapuluhan, tumpeng aya welasna ngajajar di tengah ranggon. Pa RW pidato, dituluykeun ku Ustad Abu Hasan ngadu’a, der wé balakécrakan. Puguh di jero tumpeng téh sagala aya. Daging hayam, endog, témpé, tahu, kumeli. Tapi ari anu paporit mah angger asin, sambel jeung jéngkol.
**

Aya Ranggon Panyawangan téh keur perumahan kuring mah hiji berkah. Ti saprak Ranggon Panyawangan ngadeg, sakabéh warga perumahan jadi boga tempat pikeun ngumpul. Urang gang kahiji nepi ka gang katiluwelas, jadi alakrab. Barudak sakola, baralik sakola téh ukur saelol ka imahna mah, ukur neundeun tas jeung dahar, tuluyna mah ulin di Ranggon Panyawangan. Sakapeung aya anu henteu dahar-dahar acan, da henteu kungsi lila indungna gogorowokan ngagentraan nitah dahar jeung ganti baju. Sagala kaulinan diayakeun di buruan ranggon da enya lega. Ucing-ucingan, pris-prisan, ngadu kaléci, sapintrong, diulinkeun kumaha raména. Lamun aya indung anu gégéréwékan nyaram arulin di buruan da puguh panas, arulinna téh terus di jero ranggon. Beklen, congklak, dam-daman, catur, atawa lamun manggih kartu garapléh nurutan kolot.
Adan asar barudak bubar da arék ngaji di masjid. Kuruncul barudak rumaja, awéwé lalaki, ngariung sagala diobrolkeun. Tuluyna mah gigitaran bari nyanyi asal ngahaleuang. Lagu anu biasana dihaleuangkeun lamun henteu lagu heubeul anu babari konci gripna, lagu Sunda atawa dangdut. Sakapeung sok aya anu nyanyi lagu-lagu Barat, tapi sok eureun sorangan sabada disurakan da puguh kekecapanna ogé henteu matut, Inggris pérsi Leuweung Tiis téa.
Rumaja anu gigitaran mah terus nyambung siligenti nepi ka peuting. Minangka reureuhna téh kapotong magrib. Aya anu terus ka masjid ngadangu adan magrib téh, aya ogé anu balik heula ngadon dahar. Tapi ku sakitu ogé kolot-kolot téh ngarasa reugreug. Henteu hariwang barudakna kalibet narkoba, pésta oplosan, atawa tawuran. Ongkoh deui Kang Dodo salaku Ketua Karang Taruna, rada leket kana solatna. Enya ogé kitu, barudak awéwé anu milu ngariung di Ranggon Panyawangan jam salapan ogé biasana disarusulan ku adina atawa ku indungna.
Lamun malem minggu, ibu-ibu jeung bapa-bapa karaokéan, tangtu bari ngaliwet. Peuting séjénna aya ogé jadwal cianjuran jeung tembang. Barudak rumaja diajar nyalung sabada aya anu nyumbang calung.
**

Entong ngabayangkeun perumahan Leuweung Tiis Endah siga perumahan di Jakarta atawa Bandung atawa di kota kabupatén. Ieu mah perumahan gagal sisi Leuweung Tiis. Barudak rumaja mah biasana nyarebut LTE, ngarah gaya cenah, singketan tina Leuweung Tiis Endah.
Tadina LTE diadegkeun pikeun pagawé pabrik stik. Tapi saacan LTE anggeus, pabrik stikna bangkrut. Atuh imah di LTE téh karosong. Depeloperna henteu nuluykeun, da moal pipayueun cenah perumahan sisi leuweung mah. Taun 1980 mimiti ngadegna LTE téh, pangeusina bisa diitung ku ramo, cenah sagang téh ukur saurang dua urang. Taun 2000-an mah kaasup gegek, aya tilu ratus imahna anu kaeusi. Puguh harga imahna murah pisan, ukur 4-5 juta. Anu garawé di Bandung atawa Cicaléngka, kapaksa unjam-injeum da harga imah masih murah téa. Ayeuna maké aya anu nawarkeun 30-40 juta. Anu ngeusian waé imah kosong aya nepi ka ayeuna. Imah kosong anu henteu puguh nu bogana da henteu embol-embol, terusna dikontrakeun lima ratus rébu nepi ka sajuta sataunna ku tatanggana.
Lamun hayang ningali masarakat miskin di Indonésia, perumahan LTE bisa jadi contona. Umumna imah témbok batako henteu dipelur, hateup asbés henteu dilalangitan, kitu ti mimiti dieusianana ogé. Umumna kolot-kolot téh garawéna dagang ngampar, ngojég, tukang bas jeung ladénna, séles leuleutikan, gawé di bandar hui atawa di kebon, enya ogé aya saurang dua uang anu jadi guru atawa pns séjénna.
Unggal waktu aya hiji dua imah anu dirarapih, malah diréhab jadi agréng. Umumna imah pns anu gajihna terus naék, imahna ogé maju ka weweg. Anu kaplingna ditambahan jadi dua, malah jadi opat, ogé aya. Bumi Pa Lukman apan opat kapling, jadi siga karaton di antara imah-imah butut sabudeureunana. Imah séjénna aya anu terus diloténgkeun, dijieun garasina, jeung dipager jangkung. Enya ogé henteu karasa sirik atawa nudingna, lamun aya tamu heug tunyu-tanya imah-imah agréng téa jawabanna siga kieu: “Anu éta mah bogana pagawé pajak, anu itu mah pns-na di tempat baseuh, ari anu ieu pajabat di dinas kabupaten.”
**

Ari kuring, ti leuleutik ulin téh ampir unggal poé. Batur ulin jeung saha waé akur. Tapi sanggeus rumaja, sanggeus mindeng idek liher di Ranggon Panyawangan, anu disebut dalit téh jeung Jani, Hasan, Rido, Iwan, Putra. Unggal poé babarengan, dahar sapiring nginum sagelas téh lain babasan.
Enya ogé kitu, kakara yakin ayeuna, horéng sadalit-dalitna jeung sobat geuning henteu bisa neuleuman haté anu pangjerona mah. Nepi ka sakola SMK, Iwan mah di SMUN, hirup téh karasa resepna. Satamat SMK mimiti aya beungbeurat unggal ngariung di Ranggon Panyawangan téh. Gigitaran, ceuceuleuweungan, ngaliwet atawa meuleum sampeu, sakapeung eureun sakedapan. Aya anu dipikirkeun ku uteuk séwang-séwangan. Kuring sorangan masih kapikiran kekecapan Bapa, “Geus lima bulan lulus sakola téh. Nuluykeun sakola mah pimanaeun, néangan gawé atuh kaituh.”
Ngariung téh saukur jeung Rido, Jani, Putra katut Iwan. Hasan mah ti tilu bulan katukang gawé di Bandung. Ustad Abu Hasan ngajujurung ngalamar ka kantor-kantor. “Maneh mah kudu geus macakal. Adi maneh téh aya genep urang deui.  Jung, sugan waé aya milikna. Didu’akeun ku Abu,” saurna.
Kuring anu nganteur unggal isuk indit ka Bandung. Maké motor si kukut, bébék taun tujuh puluhan. Ider-ideran ngurilingan Bandung, unggal isuk nyorétan lowongan kerja dina koran, alhamdulillah aya anu narima jadi satpam. Enya ogé ari tempat gawéna mah henteu cop jeung haté, tempat bilyar apan sok kabéjakeun ogé tempat transaksi anu teu paruguh.
Sabulan ti harita Hasan nélépon, ménta kuring datang deui ka Bandung, ka tempat indekosna. Lantaran sorana aya ku miharep, henteu aya sari heureuy, kuring datang. “Tempat bilyar téh gening leuwih parah ti anu disangka. Di tukangeunana téh horéng kantor judi togel. Gawé téh jadi guligah. Solat waé henteu bisa, da puguh kalah diseungseurikeun ku kabéh babaturan. Leuheung diseungseurikeun, apan unggal rék solat téh dihalang-halang,” ceuk Hasan ngarahuh. Kuring henteu bisa kukumaha. Ras inget ka Ustad Abu Hasan, apan sakitu panatikna. Apan ka anu tahlil atawa muludan ogé nyebutna bid’ah da ngaaya-ayakeun anu euweuh.
Nasib Hasan téh terusna mah jadi rusiah kuring sabatur-batur. Basa katitipan duit ti Hasan pikeun kulawargana, kuring mah mikeunna ogé ka Ustad Abu Hasan bari tungkul. Tuluy ngaléos gagancangan. Teu karasa di juru panon aya anu ngalémbéréh.
Iwan anu terusna indit jauh bari mangtaun-taun cenah henteu balik. Iwan téh saenyana kuliah di Maranatha di Bandung. Tapi duka kumaha dongéngna, ujug-ujug ménta dianteur ka Ciamis. Horéng ka Ciamisna téh ngadon masantrén. Derekdek ngadongéngkeun, cenah geus lila hayang baruntak ka bapana téh. Ti leuleutik bapana anu tutunjuk kudu sakola ka dieu, kursus itu, nepi ka kuliah di Maranatha fakultas Ekonomi.
“Bapa mah anu kapikiranana ngan duit jeung duit. Sagalana kudu jadi duit. Urusan ahérat mah teu ngelemeng saeutik-eutik acan. Bapa teu apaleun beuki gedé mah barudakna ogé henteu sukaeun direjekian cara kitu. Enya, ti mana atuh Bapa bisa ngadegkeun imah agréng siga kitu, acan imah téh apan henteu hiji. Di Jogja tempat adi kuliah, apan meuli imah, itung-itung inpestasi cenah. Di Bandung mah puguh ti uing leutik ogé boga. Acan kebon jeung sawah aya 20 héktarna. Pimanaeun bisa sakitu lamun tina gajih wungkul. Uing téh hayang tobat, hayang ngaleungitkeun rejeki haram anu geus asup kana badan,” ceuk Iwan dua poé sanggeus cicing di pasantrén.
Bapana Iwan téh pejabat di instansi kabupatén anu ngadegkeun imah di opat kapling téa. Basa kuring balik nganteur Iwan, bapana nyarékan laklak dasar, atuh ditambahan kuring ogé dicarékan ku Amih. Lima taun ti harita, sanggeus bapana Iwan pangsiun, tuluyna geringan. Basa kuring kaparengan balik, tuluy ngalongok anjeunna, mani nangis ngadongéngkeun Iwan da cenah embung balik waé. Kuring nyusul ka Ciamis bari mapatahan, kakara Iwan daék ngalongok kulawargana.
Henteu lila sanggeus Iwan masantrén, Rido ogé indit ka Mataram, nuturkeun lanceukna anu geus taunan gawé di ditu. Padahal mah Rido geus gawé di laboratorium di Bandung. Masalahna, basa ngalamar Néng Wiwin, kolotna bet henteu satuju. “Abah daék ngalamar mojang mana waé, asal ulah ka dinya,” saur bapana Rido.
Bapa Rido téh kaasup ustad ogé, solatna biasa di madrasah anu perenahna di tungtung LTE, gang anu katiluwelas. Ari Umina Néng Wiwin, apan ngajar Iqro di masjid. Jadi sacara paham, Umi jeung Abina Néng Wiwin saperti Ustad Abu Hasan anu ngabid’ahkeun tahlil. Ari Ustad Najib, bapana Rido, apan anu osok mingpin tahlil. Enya sok kadangu aya pacogrégan di antara kolot ngeunaan tahlil jeung sajabana téh. Tapi nepi ka kasusna Rido, barudak mah henteu nganggap serieus.
Ari Rido jeung Néng Wiwin, bisa disebut aya haté kadua leutik ti SMP kénéh. Mimiti mah lamun aya Néng Wiwin ka Ranggon Panyawangan, kakara katémbong kurudungna ogé, anu gigitaran bari dangdutan téh sok langsung ngarobah laguna jadi kasidahan. Néng Wiwin saukur imut ngadanguna. Ari Néng Wiwin, ceuk sasaha ogé hésé nimukeun deui mojang anu geulis bawa ngajadi, henteu resep dipulas-polés tapi ku cai wudu ogé meureun leuwih cahayaan,  henteu weléh unggeuk, soméah, dipikaresep ku kolot-budak komo ku bujang sapantaranana mah. Sabada lulus ti pasantrén di Tanjungkerta, Sumedang, Néng Wiwin nuluykeun ka SMK bari ngajar ngaji ngabaturan umina di masjid.
Iwan ogé kungsi pok ka kuring, resep cenah ka Néng Wiwin. Tapi geus kapiheulaan Rido, jadi kajeun ngéléhan. Kuring ogé anu sok diajak Rido lamun hayang panggih jeung Néng Wiwin. Tapi ari geus panggih, lain ngobrol duaan. Ngobrolna téh kudu réaan di Ranggon Panyawangan. Lamun nganteurkeun balik ka bumi Néng Wiwin, leumpangna téh dijarakan dua métér.
Matak basa diulahkeun téh ku kolotna, Rido tuluy pundung. Kuring nganteur nepi ka stasion Bandung, da Rido ka Surabaya heula tumpak karéta api. Sataun ti harita Néng Wiwin dilamar ku ustad ti Garut. Ustad beunghar da cenah aktipis partéy bari jadi anggota DPRD.
Sababaraha bulan ti harita, Jani jeung Putra milu gawé ka Batam, ngadon masang tower. Tapi tuluyna henteu baralik deui, kalah ngadon dagang beuleum hui Cilembu di Batam. Kuring mah gawé di Malang, Jawa Timur, di kebon apel. Kabeneran dunungan téh leket pisan ibadahna. Lamun puasa téh loba karyawan anu diidinan mudik saacan munggah.
**

Diuk di Ranggon Panyawangan bari ngarumbaykeun suku, siga baheula keur rumaja, bari nyawang tingarudatna warna beureum di langit, asa jararauh panineungan. Waktu téh henteu karasa robahna. Keur di Malang mah tilu poé katukang asa henteu sakara-kara, keur di jalan dina karéta api ogé kitu, tapi sabada diuk di Ranggon Panyawangan asa aya anu leungit tina diri.
Ngarénjag téh basa geus carangcang tihang. Ti jalan aya anu ngagentraan. “Asép éta téh?” cenah. Henteu pati jelas pameunteu jeung dedeganana mah, tapi halimpuna mah asa wawuh. Mani ngaranjug barang turun tuluy nyampeurkeun. Néng Wiwin imut mani matak ngalenyap enya ogé masih reyem-reyem.
“Asép geuning tos di dieu?”
“Muhun, kaleresan kénging libur salami Romadon. Néng Wiwin gening tos mudik?”
“Henteu mudik, da tos lami ogé di dieu.”
“Oh, sadayana sareng si Akangna di dieu?”
“Ti kapungkur ogé da atosan. Mung sataun nikah téh. Abdi téh gening saukur ditikah siri, horéng didamelkeun anu katilu.”
“Terasna ka urang mana atuh?”
“Teu acan dugi ka ayeuna ogé,” cenah bari tungkul, terus amitan.
Haté ngalenyap. Anu leungit dina haté téh beuki nambahan. Apan ngan kuring di antara sobat-sobat anu nepi ka umur 35 taun masih ngabujang téh, da puguh dina haté téh saukur aya Néng Wiwin.
**
  

Pamulihan, 17 Mei 2017

AMPLOP

carpon yus r. ismail

 Tribun Jabar, 4-6 April 2017

Lanté semen téh dijeungkalan dua kali. Moal nyalahan, lebah dieu dikuburna amplop téh. Amplop coklat, henteu pati gedé, tapi kandel eusina. Apal semu rengatna dina tumbu tambal seménna, enya ogé geus belasan taun, ampir dua puluh taun, amplop téh dikuburna. Barang pindah ka imah ieu waé, imah rangkay di perumahan bangkrut di pakampungan. Ku sorangan dikuburna ogé. Puguh atuh hariwang lamun mercayakeun ka batur mah. Peuting nambalna ogé. Lanté lebah dinya téh dikali heula rada jero, terus diamparan keusik. Amplop téh dibulen ku pelastik, diawuran deui keusik saméméh disemén téh.
Ceuk pangrasa mah moal nepi ka ku rinyuh.
Rengat leutik lanté ditengetan sakali deui. Lain, lain nengetan rengat lanté saenyana mah. Tapi pikiran téh baluweng. Keur naon amplop téh dikali? Apan maksudna mah, enya ogé diruang di lanté imah, dijieun jimat, dipupusti, dijieun harta anu nyeuseup ingetan, lalampahan, pikiran, rasa, pikeun ngaji diri.
Pahat jeung palu téh diteundeun dina lanté. Sabaraha kali pahat téh kungsi dicecekel pikeun diketrokeun kana lanté semén? Teu kaitung. Enya, henteu kaitung. Puguh atuh, pangabutuh téh siga anu patutur-tutur, antay-antayan taya anggeusna.
“Kang, kumaha atuh ayeuna mah henteu tiasa nyandak heula balanjaan ti warung Imi. Cenah, seueur teuing bayareunna,” ceuk Euis, pamajikan kuring, basa kuring kakara jol ti pagawéan.  
“Keun waé atuh, da enya kuduna ogé urang anu mayar heula. Tah, ari béas mah aya ti Kang Asép,” témbal téh bari mikeun bungkusan jeung amplop.
“Geuning aya artosan?”
“Kasbon heula. Matak nungtut bayar ka warung Imi, karunya.”
Bageur boga pamajikan téh. Henteu ngangluh, komo nyeukseukan, enya ogé sarwa kakurangan. Duka meureun pedah geus pangalaman, welasan taun sarwa walurat. Saukur ngalaporkeun ari aya katugenah siga kitu téh.
“Kang, bis waé hilap, tadi aya télépon ti Pa Ridwan, saurna sobat Akang.”
Éta téh wangkongan sataun ka tukang.
Meungpeung simpé, trék wé lanté semén téh dipahat.
**

Amplop téh diteundeun dina samak. Kandel kénéh basa tadi digulang-gapér. Eusina duit genep ratus rébu rupiah. Moal poho, da ngan kuring-kuringna anu kungsi ngitung duit dina amplop éta. Enya, baheula di toilet kantor. Jumlah anu lumayan ayeuna ogé pikeun kuring mah. Komo deui baheula, dua puluh taun katukang basa gajih pagawé anyar saperti kuring saukur dua ratus lima puluh rébu rupiah.
Taun 1996 mimiti gawé di kantor pajak téh. Sabada lulus ti Institut Ilmu Keuangan hayangna mah ulin heula. Tapi nurutan batur milu tés di Kementrian Keuangan, ari pék ditarima, ditempatkeun di kantor pajak. Siga anu rék resep mimitina mah gawé téh. Enya ogé gajih saukur cukup keur dahar, nyéwa kamar jeung ongkos, tapi apan makan siang disadiakeun kantor, unggal minggu meunang uang jajan, jeung cenah sataun sakali pakanci bari ongkos jeung jajan dibéayaan kantor. Disebut cenah, apan ari pakanci mah kuring acan ngalaman da gawé téh saukur genep bulan. Tapi jadi ngahuleng basa hiji peuting katatamuan Kang Ridwan, senior di kampus anu geus tilu taun gawé di kantor pajak.
“Akang mah tara narima uang jajan mingguan, pakanci ogé tara miluan, malah ayeuna ogé keur mikir kumaha carana nolak makan siang ti kantor,” ceuk Kang Ridwan bari ngocék kopi anu kakara ditinyuh. Malem minggu harita téh, lamun henteu jalan-jalan kaluar nya ngadon ngobrol sapeupeuting di kamar indekos saha waé. Kitu kabiasaan pagawé bujang bari jomlo mah. Tadi sobat anu séjén mah ngabring lalajo film, ari kuring bubuhan sapangaresep jeung Kang Ridwan, nya rék maén catur waé bari ngadangukeun wayang tina radio.
“Naha kunaon, Kang?” pok téh curinghak da puguh ngarasa ahéng jeung henteu nyangka Kang Ridwan bakal ngadongéng kitu.
“Naha teu apal kitu?”  cenah kalah nanya.
Kuring gideug.
“Makan siang, uang jajan, ogé pakanci taunan lamun pangasilan pajak nepi kana target, éta mah lain ti kantor. Tapi inisiatif pingpinan. Cenah maksudna mah ngarah bagian anu garing milu kabaseuhan. Hartina, éta téh apan duka duit ti mana sumberna. Asa hariwang wé, asa henteu ngareunah haté, lamun seug miluan kadagingan ku rejeki henteu puguh.”
“Bagian naon waé, Kang, anu disebut baseuh téh?”
“Nya anu sok diparebutkeun mah bagian PPN, PPH Badan, PPH Orang Pribadi. Di bagian éta mah loba karyawan titipan ti pajabat ieu pajabat itu.”
Kuring sorangan ditempatkeun di bagian Tempat Pelayanan Terpadu, lokét panarima sagala laporan jeung surat wajib pajak. Ongkoh deui apan kuring mah acan narima Nota Dinas Penugasan, hartina acan nyaan ditempatkeun di bagian naon. Kaasup bagian garing cenah TPT mah. Kuring sorangan henteu kungsi mikir bagian garing atawa baseuh. Ngembang kadu waé anu aya ngadangu dongéng Kang Ridwan téh.
Ari kuring, enya ogé ditempatkeun di bagian TPT, tapi siga dibéré jalan keur babaseuhan. Mimitina mah lantaran resep uprak-oprék komputer. Harita mah komputer téh masih basajan. Bisa ngagunakeun program msword jeung excel ogé kaasup hébat. Basa aya programmer ka bagian TPT, ditengetan kumaha carana ngabuka data-base. Horéng aya data anu bisa dibuka kalayan henteu make password.
Hiji poé aya wajib pajak anu minangsaraya tanggal mayar pajak téh dipundurkeun. Paménta anu biasa saenyana mah. Stempel pajak mundur, kitu pagawé séjén mah nyarebutna. Tapi lantaran datana geus asup kana komputer, atuh henteu bisa ditedunan paménta wajib pajak téh. Ku kuring dioprék data dina komputer téh, atuh tanggal mayar pajak téh bisa diatur. Karyawan séjén rareuwaseun. Pingpinan bagian TPT mah nepi ka manggil kuring. Cenah, lamun ti baheula bisa kitu mah meureun imah jeung mobil ogé geus nambahan.
Maksud kuring anu tadina heureuy, sakadar hayang ngabuktikeun bisa henteuna, jadi manjang. Isukna pingpinan ngageroan, di ruangan kerjana geus aya tamu duaan basa kuring datang.
“Yi, cobian panglebetkeun data kana komputer, mung tanggalna hoyong dipundurkeun. Tiasa anggo komputer anu di dieu wae supadas rinéh,” ceuk pingpinan.
Kuring asa-asa saenyana mah. Kuring nyaho, ieu téh pagawéan anu salah, tapi lantaran dititah ku pingpinan, der wé digawéan. Lumayan rada lila ogé da réa data anu kudu diasupkeun. Réngsé téh waktu istirahat. Léos wé ka musola, manggihan Kang Ridwan anu biasana nungguan di teras musola.
Lain kapangaruhan ku Kang Ridwan lamun réngsé solat kuring ngelesed kaluar ti kantor, ngadon dahar di warteg. Balik dahar papaliwat jeung pingpinan, anjeunna ngaharéwos, “Bagéan Ayi mah tos disimpen dina laci.” Rada reuwas mimitina mah. Bagéan naon? Leuwih ngagebeg basa muka laci, aya amplop kandel. Henteu wani muka, laci gancang ditutupkeun deui. Bubar gawé téh pangpandeurina. Amplop téh gancang disakuan, dibuka di toilet kantor. Mingkin ngagebeg réngsé ngitung jumlah duit, genep ratus rébu rupiah. Jumlah anu pohara gedéna, apan gajih kuring ogé ngan dua ratus lima puluh rébu rupiah.
“Salingkuh pajak mah babari. Ari wajib pajak anu gedé, nya gedé ogé salingkuhna. Bisa jutaan, puluhan juta, ratusan juta, malah meureun perusahaan nasional mah bisa milyaran. Padahal carana mah sarua kitu-kitu kénéh,” ceuk Kang Ridwan. Padahal kuring henteu ngadongéngkeun sabaraha gedéna duit dina amplop.
Amplop téh henteu kungsi dibuka deui. Ti harita di kantor téh asa jadi bayeungyang. Pingpinan nyusulan deui, nitah kuring ngasupkeun tanggal mundur. Pagawé séjénna patingharéwos, ménta dipangasupkeun data fiktif. Aya ogé anu terus-terang ménta diajarkeun ngabuka data. “Pokona tiap saya meunang order, di dinya mah kabagéan wé,” ceuk anu ngaharéwos.
Lantaran kuring loba alesan nolak, pingpinan ngambek. Pagawé séjénna mindeng sindir-sampir, majarkeun kuring hawek ngeduk duit saukur keur sorangan wungkul. Ngan kuat sabulan sanggeus kitu mah, kuring mundur ti kantor. Ari pék Kang Ridwan ogé sarua.
**

Kungsi kuring gawé di perusahaan swasta. Pabrik cistik leutik, bagéan masarkeun ka toko-toko. Tangtu waé kulawarga mah, pangpangna Amih jeung Apih, henteu saukur gogodeg jeung manghanjakalkeun. Tapi ogé nyeukseukan nepi ka korédas sigana katugenah dina manahna.
Basa pruk ngahiji jeung Euis, tuluy pindah ka Ciboléd, ngadeukeutan lembur Euis. Jeung kolot Euis téh kaasup sadésa tapi béda kampung. Wawuh jeung Kang Asép, bandar sampeu anu keur ngabaladah ngadegkeun pabrik kiripik sampeu. Asa kabantuan cenah Kang Asép téh da puguh kuring tohtohan pisan ngokolakeun pabrik kiripikna.
Henteu dileuleungit éta ogé, meunang hésé capé ngokolakeun pabrik kiripik téh bisa kabeuli imah anu ayeuna dicicingan. Imah tipe 36 di perumahan bangkrut, dibeulina ogé ngan 12 juta bari dicicil. Atuh imahna saukur bisa dicicingan téh lain bohong. Témbokna angger batako henteu ditaplok, euweuh lalangit, pokona disebut rangkay teh henteu salah.
Tapi sangeus barudak anu opatan sarakola mah pangasilan seuseut-seuat dicukup-cukupkeunana. Kungsi éta ogé Kang Asép nitah kuring nyieun pabrik kiripik sorangan. Tapi dicobaan téh ngagoréng leuleutikan, teu kaharti ari kudu sagala ngécér mah.
**

Pait peuheur jadi pagawé leutik geus karasa. Sakapeung sok ngaliwat karumasa, naha henteu kaduhung bet ngalégég jelema soléh bari nyiksa ka anak pamajikan? Enya ogé pamajikan téh bageur, tapi ningali begung jeung kuleuheuna mah mindeng henteu téga. Barudak kurang dahar kurang paké, bet leuwih-leuwih deui rasa mentegeg téh.
Rasa guligah téh sakapeung aya deui basa maca berita koran. Cenah, aya pagawé pajak, budak kénéh, golonganana handap, tapi rekening bank-na henteu kaitung. Da basa kanyahoan, tuluy dibui, sawaréh duitna téh dipaké sugak-sogok dimonyah-monyah. Apan ongkoh dibui tapi bisa ulin ka Bali, lalajo tenis Wimbledon, jeung kasenangan séjénna. Apan matak kitu ogé duitna henteu kaitung. Ras ka sorangan, henteu mustahil kakayaan téh sakitu lamun baheula sagala daék. Apan sorangan anu ngamimitian bisa ngutak-ngatik data. Naha kuring kaduhung atawa untung?
Ka dieunakeun, anu cenah Orde Revormasi, anu ngorowotan kakayaan nagara téh beuki mahabu. Lain perpajakan waé anu ceuyah. Loba partéy pulitik kalah loba kasempetan pikeun pikeun basilat séwang-séwangan. Dinas ieu dinas itu, pamingpin daérah, cul-cel kaparanggih ngagadabah kakayaan nagara. Rahayat leutik mah saukur dibébénjokeun ku Dana Bantuan Langsung jeung Raskin anu saenyana mah leuwih pantes keur parab hayam.
Kuring mindeng ngayakinkeun sorangan, kuring téh jelema anu untung. Atuh kurang sautak-saeutik mah, jamak da jelema. Apan sakumaha lubak-libukna ogé jelema mah pasti ngarasa kurang.
Kabeneran panggih jeung Kang Ridwan téh. Keur ka Bandung, Kang Asép nitip mangmeulikeun brownies. Ari pék di tempat brownies amprok pisan jeung Kang Ridwan. Ngajengjen sakedapan mah ningali kuring. Tapi terusna mah ngobrol mani uplek. Ka mana cenah, ditéangan mangtaun-taun euweuh raratanana. Diubek dina dunya maya alias internét ogé henteu kapanggih. Sanggeus ngobrol ngalér-ngidul, brasna téh kana usaha. Basa apaleun kuring mah ngokolakeun pabrik kiripik sampeu, kirim cenah sampelna. Apan Kang Ridwan téh pengusaha makanan ringan. Tokona ogé cenah aya kana sapuluhna.
Duka kumaha kuring ujug-ujug sumanget. Ari percaya mah apan ti baheula ogé henteu hamham ka Kang Ridwan mah. Ongkoh deui apan Kang Ridwan ogé wani milih jalan anu tarahal pinuh ku batu koral téh lantaran hayang hirup leuwih mulya. Dua poé ti harita kuring ngahaja nganjang ka Kang Ridwan.
“Emh, nyaan kiripikna mah gurih. Tinggal dimerekan jeung dikemas anu hadé, sigana moal hésé ngajualna,” cenah. “Bungbuna ogé rada dipariasikeun. Sok atuh urang loncingkeun di toko Akang.”
Balik ti Kang Ridwan kapikiran deui ngabongkar amplop téh. Amplop ditimang-timang sabada ditoong eusina. Geus waktuna duit ieu téh dianggeuskeun. Keur modal nyieun kemasan waé kitu, enya ogé kurang tapi ngabantu. Ngumaha ka Kang Asép pasti teu wasa pok. Apan basa ngagoréng sorangan ogé, Kang Asép anu ngamodalan bari acan mayar nepi ka ayeuna.
Dua minggu ti harita Kang Ridwan nelepon. Ka mana cenah anu rék ngobrolkeun louncing téh bet henteu béja henteu carita deui. Kuring saukur ngahéhé da puguh bingung. Isukna Kang Ridwan datang. Ngahuleng salila-lila di hareupeun imah rangkay kuring. Basa geus asup ka jero, ngahuleng deui waé enya ogé kuring meni gepyak ngadongéng.
Terusna mah lila ngobrolkeun ngaran mérek kiripik. “Omat, isuk pagéto kudu ka Bandung, urang nyieun keur kemasanna. Keun Akang anu nguruskeun keur louncing mah. Urang ngondang grup bloger waé, sukuran bari louncing di toko,” cenah saméméh amitan. Tungtungna mah sagala dibéayaan ku Kang Ridwan. Atuh duit dina amplop téh dibagikeun ka barudak yatim jeung fakir. Amplopna mah henteu dipiceun, dipiguraan digantungkeun di tengah imah.
Éta téh sataun katukang. Terusna mah matak hélok, kiripik anu dikemas jeung dimérekan téh jadi sabiwir hiji. Minangka bédana ti kiripik anu Kang Asép téh saukur bungbu anu meunang ngaracik kuring, lada anu dilépel-lépel. Enya ogé harga mah jadi leuwih ti dua kali lipet, pesenan Kang Ridwan téh kalah beuki loba.
Dina sataun téh bisa ngamodal nyieun panggoréngan sorangan, ngaréhab imah, malah meuli mobil sagala. Sok ngahuleng téh ari subuh, sabada solat tobat jeung tahajud. Bari neuteup amplop téh, haté mah sok ngarakacak. Ampir dua puluh taun hirup sangsara sanggeus wani-wani ngajauhan panggoda amplop, céngharna mah henteu sakara-kara ku kabeneran jeung waktu anu henteu nepi ka sataun.
“Enya, hirup mah saukur kaulinan. Matak nalangsa lamun boboléh ku pangirut pangkat atawa serah bongkokan ku panggoda dunya,” gerentes teh bari imut neutup amplop di tengah pigura. **

25 Maret 2017
Diropéa tina pangalaman saenyana.  







TERBARU

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni