Jejak Kata :

KEMBANG

Written By Mang Yus on Sabtu, 23 April 2016 | 22.32

Kembang eros mah mangkakna teh ti ngawitan carangcang tihang, ngabageakeun ka nu ngambah kahirupan. Ari kembang sedep malem mah nyambuangkeun seungitna sabada reupreupan. Tarate mah geuning mangkak endah teh tengah wengi ngarencangan bulan purnama. Cenah, iraha oge waktosna, kahirupan mah endah sareng seungit, sapertos kekembangan. Ari urang, enya urang, iraha bade mangkak sareng nyambuangkeun seungit?

AMBILKAN BULAN, BU 2

Novel Yus R. Ismail


Mimpi yang Hilang


BI Ami, tetangga Lia yang bekerja di kota, saat pulang kampung mengajak Lia untuk pergi ke kota.
“Di kota banyak yang butuh pembantu,” kata Bi Ami. “Teman-teman majikan Bibi juga sudah beberapa kali meminta. Tapi bila mereka sekarang sudah punya pembantu, kamu bisa menumpang dulu di tempat Bibi bekerja.”
“Tapi nanti Bibi dimarahi karena membawa orang lain.”
“Tidak akan. Majikan Bibi orangnya baik. Lagipula kamu kan bisa membantu-bantu Bibi tanpa dibayar. Kalau kamu mau, dua hari lagi Bibi akan ke kota.”
Lia begitu gembira mendapatkan ajakan seperti itu. Bukan gembira karena merasa nasibnya akan berubah, karena yang dia tahu Bia Ami pun bukan orang yang berada meski telah dua tahun bekerja di kota. Rumahnya yang sekarang ditinggali anaknya tidak menampakkan perubahan dari saat Bi Ami pergi ke kota. Dulu Bi Ami pergi ke kota karena suaminya meninggal dalam bencana longsor yang juga menimpa orang tua Lia.
Lia gembira karena perhatian Bi Ami dan karena merasa akan keluar dari rutinitas yang membosankan. Dengan perhatian Bi Ami, Lia merasa punya lagi keluarga. Waktu itu Lia sudah berumur sembilan tahun.
Bi Ami bekerja di sebuah keluarga kaya. Rumahnya besar. Dua tingkat. Halamannya luas dengan taman tertata rapi. Biasanya ada orang yang datang dua minggu sekali memotong rumput dan tanaman. Baru kali itu Lia masuk ke rumah sebesar itu. Orang-orang kaya di kampung, rumahnya tidak sebesar itu.
Di tingkat atas ada lima kamar. Tiga kamar dipakai oleh anak-anaknya. Dua kamar dipakai tempat perpustakaan dan kamar tamu. Di bawah ada empat kamar besar. Satu dipakai Ibu dan Bapak, satu dipakai ruang kerja Bapak,  yang duanya dipakai kamar tamu. Di belakang, dekat dapur, ada beberapa kamar kecil. Bi Ami menempati salah satu kamar itu. Mang Apit, sopir di keluarga itu, juga tinggal di kamar belakang. Yang lainnya dipakai ruang setrika dan gudang.
Mobilnya punya dua. Satu mobil untuk Bapak pergi ke kantor. Setiap hari Mang Apit mencuci mobil itu dan selalu siap bila Bapak akan pergi. Kadang Bapak tidak pulang beberapa hari. Lia tidak tahu kemana saja Bapak pergi. Mobil yang satunya lagi biasa dipakai keperluan sehari-hari. Ibu belanja, antar-jemput anak-anak sekolah, arisan, Bi Ami ke pasar, Ibu berkumpul bersama ibu-ibu lainnya. Untuk itu ada lagi sopir khusus yang tinggal di belakang kompleks. Namanya Mang Engkus. Biasanya Mang Engkus datang pagi-pagi dan pulang sore, atau kalau diperlukan bisa kerja sampai malam.
Anak Ibu dan Bapak ada tiga orang. Anak pertama seorang wanita, kelas dua SMP. Anak kedua dan ketiga laki-laki, kelas enam dan lima SD. Setiap hari mereka diantar-jemput sekolahnya. Tiga kali seminggu, Reka, anak pertama, kursus berenang dan dua kali seminggu kursus main piano. Iwan dan Heru tidak mau kursus. Dua kali seminggu mereka belajar di rumah, guru les yang datang.
Hari pertama Lia datang ke rumah itu, tidak ada yang menghiraukannya. Malamnya Bi Ami mengajaknya untuk menghadap Ibu.
“Tadi sore Bibi sudah bilang tentang kamu. Sekarang kamu menghadap Ibu,” kata Bi Ami. Lia degdegan selama merapikan rambut dan baju serta waktu melangkah ke ruang dalam.
Ibu dan Bapak sedang menonton televisi. Ketiga anaknya juga ada. Memang baru saja mereka makan malam. Lia duduk di karpet, tapi Ibu menyuruhnya duduk di kursi. Perlahan Lia duduk di kursi, seolah takut pantatnya merobek kursi yang pasti empuk. Dan kursi itu memang empuk.
“Jadi kamu mau bekerja?” tanya Ibu.
“Iya, Tuan.”
Ibu tersenyum. Bapak menyembulkan kepalanya dari koran yang dibacanya. Anak-anak sempat mengalihkan perhatian dari acara televisi yang ditontonnya.
“Tidak usah memanggil Tuan. Panggil saja Ibu. Ini Bapak. Itu anak-anak. Nanti Bi Ami yang akan ngasih tahu. Sudah pernah bekerja sebelumnya?”
“Sudah sering saya bekerja di dapur.”
Lia terus menunduk. Tidak berani dia mengangkat wajahnya. Padahal hatinya begitu tertarik dengan acara kuis anak di televisi yang terdengar suaranya.
“Bisa masak?”
“Bisa.”
“Bisa nyetrika?”
“Bisa.”
“Ya sudah, sekarang kamu ikut dulu bersama Bi Ami. Kamu bisa bantu-bantu Bi Ami. Nanti Ibu carikan keluarga untuk kamu membantu.”
Lia mengangguk beberapa kali. Sudah ingin dia pamitan dan menyatakan gembira kepada Bi Ami. Tapi sebelum Bi Ami pamitan, Ibu bertanya lagi.
“Eh, kamu berapa tahun?”
“Sembilan tahun.”
“Sembilan?”
Bapak menyembulkan lagi kepalanya. Anak-anak melirik.
“Tidak melanjutkan sekolah?”
“Saya tidak sekolah, Bu.”
Ibu mengerutkan keningnya. Tapi tidak ada lagi pertanyaan sampai Bi Ami dan Lia pamitan. Lia merangkul Bi Ami di dalam kamar. “Mereka baik-baik, ya, Bi,” katanya. Bi Ami mengangguk.
Setiap hari tugas Lia adalah membantu Bi Ami menyiapkan sarapan pagi. Lia belajar bagaimana membuat nasi goreng yang bumbunya komplit, membuat roti bakar dengan panggangan yang selama Lia bekerja di rumah-rumah di kampung belum ada yang punya, membuat susu tanpa gula yang takarannya pas bagi setiap orangnya. Iwan susunya mesti manis sekali. Sementara Reka  tidak terlalu manis.
Setelah mereka pergi dari rumah, Lia membereskan tempat tidur anak-anak dan membersihkan ruang dalam dari debu. Selebihnya Lia banyak memiliki waktu bebas. Paling membantu Bi Ami memasak untuk makan siang, mengerjakan suruhan kalau Ibu menyuruh, sore menyiram tanaman.
Kadang kalau Bi Ami ke pasar dengan diantar Mang Engkus, Lia ikut. Lia sering duduk di depan. Dia sering membayangkan, seandainya yang ada di sampinya menyetir adalah Apa dan yang duduk di belakang itu Emak. Wah, kesenangan hidup seperti apa yang dialaminya? Kalau sudah melamun begitu, Mang Engkus sering menggoda, katanya Lia sudah ingin didekati laki-laki. Ah, Mang Engkus kalau menggoda keterlaluan. Tidak ada pikiran seperti itu di kepala Lia. Di kampung memang anak seusianya sudah banyak yang dipingit untuk kemudian dicarikan jodohnya.
Tapi banyaknya waktu untuk beristirahat itu malah tidak disukai Lia. Dia sering bertanya kepada Bi Ami, “Sekarang apa lagi yang mesti dikerjakan?”
“Kamu istirahat saja dulu, tiduran sana, dari pagi kerja terus.”
Tapi Lia tidak mau. Bila Bi Ami sudah mengatakan seperti itu, dia akan mengerjakan apa saja yang pantas dikerjakan. Menyapu lantai yang terlihat berdebu, membereskan tempat sepatu, menggunting daun-daun yang sudah menguning di taman. Lia senang bila anak-anak pulang sekolah. Memang mereka jarang menyuruh, tapi setiap hari pasti ada yang meminta tolong, begitu mereka mengistilahkannya, kepada Lia. Kalau tidak membuatkan teh dingin, mereka meminta tolong Lia mengambilkan baju-baju kotor di kamar yang baru saja mereka pakai.
Lia senang kalau ada yang menyuruhnya. Karena waktu disuruh seperti itu ada kemungkinan untuk ngobrol meski hanya satu dua pembicaraan saja. Di dalam hatinya dia ingin ngobrol yang panjang dengan anak-anak majikannya. Tentu menarik mendengarkan pengalaman-pengalaman mereka. Atau kalau mungkin ikut bermain play station di televisi. 
Lia paling senang bila Reka menyuruh menemaninya belajar. Selain senang karena sering dikasih persen baju bekasnya yang masih bagus-bagus, juga senang karena Reka sering bercerita pengalamannya di sekolah atau di tempat kursus. Dia pernah bercerita tentang guru main pianonya yang pintar menyanyi, teman baiknya yang sedang sakit, atau saat ada teman lelakinya yang mengirim surat cinta. Tapi Teh Reka, begitu kemudian Lia memanggilnya, seringnya ingin mendengarkan cerita Lia. Terpaksa Lia bercerita pengalamannya, cerita yang tentunya tidak menarik.
Lia sangat kerasan tinggal di tempat barunya itu. Ibu dan Bapak tidak pernah memarahinya meski dia datang dengan terbungkuk-bungkuk saat melapor bahwa dia telah memecahkan piring. Ibu malah menyukai hasil kerja Lia. Ibu sering memperhatikan Lia dan menganggap anak itu rajin, jujur, dan daya tangkapnya lumayan. Beberapaka kali Lia menemukan uang saat membereskan kamar anak-anak dan uang itu diberikan kepada Ibu.
Maka ketika suatu malam Ibu memanggilnya, Lia bersedih karena harus secepatnya pindah ke keluarga baru yang belum tentu sebaik di sini.
“Sudah ada teman Ibu yang meminta kamu bekerja di rumahnaya. Tapi Ibu sudah sepakat dengan Bapak, kalau kamu mau tinggal di sini, kamu boleh tinggal. Ibu akan menyekolahkan kamu. Kamu boleh milih, bila ingin bekerja dan mendapatkan gaji yang akan kamu kirim ke kampung, Ibu akan mengantarmu.”
Lia mendongakkan kepalanya. Baru kali itu dia berani memandang wajah Ibu. Hatinya tidak terkira gembiranya. Baru kali itu, selama hidupnya, ada orang yang menawarinya untuk sekolah.
“Menurut Ibu, kamu masih terlalu kecil untuk bekerja, kamu masih perlu sekolah. Kamu perlu bisa membaca dan menulis.”
Lia tidak kuasa menahan air yang meleleh di pipinya.
**

Kalung Persaudaraan


HARI petama masuk sekolah, Lia merasa apa yang dilakukannya ada dalam mimpi. Biasanya dia hanya melihat senang saat anak-anak majikannya sarapan sebelum pergi ke sekolah. Hari ini dia sendiri yang mesti sarapan.
Berkali-kali Lia melihat dirinya di kaca. Baju seragamnya yang telah dibelikan Ibu tiga hari yang lalu ditepuk-tepuknya. Berkali-kali dia meminta pendapat Bi Ami.
“Kamu memang pantas memakai seragam itu, Nyi. Kamu cantik,” kata Bi Ami membuat Lia tersipu. “Mudah-mudahan kamu cepat pandai. Orang pandai itu lebih berguna dan disayang Tuhan.”
“Iya kalau pandainya tidak menipu orang.”
“Tentu jangan menipu orang, Nyi. Kamu mesti seperti Bapak yang pergi setiap hari diantar sopir. Kamu mesti membantu orang yang kesusahan. Orang pandai yang menipu itu adalah orang yang menyia-nyiakan anugerah Tuhan.”
Terdengar Ibu memanggil Lia. Saat itu di ruang tengah, Bapak, Ibu, dan anak-anak sedang sarapan.
“Cepat, Nyi, kamu mesti bersiap-siap.”
Lia mengangguk. Diciumnya pipi Bi Ami sebelum dia keluar. Bia Ami mengerjapkan matanya. Berbahagia sekali dia melihat Lia begitu bersemangat. Anak itu memang sejak kecilnya tidak merepotkan mesti telah ditinggal orang tuanya. Bi Ami tahu saat Lia selalu mengintil neneknya membantu mengerjakan pekerjaan dapur di rumah orang-orang kaya di kampung.
Selain itu, Lia juga sebenarnya masih ada kaitan saudara dengannya. Ibu nenek Lia dengan ibu Bi ami itu adik kakak. Tapi meski saudara, bisa membantu apa Bi Ami melihat saudaranya kesusahan? Dirinya sendiri waktu itu morat-marit. Sejak bencana di lereng gunung itu, tanah garapan yang merupakan tanah pemerintah itu tidak boleh digarap lagi. Dia dan anak satu-satunya pun tidak bisa berbuat apa-apa selain menjual tenaga kasarnya yang hanya cukup untuk menutup rasa laparnya sendiri. Sampai anugerah itu datang saat dia bekerja di kota dan sedikit-sedikit bisa menabung untuk membeli sepetak tanah yang saat ini digarap anaknya.
Karena itu, melihat Lia, Bi Ami punya harapan baru. Anak itu rajin dan pandai. Ada-ada saja yang dikerjakannya setelah tugas rutinnya membereskan kamar anak-anak selesai. Kalau tidak membereskan ruang dalam, Lia akan tahan berjam-jam merapikan tanaman di taman. Selalu saja anak itu tidak mau bila disuruh istirahat. Bi Ami mengerti, seumur dia yang masih anak-anak telah kenyang dengan pengalaman bekerja.
Masuk sekolah adalah pengalam baru baginya. Bi Ami melihat kegembiraan Lia tidak surut sejak Ibu menyuruhnya untuk sekolah. Lia semakin rajin bekerja. Tadi pagi, begitu selesai sholat Subuh, Lia langsung membereskan ruang tengah meski Bi Ami melarangnya.
“Saya akan mengerjakan tugas ini setiap hari, Bi. Biar tidak keenakan,” katanya.
**
Lia malu-malu mendekati Ibu.
“Kamu sudah sarapan?”
“Sudah, Bu.”
“Siap-siap. Kita berangkat sekarang.”
Lia kembali ke dapur untuk mengambil tas. Segala sesuatunya telah disiapkan sejak Ibu membelikan tas, buku, dan peralatan lainnya. Setiap malam, menjelang tidur, peralatan sekolah itu diperiksa kembali seolah sekolahnya akan dimulai besok.   
Ibu membawa Lia ke sekolah di belakang kompleks. Dari rumah sebenarnya tidak jauh bila jalannya menerobos. Tapi karena memakai mobil, jalannya memutar. Sekolah itu tidak terlalu besar. Hanya ada enam kelas. Muridnya sedikit, kebanyakan anak-anak dari kampung di belakang kompleks perumahan.
Ibu menghadap kepala sekolah. Setelah berbicara sebentar Ibu pulang. Lia dibawa kepala sekolah ke ruang kelas satu. Di antara murid-murid yang lain, Lia termasuk paling besar. Usinya memang sudah jalan sembilan tahun. Tapi itu tidak membuat Lia malu. Meski dia tertinggal beberapa bulan dari murid yang lainnya, dia bisa cepat menyusul pelajaran.
Beberapa minggu saja sekolah, lia sudah bisa mengeja. Setiap sore dan malam dia mengulang kembali pelajarannya. Bi Ami suka tersipu malu kalau Lia memintanya untuk memperhatikannya. Bi Ami memang tidak bisa membaca. Kadang Reka yang mengajarkan Lia bila dia sedang mau. Iwan dan Heru paling memperhatikan bila Lia belajar dan mentertawakannya bila Lia salah.
“Masa S dengan Y jadi say. Say itu bila Teh Reka menerima surat,” kata Iwan. Heru tertawa. Reka yang merasa surat-suratnya pernah dibaca Iwan, melotot. Dilemparnya adiknya dengan bantal. Tapi Iwan dan Heru tidak pernah pergi sebelum Reka mengusirnya dan mengunci pintu kamar. Kalau sudah begitu, Lia paling tersenyum.
Naik ke kelas dua Lia sudah bisa membaca meski masih menabrak-nabrak titik koma. Iwan meminjamkan buku-buku ceritanya. Malam-malam menjelang tidur Lia akan membacanya keras di hadapan Bi Ami. Karena setiap malam hal itu dilakukannya, membacanya semakin lancar dan buku yang dibacanya semakin menumpuk. Berbagai dongeng telah dihapalnya. Sebagian ada yang baru diketahuinya tapi sebagian lagi telah diketahuinya dari dongeng Nenek. Sangkuriang, Timun Mas, Cinderella, Ande-Ande Lumut, Putri Salju, Bawang Putih Bawang Merah, bisa lancar dia ceritakan bila disuruh bu guru di depan kelas.
Lia menjadi anak emas di kelasnya. Dia memang rajin mengerjakan pekerjaan rumah dan pandai. Dari kelas dua sampai lulus dari SD, Lia meraih rengking pertama. Masuk SMP dia seperti yang membangun dunianya sendiri saat Bapak memperbolehkannya membaca di ruang perpustakaan. Hampir setiap malam, menjelang tidur, Lia membaca buku. Kadang sampai larut malam dia duduk sendirian di ruang perpustakaan. Dunia dibangun oleh buku-buku yang beragam bahasannya. Pandangannya terbuka melihat dunia baru yang dimasukinya. Tapi tugas sehari-harinya tidak berubah. Bangun pagi, sholat Subuh, beres-beres ruang depan, kadang membantu Bi Ami mencuci piring, dan berangkat sekolah.
Berkali-kali ajakan Iwan untuk ikut begadang bila malam Mingu tiba ditolaknya. Dulu pernah dia ikut bersama Reka makan malam di luar, katanya sekalian cari angin. Tapi sekarang segalanya menjadi tidak menarik perhatian selain buku-buku.
“Kenapa sih kamu, kaya profesor aja,” kata Iwan. “Ayo ikut, mumpung malam Minggu.”
Lia menggeleng. Hubungan majikan-pembantu memang mengalami perubahan terhadap Lia. Reka, Iwan dan Heru sudah tidak lagi menganggapnya pembantu. Apalagi setelah mereka belajar ngaji bersama seminggu dua kali di rumah. Dalam mengaji, Lia lebih lancar daripada Iwan dan Heru. Dulu, hampir setiap malam Nenek memang mengajarkannya. Tanpa malu-malu Iwan meminta perhatian Lia bila dia mengaji. Sesekali mereka malah saling mengejek. Ibu dan Bapak juga jarang menyuruh yang berat-berat.
Dan sekarang, Lia telah menemukan dunianya sendiri. Dunia yang penuh dengan impian yang sempat hilang semasa kecil.
“Sekali ini saja saya temenin,” kata Iwan merajuk. “Please, Lia. Kamu akan membantu saya bila mau.”
Lia melempar bukunya. “Ke mana?”
“Ikut saja. Ganti baju yang bagus.”
Baju yang dipakai Lia tidaklah terlalu bagus. Kebanyakan baju yang dipunyainya adalah pemberian Reka. Tapi Iwan sempat bengong saat melihat Lia keluar dari kamar. Celana coklat muda yang lebar ke bawahnya dan kemeja coklat tua bermotif bunga-bunga, membentuk Lia menjadi makhluk asing di mata Iwan. Perpaduan feminim dan maskulin bermuara di tubuhnya yang semampai. Setiap hari Lia melakukan pekerjaan rutinnya memang tidak beda dengan senam untuk menjaga kebugaran tubuh yang dilakukan gadis-gadis lainnya. Wajahnya yang berbedak tipis begitu cerah. Dan rambutnya yang dibiarkan panjang terurai seperti gadis di iklan shampo.
“Kenapa menatapku seperti itu?”
Iwan gelagapan. “Tidak apa-apa. Kamu pergi lewat belakang, saya nunggu di jalan. Mumpung hanya Mama yang nonton tv.”
Malam Minggu memang malam kebebasan bagi anak-anak yang diberikan Ibu dan Bapak. Mereka boleh pergi asal meminta ijin terlebih dahulu. Reka malam itu pergi bersama teman-teman kuliahnya. Heru tidak kelihatan batang hidungnya sejak sore. Dan Iwan malam itu akan menghadiri ulang tahun temannya. Dia memang telah mendapat ijin Mama, tapi tidak dengan mengajak Lia. Karena itu dia memilih Lia pergi sembunyi-sembunyi daripada Mama menginterogasi. Waktunya bisa melebar.
Iwan sudah menunggu dengan sepeda motornya di jalan saat Lia datang. Jam di tangan Iwan menunjukkan pukul 18.30. Langit cerah, bintang-bintang mulai muncul. Jalanan penuh dengan kendaraan saat mereka memasuki jalan raya. Mobil hanya bisa maju sedikit-sedikit. Tapi motor Iwan bisa meliuk-liuk di antara mobil yang berdempetan. Malam Minggu memang saat yang leluasa untuk jalan-jalan bersama keluarga atau siapa saja yang menjadi orang dekat.
“Ke mana kita?” teriak Lia, suaranya berbaur dengan bunyi kendaraan.
“Nanti saya terangin. Kamu pegangan, saya akan nyalip-nyalip.”
Hampir copot jantung Lia karena motor Iwan seperti melonjak-lonjak. Sepanjang jalan dia istighfar sampai Iwan menghentikan motornya di sebuah toko kado.
“Saya akan ke ulang tahun teman,” kata Iwan. “Kamu di sana harus ngaku pacar saya.”
“Pacar?”
“Iya. Syarat yang datang memang harus bawa pacar. Kalau tidak, akan diledekin habis-habisan.”
“Pacar kamu ke mana?”
“Bego! Siapa pacar saya?”
Lia tertawa. Beberapa waktu lalu Iwan pernah cerita kalau dia naksir Yesi, tapi gadis itu menolaknya.
“Oke? Kamu mau janji?”
“Iya.”
Suasana pesta teman Iwan surprise buat Lia. Dia memang baru pertama kali datang ke pesta seperti itu. Para remaja yang hadir berdandan habis-habisan. Mereka cantik-cantik dan cakep-cakep. Para gadis banyak yang memakai tank top yang memperlihatkan sebagian perut. Polesan wajah berwarna-warni. Percis seperti remaja yang sering nongol di layar televisi. Lia mengurut dada melihatnya. Mengapa mesti menjadi trend hal seperti itu, bathinnya. Percaya diri, bukankah adanya di dalam hati dan pikiran, bukan dari dandanan merepotkan dan mengundang seperti itu.
Lia yang memakai celana dan kemeja panjang tentu berbeda dari yang lain. Tapi laki-laki banyak yang melirik karena kelainannya itu. Selain itu, karena Lia memang cantik. Wajah tanpa polesan, alis lebat, cerah, sehat, itu saja sudah suatu kecantikan yang menonjol.
Ruangan yang besar itu penuh dengan balon. Makanan tersedia di setiap sudut. Sound sistem menumpuk di salah satu sudut. Itu semua menarik perhatian Lia. Tapi sebenarnya dia yang banyak diperhatikan orang saat Iwan memperkenalkannya.
“Jadi kamu pacar Iwan?” tanya salah seorang teman Iwan yang lama tidak melepaskan salamannya. Lia mengangguk.
“Sejak kapan? Kenapa mau sama Iwan?”
“Sudah! Lihat si Iwan melotot!”
“Lihat, pacar kamu juga melotot!”
Kelompok Iwan yang datang memang membawa pacarnya masing-masing. Setelah acara pembukaan dan doa yang dibawakan orang tua yang berulang tahun, selanjutnya para tamu berjoget. Tapi Lia menolak ketika Iwan mengajaknya ikut berjoget.
“Kenapa?”
“Saya mau pulang. Sudah malam.”
Iwan mengantar pulang dengan diteriaki teman-temannya. Dia memang tidak begitu suka dengan pesta-pesta seperti itu. Yang penting kegelisahannya beberapa hari ini terselesaikan. Dia tidak mau dicemoohi terus-terusan karena tidak punya pacar. Tapi untuk tidak datang ke pesta itu juga tidak mungkin, karena akan dianggap menghindar. Gengsi.
Di sebuah pertokoan Iwan membelokkan motornya.
“Mau ke mana lagi?” tanya Lia.
“Saya mau beli kalung.”
Lia mengikuti saja ke mana Iwan melangkah. Pengunjung pertokoan itu masih padat. Iwan membeli kalung emas bermata batuan putih dan mengenakannya di leher Lia.
“Buat siapa?”
“Buat kamu. Sebagai ucapan terima kasih ... Atau nggak mau?”
Lia tersenyum. Dia memang tidak menyangka kejutan itu akan terjadi. Iwan melingkarkan kalung itu ke lehernya. Diciumnya tangan Iwan. “Terima kasih,” katanya. Iwan menarik tangan Lia untuk pulang karena orang-orang memperhatikan mereka. Di sudut parkir Iwan menarik tangan Lia.
“Saya ingin bicara, tentang hubungan kita. Mau nggak mendengarkan?”
Lia mengangguk. Dadanya berdegup kencang.
“Mau nggak kamu menjadi adik sungguhan? Tidak pacar seperti tadi atau seperti hubungan kita di rumah?”
Lia menunduk. Begitu surprise apa yang dikatan Iwan, lebih mengejutkan daripada suasana ulang tahun tadi.
“Mau nggak?”
Lia mengangguk.
“Katakan dulu, mau nggak?”
“Mau.” Hampir tak terdengar suara Lia.
Iwan merangkul Lia dan mencium kening adiknya itu. Sampai larut malam Lia tidak bisa tidur. Kalung pemberian Iwan dipegangnya erat-erat.

**

ULAR

Written By Mang Yus on Kamis, 21 April 2016 | 11.26

Cerpen Yus R. Ismail

Pikiran Rakyat, 30 Mei 2004

Mula-mula ular itu aku pergoki di semak-semak belakang rumah. Tubuhnya sebesar jari kelingkingku. Panjangnya tidak lebih dari mistar 30 cm. Warnanya hitam. Tapi meski kecil, ular itu membuatku tidak berani meneruskan mencari kelereng yang hilang. Aku memperhatikannya dari teras belakang rumah dengan dada berdegup kencang. Bulu kudukku merinding. Dan si ular, melata dengan sesekali mendongakkan kepala, di tanah menuju semak-semak.
Sejak itu aku tidak berani lagi lewat, atau sekedar menyibak pepohonan, di belakang rumah. Aku takut ular itu menghadang dan siap mematuk ketika aku berjalan, menyibakkan pepohonan, atau mengerjakan apapun. Sepulang sekolah, aku lebih suka main di dalam kamar, bersama si Tiger, si Kura-kura, atau membaca. Kalaupun ingin bermain di luar, aku lebih memilih di depan rumah.
Tapi siang itu, aku menjerit sekuat tenaga. Di depanku, di rerumputan taman depan rumah, si ular sedang mendongak. Kepalanya menganga, siap mematuk. Tubuhnya sebesar ibu jari. Panjangnya lebih dari mistar 30 cm. Warnanya kehijau-hijauan. Sepintas, aku tidak bisa membedakannya dengan rerumputan.
Ibu dan Bapak keluar rumah.
“Ada apa?”
“Ada ulaaarr….”
Aku menghambur ke pelukan Ibu. Bapak mengorek-ngorek rerumputan dengan tongkat.
“Di mana?”
“Di situ. Di atas rerumputan itu.”
Sekali lagi Bapak mengorek rerumputan, lebih ke pinggir-pinggir taman.
“Mungkin sudah pergi.”
“Makanya jangan main di luar. Ayo masuk, di kamar saja.”
Sejak itu aku tidak berani main di taman. Kalau ingin bermain di luar rumah, cukup di teras. Saat si kupu-kupu hinggap di bunga-bunga, aku sudah tidak tahan untuk turun dari teras. Biasanya aku memang bermain dengan si kupu-kupu, berkejaran, menghirup bunga-bunga sambil membayangkan apa yang dirasakan si kupu-kupu kalau melakukan hal yang sama.
Tapi bayangan si ular yang mendongak, siap mematuk, mengurungkan keinginanku. Aku perhatikan sekeliling, siapa tahu ular itu memang sedang menunggu aku turun. Di bawah mawar, di sekeliling kembang kertas, rerumputan, tidak ada. Tapi aku tetap tidak berani turun ke taman. Siapa tahu ular itu memang tidak bisa dibedakan dengan tanah, rerumputan, batang pepohonan, daun, bunga. Siapa tahu ular itu sudah berada di atas pohon, menggelantung di rerimbun daunan.     
Aku merasa ular itu memang berbeda dengan ular biasa. Dia seperti bunglon, bisa merubah warna tubuhnya. Besarnya begitu cepat bertambah. Aku yakin, ular yang di taman ini adalah ular yang dulu aku temukan di belakang rumah. Entah juga, kenapa aku yakin seperti itu. Mungkin berbeda dari cara mendongaknya. Cara memandangku ketika minggu lalu saling berhadapan.
Dan nyatanya seperti itu. Aku hampir terjatuh ketika si kupu-kupu yang mau hinggap di bunga matahari, dengan sekejap dicaplok ular yang melingkar di situ. Warna tubuhnya kuning. Tubuhnya hampir sebesar pergelangan tanganku. Aku menarik nafas panjang, bersyukur tidak jadi turun ke taman. Seandainya aku turun, bermain dengan si kupu-kupu, bisa jadi aku yang menjadi korbannya. Tapi lengking menyayat si kupu-kupu itu, memenuhi telingaku, mengganggu syukurku.
Malamnya, ketika aku mau tidur, jerit kesakitan itu terdengar lagi. Aku berjingkat keluar, membuka pintu pelan, takut Ibu, Bapak, atau kakak-kakak, terbangun. Di rerumputan taman, aku melihat puluhan kodok melompat tergesa. Dan ular yang sudah sebesar lenganku itu, mengejar satu per satu.
Ular itu memang bukan ular biasa. Dia tidak diam, menunggu mangsanya mendekat seperti di televisi. Tapi mengejar, memburu, dan mencaplok puluhan kodok. Seperti tidak pernah kenyang. Lebih ganas dari singa-singa yang memburu rombongan bison. Aku menutup telinga. Karena  suara jerit kodok yang kesakitan itu sambung menyambung. Memenuhi udara. Menembus langit. Dan bergaung-gaung di gendang telingaku.
Aku merasakan kesakitan kodok-kodok itu. Mereka menjerit, mengaduh, resah tidak tahu mesti lari ke mana atau berbuat apa. Aku tidak kuat lagi mendengarnya. Menutup telinga tidak menjadikan jerit sakit itu menghilang. Dengan gemetar aku mengambil sapu. Tapi begitu berhadapan dengan ular itu, dengan cepat sapu itu dicaploknya. Aku mundur dan lari ke kamar.
Besoknya, ketika sedang sarapan, aku melapor kepada Ibu dan Bapak.
“Ular yang minggu lalu itu?” tanya Ibu.
“Iya. Sekarang sudah sebesar tangan, mencaplok kupu-kupu, memburu puluhan kodok, mencaplok sapu.”
Bapak dan kakak-kakakku tertawa.
“Itu artinya Rei jangan main di taman, kotor,” kata Ibu.
“Ular itu tidak akan apa-apa. Dia baik kalau kitanya juga baik.”
“Tapi ular itu jahat! Dia menyakiti kodok-kodok dan si kupu-kupu!”
Kakak-kakakku tertawa lagi.
“Kalau jahat lagi, laporkan saja kepada si Tiger dan si Kura-kura,” kata salah seorang dari kakakku.
“Tapi ini ular beneran! Bukan boneka seperti si Tiger dan si Kura-kura!”
Mereka tertawa berbarengan. Aku berlari ke kamar dan menangis.
**
Pagi itu aku sedang bermain mobil-mobilan di teras depan. Ketika mobilku menderum-derum di tanjakan, aku merasa ada yang menyaingi derumannya. Mobilku berhenti berderum. Suara itu semakin jelas, seperti sesuatu yang pecah, bersahut-sahutan. Aku mengikuti asal suara itu. Dan di bawah kembang kertas yang rimbun, puluhan, atau mungkin ratusan, telur menetas. Dari dalamnya menjulur kepala-kepala kecil, lalu melata. Ular-ular kecil berhamburan ke segala arah. Ketika mereka menemukan lalat, kecoa, serangga, mereka segera menyerbu. Mereka memburu, seperti yang kelaparan.
Jerit kesakitan melengking di mana-mana. Aku menutup telinga, tapi jerit sakit itu terus bergaung. Aku membawa tongkat. Aku akan usir ular-ular itu. Tapi saat aku memukul seekor ular, dengan sigap dia menangkap tongkat dengan mulutnya. Giginya begitu kuat sampai tongkatku remuk. Aku berlari ke kamar. Aku menggigil di bawah selimut.
Sampai malam aku tidak keluar. Ketika Ibu membujuk untuk makan, aku habiskan juga semangkok sup hangat. Sesiangan tidak makan apa-apa memang membuat perutku keroncongan. Tapi ketika ke teras, untuk melihat bulan, karena tanggal seperti ini aku biasa bercakap-cakap dengannya, aku terhenyak. Hampir saja semangkok sup itu keluar lagi dari perutku. Ratusan ular melata di teras, kesana kemari seperti sedang berjalan-jalan. Tubuh mereka yang pagi tadi sebesar lidi itu telah menjadi sebesar jariku. Aku menutup pintu, menguncinya, dan berlari ke kamar.
Tuhan, ular apa sebenarnya mereka? Tubuhnya begitu cepat membesar. Mungkin karena makannya yang rakus. Apakah memang ada ular seganas itu? Di televisi tidak seperti itu. Sekali makan, ular bisa beristirahat berhari-hari. Kata Bapak, ular juga tidak suka sapu, tidak suka tongkat, tidak suka lalat, tidak suka serangga. Apa mereka ular jejadian?
Aku menggigil di bawah selimut. Tidak bisa tidur. Keringat membasahi tubuhku. Aku takut ular itu masuk ke dalam rumah. Menghabiskan apa saja. Memakan Ibu, mencaplok Bapak, memburu kakak-kakakku, menyerang dan memakan seluruh dagingku.
Entah berapa jam aku tertidur. Begitu bangun, matahari menyusup lewat gorden yang tidak rapat menutup jendela. Astagfirullah, aku kesiangan. Kenapa beker yang semalam kusetel itu tidak berdering? Mengapa si ayam yang biasa berkokok di kandang belakang itu tidak membangunkan?
Tapi begitu turun dari ranjang, aku terkejut, karena karpet menggelembung-gelembung. Ketika aku singkap, puluhan ular tertidur. Di pojok, si beker tinggal sepotong. Tapak gigi membekas di tubuhnya. Siapa tahu si ayam pun tidak berkokok karena telah dimangsa ular-ular sialan ini. Aku berlari keluar. Ibu dan Bapak, juga kakak-kakak sudah tidak ada. Mereka sudah berangkat ke kantor dan sekolah, kata Mbok Nah. Aku singkap karpet tengah rumah, bantal kursi, taplak meja, keramik hiasan yang dikumpulkan Ibu. Semuanya, semuanya menjadi tempat persembunyian ular-ular yang tidur melingkar.
Aku telepon Ibu, telepon Bapak, melaporkan penemuanku yang menakutkan itu. Tapi mereka malah menyuruhku sekolah. Aku berangkat sekolah dengan perasaan jengkel. Kenapa mereka tidak mengkhawatirkan ular-ular itu? Ketika sedang belajar, aku menyesal. Kenapa ular-ular itu tidak aku racun, atau aku pukuli sampai mati, mumpung mereka sedang tertidur.
Hari itu aku sekolah sampai bel istirahat. Tanpa bicara kepada siapapun, aku menyelinap lewat pintu belakang, kabur. Di jalan aku memilih potongan kayu yang cukup besar. Ular itu bisa saja mencaplok sapu, mencaplok tongkat, tapi saat sedang tidur, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Pintu hampir aku tubruk. Tapi ketika aku menyingkap seluruh persembunyian mereka, ular-ular itu sudah tidak ada. Di bawah karpet, di balik bantal kursi, di dalam guci keramik, ular-ular itu tidak ada. Mbok Nah juga tidak tahu apa-apa ketika aku tanya. Sampai sore, ketika Bapak, Ibu, dan kakak-kakak pulang, aku masih mencari. Tapi ular-ular itu tidak kutemukan seekor pun. Kemana mereka sembunyi? Tidakkah mereka tahu akan aku bunuh?
Malamnya, aku terbangun mendengar suara-suara aneh. Seperti orang sedang makan kerupuk. Seperti suara desis yang berkepanjangan. Aku lihat dari balik pintu, ratusan ular sedang menggigit-gigit karpet, meja, kursi, keramik-keramik hiasan. Apakah mereka kelaparan karena tidak ada lagi makhluk hidup yang bisa dimakan? Ketika aku membuka pintu lebih lebar, akan melapor kepada Ibu dan Bapak, ular-ular itu menghentikan makannya. Mereka memandangku dan pelan-pelan menghampiri. Aku menutup pintu, mengunci dan meloncat ke kasur. Tapi dengan sekejap pintu kayu itu digigit-gigitnya sampai jebol. Ratusan ular itu menghampiriku dengan mengangkat kepalanya. Aku menjerit sekuatnya, dan tidak ingat apa-apa lagi.
Ketika terbangun, aku sudah berada di rumah sakit. Di sekelilingku ada Ibu, Bapak, kakak-kakak, dan seorang dokter dengan baju putih-putihnya. Mereka tersenyum. Tapi aku melihat Ibu menangis.
“Apa ular-ular itu sudah dibunuh, Bu?”
Ibu tersenyum. Menyusut airmatanya. Lalu mengangguk.
“Tidak ada lagi ular di rumah.”
“Ibu sudah membunuhnya?”
“Ya, membunuhnya.”
“Semuanya?”
“Semuanya.”
Dokter dan Bapak bercakap di dekat pintu. Kata dokter itu sebelum pergi: “Kondisi fisiknya sebenarnya tidak apa-apa. Tapi jiwanya terguncang hebat. Ada indikasi skizoprenia, halusinasi terhadap sesuatu yang tidak nyata. Biar istirahat saja. Jangan dulu dibawa pulang.”
**
Aku memang tidak mau pulang. Aku tidak mau lagi melihat ular-ular itu. Aku takut. Tapi terbayang, ular-ular itu akan memakan apa saja, dan setelah semuanya habis, pasti Ibu dan Bapak pun diincarnya. Aku bertekad untuk pulang. Aku harus menunjukkan sampai Ibu dan Bapak percaya bahwa ular-ular itu memang ada. Tapi dokter melarangku.
“Apa Dokter pun tidak percaya ular-ular itu ada?”
“Percaya, Rei. Dan sekarang, rumah sedang diperbaiki. Karpet, kursi, meja, keramik, semuanya diganti. Ular-ular itu sudah diusir. Rumah sakit ini telah meminjamkan semua perabotan rumah anti ular. Rei istirahat dulu di sini, biar segar dulu badannya.”
Waduh, aku lega mendengarnya. Tapi aku semakin ingin cepat melihat rumah. Aku ingin pulang. Baru dua hari kemudian Ibu dan Bapak menjemput.
“Hari ini di rumah akan ada syukuran, ulang tahun perkawinan Ibu dan Bapak yang kedua lima. Nanti siang akan berdatangan seluruh saudara kita. Sekarang kita pulang,” kata Ibu.
Di depan rumah nyatanya sudah menyambut semua saudaraku. Selain kakak-kakak, juga ada tante, oom, kakek-nenek, dan saudara-saudara lainnya. Mereka menyalamiku, menciumiku. Mbok Nah dan beberapa orang lainnya memasak di dapur.
Tapi aku tidak memperhatikan mereka. Aku terkejut karena rumah seperti bangunan yang tidak diurus bertahun-tahun. Karpet, meja, kursi, keramik, lemari, seperti rongsokan. Di sana-sini robek-robek, patah-patah. Tapak gigi-gigi membekas di semua perabotan. Tembok bolong-bolong. Aku rasa ini tapak ular-ular itu. Dokter itu berbohong!
Syukuran itu berlangsung sorenya. Masakan sudah diangkut semuanya ke meja di faviliun. Ibu dan Ayah menceritakan masa-masa awal perkawinannya. Saudaraku yang lainnya mengatakan kesan-kesannya. Semuanya tertawa ketika ada yang lucu. Tapi aku tidak memperhatikan lagi. Telingaku menangkap gemuruh dari lubang-lubang tembok. Lalu ratusan, atau mungkin ribuan, ular keluar. Mereka berdesis-desis. Lalu mulai memakan apapun yang ada di sekelilingnya. Karpet, meja, kursi, lemari, gorden, keramik, hiasan dinding, dan apapun yang ada di rumah.
Suara jerit kesakitan terdengar melolong. Karpet menangis, lemari mengaduh, kursi menjerit, gorden meraung-raung. Aku menutup telinga. Aku menjerit. Tapi Ibu, Bapak, kakak-kakak, dan saudaraku yang lainnya, tidak lagi mendengar suaraku. Mereka asyik memotong kue, membagi-bagi ayam bakar, meminum jus, sambil tertawa-tawa.

Cisitu-Dago, 19 Agustus 2002  
    
Cerpen Ini Didukung Oleh:

Ingin Tahu Lebih Banyak? Baca saja  DI SINI
Harga : Rp 35.000

Pemesanan: WA: 085772751686

UDIN WAYANG

Ngaranna mah Baharudin Narayana. Kasép. Awak jangkung tegep, da puguh resep olah raga, tara ngaroko. Lamun nepikeun pamadegan atawa pamanggih ngeunaan hiji hal, capétang jeung perténtang. Karasa pinterna. Smart ceuk Asri mah.
Di kampus mah, saha anu bireuk. Najan henteu safakultas, pasti apal ka manéhna. Enya, manéhna mah kaasup populér. Ngan ceuk kuring, populérna kaasup negatif. Saha-saha ogé pasti imut, seuri, lamun nyebut ngaranna. Meureun lantaran karesepna kana wayang dianggap prototife manusa jadul alias jaman baheula, tradisional, henteu ngindung ka jaman. Kampungan. Jadul ceuk Tukul Arwana mah. Matak lalandianana ogé apan Udin Wayang.
“Mimitina mah lantaran sering ngaréncangan Aki. Pun Aki téh di bumina nyalira. Tah, upami malem minggu, Aki mah tara kakantun siaran wayang golék dina radio,” ceuk Udin Wayang di ruang kuliah basa Pa Andan, dosen mata kuliah basa Indonesia, nitah ngadongéngkeun karesepna. Tangtu waé babaturan réa anu sareuri, ngageuhgeuykeun, terus ngeprokan.
Puguh atuh, karesep kana wayang mah apan hiji hal anu anéh, kampungan, keur barudak tahun 2014 mah. Selvie apan karesepna nari balét, Kevin karesepna snorkling, Dean jeung Asri resep produksi film-film péndék, Elizabeth karesepna nyanyi bari apal lagu-lagu pop ayeuna. Ari ieu, Baharudin, resep wayang, jajaka ti jaman mana atuh manéhna téh?
“Ngaran kuring Narayana, apan éta té nenehna Batara Kreshna waktu keur ngora. Ari Batara Kreshna, apan jelema pinter, titisan dewa, anu ngatur peperangan rongkah Baratayudha,” cenah. “Réa hal anu bisa dipaké eunteung tina carita pewayangan. Ngeunaan perilaku manusa, ngeunaan kahadéan jeung kagoréngan, ngeunaan....”
Ti harita ngarannaa dilandi jadi Udin Wayang. Tapi manéhna siga anu henteu miroséa, malah aya kesan atoh. Angger akrab jeung mahasiswa ti fakultas mana waé ogé. Manéhna saukur imut lamun aya anu ngageuhgeuykeun karesepna kana wayang.
**
Kitu gambaran manéhna ceuk kuring. Apan kuring ogé saukur nalingakeun ti kaanggangan. Horéam deukeut teuing jeung manéhna. Meureun ngan kuring anu henteu pati akrab jeung manéhna. Lamun panggih di koridor kampus, apan kuring mah osok gancang ngaléos. Kitu ogé lamun manéhna aya di jero ruangan kuliah saacan dosén datang, kuring mah tara asup. Kajeun nungguan heula di luar.
“Kunaon sih mani siga anu alergi ka Udin Wayang?” ceuk Asri basa kuring henteu jadi asup ka ruangan kuliah lantaran aya manéhna. “Itu mah sakitu bageurna.”
“Ah, henteu nanaon.”
“Ditaksir nya ku Udin Wayang?” Asri seuri, ampir ngagakgak lamun henteu ditungkup mah biwirna.
“Lamun sarua bogoh tinggal layanan. Lamun henteu tinggal tolak.” Biwir Asri henteu bisa dieureunan.
“Geus ah, tong ngabahas éta. Cua ngadéngéna ogé.”
“Lamun ceuk Asri....”
“Kumaha?”
“Mending tarima waé. Apan engké téh lamun lalajo wayang, bari disarung, jajan bajigur, bisa duaan, hahaha....” Asri ngagakgak henteu kaampeuh.
“Gandéng ah!”
**
Enya, mimitina mah lantaran Udin Wayang nulis dina inbox akun facebook kuring. “Sri, anjeun téh mirip Srikandi. Terang apan saha ari Srikandi?” Kitu tulisanna téh. Tangtu waé kuring henteu apal. Manéhna ogé henteu nerangkeun keur chating mah. Ngan isukna, di kampus, manéhna nerangkeun.
“Srikandi téh istri anu geulis, pinter, tapis mentangkeun panah,” cenah. Tangtu waé kuring seuri. Oh, Srikandi téh tokoh dina carita wayang. Tapi kalimat saterusna anu ngajadikeun kuring balem.
“Unggal neuteup anjeun, Sri, kuring sok ngalamun jadi Arjuna. Anjeun terang saha ari Arjuna?”
Kuring gideug.
“Arjuna téh suamina Srikandi.”
Ti harita kuring ngajauhan Udin Wayang. Kerja kelompok tara daék bareng. Rugina mah éta ogé aya. Di antara babaturan, anu pinter nulis, anu daék maca buku, anu ngarti rada jero komputer jeung internét, apan manéhna. Ah, tapi keun baé. Daripada éra....
Ras inget kana obrolan babaturan basa keur jajan baso di kantin.
“Kumaha tah, lamun seug anu balaka bogoh téh Udin Wayang?” ceuk Selvie ka Agnes. Agnes seuri ngabarakatak. “Naha kalah seuri?”
“Wah, ampun. Lalaki mah kajeun wajahna biasa waé tapi henteu katro alias kampungan siga Udin Wayang. Anjeun mah resep, nya?”
Selvie ayeuna mah anu seuri. “Ngadéngéna ogé mani gararéték. Wayang, anéh ogé nya bet aya kénéh lalaki kasép anu resep.”
Kitu sababna kuring ngajauhan Udin Wayang. Tapi najan kuring ngajauhan, inboxna dina akun facebook kuring taya towongna. Enya ogé ku kuring tara dilayanan deui, komo chating mah. Cenah, Arjuna mah henteu ngan saukur percéka mentangkeun panah biasa, tapi ogé panah asmara. Tapi ku kuring tara dibales deui. Malah ngaranna terusna mah didelete.

1.      Mangle no.2513, 5-11 Februari2015)

Keun baé, henteu nanaon manéhna rék nyerieun haté ogé. Daripada kanyahoan batur, kuring wirang dideukeutan Udin Wayang. Eta ogé bari jeung ngancam ka Asri.
“Pokona entong aya deui anu apaleun!” ceuk kuring tandes. Asri ngabarakatak.
“Naha kunaon?”        
“Maké nanya sagala. Asri daék kitu ditaksir Udin Wayang?”
Asri kalah ngahuleng.
“Aya naon?” Kuring henteu ngarti.
“Aya ku anéh ari nasib jelema nya. Udin Wayang téh kasép ceuk Asri mah. Sopan, bageur, pinter deui. Naha bet loba mojang anu henteu daékeun dideukeutan lantaran resep kana wayang.”
Kuring balem.
“Karunya ogé nya.”
“Lamun Asri daék mah, bogohan atuh...”
Asri ngabéléhém. “Nyaéta, sigana Asri ogé sarua jeung Sri, éra reureujeunganana,” cenah. “Jaman ayeuna, jaman sarwa teknologi mutahir, resep wayang... teu kabayangkeun.”
**

TANGAN YANG MENGGENGGAM BELATI


Tabloid CITRA, 7 Juni 1998

Gerimis turun mempertegas sunyi. Pohon-pohon mematung. Bangunan-bangunan membeku. Jalanan lengang. Suara mobil yang sesekali lewat, menyuarakan gelisah penumpangnya. Segerombolan remaja, laki-laki dan perempuan, turun dari mobil yang diparkir seenaknya di depan diskotik. Mereka tertawa-tawa. Di depan sebuah gang, serombongan remaja bermain gitar, bernyanyi teriak-teriak. Beberapa botol minuman tak beraturan di depan mereka.
Malam begitu dingin dan mencekam.
Di sebuah lapangan seorang lelaki berdiri. Gerimis yang membasahi rambutnya dibiarkan menyusuri pipinya, dahinya, bajunya. Matanya memandang ke depan, tak berarah. Napasnya tak beraturan. Di tangan kanannya tergenggam sebuah belati. Dari ujung belati itu menetes darah, satu-satu.
Tak ada angin malam ini.
Lelaki yang berdiri di tengah lapangan itu hanya mendengar suara napasnya sendiri. Sebuah luka menggores di tangannya. Darah masih mengalir, bersatu dengan butiran air, menetes dari ujung belatinya.
Sebuah mobil berhenti di pinggir lapangan. Segerombolan remaja, laki-laki dan perempuan, turun.
“Sorotkan lampu ke arahnya,” kata yang seorang.
Lampu mengarah ke lelaki yang berdiri di tengah lapangan. Tapi lelaki itu tidak bergeming.
“Lihat ia membawa belati.”
“Berdarah.”
“Aku takut matanya,” kata yang perempuan. Cepat ia masuk ke dalam mobil. Teman-temannya menyusul. Mobil meluncur lagi.
“Aneh-aneh kelakuan orang,” kata yang perempuan sambil menyusup di dada temannya. Di tangannya tergenggam pil yang tidak jadi diminum karena ia terlalu lemas.
Di depan sebuah gang, segerombolan remaja masih bermain gitar. Botol-botol kosong berserakan di depan mereka.
“Kerja kau, cepat!” Si Tato Kala memerintah anak buahnya. “Di diskotik sudah banyak yang pada pulang. Kau minta keamanannya.”
“Di sana dijaga si Kopral, Bang.”
Ala, apa yang ditakutkan dari si Kopral? Cepat pergi!”
Malam mendekati subuh. Anak buah si Tatto Kala berlari menembus gerimis. Dia berpapasan dengan seorang tua yang menyebrang jalan menuju ke mesjid di depan gang.
**
Matahari masih semburat jingga ketika seorang tukang sayuran yang mau ke pasar menemukan mayat di semak-semak, lima ratus meter dari sebuah diskotik. Orang-orang ribut. Mereka mengerubungi mayat itu. Polisi ditelepon. Satu tim antikekerasan diturunkan. Mereka cepat memeriksa, menanyakan ini-itu kepada orang-orang yang ada di sekitar kejadian perkara.
“Lelaki itu memegang belati yang berlumur darah, Pak!” kata seorang remaja yang semalam datang ke diskotik. “Semalam dia berdiri di tengah lapangan, Pak.”
Atas petunjuk remaja itu, polisi mendatangi lapangan yang diceritakan. Lelaki itu masih berdiri di sana. Di tangannya sebuah belati tergenggam. Darah menetes satu-satu dari ujung belatinya. Lelaki itu tidak bergeming meski matahari mulai naik dan orang-orang menghampirinya.
“Tangkap lelaki itu!” perintah Pak Komandan.
Satu tim polisi mendekat. Beberapa orang menodongkan pistol. Lelaki itu masih berdiri kaku.
“Kamu ditangkap,” kata seorang polisi. Lelaki itu masih berdiri kaku. Tapi begitu dua orang polisi menangkap tangannya, lelaki itu berkelit.
“Kamu ditangkap!” bentak seorang polisi.
“Apa salahku?” Lelaki itu bersuara. Matanya memandang tajam.
“Kamu dicurigai.”
“Kenapa?”
“Kamu memegang belati.”
“Apa salah memegang belati?”
“Belatimu berdarah!”
“Apa salah belati berdarah?”
“Banyak omong. Tangkap dia!” Pak Komandan kesal.
Lelaki itu menodongkan pisau ketika dua orang polisi mau menangkapnya.
“Mana surat perintahnya?” tanya lelaki itu.
“Gampang, nanti dibikin.”
“Tidak bisa. Sebagai polisi kalian goblok. Sombong! Aku tidak bersalah!”
“Tembak dia!”
Lelaki itu berlari. Beberapa pistol meletus. Peluru melayang cepat, menembus tubuh lelaki itu. Darah mengucur dari lubang-lubang yang dibikin peluru itu. Tapi lelaki itu berlari terus. Polisi mengejarnya.
Sampai malam datang polisi belum dapat menangkap lelaki yang menggenggam belati itu.
**
Pagi berikutnya seorang buruh yang siang kemarin demonstrasi terbunuh. Pagi berikutnya mayat seorang mahasiswi ditemukan di tempat kosnya. Pagi berikutnya sekeluarga guru dibantai. Pagi berikutnya dua orang anak sekolah dasar diperkosa sekelompok orang. Pagi berikutnya ditemukan mayat seorang polisi, mayat seorang jenderal, mayat seorang tukang sayur, mayat seorang pengusaha.
Orang-orang resah. Polisi sibuk memeriksa dan melacak. Pengadilan digelar. Tapi si pelaku masih belum jelas. Sampai seorang remaja melaporkan bahwa ia semalam melihat seorang lelaki yang memegang belati berlumur darah itu berdiri kaku di sebuah lapangan. Polisi dan orang-orang memburu ke lapangan. Lelaki itu masih berdiri di sana.
“Aku tidak bersalah!” Lelaki itu berkelit ketika polisi menangkapnya.
“Tapi kamu membawa belati yang berlumur darah. Kamu dicurigai!” Komandan polisi tak kalah galak.
“Apa cuma aku yang berdarah? Banyak orang yang patut dicurigai. Orang-orang menangis ketika rumah-rumahnya dibakar. Orang-orang menjerit ketika rumah-rumahnya digusur. Mahasiswa dan buruh demonstrasi hampir setiap hari. Orang-orang pada tidur di beranda gedung DPR, mengadu. Orang-orang sikut-sikutan dan jilat-jilatan untuk menjaga bisnisnya. Orang-orang mangkel makan tiwul sambil nonton pesta tahun baru ditayangkan seluruh stasiun televisi. Curigai mereka!”
“Tidak bisa! Kamu yang mesti ditangkap!”
Lelaki itu berlari. Beberapa pistol meledak. Lubang peluru di tubuh lelaki itu mengeluarkan darah. Tapi lelaki itu terus berlari.
Atas kesepakatan pemuka masyarakat, lelaki yang menggenggam belati itu didatangi oleh para pemuka agama.
“Kamu tahu Tuhan melarang membunuh?” tanya seorang pemuka agama.
“Tahu.”
“Kamu tahu Tuhan melarang memperkosa?”
“Tahu.”
“Kamu tahu Tuhan melarang orang merugikan orang lain?”
“Tahu.”
“Karena itu, kamu jangan melakukannya.”
 “Ya, aku berusaha tidak melakukannya.”
“Tapi banyak orang terbunuh. Banyak perempuan diperkosa. Banyak orang dipaksa. Banyak orang diinjak-injak hak asasinya. Untuk memberantas kejahatan itu, kita perlu pelakunya untuk diadili. Karena itu, lepaskan belati itu.”
“Aku tidak bisa melepaskannya.”
“Kenapa?”
“Tanganku tidak bisa dibuka.”
“Kamu dendam?”
“Ya.”
“Kepada siapa?”
“Pelaku kejahatan itu.”
“Karena itu, lepaskan balati itu.”
“Tanganku tidak bisa dibuka.”
**
            Menurut laporan para pemuka agama, lelaki itu tidak perlu diresahkan. Dia perlu diawasi saja. Tapi orang-orang tidak setuju. Kejahatan semakin sering dan sadis meski para preman sempat dihabisi di jalan-jalan. Menurut orang-orang, mereka perlu pihak yang dicurigai, karena pengadilan belum bisa menyelesaikan masalah seadil-adilnya. 
            Tapi lelaki yang memegang belati berlumur darah itu, menurut keputusan pengadilan, tidak boleh dicurigai. Orang-orang menggerutu. Mereka perlu pihak untuk dicurigai. Diam-diam mereka merencanakan untuk membunuh lelaki yang selalu berdiri di tengah lapangan sambil memegang belati berlumur darah itu. Pada waktu yang ditentukan, mereka menyerbu.
          “Bunuh dia!” teriak komandan dadakan itu. Orang-orang menyerbu. Di tangan mereka tergenggam belati. Lelaki itu berlari. Orang-orang mengejar sambil mengacung-acungkan belati.
           Berhari-hari orang-orang mengejar lelaki yang memegang belati berlumur darah itu. Tapi lelaki itu selalu dapat meloloskan diri. Sampai kemudian terbetik kabar ada seorang pejabat pemerintah terbunuh. Hari berikutnya ditemukan mayat seorang siswa SMU di pinggir jalan, mayat seorang mahasiswa yang sebelumnya membantu petani mengadu ke DPR, mayat seorang wanita panggilan di sebuah hotel, dan seterusnya.
         “Sekarang siapa yang kita curigai? Kita semua memegang belati!” Lelaki yang memegang belati berlumur darah itu berdiri di depan orang-orang. Orang-orang saling memandang. Diam-diam mereka saling mencurigai.
        Besoknya ada lagi yang terbunuh. Orang-orang mendapatkan belati di tangan mereka berlumur darah. Mereka tidak bisa melepaskan belati itu.
        “Kita semua sama-sama memendam dendam,” kata lelaki itu di depan orang-orang. “Yang menentukan tinggal peperangan di dalam hati kita, akan dilampiaskan seperti apa dendam itu.”
        Polisi semakin sibuk. Mereka stress karena kejahatan sering tidak jelas pelakunya. Mereka tidak bisa melepaskan pistol yang digenggam. Mereka menembak kepada yang dicurigai. Orang yang ditembak melawan. Mereka saling membunuh. Semakin banyak yang terlibat. Berhari-hari.
        “Ingat, Tuhan melarang kita saling menyakiti!” Para pemuka agama berteriak di mana-mana. Orang-orang berhenti berkelahi. Tapi belati berlumur darah di tangan mereka tidak bisa dilepaskan. Besoknya koran-koran menulis analisa pakar kriminal tentang kejahatan yang semakin sadis.***

Cerpen Ini Didukung Oleh:

Ingin Tahu Lebih Banyak? Baca saja DI SINI

Harga : Rp 35.000
Pemesanan: WA: 085772751686

TERBARU

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni