Jejak Kata :

WARUNG TENGAH MALAM

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Sabtu, 01 Agustus 2015 | 08.15

       
   Bandung Pos, 26 Oktober 1994

       Pemuda berjaket kumal itu tertawa di antara irama dangdut yang sedang dinikmatinya. Sesekali ditenggaknya bir yang tak lepas dari genggamannya. Lalu tawanya menggema kembali setelah dia berhasil mencolek pantat perempuan yang lewat di depannya. Teman-temannya yang juga sedang berjoget, memeriahkan suasana dengan tawa khasnya masing-masing.
Aku memandang pemuda-pemuda itu sambil menikmati kopi yang disuguhkan Nori. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya dua atau tiga bulan yang lalu, yang berjoget sambil mabuk seperti pemuda-pemuda itu adalah aku. Setelah letih berjoget dan bir di botol habis, aku akan menghampiri Mirna dan menyewa kamar di belakang. Kalau tidak si Mirna, Sita, Dewi, Rini atau yang lainnya suka juga menemaniku. Setelah itu aku tidur dan puas.
Kalau kemudian aku lebih suka nangkring di warung Nori, ini karena dia punya sesuatu yang menarik hatiku. Nori membuka warung paling ujung di antara deretan warung-warung yang dibuka setiap malam dan tutup menjelang pagi di belakang pasar kota kecilku. Hampir setiap malam, warung Nori bisa dikatakan yang paling sepi.
Suatu malam aku mencoba minum kopi di warungnya. Aku menikmati kesendirian sambil memandang teman-temanku yang lagi joget. Aku ngobrol dengan Nori dan mendapatkan suatu kenikmatan yang membuatku kecanduan untuk menghabiskan malam-malamku di warungnya.
Kenikmatan itu kudapatkan ketika aku mengajaknya untuk tidur dan dia menolak. Di tempat seperti ini, dimana orang-orang tak lagi sempat memikirkan moral, susila dan kebersihan hati, karena terlalu sibuk memikirkan nasi sebagai penunjang hidup ragawi, Nori adalah sebuah lelucon. Dan aku senang lelucon itu. Meski bagi pengunjung lain, lelucon itu mungkin sama artinya dengan penolakan untuk mengunjungi warung Nori.
Sekali waktu, setelah sekian lama kami hanya ngobrol, aku memeluk pinggang Nori. Dia mendiamkanku. Sebagai wanita usia menjelang tiga puluhan, Nori masih menggairahkan dengan daging-dagingnya yang kenyal.
“Kenapa selalu menolak setiap kuajak ke belakang?”
Nori tidak menjawab. Tangannya mengusap-usap tanganku.
“Takut dosa?”
Nori tertawa. Baru kudengar suara renyah itu sejak aku jadi pelanggan tetap warungnya.
Dan sejak malam itu, Nori mau kuajak ke belakang untuk menyewa kamar. Nori memang memuaskan. Dia tidak seperti Mirna, Sita, Rini dan yang lainnya, yang main cepat-cepat dan pergi begitu saja. Nori banyak bercerita, tentang perjalanan hidupnya, dengan suara parau. Dan dari sudut matanya aku melihat sebutir air jatuh.
Sering aku tertawa mendengar perjalanan hidupnya. Tapi Nori mungkin tak tahu, ada nada kecewa dalam setiap tawaku. Bagiku, Nori lebih memberikan kenikmatan saat menolak untuk tidur. Dia mungkin tidak tahu perasaanku dan aku tak mau menceritakannya. Yang masih memberi kepuasan buatku karena Nori hanya mau diajak ke belakang olehku. Pengunjung lain yang mencoba mengulurkan tangan, selalu ditolaknya. Tapi meski begitu, aku lebih mengharapkan Nori menolak siapa saja, termasuk aku, seperti pertama aku mengenalnya.
“Sekarang tak takut dosa?” tanyaku suatu malam.
Nori tertawa. Tangannya memegang tanganku yang sedang memeluknya. Kemudian wajah anggunnya menghadapku dan berkata, “ Sekarang ke belakang?”
Aku tertawa. Tapi kemudian aku yang merasa kesepian dan kesal, mungkin juga marah, seperti pertama kali aku datang ke tempat ini. Aku tidur di pangkuan Nori dan berkata, “Malam belum begitu dingin. Berceritalah, aku ingin mendengarkan ceritamu.”
**
Warung tempat aku menghabiskan malam-malamku ini dikenal dengan sebutan Warung Buka Malam. Tapi aku lebih senang menyebutnya Warung Tengah Malam. Aku memang dating ke warung di belakang pasar dan singgah di tempat Nori setiap hampir tengah malam dan pulang menjelang pagi.
Meski aku tak pernah menyaksikan waktu-waktu lain selain waktu kunjunganku, aku tahu keadaan Warung Tengah Malam ini. Siang hari, bila kita ke belakang pasar, warung-warung ini tak akan pernah ada. Di sana hanya akan kita dapatkan tukang sayuran, pindang, buah-buahan dan semacamnya menggelar dagangannya. Baru menjelang malam, warung-warung ini akan dibangun. Tiangnya adalah bambu-bambu kecil dan atapnya lembaran plastik. Dengan mengambil aliran listrik dari gardu keamanan pasar, warung-warung ini sedikit meriah dengan lagu-lagu dangdut dan bohlam sepuluh watt.
Berbagai macam makanan ada. Mulai dari sate, gule, soto, sampai mie rebus, roti bakar dan minuman macam bir, ada di situ. Dan sebagai daya tarik tambahan, atau mungkin juga daya tarik utama, di sana ada perempuan-perempuan yang siap diajak bercanda dan seterusnya.
Sarana seperti itu memang memberi sedikit kesenangan bagi pengunjung yang rata-rata lelaki sibuk dalam mencari penunjang hidup. Asal sedikit punya uang, siapa saja boleh bersenang-senang di sana. Maka sopir bis, kondektur, pegawai negeri golongan bawah yang frustrasi karena gajinya tak memenuhi kebutuhan hidup, pedagang-pedagang kecil yang pulangnya tiga bulan sekali ke kampung, atau pengangguran-pengangguran yang frustrasi dan kebetulan sedang punya uang, hampir setiap malam ada di sana.
Menjelang pukul sembilan malam, pengunjung mulai meramai. Perempuan yang biasa mangkal di sana, mulai hilir mudik ke belakang (Di sana ada rumah yang menyewakan kamar-kamar kecil per jam), atau pergi ke suatu tempat kalau ada perjanjian khusus dengan penyewanya. Satu dua pengunjung laki-laki, datang dan pergi bergantian. Mereka makan-makan sambil tertawa. Sebagian menenggak bir dan joget di depat warung. Yang lain menyoraki dan memberi komentar-komentar. Lalu mereka tertawa bersama-sama. Atau, kalau keadaan lagi jelek, ada juga yang berkelahi.
Aku hapal betul keadan Warung Tengah Malam seperti ini. Aku memang salah seorang penikmatnya. Hampir seluruh tempat seperti ini, di kotaku, pernah aku kunjungi. Sampai aku kecanduan untuk datang ke Warung Tengah Malam yang di belakang pasar ini, karena di sini ada Nori.
Aku tak pernah menyesal untuk menghabiskan uang di warung Nori. Sampai uang hasil menarik becak siang tadi, atau uang pemberian istriku, habis di sini, aku tak kapok. Nori bagiku bagaikan air yang kutemukan di saat aku kehausan. Dia memberikan kesejukan dalam hatiku atau mungkin dalam kefrustrasianku. Aku, yang pernah menamatkan SMA dan sempat masuk kuliah, akhirnya hanya jadi tukang becak. Dan istriku, yang dulu aku cintai setengah mati, aku biarkan utnuk mencari nafkah, karena aku tak berdaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Maka Nori adalah pelarianku. Dia begitu mempesona saat menolak ajakan untuk ke belakang menyewa kamar. Meski kemudian aku kecewa karena Nori mau kuajak ke belakang, pesonanya di mataku tak luntur semua. Aku yakin, Nori sendiri tak pernah menginginkan hal itu terjadi.
Suatu malam, selesai tidur, Nori mengusap-usap rambutku, lalu katanya, “Manusia, tak pernah puas akan keadaannya. Mereka selalu terpesona oleh sesuatu yang gemebyar dan mengejarnya.”
Aku membenarkan dalam hati. Tapi kemudian aku berpikir, apakah dia menyindir atau sedang membicarakan dirinya. Aku tidak tahu. Mungkin kedua-duanya benar.
Lalu Nori bercerita tentang kisah hidupnya, seperti malam-malam yang lain. Dia datang dari desa, bersama suaminya, untuk hidup di kota. Setelah melalui perjalanan yang mereka rasakan begitu pahit, mereka terdampar di Warung Tengah Malam belakang pasar. Suaminya menarik becak dan menjaga keamanan di sana. Mereka hidup lumayan dan tak mau lagi hidup susah.
Aku belum pernah melihat suami Nori selama ini. Sampai suatu malam, saat ada perkelahian, Nori memberi tahu. “Itulah suamiku,” katanya sambil menunjuk orang yang mengamankan pemuda-pemuda yang berkelahi. Aku ingat, lelaki itu yang pernah mengantar aku pulang dengan becaknya. Hanya sekali itu aku mau diantarnya. Dia terlalu mencurigakan. Setiap malam, saat aku lewat di tempat pangkalan becak, laki-laki itu selalu memandangku.
Malam itu, waktu laki-laki itu mengantarku pulang, dia berkata: “Tak pernah ada orang yang senang saat apa yang dipunyai dan dicintainya dipermainkan orang lain. Semuanya akan marah, meski kata yang lain barang itu begitu murahan dan tak berharga. Cinta adalah sesuatu yang tidak pernah diperjualbelikan.”
Hampir saja aku turun dan mengajaknya berkelahi waktu itu. Tapi aku terlalu capek dan mungkin apa yang dikatakannya  hanyalah sebuah kebetulan, tidak menyindirku. Waktu itu Nori belum mau kuajak ke belakang untuk menyewa kamar. Aku hanya sering memegang tangannya dan mengusap-usap rambutnya.
**
Malam ini kembali aku menghabiskan sebotol bir. Kopi yang diseduh Nori tidak lagi memberi kepuasan. Pesona Nori berkurang lagi dari hatiku. Tadi, saat aku memeluk pinggangnya, perlahan Nori melepaskannya.
“Mau ke belakang sekarang?” tanyanya.
“Aku ingin mendengarkan dulu ceritamu.”
Tapi Nori menggeleng. Dan katanya, “Duduklah dulu di depan, aku ada tugas malam ini.”
“Tugas apa?” tanyaku. Belum sempat pertanyaanku terjawab, Nori berdiri dan menghampiri si Gendut, sopir bis yang rutin setiap bisnya bermalam di kotaku mengunjungi Warung Tengah Malam belakang pasar ini. Mereka bergandengan menuju ke belakang.
Lewat tengah malam aku mengambil lagi sebotol bir. Nori yang tadi telah menemani si Gendut, menghampiri dan membenamkan kepalaku ke pelukannya. Lalu katanya, “Mau ke belakang?”
Aku tidak menjawab.
“Atau ke rumahku saja. Suamiku tadi pergi dengan si Mirna. Sejak dia mengijinkan aku menemanimu ngamar, dia sering pergi dengan si Mirna. Mungkin di rumah si Mirna dia mabuk.”
Sejak malam itu, saat Nori menerima ajakan si Gendut, warung Nori mulai ramai, seramai warung-warung lainnya. Sesekali, aku pun melihat suami Nori mabuk dan ngamar. Dia tak lagi jadi penjaga keamanan di Warung Tengah Malam ini. Aku mengerti perasaannya. Sekali aku berkelahi dan mabuk bersamanya.
Meski Nori sibuk melayani pengunjung lain, ia selalu menyempatkan diri menghampiriku dan membenamkan kepalaku di pelukannya. Lalu ia akan mengusap-usap kepalaku dan berkata, “Mau ke belakang?”
Aku menggeleng. “Malam sudah larut, sebentar lagi subuh, aku harus pulang,” kataku. Aku pun pergi, menuju Warung Tengah Malam lain, kira-kira dua kilo meter jauhnya dari sini. Di sana, istriku pasti sudah menunggu. Atau mungkin aku hanya mendapatkan surat seperti biasa yang menyatakan bahwa istriku sedang pergi dengan penyewanya dan warung dititipkan pada tetangga dan harus dibongkar.


CARA MENGIRIM CERPEN KE TABLOID NOVA

Written By Mang Yus on Selasa, 28 Juli 2015 | 08.59




Tabloid Nova adalah media yang diperuntukkan bagi wanita. Rubrik-rubriknya tentu saja berkenaan dengan kewanitaan dan keluarga. Keterampilan memasak, berita keluarga, kisah hidup sukses seseorang dan sedikit gosip. Di tabloid yang merupakan bagian dari grup Gramedia ini ada rubrik cerpen. Dulu ada juga halaman Cerita Bersambung, tapi sekarang sudah tidak terlihat lagi.
Tentu saja cerpen yang banyak dimuat Nova bertema kewanitaan. Cerpen seperti apa yang biasanya banyak dimuat? Sebaiknya seorang penulis (cerpenis), sepemula sekalipun, sebaiknya mengamati sendiri cerpen-cerpen yang sering dimuat media yang ingin ditembusnya. Cara kerja seperti ini tidak begitu sulit saat ini. Minta bantuan Google atau mesin pencari lainnya, cari sebanyak-banyaknya cerpen yang pernah dimuat tabloid Nova, baca dan pelajari.
Tapi pengalaman saya seperti ini:
Tahun 1990-an banyak cerpen saya yang dimuat Nova. Pernah juga malah memuatkan Cerita Bersambung yang bisa dibaca DI SINI. Sejak tahun 2003 saya tidak lagi mengirim cerpen ke Nova. Baru setahun kemarin (2014) saya mencoba mengirim cerpen lagi ke Nova, dengan nama yang berbeda dari dulu.
Harus diakui, mengarang cerpen dan mempublikasikannya di media adalah persoalan mengibarkan brand. Jika kita adalah seorang pengarang yang sudah ternama, jangan khawatir menulis cerpen yang (kualitas) biasa. Redaktur tetap saja akan mempertimbangkan nama. Cerpen biasa itu akan dipikir-pikir (dirasa-rasakan) kandungan “nilainya”. Jika kita pengarang pemula, tentu perjuangannya harus lebih keras. Belajar lagi, membaca lagi, menulis lagi, dan mengirimkannya lagi. Nah, cerpen-cerpen saya dengan nama baru itu tentu saja ikut bersaing sengit sebagai pemula lagi. Alhamdulillah, dari sekian yang dikirim ada dua cerpen yang kemudian dimuat Nova. Ini catatannya:
Cerpen Gehu Pedas dikirim tanggal 20 Oktober 2014 dan dimuat tanggal 3-6 November 2014. Cerpen Arum dikirim tanggal 11-2-2015 dan dimuat tanggal 2-8 Maret 2015. Sepertinya Nova tidak lama masa tunggunya. Dua cerpen itu dimuat dalam waktu kurang dari sebulan. Tapi sebaiknya di catatan pengiriman ditegaskan: kita tunggu pemuatan atau konfirmasi selama 2-4 bulan misalnya.
Mengenai tema, sepengalaman saya, Nova suka dengan karakter wanita yang tegar, berjuang menghadapi kerasnya hidup, perhatian sosial, bijak menyikapi lingkungan. Tentu saja bertebaran juga karakter lainnya. Tema yang agak berat, cara bertutur yang (mungkin) agak aneh untuk media populer, kadang dimuat juga. Tapi ya itu tadi, begitu dilihat pengarangnya, oh dia kan sudah terkenal.
Oh ya, email Nova yang saya tuju adalah nova@gramedia-majalah.com. Panjang cerpen tidak ada pemberitahuan di Nova. Tapi cerpen saya, Gehu Pedas 9.327 karakter dengan spasi, Arum 9.547 karakter dengan spasi. Mengenai honor, aduh saya lupa pasnya: sekitar 1-2 minggu setelah dimuat ditransfernya, jumlahnya Rp 400.000,- kurang sedikit (mungkin dipotong pajak). 
Apa lagi, ya? Oh ya, kalau ingin membaca cerpen Gehu Pedas bisa dilihat DI SINI, dan cerpen Arum bisa dilihat DI SINI. Selamat mencoba mengirim cerpen ke Nova dan semoga berhasil.

Cerpen lainnya yang pernah dimuat NOVA:

1. HADIAH TERINDAH  

2. LELAKI YANG GELISAH

3. SENYUM YANG INDAH 

4. SURAT CINTA 

5. NGIDAM 





ARUM



Tabloid Nova, 2-8 Maret 2015


Derum bis Damri mengeras ketika Arum melambaikan tangan. Bis yang baru keluar setengah badan dari pangkalan itu berhenti. Pintunya terbuka dan kepala kondekturnya nongol. “Ayo, lari...!” teriak kondektur.
Arum berlari sambil menjinjing dua plastik besar. Ujang mengikutinya dari belakang, juga di tangannya ada dua plastik besar. Plastik besar itu diterima kondektur ketika Arum sampai ke ambang pintu bis.
“Awas Pak, barang pecah-belah,” kata Arum.
Kondektur itu lebih hati-hati mengangkat plastik besar. Begitu dilihatnya isi plastik itu bungkusan keripik singkong, kondektur tersenyum.
Arum dan Ujang duduk di bangku bis yang kosong. Nafasnya masih cepat. Bis menderum meninggalkan pangkalannya.
**
Arum tersenyum melihat ke luar jendela. Pepohonan dan bangunan-bangunan seperti yang berjalan cepat. Orang-orang yang akan berangkat kerja berjajar sepanjang jalan. Bis Damri beberapa kali berhenti, menaikkan dan menurunkan penumpang. Pukul tujuh pagi jalanan seperti ular yang baru menggeliat.
Ini adalah hari pertama Arum berjualan keripik singkong. Langkah pertama dari ribuan, atau mungkin jutaan, langkah yang diimpikannya. Langkah yang menentukan. Tapi Arum tidak gugup. Karena langkah ini sudah bertahun-tahun mengisi kepalanya.
Meski begitu, persoalan yang sudah bertahun-tahun menghantuinya, masih membekas di ingatannya. Emak dan Abah selalu mengingatkan, setengah memarahi, perkara jodoh.
“Kamu itu sudah dua puluh enam tahun, Arum!” kata Emak. “Sudah termasuk perawan tua. Emak tidak mengerti, kenapa kamu selalu menolak laki-laki! Sudah dua orang yang datang ke sini dan kamu tolak. Malu sebenarnya Emak bila ada yang menanyakan, kapan kamu akan ke bale nyungcung!”
Untuk persoalan itu, Arum sudah kebal. Sudah enam tahun, sejak usianya menginjak dua puluh tahun, persoalan jodoh itu mulai menekannya. Setiap ada kerabat atau teman sekampungnya yang menikah, siapapun yang mengenalnya selalu menanyakan itu. Di kampung Cisampeu memang gadis lima belas tahun sudah berdandan mencari pasangan. Usia delapan belas tahun bila masih belum ada yang melamar, orang tuanya sibuk menjodohkan. Dan usia dua puluh tahun sudah semestinya menimang anak.
Arum sendiri sebenarnya tidak terlalu memilih untuk calon suaminya. Dia bergaul seperti gadis pada umumnya. Malah termasuk yang wanteran, berani bicara di depan umum. Tapi keberaniannya bicara di depan umum itu malah menjadi bumerang. Ketika itu Kang Karma datang kepada pamannya, bermaksud melamarnya. Tapi Arum menolaknya. Uwaknya, kakak Emak, yang kemudian memarahinya.
“Si Arum itu gadis yang kabalinger! Jadi gadis itu tidak usah terlalu pintar. Cukup bisa memasak, ngajeujeuhkeun rejeki suami!” kata uwaknya. “Karena bisa ngomong, dia dengan gampang menolak lamaran lelaki!”
Pertimbangan Arum menolak Kang Karma waktu itu adalah karena bandar tembakau itu sudah mempunyai dua orang istri. Arum tidak mau dijadikan istri ketiga. Lelaki kedua yang datang kepada Emak dan Abah adalah Sutardi. Sutardi sebenarnya anak orang kaya. Tapi bujangan tua itu sudah dikenal masyarakat sebagai pemabuk. Hampir setiap malam dia mabuk.
“Mestinya kamu mencoba dulu, jangan asal tolak begitu. Siapa tahu setelah menikah denganmu dia berhenti mabuk-mabukan,” kata Emak.
Tapi Arum tetap menggeleng. Dia ingat ketika bicara berdua, anak mantan kepala desa itu tidak jelas ngomongnya. Diajak bicara ke selatan, dia menjawab ke timur. Ngomongnya seperti orang cadel karena pengaruh minuman dan narkoba bertahun-tahun. Apa yang bisa diharapkan dari lelaki seperti itu?
**
Persoalan lainnya yang beberapa bulan terakhir menekan Arum adalah keinginannya untuk berjualan keripik singkong. Emak, Abah, dan saudara-saudara lainnya tidak ada yang mendukung.
“Arum, kamu itu betul-betul kabalinger! Dari dulu, dari nenek moyang kita, tidak ada orang Cisampeu yang berjualan. Kita itu keturunan petani dan pekerja!” kata Emak. “Uwak dan paman kamu sudah bilang ke Emak, ini pasti gara-gara kamu suka main ke rumah Guru Ujo! Sekarang yang paling penting bagi kamu adalah mencari suami! Jangan malah meminta yang bukan-bukan!”
Tentu saja Arum terkejut. Dia tidak menyangka Emak bicara seperti itu. Awalnya dia meminta uang sekitar dua juta rupiah untuk modal usahanya. Tapi jawabannya seperti itu. Malah membawa-bawa Guru Ujo.
Guru Ujo adalah guru di SDN Ciboled, satu-satunya SD di perkampungan kaki gunung Ciceuri itu, letaknya sekitar dua kilo meter dari Cisampeu. Di rumahnya Guru Ujo mempunyai banyak buku dan majalah. Banyak anak-anak yang diajaknya untuk membaca buku-buku itu. Arum adalah satu-satunya orang dewasa yang suka meminjam bukunya. Hampir setiap hari Arum ke taman bacaan itu. Guru Ujo dan Ceu Uun, istrinya, adalah dua orang yang bisa mengerti jalan pikirannya.
“Saya ingin membuka usaha sendiri, Ceu,” kata Arum suatu hari. “Saya sudah sejak beberapa bulan lalu membaca-baca buku motivasi itu.”
“Tapi orang tuamu ingin kamu bekerja,” kata  Ceu Uun.
“Tidak hanya Emak dan Abah, Ceu. Semua saudara yang saya pinjami uang untuk modal, malah menyarankan untuk bekerja lagi. Uwak, paman, bibi, malah bilang saya memalukan keluarga. Semua orang Cisampeu ini yang tahu saya ingin berdagang keripik singkong, tersenyum sinis.”
“Memang mitos menyesatkan itu sudah mendarah-daging di penduduk kampung kita. Siapa yang berdagang akan rugi, siapa yang membuka usaha akan bangkrut.”
“Saya ingin melawan mitos itu, Ceu.”
**
Sejak lulus SMP, sepuluh tahun yang lalu, Arum bekerja di kota Bandung. Di pabrik bakso dua tahun, di kios bakso tiga tahun, di warung nasi empat tahun, dan menjaga warnet setahun. Arum merasa sudah cukup episode bekerjanya. Uang hasil bekerjanya ternyata tidak bisa ditabung. Sepupu-sepupunya, seorang adiknya, saudara-saudara lainnya, yang waktu itu masih sekolah di SD dan SMP, pernah merasakan uang gajinya.
“Saya sangat mendukung keinginan Kang Guru, agar anak-anak di Cisampeu tidak hanya sekolah sampai SMP,” kata Arum. “Caranya harus ada yang memotivasi seperti taman bacaan ini. Sementara saya harus menjadi kaya, agar bisa membantu membiayainya.”
Guru Ujo dan Ceu Uun mengangguk. “Pasti kesampaian, Rum. Setiap kita punya keinginan, sekali waktu jalan  menuju ke sana akan terbentang,” kata Guru Ujo.
Satu-satunya keluarga yang mendukung Arum adalah Ujang, adik sepupunya. Ujang baru dua tahun lulus SMP. Dia bekerja di Bandung, di sebuah warung kelontongan. Bekerja serabutan, mulai dari mengantar galon air mineral sampai mengantongi minyak, terigu, gula, dan lainnya. Ketika Ujang pulang, Arum menceritakan keinginannya.
“Singkong di kita itu kan murah, Teh,” kata Ujang kepada Arum. “Tinggal membeli minyak, bumbu, modalnya tentu tidak seberapa.”
“Modal besar bukan untuk itu, Jang. Tapi untuk membeli plastik, cetakan, dan alat perekat plastik. Kemasan harus menarik,” jawab Arum menerangkan. “Teteh sudah mempelajari. Keripik singkong dari pabrik yang ada di daerah kita, harganya bisa lima kali lebih murah dibanding keripik singkong yang bermerk. Teteh ingin kita menjaga kualitas, dan mengemasnya dengan menarik. Harga tentu kita masih bisa nego.”
Ujang menurut saja apa yang direncanakan Arum. Uang tabungannya selama dua tahun bekerja direlakan untuk modal keripik singkong merk Dusauda (Dua Saudara) ini. Orang tua Ujang, paman Arum, sebenarnya melarang anaknya membantu Arum. Tapi Ujang lebih memilih mendukung Arum. Sejak kelas tiga SD, Ujang memang anggota taman bacaan di rumah Guru Ujo. Tentu saja Ujang lebih mengerti jalan pikiran Arum dibanding mitos yang dipercaya orang tua, saudara-saudara, dan orang kampung Cisampeu lainnya.
**
Tengah hari matahari menyengat tanpa ampun. Arum dan Ujang menyusuri jalanan berdebu sebuah kompleks perumahan. Keringat membasahi wajah dan baju mereka. Ujang menjinjing sebuah plastik besar. Sebuah sedan melaju kencang, meninggalkan debu beterbangan. Arum dan Ujang terbatuk-batuk, lalu berjalan cepat menghindari debu yang mengepung.
“Kita nyari tempat istirahat dulu, Teh. Kita makan dulu,” kata Ujang.
“Ya, kita nyari tempat istirahat. Tapi kita jangan dulu pulang, Jang. Sisa yang seplastik ini harus habis.”
Ujang mengangguk.
Di bawah pohon nangka di taman sebuah perumahan Arum dan Ujang istirahat. Mereka membuka nasi timbel dan bacem tempe bekalnya. Ujang minum air teh hampir setengah botol sekali teguk.
“Kamu tahu, Jang, apa artinya setiap warung yang kita datangi tidak mau membeli keripik singkong?” tanya Arum. “Mereka hanya mau dititipi, uangnya nanti waktu kita mengirim ulang.”
Ujang menggeleng.
“Artinya, jalan kita bakal terjal, mungkin lebih terik dari siang ini, mungkin lebih berdebu dari jalanan ini. Kita harus sanggup melewatinya. Pasti ada warung yang tidak mau bayar penuh, warung yang tidak memajang keripik singkong kita.”
Ujang mengangguk.
“Tapi Teteh sudah membayangkan, suatu hari nanti kita berkeliling mengantar keripik singkong memakai mobil seperti itu,” kata Arum sambil menunjuk sebuah mobil box. Ujang tersenyum. “Nanti di rumah Guru Ujo, kamu harus belajar promosi merk kita di internet.”
“Teteh bisa internet?”
“Kan pernah jaga warnet setahun lebih, Jang.”
**
Menjelang maghrib Arum dan Ujang menyusuri jalan berbatu ke kampungnya. Mereka berjalan lunglai. Wajah dan baju mereka kotor. Orang-orang yang melihatnya ada yang merasa kasihan. Ada juga yang tersenyum sinis. Tapi Arum dan Ujang tersenyum senang. Karena mereka baru saja pulang mengunjungi mimpi-mimpi mereka di masa depan. ***
Pamulihan, 11 Februari 2015
     
Catatan:
Bale nyungcung = menikah
Kabalinger = pintar tapi tidak bijak
Ngajeujeuhkeun = membelanjakan dengan cermat dan cerdas
Teh (teteh) = panggilan kepada kakak perempuan



GEHU PEDAS




Tabloid Nova, 3 November 2014

“Gehuuu pedaass...!” Suara anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun itu begitu melengking.
“Sebentar Kak, mau gehu pedas ya?” tanya Atun. Aku tersenyum. Atun ke depan rumah memanggil pedagang gehu pedas. Sudah satu minggu aku membimbingnya membuat skripsi. Daftar buku sudah dibeli. Metode penulisan sudah aku terangkan. Tapi seperti tidak berkembang karena Atun malas membaca. Jangankan seluruh buku yang ada di daftar, satu judul pun belum selesai.
Aku mengikuti Atun ke depan rumah. Selalu ada naluri di dalam hatiku untuk mengetahui segala sesuatu tentang gehu pedas. Gehu pedasnya lumayan besar. Terigunya tipis, tapi cukup memberi dugaan permukaannya kering dan renyah.
Atun membeli sepuluh biji gehu pedas. Ketika dia ke dalam rumah membawa uang, aku membeli lagi sepuluh biji.
“Sepuluh lagi?” tanya anak pedagang gehu pedas itu seolah tidak percaya.
“Dibungkus saja. Ini uangnya, kembaliannya bawa saja.” Aku memberikan uang selembar seratus ribu rupiah. Anak pedagang gehu pedas itu memandangku lama. Tangannya gemetar. Lalu tersenyum. Dari sudut matanya seperti ada yang mau mengalir tapi cepat diusapnya.
“Kakak baru dapat bayaran mengajar kursus,” kataku sambil tersenyum. “Semoga gehu pedasnya laku keras. Salam buat keluargamu, ya.”
Anak pedagang gehu pedas itu mengangguk. “Terima kasih, Kak,” katanya hampir tidak terdengar. Ketika Atun keluar dia juga terkejut begitu tahu aku membeli lagi sepuluh biji gehu pedas.
“Punya Kakak sudah dibayar. Tinggal punya Atun,” kataku cepat. “Kakak ingin membawa ke rumah. Sepertinya gehu pedasnya sangat enak.”
“Kalau begitu kenapa dibayar duluan,” kata Atun protes. Tapi kemudian tersenyum. Kami masuk lagi ke dalam rumah.
Kami makan gehu pedas dulu sambil ngobrol tentang apa saja. Atun menawariku nasi karena menyangka aku lapar. Membahas skripsi terganggu lagi karena kemudian Atun menerima telepon dari ibunya. Ibunya sudah menunggu di restoran masakan Jepang. Ibunya menyuruh membahas skripsinya di restoran saja sambil makan. Tapi aku memilih pulang.
**
Gehu paling enak di seluruh dunia, sepengetahuanku, adalah gehu pedas buatan Ibu. Aku selalu terkenang bagaimana Ibu mengiris kol, wortel dan cabe. Sampai sekarang, usiaku dua puluh enam tahun, sudah lulus kuliah, jadi asisten dosen di almamaterku, kecepatanku mengiris wortel masih kalah dibanding Ibu.
Saat usiaku sepuluh tahun hampir setiap hari aku makan gehu pedas. Aku tentu saja bosan. Tapi saat aku cemberut dan mengeluh mengekspresikan kebosanan, Ibu memeluk dan mencium rambutku.
“Nasi putih dan gehu pedas itu makanan terenak yang kita punya,” kata Ibu. “Kamu punya adik tiga orang. Kalau Rina bilang gehu pedas itu enak, adik-adikmu akan merasa enak. Tapi bila Rina bilang tidak enak dan membosankan, kasihan adik-adikmu.”
Saat itu aku mulai mengetahui perekonomian keluargaku tidak baik. Ayahku adalah pedagang tahu keliling. Pukul tiga subuh beliau sudah bangun. Membaca buku, membereskan keperluan berdagangnya, dan selepas subuh beliau berangkat. Kata Ibu, Ayah mengambil tahu di pabrik, lalu ke pasar, sudah agak siang ke rumah-rumah menawarkan tahu.
Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Ayah. Tiga tahun yang lalu, saat aku kelas satu SD, makanan selalu ada. Di meja makan pasakan Ibu selalu bermacam-macam. Sop, ayam bumbu kecap, ikan goreng, gehu pedas, kerupuk. Di kulkas pun selalu ada sosis, naget, bakso, yang siap disajikan bila aku bosan pasakan Ibu.
Tapi kemudian berubah sedikit-sedikit. Ibu semakin jarang memasak ayam bumbu kecap. Sop bikinan Ibu semakin tawar. Dan akhirnya hampir setiap hari hanya gehu pedas. Di depan adik-adik, aku selalu mengatahan bahwa gehu pedas itu enak sekali. Dan Ibu menambahkan: “Kita itu harus bersyukur. Kita masih bisa makan nasi putih yang pulen dan gehu pedas yang enak. Karena banyak saudara kita makannya hanya nasi bau apek dan tahunya tidak digoreng.”
Adik-adikku, Rita, Tania dan Santi, makan nasi putih dan gehu lahap sekali.
Ibu mungkin tahu aku tidak mengerti dengan perubahan yang terjadi. Aku hanya tahu Ayah berhenti bekerja. Makanya Ibu sering bercerita, “Ayahmu itu orang hebat. Ayah orang pintar. Lihat saja, koleksi buku Ayah hampir memenuhi rumah,”
Tentu saja aku mempercayai cerita Ibu. Dulu, ketika masih bekerja, Ayah sering mengajakku ke toko buku. Aku bebas memilih buku yang aku inginkan. Tapi sering juga Ayah memilihkan buku-buku buat aku baca. Kalau malam Ayah selalu mengajak membaca buku bergiliran. Adik-adikku, semuanya sebelum masuk sekolah sudah bisa membaca.
“Tapi kenapa Ayah berhenti bekerja?” tanyaku saat Ibu mengajakku membuat gehu pedas. Ibu berhenti mengiris wortelnya.
“Ayahmu itu orang hebat,” kata Ibu sambil memandangku. “Kalau orang hebat itu berani menolak apa yang dianggapnya tidak baik. Misalnya, Ayah disuruh mencuri. Siapapun yang menyuruhnya, Ayah pasti tidak mau.”
“Jadi ada yang menyuruh mencuri di kantor Ayah?”
“Ya, pencuri itu ada di mana-mana. Kebetulan di kantor Ayah pun ada. Tapi Ayah tidak mau ikut mencuri. Ayah lebih memilih menjadi pedagang tahu. Lagipula, berdagang tahu itu hebat, bisa berkeliling setiap hari.”
Aku tidak mengerti betul. Bukankah ayah bekerja di kantor Pemda, kantor tempat Om Dedi, Om Sutardi, Tante Irma, dan Kakek Andi juga bekerja. Tapi Ibu tidak menceritakan lebih jauh. Aku hanya merasakan keputusan ayah itu membawa perubahan yang sangat besar. Ayah dan Ibu semakin jarang mengajak main ke rumah Kakek Andi dan Nenek Anit. Kakek-nenek, Om Dedi, Om Sutardi, Tante Irma, juga tidak pernah lagi  main ke rumah. Padahal biasanya bila mereka datang, pasti membawa oleh-oleh.
**
Aku semakin akrab dengan gehu pedas ketika Ayah mengalami kecelakaan. Motornya terseret mobil lamborghini yang ngebut subuh itu. Mobil itu kemudian menabrak pilar jalan dan halte bis. Motor Ayah hancur. Aku, Ibu dan ketiga adikku, menangis hebat saat Ayah dimakamkan.
Pengemudi lamborghini itu adalah anak seorang pejabat dari Jakarta. Keluarga mereka datang ke rumah, meminta maaf dan berjanji mau memberi santunan kepada kami. Kata teman-temanku, keluarga kami ada di televisi waktu itu. Aku tidak tahu kelanjutannya, karena sehari setelah kedatangan keluarga penabrak itu Ibu mengajak kami pindah.
Kami menempati rumah kecil berkamar satu. “Sekarang, hidup kita tergantung kerja keras kita,” kata Ibu di depan aku dan adik-adikku. “Ayah mewarisi moral yang hebat, dan buku-buku yang banyak. Kita harus berterima kasih dengan memanfaatkannya.”
Maka setiap malam Ibu dan aku bergiliran membacakan buku kepada adik-adik. Subuhnya Ibu bangun, mengiris kol, wortel dan cabe. Sambil berangkat sekolah aku menitipkan gehu pedas ke warung-warung yang terlewati. Siangnya, saat aku pulang sekolah, Ibu pasti sedang mengiris kol, wortel dan cabe. Aku sering membantunya. Sorenya aku dan adik-adik berkeliling perumahan berdagang gehu pedas. Ke tempat belajar ngaji pun aku membawa gehu pedas. Waktu itu Dik Tania, adik bungsuku, baru empat tahun.
“Kalau Rina ingin sekolah terus, sampai tinggi, jadilah murid terpintar. Belajar yang sering, baca buku yang banyak, dan raihlah beasiswa,” kata Ibu. Itulah kalimat-kalimat Ibu yang memecutku untuk belajar keras. Sambil berdagang gehu aku dan ketiga adikku menghapal surat-surat Qur,an, saling tebak-tebakan soal matematika atau pengetahuan umum.
Saat diwisuda aku menangis di pelukan Ibu. Adik-adikku pun ikut memeluk dan menangis. Dik Rita dan Tania sudah kuliah, Dik Santi kelas XII SMU, waktu itu. Kami sudah biasa bangun pukul tiga subuh, membaca buku, membantu Ibu mengiris wortel dan cabe, dan berangkat sekolah atau kuliah sambil membawa gehu pedas. Aku dan adik-adikku selalu mendapat beasiswa untuk menjaga kelangsungan sekolah kami.
**
Begitulah ceritanya, mengapa aku selalu terharu bila melihat anak kecil berdagang gehu pedas. Ada sesuatu yang meletup-letup di dalam dada ini, semangat yang sangat hebat. Tapi juga ada sesuatu yang membuatku tidak bisa bicara, karena bila bicara airmataku pasti mengalir.
Saat ini aku sudah memulai karir baru. Aku menjadi asisten dosen di almamater, mengajar di kursus-kursus, dan menulis artikel di koran-koran. Penghasilan yang lebih dari cukup. Adik-adikku lebih cepat mandiri dengan berbagai bisnis internetnya. Meski kami tidak lagi meminta biaya sekolah ke Ibu, Ibu masih tetap berjualan gehu pedas. Ibu memberdayakan para tetangga untuk ikut berbisnis. Penghasilannya Ibu tabung. Ibu ingin berhaji dan membangun Rumah Yatim.
**
Tiga bulan berjalan membimbing Atun menyelesaikan skripsinya, aku mulai berpikir untuk mundur. Bukan karena bayarannya. Orang tua Atun sangat royal. Mengajak makan-makan, memberi hadiah, rasanya kalau dihitung lebih dari jumlah bayaran wajib. Tapi karena Atunnya sendiri yang tidak mau bekerja keras. Membaca satu buku pun begitu malasnya.
Suatu hari saat aku ke rumah Atun, orang tuanya yang menyambutku. Atun sedang weekand katanya ke Australia.
“Begini Dik,” kata ayah Atun. “Bapak tahu adik belum bekerja yang mapan, Di kampus kan Adik belum diangkat. Di Departemen Bapak sedang ada penerimaan karyawan. Coba masukin lamaran, biar Bapak yang urus semuanya. Tapi jangan tanggung membantu Atun. Buatkanlah skripsinya. Atun agak susah kalau mesti membuat skripsi sendiri.”
Aku tiba-tiba teringat kepada Ayah. Aku mulai mengerti mengapa Ayah dulu keluar bekerja. Aku sangat mencintai dan merindukan Ayah. ***

Pamulihan, 19 Oktober 2014  

 


PILIHAN

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni