Jejak Kata :

Cerpen Tentang "Menulis Cerpen"

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Rabu, 05 Juni 2013 | 11.41


Pangantar ke Alam Cerpen

Apa sebenarnya cerpen? Kalau ada pertanyaan seperti itu, jawabannya biasanya seperti ini: Cerpen adalah sebuah karangan fiksi, bukan peristiwa nyata. Panjangnya biasanya antara empat sampai delapan halaman, kira-kira 5.000 sampai 10.000 karakter. Dan seterusnya....”
Nah, sekarang kita jangan membicarakan cerpen seperti itu. Sepanjang sejarahnya, cerpen hidup di lembaran majalan atau koran harian. Tentu panjang pendeknya juga disesuaikan dengan kebutuhan atau kebijakan majalah atau koran itu. Meski tidak ada yang melarang menulis cerpen sepanjang seratus halaman atau hanya seperempat halaman.
Mau panjang atau pendek juga sebuah cerpen sebenarnya tidak masalah. Karena yang penting yang panjang harus terbayang-bayang yang pendek harus menyentuh hati dan pikiran. Nah, kalau sudah seperti itu, itu cerpen bisa dikatakan “berhasil”.
Begitu juga dengan persoalan, apakah cerpen itu boleh “mengada-ada” atau cerita biasa saja, boleh pengalaman sendiri atau tidak, boleh tokohnya banyak atau tidak, boleh peristiwanya selama sehari atau dua hari atau seminggu atau sebulah atau setahun atau lebih lama lagi.
Sudahlah, hal seperti itu sudah banyak dibahas. Saya lebih suka berkelana memandang dunia cerpen secara bebas. Jangan terikat oleh harus begini jangan begitu. Karenanya membahasnya juga jangan seperti yang biasa. Saya mencoba menulisnya dalam bentuk cerpen. Jadi beberapa cerpen tentang menulis cerpen.
Semoga mendapat kelancaran seperti yang dibayangkan. Amin


PEMBUANG SAMPAH

“Buanglah sampah pada tempatnya,” kata bapaknya ketika ia masih balita. Berpuluh-puluh tahun kemudian kalimat itu selalu berbisik-bisik di telinganya. Kadang seperti angin yang sudah terasa dari jauhnya, dari benua atau lautan atau pulau lain yang sempat disinggahinya, karena hakekat hidup bagi angin adalah mengembara. Kadang begitu lembut menyisir pipi, mengeringkan keringat saat ia beristirahat setelah bekerja seharian, atau menyusup ke seluruh tubuh saat dihirup dalam-dalam. Kadang seperti gerimis membasahi tanah kering atau menghijaukan daun yang seharian dikotori debu dan asap knalpot, atau meresapkan dingin ke pori-pori kepala saat ia sengaja membiarkan diri ditimpa gerimis.
Karena itu, ketika orang-orang sibuk melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahaan besar, ia sudah yakin dengan pilihannya, sebagai pembuang sampah. Setiap hari ia mengumpulkan sampah-sampah yang berceceran di jalan-jalan di halaman perkantoran di lapangan di pasar dan di manapun. Ia mengumpulkan sampah-sampah itu di dalam gerobak, mengangkutnya ke pembuangan akhir, memilah-milah antara sampah yang bisa diurai dan yang tidak.
“Kenapa mau jadi pembuang sampah?” kata temannya suatu hari.
Ia tersenyum.
“Kenapa tidak jadi yang lain saja. Jadi wartawan, pegawai negeri, pedagang, atau apalah. Kenapa jadi pembuang sampah. Apa kau betah jadi pembuang sampah?”
Ia masih tersenyum. Dihirupnya udara dalam-dalam. Dirasakannya kelegaan masuk ke dalam pori-pori tubuhnya, ke elemen-elemen terkecil dari sel-selnya. Dan seperti hari-hari yang lalu, saat temannya mampir ke rumah sederhananya (temannya menyebut: gubuk), ia akan berujar: “Saya menikmati jadi pembuang sampah.”
**
Pukul 4 pagi ia bangun. Menyiapkan sarapan dan bekal untuk makan siang. Selesai sholat subuh ia pergi dengan menggusur gerobak sampahnya. Ia sebenarnya punya wilayah kerja tersendiri, seperti yang diperintahkan pemerintah kota. Tapi ia bisa pergi ke mana saja. Membersihkan sampah-sampah yang berserakan di jalanan di pasar di sungai di perkantoran di lapangan dan di tempat lainnya yang ia lalui. Kadang ia menangkap sampah yang dilemparkan orang dari dalam mobil dari jendela kantor dari dapur rumah dan dari manapun yang melemparkan sampah.
Orang-orang tidak pernah memperdulikannya. Seolah sudah suatu kewajaran; ketika mereka membuang sampah, maka harus ada yang memungut atau menangkap, dan mengangkutnya ke pembuangan akhir. Ia sendiri tidak pernah mengeluh dengan perilaku orang yang sembarangan membuang sampah. Dia akan memungut atau menangkap sampah yang dilemparkan, tanpa berkata sepatahpun. Kalaupun ada yang memperhatikan, ia hanya mengangguk dan tersenyum.
 Kadang ada ibu-ibu yang memberinya bungkusan. Ia akan mengucapkan terima kasih dan tersenyum. Biasanya, kalau tidak baju bekas, bungkusan itu adalah makanan. Ia akan memakai baju pemberian itu esok harinya, tanda terima kasih kepada pemberi. Kalaupun makanan yang sudah basi dan tidak layak lagi dimakan, ia akan membuangnya bersama sampah yang lain. Ia tidak merasa terganggu dengan itu.
Yang uring-uringan malah temannya yang datang hampir seminggu sekali ke rumah sederhana pembuang sampah itu.
“Mengapa sih begitu betah jadi pembuang sampah? Apa kamu tidak terhina saat orang-orang membuang sampah begitu saja, saat diberi baju bekas atau makanan sisa. Kemajuan sudah melesat sampai ke langit, tapi kamu masih betah jadi pembuang sampah. Bolehlah kalau kamu buta hurup, tanpa keterampilan apapun, dan tanpa modal sepeserpun. Tapi kamu teman sekolahku, berijazah, bisa bersaing.”
“Tapi saya dibayar untuk jadi pembuang sampah.”
“Dibayar? Apa yang kau dapatkan dari membuang sampah? Gubuk seperti ini, makanan kurang gizi yang mesti ditanak sendiri, dan tanpa fasilitas apapun.” 
“Bukan bayaran seperti itu.”
“Lalu?”
“Saya menikmati jadi pembuang sampah.”
Teman si pembuang sampah itu pergi begitu saja. Dia jengkel. Ditancapnya gas mobil dalam-dalam. Karena itu entah kunjungan yang ke berapa kalinya. Entah ajakan untuk jadi apa lagi setelah profesi wartawan, pedagang, pegawai negeri, marketing, public relation, selalu ditolak. Dia merasa memperhatikan temannya. Ingin mengangkat derajat temannya. Tapi yang diperhatikan tidak merespon yang semestinya. Tetap teguh menjadi pembuang sampah. Omong kosong seperti apa lagi seperti itu?   
**
Pembuang sampah itu sebenarnya maklum dengan kejengkelan temannya. Tapi pekerjaan harus dipilih. Dipilih yang memberi kenikmatan kepada diri sendiri. Waktu boleh melaju, peradaban boleh berubah, tapi kenikmatan selalu sama. Selalu muncul dari diri setiap individu. Individu yang jujur, yang pencinta, yang sabar, dan yang ikhlas.
Ia ingat bagaiman bapaknya mengajarkan menikmati hidup seperti itu. Setiap sore mereka berjalan-jalan, mengelilingi jalan-jalan di kota, masuk ke gang-gang dan perkampungan. Mereka membawa plastik besar, memunguti sampah yang berserakan dan membuangnya ketika mereka pulang.
“Akan selalu banyak sampah menumpuk dan bau busuk, tapi kita harus selalu mengerjakan ini. Meski hanya satu jengkal yang bisa kita bersihkan, tapi memberi kebaikan bagi kehidupan adalah kenikmatan,” kata bapaknya.
Waktu itu ia baru 5 tahun. Bapaknya biasa pergi pagi dan pulang menjelang sore. Setelah mandi dan makan sekedarnya, bapaknya akan mengajak ia berjalan-jalan. Ia tidak tahu apa pekerjaan bapaknya. Suatu malam ada mobil berhenti di depan rumah. Lima orang berseragam tentara menggedor pintu, membawa bapaknya dengan paksa. Dua minggu kemudian ada lagi mobil berhenti di depan rumah. Bapaknya terhuyung-huyung mencapai pintu. Ia terpana mendapatkan bapaknya sudah berubah. Wajahnya lebam, darah mengering di sekujur tubuhnya, luka menganga di mana-mana dan sebagian masih mengucurkan darah. Tapi bapaknya tersenyum.
“Bapak kenapa?”
“Disiksa.”
“Oleh siapa?”
“Oleh para pembuang sampah sembarangan.”
“Kenapa?”
Bapaknya tersenyum. Ia tidak bertanya lagi. Tapi hari-hari berikutnya, setelah bapaknya sembuh dan mengajaknya jalan-jalan dan memunguti sampah yang berserakan, ia mulai merasakan bagaimana menakjubkannya menjadi pembuang sampah. Bapaknya selalu tersenyum setiap memungut sampah yang begitu busuk. Kadang ia juga melihat air meleleh membasahi pipi bapaknya. Dan ia merasakan sore begitu lain dari biasanya. Angin berhembus menyelusup ke seluruh elemen tubuhnya, menggetarkan daun-daun syarafnya yang mulai memucuk. Cahaya matahari yang mulai menjingga menerobos celah pori-porinya, menerangi seluruh bagian tubuhnya, dan menjadikannya seperti bulan yang memantulkan cahaya begitu sempurna. 
Suatu malam bapaknya ada yang menjemput lagi dan tak pernah pulang lagi. Tapi ia tidak lagi mempertanyakannya. Ia membantu ibunya berjualan goreng-gorengan, bersekolah, dan sorenya melanjutkan kebiasaan berjalan-jalan sambil memunguti sampah tanpa berkata sepatah pun. Dan setelah ia dewasa, setelah ibunya meninggal, ia mendaftarkan diri bekerja di dinas kebersihan.
Temannya pernah datang sekali lagi. Dia mengajak si pembuang sampah bekerja di kantornya. Tapi ia tetap menolaknya.
“Atau kalau kau menginginkan sesuatu, bicaralah. Aku akan memberikannya,” kata temannya itu. Sebagai pekerja di sebuah BUMN yang karirnya melesat, dia memang bisa memberikan banyak fasilitas. Banyak orang yang datang kepadanya, mengajukan proposal, meminta dipercaya mengerjakan proyek-proyek tertentu, atau sekedar meminta sumbangan. Dan dia begitu prihatin ketika mendapatkan seorang sahabat terbaiknya, bekerja sebagai pembuang sampah. Begitulah awal dia selalu datang ke gubuk si pembuang sampah itu.
“Saya hanya menginginkan satu hal saja dari kamu, tolong jangan datang lagi ke sini.”
“Kenapa?”
“Sesungguhnya kamu membawa kebimbangan meski saya sudah begitu yakin dengan kenikmatan ini. Kita masih bisa berteman, justru kalau tidak saling mengusik.”
“Kamu tidak ingin sekedar bahan bangunan untuk membuat gubuk ini lebih permanen, atau televisi untuk hiburan, atau sedikit tabungan untuk menjamin hidupmu di masa depan, atau...”
Ia tersenyum.
“Atau kamu tidak punya keinginan lagi? Lihat di rumahku, mobil ada empat, pembantu siap melayani apa maunya kita, makanan bergizi tinggi, mau hiburan ke manapun tinggal pergi. Aku sudah menjadi eksekutif sekarang. Kalau aku bisa lebih dekat dengan menteri, tidak mustahil setahun lagi aku jadi direktur utama. Akan semakin banyak lagi uang, punya villa di Puncak, liburan ke mancanegara, rekening yang tidak terkirakan, dan wanita-wanita...”
“Saya sudah merasa cukup dengan ini. Bagaimana saya harus menerima pemberian orang yang masih kekurangan seperti kamu?”
Teman si pembuang sampah itu pergi begitu saja. Dia tidak mengerti, masih ada kelucuan hidup di zaman yang serba bersaing ketat ini. Dia mencoba menghilangkan ingatan kepada si pembuang sampah sahabatnya itu. Tapi sesekali, ketika berangkat ke kantor, dia masih melihat temannya itu berjalan dengan tenang sambil menggusur gerobak, memunguti sampah yang ditemuinya. Seringkali dia ingin menginjak rem, memanggil temannya itu sekedar untuk berbincang. Tapi yang terinjak biasanya gas. Dia semakin sering merasakan dikejar-kejar oleh sesuatu yang tidak jelas. Sesuatu yang mendorongnya untuk melakukan apapun. Dia merasa, karena frustrasi itulah dia datang ke tempat temannya yang menjadi pembuang sampah. ***

 Cisitu, 17 Maret 2002  

Pernah dimuat Republika, tanggalnya tidak ingat, dokumentasinya tidak punya


NAMAKU BUDIMAN

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Selasa, 04 Juni 2013 | 22.01

Pikiran Rakyat, 31 Januari 1993

Namaku Budiman. Sederhana dan enak didengar. Kata bapak, sengaja aku diberi nama itu biar menjadi manusia yang suci, suka menolong, memberikan penerangan bagi yang kegelapan, dan sejenisnya.
Dan apa yang diharapkan dari namaku itu sedikitnya sudah menjadi kenyataan, setidaknya anggapan masyarakat kampungku seperti yang diceritakan Nur lewat surat-suratnya. Dua bulan sekali aku selalu mengirim surat dan uang ke kampungku. Kalau kemudian Nur menyatakan ada kebutuhan lain, atau ada pesan dari warga kampung yang lainnya, lewat surat balasan tentunya, aku akan mengirimnya dua bulan berikutnya.
Dalam surat terbaru, Nur menyatakan bahwa Kang Dahlan yang aku bantu pembuatan mesjidnya dan Pak Dasli atas nama kelompok petani yang aku belikan semprotan hama, mengucapkan terima kasih. Mereka menanyakan kapan aku pulang, sekedar menengok kampung halaman. Aku tahu, permintaan itu bukan hanya datang dari Kang Dahlan dan Pak Dasli atas nama warga kampung, tapi terlebih adalah permintaan Nur, istriku, dan emak. Mungkin emak dan Nur telah bosan memintaku pulang sehingga permintaan warga kampung dijadikan alasan permintaannya.
Sebenarnya setiap Nur dan emak memintaku pulang lewat suratnya, aku selalu berniat pulang. Aku rindu Nur, istriku yang selama beberapa tahun tak pernah kutengok. Juga emak yang waktu aku kecil mengajariku ngaji dan selalu mendongeng setiap malam sampai aku tertidur di pangkuannya.
Masih ingat aku bagaimana emak bercerita tentang kancil yang cerdik dan buaya yang rakus, Sangkuriang yang sakti tapi mencintai ibunya secara salah dan Malinkundang yang tidak mengakui orangtuanya. Setiap mengingat masa-masa itu, baru aku rasakan, betapa sayangnya emak kepadaku. Demi aku, emak rela tidak kawin lagi, karena takut ayah tiri tidak menyayangiku. Padahal sejak ayah meninggal, aku tahu, banyak yang mendekati emak untuk dijadikan istrinya.
Tapi niat untuk pulang yang semula begitu menggebu, setelah tiba waktu pengiriman uang, selalu saja terhenti. Dan akhirnya aku hanya menulis surat yang menyatakan bahwa aku sehat-sehat saja dan tak sempat pulang, sibuk. Di akhir surat selalu aku tuliskan, siapa tahu dua bulan yang akan datang aku bisa pulang, aku rindu emak dan Nur.
Surat dan uang yang selalu aku kirim dua bulan sekali, dibawa oleh kurir kepercayaanku. Dia masih sekampung denganku. Namanya Junaedi.
Dari dialah aku banyak tahu perubahan di kampungku. Sawah-sawah dan kebun tumbuh subur. Setiap panen orang-orang menjual hasilnya ke kota kabupaten dan pulangnya mereka membawa kebutuhan sehari-hari. Beberapa keluarga, termasuk emak dan Nur, telah mempunya televisi. Jarak kampungku denga kota kabuten yang jauh, sehari penuh perjalanan, semakin dekat setelah jalan diperbaiki dan mobil hilir mudik ke sana. Setiap sore ibu-ibu melihat kuis atau telenovela. Malamnya, terutama malam Minggu, bapak-bapak melihat wayang golek di TVRI.
Menurut dia, kampungku telah berbeda jauh dengan waktu aku meninggalkannya. Waktu itu, kemarau panjang menyebabkan sawah dan ladang kekeringan. Persediaan makanan habis dan kelaparan mulai mewarnai kehidupan kampungku. Masih terbayang dalam benakku, kelaparan telah mengubah manusia menjadi binatang yang paling buas. Rebutan makanan yang tersisa seperti anjing diberi tulang belulang. Sebagian penduduk mulai makan makanan yang tidak biasa dimakan. Mereka manangkap kodok, ular, tikus, dan menebang pohon pisang untuk dimbil bonggolnya. Ayahku yang rela tidak makan demi aku dan emak, akhirnya meninggal.
Untungnya waktu itu bantuan dari kecamatan datang. Waktu orang-orang mengantarkan bantuan itu kembali ke kota kecamatan, aku ikut. Aku menjadi pembantu di salah satu keluarga pegawai kecamatan. Setelah setahun, aku pergi ke kota provinsi dan dengan gaji selama aku menjadi pembantu, aku dagang asongan di stopan, kemudian dagang bakso.
Dengan penghasilan yang aku kumpulkan, aku pulang kampung dan mendapat pujian dari warga kampung. Hal itu memang bisa aku pahami. Dari kampungku, mungkin baru aku seorang yang berani pergi jauh untuk mencari napkah dan pulang dengan mebawa keberhasilan. Sebagai orang yang berhasil, sudah tentu banyak yang ingin mengambil menantu kepadaku. Pilihanku jatuh kepada Nur, teman ngajiku sewaktu kecil dan mencari ikan-ikan mungil waktu sawah masih berair.
Setelah beberapa waktu menumpahkan kerinduan pada kampung halaman, aku kembali ke kota untuk mencari napkah. Banyak yang ingin ikut kepadaku, tapi aku katakan nantilah setelah aku berhasil. Aku hanya ditemani Junaedi, teman ngaji dan berlatih silat sewaktu kecil.
Setahun dua tahun pertama aku masih sempat pulang menengok Nur dan emak. Tapi setelah itu aku hanya bisa mengirim surat dan uang. Aku tak punya lagi keberanian untuk pulang.
“Emak dan Nur menanyakan, kenapa kau sudah setahun tak pulang-pulang?” kata Junaedi  sepulang dia mengirim uang ke kampung.
“Kamu bilang aku sibuk?”
“Ya, begitulah alasanku.”
Hanya segitu kami bercakap. Kami memang jadi jarang bicara banyak. Selain bertanya seperlunya, mengenai keadaan Nur, emak dan kampung, tak lagi ada yang mesti dibicarakan. Kami sama-sama kecewa dengan peristiwa demi peristiwa yang menjadikanku segan pulang kampung. Tapi semuanya mengalir apa adanya, tanpa kami merencanakannya.
Bermula dari perekonomian juga yang sanggup membakar napsuku. Waktu itu emak sakit. Aku perlu uang banyak untuk membayar perawatan emak di rumah sakit kota kabupaten. Uang tabunganku habis, karena setelah aku menikah dengan Nur, aku harus rutin mengirim uang. Aku tidak bisa lagi seperti dulu mengumpulkan uang sedikit-sedikit.    
Suatu malam, aku tak bisa membayar uang ‘keamanan’ yang biasa diminta oleh kelompok ‘penguasa’ daerah tempat aku mangkal. Aku bilang aku butuh uang banyak untuk mengobati emak yang sakit. Tapi para pemeras itu tak mau tahu. Roda dorongku ditendang sampai terguling. Mie bakso berserakan, mangkok banyak yang pecah, kompor menyala membakar rodaku karena minyaknya tumpah.
“Lihat tuh!” bentak si Cengos kepada pedagang-pedagang lainnya. “Nasib kalian tak akan berbeda dengan itu bila tak mau membayar uang keamanan! Ngerti?” Tiga orang temannya tersenyum sambil sesekali mengisap rokoknya.
Junaedi mencoba memadamkan api dengan air pencuci mangkok pedagang lain. Api itu padam. Tapi panasnya terlanjur membakar kehormatan dan napsuku. Aku hajar sekuatnya si Cengos sampai darah keluar dari hidung dan mulutnya. Tiga orang temannya mengepungku. Tapi semuanya bukan apa-apa bagiku yang sejak kecil telah dilatih silat dengan kekuatan luar dalam. Keempat pemeras itu babak belur dan pulang dengan merayap. Tapi napsuku masih belum reda, apalagi setelah melihat roda dorongku yang berantakan.
Malam berikutnya pemimpin keempat pemeras itu datang. Si Codet memandangku meremehkan, lalu meludah. Tentu saja napsuku yang masih menyala seperti yang diberi bensin. Si Codet aku terjang dengan jurus Harimau Menerkam Mangsa. Si Codet yang telah berpengalaman berkelahi itu akhirnya tak berkutik menghadapi gempuranku yang dibakar napsu. Dia babak belur. Hidungnya berdarah-darah, beberapa kali muntah waktu aku tendang perutnya. Anak buahnya tak ada yang berani melawanku.
Aku meminta uang pengganti roda dorong dan isinya. Dan untuk membeli harga diriku yang tersinggung, aku memeras mereka. Aku kirimkan uang hasil memeras itu untuk mengobati emak. Sejak itulah aku jadi pemeras para pemeras. Dan Junaedi kemudian jadi tangan kananku. Meski dia tak begitu setuju dengan pekerjaan baru itu, tapi dia tak punya kekuatan untuk menolak.
**
Namaku Budiman. Tapi kalau kalian datang ke sini, ke tempat kerjaku, jangan tanyakan nama itu. Anak buahku tak akan kenal nama itu, kecuali Junaedi yang kemudian suka dipanggil Edi Botak. Di sini aku biasa dipanggil si Badak. Kalau ada yang menodong, mencopet, katakanlah namaku, maka para penodong itu akan meminta maaf. Mereka adalah anak buahku yang setiap hari akan setor kepadaku.
Daerah kekuasaanku semakin luas setelah aku menumbangkan Joko Dodet, penguasa terminal, dan Herry Macan, penguasa pasar grosir. Hampir setengah kota sekarang aku kuasai. Aku disegani anak buahku. Tapi kekuasaanku seakan tak berarti setiap aku mendapat surat dari Nur dan emak.
Aku selalu tak bisa untuk melepaskan pekerjaan yang sekarang. Kembali menjadi pedagang bakso, artinya kembali diperas orang dan berpenghasilan seadanya. Dari mana aku mengirim uang yang banyak bagi Nur dan emak? Dari mana aku memberikan bantuan bagi warga desa yang membutuhkan sesuatu?
“Jadi pemeras mungkin yang terbaik bagi kita,” kata Junaedi suatu waktu. Aku mengangguk. Tapi aku yakin, Edi pun sama-sama tak yakin dengan pilihannya. Jadi pemeras telah membuatku segan untuk pulang ke kampung.
Dua tahun yang lalu, sewaktu Idul Fitri, aku pulang. Seluruh warga kampung menyalami dan mengagumiku. Di mesjid, setelah sholat, Pak Dahlan atas nama warga kampung, mengucapkan selamat kepadaku. Mereka bangga punya warga sehebat dan sedermawan aku.
Di rumah Nur keheranan ketika melihat tatto di tangan dan dadaku. Aku katakan saja bahwa itu jimat yang diberikan guruku di kota. Nur percaya dan tak lagi bertanya. Tapi rasa percayanya itu justru yang menyiksaku. Sore-sore berikutnya aku mendengarkan anak-anak membaca Al-Qur’an di mesjid. Di rumah, Nur dan emak setiap selesai sholat Maghrib, membaca juga ayat suci itu.
Aku rasanya telah dilemparkan ke dunia yang menyiksa dengan segala kelembutannya. Aku pergi kembali ke kota dan lama tak pulang. Setiap Nur mengirim surat yang menyuruhku pulang, aku selalu ingin pulang dan rindu suasana kampungku. Tapi begitu waktu pengiriman uang yang dua bulan sekali sudah dekat, perasaan tersiksa itu selalu menghantuiku. Aku tak yakin dapat menikmati suasana yang aku rindukan itu. Maka kalau sudah begitu, aku hanya bisa menulis surat dan menyatakan bahwa aku baik-baik saja dan rindu untuk pulang, tapi sibuk. ***


 Dimuat di HU Pikiran Rakyat, tanggalnya lupa


LEGENDA PENAKLUK HARIMAU

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Rabu, 16 Januari 2013 | 08.21


Cerpen ini pernah dimuat Pikiran Rakyat, lupa tanggalnya

     Permukaan telaga yang tenang itu pelan-pelan berkabut, semakin menebal, keemasan disinari cahaya rembulan. Dan dari kedalaman ketebalan kabut terdengar suara yang semakin jelas. Pelan-pelan kabut tebal itu tersingkap. Dari kejauhan muncullah seseorang sedang menunggang kuda. Oh, bukan kuda binatang tunggangan itu. Tapi seekor harimau. Seekor harimau lodaya yang hampir sebesar kuda. Suara langkahnya menggema dipantulkan pepohonan.
     Waja menarik napas panjang. Matanya tidak berkedip seolah takut kehilangan pemandangan menakjubkan itu. Anehnya, tidak terlintas sedikit pun rasa takut di hatinya. Rasa takut seperti menghadapi binatang buas hari-hari biasanya.
     Semakin dekat harimau itu melangkah semakin perlahan. Badannya yang tegap, matanya yang tajam, bulunya yang loreng, begitu gagah. Permukaan air dipijaknya seolah di jalan tanah. Di belakangnya, puluhan srigala berbaris rapi. Sekira satu meter lagi dari rumpun teratai, harimau itu berhenti. Penunggang yang memakai baju putih berkibar-kibar itu turun dari tunggangannya.   
     Penunggang harimau itu berjalan seperti melayang. Baju panjangnya menyapu permukaan air, tapi sepertinya tidak basah. Oh, Waja baru memperhatikan, wajah orang itu begitu bercahaya, seperti rembulan. Senyumnya selalu tersungging seperti teratai yang mekar dalam sunyi. Langkahnya begitu anggun.
     Dan di hadapan bunga teratai, penunggang harimau berjubah itu berjongkok. Diciumnya bunga teratai begitu mendalam, perlahan, sambil memejamkan mata. Setelah berdiri, lelaki itu menghampiri Waja.
     “Jangan takut dengan binatang buas, karena sebuas apapun binatang, akan tunduk bila bisa mengendalikannya. Jangan takut dengan kedalaman telaga dan dingin airnya, karena sedalam apapun rintangan akan bisa dilalui oleh seorang penakluk. Lihat, berapa puluh srigala berbaris rapi, menunggu perintahku.”
     “Engkau memang seorang pendekar, pendekar berilmu tinggi.”
     Penunggang harimau berjubah itu tersenyum. Ah, keindahan seperti apa lagi yang mekar di bibir sebersih itu?
     “Aku hanya seorang penakluk. Tapi ingat, hanya seorang penakluklah yang bisa menguasai dunia.”
     “Engkau begitu indah, begitu menakjubkan, begitu mempesona.”
     “Keindahan apapun di dunia akan dimiliki oleh seorang penakluk.”
     “Kalau Engkau berkenan, saya ingin berguru kepadamu.”
     Penunggang harimau berjubah itu tersenyum.
     “Setiap orang punya Jalan Pribadinya masing-masing. Ikutilah jalanmu, niscaya Engkau pun bisa menjadi penakluk. Asal, kau kalahkan setiap kedalaman jurang rintangan, dan keganasan binatang buasmu.”
     “Saya ingin belajar menundukkan binatang dan melalui kedalaman jurang rintangan itu.”
     “Belajar saja menikmati keindahan bunga teratai. Dalam dingin malam, dalam sunyi telaga, dalam godaan ngantuk, ada keindahan tiada terkira. Nikmatilah keindahan itu, niscaya apapun di sekitarmu akan membantu menunjukkan Jalan Pribadimu, dan Engkau akan dituntun untuk menundukkan rintangan dan binatang buasmu.”
     “Dari tadi Engkau bilang: binatang buasmu! Apa aku punya binatang buas?”
     “Ya, setiap pribadi punya binatang buas sendiri-sendiri.”
     Penunggang harimau itu berbalik, melangkah menuju tunggangannya. Kibasan baju panjangnya menyebarkan harum yang baru kali itu Waja menghirupnya. Harimau itu pun melangkah perlahan setelah tuannya duduk di punggungnya. Puluhan srigala para pengikutnya berbaris rapi. Pelan-pelan rombongan itu menghilang ditelan kabut.
     Sunyi kembali menyelimuti. Bunga teratai, sunyi telaga, keemasan cahaya rembulan, semakin indah di hati Waja. Selembar daun kering lepas dari tangkainya, meliuk-liuk di kegelapan udara, mendarat di permukaan air tanpa meninggalkan bunyi, riaknya bergoyang diabadikan cahaya rembulan.
**
     “Jadi, sudah berkali-kali bermimpi seperti itu?”
     “Ya.”
     Kepala kampung itu memandang Waja lekat-lekat. Matanya menelusuri tiap lekuk wajah Waja, turun ke leher, badan, kakinya yang sedang bersila. Entah tatapan menyelidik yang keberapa.
     “Yakin bermimpi seperti itu?”
     “Ya.”
     Kepala kampung menyalami Waja berguncang-guncang. Tangannya yang dua kali lebih besar dari tangan Waja memegang erat-erat. Katanya, “Berarti Engkaulah orang pilihan itu, Nak. Engkaulah yang telah ditunggu ratusan tahun oleh penduduk sini. Engkaulah yang berhak menyingkap keluhuran legenda itu.” Orang-orang yang memenuhi rumah kepala kampung bertepuk tangan. Mereka bergembira, tertawa, dan menyalami Waja satu per satu.
     Senja itu matahari begitu indah di langit barat. Sebelum perlahan tenggelam di balik gunung, cahaya kemerahan menyebar melukis apapun yang ada di perkampungan itu. Rerumputan, pepohonan, aliran sungai yang jernih, hamparan sawah seluas memandang, semua menyerap cahaya kemerahan. Orang-orang pun berwajah kemerahan, berseri, selalu tersenyum mendalam setiap berpapasan dengan Waja.
     Di hadapan keluasan sawah sejauh mata memandang, Waja menarik napas panjang seolah ingin menghirup seluruh keindahan yang ada di hadapannya. Baru kali ini… baru kali ini dia melihat senja begitu mempesona. Pesona yang rasanya tidak akan bisa diceritakan dengan kata-kata. Pesona yang hanya bisa disimpan dalam kenangan.
     “Sudah siap, Nak, kita berangkat?”
     Waja berbalik dan melihat kepala kampung tersenyum.
     “Saya sudah siap dari tadi. Tapi pemandangan di sini begitu indahnya, saya ingin menikmatinya barang sejenak.”
     “Di sini, pemandangan pagi dan senja selalu begitu indah, Nak. Awal yang baik selalu diakhiri dengan yang baik pula.”
     “Apakah itu cermin kehidupan orang-orang di sini?”
     “Bukan. Itu cermin cita-cita kami. Makanya Engkau begitu ditunggu, Nak, karena Engkaulah yang akan bisa menuntun ke akhir hidup yang begitu indahnya.”
     “Aku?”
     “Ya, Engkaulah yang telah dipilih. Engkaulah yang telah bermimpi untuk menyingkap rahasia itu.”
     Senja itu Waja bersama kepala kampung dan dua orang pilihan berangkat menuju ke dalam Gunung Ganggong. Orang-orang melepas kepergian mereka tanpa berkata-kata. Mereka berdiri sepanjang bisa melihat ke jalan setapak yang dilalui Waja.
     Bulatan matahari sebesar parabola sudah tenggelam di balik gunung. Cahaya kemerahannya menyebar di batas puncak, seolah di balik kerapatan gunung itulah sumber cahaya berasal. Dan Waja melangkah menuju ke sana, ke sumber cahaya itu.
**
     Di pinggir telaga di tengah gunung dengan kerapatan pepohonan tidak terbayangkan sebelumnya, Waja duduk bersila. Baru saja kepala kampung dan dua orang pengantar itu pergi. Tanpa mengatakan apapun. Tanpa memberi petunjuk apapun. Mereka hanya menyalami, lalu pergi.
     Baru sedetik sejak langkah ketiga pengantarnya tidak terdengar lagi, ketakutan menyergap hati Waja. Siapa yang tidak takut dengan sunyi seperti ini? Pepohonan sebesar perut gajah, akar gantung menjuntai tidak beraturan, sudah berapa ratus tahun usianya? Air telaga yang diam membisu, sudah berapa ratus tahun menyimpan rahasia? Napas terasa berat. Makhluk seperti apa yang bisa tinggal di tempat seperti ini? Apa yang akan dikerjakannya setelah ratusan tahun terbiasa dengan sunyi dan gelap tiba-tiba melihat seorang manusia? Hati Waja semakin bergetar. Matanya dipejamkan karena tidak kuat melihat sekelilingnya. Bajunya dirapatkan karena takut kulitnya merasakan sesuatu yang aneh.
     Kenapa mesti takut dengan sesuatu yang aneh? Bukankah perjalanan ini pun begitu anehnya? Waja ingat mimpi itu datang berkali-kali. Awalnya dia menganggap mimpi biasa saja meski datangnya berkali-kali. Tapi setelah itu pikiran dan perasaannya terpusat ke sana. Apa artinya mimpi itu?
     Belum lagi ada keterangan apapun tentang mimpi aneh itu, suatu hari Waja bersiap melakukan perjalanan. Kakinya melangkah dan terus melangkah. Entah berapa bukit berkabut didakinya. Entah berapa lembah berlumut dituruninya. Dan akhirnya sampailah dia di perkampungan yang namanya saja dia tidak tahu. Orang-orang mengelilinginya, memandangnya heran. Setelah puluhan tahun Waja adalah orang asing pertama yang datang ke kampung itu.
     Di kampung inilah sedikit tersibak rahasia mimpi aneh itu. Karena di kampung inilah hidup legenda sang penakluk harimau. Mereka percaya, penakluk harimau itu adalah leluhurnya. Konon, dia adalah kepala kampung pertama. Konon, sejak dibukanya perkampungan itu selalu diganggu oleh harimau dan rombongan srigala. Pertarungan abadi pun tidak terelakkan. Sekali waktu ketika kepala kampung sedang bermeditasi di dalam hutan, harimau bersama rombongan srigalanya itu menyerang perkampungan hingga seluruh penduduknya tewas. Tentu saja kepala kampung menuntut balas. Dia mengejar harimau dan rombongan srigala itu ke seluruh hutan. Seluruh kemampuan ilmu kedigjayaannya dikerahkan. Tapi harimau dan rombongan srigala itu meski berkali-kali terbunuh, mereka hidup kembali setelah jasad atau setetes darahnya menyentuh tanah. Bertahun-tahun pertarungan itu terjadi. Karena musuhnya tidak juga bisa mati, kepala kampung itu sampai pada kesimpulan, harimau dan rombongan srigala itu bukan untuk dibunuh, tapi untuk ditaklukkan.
     Itulah legenda sang penunggang harimau yang hadir dalam mimpi Waja. Konon, setelah menaklukkan harimau dan rombongan srigala, kepala kampung itu yang mengundang matahari semakin mendekat ke perkampungan itu setiap terbit dan terbenam. Sekedar mengingatkan penduduk kampung bahwa leluhurnya dulu hidup begitu gagah beraninya. Karena itulah pagi dan senja di perkampungan itu terasa begitu menggetarkan dengan taburan cahaya kemerahannya.
     Dan sekarang, dalam sunyi pedalaman Gunung Ganggong, Waja diam membatu. Rahasia apa yang bisa ditangkap dalam sunyi sekental ini?
**
     Waktu berjalan lambat. Sunyi merambat. Pepohonan diam. Permukaan air membeku. Waja membatu. Berhari-hari dia duduk di tepi telaga, menunggu penunggang harimau datang menjemputnya. Tapi yang terjadi persahabatannya dengan sunyi. Dia mulai merasakan bagaimana mengesankannya air telaga menyimpan rahasia, bagaimana mencekamnya pepohonan dan akar gantung menyimpan usia.
     Dan di batas sunyi, di puncak keheningan, ketika semua suara tidak terdengar lagi suaranya, Waja mendengar ada banyak suara. Suara yang semakin jelas terdengar itu berkali-kali melintas ke pendengarannya. “Masuklah… masuklah ke telingamu,” katanya.[1]
     Waja tersentak. Gila! Untuk apa masuk ke dalam telinga sendiri? Tapi ketika sunyi membawa kembali ke batasnya, ke puncak keheningan, suara itu semakin jelas. “Masuklah… masuklah ke telingamu!”
     Di batas hening itulah Waja melihat kabut tebal lambat laun tersingkap. Cahaya yang semakin terang muncul, membentuk sesosok penunggang dengan binatang tunggangannya, semakin jelas. Itulah sang penakluk harimau itu. Waja menggosok matanya berkali-kali. Mimpikah ini? Belum juga merasa sadar, penunggang harimau yang bercahaya itu sudah ada di depannya. Dia mengulurkan tangan. “Mari, ikut denganku,” katanya.
     “Ke mana?”
     “Ke dalam telingamu.”
     “Ke telingaku? Untuk apa?”     
     “Mendengarkan dirimu sendiri. Nanti Engkau akan tahu, di dalam dirimu ada harimaumu, ada rombongan srigalamu. Taklukkanlah! Setelah itu Engkau akan mendapatkan pemandangan yang begitu indahnya, segala suara yang begitu merdunya.”
     Waja tertegun.
     “Mari, kita masuk ke telingamu….”
     Di batas sunyi, di puncak hening, di dalam diri, keindahan itu memang ada. Keindahan itu nyata. Waja mengembara ingin mereguk keindahan yang lebih lagi. Sampai lupa waktu. Sampai lupa jalan pulang. Karena dia tidak ingin diatur waktu. Tidak ingin pulang. Waja mengikuti sang penunggang harimau, berabad-abad lamanya, sampai tiba waktunya untuk bertarung dengan srigalanya sendiri.
**
     Seminggu dalam waktu normal, ketua kampung bersama dua orang penduduk datang lagi ke tepi telaga di tengah Gunung Ganggong. Ketika didapatinya tubuh Waja terlentang di pinggir telaga, mereka segera membungkusnya dengan kain yang sudah dipersiapkan, lalu membawanya pulang.
     “Berapa tahun lagi kita menunggu orang yang mendapat isyarat dan mampu membawa penakluk harimau itu ke dunia kita? Selama ini selalu saja orang yang mendapat isyarat itu terbawa ke dunia legenda,” kata kepala kampung, entah kepada siapa, karena sejak itu tidak ada lagi yang bicara.
***


Bandung, 10 September 2007

Pikiran Rakyat, lupa lagi tanggalnya.         





[1] Kalimat “Masuklah ke telingaku,” diingatkan oleh puisi Telinga dari Sapardi Djoko Damono (buku Perahu Kertas). Sekali waktu saya pernah bilang ke Pak Sapardi, saya ingin membuat cerpen tentang puisi itu. Tapi baru kali ini kesampaian, itu pun hanya sedikit saja menyentuhnya.  


Bulan di Taman

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Selasa, 15 Januari 2013 | 06.45



Sehabis bertengkar dengan istrinya, lelaki itu selalu datang ke taman di pinggir kota. Dia duduk di bangku kayu yang dipayungi kembang kertas. Matanya memandang bunga-bunga yang tumbuh tak beraturan. Sebagian mawar berbunga. Juga aster, melati, kacapiring, anggrek, dan bunga-bunga rumput yang tidak sengaja ditanam.
Bulan yang bercahaya penuh memberikan pesona tersendiri terhadap tanaman-tanaman yang tumbuh di taman itu. Bunga-bunga dan daun-daun yang tampak jelas dan yang jadi siluet, membentuk pemandangan tersendiri. Pemandangan yang membawa lelaki itu kepada masa lalunya, kepada kenangannya.
Di taman itu, lelaki itu memandang segalanya menjadi indah. Bunga-bunga, daun-daun dan bulan serta lampu merkuri di ujung sana adalah panorama yang tiada celanya. Pikirnya, tempat terindah bagi setiap manusia adalah di mana pikiran dan perasaannya tersangkut. Banyak orang yang sengaja pulang ke kampung halamannya, ke tempat mereka dibesarkan, setelah pengembaraannya yang panjang, karena di sana mereka mempunyai masa lalu, mempunyai kenangan, mempunyai keindahan.
Maka lelaki itu selalu datang ke taman di pinggir kota setelah ia bertengkar dengan istrinya. Di taman itu kenangannya memanjang. Tapi bukan masa lalu dengan istrinya yang baru saja menjadi lawan pertengkarannya. Setiap datang ke taman itu, dia selalu teringat kekasih pertamanya. Di taman pinggir kota itu mereka biasanya ngobrol setelah jalan-jalan atau nonton film, atau melihat pameran lukisan atau menyaksikan pertunjukan teater.
“Apa sebenarnya yang selalu dikejar oleh manusia dalam hidupnya?” Kekasihnya pernah bertanya begitu setelah mereka pulang menyaksikan pertunjukan teater di gedung kesenian yang tidak refresentatif itu.
“Keindahan,” jawab lelaki itu. Matanya tidak lepas dari bulan yang bersinar penuh.
“Seperti bulan?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Seperti memandang wajahmu.”
Kekasihnya yang berambut panjang itu, yang sedang memandang bulan, tersipu. Berhari-hari ia menunggu kata-kata seperti itu. Mata mereka beradu dan bercerita tentang bermacam-macam keindahan yang tidak mungkin tertuliskan dalam jilid-jilid novel. Di malam berbulan penuh itu, lelaki itu membacakan puisi yang telah lama dibuatnya.
Sampai larut malam mereka bercakap-cakap. Tentang apa saja. Tak bosan-bosan. Karena, apa pun itu, bila dirasuki dengan perasaan dan pikiran yang indah, akan menjadi indah. Apalagi tentang bunga-bunga yang sejak dulu telah dinyatakan sebagai lambang keindahan. Lelaki itu memetik setangkai mawar dan menyelipkannya di rambut kekasihnya.
Malam penuh keindahan itu sebenarnya hanya titik puncak saja dari perjalanan yang tidak pernah direncanakannya. Lelaki itu mengenal kekasihnya di perpustakaan ketika ia mengembalikan buku trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari.
“Buku ini telah ditunggu berhari-hari,” kata penjaga perpustakaan itu.
Dan sang penunggu ada di sebelah lelaki itu. Seorang gadis berambut panjang, bermata bulat, dan berkulit bersih, tersenyum ketika lelaki itu memandangnya. Mereka berkenalan. Setiap bertemu di perpustakaan yang mereka kunjungi secara teratur, pembicaraan seperti tak akan ada habisnya. Mulai tentang novel-novel yang telah mereka baca, sampai masalah-masalah sastra, juga sosial-politik yang mencuat di media massa, mereka bicarakan.
Sampai malam itu, ketika bulan bercahaya penuh, lelaki itu membacakan puisi yang telah lama dibuatnya di hadapan perempuan berambut panjang dan bermata bulat itu.
“Segalanya mengalir begitu saja, tanpa kita mampu merencanakannya,” kata lelaki itu. “Juga tentang perasaan-perasaanku yang membuat segalanya menjadi indah, asal bersamamu.”
Perempuan berambut panjang dan bermata bulat yang kemudian menjadi kekasih lelaki itu, menunduk malu. Tapi kemudian ia memandang bulan, menatap bunga-bunga, pohon-pohon, merasakan angin yang menyisir kulit wajahnya, menangkap segalanya yang ada di sekelilingnya menjadi indah dan menyenangkan.
Berhari-hari kemudian, pembicaraan mereka mulai mengarah kepada cita-cita, harapan-harapan, keinginan-keinginan.
“Apakah yang akan kita wujudkan dengan menikah juga adalah keindahan?” tanya perempuan berambut panjang itu suatu waktu.
“Ya.”
“Seperti bulan?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Seperti memandang wajahmu. Seperti melihatmu menimang anak kita kelak.”
**
Sebulan kemudian lelaki itu datang sendirian ke taman di pinggir kota itu. Dia duduk di bangku kayu yang dipayungi kembang kertas. Matanya menerawang memandang bunga-bunga, pohon-pohon, bulan, bintang. Pikirannya menerobos menembus ruang dan waktu. Lelaki itu menganggap benda-benda itu adalah teman-temannya, kekasih-kekasihnya, kenangannya yang indah dan menyedihkan.
Lelaki itu mengingat kembali ketika tiga minggu yang lalu teman kuliah kekasihnya datang kepadanya, memberitahukan bahwa kekasihnya yang berambut panjang itu hilang dalam ekspedisi penelitian di suatu gunung di Kalimantan. Koran-koran kemudian menulis, kekasihnya raib ditelah kelebatan rimba Kalimantan. Tim SAR yang melakukan pencarian tidak menemukan petunjuk apa-apa tentang kekasihnya. Apalagi tubuhnya yang masih hidup. Lelaki itu sering membayangkan keajaiban terjadi, kekasihnya ditemukan masih segar bugar. Tapi kejadian seperti itu tidak kunjung tiba.
Seminggu kemudian, di bangku kayu yang dipayungi kembang kertas, di taman pinggir kota, lelaki itu memahami bahwa kekasihnya yang hilang pun adalah keajaiban. Sesuatu yang misterius. Juga kisah cintanya tiba-tiba jadi begitu menakjubkan, begitu ajaib, begitu misterius. Ah cinta, pikirnya, adalah keajaiban yang tidak bisa dimengerti, keindahan yang menyedihkan, kesedihan yang indah.
Lelaki itu menjalani hidupnya seperti air, mengalir begitu saja, apa adanya. Dia tidak mengejar apa-apa yang disangkanya keindahan. Karena ia yakin, keindahan ada di dalam hatinya. Sebagai mahasiswa, ia hanya belajar, belajar sebagai ibadah. Setelah diwisuda, ia bekerja, bekerja sebagai ibadah. Dengan begitu, ia merasa bisa menangkap sesuatu yang indah. Dia yakin, segala sesuatunya akan mengalir begitu saja, tanpa ia mampu merencanakannya.
Juga ketika pertama kalinya ia tersenyum kepada perempuan teman sekerjanya yang kemudian menjadi istrinya, di dalam bus yang membawanya pulang ke tempat kost, ia tidak berpikir macam-macam. Percakapan mereka adalah percakapan biasa. Percakapan basa-basi sebagai orang yang baru dikenalkan oleh keadaan. Juga ketika hari-hari berikutnya mereka selalu pulang bersama dalam bus yang sama, lelaki itu tidak mempunyai pretensi apa-apa. Dia mencoba mempertahankan hidupnya yang seperti air, mengalir begitu saja.
Ketika perasaannya  menjadi lain saat ia pulang bersama perempuan itu, atau mengantar perempuan itu belanja, nonton film, ke salon, lelaki itu mencoba untuk mengalir, untuk jujur. Karena hanya dengan begitu, sesuatu yang indah dapat terasakan.
“Mungkin benar kata orang tua bahwa kasih sayang bisa tumbuh karena sering bertemu,” kata lelaki itu, di bangku yang dipayungi kembang kertas di taman pinggir kota, suatu malam. “Aku pun merasakan hal yang sama terhadapmu. Aku ingin mencintaimu dengan lembut.”
Perempuan yang sudah lama menunggu kata-kata seperti itu, menunduk malu. Tapi kemudian ia memandang bulan, menatap bunga-bunga, pohon-pohon, merasakan angin yang menyisir wajahnya. Mata mereka beradu dan saling tersenyum. Ah, tiba-tiba segalanya begitu indah, begitu menakjubkan, begitu misterius.
Dua bulan kemudian mereka menikah. Mereka mengontrak sebuah rumah. Menjalani kehidupan yang mereka inginkan, cita-citakan, mewujudkan harapa-harapan.
Lelaki itu mengecup kening istrinya suatu malam, memandangnya ketika tidur, menatapnya ketika istrinya menimang anak mereka. Sesekali mereka pun tidak bisa menghindari pertengkaran. “Itukah keindahan?” tanya lelaki itu kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba lelaki itu teringat kekasihnya yang pertama yang berambut panjang yang pernah bertanya, “Apa yang dikejar manusia dalam hidupnya?” Dan lelaki itu menjawab dengan pasti dan yakin, “Keindahan!” Lalu, keindahan itu seperti apa?
**
Sehabis bertengkar dengan istrinya, lelaki itu selalu datang ke taman di pinggir kota. Dia duduk di bangku kayu yang dipayungi kembang kertas. Matanya memandang bunga-bunga yang tumbuh tak beraturan. Sebagian mawar berbunga. Juga aster, melati, kacapiring, anggrek, dan bunga-bunga rumput yang tidak sengaja ditanam. Bulan bersinar penuh.
Pemandangan yang sebenarnya tidak begitu berubah sejak beberapa tahun yang lalu ketika lelaki itu pertama kali datang, tidak memberikan pesona tersendiri di hatinya. Keindahan yang dulu ditemukannya pada bulan, bunga-bunga, pohon-pohon, dan angin yang menyisir wajahnya, seperti lenyap. Hatinya tidak lagi memberikan tempat bagi perasaan seperti itu. Hatinya terlalu dipenuhi oleh berbagai persoalan yang memicu pertengkaran dengan istrinya.
“Mungkin benar bahwa keindahan itu seperti bulan,” gumam lelaki itu. “Bulan yang tidak terjangkau, hanya cita-cita, keinginan-keinginan, harapan-harapan. Ya, apalagi yang lebih indah selain harapan? Karena, harapan yang telah terwujud, ternyata tidak lagi indah.”
Lelaki itu ingat bagaimana ia dan istrinya dulu menangkap keinginan-keinginan, cita-cita, harapan-harapan, di taman ini di bangku kayu yang dipayungi kembang kertas. Bagaimana ia memandang segalanya begitu indah. Tapi setelah mereka menikah, bercinta, mempunyai anak, kenapa pertengkaran yang didapatinya?
**
Lelaki itu selalu membawa jalan-jalan anak gadisnya ke taman di pinggir kota dan duduk-duduk di bangku kayu yang dipayungi kembang kertas. Dia sering menceritakan kebaikan dan kecantikan istrinya yang telah melahirkan anak gadis itu, yang telah meninggal lima tahun lalu. Dan anak gadisnya sering juga menceritakan sekolahnya, teman-temannya, pacarnya yang ia temukan di plaza.
“Kenapa mesti selalu ke taman ini kita jalan-jalan, Pak?” tanya anak gadisnya suatu kali.
“Karena di taman ini Bapak selalu melihat ibumu yang selalu tersenyum dan cantik.”
“Di mana?”
“Lihatlah bunga-bunga, pohon-pohon, bulan, atau rasakan angin yang menyisir wajah, di situ ada ibumu.”
Anak gadisnya hanya mengangkat bahu. Dia tidak mengerti. Lelaki itu sadar, hanya ia  yang bisa mengerti semua ini. Dia paham, segala sesuatunya akan menjadi indah dan bermakna bila masih berupa harapan yang belum terjangkau dan bila telah menjadi kenangan (telah tiada). Keindahan dan makna itu hanya bisa terbaca lewat tempat atau benda-benda yang telah menyangkutkan pikiran dan perasaan. Bagi lelaki itu, tempat terindah adalah taman di pinggir kota itu.
“Kenapa mesti selalu ke taman ini kita jalan-jalan, Pak?” tanya anak gadisnya.
Lelaki itu memandang bulan tidak berkedip.
“Kenapa tidak ke plaza saja, Pak. Di sana lebih ramai, lebih indah, lebih mempesona, lebih menakjubkan. Lagipula, semua yang ada di sana mengingatkan aku akan pertemuan pertama dengan kekasihku.”
Lelaki itu menatap bunga-bunga sambil tersenyum.
***

                                               
Majalah Femina, lupa tanggalnya, hilang majalahnya. Tapi saya baru setahun kuliah kalau tidak salah, tahun 1990-an. 






Sophia

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Jumat, 04 Januari 2013 | 06.00



Sophia masih duduk di bangku taman. Matanya tidak lepas dari kolam. Angin menyisir pipinya, menggeraikan rambutnya yang panjang berkilau karena tertimpa cahaya bulan. Diantara bunga-bunga yang tertunduk malu, Sophia adalah bunga terindah yang pernah kulihat.
Sejak mataku menangkap keanggunan wajah Sophia dengan latar belakang senja yang menakjubkan, tidak ada kedip di kelopakmataku. Aku takut kehilangan pemandangan ini barang sedetik. Aku tahu, alam akan berubah cepat. Aku tidak mau seperti seseorang yang bergumam lirih, “Begitu indah pemandangan senja, sayang cepat berlalu.” 2
Tapi ini barangkali senja yang lain. Senja yang menularkan keindahannya kepada apapun dan siapapun. Juga kepada malam yang kemudian datang bersama bulan dan ribuan bintang. Keindahan abadi, dari senja yang lain, karena apa? Aku merasa Sophia yang menjadikan senja begitu lain.
Dari sini, dari luar pagar taman, masih tanpa berkedip aku melihat Sophia dengan latar belakang keremangan malam di taman. Sebuah tas ransel penuh yang mengisyaratkan perjalanan panjang, tergeletak di sampingku. Daripada terganggu dalam perjalanan, aku pikir lebih baik menunda keberangkatan. Aku ingin menuntaskan kepenasaranku kepada Sophia.
Perjalanan ke Negeri Cahaya memang mengisyaratkan lepas dari apapun dan siapapun yang ada di dunia ini. Aku masih punya raga yang perlu dipenuhi kebutuhannya, tapi tidak menjadikannya begitu penting. Mata boleh melihat, telinga boleh mendengar, perut boleh makan, hidung boleh menghirup; tapi semua itu lebih indah setelah nafs menggantikan tugasnya.3 Bertahun-tahun aku mempersiapkan diri setelah seluruh indera dan elemen di tubuhku selalu bermimpi tentang perjalanan ini. Dan untuk terakhir kali, aku ingin memandang Sophia, si kekasih gelap yang selama ini membuatku mengurungkan perjalanan.
Tapi lama-lama memandangnya, aku seperti seorang mahabiksu yang terpesona kecantikan selir raja.4  Dan aku pun seperti Mishima yang ragu. Aku ingin masuk ke dunia Sophia dan menjadikan ketersesatan adalah keindahan. Aku ingin menikmati bagaimana memabukkannya bibir Sophia, bagaimana menenggelamkannya kedalaman mata Sophia, bagaimana menerbangkannya geraian rambut Sophia, bagaimana menggelincirkannya kulit Sophia. Atau segera berangkat, melakukan perjalanan mengikuti jalan cinta yang bercahaya dari kedalaman nafs yang tak terkirakan sebelumnya, dan mengubur segala yang berbau Sophia.
“Tapi apalah artinya sebuah perjalanan, jika tidak menghantui seseorang,” kata sebuah suara, entah dari mana.
**
Niat melakukan perjalanan itu bermula dari sebuah puisi. Membacanya dalam kelengangan pukul 12 malam, aku seperti berada di dunia lain. Dunia ketentraman, keindahan, sekaligus juga dunia airmata. Aku rasa perjalanan adalah puisi yang lain. Maka aku berkemas; mengumpulkan kata-kata, mengepak perumpamaan, dan membungkus sebanyak-banyaknya sunyi.
“Tapi ingat, seperti juga puisi, perjalanan tidak punya target,” kata Acep, teman yang tadinya akan melakukan perjalanan bersama, tapi tidak jadi karena tidak bisa meninggalkan goyang dangdut.
Baru kuperhatikan, teratai ternyata hanya mekar malam hari. Untuk siapa keindahan bunga teratai?
**
Nyatanya, di taman ini, keberangkatanku tertahan. Tidak saja oleh Sophia, si gadis anggun dengan latar malam yang mempesona. Tapi juga oleh keinginan menjadi hantu. Apa artinya keberangkatan bila tidak menghantui yang ditinggalkan? Sementara perjalanan harus bersih dari segala keinginan dan harapan.
Angin menyisir pipi begitu perih. Dan sunyi kolam menghipnotis kesadaranku. Pelan-pelan, Sophia menghampiriku.
“Mengapa memandangku seperti itu?” katanya.
Aku tergagap. “Seperti apa?”
“Seperti kamu memandangku.”
Aku menggeleng. “Aku tak punya perbendaharaan kata-kata untuk menerjemahkannya.”
“Hanya itu?”
Aku berangkat diantar senyum Sophia. Aku tidak tahu, apakah berjam-jam pandanganku telah menghantuinya. Tapi yang jelas, berabad-abad perjalananku, aku berusaha membunuh Sophia, dan gadis itu tak mati-mati. ***
                                                                                              Bandung, 2001


1. Sophia (bahasa Yunani, artinya kebijaksanaan), menurut Al-Biruni adalah kata dasar shufi. Populer di kalangan remaja Indonesia setelah Sheila On 7 menyanyikan lagu Sefhia. Alumni IAIN Bandung pun ikut-ikutan menerbitkan jurnal filsafat bernama Sophia.
2. Dalam cerita silat China klasik, dengan mengutif puisi-puisi seangkatan Wang Wei atau Li Tai Po, sering dijumpai seorang tokoh yang berdiri memandang senja dengan suasana mengharukan. Dan dia akan berucap lirih: “Begitu indah senja di langit Barat, sayang cepat berlalu.”
3. An-nafs adalah istilah dalam bahasa Arab, berkaitan dengan nafas, jiwa, esensi, diri dan nature. Menurut Syaikh Muzaffer Ozak, seorang guru shufi pimpinan Tarekat Halveti-Jerrahi Turki yang mengajarkan shufisme di Amerika Serikat, an-nafs merujuk kepada apa yang dihasilkan dari interaksi antara raga dan ruh.
4 Suatu senja, seorang mahabiksu yang telah bertahun-tahun memasuki dunia bathin, terpesona seorang selir raja dengan seperangkat daya tarik materialnya. Adegan dalam cerpen Imam Kuil dari Shiga dan Kekasihnya karangan Mishima itu seringkali mengganggu saya. Saya rasa Mishima adalah peragu. Tapi waktu lain, saya merasa saya yang selalu ragu.

Hadiah Terindah

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Kamis, 03 Januari 2013 | 07.19

 Tabloid Nova, 3 November 2002


Begitu sampai ke rumah, yang pertama diperhatikan Aminudin adalah leher istrinya. Karena di bagian tubuh yang selalu tertutup kerudung itu tidak dilihatnya kalung bergantungan batuan putih. Amin tidak tahu apa nama batuan itu. Itu tidak penting baginya. Karena yang utama, saat pertama melihatnya di toko mas, dia merasa kalung itu akan bagus dipakai istrinya. Dan uang tabungannya yang dikumpulkan diam-diam, mencukupi untuk membelinya.
Memang tidak begitu istimewa bila diukur timbangannya yang cuma tujuh gram. Tapi bila orang tahu bagaimana susahnya menabung sebanyak itu bagi pegawai kecil seperti Amin, kalung mas seberat itu sangat istimewa. Sudah lima tahun sejak melamar gadis yang pintar mengaji itu, Amin ingin memberinya hadiah seistimewa kalung itu. Selama itu juga dia menabung dengan mengirit makannya, berhenti merokok sama sekali, mengumpulkan tips majikannya yang sering menyuruh-nyuruh di luar jam kantor, dan mencari tambahan dengan membantu mencuci piring di warung tegal setiap malam.
Dan Nia menerimanya begitu suka cita. Berkali-kali dia mencubit tangannya sendiri, seolah ingin meyakini bahwa itu bukan mimpi. Wajahnya begitu berseri. Tubuhnya berputar saat bercermin di kaca lemari. Amin bahagia melihatnya.
“Tapi, darimana Akang punya rijki sebanyak ini?”
“Menabung, sejak lima tahun lalu, sejak kita menikah dulu.”
“Hah?”
Mulut Nia melongo. Tidak terbayangkan olehnya, bagaimana suaminya menabung. Karena semua gaji yang tertera di struknya diterimanya setiap bulan. Kalaupun dia memberikannya kembali, sekedar buat ongkos dan beberapa batang rokok setiap harinya.
**
Kalung mas yang hanya dipakai Nia bila pergi ke surau itu, memang istimewa. Tidak saja bagi suami istri itu, tapi juga bagi seluruh kampung Ninggul. Rumah-rumah di sini terdiri dari petak-petak panggung, berdinding bambu, beratap rumbia, berlantai tanah. Satu dua rumah yang termasuk bagus, seperti rumah Ketua Kampung, beratap genting. Tapi genting itu pun dibeli tidak baru, karena sudah menghitam dan ditumbuhi lumut di sana sini.
Keistimewaan di Ninggul sebenarnya sederhana bila dilihat dari kampung lain. Buat saja rumah dengan setengahnya ditembok, itu sudah istimewa. Rumah seperti itu tentu saja tidak seberapa berharga di kampung lain, apalagi di kota kecamatan. Tapi di Ninggul, tidak saja istimewa, rumah setengah tembok adalah keajaiban. Siapa yang sanggup membeli semen, membayar buruh angkut, mendatangkan tukang tembok, dengan pertanian seperti ini?
Pertanian di Ninggul memang istimewa bila sanggup memberi sarapan pagi dan dua kali makan sehari sampai kenyang. Karena hasil dari sawah yang hanya bisa digarap setahun sekali, palawija yang selalu kurang pupuk, tidak pernah memberi keistimewaan seperti itu. Dulu pernah ada penyuluh datang dari Kecamatan, memberi petunjuk cara bertani yang baik, memilih bibit, memupuk, tapi tidak lama diturut masyarakat. Itu semua terlalu rumit diterapkan di pesawahan kering, digarap oleh masyarakat Ninggul yang mayoritas buta hurup, sudah terbiasa dengan pengiritan biaya bertani. Dan mungkin bagi penyuluh itu, datang ke kampung yang memerlukan berjalan kaki seharian untuk mencapainya, terlalu berlebihan.
Ninggul memang jauh dari mana-mana. Untuk belanja ke kota kecamatan, memerlukan seharian berjalan kaki. Tidak bisa memakai kendaraan, karena mesti melewati pinggir hutan bercadas, tebing-tebing jurang, dan hamparan ilalang yang kering. Karenanya jarang ada penduduk yang pergi ke kota. Mereka mencukupkan diri dengan apa yang bisa dihasilkan tanahnya.
Kekurangan makanan adalah hal biasa. Tidak saja saat paceklik tiba, saat matahari terus bersinar, tanaman mulai mengering, persawahan belah-belah, tapi juga setelah panen dimana penghematan mesti dimulai. Anak-anak akan bermain sampai ke pinggir-pinggir hutan, mencari singkong liar yang umbinya tidak lebih dari ibu jari kaki. Atau masuk ke dalam hutan, mencari buah kupa yang rasanya asam.
Bagaimana tidak istimewa kalung mas seberat tujuh gram di kampung terisolir seperti itu? Tapi Amin sendiri memang warga Ninggul yang istimewa. Berbeda dengan penduduk lainnya yang buta hurup, Amin sempat belajar baca-tulis di sekolah. Sejak usia tujuh tahun dia dibawa oleh seorang pejabat kecamatan yang pernah berkunjung ke Ninggul saat wabah muntaber terjadi. Bapak dan dua orang saudara Amin termasuk korban yang meninggal. Dia sendiri dibawa ke kota kecamatan, membantu-bantu di rumah Pak Sekretaris Camat. Dia disekolahkan sampai tamat SD.
Di rumah Pak Sekmat, Amin belajar banyak. Dia bisa mengurus taman, mencuci mobil, sampai membuat kopi, teh tubruk, dan menanak nasi. Kemudian dia menjadi pesuruh di kantor anak Pak Sekmat di kota kabupaten, mendapat gaji tiap bulan, dan mendapat satu kamar buat tidur. Bagaimana tidak istimewa pekerjaan seperti itu bagi kampung semiskin Ninggul?
Amin sebenarnya bisa meninggalkan kemiskinan Ninggul dalam hidupnya. Banyak wanita pinggiran kota yang akan mau dilamar oleh orang sebaik dan bekerja seperti Amin. Tapi Ninggul seperti yang punya magnit bagi anak-anaknya. Amin pulang ke Ninggul setelah punya tabungan cukup, menengok emaknya yang hidup sendiri, dan melamar Nia.
Nia sendiri adalah bunga yang mekar di tanah kering Ninggul. Dia anak satu-satunya Ketua Kampung. Tidak pernah sekolah, tapi sempat belajar ngaji di pesantren kecamatan, dan kemudian mengajar anak-anak di surau satu-satunya di Ninggul. Bagaimana Nia akan mendapat pasangan bila Amin tidak datang? Karena Nia memang berbeda dengan anak-anak yang berkulit hurik, berambut merah terkena sinar matahari, dan bergigi jarang digosok.
Setelah menikah, sebenarnya Amin dan Nia bisa pindah ke kota kabupaten, memulai hidup baru, menjauhi kemiskinan Ninggul. Tapi mereka tidak melakukannya. Bukan karena takut durhaka seperti pandangan penduduk Ninggul. Siapapun anak Ninggul yang merantau tanpa kembali, adalah anak durhaka yang tidak akan mendapat berkah hidupnya. Amin dan Nia tidak percaya itu. Tapi mereka tidak melakukannya, karena Ninggul memang seperti magnet yang menarik anak-anaknya dimanapun berada. Karenanya tidak satu pun anak Ninggul yang merantau tanpa pulang.  
Karenanya siapapun orang Ninggul akan setuju kalau Amin dan Nia adalah pasangan istimewa. Bahkan berkah bagi Ninggul, meski suami-istri ini belum dikaruniai anak. Penduduk Ninggul selalu punya harapan besar ketika melihat anak-anaknya pergi mengaji, belajar baca tulis di surau kecil. Bila mereka keluar kampung, setidaknya bisa membicarakan Amin dan Nia sebagai kebanggaan.
Karenanya wajar dan membanggakan bila hadiah seistimewa kalung mas seberat tujuh gram itu diberikan Amin kepada Nia. Tidak saja jadi kebanggaan Amin  yang memberi, Nia yang menerima, tapi juga kebanggaan seluruh kampung. Mereka seperti mempunyai suatu harapan yang bisa membawanya keluar dari kemiskinan. Meski hanya mimpi, meski hanya sekedar berharap.
Tapi hadiah istimewa itu tidak dilihat Amin pada kepulangannya kali ini. Biasanya Nia akan terus memakainya pada hari-hari dimana Amin diperkirakan pulang. Tidakkah Nia lupa? Belum sempat Amin bertanya, ada suruhan Ketua Kampung menjemput istrinya.
**
Seperti biasa, bila datang petang, Amin akan istirahat sebentar dan terbangun sorenya. Ketika bangun, istrinya baru selesai masak. Mereka pun makan. Nasi putih yang masih panas, dadar telor, sambal kemangi, kerupuk. Tentu saja itu makanan istimewa bagi Ninggul. Nia pun hanya memasaknya bila Amin pulang saja. Selama dua hari. Karena biasanya hanya selama itu Amin pulang.
Hari-hari biasanya, seperti juga penduduk lainnya, Nia hanya menanak nasi yang dibatasi jumlahnya, ulekan cabe garam dan lalapan yang ditemukan di seputar rumah. Kalaupun membakar ikan asin atau mendadar telor, mesti bertahan untuk beberapa hari.
Amin tahu makanan sehari-hari orang Ninggul. Tidak pernah dibiarkannya perut keroncongan dikenyangkan semaunya. Tapi malamnya, ketika dia berkunjung ke rumah-rumah tetangga dan saudara, makanan yang biasa itu pun tidak ditemukan. Mereka menanak tiwul, gaplek, bahkan juga gadung. Anak-anak yang berdaging tipis, berkulit kering, tersenyum memperlihatkan gigi mereka yang kotor. Makanan seperti itu tidak menjadikan orang Ninggul keracunan, karena Ninggul memang sudah berpengalaman memasaknya.
Hanya di rumah Ketua Kampung, mertuanya, Amin masih mendapatkan nasi ditanak. Itu pun menjadi bubur, untuk makanan beberapa orang yang sakit. Wabah muntaber itu seperti mau datang lagi bila Ketua Kampung dan Nia yang masih hapal tanda-tandanya, tidak cepat bertindak. Mereka mengajak seluruh penduduk Ninggul yang sehat untuk mengambil air bersih di sumbernya yang cukup jauh. Jangan gunakan lagi air pancuran yang keruh untuk memasak apapun. Sebagian lagi belanja ke kota, membeli beras dan obat-obatan, jaga-jaga bila bantuan dari kecamatan terlambat datang seperti tahun-tahun lalu.
Sampai pulang kembali ke rumah, Amin tidak bicara apapun. Pertanyaan yang sudah di mulutnya pun tidak dikeluarkannya. Tidak ada lagi keinginan untuk mengetahui keberadaan kalung pemberiannya. Biarkan saja, itu sudah menjadi hak Nia, pikirnya. Sebagai anak Ninggul dia terlalu hapal meski hanya melihat isyarat sekelebat. Kekurangan makanan kali ini, rasanya berbeda dari musim-musim kering yang lalu. Orang Ninggul sudah biasa makan tiwul, gaplek, atau gadung, tapi kali ini makanan tanpa dicampur beras itu mengisyaratkan lain.  
Ketika mau tidur Amin bertanya lirih: “Separah itukah kekeringan musim ini?”
“Mungkin belum seberapa, karena ini baru awal musim kering. Semua orang tahu, kita mesti cepat bertindak bila tidak ingin ikut mengering seperti sawah-sawah itu. Kita tidak punya modal untuk mengalirkan air dari sumber yang jauh. Saya akan memulai pekerjaan itu bila wabah ini benar-benar sudah terhindari, bila penduduk sudah sehat benar. Dan itu semua, Kang, dibiayai dari penjualan kalung pemberianmu, yang sebagian telah dibelikan obat-obatan dan beras.”
Amin tidak bicara. Dia sudah memperkirakannya.
“Akang tidak marah?”
Amin menarik napas panjang.
“Bagi Nia, kalung itu adalah hadiah terindah yang pernah diterima, perhiasan terindah yang pernah dipunyai. Mungkin bila membelinya sendiri, Nia tidak mungkin mendapatkannya sampai kapanpun. Bapak pun tidak mungkin membelikannya. Akang pasti kecewa, maafkan Nia, karena tidak bisa memberitahu Akang terlebih dahulu.”
Amin masih diam.
“Akang marah?”
Amin memeluk istrinya, erat sekali. Dan katanya, “Akang tidak marah. Kita orang Ninggul, yang tahu bagaimana kelaparan mesti dihadapi. Engkau hadiah terindah tidak saja bagi Akang, tapi juga bagi Ninggul.”
Di luar, suara jengkrik begitu jelas. ***
  


Rancakalong, 25 September 2002


  

PILIHAN

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni