Jejak Kata :

Sebuah Catatan (1)

Written By Mang Yus on Kamis, 16 Juli 2015 | 04.37

Entah sejak kapan mulainya, saya selalu merasa tidak enak setiap membaca koran atau memirsa tayangan berita televisi. Berbagai kontradiksi selalu menyiksa. Bayangkan, di halaman depan sebuah harian, headlinenya tentang korupsi milyaran rupiah yang lolos dari jerat hukum, di sebelahnya berita anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ketahuan menerima “uang segala macam” dari gubernur terpilih, dan di bawahnya liputan di sebuah wilayah anak-anak kurang gizi karena hanya makan sekali sehari atau hanya tiwul. 

Hari berikutnya wabah polio, demam berdarah, kenaikan BBM, kenaikan harga-harga sembako, rusaknya fasilitas-fasilitas umum, “menyiksa” rakyat miskin yang tersebar di kota dan desa. Sementara dana bansos milyaran rupiah dibagi-bagikan untuk “kesejahteraan” keluarga pejabat dan kerabat, proyek-proyek trilyunan rupiah belum dimulai sudah dicuri, kebocoran uang pajak mencapai trilyunan rupiah setiap tahunnya, anggota DPR mengajukan dana aspirasi sebesar 20 miliar rupiah per orang, dan masih banyak lagi.

Di waktu lain, petinggi negeri yang divonis menggelapkan uang jatah kesejahteraan rakyat kecil, didukung begitu heroik oleh para kader partainya yang selama ini menggembar-gemborkan diri “berparadigma baru”. Ustad-ustad yang berpolitik mulai “mengelola” proyek, menerima uang sogokan, dan para pendukungnya masih juga membela sebagai “serangan” terhadap partainya. Berita itu disandingkan dengan dipenjaranya seorang buruh pabrik yang dituduh mencuri sandal bolong saat berwudhu sebelum shalat, seorang nenek miskin dipenjara karena dituduh mencuri buah coklat saat memungutnya di perkebunan. Selain media massa yang menuliskan peristiwa “menyesakkan” itu, tidak ada seorang pun tokoh masyarakat yang mempertanyakan secara keras. Para wakil rakyat malah sibuk bertamasya ke luar negeri dengan ongkos milyaran rupiah. 

Sebagai publik yang dididik pasif, saya hanya bisa tidak enak, sedih, dan mentidakbenarkan semua perilaku buruk itu. Tentunya ini adalah keimanan terlemah. Saya tidak bisa lebih dari  itu. Karenanya selain bersedih dengan kemuraman negeri ini, juga dengan kelemahan tenaga sendiri.
Ketidakenakan seperti itu yang kadang mendesak saya tidak hanya bersedih, tapi juga menuliskannya berupa cerita. Selalu merasa belum mendapatkan pola bercerita yang lebih enak, lebih nikmat, lebih memuaskan meski sementara, lebih membebaskan dari kesumpekan hidup. Tapi setidaknya membuat saya lebih bersemangat untuk tetap mencintai negeri ini.
Barangkali ide menulis cerpen dari “ketidakenakan” membaca berita koran atau memirsa televisi bukanlah ide yang menyenangkan. Karena sejujurnya saya lebih menikmati menulis cerpen yang idenya terpicu dari kecerdasan spiritual yang tersebar di dalam kisah-kisah sufistik, cerita rakyat, dan tentu saja puisi.

“Masuklah ke telingaku,” bujuknya.
                                                        Gila :
ia digoda masuk ke telinganya sendiri
agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci – setiap kata, setiap hurup,
bahkan letupan dan desis
yng menciptakan suara.
                                         “Masuklah,” bujuknya.
Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-
baiknya apa pun yang dibisikkannya
kepada diri sendiri

Saya terteguh di hadapan yang terhormat puisi Telinga karya Sapardi Djoko Damono ini. “Mendengarkan diri sendiri”, menjadi kalimat yang lebih kental dari kopi pahit, berhari-hari membuat susah tidur. Meresapi dan memikirkannya menjadi kesenangan spiritual tersendiri. Dan akhirnya pertanyaan itu muncul, bagaimana mencerpenkannya?
Sama mempesonanya ketika tokoh Ahmed rela mengembara meninggalkan pekerjaan dan kemapanannya demi bertemu Maulana Jalaluddin Rumi dalam novel Kimya Sang Putri Rumi karya Muriel Maufroy. Ahmed punya perasaan samar-samar bahwa Maulana  bisa menjenguk bagian dirinya yang dia sendiri tidak ingin menjenguknya.    
Kesadaran “ada bagian gelap di dalam diri yang begitu lama tidak ditengok apalagi dibersihkan” juga menjadi kesenangan spiritual yang “mengganggu”. Akhirnya pertanyaan itu datang lagi, bagaimana mencerpenkannya?
Sering kali saya merasa tidak puas ketika menulis cerpen dengan ingatan kepada puisi atau kecerdasan spiritual kisah sufistik. Karena puisi atau kisah hikmah yang awalnya sangat mempengaruhi, begitu dituliskan dalam bentuk cerpen hasilnya hanya “tersinggung” sedikit. Cerpen mempunyai kemerdekaan sendiri yang tidak mau dipengaruhi apalagi ditentukan oleh unsur lainnya.
Cerpen seperti itu bisa disebutkan berawal dan berakhir di “dunia atas”. Sementara cerpen-cerpen yang saya sebutkan pertama adalah pengejawantahan “dunia bawah”. Adakah keduanya berinteraksi, bersitegang?
Mengumpulkan kembali cerpen-cerpen yang saya tulis sepuluh tahun terakhir, ada semacam ketidaksadaran bahwa “dunia bawah” dengan “dunia atas” itu sudah bergumul dalam pikiran dan perasaan saya. Cerpen Legenda Penakluk Harimau yang mengisahkan masih berlainannya keniscayaan kedua dunia itu, diikuti oleh cerpen Legenda Harimau dan Sumur Tua yang menceritakan interaksi kedua dunia itu. “Dunia bawah” seringkali mencurigai dan membungkam “dunia atas” meski secara sadar mengakuinya bahwa “dunia atas” menyebarkan pencerahan. “Dunia bawah” yang refresif seperti itu, semacam bagian gelap di dalam hati, di dalam diri, yang bertahun-tahun, atau mungkin sepanjang hidup kita, tidak ditengok apalagi dibersihkan. Begitu ada kesadaran dan usaha untuk menengok dan membersihkan bagian gelap itu, tentu saja ada rintangan dan perlawanan yang mungkin tidak kita perkirakan sebelumnya.
Interaksi semacam itu tanpa disadari terus berlangsung dalam proses penulisan cerpen saya. Cerpen Pulang Ke Rumah Ibu yang sentimentil dan hanya mengungkapkan kesedihan, harus diikuti oleh cerpen Airmata Ayah yang tetap optimis, tetap yakin akan selalu lahir pencerahan di dalam diri kita. Seberangasan apapun “dunia bawah” harus selalu dimasuki oleh “dunia atas”.
Hidup barangkali adalah proses ketegangan antara dua dunia itu.  (Yus R. Ismail) **

SI PENGKOR

Written By Mang Yus on Rabu, 15 Juli 2015 | 12.27



Tribun Jabar, 12 Juli 2015

Anak berambut carang dan pirang itu makan paha ayam lahap sekali. Pipinya yang hitam berdaki kembang kempis. Giginya yang kotor dan rusak tidak berhenti mengunyah. Sesekali disedotnya air dari gelas pelastik.
Orang-orang memandangnya sekilas, lalu melengos. Ada juga yang mencibir. “Dasar, anak tidak tahu sopan santun,” gumamnya entah kepada siapa.
Ya, karena saat ini adalah bulan Ramadhan. Anak berambut carang dan pirang itu duduk di trotoar depan halaman masjid. Tempat yang strategis karena orang yang ada di sekitar situ akan melihatnya. Anak itu lalu berjalan. Kakinya yang sebelah pengkor, karenanya berjalannya tidak benar. Seperti yang mau jatuh tapi tidak jadi. Tangan kirinya membawa box dus entah berisi makanan apa. Tangan kanannya masih sibuk menyuapi mulutnya dengan roti pisang.
Ya, anak itu adalah si Pengkor. Usianya sebenarnya sudah sepuluh tahun. Tapi karena keterbelakangan mental dia tidak bisa berkomunikasi dengan baik. “Dasar bodoh,” begitu biasanya orang-orang bergumam bila gagal berkomunikasi dengan si Pengkor. Si Pengkor nyengir menanggapi gerutuan apapun. Komunikasi yang paling lancar dengan si Pengkor adalah dengan memberinya makanan. Dia akan cepat mengambilnya, memakannya, dan nyengir memperlihatkan giginya yang kotor.
Tapi siapapun yang memberinya makanan biasanya cepat menarik tangannya. Tentu saja mereka tidak mau bersentuhan tangan dengan si Pengkor. Karena tangan si Pengkor kotor. Dia tidak mengenal mencuci tangan, apalagi memakai sabun. Padahal tangannya sudah mengais-ngais tempat sampah, mengelap ingus, bahkan cebok yang tidak bersih.
“Kalau Ade tidak makan, ih... takut seperti si Pengkor!” kata seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya di taman kota.
“Kalau Ayang tidak belajar, ih... takut bodoh seperti si Pengkor!” kata seorang bapak saat menuntun anaknya belajar.
“Kalau Nanda tidak mandi, ih... takut badan bau dan wajahnya buruk seperti si Pengkor!” kata seorang nenek saat membujuk cucunya mandi.
Tentu saja tidak ada orang tua yang mau mengadopsi si Pengkor menjadi anaknya. Siapapun tidak akan perduli ada di mana si Pengkor hari ini. Di tempat sampah, di sungai kecil yang airnya bercampur limbah pabrik, di trotoar mencari barang bekas, di tong-tong sampah mencari makanan sisa.
**
Selama hidupnya si Pengkor tidak pernah menjadi perhatian umum di kota saya. Dia ada tapi seolah tidak ada. Kecuali hari ini saat si Pengkor makan paha ayam di trotoar jalan depan masjid. Semua orang yang memandangnya mencibir. Merasa maklum tapi kadang sambil menggerutu.
“Dasar anak gendeng. Boro-boro tahu ibadah, menghormati bulan puasa saja tidak bisa!” Begitu gerutuan orang-orang bila disimpulkan.
Di kota saya, kota kecil kecamatan, bulan Ramadhan selalu disambut dengan gembira. Dua hari menjelang sholat tarawih masjid agung dibersihkan. Dindingnya dicat baru. Halamannya dibersihkan dari rumput dan sampah. Semuanya dilakukan dengan kerja bakti. Pengurus masjid sejak pagi mengumumkan kerja bakti itu melalui speaker.
“Bapak-bapak, Ibu-ibu, yang ingin memakmurkan masjid, mari kita bekerja bakti membersihkan rumah suci, rumah Allah SWT. Bagi yang tidak sempat tidak apa, pahalanya akan sama saja, yaitu dengan mengirim makanan bagi yang bekerja bakti. Apalagi dengan menyisihkan dana untuk perbaikan-perbaikan masjid. Kepada dermawan yang sudah memberikan hartanya untuk kemakmuran masjid, semoga Allah SWT membalasnya dengan rijki yang melimpah. Mari kita berlomba-lomba mengisi bulan Ramadhan ini dengan segala amal baik. Karena nanti semua amal baik itu yang akan menyelamatkan kita di akhirat.”
Nyatanya masjid agung tidak pernah kekurangan para dermawan. Di kampung saya memang banyak orang yang kaya. Mereka bekerja di kota-kota besar. Ada yang menjadi pejabat di pemerintahan. Ada yang menjadi pengusaha bakso, pengusaha bajigur, pengusaha nasi kuning, dan banyak lagi.
Setiap menjelang Ramadhan mereka pulang kampung. Mobil-mobil mahal parkir di pinggir jalan. Lahan kerja tahunan yang basah bagi para pemuda yang kerjanya serabutan. Mereka menjaga mobil-mobil itu semalaman. Atau mencuci mobil yang baru datang dan kotor. Menjelang Lebaran mobil-mobil itu akan bertambah banyak.
Masjid agung termasuk besar untuk ukuran masjid kecamatan. Tapi begitu sholat tarawih pertama, penuh sampai ke halaman. Mobil berjajar memenuhi pinggir jalan yang dekat dengan masjid. Mukena-mukena indah yang kabarnya hanya dijual online di internet, sarung dan kopiah baru, menjadi penghias yang sholat tarawih. Selesai sholat orang-orang yang saling mengenal dan hanya bertemu setahun sekali saling melepas kangen. Mereka saling bertanya kerja di mana, usahanya apa, anaknya berapa.
Siangnya suasana Ramadhan juga terasa. Sejak ba’da lohor dari pengeras suara masjid terdengar orang ceramah. Lalu anak-anak belajar ngaji. Pesantren kilat istilahnya. Dan sore menjelang berbuka tadarus tidak berhenti dari winamp. Makanya kota saya dikenal dengan sebutan Kota Sholeh.
Di kota saya hanya sedikit rumah makan yang buka siang hari. Itu pun hanya menyediakan bagi yang sedang dalam perjalanan. Rumah makan itu seperti tutup. Tapi bila anda sedang dalam perjalanan dan tidak kuat berpuasa, bertanyalah kepada tukang parkir, anda akan ditunjukkan rumah makan mana saja yang buka siang hari. Itu semua saking menghormati bulan Ramadhan.
Bisa dimengerti kalau kota saya merasa terganggu dengan si Pengkor yang makan di sembarang tempat.
**
Besoknya si Pengkor minum jus buah di trotoar depan masjid. Orang-orang yang melihatnya bukan hanya melengos dan menggerutu, tapi sudah mulai benci. “Inilah akibatnya bila anak tidak dididik sopan santun, makan minum di depan umum saat orang lain khusu menunaikan ibadah puasa,” tulis sebuah status di facebook dengan gambar si Pengkor sedang nyengir, tangan kanannya memegang paha ayam dan tangan kirinya memegang jus mangga.
Besoknya masih juga si Pengkor makan-makan di trotoar depan masjid. Orang-orang mulai bertanya, siapa yang memberi makanan si Pengkor? Tapi pertanyaan itu tidak berlanjut karena suatu sore ketahuan si Pengkor muntah-muntah, lalu pingsan di pinggir jalan.
Orang yang mengenalnya membawa si Pengkor ke gubuk Nini Jumsih. Gubuk tua yang hampir roboh itu berdiri di pinggir pembuangan sampah. Nini Jumsih sendiri kerjanya mengumpulkan barang bekas yang sekiranya masih bisa dijual.
Nini Jumsih adalah satu-satunya kerabat si Pengkor yang diketahui orang. Sewaktu bayi si Pengkor ditemukan Nini Jumsih di dalam sebuah kardus di pinggir pembuangan sampah. Sepertinya yang membuangnya menganggap bayi itu sudah mati. Nyatanya bayi itu menangis meski lemah.
Tidak ada yang tahu ketika akhirnya si Pengkor meninggal. Hanya delapan orang yang ikut memelihara jenazahnya, memandikan dan menguburkannya. Setiap saya berkeliling kota, saya melihat rembulan itu berwajah sendu dan trotoar masjid kehilangan sahabatnya.
Tentu saja saya bersedih. Meski seorang bapak yang ikut menguburkan si Pengkor menghibur saya. “Jaman dulu ada juga anak seperti si Pengkor. Cacat sejak lahir, terlunta-lunta, sakit mental, bodoh, berwajah buruk.” Bapak itu mengusap-usap punggung saya. “Ketika dia meninggal tidak ada orang yang merasa bersedih. Tidak ada orang yang merasa kehilangan. Tapi Rasulullah meneteskan air mata. Rasulullah berkabung beberapa hari.”
Saya menangis. Tapi orang-orang tidak melihat saya menangis. Orang-orang hanya melengos dan menggerutu saat saya memakan paha ayam menirukan si Pengkor. Ya, karena saya adalah si Kengkong, adik si Pengkor yang sewaktu bayi ditemukan Nini Jumsih di semak-semak. **
5-6 Juni 2015

Catatan:
Pengkor = kakinya tidak normal, karenanya berjalannya tidak benar
Kengkong = tangannya tidak normal, bengkok ke sebelah dalam

CARA MENGIRIM CERPN KE INILAHKORAN

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Minggu, 12 Juli 2015 | 22.33



Inilah Koran adalah koran yang terbit di Bandung, Jawa Barat. Setiap hari Minggu (dulu Sabtu) ada rubrik cerpen. Saya melihat penulis cerpen di Inilah Koran ini beragam asal daerahnya. Ada yang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, dan pelosok daerah lainnya. Artinya, Inilah Koran tidaklah kedaerahan. Temanya juga termasuk beragam.
Cerpen saya sendiri sebenarnya baru dua kali dimuat Inilah Koran. Email yang saya kirimi naskah adalah: inilahkoran@inilah.com. Tapi ada juga alamat email lain: redaksijabar@inilah.com. Cerpen “Saya Ada?” saya kirim tanggal 16-11-2014 dan dimuat tanggal 30-11-2015. Cerpen “Senyum Mang Samun” saya kirim tanggal 3-7-2015 dimuat tanggal 5-7-2015. Saya tidak tahu (tidak punya informasi) berapa lama tenggang waktu pemuatan di Inilah Koran. Tapi sebaiknya ketika mengirim cerpen diberi pengantar: “berapa lama penulis menunggu konfirmasi atau pemuatan”. Untuk cerpen saya itu, tidak ada konfirmasi sebelum dimuat.
Untuk cerpenis baru, sebelum mengirim, pelajari dulu cerpen-cerpen yang pernah dimuat Inilah Koran. Banyak teman penulis atau grup yang berbaik hati memberitahu itu semua. Di grup facebook Sastra Minggu, selain ada informasi cerpen siapa yang dimuat koran, biasanya ada juga cerpennya. Nah, pelajari di sana. Cerpen SENYUM MANG SAMUN yang pernah dimuat Inilah Koran bisa dibaca DI SINI. Atau cerpen SAYA ADA? bisa dibaca DI SINI.
Mengenai honornya, Inilah Koran termasuk yang ramah pembayaran (hehe... berarti ada yang tidak ramah, ya? Nanti dibahas deh.). Saya dibayar Rp 150.000,-. Tapi katanya, bila penulisnya mahasiswa (makanya jangan ngaku mahasiswa hehe...) hanya dibayar Rp 100.000,-. Honor biasanya bisa diambil bulan berikutnya. Misalnya bila dimuat bulan Juni (tanggal berapapun) honornya keluar bulan Juli. Saya sering ke Bandung jadi bisa mengambil langsung ke redaksi Inilah Koran di Jalan Terusan Pasteur 167 Bandung. Tapi bila dari luar daerah, coba deh hubungi telepon 022-612 7865 untuk minta ditransfer.
Selamat mencoba.

PEMBERITAHUAN: Sudah beberapa minggu Inilah Koran tidak memuat lagi cerpen (edit 9-1-2017)

SENYUM MANG SAMUN


Inilah Koran, 5 Juli 2015
Maaf tidak ada e-papernya. Bagi yang kebetulan punya korannya atau e-pappernya, saya berharap mengirimkannya ke blog ini. Trima kasih.

Harun tahu betul arti senyum di bibir Mang Samun. Senyum yang selalu tersungging. Indah. Seperti setangkai bunga yang sedang mekar. Tidak pernah layu dan tidak pernah kuncup lagi. Bunga yang tidak mengenal musim dan cuaca.
Senyum Mang Samun juga seperti itu adanya. Saat hujan turun, atau matahari memanggang, Mang Samun selalu tersenyum. Saat sedang berbicara dengan seseorang, dua orang, atau dalam kerumunan, Mang Samun selalu tersenyum. Menurut Harun, yang paling berbahaya, Mang Samun tersenyum saat tidak ada siapa-siapa di sekitarnya. Senyum itulah yang seringkali mendatangkan gunjingan.
“Syarafnya sudah kena,” kata seseorang sambil menyilangkan telunjuk di jidatnya.
“Karena apa?” Orang yang di sebelahnya bertanya.
“Entahlah. Katanya istrinya kabur, kedua anaknya meninggal. Semuanya karena kemiskinan.”
Butuh waktu bertahun-tahun bagi Harun untuk meyakini bahwa senyum Mang Samun tidak berbahaya. Meski senyum itu mekar saat Mang Samun sendirian.
**
Harun masih ingat ketika suatu hari dia tersaruk-saruk berjalan menyusuri jalanan kampung yang kering dan berdebu. Setelah lelah mengelilingi kampung Pasir Sampeu, mencari rumah sederhana atau kamar pun tidak apa yang dikontrakan, Harun disambut senyum Mang Samun yang sedang duduk di sebuah gubuk di tengah sawah.
Dari Mang Samun kemudian Harun mendapatkan sebuah rumah di tengah kebun yang dikontrak hanya tiga ratus ribu rupiah saja per tahun. Rumah kecil yang hancur. Jendelanya hilang diganti dengan triplek yang dipaku permanen. Nakonya berkarat, kacanya berlepasan. Gentingnya yang sudah tebal ditumbuhi lumut banyak yang belah, bocor di mana-mana bila hujan.
Tapi tidak ada pilihan buat Harun saat itu. Besoknya dia memboyong istri dan anak semata wayangnya. “Kita di sini dulu, istirahat barang sehari dua hari, baru kemudian berpikir dan menyusun rencana,” katanya kepada istrinya. Rian, anaknya, waktu itu baru lima tahun.
Saat itu usaha Harun mengalami kebangkrutan total. Dibilang total, karena setelah rumah dan beberapa roda bakso yang dipunyainya dijual, utangnya masih belum tertutup. Sementara puluhan roda bakso yang sempat menandainya sebagai pengusaha muda yang sukses, diklaim oleh sahabatnya, parner bisnisnya, sebagai milik pribadi. Harun tidak mengerti. Tapi sudahlah, seperti cerita bangkrut lainnya, tidak ada yang terbayangkan pada awalnya.
Saat itu Harun masih belum perhatian terhadap senyum Mang Samun. Dia mengira Mang Samun tersenyum karena ramah. Mang Samun tinggal di gubuk di tengah sawah itu. Gubuk kecil, berbilik bambu, tanpa pintu.
Suatu sore menjelang maghrib Harun harus mendatangi Mang Samun. Bagaimanapun Harun harus mendatangi Mang Samun. Dengan ucapan yang berat, terbata-bata, Harun berucap, “Mang, apakah Mang punya pohon singkong? Saya meminjam barang sepohon, dari pagi anak-istri saya belum makan.”
Mang Samun tersenyum. Saat itu Harun merasa senyum Mang Samun begitu aneh. Ada yang tersinggung di dalam hatinya. Tapi dia harus menelannya. Dia butuh. Mang Samun adalah satu-satunya orang yang akrab dengannya di kampung tepi hutan ini. Adzan berkumandang dari masjid di tengah kampung.
Bada maghrib Harun mengikuti Mang Samun ke puncrut. Perjalanan yang sangat melelahkan. Dari pagi dia hanya minum air putih. Keringat membasahi seluruh badannya. Keringat yang dingin. Keringat yang dihasilkan dari orang yang lapar. Saat matanya berkunang-kunang dan kepalanya pening, Harun melihat senyum Mang Samun dalam keremangan. Tapi dia tidak tahu bagaimana perasaan hatinya saat itu. Karena kemudian dia tidak ingat apa-apa.
Saat sadar dia sudah berada lagi di gubuk. Sekarung singkong bersandar di tiang gubuk. “Ayo pulang, biar Mang Samun yang bawa singkong,” katanya. “Singkong ini tidak dipinjamkan. Bawa saja.”
**
Harun merasa makan singkong malam-malam bersama istri dan anaknya itu adalah makan terenak yang pernah dirasakannya. Mereka pernah makan-makan di restoran-restoran mahal, hidangan tradisional atau impor, di kafe-kafe hotel; tapi belum pernah mereka makan senikmat malam itu.
“Abi, kenapa kita tidak berjualan keripik singkong saja,” kata istrinya. Harun tersenyum.
Besoknya dengan semangat dan wajah berseri Harun mendatangi lagi Mang Samun dan menceritakan maksudnya berjualan keripik singkong.
“Gusti Alloh selalu tersenyum saat sedih dan senang,” kata Mang Samun sambil tersenyum. “Tapi kita seringkali melihatnya saat bersedih.”
Harun tidak mengerti apa yang dikatakan Mang Samun. Tapi Harun menyimpan ucapan terima kasih tidak terkira kepada Mang Samun, karena hasil kebun singkong Mang Samun di puncrut yang hanya sepuluh bata itu menjadi modal pertamanya. Setiap subuh Harun berjalan dua kilo meter sampai ke jalan raya, lalu naik bis kota untuk mendatangi kios-kios bakso kenalannya, menitipkan keripik-keripik singkongnya.
**
Mang Samun tidak pernah bercerita bahwa dia pernah menjadi penjaga masjid kampung. Tapi kemudian diusir oleh DKM karena Mang Samun sering tersenyum sendiri. Mang Samun juga tidak pernah bercerita bahwa kedua anaknya meninggal dan istrinya kabur entah ke mana. Semuanya terjadi ketika kemiskinan menderanya.
Harun mengetahui semuanya dari orang-orang kampung Pasir Sampeu yang semakin ingin akrab dengannya. Mereka mengajak Harun dalam berbagai kegiatan. Rapat RT, RW, kerja bakti, jalan-jalan, dan lainnya.
Ya, semuanya karena Harun semakin dikenal sebagai pengusaha keripik singkong. Anak muda pengangguran dan ibu-ibu rumah tangga banyak yang dipekerjakan di pabrik singkongnya. Penjualannya tidak saja dititipkan di kios-kios bakso, tapi juga dipasarkan online. Keripik singkong Harun cepat terkenal dan banyak dicari pelanggan.
Setahun kemudin Harun pindah lagi ke Bandung. Pemasaran keripik singkongnya yang semakin meluas tidak lagi bisa dilakukan dari kampung Pasir Sampeu yang terpencil. Pabrik keripik singkong yang menghabiskan dana satu milyar kemudian dibangun di Bandung. Bagi Harun, uang sudah bukan masalah lagi.
**
Di dalam hati Harun, selalu ada keinginan untuk mengucapkan terima kasih kepada Mang Samun. Ucapan terima kasih yang tidak sekedar kata-kata atau mengganti hasil kebun singkongnya yang dulu dipakai modal awal. Harun tahu, kalau dirupiahkan, sekitar dua juta modal dari Mang Samun itu.
Suatu hari, menjelang maghrib, Harun mendatangi gubuk Mang Samun. Tas ransel digendongnya.
“Mang, terima kasih atas bantuan Mang Samun selama ini,” kata Harun sambil menyerahkan tas gendong berisi uang lima puluh juta rupiah. “Saya membawa hadiah buat Mang Samun. Bukan sebagai penukar yang telah Mang Samun berikan kepada saya. Mau dibelikan tanah, membuat rumah, atau ditabung. Terserah Mang Samun.”
Mang Samun hanya tersenyum.
Seminggu kemudian Harun mendengar kabar, panitia pembangunan masjid di kampung Pasir Sampeu gempar. Mereka menemukan uang di dalam kotak amal sebanyak lima puluh juta rupiah. Tentu saja Harun terkejut. Hari itu juga dia mendatangi Mang Samun di gubuknya. Begitu datang, Mang Samun menyambutnya dengan tersenyum.
“Gusti Alloh selalu tersenyum saat sedih dan senang,” kata Mang Samun sambil tersenyum. “Kita wajib membalas senyumnya.”
 **
Sejak itu orang-orang sering melihat Harun tersenyum sendiri. Saat Harun melihat orang-orang turun dari pesawat terbang, keluar kereta api, turun dari bis, berlalu-lalang di jalanan, di pertokoan; Harun melihat senyum yang begitu indah. Ada jutaan orang yang membawa jutaan nasib, jutaan masalah, jutaan kisah, jutaan sedih-senang, jutaan cara menyikapinya. Tapi hanya orang yang melihat senyum Tuhan yang merasakan begitu indahnya hidup.
Karenanya Harun selalu tersenyum. Membalas senyum Tuhan. Meski orang-orang di sekitarnya mulai berbisik-bisik.
“Syarafnya sudah kena,” kata seseorang sambil menyilangkan telunjuk di jidatnya.
“Karena apa?” Orang yang di sebelahnya bertanya.
“Dia kaya mendadak. Dia pemilik keripik singkong merk Mang Samun yang terkenal itu.” ***

Pamulihan, 11-12 Januari 2015

KUNTHI


Cerpen ini pernah dimuat Solo Pos, 28 Juni 2015
Ingin membaca cerpen ini dalam bahasa Sunda? Klik saja DI SINI


Wanita cantik itu selalu duduk di meja paling ujung kafe. Rambutnya yang ikal bergelombang berpadu dengan bulu matanya yang lentik. Matanya yang indah selalu tidak berkedip memandang bunga-bunga di taman. Ah, entah dia memandang bebungaan atau memperhatikan gerimis menyusuri dedaunan dan menjadi butiran bening sebelum jatuh ke tanah. Hidung, mulut dan dagunya seperti patung sempurna dari bayangan kecantikan.
Barangkali kecantikan sempurna seperti itulah yang diinginkan ayahku waktu menamaiku Kunthi. “Tidak ada lelaki yang berkedip saat memandang Kunthi,” kata ayah. “Dari kasta sudra, ksatria, bahkan brahmana pun selalu punya mimpi saat memandang Kunthi. Perkelahian terjadi tidak saja saat sayembara. Sebelum dan sesudah sayembara pun para lelaki lupa dengan etika dan kepantasan. Sengkuni menjadi otak terjadinya perang mengerikan baratayudha, salah satunya karena tidak bisa melupakan Kunthi. Telah banyak peristiwa yang dipicu oleh kecantikan Kunthi. Kecantikan yang sanggup memikat dewa sekalipun.”
Tapi keinginan ayah itu tidak kesampaian. Aku tidak secantik yang diinginkan ayah. Masa remajaku biasa saja. Tidak banyak lelaki yang mengejarku.
“Kunthi itu tidak hanya cantik parasnya,” kata ayah, entah menghiburku atau memang yang ingin disampaikan ayah sesuatu yang lebih sempurna dari bayanganku. “Mungkin yang menitis kepadamu adalah kecantikan hatinya, kecintaannya kepada anak-anaknya. Kunthi itu ibu yang dilematis, hatinya porak-poranda karena cinta kepada anak-anaknya.”
**
Entah sejak kapan mulainya wanita cantik itu senang menyepi diri di meja ujung kafe ini. Sejak aku suka datang ke kafe ini, dia sudah seperti itu. Duduk menyendiri. Matanya memandang ke jauhnya, entah ke dedaunan yang tertimpa gerimis, entah ke tempat lain. Entah apa yang ada di pikirannya.
Aku sendiri, selalu datang ke kafe ini karena rasa cinta kepada anakku. Di kafe ini seorang wanita lainnya selalu datang menemuiku. Wanita muda yang usianya masih dua puluh tahunan. Wanita terpelajar aku kira bila mendengar kata-katanya. Wanita yang mengaku juru bicara seseorang yang masih dirahasiakannya.
 “Bagaimana, Bu, sudah siap?” Selalu pertanyaan itu yang terlontar dari bibir seksinya. Pertanyaan biasa, pendek, dan mudah dimengerti maksudnya. Tapi di pikiran dan hatiku, suaranya menggelegar seperti petir.
Anakku adalah seorang pegawai negeri dengan karir cemerlang. Anak kebanggaanku itu, setelah menjadi kepala dinas ini kepala dinas itu, akhirnya dilirik partai politik untuk dicalonkan jadi gubernur.  
Wanita juru bicara itu menemuiku suatu senja.
“Saya tahu, Ibu sangat mencintai anak Ibu,” katanya dingin. “Sekarang ini, ada dua skenario untuk menjatuhkan anak Ibu. Pertama dihancurkan citranya dengan korupsi. Ibu harus tahu, di negeri ini, di negara kita ini, sangat sulit, atau malah mustahil, mencari kepala dinas tidak korupsi. Data korupsi anak Ibu sudah kita pegang.”
Wanita itu memperlihatkan foto-foto, juga video, penangkapan anakku saat sedang menerima uang dari pengusaha.
“Ini tangkap tangan, Bu. Tapi bukan KPK yang melakukannya. Kita yang melakukannya. Dua puluh milyar rupiah lebih anak Ibu menerima uang suap. Ibu harus percaya, anak kebanggaan Ibu tidak sebersih yang Ibu kira. Ibu tahu sendiri, anak Ibu membeli 20 hektar tanah di kampung Wates, mempunyai beberapa villa, pabrik tahu, rumah makan; apa itu semua terbeli dengan gajinya?”
Badanku mulai bergetar. Mulut ini sudah ingin mendebatnya. Tapi entah mengapa malah terkunci. Berita seperti itu tidak mengejutkan sebenarnya. Mata bathin seorang ibu sudah menangkapnya sejak lama. Sejak anakku sering mengeluh. Lelah katanya menjadi pegawai negeri.
“Lelah bagaimana?” tanyaku saat itu.
“Sekarang saya ini jadi pusat perhatian, Bu. Barangkali karena di departemen saya tidak ada potongan untuk proyek-proyek. Pengawas, pengusaha, tidak ada yang berani berbohong.” Cerita anakku itu awalnya enak didengar. “Tapi sekarang malah semakin rumit. Teman-teman tersenyum sinis, karena hanya di departemen yang saya pimpin yang seperti itu. Banyak yang memfitnah. Katanya saya punya kebun puluhan hektar. Gubuk tempat yang jaga kebun dibilang villa seharga milyaran rupiah. Pabrik tahu, warung nasi, pom bensin, itu kan hasil usaha menantu Ibu. Sejak saya masih menjadi juru tik, usaha itu kan sudah dirintis. Sampai sekarang, tidak ada sangkut pautnya dengan proyek-proyek pemerintah. Tapi sekarang yang dibicarakan orang, katanya usaha-usaha itu moneyloundring, cuci uang.”
Saya tidak bisa memberi jalan keluar. Hanya menasihatinya, “Harus sabar, sabar dan sabar. Perilaku buruk atau baik, akhirnya akan ada pembalasan.”
“Skenario kedua,” wanita juru bicara itu meneruskan, membuat aku tersadar dari lumunan. “Pembunuh bayaran profesional akan membuat cerita sendiri tentang kematian anak Ibu. Di negara kita ini tidak susah membuat skenario pembunuhan. Mau seperti Munir yang dihabisi di perjalanan, Udin yang jejaknya pun tidak ketahuan, atau Wiji Thukul yang tetap misterius. Semuanya tidak pernah jelas siapa dalang pembunuhan itu.”
Aku sempat menyesali datang ke kafe ini, memenuhi undangan wanita juru bicara itu. Tapi kalau saya tidak datang, masalahnya mungkin akan lebih rumit.
“Tapi tenang saja, Bu,” katanya sambil menjentikkan abu rokok. “Kedua skenario itu tidak akan berhasil bila Ibu mencegahnya. Bagaimana cara mencegahnya? Ibu cukup bicara di hadapan wartawan, bahwa anak Ibu itu nakal, tidak bisa berterima kasih, selalu melawan bila dinasihati, durhaka seperti Malin Kundang. Lebih bagus kalau Ibu mengatakannya sambil menangis.”
Aku tidak bisa mengatakan apapun. Sampai wanitu itu menyelesaikan kata-katanya, aku tidak mengatakan sepatahpun. Meski di dalam hati, begitu banyak yang ingin aku katakan.
**
Di kafe pinggir kota ini, menunggu wanita juru bicara itu, aku seperti Kunthi yang ragu untuk mendatangi Karna, si sulung yang disia-siakan. Kunthi tahu, cintanya kepada Karna tidak pernah berubah. Karna menempati bagian hatinya yang paling dalam. Bagian hatinya yang tidak bisa dimasuki siapapun, termasuk Pandawa. Meski kemudian pertemuan paling mengharu-biru itu terjadi. Kunthi menangis di hadapan anak sulungnya, meminta agar jangan membunuh Pandawa dalam Baratayudha. Permintaan paling menyakitkan seorang ibu kepada anak yang mencintai dan menghormatinya. Karena bagi Karna, janji tidak membunuh Pandawa, sama artinya dengan membunuh dirinya.
“Kunthi itu wanita yang dilematis,” kata ayah sekali waktu. “Hatinya porak-poranda karena kecintaannya kepada anak-anaknya.”
Baru kali ini aku menyesali apa yang pernah ayah katakan. Karena sambil duduk menunggu wanita juru bicara itu, aku tidak bisa memilih yang manapun. Bersandiwara di hadapan wartawan atau membela anakku meski ancaman itu bisa saja terjadi?
Wanita cantik yang selalu duduk di meja paling ujung kafe itu menghampiriku. Cangkir kopi pahit yang sudah dingin dibawanya serta.
“Mengapa kamu selalu memandangku?” tanyanya.
Aku terkejut. “Aku tidak memandangmu, aku sedang memandang diriku sendiri,” jawabku.
“Kamu terlalu membesar-besarkan persoalan. Cinta seorang Ibu itu tidak bisa digambarkan oleh cerita yang serumit bagaimanapun. Karena bila sebuah cerita bisa menggambarkan cinta seorang ibu, maka itu bukanlah cinta seorang Ibu.”
Aku tersentak. Seperti pernah mendengar kalimat begitu. Kalimat yang tersimpan rapi di dalam hati.
Wanita cantik itu berdiri, lalu melangkah meninggalkanku.
“Maaf, siapakah engkau ini?” tanyaku tiba-tiba.
Wanita cantik itu menghentikan langkahnya. Lalu memandang kepadaku. Katanya, “Aku adalah Kunthi Nalibrata.” ***




           


PILIHAN

KEMBANG BAKUNG

“Menggigil tapi badannya panas, Bu,” kata Mang Karta menceritakan keadaan anaknya, Siti. “Sejak dua hari yang lalu panasnya, Bu.” “Ke...

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni