Jejak Kata :

Sophia

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Jumat, 04 Januari 2013 | 06.00



Sophia masih duduk di bangku taman. Matanya tidak lepas dari kolam. Angin menyisir pipinya, menggeraikan rambutnya yang panjang berkilau karena tertimpa cahaya bulan. Diantara bunga-bunga yang tertunduk malu, Sophia adalah bunga terindah yang pernah kulihat.
Sejak mataku menangkap keanggunan wajah Sophia dengan latar belakang senja yang menakjubkan, tidak ada kedip di kelopakmataku. Aku takut kehilangan pemandangan ini barang sedetik. Aku tahu, alam akan berubah cepat. Aku tidak mau seperti seseorang yang bergumam lirih, “Begitu indah pemandangan senja, sayang cepat berlalu.” 2
Tapi ini barangkali senja yang lain. Senja yang menularkan keindahannya kepada apapun dan siapapun. Juga kepada malam yang kemudian datang bersama bulan dan ribuan bintang. Keindahan abadi, dari senja yang lain, karena apa? Aku merasa Sophia yang menjadikan senja begitu lain.
Dari sini, dari luar pagar taman, masih tanpa berkedip aku melihat Sophia dengan latar belakang keremangan malam di taman. Sebuah tas ransel penuh yang mengisyaratkan perjalanan panjang, tergeletak di sampingku. Daripada terganggu dalam perjalanan, aku pikir lebih baik menunda keberangkatan. Aku ingin menuntaskan kepenasaranku kepada Sophia.
Perjalanan ke Negeri Cahaya memang mengisyaratkan lepas dari apapun dan siapapun yang ada di dunia ini. Aku masih punya raga yang perlu dipenuhi kebutuhannya, tapi tidak menjadikannya begitu penting. Mata boleh melihat, telinga boleh mendengar, perut boleh makan, hidung boleh menghirup; tapi semua itu lebih indah setelah nafs menggantikan tugasnya.3 Bertahun-tahun aku mempersiapkan diri setelah seluruh indera dan elemen di tubuhku selalu bermimpi tentang perjalanan ini. Dan untuk terakhir kali, aku ingin memandang Sophia, si kekasih gelap yang selama ini membuatku mengurungkan perjalanan.
Tapi lama-lama memandangnya, aku seperti seorang mahabiksu yang terpesona kecantikan selir raja.4  Dan aku pun seperti Mishima yang ragu. Aku ingin masuk ke dunia Sophia dan menjadikan ketersesatan adalah keindahan. Aku ingin menikmati bagaimana memabukkannya bibir Sophia, bagaimana menenggelamkannya kedalaman mata Sophia, bagaimana menerbangkannya geraian rambut Sophia, bagaimana menggelincirkannya kulit Sophia. Atau segera berangkat, melakukan perjalanan mengikuti jalan cinta yang bercahaya dari kedalaman nafs yang tak terkirakan sebelumnya, dan mengubur segala yang berbau Sophia.
“Tapi apalah artinya sebuah perjalanan, jika tidak menghantui seseorang,” kata sebuah suara, entah dari mana.
**
Niat melakukan perjalanan itu bermula dari sebuah puisi. Membacanya dalam kelengangan pukul 12 malam, aku seperti berada di dunia lain. Dunia ketentraman, keindahan, sekaligus juga dunia airmata. Aku rasa perjalanan adalah puisi yang lain. Maka aku berkemas; mengumpulkan kata-kata, mengepak perumpamaan, dan membungkus sebanyak-banyaknya sunyi.
“Tapi ingat, seperti juga puisi, perjalanan tidak punya target,” kata Acep, teman yang tadinya akan melakukan perjalanan bersama, tapi tidak jadi karena tidak bisa meninggalkan goyang dangdut.
Baru kuperhatikan, teratai ternyata hanya mekar malam hari. Untuk siapa keindahan bunga teratai?
**
Nyatanya, di taman ini, keberangkatanku tertahan. Tidak saja oleh Sophia, si gadis anggun dengan latar malam yang mempesona. Tapi juga oleh keinginan menjadi hantu. Apa artinya keberangkatan bila tidak menghantui yang ditinggalkan? Sementara perjalanan harus bersih dari segala keinginan dan harapan.
Angin menyisir pipi begitu perih. Dan sunyi kolam menghipnotis kesadaranku. Pelan-pelan, Sophia menghampiriku.
“Mengapa memandangku seperti itu?” katanya.
Aku tergagap. “Seperti apa?”
“Seperti kamu memandangku.”
Aku menggeleng. “Aku tak punya perbendaharaan kata-kata untuk menerjemahkannya.”
“Hanya itu?”
Aku berangkat diantar senyum Sophia. Aku tidak tahu, apakah berjam-jam pandanganku telah menghantuinya. Tapi yang jelas, berabad-abad perjalananku, aku berusaha membunuh Sophia, dan gadis itu tak mati-mati. ***
                                                                                              Bandung, 2001


1. Sophia (bahasa Yunani, artinya kebijaksanaan), menurut Al-Biruni adalah kata dasar shufi. Populer di kalangan remaja Indonesia setelah Sheila On 7 menyanyikan lagu Sefhia. Alumni IAIN Bandung pun ikut-ikutan menerbitkan jurnal filsafat bernama Sophia.
2. Dalam cerita silat China klasik, dengan mengutif puisi-puisi seangkatan Wang Wei atau Li Tai Po, sering dijumpai seorang tokoh yang berdiri memandang senja dengan suasana mengharukan. Dan dia akan berucap lirih: “Begitu indah senja di langit Barat, sayang cepat berlalu.”
3. An-nafs adalah istilah dalam bahasa Arab, berkaitan dengan nafas, jiwa, esensi, diri dan nature. Menurut Syaikh Muzaffer Ozak, seorang guru shufi pimpinan Tarekat Halveti-Jerrahi Turki yang mengajarkan shufisme di Amerika Serikat, an-nafs merujuk kepada apa yang dihasilkan dari interaksi antara raga dan ruh.
4 Suatu senja, seorang mahabiksu yang telah bertahun-tahun memasuki dunia bathin, terpesona seorang selir raja dengan seperangkat daya tarik materialnya. Adegan dalam cerpen Imam Kuil dari Shiga dan Kekasihnya karangan Mishima itu seringkali mengganggu saya. Saya rasa Mishima adalah peragu. Tapi waktu lain, saya merasa saya yang selalu ragu.

Hadiah Terindah

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Kamis, 03 Januari 2013 | 07.19

 Tabloid Nova, 3 November 2002


Begitu sampai ke rumah, yang pertama diperhatikan Aminudin adalah leher istrinya. Karena di bagian tubuh yang selalu tertutup kerudung itu tidak dilihatnya kalung bergantungan batuan putih. Amin tidak tahu apa nama batuan itu. Itu tidak penting baginya. Karena yang utama, saat pertama melihatnya di toko mas, dia merasa kalung itu akan bagus dipakai istrinya. Dan uang tabungannya yang dikumpulkan diam-diam, mencukupi untuk membelinya.
Memang tidak begitu istimewa bila diukur timbangannya yang cuma tujuh gram. Tapi bila orang tahu bagaimana susahnya menabung sebanyak itu bagi pegawai kecil seperti Amin, kalung mas seberat itu sangat istimewa. Sudah lima tahun sejak melamar gadis yang pintar mengaji itu, Amin ingin memberinya hadiah seistimewa kalung itu. Selama itu juga dia menabung dengan mengirit makannya, berhenti merokok sama sekali, mengumpulkan tips majikannya yang sering menyuruh-nyuruh di luar jam kantor, dan mencari tambahan dengan membantu mencuci piring di warung tegal setiap malam.
Dan Nia menerimanya begitu suka cita. Berkali-kali dia mencubit tangannya sendiri, seolah ingin meyakini bahwa itu bukan mimpi. Wajahnya begitu berseri. Tubuhnya berputar saat bercermin di kaca lemari. Amin bahagia melihatnya.
“Tapi, darimana Akang punya rijki sebanyak ini?”
“Menabung, sejak lima tahun lalu, sejak kita menikah dulu.”
“Hah?”
Mulut Nia melongo. Tidak terbayangkan olehnya, bagaimana suaminya menabung. Karena semua gaji yang tertera di struknya diterimanya setiap bulan. Kalaupun dia memberikannya kembali, sekedar buat ongkos dan beberapa batang rokok setiap harinya.
**
Kalung mas yang hanya dipakai Nia bila pergi ke surau itu, memang istimewa. Tidak saja bagi suami istri itu, tapi juga bagi seluruh kampung Ninggul. Rumah-rumah di sini terdiri dari petak-petak panggung, berdinding bambu, beratap rumbia, berlantai tanah. Satu dua rumah yang termasuk bagus, seperti rumah Ketua Kampung, beratap genting. Tapi genting itu pun dibeli tidak baru, karena sudah menghitam dan ditumbuhi lumut di sana sini.
Keistimewaan di Ninggul sebenarnya sederhana bila dilihat dari kampung lain. Buat saja rumah dengan setengahnya ditembok, itu sudah istimewa. Rumah seperti itu tentu saja tidak seberapa berharga di kampung lain, apalagi di kota kecamatan. Tapi di Ninggul, tidak saja istimewa, rumah setengah tembok adalah keajaiban. Siapa yang sanggup membeli semen, membayar buruh angkut, mendatangkan tukang tembok, dengan pertanian seperti ini?
Pertanian di Ninggul memang istimewa bila sanggup memberi sarapan pagi dan dua kali makan sehari sampai kenyang. Karena hasil dari sawah yang hanya bisa digarap setahun sekali, palawija yang selalu kurang pupuk, tidak pernah memberi keistimewaan seperti itu. Dulu pernah ada penyuluh datang dari Kecamatan, memberi petunjuk cara bertani yang baik, memilih bibit, memupuk, tapi tidak lama diturut masyarakat. Itu semua terlalu rumit diterapkan di pesawahan kering, digarap oleh masyarakat Ninggul yang mayoritas buta hurup, sudah terbiasa dengan pengiritan biaya bertani. Dan mungkin bagi penyuluh itu, datang ke kampung yang memerlukan berjalan kaki seharian untuk mencapainya, terlalu berlebihan.
Ninggul memang jauh dari mana-mana. Untuk belanja ke kota kecamatan, memerlukan seharian berjalan kaki. Tidak bisa memakai kendaraan, karena mesti melewati pinggir hutan bercadas, tebing-tebing jurang, dan hamparan ilalang yang kering. Karenanya jarang ada penduduk yang pergi ke kota. Mereka mencukupkan diri dengan apa yang bisa dihasilkan tanahnya.
Kekurangan makanan adalah hal biasa. Tidak saja saat paceklik tiba, saat matahari terus bersinar, tanaman mulai mengering, persawahan belah-belah, tapi juga setelah panen dimana penghematan mesti dimulai. Anak-anak akan bermain sampai ke pinggir-pinggir hutan, mencari singkong liar yang umbinya tidak lebih dari ibu jari kaki. Atau masuk ke dalam hutan, mencari buah kupa yang rasanya asam.
Bagaimana tidak istimewa kalung mas seberat tujuh gram di kampung terisolir seperti itu? Tapi Amin sendiri memang warga Ninggul yang istimewa. Berbeda dengan penduduk lainnya yang buta hurup, Amin sempat belajar baca-tulis di sekolah. Sejak usia tujuh tahun dia dibawa oleh seorang pejabat kecamatan yang pernah berkunjung ke Ninggul saat wabah muntaber terjadi. Bapak dan dua orang saudara Amin termasuk korban yang meninggal. Dia sendiri dibawa ke kota kecamatan, membantu-bantu di rumah Pak Sekretaris Camat. Dia disekolahkan sampai tamat SD.
Di rumah Pak Sekmat, Amin belajar banyak. Dia bisa mengurus taman, mencuci mobil, sampai membuat kopi, teh tubruk, dan menanak nasi. Kemudian dia menjadi pesuruh di kantor anak Pak Sekmat di kota kabupaten, mendapat gaji tiap bulan, dan mendapat satu kamar buat tidur. Bagaimana tidak istimewa pekerjaan seperti itu bagi kampung semiskin Ninggul?
Amin sebenarnya bisa meninggalkan kemiskinan Ninggul dalam hidupnya. Banyak wanita pinggiran kota yang akan mau dilamar oleh orang sebaik dan bekerja seperti Amin. Tapi Ninggul seperti yang punya magnit bagi anak-anaknya. Amin pulang ke Ninggul setelah punya tabungan cukup, menengok emaknya yang hidup sendiri, dan melamar Nia.
Nia sendiri adalah bunga yang mekar di tanah kering Ninggul. Dia anak satu-satunya Ketua Kampung. Tidak pernah sekolah, tapi sempat belajar ngaji di pesantren kecamatan, dan kemudian mengajar anak-anak di surau satu-satunya di Ninggul. Bagaimana Nia akan mendapat pasangan bila Amin tidak datang? Karena Nia memang berbeda dengan anak-anak yang berkulit hurik, berambut merah terkena sinar matahari, dan bergigi jarang digosok.
Setelah menikah, sebenarnya Amin dan Nia bisa pindah ke kota kabupaten, memulai hidup baru, menjauhi kemiskinan Ninggul. Tapi mereka tidak melakukannya. Bukan karena takut durhaka seperti pandangan penduduk Ninggul. Siapapun anak Ninggul yang merantau tanpa kembali, adalah anak durhaka yang tidak akan mendapat berkah hidupnya. Amin dan Nia tidak percaya itu. Tapi mereka tidak melakukannya, karena Ninggul memang seperti magnet yang menarik anak-anaknya dimanapun berada. Karenanya tidak satu pun anak Ninggul yang merantau tanpa pulang.  
Karenanya siapapun orang Ninggul akan setuju kalau Amin dan Nia adalah pasangan istimewa. Bahkan berkah bagi Ninggul, meski suami-istri ini belum dikaruniai anak. Penduduk Ninggul selalu punya harapan besar ketika melihat anak-anaknya pergi mengaji, belajar baca tulis di surau kecil. Bila mereka keluar kampung, setidaknya bisa membicarakan Amin dan Nia sebagai kebanggaan.
Karenanya wajar dan membanggakan bila hadiah seistimewa kalung mas seberat tujuh gram itu diberikan Amin kepada Nia. Tidak saja jadi kebanggaan Amin  yang memberi, Nia yang menerima, tapi juga kebanggaan seluruh kampung. Mereka seperti mempunyai suatu harapan yang bisa membawanya keluar dari kemiskinan. Meski hanya mimpi, meski hanya sekedar berharap.
Tapi hadiah istimewa itu tidak dilihat Amin pada kepulangannya kali ini. Biasanya Nia akan terus memakainya pada hari-hari dimana Amin diperkirakan pulang. Tidakkah Nia lupa? Belum sempat Amin bertanya, ada suruhan Ketua Kampung menjemput istrinya.
**
Seperti biasa, bila datang petang, Amin akan istirahat sebentar dan terbangun sorenya. Ketika bangun, istrinya baru selesai masak. Mereka pun makan. Nasi putih yang masih panas, dadar telor, sambal kemangi, kerupuk. Tentu saja itu makanan istimewa bagi Ninggul. Nia pun hanya memasaknya bila Amin pulang saja. Selama dua hari. Karena biasanya hanya selama itu Amin pulang.
Hari-hari biasanya, seperti juga penduduk lainnya, Nia hanya menanak nasi yang dibatasi jumlahnya, ulekan cabe garam dan lalapan yang ditemukan di seputar rumah. Kalaupun membakar ikan asin atau mendadar telor, mesti bertahan untuk beberapa hari.
Amin tahu makanan sehari-hari orang Ninggul. Tidak pernah dibiarkannya perut keroncongan dikenyangkan semaunya. Tapi malamnya, ketika dia berkunjung ke rumah-rumah tetangga dan saudara, makanan yang biasa itu pun tidak ditemukan. Mereka menanak tiwul, gaplek, bahkan juga gadung. Anak-anak yang berdaging tipis, berkulit kering, tersenyum memperlihatkan gigi mereka yang kotor. Makanan seperti itu tidak menjadikan orang Ninggul keracunan, karena Ninggul memang sudah berpengalaman memasaknya.
Hanya di rumah Ketua Kampung, mertuanya, Amin masih mendapatkan nasi ditanak. Itu pun menjadi bubur, untuk makanan beberapa orang yang sakit. Wabah muntaber itu seperti mau datang lagi bila Ketua Kampung dan Nia yang masih hapal tanda-tandanya, tidak cepat bertindak. Mereka mengajak seluruh penduduk Ninggul yang sehat untuk mengambil air bersih di sumbernya yang cukup jauh. Jangan gunakan lagi air pancuran yang keruh untuk memasak apapun. Sebagian lagi belanja ke kota, membeli beras dan obat-obatan, jaga-jaga bila bantuan dari kecamatan terlambat datang seperti tahun-tahun lalu.
Sampai pulang kembali ke rumah, Amin tidak bicara apapun. Pertanyaan yang sudah di mulutnya pun tidak dikeluarkannya. Tidak ada lagi keinginan untuk mengetahui keberadaan kalung pemberiannya. Biarkan saja, itu sudah menjadi hak Nia, pikirnya. Sebagai anak Ninggul dia terlalu hapal meski hanya melihat isyarat sekelebat. Kekurangan makanan kali ini, rasanya berbeda dari musim-musim kering yang lalu. Orang Ninggul sudah biasa makan tiwul, gaplek, atau gadung, tapi kali ini makanan tanpa dicampur beras itu mengisyaratkan lain.  
Ketika mau tidur Amin bertanya lirih: “Separah itukah kekeringan musim ini?”
“Mungkin belum seberapa, karena ini baru awal musim kering. Semua orang tahu, kita mesti cepat bertindak bila tidak ingin ikut mengering seperti sawah-sawah itu. Kita tidak punya modal untuk mengalirkan air dari sumber yang jauh. Saya akan memulai pekerjaan itu bila wabah ini benar-benar sudah terhindari, bila penduduk sudah sehat benar. Dan itu semua, Kang, dibiayai dari penjualan kalung pemberianmu, yang sebagian telah dibelikan obat-obatan dan beras.”
Amin tidak bicara. Dia sudah memperkirakannya.
“Akang tidak marah?”
Amin menarik napas panjang.
“Bagi Nia, kalung itu adalah hadiah terindah yang pernah diterima, perhiasan terindah yang pernah dipunyai. Mungkin bila membelinya sendiri, Nia tidak mungkin mendapatkannya sampai kapanpun. Bapak pun tidak mungkin membelikannya. Akang pasti kecewa, maafkan Nia, karena tidak bisa memberitahu Akang terlebih dahulu.”
Amin masih diam.
“Akang marah?”
Amin memeluk istrinya, erat sekali. Dan katanya, “Akang tidak marah. Kita orang Ninggul, yang tahu bagaimana kelaparan mesti dihadapi. Engkau hadiah terindah tidak saja bagi Akang, tapi juga bagi Ninggul.”
Di luar, suara jengkrik begitu jelas. ***
  


Rancakalong, 25 September 2002


  

Warung Tengah Malam

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Rabu, 02 Januari 2013 | 06.36


Bandung Pos, 26 Oktober 1994 

Pemuda berjaket kumal itu tertawa di antara irama dangdut yang sedang dinikmatinya. Sesekali ditenggaknya bir yang tak lepas dari genggamannya. Lalu tawanya menggema kembali setelah dia berhasil mencolek pantat perempuan yang lewat di depannya. Teman-temannya yang juga sedang berjoget, memeriahkan suasana dengan tawa khasnya masing-masing.
Aku memandang pemuda-pemuda itu sambil menikmati kopi yang disuguhkan Nori. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya dua atau tiga bulan yang lalu, yang berjoget sambil mabuk seperti pemuda-pemuda itu adalah aku. Setelah letih berjoget dan bir di botol habis, aku akan menghampiri Mirna dan menyewa kamar di belakang. Kalau tidak si Mirna, Sita, Dewi, Rini atau yang lainnya suka juga menemaniku. Setelah itu aku tidur dan puas.
Kalau kemudian aku lebih suka nangkring di warung Nori, ini karena dia punya sesuatu yang menarik hatiku. Nori membuka warung paling ujung di antara deretan warung-warung yang dibuka setiap malam dan tutup menjelang pagi di belakang pasar kota kecilku. Hampir setiap malam, warung Nori bisa dikatakan yang paling sepi.
Suatu malam aku mencoba minum kopi di warungnya. Aku menikmati kesendirian sambil memandang teman-temanku yang lagi joget. Aku ngobrol dengan Nori dan mendapatkan suatu kenikmatan yang membuatku kecanduan untuk menghabiskan malam-malamku di warungnya.
Kenikmatan itu kudapatkan ketika aku mengajaknya untuk tidur dan dia menolak. Di tempat seperti ini, dimana orang-orang tak lagi sempat memikirkan moral, susila dan kebersihan hati, karena terlalu sibuk memikirkan nasi sebagai penunjang hidup ragawi, Nori adalah sebuah lelucon. Dan aku senang lelucon itu. Meski bagi pengunjung lain, lelucon itu mungkin sama artinya dengan penolakan untuk mengunjungi warung Nori.
Sekali waktu, setelah sekian lama kami hanya ngobrol, aku memeluk pinggang Nori. Dia mendiamkanku. Sebagai wanita usia menjelang tiga puluhan, Nori masih menggairahkan dengan daging-dagingnya yang kenyal.
“Kenapa selalu menolak setiap kuajak ke belakang?”
Nori tidak menjawab. Tangannya mengusap-usap tanganku.
“Takut dosa?”
Nori tertawa. Baru kudengar suara renyah itu sejak aku jadi pelanggan tetap warungnya.
Dan sejak malam itu, Nori mau kuajak ke belakang untuk menyewa kamar. Nori memang memuaskan. Dia tidak seperti Mirna, Sita, Rini dan yang lainnya, yang main cepat-cepat dan pergi begitu saja. Nori banyak bercerita, tentang perjalanan hidupnya, dengan suara parau. Dan dari sudut matanya aku melihat sebutir air jatuh.
Sering aku tertawa mendengar perjalanan hidupnya. Tapi Nori mungkin tak tahu, ada nada kecewa dalam setiap tawaku. Bagiku, Nori lebih memberikan kenikmatan saat menolak untuk tidur. Dia mungkin tidak tahu perasaanku dan aku tak mau menceritakannya. Yang masih memberi kepuasan buatku karena Nori hanya mau diajak ke belakang olehku. Pengunjung lain yang mencoba mengulurkan tangan, selalu ditolaknya. Tapi meski begitu, aku lebih mengharapkan Nori menolak siapa saja, termasuk aku, seperti pertama aku mengenalnya.
“Sekarang tak takut dosa?” tanyaku suatu malam.
Nori tertawa. Tangannya memegang tanganku yang sedang memeluknya. Kemudian wajah anggunnya menghadapku dan berkata, “ Sekarang ke belakang?”
Aku tertawa. Tapi kemudian aku yang merasa kesepian dan kesal, mungkin juga marah, seperti pertama kali aku datang ke tempat ini. Aku tidur di pangkuan Nori dan berkata, “Malam belum begitu dingin. Berceritalah, aku ingin mendengarkan ceritamu.”
**
Warung tempat aku menghabiskan malam-malamku ini dikenal dengan sebutan Warung Buka Malam. Tapi aku lebih senang menyebutnya Warung Tengah Malam. Aku memang dating ke warung di belakang pasar dan singgah di tempat Nori setiap hampir tengah malam dan pulang menjelang pagi.
Meski aku tak pernah menyaksikan waktu-waktu lain selain waktu kunjunganku, aku tahu keadaan Warung Tengah Malam ini. Siang hari, bila kita ke belakang pasar, warung-warung ini tak akan pernah ada. Di sana hanya akan kita dapatkan tukang sayuran, pindang, buah-buahan dan semacamnya menggelar dagangannya. Baru menjelang malam, warung-warung ini akan dibangun. Tiangnya adalah bambu-bambu kecil dan atapnya lembaran plastik. Dengan mengambil aliran listrik dari gardu keamanan pasar, warung-warung ini sedikit meriah dengan lagu-lagu dangdut dan bohlam sepuluh watt.
Berbagai macam makanan ada. Mulai dari sate, gule, soto, sampai mie rebus, roti bakar dan minuman macam bir, ada di situ. Dan sebagai daya tarik tambahan, atau mungkin juga daya tarik utama, di sana ada perempuan-perempuan yang siap diajak bercanda dan seterusnya.
Sarana seperti itu memang memberi sedikit kesenangan bagi pengunjung yang rata-rata lelaki sibuk dalam mencari penunjang hidup. Asal sedikit punya uang, siapa saja boleh bersenang-senang di sana. Maka sopir bis, kondektur, pegawai negeri golongan bawah yang frustrasi karena gajinya tak memenuhi kebutuhan hidup, pedagang-pedagang kecil yang pulangnya tiga bulan sekali ke kampung, atau pengangguran-pengangguran yang frustrasi dan kebetulan sedang punya uang, hampir setiap malam ada di sana.
Menjelang pukul sembilan malam, pengunjung mulai meramai. Perempuan yang biasa mangkal di sana, mulai hilir mudik ke belakang (Di sana ada rumah yang menyewakan kamar-kamar kecil per jam), atau pergi ke suatu tempat kalau ada perjanjian khusus dengan penyewanya. Satu dua pengunjung laki-laki, datang dan pergi bergantian. Mereka makan-makan sambil tertawa. Sebagian menenggak bir dan joget di depat warung. Yang lain menyoraki dan memberi komentar-komentar. Lalu mereka tertawa bersama-sama. Atau, kalau keadaan lagi jelek, ada juga yang berkelahi.
Aku hapal betul keadan Warung Tengah Malam seperti ini. Aku memang salah seorang penikmatnya. Hampir seluruh tempat seperti ini, di kotaku, pernah aku kunjungi. Sampai aku kecanduan untuk datang ke Warung Tengah Malam yang di belakang pasar ini, karena di sini ada Nori.
Aku tak pernah menyesal untuk menghabiskan uang di warung Nori. Sampai uang hasil menarik becak siang tadi, atau uang pemberian istriku, habis di sini, aku tak kapok. Nori bagiku bagaikan air yang kutemukan di saat aku kehausan. Dia memberikan kesejukan dalam hatiku atau mungkin dalam kefrustrasianku. Aku, yang pernah menamatkan SMA dan sempat masuk kuliah, akhirnya hanya jadi tukang becak. Dan istriku, yang dulu aku cintai setengah mati, aku biarkan utnuk mencari nafkah, karena aku tak berdaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Maka Nori adalah pelarianku. Dia begitu mempesona saat menolak ajakan untuk ke belakang menyewa kamar. Meski kemudian aku kecewa karena Nori mau kuajak ke belakang, pesonanya di mataku tak luntur semua. Aku yakin, Nori sendiri tak pernah menginginkan hal itu terjadi.
Suatu malam, selesai tidur, Nori mengusap-usap rambutku, lalu katanya, “Manusia, tak pernah puas akan keadaannya. Mereka selalu terpesona oleh sesuatu yang gemebyar dan mengejarnya.”
Aku membenarkan dalam hati. Tapi kemudian aku berpikir, apakah dia menyindir atau sedang membicarakan dirinya. Aku tidak tahu. Mungkin kedua-duanya benar.
Lalu Nori bercerita tentang kisah hidupnya, seperti malam-malam yang lain. Dia datang dari desa, bersama suaminya, untuk hidup di kota. Setelah melalui perjalanan yang mereka rasakan begitu pahit, mereka terdampar di Warung Tengah Malam belakang pasar. Suaminya menarik becak dan menjaga keamanan di sana. Mereka hidup lumayan dan tak mau lagi hidup susah.
Aku belum pernah melihat suami Nori selama ini. Sampai suatu malam, saat ada perkelahian, Nori memberi tahu. “Itulah suamiku,” katanya sambil menunjuk orang yang mengamankan pemuda-pemuda yang berkelahi. Aku ingat, lelaki itu yang pernah mengantar aku pulang dengan becaknya. Hanya sekali itu aku mau diantarnya. Dia terlalu mencurigakan. Setiap malam, saat aku lewat di tempat pangkalan becak, laki-laki itu selalu memandangku.
Malam itu, waktu laki-laki itu mengantarku pulang, dia berkata: “Tak pernah ada orang yang senang saat apa yang dipunyai dan dicintainya dipermainkan orang lain. Semuanya akan marah, meski kata yang lain barang itu begitu murahan dan tak berharga. Cinta adalah sesuatu yang tidak pernah diperjualbelikan.”
Hampir saja aku turun dan mengajaknya berkelahi waktu itu. Tapi aku terlalu capek dan mungkin apa yang dikatakannya  hanyalah sebuah kebetulan, tidak menyindirku. Waktu itu Nori belum mau kuajak ke belakang untuk menyewa kamar. Aku hanya sering memegang tangannya dan mengusap-usap rambutnya.
**
Malam ini kembali aku menghabiskan sebotol bir. Kopi yang diseduh Nori tidak lagi memberi kepuasan. Pesona Nori berkurang lagi dari hatiku. Tadi, saat aku memeluk pinggangnya, perlahan Nori melepaskannya.
“Mau ke belakang sekarang?” tanyanya.
“Aku ingin mendengarkan dulu ceritamu.”
Tapi Nori menggeleng. Dan katanya, “Duduklah dulu di depan, aku ada tugas malam ini.”
“Tugas apa?” tanyaku. Belum sempat pertanyaanku terjawab, Nori berdiri dan menghampiri si Gendut, sopir bis yang rutin setiap bisnya bermalam di kotaku mengunjungi Warung Tengah Malam belakang pasar ini. Mereka bergandengan menuju ke belakang.
Lewat tengah malam aku mengambil lagi sebotol bir. Nori yang tadi telah menemani si Gendut, menghampiri dan membenamkan kepalaku ke pelukannya. Lalu katanya, “Mau ke belakang?”
Aku tidak menjawab.
“Atau ke rumahku saja. Suamiku tadi pergi dengan si Mirna. Sejak dia mengijinkan aku menemanimu ngamar, dia sering pergi dengan si Mirna. Mungkin di rumah si Mirna dia mabuk.”
Sejak malam itu, saat Nori menerima ajakan si Gendut, warung Nori mulai ramai, seramai warung-warung lainnya. Sesekali, aku pun melihat suami Nori mabuk dan ngamar. Dia tak lagi jadi penjaga keamanan di Warung Tengah Malam ini. Aku mengerti perasaannya. Sekali aku berkelahi dan mabuk bersamanya.
Meski Nori sibuk melayani pengunjung lain, ia selalu menyempatkan diri menghampiriku dan membenamkan kepalaku di pelukannya. Lalu ia akan mengusap-usap kepalaku dan berkata, “Mau ke belakang?”
Aku menggeleng. “Malam sudah larut, sebentar lagi subuh, aku harus pulang,” kataku. Aku pun pergi, menuju Warung Tengah Malam lain, kira-kira dua kilo meter jauhnya dari sini. Di sana, istriku pasti sudah menunggu. Atau mungkin aku hanya mendapatkan surat seperti biasa yang menyatakan bahwa istriku sedang pergi dengan penyewanya dan warung dititipkan pada tetangga dan harus dibongkar.
***



BULAN DI LANGIT KOTA

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Selasa, 01 Januari 2013 | 07.21


Cerpen ini pernah dipublikasikan Pikiran Rakyat, 24 Januari 2012, dengan judul Bulan Perawan.


Malam belum begitu tua. Bulan yang bersinar penuh tersaput gumpalan awan hitam. Sejak pagi sampai malam, di jalan-jalan kendaraan memang tidak berhenti, mengeluarkan gas beracun, mengotori langit. Pada dasarnya, ketidakindahan alam, manusia juga yang membikinnya. Berulangkali saya memahami kebenaran pernyataan itu. Benarkah? Benarkah ketidakindahan, manusia juga yang membikinnya? Termasuk cinta?
Dari tingkat 20 sebuah hotel saya memandang betapa sibuknya Jakarta. Di langit, bulan begitu suram. Di sepanjang jalan, lampu-lampu berkilatan seolah berlomba menyemprotkan sinarnya. Diskotik, rumah makan, pub, mulai sibuk. Para pegawai yang baru pulang, berjajar menunggu mobil angkutan. Mereka begitu kecil, seperti liliput, dari sini. Atau mungkin mereka benar-benar liliput dalam gemuruh kota Jakarta.
Entah sejak kapan, dalam pergaulan hidup dengan jutaan manusia di sini, saya merasa begitu sendiri, begitu sepi. Segala tempat yang katanya menghibur, tak lebih dari penggumpalan kepenatan. Saya tetap merasa kehilangan, kehilangan sesuatu yang saya sendiri tidak tahu apa itu.
Apa yang tersisa dari sepi selain separuh kenangan? 1 Ya, untungnya saya masih punya kenangan. Apa jadinya hidup manusia seandainya tidak punya kenangan. Mungkin tidak ada bedanya kita dengan robot. Tapi, apa sekarang saya bukan robot? Jelas bukan, karena robot tidak mungkin datang ke tingkat 20 sebuah hotel untuk menunggu seseorang. Seseorang dengan rambut sepunggung bergelombang dan bermata teduh dan berbibir mungil. Ah ya, saya begitu kangen kepadanya. Sudah sebulan saya tidak bertemu dengannya.
Saya ambil telepon genggam dan pijit-pijit nomornya.
“Halo.”
“Kenapa lama, Sayang?”
“Jalannya agak macet.”
“Sekarang di mana?”
“Sebentar lagi sampai. Paling lima menit lagi.”
“Saya sudah kangen.”
“Saya juga.”
**
Dua hari dua malam saya bersama Siska menghabiskan waktu di sebuah kamar tingkat 20 sebuah hotel. Begitu kangen kami. Ke mana-mana selalu berdua sambil berpegangan tangan. Saya belai rambutnya, keningnya, pipinya, matanya, lehernya. Saya cium pelan dan lembut, lalu bergelora, bergelora seperti ombak yang tidak pernah berhenti. Kami ingin menumpahkan seluruh rasa kangen yang menggumpal di dada.
Setiap pagi dan malam kami duduk-duduk di beranda, memandang keluasan langit dan keramaian jalanan.
“Siska, apa kita harus berpisah lagi setelah ini?” kata saya saat kami duduk-duduk di beranda pada malam kedua.
“Kita bisa janjian lagi nanti.”
“Tapi kamu tahu apa yang ada di pikiran dan hati saya, Sayang?”
“Tentang apa?”
“Tentang kita. Saya tidak bisa melupakanmu.”
“Sama.”
“Beda Siska. Saya memang mengatakan hal seperti ini kepada pasangan saya sebelumnya. Kepada Caroline, Ratna, Ineke, Nisa, dan entah kepada siapa lagi. Tapi setiap mengenang kamu, saya merasa berbeda. Saya begitu rindu dengan keteduhan sebuah rumah, tempat kita menjadi pengasuh anak-anak mungil. Saya ingin menikahimu, Siska. Saya ingin membangun sebuah keluarga, seperti yang pernah dilakukan ibu-bapak kita.”
Siska tertawa.
“Kenapa tertawa, Sayang?”
“Kamu bermimpi. Kita tidak mungkin melakukan itu.”
“Kenapa? Kita toh belum pernah menikah dengan siapapun.”
“Tapi saya punya laki-laki lain dan kamu punya perempuan lain.”
“Kita bia putus, Sayang, putus.”
“Ah, saya tidak bisa mengerti pikiran kamu.”
Di langit, bulan bersinar redup, seperti tidak bergairah. Cahayanya berpendar-pendar ingin menembus gumpalan awan hitam. Angin yang berhembus menyampaikan bau buangan kendaraan. Sayup-sayup suara klakson bersahutan. Jalanan macet lagi.
“Tapi saya mencintaimu, Siska. Sangat mencintaimu.”
“Saya juga cinta.”
“Cukup dengan ini menikmati cinta?”
“Ya. Bila kangen kita bisa janjian.”
Saya remas-remas tangan Siska. Saya cium keningnya dengan lembut. Siska terpejam. Begitu bersih wajahnya. Saya dekap erat-erat seolah tidak akan melepaskannya lagi.
“Kamu tidak bohong, Siska? Kamu tidak ingin kita menikah, punya rumah, punya anak-anak yang lucu, punya taman yang penuh dengan bunga-bunga? Setiap sore kita menyiramnya. Kita ajarkan kepada anak-anak bahwa hidup mesti seperti bunga, tetap indah meski tumbuh di tempat sampah. Kamu tidak rindu suasana seperti itu, Siska?”
Siska merangkul saya erat-erat. Tangannya menjelajah punggung saya. Bibirnya naik mencari bibir saya.
**
Perkenalan saya dengan Siska terjadi begitu saja, sepele, seperti perkenalan dengan wanita-wanita lainnya. Saya sedang makan siang di sebuah kafe saat seorang wanita berambut sebahu bergelombang, memakai rok sejengkal di atas lutut, datang dan duduk di meja pojok. Beberapa lama saya perhatikan, dia sendirian dan sepertinya tidak sedang menunggu seseorang. Saya titipkan kepada pelayan secaraik kertas untuk diberikan kepada wanita itu. Bunyi surat itu: “Saya sendirian, anda sendirian, kenapa kita tidak bersama?” Lalu saya tulis nomor telepon genggam saya. Dia tersenyum setelah membaca surat itu, lalu mengeluarkan telepon genggam dari tasnya dan memijit nomor saya. 2
Selanjutnya keluar kafe bersama dan janjian di suatu tempat. Selanjutnya kami sering janjian dan menumpahkan segala hasrat di tempat tidur.
Perkenalan yang sepele. Perkenalan gampangan seperti saya mengenal Ratna, Devi, Shara, Gladis, dan entah siapa lagi. Tapi tidak sepele setelah saya sering melihat matanya, senyumnya, geletar bisikannya, getaran tangannya. Saya menemukan dunia lain yang tidak bisa diberikan wanita-wanita kenalan lainnya. Mengingat Siska, ingatan saya tidak hanya jatuh di tempat tidur, seperti saya mengingat wanita-wanita lainnya.
Mengingat Siska saya disadarkan akan adanya keindahan yang lain. Keindahan sebuah rumah dengan anak-anak mungil dan taman-taman bunganya. Saya ingin memberikan sesuatu kepada kehidupan di masa depan saat saya sudah tidak ada. Saya ingin mewakilkan rasa cinta ini kepada anak-anak saya dan Siska.
Tapi Siska tidak mau. “Kita cukup janjian kalau kangen,” katanya. Memang banyak wanita dalam hidup saya. Si Tante, seorang istri pengusaha kaya yang menjadi pasangan kencan pertama saya yang kemudian memberi saya anak perusahaannya. Lalu teman-teman kerja saya, rekan bisnis saya, kenalan-kenalan saya di tempat hiburan, dan entah kenalan di mana lagi. Tapi saya juga yakin, laki-laki dalam hidup Siska tidak hanya saya dan Si Bapak yang membelikannya sebuah rumah di Pondok Indah beserta keperluan lainnya.
Apakah bagi manusia seperti saya dan Siska, cinta hanya berupa kenangan dan keinginan? Bagi saya tidak. Kegerahan dan kesunyian hidup yang selama ini saya jalani bisa dihempaskan dengan cinta. Dan hanya pada mata Siska saya menemukan getaran-getaran itu.
**
“Saya mencintaimu, Siska,” bisik saya saat kami bertemu di sebuah kamar lantai 20 sebuah hotel.
“Saya juga.”
“Apakah cinta hanya sampai pada keadaan seperti ini?”
Siska tidak menjawab. Tangannya tidak berhenti mempermainkan rambut saya.
“Saya ingin menikah, Siska.”
Siska tertawa.
“Kenapa tertawa?”
“Kamu bermimpi.”
“Kenapa bermimpi?”
“Kita tidak bisa menikmati hidup seperti itu.”
“Lalu apa artinya cinta?”
“Cinta itu saat bibirmu bergetar mencium mata saya. Cinta itu, ya seperti ini.”
Dua hari dua malam saya dan Siska tidak keluar dari sebuah kamar di lantai 20 sebuah hotel. Begitu selesai malam kedua, seperti biasa, Siska berkemas, mencium kening saya dan mengucapkan selamat tinggal.
Saya menatapnya sampai Siska keluar kamar. Dari beranda saya melihat mobil Siska menyusuri jalan, mengecil, dan menghilang. Tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya, sesuatu yang saya sendiri tidak tahu.
***





1 Bait pertama dari puisi The Wedding Song karangan Cecep Syamsul Hari
2 Saya membaca perkenalan seperti ini di sebuah majalah terbitan Jakarta, tanggal penerbitannya tidak tercatat. Saya sering khawatir dengan materialisme yang memungkinkan pergaulan seperti ini. Kata seorang teman, itulah kekhawatiran seorang yang tidak mapan secara ekonomi. Barangkali iya.




Gadis di Tepi Jendela

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Senin, 31 Desember 2012 | 05.27



why do you love me
so sweet and tenderly

Setiap saya memutar lagu lama dari Koes Plus, gadis itu selalu berdiri di tepi jendela. Belum pernah kami berpandangan. Matanya selalu menatap ke jauhnya, ke sepanjang sungai Cikapundung. Saya sering memperhatikannya. Juga selalu ada perasaan ingin mengenalnya. Tapi kamar kost saya dan kamar (kost?) dia terlalu jauh, dipisahkan sungai Cikapundung. Juga suara gemuruh sungai sangat mengganggu untuk bercakap-cakap.
Maka saya hanya bisa mengira-ngira. Di sepanjang sungai berair coklat ini, di sekitar alun-alun Bandung, rumah-rumah berderet, kamar-kamar bertingkat dibuat dan dikostkan. Kadang ada kamar yang permanen, tapi ada juga yang dibikin asal jadi. Semuanya memang laku. Di seputar alun-alun ini banyak pegawai kecil butuh penginapan. Penjaga toko, waitres, gadis penghitung angka bilyard, pegawai message, salon, wts kecil yang sering nongkrong di tempat dangdutan, semuanya mencari kost-kostan di seputar sini.
Saya termasuk di antara mereka. Sudah sebulan saya bekerja di toko kue. Dari gaji yang lumayan itu saya sisihkan untuk menyewa kamar. Sengaja saya memilih kamar yang dekat sungai. Dari kamar saya tinggal selangkah untuk duduk-duduk di dam aliran sungai. Sejak kecil saya memang menyenangi suasana alam. Meski Cikapundung banyak sampahnya, tapi malam hari indah dan menyenangkan.
Setiap pulang kerja, sekitar pukul 19.00, sebelum mandi saya selalu duduk-duduk di dam sambil merokok. Tape kecil saya hampir memutar lagu yang itu-itu saja, karena saya memang tidak punya kaset banyak. Saat itulah, ketika diputar lagu why do you love me, saya selalu melihat gadis itu berdiri di tepi jendela.
Bisa jadi ia adalah seorang penjaga toko atau gadis penghitung angka bilyard. Tapi melihat wajahnya yang rada mirip Cheche Kirani, mungkin saja ia adalah pegawai hotel berbintang. Bisa saja toh ada pegawai bergaji besar yang ingin kost di seputar sini. Sudah saya bilang, siang hari memandang Cikapundung memang kurang menyenangkan karena banyak sampah, tapi malam hari tetap menggetarkan. Apalagi jika bulan memberi suasana senyap. Cikapundung malam hari seperti mencekamnya gambar-gambar film Garin Nugroho.
Ah, tapi bekerja di manapun dia, apa perdulinya saya. Yang lebih membuat penasaran, mengapa ia hanya berdiri di tepi jendela bila diputar lagu yang itu-itu saja.



y do everything
you make me hapy

Bisa jadi lagu itu adalah kenangannya. Lagu yang selalu mengingatkan akan kisah cintanya dengan pacarnya yang telah pergi entah ke mana. Bukankah tidak ada yang lebih menggetarkan di dunia ini selain mengenang perasaan yang pernah singgah? Atau mungkin ia seorang penyanyi bar yang sedang menghapal lagu itu. Atau semuanya hanya kebetulan. Kebetulan ia ingin berdiri di tepi jendela dan saya kebetulan memutar lagu itu. Bukankah tidak ada yang mustahil?
Dugaan seperti itu sebenarnya tidak menjadi pikiran saya. Hidup saya sudah penuh dengan menduga-duga. Sampai sekali waktu, ketika saya sedang memandangnya, gadis itu tersenyum. Saya berkeliling mencari kamar-kamar lain yang terbuka dan penghuninya sedang menikmati Cikapundung malam hari. Tapi tidak ada kamar yang terbuka. Berarti gadis itu tersenyum kepada saya. Saya membalas senyumnya. Saya melambaikan tangan. Saya memberi isyarat bahwa saya ingin berkenalan. Tapi dia mengggeleng.
**
why do you love me
so sweet and tenderly

Setiap pulang kerja saya memutar lagu itu. Saya melambaikan tangan begitu melihat gadis itu dan mengharap ia tersenyum. Berkali-kali saya memberikan isyarat bahwa saya ingin kenalan. Pernah saya memata-matai penghuni rumah itu, tapi gadis itu belum pernah saya dapatkan di luar rumah. Sampai sekali waktu, sepulang kerja, saya menemukan sehelai kertas di bawah pintu.
Terima kasih kamu selalu memutarkan lagu kesenangan saya. Ttd. Santi.
Sejak itu saya yakin bahwa gadis itu memberikan respon kepada saya. Saya berpikir untuk sekali waktu datang ke tempat kostnya. Saya ingin mengenalnya lebih jauh.
Terlalu berlebihan kalau dibilang saya telah jatuh cinta kepadanya. Tapi wajahnya yang lembut, senyumnya yang menawan, rambutnya yang tergerai, mengingatkan saya kepada senja di sebuah taman. Di sana, bunga-bunga yang bermekaran membentuk siluet tersendiri. Seandainya waktu adalah selembar kertas, saya akan memotongnya saat senja dengan matahari jatuh di atas taman. Saya akan membawanya ke mana-mana. Saya akan menciumnya dalam-dalam seperti saya menghirup bunga sedap malam yang harumnya tak pernah membosankan.
Begitulah, gadis dalam bingkai jendela itu menjadi semacam suasana yang menggetarkan bagi saya. Saat matanya memandang ke jauhnya, saat senyumnya mekar menjadi satu-satunya bunga yang tumbuh di deretan rumah-rumah itu, saat rambutnya tergerai dan sebagian dimainkan angin; saya mendapatkan cekaman-cekaman yang mempesona seolah saya tahu dan memahami masa lalunya. Padahal pengetahuan saya tentang dia tak lebih dari menduga-duga. Atau mungkin perasaan itu timbul karena saya telah jatuh hati kepadanya. Ah, memalukan membicarakan cinta terhadap orang yang belum dikenal sama sekali.
Malam besoknya saya menemukan lagi selembar kertas di bawah pintu. Isinya pendek saja: Tahukah kamu bagaimana menyakitkannya dicintai oleh orang yang kita cintai?
Saya tidak bisa mengerti. Mengapa mesti menyakitkan dicintai oleh orang yang kita cintai. Malah semestinya kita bersyukur. Saya ingin menanyakan arti kalimat itu kepada gadis di tepi jendela yang saya kira si pengirim surat-surat itu. Tapi gadis itu tidak lagi memperhatikan saya. Berkali-kali saya meminta perhatiannya dengan gerakan-gerakan tangan, tapi ia tetap memandang ke sepanjang sungai Cikapundung. Sampai saya cape sendiri dan membiarkan suasana sunyi seperti malam-malam lainnya. Sayup-sayup saya dengar lagu itu.

why do you love me
so sweet and tenderly

Mungkin pernyataan itu ada kaitannya dengan lagu ini. Tapi saya kehabisan imajinasi untuk mengira-ngiranya. Apalagi sejak itu si gadis di tepi jendela tidak lagi mau memperhatikan saya. Dia asyik dengan dunianya sendiri, dunia yang dibentuk oleh kesenyapan malam, gemuruh sungai, angin yang menyisir, bulan yang pucat, suara kendaraan dari kejauhan, bunyi pedagang mie tek-tek, dsb.
Saya tidak bersemangat pulang begitu waktu kerja selesai. Saya merasa gadis di tepi jendela itu tidak lagi memberi respon kepada saya. Sampai sekali waktu, sepulang kerja, saya menemukan beberapa helai kertas di bawah pintu. Warnanya sedikit menguning. Saya pikir kertas itu adalah sobekan dari buku harian karena ada tanggal dan tahunnya. Hurupnya kecil-kecil, seperti yang hati-hati menuliskannya. Dengan perasaan ingin tahu saya cepat membacanya:
Usia saya 20 tahun sekarang. Saya tidak tamat SMP ketika datang ke Bandung. Orang tua saya petani miskin. Saya anak tertua dari delapan bersaudara. Saya bekerja di sebuah swalayan. Gaji saya tidak seberapa, apalagi sebagian besar dipakai sewa kamar dan mengirim ke kampung. Saya bosan menjalani hari-hari yang serba kekurangan. Sampai kemudian seorang teman mengajari bagaimana menikmati hidup di kota besar seperti Bandung. Susah payah saya belajar menikmati hidup seperti itu. Saya menikmatinya dengan uraian airmata dan kesakitan. Tubuh saya memang mulus tapi hati saya berdarah. Saya menjual segala yang saya punya, juga pemberian Tuhan itu.
Sampai sekali waktu seorang remaja, katanya baru semester satu kuliah, menyatakan cinta kepada saya. Saya tertawa karena kata-kata cinta adalah makanan sehari-hari buat saya. Tapi ketika dia memberi cinta dengan bahasa lain, saya terhenyak dan diingatkan kembali tentang kelembutan perasaan itu. Setiap hari dia menemui saya di tempat kerja. Setiap hari dia memberi saya puisi. Setiap hari dia ingin mengantarkan saya pulang. Setiap hari dia menyatakan ingin tahu tempat kost saya dan bertandang setiap malam Minggu.
Saya takjub ketika dengan tangan yang bergetar dia menggenggam tangan saya. Dia menciumnya dalam-dalam. Ah, diam-diam saya pun merindukan perasaan seperti itu. Tapi setiap pelanggan menjemput, saya diingatkan kembali bahwa cinta telah hilang dalam hidup saya. Karenanya saya tidak memberi respon kepada remaja itu, meski dengan hati yang menangis. Dalam keadaan seperti itu, tahukan bagaimana menyakitkannya dicintai oleh orang yang kita cintai? Saya memang sudah biasa menangis dalam hati. Saya memang tidak lagi percaya dengan mulut yang bilang cinta. tapi ketika remaja itu meninggal karena berkelahi dengan seorang langganan saya  yang menjemput, saya tidak tahan.
Selembar lainnya hanya berisi sebuah kalimat: Terima kasih, kamu telah mengingatkan saya tentang cinta, makhluk yang bertahun-tahun saya bunuh tapi tak pernah mati.
Saya pikir menarik juga ceritanya. Saya bergegas ke belakang untuk menemui gadis di tepi jendela itu. Tapi belum sempat saya menggerakkan tangan untuk bertanya, gadis itu melambaikan tangan dan pergi. Benarkah ini kisah gadis yang suka lagu why do you love me itu?
Besoknya saya mendatangi rumah di seberang sungai. Tapi tak seorang pun yang tahu tentang Santi. Penghuni kamar yang jendelanya menghadap sungai itu adalah Dewi, seorang pegawai diskotik yang pergi sore pulang pagi. Saya merasa seisi rumah itu menyembunyikan Santi. Karenanya setiap pagi saya menunggu di depan rumah itu. Sampai seorang tetangga memanggil saya.
“Kamar itu memang pernah ditempati Santi, seorang penjaga swalayan, tapi itu setahun lalu,” katanya. “Entah kenapa, dia melompat ke sungai dan meninggal. Sengaja cerita itu disembunyikan biar yang kost tidak takut. Di mana kamu kenal Santi?”
Saya bergegas pulang. Saya harus secepatnya pindah kost. Tapi saya masih sempat menuliskan sebuah kalimat di buku harian: Tahukah kamu bagaimana menyakitkannya dicintai oleh orang yang kita cintai? Saya tidak berharap hantu itu terlanjur membalas cinta saya.
***


PILIHAN

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni