Jejak Kata :

Cerpen Tribun Jabar: ORANG GILA

Written By Mang Yus on Sabtu, 07 Mei 2016 | 20.57

Cerpen Yus R. Ismail

Tribun Jabar, 11 Desember 2011

Ketika seperti biasanya ia bangun pukul empat subuh ia merasa menjadi orang gila. Orang gila yang tersenyum sendiri, tertawa sendiri, menangis sendiri, tanpa perduli dengan orang-orang yang memandangnya aneh, tanpa perduli dengan terik matahari atau guyuran hujan.
Orang gila seperti itu pernah ia lihat suatu sore. Waktu itu ia sangat lelah setelah seharian bekerja. Di kantor tempatnya bekerja sedang ada proyek pengadaan buku. Sudah seminggu buku-buku berdatangan dari pagi sampai sore. Sebagai karyawan bagian gudang ia harus membuka kardus, menghitung buku sesuai pesanan, mengepaknya lagi dalam kardus, dan menyusunnya di gudang yang sangat luas. Siangnya, setelah lelah bekerja, ia hanya makan semangkuk bakso. Bukan karena sedang tidak napsu makan. Tapi keuangannya memang hanya sampai pada semangkuk bakso.
Sore yang melelahkan itu ia takjub melihat seorang gila yang tertawa-tawa sendirian, tertawa yang terdengar sangat menyenangkan. Orang gila itu tidak perduli kepada orang-orang yang melihatnya getir. Dia ingat, orang gila itu sebenarnya sudah berkali-kali ia lihat. Di waktu lain orang gila itu menangis sendirian. Menangis yang terdengar sangat menyayat, sangat menyedihkan. Dia merasa, seperti itulah tertawa dan menangis dari hati. Tertawa dan menangis yang membahagiakan.
Waktu itu ia sempat berpikir, betapa bahagianya jadi orang gila. Tentu orang gila tidak mesti berpikir, tidak mesti tertekan, tidak mesti lelah bekerja, dan malaikat pun tidak akan mencatat dosa-dosanya. Dia rasa, orang gila adalah orang yang disayang Tuhan.
Dan kalau lapar? Rasa lapar tentunya akan menuntun tubuhnya mencari makanan. Matanya akan clingak-clinguk melihat sesuatu yang bisa dimakan, tangannya akan mengais-ais tong sampah, atau menadahkan tangan dan menunjuk perutnya di depan warung nasi kecil. Dia rasa akan banyak orang memberinya makanan alakadarnya. Banyak orang kecil, pemilik warung-warung kecil, yang yakin dengan memberi sodaqoh akan memperlancar rejekinya.
Bila rasa lapar sudah hilang orang gila akan kembali ke kebahagiaannya. Dia bisa tersenyum sendiri, tertawa sendiri, menangis sendiri, atau bercerita tentang apa saja sendirian. Sungguh hidup yang aneh tapi membahagiakan.
Perhatian ia kepada orang gila itu berawal ketika ia melihat orang gila lainnya suatu pagi. Orang gila yang tersungkur di pinggir jalan, telungkup, tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya. Waktu itu ia sedang duduk melamun di dalam bis kota yang melaju pelan. Begitu melihat orang gila itu ia melonjak dari tempat duduknya. Seperti terkena aliran listrik ia kaget. Tanpa berpikir ia berdiri, berteriak meminta bis kota berhenti, dan tergesa meminta jalan kepada penumpang yang penuh sesak.
Dia berjalan seperti berlari mendekati orang gila yang telungkup telanjang bulat itu. Tapi belum juga sampai kepada orang gila yang telungkup di tempat sampah dadakan itu, dia menghentikan langkahnya. Mau diapakan orang gila itu? Mungkin orang gila itu sedang sekarat. Tidak kuat menahan lapar dan haus. Setelah mengais-ais makanan orang gila itu roboh. Kalau seperti itu, mau diapakan orang gila itu? Diberi makanan dan minuman? Dia merogoh sakunya, uangnya tinggal untuk semangkok bakso dan ongkos bis kota. Atau dibawa saja ke rumah sakit? Pengendara mana yang mau mengantarnya dengan gratis, rumah sakit mana yang sukarela memberi pengobatan tanpa surat-surat?
Akhirnya dia duduk di pinggir jalan, hanya memandang orang gila yang telungkup di antara sampah yang dibuang oleh orang-orang berjiwa kerdil. Ya, karena tempat itu memang bukan tempat sampah. Tapi bagi yang berjiwa kerdil, apa bedanya tempat sampah dan bukan? Asal sampah yang dibawanya itu keluar dari rumahnya. Bisa jadi sampah itu dilempar dari mobil, dari motor, atau sengaja datang ke tempat itu untuk membuang sampah karena sudah ada orang yang terlebih dahulu membuang sampah ke sana.
Orang gila yang telungkup itu tidak pernah menggerakkan badannya satu gerakan pun. Beberapa ekor lalat hinggap di punggungnya. Mungkin orang gila itu sudah tidak bernafas. Kalau sudah mati, apa yang mesti dilakukannya? Menggendongnya berkeliling kota mencari pemakaman gratis? Apakah ada kompleks pemakaman yang gratis? Dia ingat sebuah berita: seorang bapak menggendong mayat anaknya berjalan kaki dari Jakarta sampai ke Jawa Tengah karena tidak punya uang, jangankan untuk pemakaman untuk ongkos pun tidak ada.
Puluhan mobil dan motor sebenarnya lalu lalang di jalanan ini setiap detiknya. Tapi tidak ada satu kendaraan pun yang berhenti, penumpangnya turun atau sekedar melongok melihat orang gila yang telungkup itu. Mereka terlalu sibuk. Sibuk bekerja. Sibuk mengejar materi. Tapi melupakan hati mereka, hati yang tertinggal di orang gila yang telungkup di pinggir jalan. Siapa pun yang melihat orang gila itu hatinya akan tersedot, tapi siapa yang perduli dengan hatinya?
Mungkin juga di jalanan ini lewat mobil mewah seharga milyaran rupiah seperti yang dipunyai para pejabat pemerintah dan wakil rakyat. Baru tahu dia ada mobil semahal itu. Aneh juga ada orang yang mau membeli mobil seharga 7 milyar rupiah. Apalagi orang itu adalah wakil rakyat dan pejabat pemerintah. Mereka seperti yang mencari matahari di gelap malam. Mencari hati rakyat kok di mobil mewah. Aneh. Benar-benar kota yang aneh. Negara yang aneh.
Dia sendiri merasa aneh. Setelah berjam-jam memandangi orang gila yang telungkup di pinggir jalan itu, dia terpaksa harus meninggalkannya. Dia berjalan kaki ke kantornya. Tentu saja dia kesiangan. Kepala gudang menegurnya dan dia hanya menunduk dan meminta maaf. Tapi kepala gudang itu tidak benar-benar menegur sebenarnya, karena hari itu tidak ada pekerjaan sama sekali. Siangnya seorang teman membawa beberapa lembar kertas berisi laporan pengiriman buku dan selembar amplop.
“Tanda tangan di sini. Ini bagian Bapak Direktur,” kata teman itu sambil bercanda.
Dia tertegun. Amplop itu berisi lima lembar uang ratusan ribu rupiah.
“Pengiriman buku kan belum semuanya?” tanya dia tidak mengerti.
“Itu urusan boss-boss. Kalau kita jangan banyak berpikir. Cukup tandatangan lalu makan-makan. Kemon, cepat, kita ke kantin….”
Tapi dia tidak bergerak. Karena dia tidak juga menandatangan, temannya membimbing dia memegang pulpen dan mencoretkan namanya di kertas itu. Amplop itu diselipkan di saku bajunya. Teman itu lalu pergi dengan tidak mengerti.
Ketika teman-temannya sedang makan-makan di kantin, dia membuang amplop bagiannya ke tong sampah. Lalu pergi berjalan kaki. Temannya yang penasaran menghampiri tong sampah, membuka amplop, masih ada lima lembar uang kertas seratus ribu rupiah. Dia mengangkat bahunya ketika teman-temannya memandang ingin tahu apa yang terjadi.
“Orang aneh!” kata sang teman.
Tapi dia tidak perduli dibilang aneh atau apa pun. Dia terus berjalan. Karena menurutnya, kota ini sudah aneh. Orang-orang yang aneh. Kelakuan yang aneh. Sampai di sebuah taman dia berhenti. Matanya memandang takjub seorang gadis yang duduk di bangku taman di sebelah bunga mawar yang mekar begitu indah. Gadis itu tersenyum kepadanya. Sepertinya gadis itu sudah menunggunya. Taman yang indah, udara yang sejuk, dan gadis yang cantik. Sungguh kelelahan jiwanya tiba-tiba menjadi segar. Seperti tanah gersang yang mendapat siraman hujan. Tetumbuhan segera tumbuh, bebungaan segera mekar.
“Sudah lama saya menunggu,” kata gadis itu.
“Menunggu saya?”
“Ya. Apakah Tuan lupa dengan saya?” tanya gadis itu.   
Dia tersenyum. Ya, gadis itu memang sudah lama hadir dalam pikirannya, dalam perasaannya. Kadang menghilang tapi kemudian hadir kembali. Dia tidak menyangka akan bertemu gadis itu di sini. Di sebuah taman dengan bebungaan yang berwarna-warni. Kupu-kupu beterbangan, seekor hinggap di rambut gadis itu. Sungguh hari yang menakjubkan.
“Apakah Tuan tidak merasakan?” tanya gadis itu.    
“Merasakan apa?”
“Cinta.”
Dia tersenyum.
Dia tidak tahu orang-orang di sekelilingnya memandang aneh.
“Apa kata saya juga, dia sudah jadi gila,” kata teman sepekerjaannya. “Masa dia senyam-senyum sendiri. Bicara sendiri kepada pohon.”
“Stress mungkin bertahun-tahun hanya sebagai honorer,” kata teman yang lainnya. ****


Bandung, Agustus/Nopember 2011

Cerpen Anak Solo Pos: DI MANA BUMI DIPIJAK DI SANA LANGIT DIJUNJUNG

Dongeng Yus R. Ismail

Solo Pos, 24 April 2016

Aku tinggal di sebuah desa. Ciwening namanya. Kata Ibu, nama Ciwening diambil dari banyaknya mata air. Air bening mengalir di mana-mana. Bila ada pohon besar yang sudah bergelantungan jenggot-jenggotnya, biasanya di dekat situ ada mata air. Pohon sebesar itu usianya bisa ratusan tahun. Pohon loa, beringin, kiara, kihujan, dianggap keramat karena banyak menyimpan air.
Bila melihat acara televisi tentang bocah-bocah petualang, aku seperti melihat diri sendiri. Bermain di sungai, sawah, kebun, tepi hutan, adalah keseharian kami anak-anak Ciwening. Sekolahku SDN Ciwening lumayan jauh. Setengah jam perjalanan bila menerobos kebun dan sawah. Tapi bisa sampai satu jam bila mengikuti jalan desa.
Tentu saja aku dan teman-teman sering terkagum-kagum bila melihat permainan orang kota di televisi. Roller coaster, sepedah motor kecil, games yang beraneka permainan, pusat perbelanjaan yang ramai, dan artis-artis terkenal.
“Betapa enaknya tinggal di kota, ya,” kata Udin setelah kami melihat acara berlibur di kolam renang yang ada ombak buatannya. “Mau piknik ke kebun binatang, kolam renang, taman-taman indah, tinggal berangkat.”
Tapi Bu Guru menyangkalnya. “Tempat main di kota itu serba harus membayar,” katanya. “Jangan minder menjadi orang desa. Banyak orang besar yang asalnya dari desa. Kita harus bangga menjadi orang desa. Makanya ada peribahasa di mana tanah dipijak di sana langit dijunjung.”
Suatu hari aku melihat Ayah termenung di bale-bale. Saat itu aku pulang sekolah. Biasanya Ayah tidak ada di rumah. O iya, Ayah bekerja di pabrik stik bambu. Biasanya Ayah pergi pagi berjalan kaki, bareng bersama aku yang mau ke sekolah. Aku pulang siang. Ayah pulang sore. Begitu biasanya dari hari Senin sampai Sabtu. Tapi kali ini, kenapa Ayah ada di rumah?
“Ayah berhenti bekerja,” kata Ibu menerangkan. “Pabrik stiknya bangkrut. Katanya pesanan stik bambu berkurang terus.”
Tentu saja aku kasihan kepada Ayah. Dulu waktu aku bertanya, kenapa Ayah tidak bertani seperti Kakek atau tetangga lainnya, Ayah menjawab: “Ayah ingin mencoba pekerjaan yang lain. Siapa tahu dengan bekerja di pabrik stik bambu kehidupan kita lebih sejahtera dibanding ikut menggarap sawah dan kebun.”
Nyatanya bekerja di pabrik stik bambu tidak lebih sejahtera dibanding menjadi penggarap sawah dan kebun. Sesekali bila kehabisan beras sementara gajian Ayah beberapa hari lagi, Ibu meminjam beras ke tetangga atau saudara.
Besoknya Ayah ikut mencangkul di sawah. Aku tentu saja bermain bersama teman-teman. Mencari ikan-ikan sawah seperti bogo, lele, impun, paray, dan belut. Bila musim mencangkul sawah, belut banyak yang tertangkap. Setiap cangkul membalik tanah, belut yang terkejut bergerak liar mencari tempat bersembunyi. Kalau sudah begitu, tinggal adu cepat antara tangan dengan belut yang mau menyusup ke tanah sawah.
Bagi yang tidak biasa pasti susah menangkap belut sawah yang masih liar. Tapi kami sudah terlatih menangkapnya. Selain untuk lauk-pauk, biasanya setiap musim mencangkul aku memelihara belut di drum. Sekedar bermain saja. Drum yang sudah dilubangi itu dibuat seperti miniatur sawah. Tanah lumpur, rumput-rumput sawah dan eceng tumbuh. Ikan impun, udang kecil, cupang, hidup di atas air. Di bawahnya tentu banyak belut.
Pulang mencangkul, ketika aku sedang memasukkan sebagian belut ke sawah drumku, Ayah menghampiri. Ada senyum di bibir Ayah.
“Ayah punya ide,” katanya antusias. “Kenapa kita tidak memelihara belut saja yang banyak. Ayah punya kenalan bandar belut di kota. Dulu dia mencari belut ke desa kita. Di kita belut banyak tapi ukurannya kecil-kecil. Sementara dia meminta yang ukuran besar, sekitar empat ekor untuk satu kilogram.”
Sejak itu selain ikut menggarap sawah dan kebun, Ayah memelihara belut. Tentu aku adalah asisten utamanya. Belut sebagai benih banyak terdapat di desaku. Pakan utamanya adalah keong mas dan cacing, juga tinggal mencarinya. Kadang Ayah membuat cairan organik yang banyak menumbuhkan mikroorganisma makanan belut. Semuanya dipelajari dari buku yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah.
Sekarang ini sudah dua tahun Ayah memelihara belut. Kata Ayah, penghasilannya bisa lebih dari gaji di pabrik stik bambu dan buruh menggarap sawah dan kebun. Tetangga dan saudara pun banyak yang mengikuti jejak Ayah. Mereka belajar kepada Ayah.
“Siapa bilang menjadi orang desa itu tidak menyenangkan dan membanggakan,” kata Ayah. “Di desa sumber alam sangat murah, asal kita mau mengolahnya.”
Aku baru mengerti sekarang mengapa ada peribahasa “di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung”. Kita yang harus bangga dan mengembangkan tempat tinggal sendiri. ** 

Dongeng Ini Didukung Oleh:
Dongeng Yus R. Ismail


Ingin tahu lebih banyak tentang Dongeng Mendidik Dari Dunia Binatang? 
Klik saja DI SINI

Harga :  Rp 40.000


Pemesanan:
Pemesanan: WA 085772751686
BBM: 5CEFDB37

PUNUK KEBANGGAAN

Dongeng Yus R. Ismail
Lampung Pos, 17 April 2016 

Tata adalah unta muda yang sedang jengkel. Jengkel dengan tubuhnya. Setiap makan banyak dari punggungnya menyembul punuk. Semakin banyak makan semakin tinggi punuk itu.
“Haha... punukmu itu seperti gunung!” ejek Dada si kuda ladang. “Ayo makan yang banyak, nanti punukmu bisa seperti galah. Kita tidak akan kesusahan lagi bila ingin memetik buah kurma, haha...!”
“Si punggung berpunuk, hehe... binatang yang aneh, ya?” komentar keledai.
Tentu saja Tata kesal dengan ejekan seperti itu. Makanya dia tidak mau makan dan minum yang banyak. Meski setiap makan perutnya susah merasa kenyang. Maunya makan terus dan minum terus. Tapi setiap bercermin di air oase dan  melihat punuknya mulai menyembul, Tata langsung menghentikan makan dan minumnya.
“Kamu ini aneh, Tata,” kata ibunya. “Kenapa tidak meneruskan makannya?”
“Saya sebal. Bu. Setiap makan banyak, punuk ini semakin menyembul.”
Ibunya tertawa. “Begitulah kita, Tata,” katanya sambil mengusap punggung anaknya.
“Kalau makan dan minum yang banyak pasti punuk kita menyembul. Itu adalah kehebatan kita. Binatang lain tidak ada yang mempunyai punuk.”
“Itulah sebabnya Tata sering diejek teman-teman. Hanya Tata sendiri yag mempunyai punuk. Kita ini binatang yang aneh!”
Ibunya tersenyum. “Kamu belum tahu punuk ini sangat berguna. Kita bisa mnyimpan makanan yang banyak di punggung, ya berupa punuk ini,” katanya lagi dengan suara yang lembut.
Tapi Tata masih cemberut. Untungnya teman-temannya kemudian memanggil, mengajaknya bermain di padang rumput.
Suatu hari seorang saudagar kaya bermaksud mengirim barang-barang berharganya ke negeri seberang yang sedang tertimpa bencana. Masalahnya perjalanan yang mesti ditempuh melalui padang pasir yang ganas.  
“Diperkirakan perjalanan yang akan ditempuh sepuluh hari,” kata seorang pengembara. “Tentu tidak gampang melewati sepuluh hari di gurun yang gersang. Panasnya bisa mencapai 46 derajat celcius. Gurun pasirnya juga membahayakan.”
Semua binatang yang ada di sekitar oase itu ditawari untuk mengangkut barang-barang berharga. Tapi semuanya menggeleng. Membayangkan panasnya saja mereka sudah ngeri. Apalagi sepuluh hari tanpa makanan dan badai pasir yang bisa menenggelamkan.
“Kami akan mencoba mengangkutnya,” kata Punta, unta yang dituakan dan dihormati oleh seluruh unta. “Asal siapkan juga persediaan kami.”
Tata tentu saja merasa cemas. Apalagi dia termasuk unta yang diajak melakukan perjalanan penting ini.
“Jangan khawatir, Tata,” kata ibunya. “Kita ini binatang yang hebat. Turuti saja petunjuk dari Punta. Dia itu unta yang berpengalaman dan pengetahuannya luas.”
Sehari sebelum berangkat unta yang akan melakukan perjalanan berkumpul.
“Pertama yang harus kita lakukan adalah makan dan minum sebanyak-banyaknya,” kata Punta. “Kita bisa makan sebanyak seperlima dari berat badan kita.”
Mereka pun makan rumput yang disediakan. Punuk mereka lalu menyembul meninggi di punggungnya. Ada unta yang berpunuk satu,  ada juga yang berpunuk dua. Setelah siap, rombongan unta pun berangkat.
Setelah jauh menempuh padang pasir udara semakin terasa panas. “Empat puluh lima derajat celcius” kata Punta. “Tapi tenang saja. Kulit kita tebal, kita kuat terhadap panas.”
“Tapi Punta,” kata Tata tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. “Bagaimana kalau badan kita terus berkeringat, kita bia dehidrasi, kekurangan air.”
“Punuk kita ini nanti akan mencair. Selain menyediakan sumber tenaga pengganti makanan, juga sumber air.” Punta menerangkan. “Di lambung kita juga ada kantung air. Kantung ini bisa mencegah keluarnya keringat yang berlebihan.”
Perjalanan pun berlanjut. Siang berganti malam. Setelah lelah mereka beristirahat, lalu melanjutkan lagi perjalanan. Suatu siang angin berhembus kencang.
“Kita bersiap, badai pasir akan datang,” kata Punta. “Kelopak mata kita itu ada tiga lapis, bulu mata ada dua lapis. Katupkanlah semuanya agar bisa menahan badai pasir.”
Badai pasir itu kemudian datang. Angin kencang dan pasir panas yang beterbangan menerjang apa saja. Tapi rombongan unta yang terduduk di pasir itu tidak bergeming. Setelah badai pasir berlalu, mereka bangun. Butiran pasir berjatuhan dari tubuh mereka. Lalu mereka melanjutkan perjalanan.
Setelah sepuluh hari perjalanan rombongan unta itu sampai ke negeri tujuan. Mereka disambut gembira sultan dan seluruh rakyat yang sedang tertimpa bencana. Mereka pun disediakan makanan dan minuman yang banyak. Setelah cukup beristirahat mereka pulang.
Tentu saja Tata sangat senang ikut serta dalam perjalanan penting membantu yang sedang tertimpa bencana. Mereka disanjung dan dipuji semua penduduk negeri.
“Ini semua berkat punuk ini,” kata Tata kepada teman-temannya. Teman-temannya mengangguk tanda mengerti. Tata senang tidak ada lagi yang mengejek punuknya. Dia sekarang malah bangga mempunyai punuk di punggungnya. ***

Dongeng Ini Didukung Oleh:

Dongeng Yus R. Ismail

Ingin tahu lebih banyak tentang Dongeng Mendidik Dari Dunia Binatang? 
Klik saja DI SINI
Harga :  Rp 40.000
Pemesanan: 
WA 085772751686

BBM: 5CEFDB37

TERBARU

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni