Jejak Kata :

LEGENDA HARIMAU DAN SUMUR TUA

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Sabtu, 11 Juli 2015 | 10.36



Cerpen Yus R. Ismail, Lampung Pos, 18 Mei 2014
Ingin membaca cerpen ini dalam bahasa Sunda? Klik saja DI SINI

Senja jatuh begitu indah ketika saya sampai di sebuah pelataran.  Sinar matahari yang hangat menerobos dedaunan. Salur-salur cahaya seperti kain berwarna lembayung. Cahaya yang menempel di dedaunan, berkelap-kelip dipermainkan angin.
Inilah pelataran legendaris itu. Pelataran yang telah saya cari beratus-ratus tahun lamanya. Pelataran yang selalu ada di pikiran dan ujung kaki saya. Karena tugas saya dalam hidup ini hanyalah mencari pelataran ini. Ya, mencari sesuatu yang belum pernah ada yang menemukannya. Setidaknya, belum pernah ada yang mengabarkannya secara jelas. Karena setiap orang yang pernah menemukan pelataran ini, selanjutnya dia tersesat di dalamnya.
Tidaklah terlalu besar sebenarnya pelataran ini. Hanya sebesal dua kali lapangan bulutangkis. Saya menemukannya di sebuah lembah di dalam sebuah gunung yang sangat lebat. Entah berapa hari, mungkin berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya, saya menyusuri kelebatan gunung ini. Dan senja ini, saat senja yang indah ini, saya sampai ke pelataran yang selama ini dicari.
Tidak ada tanda-tanda khusus dari pelataran ini. Orang-orang yang pernah menceritakannya tidak pernah menceritakan tanda-tanda secara rinci. Anehnya, saya pun tidak pernah menanyakannya. Kami seolah yakin bahwa tanda-tanda fisik bukanlah hal yang pantas dibicarakan. Dan senja ini, saat senja yang indah ini, saya merasa yakin bahwa tempat yang dicari-cari itu sudah ditemukan.
Hati saya yang pertama merasakannya. Ketika masuk ke celah pohon yang seolah sebuah gerbang, hati saya merasa nyaman. Udara begitu sejuknya, sehingga yang merasakan kesegarannya bukan hanya paru-paru, tapi seluruh unsur dari tubuh merasakannya. Kesegaran itu menyelusup melalui pori-pori terkecil dari tubuh saya, lalu meresap sampai ke ujung rambut yang bertahun-tahun tidak pernah merasakan harumnya shampoo dan ujung kaki yang bertahun-tahun menahan berat beban perjalanan.
Pepohonan berbatang sebesar perut gajah berjajar seolah melindungi pelataran ini. Akar gantung sebesar tangan orang dewasa seperti tentara bergelantungan di tunggangan perangnya. Dedaunan seperti payung yang dianyam dari pepohonan di sekelilingnnya. Dan hamparan rumput begitu rapi, hijau, menyejukkan, memenuhi pelataran legendaris ini. Tidak perlu rasanya mempertanyakan siapa yang membersihkan tempat ini, karena seperti kepada tempat-tempat suci lainnya, alam ikut menjaganya.
“Di tengah pelataran itu, engkau akan menemukan sebuah sumur tua,” kata seseorang yang bertemu secara tidak sengaja di sebuah lembah, bertahun-tahun yang lalu. “Itulah sumur legendaris itu. Sumur yang akan membawamu ke dunia baru.”

**

Sumur legendaris itu ada di tengah-tengah pelataran. Seluruh temboknya yang melingkar dipenuhi dengan lumut. Warna hijau tua dan bersemu basah memantulkan suasana mistik. Pepohonan yang rapat dan lebat, akar-akar gantung,  baru terasa begitu sunyi. Mungkin telah berabad-abad mereka menyimpan sunyi. Matahari perlahan menarik cahayanya.
Beberapa jenak saya memandang sumur tua itu. Sumur yang muncul begitu saja dalam pandangan saya. Sumur yang membuat jantung berdetak lebih kencang. Ya, sejak masuk ke pelataran ini sumur itu tidak ada. Tidak terlihat. Tapi kemudian menjelma, perlahan. Barangkali sumur itu berada di dimensi lain, dimensi yang berbeda dengan indra penglihatan biasa. Pantas saja kalau begitu banyak pencari sumur legendaris itu tidak pernah menemukannya.
Saya mendekati sumur itu. Menengok ke dalam. Air yang bening itu seolah cermin. Tidak beriak sedikit pun. Betapa indah bercermin di sini. Ketenangan tiba-tiba meresap ke sekujur tubuh. Kemudian keharuan. Keharuan yang menggetarkan hati.
Dari kedalaman air sumur itu muncul bayangan banyak binatang berupa cahaya. Kelinci, gajah, kijang, babi hutan, ular,  banteng, jerapah, berbagai jenis burung, rusa, monyet, kuda, kerbau, dan binatang lainnya. Mereka menatap ke arah saya, tersenyum, dan melambai-lambaikan kakinya. Seperti karnaval, pikir saya.
Hampir saja saya terjengkang ketika suara aum harimau begitu keras menggetarkan dinding sumur. Bayangan binatang berupa cahaya yang seperti sedang berkarnaval itu terperanjat, lalu lari lintang pukang ke segala arah. Harimau yang perkasa itu muncul. Dia tampak marah.
“Aku memang harimau yang marah. Marah karena tidak mengerti kekejaman yang dilakukan kalian, hai Manusia!” Harimau itu menunjuk ke arah saya dengan cakarnya. Tentu saja saya terkejut, mundur satu langkah. “Aku adalah saksi hidup ketika manusia datang membawa bencana….”
Di cermin air sumur itu bermunculan banyak bayangan harimau. Mereka berburu, bermain, berkumpul. Lalu datang sekelompok manusia membawa senapan. “Mereka menembaki kedua orang tuaku dan saudara-saudaraku. Bagi kami, membunuh adalah jalan untuk hidup. Kami membunuh untuk makan. Tapi manusia tidak! Mereka membunuh karena mampu. Banyak saudara kami dibunuh, dikuliti, dan ditelantarkan. Manusia membunuh untuk memperlihatkan kemampuannya. Sejak itu aku adalah pembawa dendam. Aku bunuh siapa pun yang mendekat!”
Di cermin air sumur bermunculan bayangan binatang yang berlari ketakutan, memelas, mengaduh, dan akhirnya menjerit menjelang kematiannya. Harimau itu mengaum, menerjang, mencabik siapa pun yang ditemuinya.
Lalu muncul gajah yang berkata, “Karena siapa pun tidak ada yang sanggup menghentikan harimau, maka seluruh binatang penghuni hutan membuat kesepakatan. Mereka akan menyerahkan satu nyawa setiap hari asal harimau tidak membabibuta. Harimau sepakat. Setiap hari, meski tidak lapar, dia bisa melampiaskan dendamnya.”
Lalu muncul kelinci yang berkata, “Sampai pilihan mengerikan itu jatuh kepada saya. Tentu saja saya sangat ketakutan. Tanpa dosa, tanpa sebab, harus menanggung kematian yang tidak dikehendaki. Siapa yang tidak ngeri ketika tahu nyawa terancam dengan percuma?”
Kelinci tersenyum, lalu melanjutkan ceritanya, “Pertolongan Tuhan itu datang ketika di perjalanan saya menemukan sebuah sumur. Saya berkaca. Bayangan itu seolah mengatakan apa yang mesti saya lakukan.”
Kelinci itu lalu bertemu harimau. Kata kelinci, “Maafkan saya datang terlambat, harimau yang gagah. Saya ini kelinci yang kecil, jadi sebenarnya kami datang berdua dengan adik saya. Tapi di tengah jalan kami dicegat pencuri. Dan adik saya menjadi korban.”
Harimau yang seluruh tubuh dan jiwanya telah dirasuki amarah itu tidak sempat berpikir. Begitu mendengar berita menghina itu, dia langsung menunjukkan amarahnya dengan mengaum berkali-kali. Kelinci tentu saja bergetar seluruh badannya. Tapi nasibnya tetap diserahkan kepada pikiran jernihnya.
“Tunjukkan kepadaku di mana pencuri itu berada!”
Kelinci berjalan dengan kaki yang bergetar. Di depan sumur tempat tadi dia berkaca dia berhenti. “Ke sumur inilah adik saya diseret.”
Harimau segera melongokkan kepalanya ke dalam sumur. Lalu dia mengaum ketika dilihatnya ada harimau besar di dalam sumur. Tanpa berpikir, harimau yang diliputi amarah itu mengaum berkali-kali, lalu meloncat ke dalam sumur, menerjang musuhnya, menerjang amarahnya.
Bayangan kelinci dan harimau itu lalu menghilang. Sunyi perlahan merayap di dinding sumur, lalu ke rerumputan, ke pepohonan, dan akhirnya memasuki pori-pori tubuh saya. Sunyi menyusuri hati yang paling dalam.*1

**

“Jadi… hanya seperti itu isi Legenda Harimau dan Sumur Tua yang terkenal sejak berabad-abad yang lalu itu?”
“Seperti itu yang saya dapatkan, Tuanku.”
“Legenda yang banyak dicatat orang suci di ribuan kitab kesejatian hidup itu… hanya dongeng anak-anak?”
“Begitulah adanya, Tuanku. Tapi itu bukan dongeng anak-anak, melainkan dongeng kesejatian kemanusiaan.”
“Pengawal… tangkap orang yang berbohong ini! Umumkan kepada seluruh rakyat, siang ini akan dihukum gantung orang yang bicara bohong tentang legenda suci yang sejak berabad-abad lalu kita hormati!”
Raja yang berangasan itu marah. Dia cepat berdiri dan berlalu.
Siang itu juga saya diseret ke alun-alun. Sepanjang jalan ribuan orang memadati pinggir jalan. Ada yang naik ke gedung-gedung, tembok-tembok, pepohonan. Ketika langkah pertama saya menginjak jalan, ratusan atau mungkin ribuan benda dilemparkan orang-orang. Telur busuk, tomat busuk, mentimun busuk, bangkai tikus, tahi anjing, tanah  comberan, dan entah apa lagi, semua melayang mengarah ke tubuh saya.
Tapi saya tidak merasakan itu semua. Hati saya hanya tertuju kepada cahaya yang melengkung di langit seperti pelangi, cahaya yang menjadi jalan orang-orang yang menari indah dan berpuisi, orang-orang yang sudah merasakan indahnya sumur legendaris itu, cahaya yang kemudian dititi harimau beserta para sahabatnya yang tiba-tiba menjadi begitu dekat dengan hati saya. Mereka tersenyum menyambut saya. “Meloncatlah, meloncatlah ke dalam sumurmu, maka Engkau akan merasakan betapa indahnya hidup,” kata mereka.
Saya melihat lubang tali gantungan itu seperti sumur yang memancarkan cahaya.

**
                                                                      


Catatan:
*1. Dongeng harimau yang menerkam amarahnya, kesalahannya, itu diambil dari kisah Jalaludin Rumi yang ditulis kembali oleh Abdul Rahman Azzam dalam buku Untaian Kisah Menawan dari Matsnawi Rumi (The Kingdom of Joy).

LUKISAN

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Jumat, 10 Juli 2015 | 10.57


         Tribun Jabar, 8 Februari 2015


Sepasang kekasih itu berpisah saat senja begitu indah. Mereka sedang menyusuri pemandangan alam pedesaan dengan berboncengan motor. Melihat warna jingga matahari menjadi warna latar pesawahan dan kelak-kelok sungai. Di sebuah pasir mereka berhenti. Gadis berambut panjang bergaya di ujung tanah, siap untuk difoto. Di bawah jurang menganga sangat dalam. Tapi di seberang tanah itu pemandangan mahaindah.
“Ayo ambil gambarnya, buat kenang-kenangan,” kata sang gadis.
Lelaki itu membetulkan lensa dan diapragma kameranya. Belum juga kamera diarahkan, sang gadis terkejut karena di dekat kakinya ternyata ada ular kecil. Dia menjerit dan meloncat ke belakang. Saat itulah dia terantuk batu dan melayang ke dalam jurang.
Peristiwa itu yang bertahun-tahun tidak bisa diterima lelaki itu. Dia mengutuk dirinya sendiri, mengapa membiarkan peristiwa itu terjadi. Dia tidak sadar, sebagai manusia tidak ada yang bisa diketahui apa yang akan terjadi semenit, bahkan sedetik, kemudian. Karena masa depan adalah rahasia.
Setiap hari lelaki itu menatap langit. Gumpalan awan selalu bergerak terbawa angin. Di gumpalan awan itu dia selalu melihat kekasihnya. Kekasihnya yang sedang tersenyum. Kadang seperti yang ingin memeluknya karena kangen. Kadang melambai-lambaikan tangan dengan wajah sedih dan airmata mengalir.
Lelaki itu tidak pernah kuat memandang gumpalan awan itu lama-lama. Karena perasaan dia sendiri akan berantakan. Kadang ikut bersedih, menangis yang ditahan, kadang ikut tersenyum. Bagaimana rasa rindu ini bisa dituntaskan bila tanpa ada tubuh untuk melampiaskannya? Karenanya kalau sudah diharu-biru seperti itu dia tidak pernah kuat lama memandang gumpalan awan.
Orangtuanya, saudara-saudaranya, sahabat-sahabatnya, dan kenalan lainnya, sudah sering mengajaknya pergi atau melakukan kegiatan apa saja agar lelaki itu melupakan peristiwa sedih itu. Tapi lelaki itu tidak juga bisa melupakan kekasihnya. Setiap hari dia kangen untuk menatap gumpalan awan, sendirian.
**

Suatu hari lelaki itu membeli kanvas besar dengan ukuran pigura 3 X 2 meter. Sejak kecil dia sudah diajari melukis oleh bapaknya yang memang seorang pelukis. Kanvas itu disimpannya di tengah rumah. Rumah kecil tipe 22 miliknya sendiri di perumahan pinggir kota. Dia tinggal sendiri di rumah itu sejak bertahun-tahun yang lalu.
Mulailah dia melukis. Sejak bangun tidur sampai tidur kembali, yang dia kerjakan hanya melukis. Kadang ditatapnya lukisannya lama sekali. Kemudian kuasnya bekerja lagi. Setiap sapuan kuasnya selalu dibarengi dengan perasaan. Seolah yang menyapukan kuas itu bukan tangannya, tapi hatinya.
Sehari dua hari, seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, sampai entah berapa lama, begitu terus yang dia kerjakan. Selama itu dia tidak pernah melihat langit, gumpalan awan, matahari, rembulan, bintang-bintang, dan pemandangan yang biasa dilihatnya. Tapi hati lelaki itu senang. Dia mengerjakan sesuatu yang disukainya, dicintainya.
Suatu hari lukisan itu selesai. Lelaki itu sangat senang. Dia menatapnya dari berbagai sudut. Akhirnya dia memandang lukisan itu tepat di depan wajah kekasihnya. Sejak bangun sampai tidur kembali yang dikerjakannya hanya memandang lukisan itu. Makan-minum, mandi, pergi, hanyalah selingan. Kadang senyumnya mengembang, kadang merintih, suara tangis dan tertawanya kadang terdengar ke rumah tetangga. Tapi siapapun sudah memakluminya.
Entah kapan mulainya, lelaki itu merasakan nikmat yang luar biasa ketika dia bersila di hadapan lukisan kekasihnya, memejamkan mata, dan menghirup perlahan selama paru-parunya bisa menampung. Dengan begitu, dia seperti bisa menghirup apa yang ada di dalam lukisan itu, ruh dari lukisan itu.
Dan akhirnya lelaki itu mengeluarkan napasnya perlahan dengan mata terpejam, seolah apa yang ada di dalam dirinya ingin masuk ke dalam lukisan kekasihnya. Setiap hari begitu saja kerja lelaki itu. Menghirupnya semakin sebentar. Dan melepaskan napasnya semakin lama dan semakin bertenaga. Hingga wajahnya sering menjadi kemerahan karena dialiri banyak darah.
Suatu hari, wajah yang sudah merah itu berubah menjadi pias, semakin pias, semakin pias, kemudian memutih, semakin memutih, kemudian bening, semakin bening, semakin bening. Dan akhirnya lelaki itu menghilang. Tubuhnya seperti menjadi angin yang tertiup ke dalam lukisan kekasihnya. Peninggalannya hanya setumpuk pakaian yang teronggok di depan lukisan.
**

Sebulan kemudian tetangganya mendobrak rumahnya. Karena katanya mereka menjadi curiga, kenapa di rumah lelaki itu tidak terdengar lagi orang tertawa atau menangis atau sedang mengerjakan sesuatu. Nyatanya, di rumah itu hanya ada sebuah lukisan besar dan seonggok pakaian di depannya.
Lukisan itu kemudian dibawa ke rumah tetangga itu. Dia sangat menyukai lukisan itu. Karenanya ketika keluarga lelaki itu datang, dia memohon untuk memiliki lukisan itu.
“Apapun yang ada di rumah saya boleh diambil, Pak, Bu, asal saya memiliki lukisan ini. Saya sangat menyukainya. Perasaan saya menjadi terharu setiap memandangnya,” kata si tetangga itu.
“Kalau memang menyukainya, ambil saja, tidak usah dibayar oleh apapun,” kata ayah lelaki itu. Setelah membereskan apa yang ada di dalam rumah, keluarga pelukis itu pun pergi.
Di dalam lukisan itu ada gambar seorang gadis. Seorang gadis yang sedang ditatap kekasihnya. Anehnya, setiap waktu lelaki yang memandang kekasihnya itu berpindah-pindah tempat. Kadang gambar lelaki yang menatap kekasihnya itu ada di sebelah kanan lukisan. Lain waktu sudah ada di sebelah kiri. Lain waktu ada di sebelah atas lukisan. Kadang juga ada di bawah lukisan. Seandainya orang-orang tahu, gambar lelaki yang menatap kekasihnya yang suka berpindah-pindah tempat itu, adalah lelaki yang kehilangan kekasihnya yang melukis lukisan itu yang kemudian menghilang karena ruh dirinya sudah ditiupkan ke dalam lukisan itu....
Bila diperhatikan secara seksama, minimal setahun sekali, gambar lelaki yang menatap kekasihnya yang suka berpindah-pindah tempat itu, semakin menua. Entah tahun ke berapa, warna rambutnya pun berubah dari hitam menjadi ada goresan putihnya yang semakin banyak. Dan entah tahun ke berapa gambar lelaki yang memandang kekasihnya itu menghilang dari lukisan. Menghilang untuk selamanya. Mungkin meninggal.
Sementara yang memiliki lukisan itu entah sudah berpindah berapa puluh orang. Sekali waktu seorang kenalan datang ke rumah tetangga lelaki itu yang memiliki lukisan. Dia menyukai lukisan itu. Dia tidak mau pulang. Dia rela mengambil semua tabungannya di atm asal bisa membawa pulang lukisan itu. Tabungannya akhirnya diserahkan kepada panti asuhan dan dia membawa lukisan itu. Kenapa demikian, karena tetangga pemilik lukisan itu juga tidak mau menjual lukisannya.
Begitulah terus terjadi, bertahun-tahun. Siapa yang menyukai lukisan itu tidak akan mau pulang sebelum diijinkan membawa lukisannya.
Dan saya… saya adalah seorang kolektor dan penikmat lukisan. Modal saya lumayan banyak karena saya seorang pengusaha nasional. Tapi sudah bertahun-tahun saya mengejarnya, lukisan itu belum juga saya dapatkan. Barangkali persoalannya sepele, karena di hati saya ada setitik keinginan untuk melelang lukisan itu di balai lelang Christie. ***  

Pamulihan, 2 Mei 2014
Dongeng buat Rudi St Darma.

Alamat Media

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Kamis, 09 Juli 2015 | 17.49

Ini sebagian media (koran, tabloid, majalah) yang menerima kiriman cerpen.

JAWA POS = Puisi + Cerpen + Esai: ari@jawapos.co.id, ariemetro@yahoo.com 
MEDIA INDONESIA = Cerpen + Esai: cerpenmi@mediaindonesia.com


REPUBLIKA = Puisi + Cerpen + Esai: sekretariat@republika.co.id (SUDAH GANTI)
SUARA PEMBARUAN = Cerpen: koransp@suarapembaruan.com (tanpa puisi + esai) (TIDAK TERBIT LAGI)


PIKIRAN RAKYAT = Puisi + Cerpen + Esai: khazanah@pikiran-rakyat.com 
LAMPUNG POST = Puisi + Cerpen + Esai:
lampostminggu@yahoo.com
KUPANG POS poskpg@yahoo.com
KORAN TEMPO = Puisi + Cerpen: ktminggu@tempo.co.id, Esai: kelik@tempo.co.id 


SUARA KARYA = Puisi + Cerpen + Esai: amiherman@yahoo.com, redaksisk@yahoo.com (TIDAK TERBIT LAGI)


SUARA MERDEKA = Puisi + Cerpen + Esai: swarasastra@gmail.com 

JURNAL NASIONAL = Puisi + Cerpen + Esai: redaksi@jurnas.com, witalestari@jurnas.com, tamba@jurnas.com (TIDAK BERLAKU LAGI)


RIAU POS = Puisi: sajak_riaupos@yahoo.co.id, Cerpen + Esai: budaya_ripos@yahoo.com 
KEDAULATAN RAKYAT = Puisi + Cerpen + Esai: naskahkr@gmail.com,
jayadikastari@yahoo.com tlp. (0274) 565685
 jl P mangkubumi no 40-42 yogyakarta 55232 (Cernak lebih baik dikirim via pos)

RADAR SURABAYA = Puisi + Cerpen: radarsurabaya@yahoo.com, Esai: horizon@radarsby.com
BANJARMASIN POST = Puisi + Cerpen + Esai:
hamsibpost@yahoo.co.id, tlp (0511) 3354370 ext redaksi: 402-405

SINAR HARAPAN = Puisi + Cerpen: blackpoems@yahoo.com, redaksi@sinarharapan.co.id (tanpa esai) (TIDAK BERLAKU LAGI)


ANALISA = Puisi + Cerpen + Esai:
rajabatak@yahoo.com, ruang cerita anak: Taman Riang (dongeng)
Telp redaksi: (061) 4156655, tata usaha: (061) 4154711

PADANG EKSPRES = Puisi + Cerpen + Esai: yusrizal_kw@yahoo.com,
cerpen_puisi@yahoo.com , redaksi@padangekspres.co.id, telp

SUMUT POS = Puisi + Cerpen + Esai:
muram_batu@yahoo.com (hari puisi)
BALI POST = Cerpen + Esai: balipostcerpen@yahoo.com, redaksi@balipost.co.id, Puisi: kirim lewat pos ke alamat: Umbu Landu Paranggi, Jln. Kepundung 67A Denpasar-Bali
MINGGU PAGI = Puisi + Cerpen + Esai: we_rock_we_rock@yahoo.co.id 
KORAN MERAPI = Puisi + Cerpen + Esai: budaya.merapi@yahoo.co.id 
JOGLO SEMAR = Puisi + Cerpen + Esai: harianjoglosemar@gmail.com
SOLO POS = Puisi + Cerpen + Esai: redaksi@solopos.com, redaksi@solopos.co.id 
TRIBUN JABAR = Cerpen: hermawan_aksan@yahoo.com, cerpen@tribunjabar.co.id (tanpa puisi + esai) 
HALUAN = Puisi + Cerpen + Esai: haluanminggu@gmail.com, haluanpadang@gmail.com 
della_syahni28@yahoo.com (Maidella Syahni). Haluan padang.

SINGGALANG = Puisi + Cerpen + Esai: a2rizal@yahoo.co.id, hariansinggalang@yahoo.co.id


MAJALAH HORISON = Puisi + Cerpen + Esai: horisonpuisi@gmail.com, horisoncerpen@gmail.com (TIDAK TERBIT LAGI)


MAJALAH BASIS = Puisi + Cerpen + Esai: basismajalah@yahoo.com
MAJALAH SAGANG = Puisi + Cerpen + Esai: puisisagang@yahoo.co.id, cerpensagang@yahoo.co.id, eseisagang@yahoo.co.id
MAJALAH SABILI = Puisi + Cerpen + Esai: elkasabili@yahoo.co.id 


MAJALAH ANNIDA = Cerpen + Esai: majalah_annida@yahoo.com (tanpa puisi) (Majalah cetak TIDAK TERBIT LAGI)

MEDIA KHUSUS CERPEN

TABLOID NOVA = nova@gramedia-majalah.com


MAJALAH STORY = story_magazine@yahoo.com (TIDAK TERBIT LAGI)


MAJALAH KARTINI = redaksi_kartini@yahoo.com
MAJALAH FEMINA = kontak@femina-online.com, kontak@femina.co.id 
MAJALAH CEMPAKA = sontrotku@gmail.com
MAJALAH SEKAR = sekar@gramedia-majalah.com
MAJALAH PARAS = majalahparas@yahoo.com
MAJALAH CAHAYA NABAWIY = cahayanabawiy@gmail.com


MAJALAH JOE FIKSI = topderings@gmail.com (TIDAK TERBIT LAGI)


MAJALAH SERAMBI UMMAH = serambi_ummah@yahoo.co.id

PILIHAN

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni