Jejak Kata :

ANAK KUCING KELIMIS MENGGIGIL KEDINGINAN

Written By Mang Yus on Rabu, 28 Desember 2016 | 10.47

Cerpen Tribun Jabar

Tribun Jabar, 25 Desember 2016

Sebenarnya malas menarik gas motor di atas kecepatan 60 km perjam. Tapi malam itu, hampir pukul dua belas, sepanjang jalan Soekarno-Hatta yang lurus ada pemadaman listrik. Sepanjang jalan gelap pekat. Jadi terpaksa saya harus menarik gas lebih kencang dari biasa. Takut ada geng motor yang sering kelayapan tengah malam. Gerimis juga masih turun menyebarkan kuyup.
Alasan kedua tidak mau memutar gas lebih kencang, karena di belakang saya ada Anisa yang sedang memeluk. Saya ingin menjalankan motor sepelan mungkin. Sambil ngobrol tentang apa saja. Atau kalau ada pedagang mie tek-tek, berhenti dulu di pinggir jalan. Tapi Anisa maunya juga ngebut. Kami baru saja pulang dari rumah sakit. Ibu Anisa sedang dirawat. Kami pulang sebentar untuk mengambil hasil rontgen sebelum dirawat yang ketinggalan.
“Stop... stoooppp...!” teriak Anisa mengagetkan saya. Saya langsung menyentuh lampu sent sambil mengerem mendadak. Untungnya tidak banyak kendaraan tengah malam seperti ini.
“Ada apa?” tanya saya.
“Ada anak kucing, kelimis basah, menggigil kedinginan,” jawab Anisa.
“Di mana?”
“Di belakang, dekat got.”
“Jadi sekarang bagaimana?”
“Kita bawa, kasihan anak kucing itu. Siapa tahu tidak ada induknya. Siapa tahu kedinginan.”
Saya memutar motor, lalu melaju perlahan mendekati got. Saya dan Anisa turun. Tapi tidak ada anak kucing meski lampu senter hp sudah menerangi ke sekeliling.
“Anak kucingnya mana?” tanya saya.
“Tadi menggigil di sini, di samping got ini,” kata Anisa.
“Mungkin itu bukan anak kucing.”
“Kalau bukan anak kucing, lalu apa?”
“Tidak tahu, pokoknya bukan anak kucing. Kamu kan hanya melihatnya sekilas. Listrik sedang padam.”
“Tapi lampu motor kan terang. Pasti itu anak kucing.”
“Kalau itu anak kucing, sekarang mana?”
“Tidak tahu.”
Saya mengajak Anisa untuk melanjutkan perjalanan. Tapi Anisa diam.
“Anak kucing pasti mengeong. Pergi kemana pun dia pasti mengeong,” kata saya.
“Tapi bagaimana kalau anak kucingnya bisu?”
“Memangnya ada anak kucing bisu?”
“Bisa jadi ada. Memangnya hanya manusia yang bisa bisu?”
Listrik masih padam. Gerimis masih turun. Rembulan yang terhalang mega hanya tampak bulat remangnya. Waktu saya cermati wajah Anisa saat ada lampu kendaraan yang lewat, saya melihat ada butiran air yang mengalir dari ujung matanya.
 “Kenapa menangis?” tanya saya lagi.
“Anak kucing itu pasti sendiri. Pasti kedinginan karena bulu-bulunya basah oleh gerimis. Pasti menggigil.”
Saya tidak bisa bicara lagi kalau urusannya sudah seperti itu.
“Mungkin anak kucing itu belum makan. Mungkin lapar. Mungkin semalaman dia harus menahan lapar, sambil badannya menggigil kedinginan, sambil kegelapan karena listrik masih padam. Mungkin....”
Saya sebenarnya mau tertawa. Bagi kucing, listrik padam atau tidak barangkali tidak begitu berbeda. Kucing toh tidak akan menyalakan computer atau membaca buku. Tapi saya harus mengerti perasaan Anisa. Dia itu memang sangat perasa. Melihat apapun dia gampang jatuh kasihan. Itu juga yang membuat saya tidak pernah mau pindah ke lain hati. Saya sangat mencintai Anisa.
**


Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Setelah mengambil barang yang ketinggalan, kami langsung ke rumah sakit lagi. Di dekat got tadi Anisa minta berhenti lagi. Kami turun lagi. Kebetulan pemadaman listrik sudah selesai. Dibantu lampu penerangan jalan dan lampu senter hp kami mencari lagi anak kucing. Tapi anak kucing itu tidak ada. Suara meongnya juga tidak ada.
“Mestinya kita membawa anak kucing kelimis menggigil kedinginan itu ke rumah. Kita keringkan bulu-bulunya. Lalu memberinya minum susu hangat, makan nasi dicampur ikan matang. Dan menidurkannya di dus yang dilapisi kain-kain hangat.”
“Tapi kucing itu tidak ada.”
“Mestinya ada. Mestinya kita menemukannya. Mestinya....”
“Tapi tidak mungkin kita semalaman mencari anak kucing itu.”
“Anak kucing kelimis menggigil kedinginan.”
“Ya, anak kucing kelimis menggigil kedinginan.”
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Di rumah sakit Anisa menunggui ibunya di dalam ruangan. Saya istirahat di luar dengan menggelar tikar. Subuh-subuh saya sudah dibangunkan oleh pedagang nasi kuning yang masuk ke dalam rumah sakit. Saya membeli dua bungkus. Lalu saya memberitahu Anisa untuk makan sebelum perawat datang dan cleaning service mengepel lantai. Tapi Anisa terdiam sambil memegangi nasi bungkus. Wajahnya murung. Lalu dari ujung matanya mengalir sebutir air.
“Kenapa?” tanya saya sambil menghentikan makan.
“Ingat anak kucing kelimis menggigil kedinginan itu.”
Saya menyimpan nasi kuning di atas tikar.
“Anak kucing itu pasti dimakan tikus,” kata Anisa lagi.
“Tidak mungkin. Kucing itu makan tikus. Bukan dimakan tikus.”
“Tapi anak kucing itu kan masih kecil. Sedangkan tikus got itu besar-besar.”
“Siapa tahu anak kucing itu dibawa induknya. Anak kucing itu digigit tengkuknya, lalu dibawa pindah entah kemana.”
“Tapi induk kucing seringkali tidak mau memindahkan anak kucing yang kelimis basah menggigil kedinginan. Induk kucing hanya mau memindahkan anak-anak kucing yang sehat.”
“Kata siapa?”
“Kata Nisa, sepertinya seperti itu.”
Saya menyesal mengapa tidak pernah mau membaca sedikit literatur tentang kucing. Jadi saya bisa memaksakan pendapat dengan berdasar buku atau laporan ilmiah.
**

Seminggu kemudian ibunya Anisa pulang dari rumah sakit. Saya kembali meneruskan membaca-baca buku bahan skripsi yang sempat tertunda. Hari sabtu saya menghubungi Anisa, mengajaknya nonton film. Sore itu saya menjemput Anisa. Tidak lupa saya membawa anak kucing pemberian tetangga. Anak kucing yang lucu dan suara mengeongnya yang manja.
Anisa awalnya menyambut anak kucing itu dengan gembira. Anak kucing itu ditimangnya, diusap-usap bulunya, disentuh-sentuh kumisnya. Tapi kemudian anak kucing itu diberikannya lagi kepada saya.
“Kenapa? Anak kucing ini kan lebih lucu, sehat, dan suara meongnya begitu jelas.”
“Tapi Nisa ingin anak kucing yang kelimis menggigil kedinginan itu.”
“Kucing itu mungkin bisu.”
“Nisa ingin anak kucing yang kelimis menggigil kedinginan dan bisu.”
Saya memandang Anisa lekat-lekat. Anisa memegang tangan saya. “Maaf ya,” katanya pelan.
“Tidak apa. Ayo, kita ke bioskop sekarang. Anak kucing ini kita kembalikan lagi ke tetangga saya.”
Hari sabtu penonton bioskop seringkali lebih banyak dibanding hari biasa. Apalagi filmnya yang sering dipromosikan sejak jauh-jauh hari. Kami duduk di bangku paling belakang. Dua kap popcorn dan dua botol air mineral menemani nonton kami. Tapi biji-biji popcorn itu berhenti masuk mulut ketika film sudah diputar setengahnya. Konflik cerita semakin memuncak. Tokoh utamanya semakin diharu-biru peristiwa-peristiwa tragis menyedihkan. Para penonton diam. Mungkin menahan napas. Mungkin menahan tangis.
Tapi saya mendengar suara tangis itu. Semakin jelas. Waktu saya tengok Anisa, dari ujung matanya mengalir butiran air.
“Jangan terlalu dimasukan ke hati,” bisik saya.
Suara tangis itu masih terdengar.
“Ini kan hanya sebuah film.”
Suara tangis itu masih terdengar.
“Film itu fiksi, bohong.”
Suara tangis itu masih terdengar.
“Film itu....”
“Nisa bukan nangis karena film.”
Saya memandang Anisa lekat-lekat. Saya usap butiran air yang mengalir di pipi itu.
“Nisa teringat anak kucing yang kelimis menggigil kedinginan itu.”
Saya terpana memandang Anisa.
“Sementara kita bersenang-senang nonton film, anak kucing kelimis menggigil kedinginan itu mungkin sudah dimakan tikus. Mungkin dibawa ke dalam got. Mungkin awalnya dia mengeong kesakitan. Mungkin....”
Saya memeluk Anisa. Jemarinya saya genggam erat sekali. Jujur harus saya katakan, saya mencintai Anisa karena perasaannya itu. Saya  suka wanita yang perasa. Tiba-tiba lampu bioskop menyala. Film sudah selesai. Anisa cepat membersihkan wajahnya dengan keretas tisu. Hampir semua penonton wanita ternyata mengelap wajahnya dengan keretas tisu.
Kami keluar bioskop paling belakang. Saya menggenggam tangan Anisa. Sesekali saya berbisik di telinganya.
“Orang mengira kamu menangis karena film. Padahal kamu menangis karena anak kucing kelimis menggigil kedinginan. Dan saya semakin mencintaimu karena itu,” bisik saya.
Di pintu bioskop saya menghentikan langkah. Teman-teman saya rupanya mau nonton bareng. Seto, Amanda, Rido, Dini, Alex, Ni Luh, Irwan, Nadia, Hendi, Via, Romi, Rianti, Banu, Niken.
”Ketahuan ya nonton duluan,” kata Seto. “Dari dulu nonton sendiri aja. Bawa pacar dong, atau bareng-bareng kaya kita.”
Saya tersenyum. Hanya tersenyum. Tangan saya yang memegang kap popcorn terasa pegal. ***

12 Mei 2016

Tribun Jabar, 25 Desember 2016 

MA ERUM

Written By Mang Yus on Senin, 05 Desember 2016 | 13.19

Carpon Mangle
Mangle no. 2604, 24-30 November 2016

Unggal mulang ka Cihégar, Aini teu weléh tibelat kana dongéng budak anu nyunyuhun tangkal. Ma Erum anu ngadongéngna. Bada ngaji di tajug pasosoré, barudak patingberetek téh lain balik ka imah atawa ngadon arulin. Kalah terus ngariung dina balé-balé bumi Ma Erum. Henteu jauh ti tajug ka bumi Ma Erum téh, ukur kahalangan ku balong jeung sakotakan sawah. Ustad Soléh, anu ngawuruk ngaji, apan carogéna Ma Erum. Tapi Ustad Soléh mah henteu pinter ngadongéng. Ngan Ma Erum anu lamun ngadongéng téh matak jempé barudak anu ngadangukeunana, matak patingbarakatak sareuri nepi kasééleun, matak ngaralamun ngangres ku carita dina dongéng. Padahal mah Ma Erum sareng Ustad Soléh  téh teu acan diparengkeun gaduh turunan.
“Lantaran éta budak resep kana tatangkalan, hiji poé, tina embun-embunanana tumuwuh hiji tangkal,” saur Ma Erum kalayan paroman anu hésé dicaritakeun ku Aini.
Aini saukur inget, manéhna katut sobat-sobat ulinna, sareuri ngadanguna. Kabayangkeun, lamun dina sirah aya tangkal. Wah, pasti éra. Pasti pirungsingeun. Pasti dipoyokan ku sasaha.
“Tapi éta budak henteu ngarasa nalangsa. Lantaran enya ogé éta tangkal téh beuki ngajangkungan, akarna beuki nyeceb kana sakujur awakna, dahan jeung daunna beuki ngarandakah ngémploh héjo; tapi henteu karasa beurat, henteu ngagokan,” saur Ma Erum, “Malahan mah rééaaaa pissaann… anu resepeun ka éta budak.”
“Tapi pasti sagala pameng, Ma. Badé ka bumi henteu tiasa, upami di sakola kumaha tiasa lebet ka kelas,” ceuk Asép.
“Ahéngna….” Ma Erum nuluykeun dongéngna kalayan paroman anu mandiri. Aini mindeng imut sorangan lamun inget kana paroman Ma Erum waktu ngedalkeun kecap éta. Nepi ka ayeuna, sanggeus kuliah tingkat ahir, sanggeus kungsi lalajo panyajak sohor déklamasi atawa aktor sohor maca sajak; Aini tetep ngarasa paroman Ma Erum basa ngedalkeun kecap “ahéngna” anu paling ngageterkeun hate.
“Tangkal téh ngaleutikan lamun éta budak ka jero imah. Kitu deui lamun éta budak saré, diajar di jero kelas, ulin di jero wawangunan. Tangkal téh henteu ngaganggu henteu matak riweuh.”
“Kumaha dongéngna éta budak dipikaresep ku sasaha, Ma?” tanya Isal.
“Waktu éta budak aya di luar, tangkal téh ngajangkungan jeung ngarandakah ngémploh héjo, karembangan jeung baruahan, matak resep anu ningali,” saur Ma Erum. “Henteu saukur papada jalma anu resepeun ka éta budak. Tapi ogé sasatoan. Manuk-manuk nyarayang, ngarendog, aranakan, dina tangkal éta. Hileud néangan kadaharan, jadi kepompong, tuluy gegeleberan mangrupa kukupu anu éndah. Jeung réa deui sasatoan, meureun rébuan jumlahna, anu rupa jeung ngaranna ogé urang mah henteu apal bakat ku laleutikna.”
“Ari bungbuahanana, tiasa diala, Ma?” tanya Oténg.
“Pasti hésé atuh ngalana!” ceuk Réna.
“Tapi lamun dibalédog ku talawéngkar mah pasti maruragan. Saperti lamun Oténg malédog rambutan Pa Haji Dulah,” ceuk Roro.
“Da… da uing mah malédog rambutan téh bongan tara dibéré,” témpas Oténg bari seuri éra.   
Barudak beuki ramé silihgonjak.
“Tangkal téh apan ahéng,” saur Ma Erum. Jep barudak jempé. Aini masih apal enya ogé henteu bisa nurutan, kumaha lentong Ma Erum basa ngedalkeun kecap “ahéng” anu bisa ngajempékeun barudak. “Sasaha ogé bakal dialungan buahna. Henteu kudu ditaékan atawa dirojok ku gantar komo deui dibalédog. Cukup diharéwosan ku éta budak, buah téh bakal ngalayang ka anu ngaruy nempona. Saha waé anu ningali éta tangkal, kakara kereteg wé hayang, pasti dialungan.
**

Ras Aini inget basa sasandiwaraan jeung sobat-sobatna, parebut merankeun budak anu nyunyuhun tangkal. Sok nepi ka ramé paabdi-abdi nepi ka pahereng-hereng. Ma Erum terus misah lamun geus kitu mah.
“Sasaha ogé kaci merankeun budak anu nyunyuhun tangkal,” saur Ma Erum. “Asal aya pasaratanna….”
“Naon, Ma? Naon pasaratanna téh?” Barudak réang.
“Kudu ngumpulkeun sisikian, siki naon waé, terus dibungbun.”
Poé Minggu rebun-rebun kénéh barudak ngabring ka pasar di kota kacamatan anu jarakna aya kana sapuluh kilométerna, naréangan sisikian. Buah, rambutan, manggu, dukuh, alpuket, jeung duka siki naon deui, meunang sakantong kérésék gedé. Sisikian téh terus dibungbun di buruan tukang bumi Ma Erum. Waktu halodo datang, barudak giliran nyéboran.
“Poé Minggu hareup, urang jalan-jalan. Barebekelan nya, urang botram,” ceuk Ma Erum sabada ngadongéng. “Anu baroga karung, barawa nya keur ngakut binih bungbuahan urang.”
Aini masih ngarasakeun rasa anu ahéng, anu diseuseup saseubeuhna, sumebar kana awakna, jadi imut anu éndah. Enya, rasa ahéng anu éndah téh nyulusup kana dadana sabada melakeun bibit bungbuahan di sisi jalan anu ngahgar.
“Bayangkeun lamun tatangkalan éta tumuwuhna dina embun-embunan urang,” saur Ma Erum sabada melakeun sakabéh bibit anu kabawa, terus nareuteup ti lebah puncrut. “Jadi tangkal anu gedé mangpaatna. Akarna jadi pangiket cai, tangkalna jadi tempat hirup rébuan mahluk, kembangna matak resep anu neuteup, buahna nyegerkeun anu hanaang….”
**

Aini masih ngarasakeun wegahna kudu neruskeun sakola ka kota kabupatén. Di Cihégar harit acan aya SMP. Lulus SMP, lulus SMA, Aini nuluykeun kuliah di kota propinsi. “Sakola téh jalan pikeun leuwih wijaksana, Néng,” saur Ma Erum. “Didu’akeun ku Ema sing jadi budak anu bageur, pinter, singer, jeung bener.”
Unggal mulang ka Cihégar, Aini pasti ngalongok Ma Erum. Ma Erum bakal nangkeup, ngusapan kana rambut. Keur Aini, Ma Erum mah henteu weléh marahmay, jeung awét anom. Basa Ustad Soléh ngantunkeun, Aini kakara sadar Ma Erum téh tos sepuh. Aini kakara engeuh gurat-gurat karijut di handap socana. Genep puluh dalapan taun yuswana ayeuna téh.
“Dongéngkeun ka Ema, kumaha sakola anu ngaranna kuliah téh,” saur Ma Erum basa hiji waktu Aini ngéndong.
Aini imut. Enya, Aini ngarasa jadi urang Cihégar anu untung. Lantaran bisa diitung ku ramo urang Cihégar anu bisa kuliah. Abah téh guru di SDN Cihégar. “Kajeun Abah jeung Umi dahar sampeu, asal Ain bisa kuliah,” saur Abah. Duaan deui urang Cihégar anu kabiruyungan bisa kuliah, nyaéta Asép, putra pa kuwu manten, jeung Oténg anu bapana patani hui.
“Tempat kuliah téh namina paguron luhur, Ma,” ceuk Aini. “Tempat anu sami waé sepertos SD, sapertos tajug, sapertos bale-balé bumi Ema. Tapi paguron luhur mah gedong-gedongna ogé laluhur, taringkat. Aya perpustakaan tempat nyimpen rébuan buku, majalah, koran. Upami urang hoyong terang naon waé ogé, di perpustakaan mah aya. Upami urang bade melak tangkal alpuket, hoyong terang kandungan gizina, vitaminna, kumaha carana melak alpuket anu sakedahna, aya sadayana di perpustakaan mah.”
Aini masih inget kumaha marahmayna paroman Ma Erum, meureun ngabayangkeun dongéng Aini. Teuteupna nembus ka jauhna, sajauh imajinasina. Meureun ngabayangkeun anu kumaha paguron luhun tempat kuliah rébuan mahasiswa téh. Sainget Aini, Ma Erum mah can kungsi nyanyabaan jauh. Saurna, sakolana henteu kungsi tamat SD. Tapi maca hurup latén jeung arab lancar leuwih ti kalolobaan urang Cihégar.
Unggal Aini ngadongéngkeun yén manéhna jeung batur sakampusna melak-melakeun bibit tatangkalan di sakuriling kampus anu lega jeung ngahgar, Ma Erum ngabandunganna téh nepi ka ngeclakeun cisoca. Aini henteu apal, naha Ma Erum téh ngangres ku dongéngna atawa sedih ku anu séjén.
Isukna basa Aini ngabaturan Ma Erum jalan-jalan, Aini engeuh réa anu robah di lemburna. Tatangkalan anu baheula dipelak Ma Erum jeung barudak sapanjang sisi jalan, ngan aya tunggulna wungkul anu baruruk. Cenah lantaran jalan aya rencana leuwih dilébarkeun.
“Ciséké anu baheula ngajadikeun kampung urang subur cai, ngan saukur di sababaraha tempat anu masih aya,” saur Ma Erum, duka saukur ngabéjaan duka ngangluh.
Aini kakara sadar, basa mulang dua taun katukang, balong di gigireun imahna digaringkeun. Pangrasa Aini lantaran Umi hoyong pepelakan kayaning jahé, konéng, surawung, salédri, bawang, jeung bungbu-bungbuan séjénna. Padahal pancuran anu nyaian balongna ogé halodo mah garing.
**

“Ain sakadar hoyong mengenang Ma Erum,” ceuk Aini ka Umi. Kamari Abah ngahaja nélépon, ngabéjaan Ma Erum ngantunkeun. Waktu nyéboran bungbun bungbuahan di buruan tukang, Ma Erum ngarasa rarieut. Soréna, basa sujud solat asar, anjeunna henteu cengkat deui.
Dimakamkeunna di buruan tukang bumina, di handapeun tatangkalan, da kitu kahoyongna,” saur Umi. “Amanatna, bumina diwakafkeun pikeun madrasah.”
Aini leumpang gagancangan da sieun kasoréan. Di buruan hareup bumi Ma Erum, Aini ngajanteng lila, neuteup bale-balé, tempat baheula manéhna jeung sobat-sobatna ngadangukeun dongéng Ma Erum.
Tukangeun tangkal nangka Aini ngarandeg. Dadana degdegan. Di makam téh aya anu cingogo. Sanggeus yakin anu cingogo téh sarua manusa, Aini ngaléngkah lalaunan. Kadangu aya sora inghak anu ditahan.
Aini cingogo, ngawurkeun kekembangan, terus ngadu’a. Teu kaampeuh, aya anu ngalémbéréh maseuhan pipina. Tapi ditahan entong kaluar inghakna. Réngsé ngadu’a, Aini ningali Oténg di hareupeunana keur neuteup.
Maranéhna terus cengkat. Di balé-balé duanana dariuk.
“Ain, masih inget dongéng budak anu nyunyuhun tangkal?” ceuk Oténg.
“Naha teu ningali kitu, sakitu ngarandakah ngémploh héjo?” témbal Ain.
“Sarua atuh, dina sirah Oténg mah malah tangkalna geus baruahan.”
Sakali deui Aini ngusap anu ngalémbéréh dina pipina.
** 



GERIMIS SORE

Written By Mang Yus on Minggu, 04 Desember 2016 | 09.37

Puisi Media Indonesia

Media Indonesia, 1 Maret 2015

gerimis turun sore hari
mengantar kepergian sang matahari
adakah engkau mengerti
keindahan di batas langit berupa pelangi
2015


MAWAR 
ngkaukah pemetik mawar itu
betapa cantik menghias rambutmu
bertahun lalu aku menanamnya
menyiram dan memupuknya
            –              dengan cinta
engkaulah pemetik mawar itu
2015 
DI JALAN 

di jalan itu 20 mobil lewat setiap menit
ada orang suci, pencuri, orang hebat, penjahat
tapi jalan tak pernah mengeluh
siapa pun boleh berlalu
di jalan itu engkau ingin menyeberang
baru 2 menit engkau terhalang
wajahmu serupa buah matang
2015 


HUJAN MENIKAM MALAM

lolong anjing tenggelam
gelap sampai jauh mencekam
bunyi tik-tak di atas genting
siapa semedi di sejadah hening?
2015 


SIPUT

siput itu merayap melewati bebatuan
dan tebing terjal, dari sungai menuju sawah
siput itu tak pernah menghitung berapa kali jatuh
tersiram hujan atau tumpahan air sawah
“aku ini si siput, bukan sisipus
aku terus menjemput, sampai kurus
kebijakan yang Engkau simpan di padi menunduk.“
2015


ANGIN 
kembara pergi
mencari jati diri
tak pernah kembali
kembara pulang
kembali ke inti mani
sunyi, di dalam diri
2015


PELNGI 
sejak masa kanak engkau bernyanyi
siapakah pelukismu wahai pelangi?
di sini, di kaki gunung yang indah
mengenangnya tiba-tiba engkau merasa gundah
2015


BUBUR REMPAH

Written By Mang Yus on Kamis, 17 November 2016 | 21.29

Cerpen Yus R. Ismail
Cerpen Bubur Rempah, Femina edisi 44 edar tanggal 4-11 November 2016

Setiap mengaduk bubur, Asri melihat wajah orang tuanya dalam letupan-letupan nasi encer itu. Apa membayang dalam letupan panas itu. Apa seperti sebuah amarah yang tidak pernah berhenti, seperti letupan bubur yang hanya berhenti bila api dimatikan. Emak memang tidak membayang dengan jelas. Tapi Asri merasakan kehadirannya dalam letupan itu meski Emak selalu diam.
Seingat Asri semuanya dimulai tujuh tahun yang lalu ketika dia lulus dari SMK. Suatu sore lelaki tua bandar pisang itu datang dan berbincang dengan Apa. Malamnya Apa memanggil Asri, membicarakan rencana pernikahan anak tertuanya itu dengan Pak Sutardi, bandar pisang berusia lima puluh tahun itu. Tentu saja Asri terkejut. Dia menolak. Dia masih ingin punya pengalaman bekerja, kalau bisa dia mau melanjutkan sekolah. Tapi Apa marah, marah besar.
“Kalau kamu ingin bekerja dan sekolah, sebenarnya bisa dibicarakan, tidak langsung menolak,” kata Emak besoknya.
“Tapi bukan hanya itu, Mak. Pak Sutardi itu kan sudah punya tiga orang istri. Bagaimana bila....”
“Bapakmu itu meminta bantuanmu. Bapakmu mempunyai utang yang....”
Tentu saja Asri kecewa kepada Apa. Mengapa Apa yang mempunyai utang dia yang dikorbankan? Kepada Emak pun Asri sama kecewanya. Emak tidak melindunginya. Bila Asri tidak pergi mengikuti Ceu Wawang, kakak sepupunya yang bekerja di Bandung, tentu Emak akan selalu memintanya agar mau dinikahi lelaki tua itu.
**

Selama dua tahun bekerja di Bandung, setiap Asri pulang, Apa dan Emak selalu menyambutnya dengan suka-cita. Pertengkarannya saat Asri menolak lamaran Pak Sutardi seperti yang hilang sama sekali. Tapi beberapa hari kemudian Asri merasa bibit pengaturan orang tuanya masih tumbuh.
“Asri, Geulis, kamu itu sekarang sudah dua puluh tahun,” kata Emak. “Sudah waktunya kamu berkeluarga. Teman-temanmu semuanya sudah menimang anak. Emak dan Apa juga sudah ingin bermain dengan cucu.”
“Jangan terlalu sibuk bekerja.” Apa menambahkan. “Mencari uang itu adalah tugas suamimu.”
Asri marah. Dia mengira Apa dan Emak masih ingin menjodohkannya dengan lelaki tua beristri tiga itu. Dia tidak bicara sama sekali. Nasihat berikutnya yang panjang tentang pernikahan dan berkeluarga tidak didengarkannya. Dan besoknya, Asri pamit untuk kembali ke Bandung.
“Cuti kamu kan masih seminggu lagi, kenapa pulang sekarang?” tanya Emak heran.
“Asri tidak betah di sini!”
Jawaban Asri yang ketus seperti itu yang membuat Emak terhenyak. Emak tidak mengerti. Dia merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa.
“Apa sedang di sawah, temui dulu sebelum kamu pergi,” nasihat Emak.
“Sampaikan saja sama Emak. Asri sudah ingin sampai di Bandung.”
Tentu saja Emak bersedih. Setelah Asri pergi, Emak menemui Apa di sawah. Meski Emak tidak menangis, tapi Apa tahu Emak sakit hati dengan kepergian Asri yang tiba-tiba.
“Mungkin Asri memang ada keperluan yang mendesak, Mak,” kata Apa menenangkan. “Seperti dulu kita punya kepentingan mendesak untuk menerima lamaran Pak Sutardi bandar pisang itu. Asri pasti terkejut dan tidak mengerti waktu itu. Waktu yang kemudian memberitahu Apa, apa yang kita lakukan dulu itu keterlaluan.”
“Asri masih marah dengan apa yang kita lakukan dulu? Itu kan sudah dua tahun yang lalu,” gumam Emak.
Asri sendiri berjalan menyusuri jalan kampung dengan pikiran dan perasaan tidak menentu. Dia ingin marah, tapi juga tidak jelas apa yang membuatnya marah. Di bagian perasaan dan pikirannya ada keragu-raguan. Juga ada pengakuan, apa yang dikatakan Emak tidaklah berlebihan. Di kampungnya, kampung Rancaoray, perempuan berusia dua puluh tahun rata-rata sudah mempunyai dua atau tiga orang anak.
Rancaoray adalah kampung terpencil di kaki gunung Kareumbi. Memerlukan waktu tiga jam lebih berjalan kaki untuk sampai ke pinggir jalan raya di bawah tebing Cadas Pangeran. Walaupun sekarang sudah banyak ojek, dari pagi sampai siang ada juga mobil angkutan pedesaan, tetapi orang Rancaoray yang mau ke kota seringkali berjalan kaki. Di jalan raya Cadas Pangeran itulah kendaraan umum menuju Bandung, Jakarta, Bogor, atau kota lainnya di pulau Jawa, biasa lewat.
Bagi kampung Rancaoray, Asri adalah anak perempuan yang berbeda. Lulus SD kebanyakan anak Rancaoray tidak meneruskan sekolah. Mereka lebih baik membantu orang tuanya bertani di kebun atau sawah, memelihara sapi perah atau bekerja di kandang ayam. Setahun dua tahun setelah lulus SD mulai ada anak perempuan yang menikah. Bila ada yang meneruskan sekolah, lulus SMP hampir semua anak perempuan di Rancaoray sudah mencari pasangan. Orang tua akan khawatir kalau sampai usia dua puluh tahun anaknya belum menikah. Salah satu kegagalan penyuluhan belajar sembilan tahun di Rancaoray karena ketakutan orang tua, anak-anaknya tidak segera mendapatkan jodoh.
Asri tentu saja anak perempuan yang berbeda karena ingin sekolah sampai SMK. Lulus SMP orang tuanya sebenarnya menawarinya untuk bekerja di kandang ayam. Tentu saja tujuannya agar Asri cepat mendapatkan jodoh. Tapi Asri ingin meneruskan sekolah ke SMK.
“SMK itu adanya di Kota Kecamatan. Kamu harus sewa kamar di sana, makan dan  ongkos lainnya, Apa tidak mempunyai biayanya,” kata Emak waktu itu.
“Ibu Bidan pernah menawari kepada Asri, kalau Asri ingin sekolah ke SMK, Asri bisa mondok di Panti Anak di Kota Kecamatan,” kata Asri dengan mata berbinar. “Emak dan Apa tidak mesti mengeluarkan biaya lagi. Emak dan Apa hanya harus datang ke Ibu Bidan, ceritakan keinginan Asri untuk meneruskan sekolah ke SMK. Nanti Ibu Bidan yang akan mengantar kita ke Panti Anak.”
Dengan begitu saja Asri sudah berbeda dengan anak-anak Rancaoray lainnya. Belum pernah ada anak Rancaoray yang sangat ingin sekolah ke SMK, menuntun orang tuanya yang rata-rata tidak tahu apa-apa, mencari informasi sendiri agar dirinya bisa sekolah dengan gratis.
**



Selama enam tahun merantau di Bandung, Asri sudah bekerja di rumah makan, jongko bubur, dan menjaga warnet. Selama itu juga sebenarnya dia bisa membantu keuangan keluarga seperti yang dicita-citakannya. Gajinya dia sisihkan sebagian untuk biaya sekolah adik-adiknya. Seragam sekolah, buku, sepatu, tas, Asri selalu membelikannya setiap tahun.
Emak dan Apa bukannya tidak berterima kasih kepada Asri. Mereka selalu mengatakan bahwa Asri anak yang baik, kakak yang perhatian. Tapi itu semua tidak bisa mengurangi waktu-waktu tegang mereka. Sekali waktu Apa dan Emak pernah meminta Asri pulang.
“Ada apa, Mak, sepertinya penting sekali?” tanya Asri di telepon.
“Ya sangat penting, pulang saja walau cuma sehari,” jawab Emak.
Emak dan Apa berpikir bahwa kabar kali ini akan membuat Asri senang. Lurah Hormat akan datang melamar Asri untuk anaknya yang masih membujang. Rudi adalah anak Lurah Hormat yang belum menikah, usianya tiga puluh tahun, pernah kuliah di Bandung tapi tidak selesai. Tentu saja kabar ini adalah penghormatan bagi keluarga Asri. Lurah Hormat adalah orang paling terpandang di Rancaoray. Sawahnya luas, kolam ikannya tidak terhitung, mempunyai dua pabrik penggilingan padi.
Waktu Asri pulang, di rumahnya sudah ada nenek-kakeknya, paman-bibinya, dan keluarga lainnya. Asri terkejut ketika dikasih tahu rencana lamaran Lurah Hormat nanti malam. Asri marah. Dia menangis, menyesali Emak dan Apa tidak memberitahunya sejak awal. Siang itu Asri pulang lagi ke Bandung, meninggalkan keluarganya yang bingung dan mesti menanggung malu.
“Makanya anak perempuan itu jangan disekolahkan tinggi-tinggi!” kata neneknya Asri. “Si Asri itu keterlaluan! Tidak ada di kampung kita perempuan yang akan menolak lamaran keluarga Lurah Hormat! Hanya si Asri yang pinter kabalinger! Aduh, keluarga kita itu akan malu selamanya.”
Seminggu kemudian Emak, diantar salah seorang bibi Asri, datang ke Bandung. Emak menceritakan bagaimana kecewa dan marahnya Apa, malunya kakek-nenek Asri dan keluarga lainnya. Dan akhirnya Emak bertanya, “Kamu itu sudah dua puluh lima tahun, Geulis. Kenapa menolak lamaran anak Lurah Hormat yang masih membujang itu?”
“Semuanya juga kan tahu, anak Lurah Hormat itu kerjanya hanya menghambur-hamburkan kekayaan bapaknya dan mabuk-mabukan,” kata Asri setelah menangis di pangkuan Emak. “Bicaranya saja tidak jelas karena pengaruh narkoba. Apanya yang bisa diharapkan dari suami seperti itu, Mak?”
“Tapi setelah menikah semuanya bisa berubah, asal kita mau mencobanya.”
“Maaf Mak, Asri tidak ingin membuat percobaan dengan menikah,” kata Asri sambil memegang tangan Emak. “Emak percaya saja, Asri juga sudah ingin menikah, ingin membina keluarga, tapi dengan lelaki yang tepat, lelaki yang dipercaya bisa menjadi pemimpin.”
Tapi ketegangan karena penolakan lamaran Lurah Hormat itu tidak bisa mereda. Karena seluruh penduduk Rancaoray, juga kampung-kampung tetangganya, selalu membicarakannya. Keluarga Asri hanya bisa marah dan memaki-maki Asri yang tidak ada di kampungnya untuk menutupi rasa malu mereka. Apa dan Emak yang mencoba mengerti mengapa Asri menolak, seringkali terpengaruh lagi dengan cercaan dan olok-olok orang sekampung terhadap Asri.
Dan puncaknya ketika lima bulan yang lalu Asri bermaksud membuka usaha bubur rempah. Asri pulang untuk meminta restu Emak dan Apa.
“Asri ini sudah kenyang bekerja, Apa, Emak,” kata Asri ketika malamya mereka berkumpul di tengah rumah. “Asri sekarang ingin membuka usaha bubur rempah, bubur dengan banyak bumbu. Asri ingin berusaha dan belajar menjadi pengusaha. Doakan Asri.”
Emak tidak bicara sepatahpun. Apa yang kemudian marah. Marah besar. Marah yang seperti akumulasi kekesalannya selama ini.
“Kamu itu benar-benar anak yang kabalinger! Pinter kabalinger!” Apa membentak. “Tidak ada di keluarga kita, di kampung kita, yang memperjualbelikan Nyai Sri! Karena itu pantrangan! Pamali! Kamu ingin dikutuk para leluhur?”
Sewaktu kecil Asri memang pernah mendengar ada pamali di kampungnya. Pamali menyisakan nasi di piring dan pamali memperjualbelikan Nyai Sri. Tapi Asri rasa itu hanyalah dongeng belaka. Pamali menyisakan nasi di piring masih bisa dimengerti, agar nasi itu tidak mubajir, sebagai penghormatan kepada makanan pokok. Tapi pamali memperjualbelikan padi atau makanan dari bahan padi? Asri rasa itu hanya frustrasi dari leluhurnya yang usahanya bangkrut.
Asri diam ketika Apa berbicara panjang-lebar mengenai pamali berdagang Nyai Sri itu. Tapi dua hari kemudian dia kembali ke Bandung. Dengan ditemani oleh Ujang, adik sepupunya yang sudah dua tahun lulus SMP, Asri berjualan bubur rempah. Awalnya berkeliling ke perumahan-perumahan. Ujang yang mendorong roda, Asri yang melayani pembeli. Sejak sebulan yang lalu mereka mangkal di depan rumah ukuran tipe 22 yang dikontrak per bulan.
“Bubur kita mulai dicari orang, Teh. Tadi ada pembeli yang katanya berhari-hari menunggu kita lewat,” cerita Ujang. “Katanya, mestinya kalau kita mau mangkal itu membagikan selebaran atau menempel pengumuman di tembok atau membuat spanduk.”
Asri tersenyum. Ya, setelah jatuh-bangun yang rasanya jauh lebih melelahkan dibanding bekerja, usaha bubur rempahnya mulai kelihatan ada kemajuan. Mulai ada pelanggan tetap, mulai ada yang memesan, dan mulai ada yang membawanya sebagai oleh-oleh. Tapi hati Asri semakin mundur. Perasaan Asri semakin tidak menentu. Semakin dia konsentrasi berjualan bubur semakin ingat bahwa apa yang dilakukannya tidak mendapat restu dari Emak dan Apa. Dan ketika yang punya rumah menemui Asri, menanyakan apakah kontrakannya mau diteruskan atau tidak, Asri memilih berhenti. Ujang yang kemudian kecewa.
“Kita pulang saja dulu, Jang. Selama Emak dan Apa tidak merestui, Teteh sepertinya tidak bisa lagi berjualan. Hati Teteh semakin tidak tenang,” kata Asri kepada Ujang. “Roda dan peralatan lainnya jual saja kepada yang punya rumah, katanya mereka juga mau berdagang.”
Meski berat Ujang menurut apa yang diminta Asri. Setelah semuanya selesai, pagi-pagi mereka pulang naik bis jurusan Cirebon. “Telepon Emak, Jang. Katakan, Teteh pulang sekarang,” kata Asri.
Ujang menghubungi Emak. “Assalamualaiku, ini Ujang, Wa. Ujang dan Teh Asri sekarang pulang, sekarang sudah naik bis,” kata Ujang di antara gemuruh suara bis.
Emak tidak mengatakan apapun. Setelah telepon genggamnya ditutup, Emak memandang Apa. “Asri dan Ujang pulang, sudah naik bis,” kata Emak. Apa tidak mengomentari apapun. Tangannya masih memegang erat tali dua dus besar berisi segala bumbu-bumbuan untuk bubur rempah. Apa memang tidak kebagian duduk di bis yang penuh sesak itu.
“Apa, berarti kita pulang lagi?” ***

Pamulihan, 7 September 2015

 Catatan :
Apa = bapak, panggilan kepada bapak
Geulis = cantik
Lurah Hormat = mantan kepala desa
Pinter kabalinger = pintar tapi tidak bijak
Pamali = pantrangan
Teteh (Teh) = panggilan kepada wanita yang lebih tua
Wa (uwak) = kakak dari bapak/ibu
Nyai Sri = panggilan kepada padi/beras, sebagai tanda hormat kepada makanan pokok.



PILIHAN

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni