Jejak Kata :

DONGENG BUNGA MAWAR

Written By Mang Yus on Sabtu, 25 Juli 2015 | 05.31


Tribun Jabar, 12 Oktober 2014
Ingin membaca cerpen ini dalam bahasa Sunda? 

Setiap subuh, ketika hari masih gelap, saya selalu menantimu, Ujang. Saya selalu terkesan melihatmu turun dari rumah panggung dengan mata setengah terpejam. Senyummu merekah seperti mawar di depan rumah. Dan engkau berlari menghampiri bunga mawar yang mekar itu. Hidung dan bibirmu bergerak-gerak, seperti kelinci, matamu terpejam, ketika mendekatkan wajah ke kelopak mawar yang terbuka.
“Hmmm... ha...uummm,” katamu.
Abah yang melihatmu tersenyum.
“Bunga mawar tidak harum. Kalau mau yang harum, sedap malam dan melati. Tuh yang di pojok sana,” kata Abah.
Kamu cemberut. “Haauumm... war haum...,” katamu protes.
Abah tersenyum. “Boleh..., kalau kamu maunya mawar boleh saja, mawar juga ada harumnya,” kata Abah. Kamu tersenyum. Lalu mengikuti Abah menyusuri jalan setapak menuju pancuran. Air bening menyegarkan wajahmu sebelum masuk ke tajug.
Subuh yang membahagiakan.
**
Setiap hari saya selalu mengucapkan alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Berkali-kali, berulang-ulang. Karena bahagia melihatmu begitu beruntung, Ujang. Nasibmu begitu baik. Nasib baikmu adalah Abah. Tidak ada yang bisa sangat mengerti kamu kecuali Abah. Abah yang bisa memekarkan mawar di senyummu. Abah yang bisa menyalakan api semangat di dadamu. Abah yang bisa mengharumkan cinta di hatimu. Sehingga kamu begitu bening seperti air pancuran dari mata air itu. Sehingga kamu begitu indah seperti mawar yang selalu mekar di halaman itu. Sehingga kamu begitu rindang seperti pepohonan di hutan itu.
Kamu sudah semestinya mengucapkan terima kasih, Ujang. Ah, tapi kamu punya cara tersendiri untuk itu. Seperti ketika suatu hari kamu memetik setangkai mawar yang baru mekar dan menyimpannya di vas bunga yang kamu buat dari bambu aur. Vas itu kamu hias dengan gambar indah, kamu beri air biar bunga bertahan lama. Bunga itu kamu berikan kepada Abah. Tentu saja Abah tertegun. Lama Abah melihatmu, seperti yang tidak percaya.
“Ini untuk Abah?”
Kamu mengangguk. “Ha...um, Bah, haum....”
Abah meniru apa yang sering kamu lakukan, menempelkan kelopak mawar ke hidungnya, menghirup harumnya. Abah memelukmu lama. Abah sangat bahagia. Kamu tahu kenapa? Karena setangkai mawar yang kamu berikan melebihi segala-galanya. Bunga-bunga yang tumbuh di pekarangan rumah adalah mata pencaharian Abah. Sedap malam, aster, melati, lili, lidah mertua, selalu ada bandar yang membeli. Tapi tidak bunga mawar. Meski ditawar dengan harga berapapun bunga mawar tidak dijual. Karena rumpun mawar di depan rumah itu milik kamu, Ujang. Kamu yang menyiram dan memeliharanya bila musim kemarau tiba. Kamu tidak pernah rela bila bunga mawar ada yang memetik. Kamu lebih suka membiarkan bunga mawar mekar menghiasi pohonnya sampai satu per satu kelopaknya berguguran. Abah pasti masih ingat ketika kamu menangis berhari-hari karena ada setangkai mawar yang dipetik orang, mungkin oleh bandar yang iseng karena selalu gagal membeli bunga mawar itu. Abah tahu arti bunga mawar buatmu. Karenanya Abah merasakan perasaanmu ketika bunga mawar mewakilinya.
Itu namanya cinta, Ujang. Cinta! Kamu pasti sudah mengenalnya. Sangat mengenalnya. Karena perlahan engkau mengerti ketika Abah memenuhi halaman belakang rumahnya dengan berbagai bibit tumbuhan. Dan bila musim hujan tiba, biasanya seminggu sekali, Abah berkeliling kampung, menyusuri pinggiran sungai, mendaki lereng gunung, untuk menanam bibit pepohonan. Karena engkau selalu mengikuti ke mana pun Abah pergi. Kamu ikut menyemai bibit pepohonan itu, menanamnya di tempat-tempat yang gersang, membersihkan tanah di sekelilingnya.
Itu semua adalah cinta, Ujang. Tidak ada orang yang rela melakukan itu tanpa dibayar, kecuali ada cinta yang menyala, cinta yang berdebur, cinta yang bergelora, di dalam dadanya. Cinta yang begitu berbahagia ketika melihat pepohonan itu tumbuh tinggi, rindang, subur. Cinta yang begitu berbahagia ketika membayangkan orang-orang berteduh di bawah naungan pepohonan, menikmati buahnya, burung-burung mencari makan dan membuat sarang, dan setiap makhluk menghirup oksigennya.
“Kalau sudah besar, Ujang ingin seperti apa?” tanya Abah suatu hari.
“... hon... mangng... ga,” jawabmu sambil menunjuk pohon mangga.
“Kenapa?”
“... ngnggi... ma... nis... nndang.”
“Ya, pohon mangga memang tinggi, buahnya manis, dan rindang.”
Abah mengusap-usap rambutmu sambil tertawa. Waktu itu kalian sedang beristirahat di bawah pohon mahoni yang besar. Sejak pagi kalian menyusuri pinggir sungai yang gersang, menanam bibit pohon. Bibit mangga, rambutan, jeruk, sukun, lamtoro, jambu, dipikul Abah. Kamu pun membawa sebagian bibit pohon dengan pikulan kecil. Abah khusus membuatkannya untukmu. Lucu melihatmu begitu bersemangat membawa pikulan kecil. Berjalan tanpa beban saja kamu kesusahan, seperti yang terantuk batu, seperti jalan tidak rata, tangan selalu diangkat ke atas, leher condong ke depan. Sekarang dengan beban pikulan. Ah, sungguh indah melihatnya. Kamu tahu kenapa, Ujang? Karena ada bibit lain yang sedang tumbuh, bibit yang nantinya akan kuat, rindang, berbunga indah, berbuah manis, bibit cinta yang ada di dalam hatimu.
Bibit cinta itu yang membuat Abah kuat dikatakan orang-orang sebagai pamohalan. Setiap musim hujan Abah selalu menanam bibit-bibit pohon yang disemainya. Mungkin sudah ratusan, atau ribuan pohon yang sudah ditanamnya. Tapi musim hujan berikutnya hanya satu atau dua pohon saja yang bertahan. Sisanya ada yang kekeringan. Kebanyakan ada yang mencabut atau merusak. Abah kecewa. Pasti kecewa. Tapi tidak membuat Abah berhenti menanam pohonnya.
Kamu juga tentunya belajar untuk kuat menghadapi semua kesusahan. Seperti ketika melewati perkampungan setiap orang memandang kalian.
“Orang gila... orang gila...!” kata seorang anak.
“Bukan gila itu namanya!” timpal yang lain.
“Lalu apa? Berjalannya kan begitu.”
“Ideot kalau yang begitu.”
“Oh, jadi itu orang ideot?
“Ya.”
“Orang ideot...! Orang ideot...!”
Kamu membalas teriakan anak-anak itu dengan tersenyum. Abah selalu menuntunmu karena berjalanmu jadi tidak karuan. Abah selalu mengingatkanmu untuk tidak memperdulikan anak-anak itu. Lalu kamu pun membetulkan caping kecilmu, menatap ke depan, tersenyum. Saya pikir kamu sedang membayangkan menjadi Pendekar Naga seperti dalam dongeng Abah. Pendekar Naga yang tidak sengaja selalu berhadapan dengan para penjahat. Pendekar Naga yang selalu menolak untuk berkelahi. Pendekar Naga yang mengalahkan para penjahat dengan kebaikannya. Pendekar Naga yang selalu menolong orang-orang meski orang-orang itu tidak pernah menyadarinya.
Abah mungkin tidak pernah bercerita bahwa dia pernah menjadi Pendekar Naga. Suatu malam ketika kamu belum ada, ada seorang perempuan berlari-lari, begitu gembira ketika melihat gubuk Abah. Waktu itu hujan lebat. Perempuan itu menubruk pintu gubuk. Abah terkejut. Apalagi ketika membawa perempuan itu ke dalam, ternyata dia sedang hamil besar. Perempuan itu meraung kesakitan. Darah mengalir di kakinya.
Abah kemudian berlari menembus hujan, memanggil dukun beranak. Menjelang subuh lahir seorang anak. Tapi ibunya tidak tertolong karena pendarahan hebat. Perempuan itu, ibu dari anak itu, kemudian dikubur di depan gubuk. Di atasnya tidak dikasih batu nisan, tapi ditanami bunga mawar. Karena begitulah pesan si perempuan itu. Perempuan malang yang berusaha keras melindungi bayinya, melindungi cintanya. Karena pemerkosanya tidak menghendaki dia punya anak. Pemerkosanya adalah seorang koruptor yang tidak mau namanya tercemar. Malam itu perempuan itu melarikan diri dari para centeng yang dibayar.
Bayi yang lahir itu kamu, Ujang. Dan perempuan itu, perempuan yang merelakan tubuhnya menjadi pupuk, perempuan yang selalu melihatmu dari bunga mawar yang mekar, adalah saya, ibumu. ***


  
Keterangan:

Pancuran = saluran air dari bambu
Tajug = surau kecil

Pamohalan = tidak mungkin terjadi

KABAR BUAT SAHABAT

Written By Mang Yus on Jumat, 24 Juli 2015 | 06.25



Banjarmasin Pos, 17 November 2013

Sore sekitar pukul lima saya melihat kamu menyambar handuk lalu masuk ke kamar mandi. Suara air menyiram tubuh begitu jelas, tidak kalah dengan senandungmu yang sumbang dan entah lagu apa. Lima menit kemudian kamu sudah ada di kamar, berganti baju, pakai parfum, menyambar kunci motor. Tapi begitu sampai di teras kamu tertegun. Langkahmu terhenti. Pasti menyesali hujan yang mulai turun. Hujan yang kemudian membesar dan semakin membesar.
Saya merasakan apa yang kamu sesali. Karena hampir seminggu kita tidak bertemu. Tidak ngobrol kesana-kemari di rumah kontrakan saya yang bisa dikatakan tidak berkamar. Karena yang disebut kamar hanya ruangan 2 X 1 meter yang ditutup kain. Tapi kamu senang bertamu. Saya pun senang menyambutmu. Kita ngobrol di teras, ditemani kopi dan perkedel jagung bikinan istri saya.
Setiap istri saya membawa kopi, kamu pasti berbisik, “Masihkah alhamdulillah kamu zikirkan setiap saat?” Saya tersenyum. Menurutmu, istri saya cantik bukan saja fisiknya yang sempurna, tapi juga hatinya. Karenanya saya disarankan untuk terus menzikirkan alhamdulillah.
“Setiap saat saya selalu berzikir, sehingga diri ini sudah menjadi zikir itu sendiri,” kata saya. Kamu tertawa mendengarnya. Mungkin kamu merasa puas dan sangat setuju saya menjawab dengan meniru sebuah puisi dari Maulana Jalaluddin Rumi.
Ya, mungkin persahabatan saya dan kamu begitu dekat karena kita punya minat yang sama terhadap sastra. Kamu suka dengan puisi, cerpen, novel. Kita sering saling meminjam buku, membaca bergantian, lalu membicarakannya berjam-jam, bahkah sampai berhari-hari. Kadang kita juga belajar menulisnya. Meski belum satu pun tulisan kita yang dimuat koran.
Tapi mungkin itu bukanlah masalah. Karena setiap kita ngobrol tentang cerpen saya, puisi kamu, koran yang kita kirimi naskah, selalu ada perasaan siap untuk ditolak koran atau majalah. Mungkin kalau dipersentasekan 99% dan 1%. Hanya 1% kita memberikan nilai pada harapan tulisan bisa dimuat. Saya rasa kamu pun punya perasaan yang sama. Karenanya kita tidak begitu kecewa ketika dari belasan tulisan yang dikirim tidak satu pun yang dimuat koran.
Sesekali kita pun menghadiri pembacaan puisi atau cerpen di gedung kesenian. Atau semacam talk-show pada peluncuran buku. Kita duduk di pojok, mengagumi para pengarang ternama berkisah tentang proses kreatifnya atau visinya dalam berkarya. Mereka bisa menulis ini menulis itu, kita menulis apa?
Pertanyaan seperti itu yang membuat kita selalu bergairah untuk menulis. Sebulan belakangan kita sama-sama tertarik memperhatikan orang menyetir mobil sambil mabuk. Menurutmu, kota kita ini sudah semakin tidak aman. Orang bisa celaka, bahkan sampai meninggal, hanya karena berjalan di trotoar atau menunggu di halte. Celakanya, para penabrak itu bisa mahasiswa anak wakil rakyat yang bergelimang harta. Atau anak artis terkenal yang juga kaya raya. Jadi para penabrak mabuk itu kemudian bebas dari hukum dengan banyak dalih.  
Menurut saya, penabrak bernarkoba itu harus dikasihani. Mereka pasti kecewa dengan lingkungannya. Mereka terbuang. Tapi nasib membawa mereka ke dalam bimbingan narkoba dan minuman keras. Mereka sebenarnya tidak sadar melakukan itu semua. Tapi kamu tetap marah. Katamu, pemakai narkoba itu penjahat terselubung. Mereka bisa tiba-tiba menewaskan belasan orang.
Lalu kita sepakat akan menulis itu. Membuat cerita fiksi dari fakta penabrak liar bernarkoba. “Siapapun di antara kita yang mengetahui ada peristiwa penabrak narkoba di kota kita ini, harus cepat saling memberitahu. Kita harus melakukan investigasi. Kita harus mengabadikan fakta melalui fiksi,” katamu. Saya tersenyum mengiyakan.
Itulah pertemuan terakhir kita. Hampir seminggu kita tidak bertemu. Saya semakin bersemangat berjualan sayuran di pasar. Pukul tiga subuh saya sudah mengangkut sayuran dari bandar, menata lapak, dan siap menyambut pembeli. Padahal biasanya sedikit santai. Biasanya setelah sayuran diangkut saya minum dulu kopi sambil ngobrol. Sekarang tidak bisa lagi. Istri saya sudah berisi, sudah dua bulan lebih kata bidan. Tentu saja saya sangat bahagia dan bekerja begitu semangat.
Dan sore ini kamu menunggu hujan di teras rumahmu. Kamu pasti ingin segera mengabari kabar yang kita cari itu. Tentu kamu mengira saya belum mengetahuinya. Karena hampir seminggu ini sms kamu tidak masuk ke hp saya yang rusak. Karena kita tidak punya fasilitas internet. Kita hanya memakai internet kalau ada naskah yang akan dikirim. Itu pun memakai jasa penjaga warnet yang mengirimkannya.
Tentu kamu mengira saya belum mengetahuinya. Padahal saya tahu betul apa yang akan kamu sampaikan.
Tadi subuh ada dua orang yang sedang berjalan di trotoar tertabrak mobil mewah. Tentu mobil mewah karena mobil itu milik orang kaya raya, anak seorang petinggi negeri ini yang kekayaannya tidak akan bisa kita bayangkan. Dua orang itu tewas seketika. Tewas mengenaskan karena kecepatan mobil yang kemudian menabrak tiang listrik itu 150 km per jam. Sopir mobil hanya luka ringan, tapi pingsan. Dia pulang pesta narkoba.
Tadi pagi seorang tukang kopi di pasar yang ikut membantu mengangkat dua mayat korban tabrak maut sopir bernarkoba itu menceritakannya kepada tukang sayur yang sedang belanja. Tadi siang tukang sayur yang pulang keliling kampung menceritakan tabrak maut bernarkoba itu kepadamu. Tentu kamu sangat antusias mendengarkannya. Dan sore ini. Sore ini kamu ingin menceritakan peristiwa saya dan istri saya tertabrak sopir maut bernarkoba itu.
Kepada saya. ***     

Bandung, 2013

LELAKI YANG KUANTAR KAWiN

Written By Mang Yus on Kamis, 23 Juli 2015 | 10.12



Pikiran Rakyat, 29 Maret 2015

Mobil land cruiser itu saya tatap sampai menghilang di belokan. Tetangga saya pada keluar rumah. Pasti mereka ingin tahu, siapa yang bertamu ke rumah saya memakai mobil sebagus itu. Tapi meski mereka tahu mobilnya bagus, pasti tidak ada yang menyangka harganya hampir dua milyar rupiah.
Sebelum mereka bertanya saya cepat masuk ke rumah. Istri saya sudah menunggu di balik pintu. “Ada apa?” tanyanya. “Kenapa dia menangis?”
Pak Sutardi, tamu yang barusan pulang, memang menangis. Menangis di hadapan saya. Tangannya menutup wajah, badannya berguncang, ngagukguk seperti yang sangat sakit, sakit hati.
“Ditanya kok malah melamun?”
Saya tersenyum. Ingatan saya pun belum sepenuhnya kumpul. “Dia menangis... ingin miskin,” kata saya. Istri saya molohok.
**
Dulu, belasan tahun yang lalu, saya pernah dekat dengan Pak Sutardi. Dia adalah tetangga waktu saya mengontrak sebuah kamar di Rancaekek. Waktu itu saya belum punya anak, baru menikah beberapa bulan. Pak Sutardi sudah mempunyai dua orang anak. Anak pertamanya sudah kelas lima SD. Kami sama-sama bekerja di pabrik tekstil.
Ketika tejadi PHK, saya dan Pak Sutardi termasuk yang dikasih surat pemutusan hubungan kerja. Uang pesangon yang tidak seberapa saya belikan motor bekas, tua, dan saya jadi seles keripik singkong. Pak Sutardi lama tidak bekerja. Sering saya mendapatkan dia dan keluarganya makan nasi raskin dan kerupuk. Kadang hanya makan singkong rebus.
Layaknya tetangga di kontrakan murah, hampir setengah makanan yang saya dapatkan saya bagikan buat tetangga yang kesusahan. Tapi itu semua tidak menolong keluarga Pak Sutardi. Istri dan anaknya pulang ke orang tuanya. Mertuanya mendesak Pak Sutardi untuk segera menceraikan anaknya. Setiap bertemu, Pak Sutardi sendiri terasa cepat tua, lusuh, kusut.
Suatu malam dia memanggil saya ke kamar kontrakannya. “Bapak mau kawin lagi. Tolong antar Bapak,” katanya. “Dan juga, Bapak tidak punya untuk ongkos. Tolong pinjamkan seratus atau dua ratus ribu rupiah.”
Saya tersenyum. Tentu saya gembira. Karena keinginan menikah sama dengan semangat, harapan, yang mulai tumbuh. Tapi saya tidak melihat sinar hidup itu di wajah Pak Sutardi.
**
Sampai ke sebuah kampung yang entah kampung apa namanya matahari sudah di atas kepala. Lalu naik ojek sampai ke tepi hutan. Saya tidak bertanya apapun. Saya pikir Pak Sutardi menikah dengan orang kampung. Tapi begitu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak, saya tidak bisa lagi menyembunyikan keheranan.
“Kita ke mana, Pak?” tanya saya.
Pak Sutardi tiba-tiba menggenggam tangan saya. “Mohon, Bapak mohon jangan protes apapun,” katanya dengan suara bergetar. “Antar saja. Bapak janji akan melakukannya dengan sesegera mungkin.”
Saya mulai berpikir yang tidak-tidak. “Istigfar, Pak, istigfar!” seru saya. “Kita pulang sekarang!”
“Mohon, Bapak mohon jangan halangi. Antar saja.” Pak Sutardi mau menangis. “Dan jangan berdoa apapun. Jangan istigfar.”
Jalan setapak itu semakin melebar. Dan tidak jauh dari sana sampai ke sebuah gerbang kota. Jalan berhotmik begitu bersih. Bangunan-bangunan megah, arsitektur cantik, dan orang-orang yang memandang. Dua orang penjaga gerbang menyambut kami, mengantar ke sebuah gedung yang lebih megah dibanding bangunan megah lainnya.
Seorang gadis yang cantiknya susah saya ceritakan menyambut kami. Senyumnya seindah bunga mawar merah yang sedang mekar. Sampai hari ini saya masih ragu mempercayai bahwa pengalaman itu nyata saya alami. Saya tidak begitu ingat apa yang terjadi selanjutnya. Ijab kabul perkawinan itu terjadi begitu cepat. Sesuatu yang selalu menempel di ingatan saya adalah ucapan ayah gadis cantik itu.
“Sekarang kalian adalah suami istri. Istri wajib membantu apa keinginan suami. Suami sudah bukan lagi manusia murni, karena itu jangan lagi kamu memakai perasaan manusia,” kata ayah gadis itu.
Berjalan pulang kesadaran saya mulai berkumpul. Saya beristigfar. Tiba-tiba jalan yang lebar dan bangunan-bangunan megah itu berubah menjadi sebuah gua yang gelap dan tingginya hanya setengah badan. Tanah yang dipijak terasa basah. Saya berjalan sambil membungkuk. Ketika mendekatai mulut gua, begitu banyak ular yang membuat saya memegangi tangan Pak Sutardi begitu keras.
“Ada apa? Kenapa?” tanya Pak Sutardi heran.
**
Itulah terakhir kali saya bertemu dengan Pak Sutardi. Karena kemudian dia pindah kontrakan. Kabarnya dia membuka warung. Lalu menjadi agen banyak barang dagangan. Ada kabar juga menjadi pemborong bangunan. Ada yang cerita juga Pak Sutardi membuka kolam pemancingan, pabrik roti, travel, dan villa-villa yang disewakan. Istri dan anaknya kembali. Ada kabar juga Pak Sutardi menikahi beberapa wanita muda.
Dalam belasan tahun tidak bertemu, Pak Sutardi sudah menjadi pengusaha yang kekayaannya sulit saya bayangkan. Saya sendiri bisa melepaskan diri dari kontrakan pengap. Saya membeli rumah di perumahan pinggiran kota yang tidak laku. Perumah yang tidak selesai dibangun, berdinding batako, beratap asbes,  yang saya beli seharga 20 juta rupiah.
Suatu sore sehabis hujan tamu bermobil land cruiser itu datang. Tentu saya takjub karena orang sekaya Pak Sutardi masih mengingat saya. Tapi saya tidak menyangka kalau kemudian dia menangis. “Berbulan-bulan Bapak sudah tidak bisa tidur tenang lagi, tidak bisa makan enak lagi,” katanya mengeluh. Saya perhatikan pakaiannya yang bagus, rambutnya yang kelimis, wajahnya yang bersih, tapi semuanya tidak bisa menyembunyikan gelisah hatinya. “Bapak ingin miskin lagi,” lanjutnya.
Lalu Pak Sutardi menangis. Kedua tangannya menutup wajahnya, badannya berguncang-guncang. “Uang yang Bapak buang selalu kembali,” katanya pelan. “Waktu pemilihan kepala desa, Bapak keluarkan miliaran rupiah untuk memilih calon yang sangat tidak diunggulkan. Eh, dia malah menang. Uang Bapak malah semakin banyak. Itu semua karena si Centringmanik itu, istri yang dulu Bapak kawini itu. Bapak ingin menceraikannya.”
Sampai Pak Sutardi pulang saya masih belum mengerti seratus persen apa yang terjadi. Lalu terlupakan lagi karena kesibukan saya berjualan keripik singkong. Suatu hari saya melihat di televisi Pak Sutardi ditangkap polisi karena menyuap untuk mendapatkan proyek pemerintah. Suatu malam empat orang polisi mengetuk pintu rumah saya.
“Bapak kami tangkap, ini surat perintahnya,” kata polisi itu.
Tentu saja saya terkejut. Saya takut. Tidak mengerti. Tapi yang membuat saya tenang, saya merasa tidak pernah mengerjakan kesalahan apapun. Istri dan anak saya menangis. Ternyata saya dibawa ke sel tempat Pak Sutardi dipenjara.
“Maaf, Bapak yang melakukan semuanya,” kata Pak Sutardi saat memeluk saya. Wajahnya sangat lusuh, jauh dari bayangan saya tentang orang kaya yang dipenjara. “Kekayaan Bapak akan habis. Uang yang dipakai kemewahan di penjara ini uang yang masih Bapak pegang. Tapi Bapak tidak perduli lagi. Bapak ingin bertobat. Tolong Bapak. Bagaimana caranya Bapak bertobat?”
Kemewahan di penjara yang dimaksudnya, selain membawa saya dengan cara tadi, juga sel yang nyaman, jauh dari segala sesuatu yang bisa dipakai bersembunyi ular. “Wanita ular siluman itu pasti tidak mau terima Bapak ceraikan,” katanya. “Tolong Bapak, bimbing Bapak untuk bertobat.” Pak Sutardi menangis lagi.
“Kalau begitu, besok saya datang lagi dengan ustad Wahyu,” kata saya.
Ustad Wahyu adalah guru ngaji, imam di masjid kecil di perumahan saya. Waktu saya ceritakan kisah Pak Sutardi, dia langsung mengajak saya ke penjara. Pagi itu saya dan ustad Wahyu datang ke penjara. Tapi betapa terkejut saya ketika sipir memberi tahu, “Pak Sutardi meninggal subuh tadi. Semalam kakinya menginjak peniti bros. Darah keluar tidak berhenti dari luka kecil itu sampai dia kehabisan darah.”
Saya terpana waktu melihat bros berpeniti kecil yang terinjak Pak Sutardi. Bros sederhana yang di atas penitinya ada ukiran ular dari perak. ***

Pamulihan, 27-28 Januari 2015






Catatan:
Ngagukguk = menangis tersedu-sedu
Molohok = bengong
Raskin = kependekan dari beras miskin, beras dari pemerintah yang biasanya dibeli di RT dua ribu sampai tiga ribu rupiah per kg. Raskin seringkali berbau apek bila ditanak, bahkan sekali waktu bisa sangat bau apek.

SANGKURIANG

Written By Mang Yus on Minggu, 19 Juli 2015 | 00.00


Tribun Jabar, 8 Juni 2014

Karena Ayah menjadi anjing, maka saya membunuhnya.
Saya tidak suka dengan anjing. Karena pengalaman saya yang berkenaan dengan anjing selalu buruk. Menjelang malam selalu ada anjing melolong. “Masuk ke rumah, anjing melolong tandanya ada setan,” kata Ibu. Tentu saja saya takut. Setan adalah makhluk yang sejak saya lahir sudah dikenalkan menjadi musuh, menakutkan dan selalu berpikir jahat. Menurut pikiran saya, anjing melolong karena kenal dengan setan. Maka anjing adalah temannya setan.
Usia lima tahun saya mulai memperhatikan bagaimana anjing berebut makanan dengan sesamanya. Gigi, taring, ancaman, selalu diumbar untuk menguasai makanan. Tidak masalah anjing lain tidak kebagian, atau luka karena gigitannya. Moncongnya yang selalu berlendir saya pikir adalah cara anjing menyebarkan penyakit.
Karena itulah ketika Ayah menjadi anjing saya membunuhnya. Bohong kalau gosip bilang bahwa keputusan yang saya ambil untuk membunuh Ayah muncul begitu saja ketika kami berburu. Dendam terhadap Ayah sudah lama tumbuh dan berkembang. Mungkin dendam itu tumbuh ketika semakin banyak korban Ayah yang saya ketahui. Dan keputusan saya mengarahkan anak panah tepat di tengah kening Ayah adalah keputusan yang sudah sangat matang saya hitung.
Ibu adalah sosok yang sangat saya pertimbangkan. Bagaimanapun Ibu akan marah. Nyatanya Ibu memang meraung menyesali perbuatan saya. Ibu memaki dengan kalimat yang sampai berhari-hari sambung menyambung. Dan akhirnya Ibu memukulkan centong keramat tepat di ubun-ubun kepala saya. Darah mengalir membasahi rambut, wajah dan badan saya. Saya pun berlari. Berlari. Entah ke mana.
Sebenarnya marahnya Ibu sudah saya perhitungkan. Tapi saya tidak mengira marah Ibu sampai memukulkan centong keramat yang kekuatannya seribu kali martil. Baru ketika saya beristirahat di sebuah gunung yang belum pernah berhasil dimasuki manusia, saya berpikir, keputusan Ibu memukulkan centong keramat adalah karena untuk menyelamatkan saya.
Ya, seandainya saya tidak berlari waktu itu, entah apa yang akan terjadi terhadap saya. Mungkin saya sudah menjadi tempat segala kesalahan ditimpakan. Ayah adalah orang terhormat di negari ini. Dia diamanahi mengurus banyak kepentingan negara. Rakyat percaya kepadanya. Ayah punya tim khusus yang mengatur agar Ayah selalu hilir-mudik di televisi, koran, majalah, radio, internet, dan media lainnya. Ke mana pun Ayah pergi, orang-orang menghormat dan menyanjungnya. Ayah adalah seorang pejabat negara.
Hanya Ibu dan saya yang tahu Ayah menjadi anjing. Gigi taringnya menyeringai saat bersiap merebut makanan. Padahal kekayaan Ayah tidak terhitung. Entah apa yang ingin Ayah cari dengan merebut makanan milik orang lain. Ayah sudah berkhianat terhadap negara, terhadap rakyat, terhadap kemanusiaan (makanya dia rela menjadi anjing). Setiap selesai Ayah merebut makanan, Ayah melolong, jutaan orang kemudian menjerit, mengaduh, mengerang, karena mendengar lolongan Ayah. Maka busur yang saya tarik itu mengarah tepat di tengah kening Ayah.
Seandainya Ibu tidak memukul ubun-ubun kepala saya dengan centong keramat, entah apa yang akan terjadi. Mungkin saya ditangkap, dipenjara dengan penjagaan sangat ketat, dan hampir setiap hari dibawa ke pengadilan sebagai terdakwa. Akhirnya saya dihukum mati. Dan Ayah, kemungkinan dikubur di taman makam pahlawan. Televisi, buku, koran, mengenangnya sebagai pahlawan negara.
Di sini kecerdasan Ibu sangat terasa. Dengan saya pergi jauh, kematian Ayah menjadi misteri. Orang masih menyisakan pertanyaan ketika mengenangnya sebagai tokoh teladan. Seandainya Ayah tokoh baik, kenapa ada yang tega membunuhnya? Ibu rupanya tidak tega bila Ayah menjadi tokoh teladan sementara di belakang keteladanannya Ayah menjadi anjing.
Dan saya mengembara dari gunung ke gunung, dari gua ke gua, dari sunyi ke sunyi. Saya belajar bagaimana alam bertahun-tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, semakin akrab dengan cuaca dan nasib. Saya mengalir bersama air berhembus bersama angin menyala bersama api semedi bersama batu kali
Ketika suatu hari saya turun gunung, saya terpana melihat keindahan lain selain sunyi. Seorang puteri bermain dengan kupu-kupu di tamansari. Saya memandangnya lama, diam-diam mengeluarkan kembang wijayakusuma, kembang yang tidak pernah layu di hati saya. Dan ketika sang puteri terpana melihat saya, saya memberikan bunga yang bertahun-tahun tumbuh dan mekar di hati saya.
“Kupersembahkan bunga jiwa raga ini, hunya untukmu,” kata saya.
Sang puteri terpana, lalu tersenyum, senyum yang sanggup memekarkan bunga-bunga di mana-mana. Tapi sayangnya senyum itu seperti kilat, hanya sebentar menerangi, karena kemudian awan gelap yang sebenarnya muncul. Sang puteri itu melolong, dari bibirnya keluar taring, matanya memerah. Saya terlempar karena terkejut. Lalu di mana-mana terdengar orang menjerit, mengaduh, mengerang, mungkin jutaan jumlahnya. Oh, sang puteri cantik itu ternyata menjadi anjing juga.
Dengan menyerap kekuatan alam saya menenangkan sang puteri yang sedang melolong itu. Dia tersipu malu.
“Kenapa engkau memelihara anjing juga di hatimu?” kata saya.
“Sepertinya tidak bisa tidak menjadi anjing saat ini, di sini,” katanya, menunduk. “Semua orang memelihara naluri anjing di hatinya. Kita hanya akan tersiksa tanpa ikut dengan mereka.”
“Tapi jutaan orang tersakiti dengan naluri anjing di hatimu,” kata saya. Sang puteri memandang ke jauhnya, ke pamandangan yang tiada bertepi. “Saya ini... pernah membunuh anjing. Menikahlah dengan saya, saya siap membantumu mengusir naluri anjing di hatimu.”
Sang puteri mundur beberapa langkah. “Engkau membunuh anjing?” tanyanya. “Rasanya aku tahu siapa engkau. Engkau tidak akan sanggup mengusir semua anjing dari sini. Dengan cara bagaimana mengusirnya?”
“Dengan cinta. Dengan cinta tidak akan ada lagi yang disakiti.”
Sang puteri memandang saya lekat. “Baiklah, saya akan menikahimu, asal... engkau buatkan bendungan untuk kita berbulan madu. Dalam semalam.”
“Dalam semalam?”
“Ya. Ingat, dengan menerima lamaran engkau, artinya aku menerima ajakan engkau untuk berperang melawan manusia-anjing, itu tidak mudah. Mungkin kitanya sendiri yang akan terbunuh.”
Maka saya pun membangun bendungan sejak senja tenggelam. Semua kekuatan, semua sahabat, saya kerahkan. Bendungan itu memang hampir selesai waktu tengah malam. Tapi ketika perahu sedang ditatah, tiba-tiba terlihat pajar di langit timur, lalu terdengar suara ayam berkokok. Apa-apaan ini? Mengapa alam yang telah menjadi sahabat saya bertahun-tahun berkhianat? Saya tendang kapal dengan amarah yang menyala. Saya lari lagi ke dalam hutan. Hanya sunyi hutan yang sanggup menenangkan pikiran dan hati saya.
Alam pun ternyata sudah diperkosa oleh manusia-manusia anjing itu. Kemudian tersiar gosip bahwa saya adalah anak durhaka, anak yang ngotot ingin menikahi ibunya. Sang puteri itu mengaku Ibu saya kepada siapa pun. Maka ke mana pun saya pergi orang-orang akan menunjuk hidung dan meludahi saya.
Karena Ibu menjadi anjing, maka saya membunuhnya.
Saya adalah Sangkuriang, lahir tahun 1990, di negara tercinta ini, Indonesia. Saya rindu Ayah dan Ibu yang tidak menjadi anjing. ***  
  
Pamulihan, 8 Oktober 2013 / 15 Mei 2014   



PILIHAN

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni