Jejak Kata :

ANAK KUCING KELIMIS MENGGIGIL KEDINGINAN

Written By Mang Yus on Rabu, 28 Desember 2016 | 10.47

Cerpen Tribun Jabar

Tribun Jabar, 25 Desember 2016

Sebenarnya malas menarik gas motor di atas kecepatan 60 km perjam. Tapi malam itu, hampir pukul dua belas, sepanjang jalan Soekarno-Hatta yang lurus ada pemadaman listrik. Sepanjang jalan gelap pekat. Jadi terpaksa saya harus menarik gas lebih kencang dari biasa. Takut ada geng motor yang sering kelayapan tengah malam. Gerimis juga masih turun menyebarkan kuyup.
Alasan kedua tidak mau memutar gas lebih kencang, karena di belakang saya ada Anisa yang sedang memeluk. Saya ingin menjalankan motor sepelan mungkin. Sambil ngobrol tentang apa saja. Atau kalau ada pedagang mie tek-tek, berhenti dulu di pinggir jalan. Tapi Anisa maunya juga ngebut. Kami baru saja pulang dari rumah sakit. Ibu Anisa sedang dirawat. Kami pulang sebentar untuk mengambil hasil rontgen sebelum dirawat yang ketinggalan.
“Stop... stoooppp...!” teriak Anisa mengagetkan saya. Saya langsung menyentuh lampu sent sambil mengerem mendadak. Untungnya tidak banyak kendaraan tengah malam seperti ini.
“Ada apa?” tanya saya.
“Ada anak kucing, kelimis basah, menggigil kedinginan,” jawab Anisa.
“Di mana?”
“Di belakang, dekat got.”
“Jadi sekarang bagaimana?”
“Kita bawa, kasihan anak kucing itu. Siapa tahu tidak ada induknya. Siapa tahu kedinginan.”
Saya memutar motor, lalu melaju perlahan mendekati got. Saya dan Anisa turun. Tapi tidak ada anak kucing meski lampu senter hp sudah menerangi ke sekeliling.
“Anak kucingnya mana?” tanya saya.
“Tadi menggigil di sini, di samping got ini,” kata Anisa.
“Mungkin itu bukan anak kucing.”
“Kalau bukan anak kucing, lalu apa?”
“Tidak tahu, pokoknya bukan anak kucing. Kamu kan hanya melihatnya sekilas. Listrik sedang padam.”
“Tapi lampu motor kan terang. Pasti itu anak kucing.”
“Kalau itu anak kucing, sekarang mana?”
“Tidak tahu.”
Saya mengajak Anisa untuk melanjutkan perjalanan. Tapi Anisa diam.
“Anak kucing pasti mengeong. Pergi kemana pun dia pasti mengeong,” kata saya.
“Tapi bagaimana kalau anak kucingnya bisu?”
“Memangnya ada anak kucing bisu?”
“Bisa jadi ada. Memangnya hanya manusia yang bisa bisu?”
Listrik masih padam. Gerimis masih turun. Rembulan yang terhalang mega hanya tampak bulat remangnya. Waktu saya cermati wajah Anisa saat ada lampu kendaraan yang lewat, saya melihat ada butiran air yang mengalir dari ujung matanya.
 “Kenapa menangis?” tanya saya lagi.
“Anak kucing itu pasti sendiri. Pasti kedinginan karena bulu-bulunya basah oleh gerimis. Pasti menggigil.”
Saya tidak bisa bicara lagi kalau urusannya sudah seperti itu.
“Mungkin anak kucing itu belum makan. Mungkin lapar. Mungkin semalaman dia harus menahan lapar, sambil badannya menggigil kedinginan, sambil kegelapan karena listrik masih padam. Mungkin....”
Saya sebenarnya mau tertawa. Bagi kucing, listrik padam atau tidak barangkali tidak begitu berbeda. Kucing toh tidak akan menyalakan computer atau membaca buku. Tapi saya harus mengerti perasaan Anisa. Dia itu memang sangat perasa. Melihat apapun dia gampang jatuh kasihan. Itu juga yang membuat saya tidak pernah mau pindah ke lain hati. Saya sangat mencintai Anisa.
**


Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Setelah mengambil barang yang ketinggalan, kami langsung ke rumah sakit lagi. Di dekat got tadi Anisa minta berhenti lagi. Kami turun lagi. Kebetulan pemadaman listrik sudah selesai. Dibantu lampu penerangan jalan dan lampu senter hp kami mencari lagi anak kucing. Tapi anak kucing itu tidak ada. Suara meongnya juga tidak ada.
“Mestinya kita membawa anak kucing kelimis menggigil kedinginan itu ke rumah. Kita keringkan bulu-bulunya. Lalu memberinya minum susu hangat, makan nasi dicampur ikan matang. Dan menidurkannya di dus yang dilapisi kain-kain hangat.”
“Tapi kucing itu tidak ada.”
“Mestinya ada. Mestinya kita menemukannya. Mestinya....”
“Tapi tidak mungkin kita semalaman mencari anak kucing itu.”
“Anak kucing kelimis menggigil kedinginan.”
“Ya, anak kucing kelimis menggigil kedinginan.”
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Di rumah sakit Anisa menunggui ibunya di dalam ruangan. Saya istirahat di luar dengan menggelar tikar. Subuh-subuh saya sudah dibangunkan oleh pedagang nasi kuning yang masuk ke dalam rumah sakit. Saya membeli dua bungkus. Lalu saya memberitahu Anisa untuk makan sebelum perawat datang dan cleaning service mengepel lantai. Tapi Anisa terdiam sambil memegangi nasi bungkus. Wajahnya murung. Lalu dari ujung matanya mengalir sebutir air.
“Kenapa?” tanya saya sambil menghentikan makan.
“Ingat anak kucing kelimis menggigil kedinginan itu.”
Saya menyimpan nasi kuning di atas tikar.
“Anak kucing itu pasti dimakan tikus,” kata Anisa lagi.
“Tidak mungkin. Kucing itu makan tikus. Bukan dimakan tikus.”
“Tapi anak kucing itu kan masih kecil. Sedangkan tikus got itu besar-besar.”
“Siapa tahu anak kucing itu dibawa induknya. Anak kucing itu digigit tengkuknya, lalu dibawa pindah entah kemana.”
“Tapi induk kucing seringkali tidak mau memindahkan anak kucing yang kelimis basah menggigil kedinginan. Induk kucing hanya mau memindahkan anak-anak kucing yang sehat.”
“Kata siapa?”
“Kata Nisa, sepertinya seperti itu.”
Saya menyesal mengapa tidak pernah mau membaca sedikit literatur tentang kucing. Jadi saya bisa memaksakan pendapat dengan berdasar buku atau laporan ilmiah.
**

Seminggu kemudian ibunya Anisa pulang dari rumah sakit. Saya kembali meneruskan membaca-baca buku bahan skripsi yang sempat tertunda. Hari sabtu saya menghubungi Anisa, mengajaknya nonton film. Sore itu saya menjemput Anisa. Tidak lupa saya membawa anak kucing pemberian tetangga. Anak kucing yang lucu dan suara mengeongnya yang manja.
Anisa awalnya menyambut anak kucing itu dengan gembira. Anak kucing itu ditimangnya, diusap-usap bulunya, disentuh-sentuh kumisnya. Tapi kemudian anak kucing itu diberikannya lagi kepada saya.
“Kenapa? Anak kucing ini kan lebih lucu, sehat, dan suara meongnya begitu jelas.”
“Tapi Nisa ingin anak kucing yang kelimis menggigil kedinginan itu.”
“Kucing itu mungkin bisu.”
“Nisa ingin anak kucing yang kelimis menggigil kedinginan dan bisu.”
Saya memandang Anisa lekat-lekat. Anisa memegang tangan saya. “Maaf ya,” katanya pelan.
“Tidak apa. Ayo, kita ke bioskop sekarang. Anak kucing ini kita kembalikan lagi ke tetangga saya.”
Hari sabtu penonton bioskop seringkali lebih banyak dibanding hari biasa. Apalagi filmnya yang sering dipromosikan sejak jauh-jauh hari. Kami duduk di bangku paling belakang. Dua kap popcorn dan dua botol air mineral menemani nonton kami. Tapi biji-biji popcorn itu berhenti masuk mulut ketika film sudah diputar setengahnya. Konflik cerita semakin memuncak. Tokoh utamanya semakin diharu-biru peristiwa-peristiwa tragis menyedihkan. Para penonton diam. Mungkin menahan napas. Mungkin menahan tangis.
Tapi saya mendengar suara tangis itu. Semakin jelas. Waktu saya tengok Anisa, dari ujung matanya mengalir butiran air.
“Jangan terlalu dimasukan ke hati,” bisik saya.
Suara tangis itu masih terdengar.
“Ini kan hanya sebuah film.”
Suara tangis itu masih terdengar.
“Film itu fiksi, bohong.”
Suara tangis itu masih terdengar.
“Film itu....”
“Nisa bukan nangis karena film.”
Saya memandang Anisa lekat-lekat. Saya usap butiran air yang mengalir di pipi itu.
“Nisa teringat anak kucing yang kelimis menggigil kedinginan itu.”
Saya terpana memandang Anisa.
“Sementara kita bersenang-senang nonton film, anak kucing kelimis menggigil kedinginan itu mungkin sudah dimakan tikus. Mungkin dibawa ke dalam got. Mungkin awalnya dia mengeong kesakitan. Mungkin....”
Saya memeluk Anisa. Jemarinya saya genggam erat sekali. Jujur harus saya katakan, saya mencintai Anisa karena perasaannya itu. Saya  suka wanita yang perasa. Tiba-tiba lampu bioskop menyala. Film sudah selesai. Anisa cepat membersihkan wajahnya dengan keretas tisu. Hampir semua penonton wanita ternyata mengelap wajahnya dengan keretas tisu.
Kami keluar bioskop paling belakang. Saya menggenggam tangan Anisa. Sesekali saya berbisik di telinganya.
“Orang mengira kamu menangis karena film. Padahal kamu menangis karena anak kucing kelimis menggigil kedinginan. Dan saya semakin mencintaimu karena itu,” bisik saya.
Di pintu bioskop saya menghentikan langkah. Teman-teman saya rupanya mau nonton bareng. Seto, Amanda, Rido, Dini, Alex, Ni Luh, Irwan, Nadia, Hendi, Via, Romi, Rianti, Banu, Niken.
”Ketahuan ya nonton duluan,” kata Seto. “Dari dulu nonton sendiri aja. Bawa pacar dong, atau bareng-bareng kaya kita.”
Saya tersenyum. Hanya tersenyum. Tangan saya yang memegang kap popcorn terasa pegal. ***

12 Mei 2016

Tribun Jabar, 25 Desember 2016 

TERBARU

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni