Jejak Kata :
Home » » Tahu Apa Kamu Tentang Cinta

Tahu Apa Kamu Tentang Cinta

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Kamis, 13 Desember 2012 | 02.11


“Tahu apa kamu tentang cinta!” bentak Ibu. Suaranya seperti yang berteriak. Wajahnya tidak sedap dipandang mata.
Marini menunduk. Ada airmata di pipinya.
“Rasanya Ibu sudah sering menyarankan, lebih baik terima lamaran Markum. Apanya sih yang kurang dari Markum? Wajahnya cukup, sekolahnya tinggi, orang tuanya kaya, keturunan orang baik-baik, pekerjaannya….”
“Tapi Rini tidak mencintainya, Bu.”
“Kamu malah milih Doni. Apanya yang bisa diharapkan dari dia? Penampilannya saja masih perlu diurus. Rambut panjang, celana dekil. Sarjana sih sarjana, tapi apa istimewanya sarjana saat ini? Pekerjaannya saja belum mapan. Apanya yang kamu harapkan?
“Tapi Rini mencintainya, Bu.”
“Cinta lagi, cinta lagi. Tahu apa kamu tentang cinta?….”
Selanjutnya seperti sebulan yang lalu atau dua bulan yang lalu atau tiga bulan yang lalu, saat Marini memberitahukan bahwa Doni akan melamar, Ibu membeberkan pandangannya tentang cinta. Marini tidak berupaya menyela selain kalimat “karena Rini mencintainya” atau “karena Rini tidak mencintainya”.
“Dulu, sewaktu Bapak melamar Ibu, kami hanya bertemu sekali sebelum hari pernikahan. Tapi kedua orangtua sudah melihat ada potensi untuk mengembangkan rumah tangga yang baik di antara kami. Dan apa yang kamu lihat? Kami punya rumah yang permanen, sanggup menyekolahkan anak-anak sampai meraih title sarjana, tidak pernah ada perselisihan yang besar di antara kami. Apa semua itu dipertahankan tanpa cinta?”
Marini menunduk. Hampir putus telinganya mendengar kata-kata yang entah sudah berapa kali dilontarkan Ibu.
“Kamu, juga kakak-kakakmu, terlalu mengagungkan cinta seolah kalian lebih tahu tentang cinta. Padahal kalian tidak tahu apa-apa tentang cinta. Kalian ini anak ingusan yang bandel.”
Sebagai anak yang tidak ingin menyinggung perasaan Ibunya, Marini bertahan selama dua jam tidak pergi dan tidak menyela diceramahi Ibu. Sampai Ibu sendiri menyuruhnya pergi dan mengatakan tetap tidak akan menerima bila Doni melamar.
**
Kalau dikatakan hancur dan tersinggung, Marini mengakui hatinya memang seperti itu. Tapi beban itu sedikit berkurang karena sikap Ibu seperti itu memang tidak asing. Tidak asing karena Marini sudah meminta hal yang sama sebulan yang lalu dan dua bulan yang lalu dan tiga bulan yang lalu. Tidak asing karena sikap Ibu seperti itu terjadi juga kepada kedua kakak Marini, Dian dan Raka.
Tapi bisa juga dikatakan lebih menyakitkan karena sikap Ibu tidak menandakan akan berubah. Barangkali memang tidak akan berubah seperti terhadap Dian dan Raka. Sementara Marini merasa sudah matang untuk menikah. Dia dan Doni sudah cukup lama menyelesaikan kuliah. Pekerjaan, meski belum mendapat yang lebih mapan, tapi untuk membiayai hidup berdua sudah cukup.
Sebenarnya Marini ingin melawan sikap Ibu sehebat-hebatnya saat meminta persetujuan Ibu yang terakhir itu. Tapi Marini tidak berani. Apa gunanya perlawanan seperti itu selain menghasilkan ketersinggungan? Marini bisa memperkirakan apa yang akan dikatakan Ibu bila ia melawan.
“Ibu akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Rini bisa memilih kalau Ibu tidak punya calon. Tapi Ibu punya. Dan Ibu sudah mempertimbangkan baik buruknya. Ibu sudah mencari tahu apa-apanya tentang dia. Dia tidak akan mengecewakan kamu. Jangan malah memilih yang belum jelas kemapanannya.” Begitulah kata-kata Ibu yang diperkirakan Marini.
Dan bila Marini menyelanya dengan mengatakan: “Tapi Rini tidak mencintainya, Bu.”
Ibu akan menjawab: “Tahu apa kamu tentang cinta? Cinta itu akan mengikuti kemudian. Ibu telah membuktikan itu. Tapi kalau kurang materi, keluarga  dia yang belum jelas baiknya, apa itu akan mengikuti? Kamu tahu sendiri apa yang telah terjadi dengan Dian. Dia ngotot memilih suami yang katanya dicintai dan mencintai itu. Tapi apa hasilnya? Mertuanya merongrong dan suaminya main serong. Mereka cerai. Apa itu hasil dari cinta?”
Karena bayangan Marini seperti itulah, dia tidak berani ngotot melawan Ibu. Percuma.
**
“Kenapa kamu tidak melawan,” kata Dian ketika Marini menceritakan sikap Ibu. Dipanggilnya Dido, anak satu-satunya yang baru dua tahun itu.
“Kakak seperti yang tidak tahu saja. Apa perlawanan akan menghasilkan persetujuan Ibu?”
“Lalu kamu mau apa sekarang?”
“Barangkali saya akan melakukan seperti yang pernah dilakukan kakak-kakak saya.”
Dian mengerti sepenuhnya ketika Marini bertekad untuk melangsungkan pernikahan meski tanpa persetujuan Ibu. Barangkali ini adalah mimpi buruk yang ketiga kalinya bagi keluarga. Tapi itu rasanya lebih baik dibandingkan Marini mengikuti kemauan Ibu, karena bila Marini memilih suami pilihan Ibu dan terjadi ketidakharmonisan, penyesalan akan menghantui Marini seumur hidup. Dian memang merasa buta tentang cinta – karenanya ketika Ibu membentaknya: tahu apa kamu tentang cinta!, dia merasa sikap terbaik adalah ngotot mempertahankan pilihannya. Dian tidak menyesalinya. Dia tahu, cinta bukanlah sesuatu yang patut disesali. Cinta adalah sesuatu yang begitu manis meski yang terjadi adalah sebaliknya. Kehancuran keluarganya menjadi kenangan yang menyenangkan bagi Dian.   
Raka tidak memberikan respon yang jelas ketika Marini mengungkapkan niatnya. Sebagai kakak yang melangsungkan pernikahan tanpa persetujuan Ibu, Raka mengerti apa yang dilakukan adiknya. Tapi tadinya dia berharap Marini adalah anak terakhir yang akan menutup lembaran peristiwa keluarganya dengan hal yang menyenangkan. Maka dia hanya tersenyum dan mengatakan: hmm, ketika Marini mengundangnya.
Sebenarnya Ibu terpukul ketika Marini datang bersama Doni dan mengungkapkan niatnya. Tapi Ibu sudah berpengalaman. Meskipun peristiwa itu tidak diharapkannya, tapi ia sudah menyimpan sekian persen perkiraan bahwa peristiwa itu akan terjadi. Pengalamannya ketika menghadapi perlawanan Raka dan Dian setidaknya membuat ia tenang. Ibu hanya mengangguk-angguk dan mengatakan: “Ibu tidak pernah bisa mengerti dengan cinta kalian!” Lalu Ibu masuk ke kamar dan tidak keluar lagi.
**
Persetujuan Ibu sebenarnya memberi arti sikap keluarga – Ibu dan Bapak, dua serangkai yang menjadi setir keluarga – di masa depan. Berani melangsungkan pernikahan tanpa persetujuan Ibu artinya tidak diharapkan untuk sowan ke rumah besar, apalagi untuk memohon pertolongan, kecuali setahun sekali saat Lebaran. Dian dan Raka telah mengalami kebijaksanaan seperti itu sejak menikah. Ibu sebenarnya tidak mengatakannya, tapi sikap-sikapnya selalu menyinggung menantu yang tidak direstuinya.
Marini tahu peraturan tidak tertulis seperti itu dan ia sanggup mematuhinya. Tapi meski begitu ia sempat menangis saat mengenang langkah berani yang telah dilakukannya. Dia teringat Ibu yang selama ia menjadi anak momongannya begitu baik dan mencintainya. Dia ingat saat Ibu menjadi pendengar ceritanya yang setia setiap menjelang tidur. Dia ingat bahwa bersama Ibu telah melakukan banyak hal.
Tapi Marini juga merasa bahwa sikapnya  termasuk wajar untuk dilakukan. Itu juga untuk kebaikan Ibu. Itu juga karena Marini, mungkin Raka dan Dian juga, mencintai Ibu. Coba bayangkan, bila ketiga anaknya mengikuti kemauan Ibu dan keluarganya mengalami kehancuran, tentu penyesalan terhadap sikap Ibu akan terus terjadi seumur hidup. Ibu akan terus disalahkan.
Ibu hanya bersikap otoriter terhadap penentuan menantu dan Ibu tidak menyadarinya. Ibu merasa sikap otoriter itu dilakukan karena Ibu mencintai anak-anaknya. Padahal anak-anaknya merasa akan terlantar bila mengikuti kemauan Ibu. Itu saja yang Marini rasakan kekurangan dari Ibu.
Sebenarnya pandangan Ibu seperti itu bisa diperbaiki. Tapi selama ini belum ada yang mencobanya. Ibu barangkali tidak akan sekeras itu bila ada anaknya yang terus-terusan mengingatkan akan sikap otoriternya. Marini yakin akan hal itu. Karenanya Marini membicaraka itu dengan Doni dan mereka sepakat untuk melakukan eksperimen. Mereka akan datang ke rumah besar seminggu sekali dan sungkem di pangkuan Ibu. Dengan begitu siapa tahu sikap Ibu akan meluntur dan beliau akan menerima sikap anak-anaknya dan menantu-menantunya. Dengan begitu, seperti keluarga besar lainnya yang berbahagia, Ibu bisa berkumpul bersama anak-cucu dan menantunya di hari libur untuk bercengkrama.
Sebulan dua bulan Doni bisa tahan menghadapi setiap sindiran Ibu. Apa-apa yang dilakukan Doni menjadi masalah bagi Ibu. Doni tidak sakit hati karena ia sudah memperhitungkannya. Tapi saat sindiran-sindiran Ibu dirasakan Doni tidak juga berkurang, apalagi setelah Ibu menuduh bahwa kedatangan Marini dan Doni sebenarnya untuk minta pertolongan atau setidaknya agar mereka bisa makan gratis, Doni tidak tahan lagi.
“Sebaiknya kita meniru sikap Mas Raka dan Mbak Dian saja,” kata Doni. “Sikap Ibu tidak memperlihatkan perbaikan. Rasanya semakin sering kita datang ke rumah Ibu, kita, khususnya saya, semakin merasa berseteru dengan Ibu. Siapa tahu Mas Raka dan Mbak Dian juga sebenarnya pernah mencoba apa yang kita lakukan.”
Marini tidak memberikan respon apapun.
**
Ibu sebenarnya merasa kesepian ketika Marini dan Doni semakin jarang berkunjung dan kemudian tidak berkunjung sama sekali selain bila Lebaran tiba. Ibu menyibukkan dirinya dengan kegiatan ibu-ibu di RT-nya. Ibu semakin sering berkunjung atau mengundang teman-temannya untuk ngobrol-ngobrol. Itu semua dilakukannya untuk menekan keingin menelepon Marini, mengetahui kabar Dian, atau mendengar celoteh cucu-cucunya.
Ibu memang bisa menekan keinginannya. Tapi begitu ia  ditinggalkan teman-temannya dan beristirahat setelah mengurus kegiatan di RT-nya, Ibu merasakan kesepian yang sangat. Ayah sebenarnya merasakan juga hal itu. Ayah pernah membicarakannya. Tapi Ibu tidak menanggapinya.
Ayah sebenarnya kurang begitu berperan dalam keluarga – itu juga salah satu sebab mengapa Ayah tidak disinggung-singgung dalam cerpen ini. Ayah jarang ada di rumah. Resminya Ayah pegawai negeri kelas elite yang punya saham di beberapa perusahaan. Berapa jumlah sahamnya dan apa saja yang dilakukan ayah di luar rumah, tidak seorang pun dari anaknya yang tahu. Ayah tidak pernah bercerita, juga Ibu.
Di rumah, seluruh kebijaksanaan ada di tangan Ibu. Ayah akan nurut apa saja yang diputuskan Ibu. Setidaknya begitulah yang dirasakan anak-anaknya. Karena itu, Ayah tidak bisa ngotot ketika Ibu tidak mau berkunjung, atau sekedar nelpon ke anak-anaknya.
“Biarlah kita kesepian di sini, asal anak-anak mendapat pelajaran. Mereka harus tahu bahwa kita melakukan ini karena kita mencintai mereka. Mereka tidak tahu apa-apa tentang cinta.”
Ayah tidak berkomentar. ***


  

Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni