Jejak Kata :
Home » » POHON TUMBUH TiDAK TERGESA-GESA

POHON TUMBUH TiDAK TERGESA-GESA

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Kamis, 13 Desember 2012 | 09.35


Cerpen ini pernah dimuat HU Suara Pembaruan 16 Pebruari 1997, kemudian menjadi judul kumpulan cerpen yang diterbitkan Asy-Syaamil, 2003


       “Lihatlah matanya,” kata seseorang ketika saya turun dari gunung untuk belanja ke kota. Maka saya memperhatikan mata lelaki yang mencangkung di trotoar sambil menatap bulan itu. Saya mendapatkan berbagai metamorfosa terjadi di sana: Seorang anak menyilet lidah kucing, membiarkannya tercekik dan sekarat, lalu menghantam dan menggerus kepalanya.2* Seorang perempuan kecil dididik bapaknya, pamannya, suaminya, para lelaki lain, untuk menjadi pelacur. (“Oleh karena dunia penuh dusta, ia harus membayar harganya dengan kematian,” kata Nawal. “Tapi dari keadaan seperti ini perlawanan dimulai,” kata saya).3*
Saya pernah melihat dan merasakan kekhawatiran seperti itu. Metamorfosa seperti itu pernah hadir di pikiran dan hati saya. Tapi saya lupa kapan dan di mana itu terjadi
“Kamu pasti melihatnya di mata orang-orang,” kata seseorang.
“Ya, barangkali,” jawab saya.
“Kamu pasti melihatnya di cermin.”
“Ya, barangkali.”
Di mata orang itu saya melihat kejadian lain: para pelajar berangkat sekolah dengan membawa clurit dan belati, mereka berkelahi dan saling membunuh, para perampok menggasak harta benda dan memperkosa, suara bisik-bisik dari balik meja (saya tahu itu korupsi), demonstrasi di jalan-jalan, semua orang berteriak, antrian panjang tidak terlihat ujungnya.  (“Saya ingin jadi polisi atau tentara atau pejabat agar bisa berkuasa,” kata mereka.)
Saya cepat pergi. Saya ingin ketenangan. Tapi seseorang mencegat saya.
“Mau ke mana?” tanyanya.
“Saya mau pulang. Saya ingin ketenangan.”
“Pulang ke mana?”
“Ke gunung.”
“Saya baru pulang dari sana. Gerah sekali hidup di sana.”
Saya tidak percaya.
**
Sekali waktu saya melihat ‘instalasi tumbuh’ Tisna Sanjaya.4* Di sana berulang-ulang saya mendengar seseorang, berkumis, berbicara: “Tanamlah pohon apapun sebagai rasa syukur atas kelahiran anak-anak kita (atau rasa syukur atas apapun – yus), supaya negeri ini ditumbuhi sikap menghargai proses hidup, belajar dari pohon yang setiap pagi kita sirami, supaya setiap pagi kita belajar dari falsafah pohon, tidak tumbuh tergesa-gesa.”
Saya pulang ke kampung tempat saya dilahirkan. Saya melihat kebun yang sewaktu saya kecil, setiap pagi dan sore, kakek selalu mengajak saya mendatanginya, menyiram pohon kecil atau sekedar mengontrol. Saya duduk di bawah pohon durian. Pohon yang dulu setiap sore saya siram ini akarnya kokoh, batangnya keras, daunnya rindang, kalau lagi musim berbuah kakek selalu mengirim saya buahnya yang manis.
Dulu saya pernah ingin hidup seperti elang (saya terpesona begitu bebasnya elang melayang) yang hampir setiap sore mendatangi kebun kakek. Tapi sekarang saya ingin seperti pohon yang tidak tumbuh tergesa-gesa tapi jadi kokoh dan kuat. Dulu saya sering memperhatikan bagaimana pohon tumbuh: bagaimana pucuk membesar, akar memanjang, batang menguat. Tapi saya tidak pernah tahu kapan itu terjadi. Pohon tidak pernah sombong memperlihatkan kekuatannya.
Di kampung inilah saya ingin menghabiskan hidup, saat ini. Saya ingin ketenangan. Saya menata kembali pohon-pohon yang tumbuh di kebun kakek. Saya menanam pohon mahoni, melinjo, rambutan, mangga, dan menyiraminya setiap pagi dan sore. Hampir setiap sore, sehabis menyiram dan membersihkan pohon, saya duduk-duduk di bawah durian. Saya melihat (menikmati) pemandangan pedesaan: kehijauan pegunungan, kebun-kebun, hamparan sawah, sungai yang berkelok. Saya menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.
Suatu hari, ketika panen tiba, saya melihat orang-orang memetik padi dengan tergesa-gesa: para perempuaan tidak lagi memakai ani-ani tapi menggunakan sabit membabat padi, mengirik tidak lagi dengan kaki tapi memakai mesin, menumbuk padi yang biasanya dipakai kesempatan oleh mojang dan jajaka saling mengikat janji diganti mesin giling yang cukup menyuruh ojek untuk mengantarkannya, para lelaki mengangkut padi berlari-lari.
Saya ingat bagaimana proses itu terjadi. Suatu kali, ketika saya dan anak-anak lainnya sedang berenang di sungai, seorang teman berlari dan berkata: “Wa Uke membeli televisi. Mang Warja memasang antenanya dengan sebatang bambu. Mari kita nonton.” Sejak itu hampir setiap sore anak-anak melihat film kartun. Bila ada tayangan bagus (seperti wayang golek) para tetangga ikut nonton sambil tidak lupa membuat makanan khusus. Sejak itu hidup tidak lagi makan dan minum. Tapi hidup juga berarti tape recorder, kompor gas, kosmetik, baju mode terbaru, shampo, tamasya ke kota dan pulang membawa donat atau apel New Zealand atau Kentucky Fried Chicken, televisi berwarna, parabola, motor, mobil, dan teman-teman mereka lainnya.
Malamnya, ketika diputar layar tancap, saya melihat para mojang tersipu malu melihat adegan seks di film nasional, para jajaka mengantar mereka sambil menggoda berani, sebagian remaja membeli minuman keras dan mabuk di pinggir-pinggir jalan. Di mata mereka saya melihat ... Ah, sudahlah, saya tidak mau lagi memperhatikan hal seperti itu. Saya hanya ingin menikmati kesegaran udara kebun dan pemandangan pedesaan. Saya tidak perduli dengan berbagai metamorfosa yang terjadi di mata orang-orang.
**
“Karena kita menghargai proses,” kata saya ketika ada seseorang yang datang dan bertanya kenapa saya setiap pagi dan sore menyiram pohon.
“Ya, kita memang harus menghargai proses, tapi proses terjadi di mana-mana,” kata orang itu, lalu pergi begitu saja tanpa pamitan. Keramhan desa pun sudah mengalami proses, pikir saya.
Pucuk mahoni dan melinjo yang saya tanam dan sirami setiap pagi dan sore sedikit membesar, akarnya sedikit memanjang, batangnya sedikit mengeras. Entah sudah berapa lama saya memperhatikan semua itu. Entah seminggu, sebulan, setahun, berabad-abad, atau baru beberapa detik saja terjadi di kepala saya. Saya tidak hapal lagi. Hal yang sama ketika saya memperhatikan awan berarak di atas gunung. Awan itu sedikit menghitam dan semakian menghitam, sedikit menggumpal dan semakin menggumpal, sedikit mendekat dan semakin mendekat. Lalu pohon-pohon yang saya tanam dan sirami setiap pagi dan sore itu ditelannya. Daun-daun pohon saya sedikit melayu dan semakin melayu, sedikit mengering dan semakin mengering, sedikit berguguran dan  semakin berguguran. Lalu udara sedikit sesak dan semakin meyesakkan, sedikit berbau dan semakin berbau.
Saya terkejut. Saya lari kesana kemari dan berteriak: “Pohon saya, pohon saya semuanya kering! Udara saya, udara saya semakin bertuba!” Orang-orang tidak  memperhatikan. Saya tidak tahu, apakah kejadian ini baru terjadi, sudah seminggu, sebulan, setahun, berabad-abad, atau sebenarnya bayangan yang akan terjadi.
“Kenapa mesti terkejut, karena semuanya juga mengalami proses,” kata kakek ketika saya mengadu. “Kita sendiri yang harus mengarahkan proses itu.”
Saya pun semedi di bawah pohon-pohon yang mengering, di bawah mega-mega yang menyengat. Saya ingat, saya pernah ingin menjadi elang. Saya terpesona dengan kebebasannya melayang. Tiba-tiba – atau mungkin sudah lama terjadi, saya tidak tahu – seekor elang entah dari masa lalu atau masa mana, datang dan mengajak saya melayang. Saya pun terbang. Saya menyusuri mega-mega hitam yang menjadikan pohon-pohon saya mengering. Saya memakai masker yang saya ambil entah dari mana. Saya turun di sebuah kota.
“Lihatlah matanya,” kata seseorang. Saya pun memperhatikan mata lelaki yang duduk mencangkung di trotoar sambil menatap bulan itu. Saya mendapatkan berbagai metamorfosa di sana. Dari metamorfosa itu keluar asap yang semakin menggumpal dan menghitam. Inilah sumber mega-mega hitam yang merusak pohon-pohon itu, pikir saya.
“Ya, inilah sumbernya. Kita harus mengatasi proses ini,” kata seseorang yang sudah berada di belakang saya.
“Pohon-pohon anda pun mengering dan berguguran?”
“Ya.”
“Yang saya juga,” kata yang lain. Di belakang saya sudah berdiri orang-orang.
“Bagaimana kalau kita congkel saja matanya dengan belati,” usul seseorang.
“Jangan, itu tidak sesuai Hak Azasi Manusia. Kita harus melawan proses itu dengan proses kita.”
Kami pun menanami kota dengan bibit-bibit pohon. Menyiramnya setiap pagi dan sore. Jantung kota harus diperbesar biar udaranya segar dan mega-mega hitam itu terserap. Bangunan-bangunan tanpa IMB (ijin membuat bangunan) kami runtuhkan dan kami tanami pohon-pohon. Pabrik-pabrik yang belum bisa mengolah limbah kami hancurkan dan kami semai bibit-bibit pohon. Entah sudah berapa lama kami lakukan pekerjaan itu. Mungkin berbulan-bulan, bertahun-tahun, berabad-abad atau baru saja terjadi.
Tapi mega-mega hitam pembawa kehancuran pohon-pohon kami tidak pernah habis. Tiba-tiba – atau mungkin telah terjadi sepanjang kami ingat atau malah sepanjang kami hidup – kami melihat orang-orang bermata bermetamorfosa mengerikan itu semakin banyak. Kami tidak lagi tahu siapa saja yang bermata bermetamorfosa itu. Mungkin juga mata kami.
Mata-mata bermetamorfosa itu ada di mana-mana. Di koran, televisi, layar tancap, barang-barang yang kami beli, anak-anak, orang tua, remaja, laki-laki, perempuan, baju-baju, kulkas, jalan-jalan, udara, angin, tanah.
**
Suatu senja saya membaca koran sambil minum secangkir kopi. Anak-anak tetangga nonton film televisi. Saya merasa ada banyak pohon yang tumbuh di hati saya. Saya tidak tahu siapa saja yang menyiram dan memupuknya. Mungkin orang lain atau saya sendiri atau yang lainnya. Saya pun tidak tahu sejak kapan pohon-pohon itu tumbuh. Mungkin baru saja, atau sudah berbulan-bulan, bertahun-tahun, berabad-abad, atau hanya sepanjang hidup saya, atau lebih lama atau lebih sebentar dari itu. Saya pun tidak tahu pohon-pohon apa saja itu. Mungkin pohon ketidakperdulian. Atau pohon kecapean. Atau pohon pengakuan sebagai manusia saya penuh dengan kekotoran. Atau pohon kesakithatian. Atau pohon luka yang selalu membawa rasa perih sepanjang hidup saya. Atau pohon dendam. Atau pohon yang tidak ada artinya. Atau bukan pohon apa-apa. ***

                                                                                    Rancakalong, 5 Juni 1996 
  

Keterangan:

1                            + 4  = Tisna Sanjaya menggelar instalasi  tumbuh, dari tanggal 4 Mei sampai 30 Juni 1996, di Bandung, Solo, Surabaya. Dalam instalasi itu, Tisna mengajak kita agar belajar dari filsafat pohon, tidak tumbuh tergesa-gesa. Melihat instalasi itu, sadar atau tidak, saya tidak bisa berhenti berpikir tentang metamorfosa ‘tumbuh’ itu, juga ketika cerpen ini tiba-tiba ditulis.
2                            =  Dalam cerpen Perempuan Sumi, Khazanah 21 Mei 1996, Joni Ariadinata melukiskan bagaimana metamorfosa itu terjadi: Umur empat tahun – entah mungkin juga kurang, pertama kali Ibu mengajariku menyilet lidah kucing; membiarkannya tercekik dan sekarat: “Ambil batu, Buyung.” “Buat apa?” “Hantam dan gerus kepalanya!” Delapan ekor, mungkin lebih, mati.
3                            Dalam novel Perempuan Di Titik Nol, Nawal el-Saadawi menggambarkan bagaimana Firdaus si anak desa berproses menjadi pelacur kelas atas. Dalam pemahaman Firdaus, kepura-puraan dunia dan ketidaktahuan Firdaus untuk membunuhnya (seperti ia membunuh germo), menjadikan kepura-puraan itu ingin membunuh Firdaus. Tapi Firdaus merasa menang atas keduanya, kehidupan dan kematian. Firdaus tidak lagi berhasrat untuk hidup, juga tidak lagi merasa takut mati.

Mengirik = Melepaskan butir padi dari tanagkainya dengan kaki
Mojang    = Gadis perawan
Jajaka       =  Remaja laki-laki





Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni