Jejak Kata :
Home » » DONGENG

DONGENG

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Sabtu, 15 Desember 2012 | 07.10

Pikiran Rakyat, dokumentasinya tidak punya, jadi tanggal dan gambarnya lagi nyari...
              
               Ada seorang raja, punya anak tujuh orang. Anak yang bungsu ingin diceritakan sebuah dongeng. Begini dongengnya….
**
Ada seorang raja, punya kekayaan melimpah. Setiap bulan upeti dari kerajaan taklukan mengalir. Ribuan perusahaan kerajaan setiap bulannya menghasilkan uang trilyunan rupiah. Tabungan tidak terhingga, batangan emas dan logam mulia lainnya tidak tertampung di bank dalam negeri. Bangunan-bangunan eksklusif dan prestisius dibuat. Patung terindah sedunia, menara tertinggi sedunia, lapangan terluas sedunia, dan banyak bangunan ter... lainnya.
Tapi sang raja tidak puas. Dia pikir, sebanyak apapun kekayaan bisa dengan sekejap menghilang. Setiap hari musuh mengincar di mana-mana. Musuh di dalam selimut, siapa tahu setiap pejabat negara punya niat menggulingkannya. Patih, menteri, senapati, bahkan prajurit, siapa yang bisa menebak isi hatinya? Siapa tahu ada di antara mereka yang diam-diam merencanakan menggulingkannya, merampas seluruh harta kekayaannya. Negara-negara tetangga, siapa tahu niat dan perencanaan mereka untuk menyerang diam-diam terus ada. Mereka menunggu kesempatan, menunggu ketepatan untuk menyerang, merebut tahta dan seluruh kekayaan, lalu menghempaskan raja beserta keluarga ke kemiskinan dan kesengsaraan.
Karena itu sang raja berkeinginan menjadi pemilik kekayaan abadi. Pemilik kekayaan abadi menurutnya adalah seseorang yang bisa membuat emas dari apapun. Dari kayu, tanah, daun, batu, dan apapun. Orang seperti itu tentunya tidak perlu takut dirampok, digulingkan dari kekuasaan, direbut seluruh kekayaannya. Karena dengan sebentar dia bisa membeli lagi apapun, membangun kembali kerajaan, merencanakan pembalasan yang lebih dahsyat.
Tapi kepada siapa belajar? Siapa yang bisa mengubah apapun menjadi emas? Atas saran seorang penasehat kepercayaannya, sang raja membangun sebuah peristirahatan yang khusus bagi orang-orang alim yang mengembara, orang suci, para guru sufi, para darwish. Bangunan yang berdiri kokoh di pinggir sungai itu terdiri dari dua pintu. Pintu depan untuk masuk, disambut dengan sebuah plang yang berbunyi:

“Selamat datang para darwish, orang suci, guru sufi, yang sedang mengembara. Silahkan beristirahat dan makanlah tiga kali sehari selama tiga hari. Semuanya disediakan dengan cuma-cuma.”

Sebelum pintu keluar, ada lagi plang yang berbunyi:

“Wahai orang-orang suci dan arif yang agung! Anda telah beristirahat dan makan dengan baik. Kini tolonglah kami jika Anda mampu. Jika Anda mampu mengubah apapun menjadi emas, tolong ubahlah apapun yang ada di bangunan ini menjadi emas.”  

Bertahun-tahun orang-orang berdatangan ke ibukota kerajaan. Ada yang sekedar singgah sehari dua hari. Ada juga yang sampai berminggu-minggu, menikmati keindahan pemandangan alam dan keramahan penduduk. Bangunan yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang suci itu selalu dipenuhi pengunjung. Banyak para pelancong dengan jubah yang panjang-panjang. Ada juga sang guru yang diikuti oleh puluhan murid-muridnya. Selama tiga hari tiga malam mereka menumpang di bangunan peristirahatan itu, minum dan makan gratis. Tapi belum juga ada yang mengaku bisa mengubah benda apapun menjadi emas.
“Siapa tahu orang suci yang sanggup mengubah apapun menjadi emas itu hanyalah mitos,” gumam sang raja suata senja. Beberapa jenak dia memperhatikan orang-orang yang singgah di peristirahatan yang diperuntukkan bagi orang-orang suci itu. Puluhan orang bersembahyang. Puluhan orang membaca kitab. Puluhan orang berzikir. Siapa di antara mereka yang benar-benar suci?
“Barangkali hanya mitos,” gumam sang raja sekali lagi sambil meninggalkan peristirahatan bagi orang-orang suci itu. Jalanan begitu ramai oleh pedagang dan pelancong yang terus berdatangan. Senja begitu cerah. Matahari menebarkan semburat jingga di langit Barat. Cahayanya menebar dipantulkan daun-daun dan air sungai yang berkelap-kelip.
“Sesungguhnya, sejak awal saya tidak yakin ada orang yang sanggup mengubah apapun menjadi emas. Kalau memang ada, kenapa dia sendiri tidak menjadi orang terkaya, menjadi raja, menjadi penguasa seluruh dunia ini. Memang tidak masuk akal ada orang seperti itu. Ah, saya benar-benar telah tertipu, percaya begitu saja kepada penasehat.”
Baru saja beberapa langkah meninggalkan pelataran peristirahatan itu, sang raja tersentak. Langkahnya berhenti begitu saja. Ada suara yang memanggil-manggilnya dari belakang. Tapi begitu dia berbalik, tidak ada seorang pun yang memperdulikannya. Orang-orang hanya memperhatikan kepentingannya masing-masing.
Begitu sang raja meneruskan langkahnya, suara itu bergaung lagi. “Anakku sang maharaja! Banyak hal yang tidak bisa dimengerti di dunia ini, kalau hanya menggunakan akal dan pikiran. Mahasuci Allah yang menyampaikan berbagai Rahasia sebagai keindahan. Tidak ada yang tidak mungkin, tidak ada yang tidak mungkin… bagi Allah.”
Tapi sang raja tidak memperdulikan lagi suara yang seperti berbisik itu. Suara yang sepertinya hanya dia yang mendengarnya. Karena para pengawalnya tidak seorang pun yang mendengarnya. Dia menyuruh para pengawalnya untuk mengundang para penasihat, dia akan memutuskan bahwa mulai besok peristirahatan bagi orang-orang suci itu harus ditutup.
Belum juga para penasihat itu berdatangan, belum juga bibirnya kering setelah memerintah, ada penjaga tempat peristirahatan bagi orang-orang suci itu yang datang berlari-lari.
“Lapor, Tuan Raja! Di peristirahatan ada seorang tua yang sedang menari dan menyanyi, katanya akan mengubah bangunan itu menjadi emas.”
Seperti ada magnet yang menariknya, seperti yang telah tahu apa yang akan dikatakan pengawal, sang raja melesat ke arah peristirahatan yang khusus dibangun untuk orang-orang suci. Di tengah-tengah bangunan itu seorang tua sedang menari. Tangannya bergerak pelan. Kepalanya bergerak pelan. Dari mulutnya sebuah senandung terus diulang.
“La ilaha illallah… Ya Allah! Ampunilah, dosa-dosaku, yang Kau mengetahuinya, lebih baik dariku. Ya Rabbi! Ampunilah, dosa yang dibuat, oleh mataku, ampunilah hambaMu, ampunilah kata-kataku, yang keji dan buruk, dan ampunilah ketidakmampuanku, menahan nafsuku. La ilaha illallah….” [i]*
Orang tua berjubah putih itu terus menari, berputar. Angin berhenti mendengar rintihannya. Orang-orang menahan napas. Sebagian ikut menggerakkan bagian badannya. Senyap begitu mencekam sampai ke bagian terdalam dari hati orang-orang. Sang raja begitu terpesona melihatnya. Matanya tidak berkedip. Napasnya ditarik pelan seolah sedikit suara pun takut mengganggu senandung mengiba itu. Kakinya bergetar seperti yang tidak sanggup menahan berat badannya. Dan di kedalaman hatinya, di kedalaman hatinya begitu bergejolak perasaan yang baru kali itu mengharubirunya.
Orang tua yang memancarkan cahaya dari tubuhnya itu terus menari dan merintih. Dari tubuhnya menetes keringat yang bercahaya berkilauan. Dari matanya mengalir air membasahi pipi, leher, jubahnya yang tidak lagi berkibar karena basah. Dari airmata dan keringat itulah ribuan cahaya kupu-kupu terbang menembus seluruh bagian dari bangunan itu. Seluruh bagian dari bangunan yang perlahan berubah warnanya menjadi kekuningan, menjadi keemasan. Orang tua itu pun ambruk, bersujud sambil menangis tersedu-sedu.
Orang-orang yang ada di sekitar situ menundukkan kepala. Dari mata mereka masih mengalir air pengakuan, pengakuan bahwa di kedalaman hatinya manusia hanyalah kumpulan kesedihan. Tidak ada yang hirau dengan bangunan tempat mereka berteduh yang seluruh bagiannya telah menjadi emas. Tidak ada yang hirau dengan perut yang telah berjam-jam tidak diisi makanan. Tidak ada yang hirau dengan tenggorokan yang kering karena telah berjam-jam tidak dialiri air. Tidak ada yang hirau dengan apapun. Sampai orang tua berjubah putih yang dari tubuhnya memancar cahaya itu berdiri dan berjalan pelan meninggalkan bangunan emas itu.

Sang raja tersentak begitu melihat orang tua berjubah putih yang mengubah bangunan menjadi emas itu sudah jauh darinya. Dia berlari dan menghadang di depannya.
“Terima kasih, Pak Tua. Saya baru yakin bahwa orang suci seperti Bapak memang ada. Tapi saat ini, saya tidak menginginkan emas sebetulnya. Karena kekayaan melimpah pastinya banyak yang merencanakan untuk merebutnya. Keinginan saya sesungguhnya adalah ingin bisa mengubah apapun menjadi emas dengan tangan saya sendiri. Kiranya Bapak bersedia mengangkat saya sebagai murid.”
Orang tua berjubah putih itu menarik napas panjang.
“Apa Bapak berkenan?”
“Boleh saja, anak muda! Tapi dengan syarat.”
“Apa syaratnya?”
“Engkau harus mengikutiku selama sepuluh tahun untuk belajar. Engkau harus menurut apapun yang aku perintahkan. Karenanya, tinggalkanlah kekuasaan dan harta kekayaan yang engkau punyai sekarang ini.”
Tanpa berpikir panjang, sang raja menyanggupinya. Pikirnya, apapun harus dikorbankan untuk belajar mengubah apapun menjadi emas. Seandainya dirinya sendiri yang sanggup mengubah apapun menjadi emas, selamanya tidak akan ada ketakutan. Kalau ada orang yang merebut, kalau ada kerajaan yang menjajah, tinggal rubah apapun menjadi emas dan dia menjadi kaya kembali.
Sore itu juga sang raja mengikuti orang tua berjubah putih itu. Setelah berjalan tanpa alas kaki jutaan kilo meter jauhnya, mendaki bukit menuruni lembah, setelah kaki luka-luka dan tidak bisa lagi digerakkan karena lelah, perintah pertama orang tua berjubah itu adalah untuk menyerahkan apapun kepada takdir.
“Mengubah apapun menjadi emas itu hal yang mustahil, tidak masuk akal, tidak bisa dimengerti oleh akal pikiran. Itu semua terjadi karena ada Tangan Takdir yang mengaturnya. Serahkanlah apapun kepada Tangan Takdir itu. Jangan mengeluh karena sakit atau lelah. Karena sesungguhnya, rasa sakit sesakit apapun adalah kenikmatan. Tangan Takdir mengubah rasa sakit dan lelah seperti apapun menjadi suatu keindahan. Yakinilah itu.”
Sang raja hampir berteriak mendengarnya. Sejak beberapa hari lalu dia sudah tidak kuat melangkah. Sakit dan lelah telah menguasai tubuhnya. Tapi tidak ada ijin untuk beristirahat. Dan sekarang, sakit dan lelah yang tidak terkira itu harus dinikmati. Rasa nikmat seperti apa yang ada dari kesakitan dan kelelahan?
“Lawanlah dan tundukkanlah segala napsu yang ada di tubuhmu. Sesungguhnya keindahan itu ada di keberserahdirian.”
Tapi sang raja telah pingsan.
Begitu siuman, sang raja mendapatkan dirinya seperti melayang. Tubuhnya serba ringan. Napasnya begitu lega. Dia pikir, dia telah disihir gurunya untuk kemudian diajarkan cara mengubah apapun menjadi emas. Tapi begitu ditanyakan kapan dimulainya pelajaran mengubah apapun menjadi emas itu, sang guru malah menjawab:
“Selama engkau tidak bisa menyerahkan diri kepada Tangan Takdir, tidak bisa berserah diri, engkau tidak akan bisa mengubah apapun menjadi emas. Sekarang mari kita berjalan lagi. Bumi ini begitu luas.”
Jutaan kilo meter mereka lalui lagi berhari-hari. Puluhan perkampungan disinggahi, puluhan jurang dituruni, puluhan sungai diseberangi. Kaki sang raja semakin membengkak. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka tergores ranting-ranting dan rerumputan liar. Tapi perjalanan sepertinya belum mau berhenti. Orang tua berjubah itu masih terus berjalan seperti melayang. Jubah putihnya menyapu tanah tapi tidak pernah kotor. Dari wajahnya mengucur keringat, keringat yang bercahaya berkilau-kilau. Luka goresan yang memenuhi tubuhnya dalam sekejap telah sembuh kembali.
“Guru, rasa sakit dan lelah tidak lagi saya keluhkan, tapi kapan pelajaran mengubah apapun menjadi emas itu dimulai?” kata sang raja saat mereka beristirahat di tepi sebuah telaga.
“Waktu kita masih lama. Sepuluh tahun engkau sanggup mengikutiku. Aku ingin engkau mengenal kekuatan-kekuatan lain dari alam ini. Soal mengubah apapun menjadi emas, itu gampang.”
“Kalau gampang, kenapa tidak dari sekarang diajarkan, biar saya bisa berlatih terus menerus.”
“Karena engkau belum tahu ada kekuatan yang lebih dahsyat, yaitu Cinta dan Rahmat Ilahi. Rahmat ini, alkemi Cinta ini, dapat memperlihatkan mukjizat, sebagaimana ia mengubah setan menjadi malaikat, pencuri licik menjadi polisi yang cakap.”[ii]
Perjalanan berikutnya mereka lalui berbulan-bulan. Di beberapa perkampungan mereka beristirahat beberapa hari. Sepanjang perjalanan mereka menolong apapun dan siapapun yang sekiranya patut ditolong. Membantu orang-orang desa memagari kebun agar tidak diserbu babi hutan, membuatkan perahu bagi nelayan miskin, menyembuhkan orang-orang yang sakit dengan ramu-ramuan dedaunan, biji-bijian, dan doa.
Sekali waktu mereka pun memelihara dua ekor burung pipit yang masih kecil-kecil, baru tumbuh bulu. Kedua burung yang masih belum bisa mencari makan sendiri itu sarangnya jatuh dari pohon. Induknya pasti mencari-cari tapi tidak menemukannya atau tidak berdaya untuk memindahkan kembali sarangnya ke atas pohon. Sang raja setiap hari mengunyah beras untuk diberikan kepada anak burung pipit yang selalu dibawa-bawanya. Suatu pagi, setelah memberi makan, sang raja melatih kedua anak burung itu terbang. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, anak burung yang telah tumbuh bulu itu terbang lebih tinggi, lebih tinggi, hinggap di ranting-ranting pohon, dan akhirnya terbang menjauh entah ke mana.
“Wah, mereka menghilang, mereka pasti tidak akan kembali,” kata sang raja dengan mata berkeliling mencari dua anak burung pipit peliharaannya.
“Artinya, mereka sudah bisa mandiri. Biarkanlah mereka menikmati dunianya. Bukankah maksudmu semula menolong burung itu sampai mereka bisa terbang?”
Sang raja mengangguk. Tapi ada sesuatu yang mengharukan di dalam hatinya.
“Kalau begitu alhamdulillah, bersyukurlah, engkau telah melaksanakan niat baikmu.”
Sang raja masih termangu. Matanya memandang jauh, memperhatikan pepohonan sampai ke jauhnya, sampai ke reranting kecilnya. Di dalam hatinya, meski hanya samar, ada harapan bisa melihat kembali kedua anak burung peliharaannya. Bukan, bukan untuk memeliharanya kembali, mengharapkan kesetiaan dari sepasang burung pipit itu. Tapi sekedar ingin mengucapkan kata-kata perpisahan melalui tatapan mata atau lambaian tangan.
“Kedua burung pipit itu pastinya mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Tapi mungkin bahasanya tidak dimengerti oleh kita. Jadi mari kita berangkat melanjutkan perjalanan.”
Sang raja mengikuti sang guru, tapi dengan langkah yang tidak bergairah.         
“Adakah engkau merasakan sesuatu?”
“Ya, tentu guru.”
“Sesuatu yang mengharukan, yang begitu menggetarkan, yang begitu indahnya?”
“Ya.”
“Katakanlah.”
Sang raja malah menatap gurunya yang menghentikan lagi langkahnya. Lalu menggeleng dan bilang, “Tidak bisa, Guru. Saya tidak bisa mengatakannya. Tapi saya merasakannya. Merasakan begitu indahnya selama ini bisa menyuapi kedua burung pipit itu, membuatnya kuat dan menikmati dunianya sebagai burung.” Sang raja menunduk. Dari ujung matanya menetes sebutir air bening.
“Engkau telah bisa membuat emas itu, Nak.” 

 **

“Akhirnya sang raja bisa menguasai ilmu merubah apapun menjadi emas?” tanya anak bungsu raja bersemangat. Pendongeng yang sedang memilah teh di gelas melirik tuannya. Dan katanya setelah meminum teh yang telah dingin itu.
 “Ya, tentu saja bisa. Dia mengikuti sang guru berzikir, menari, berpuisi, dan bebatuan yang ada di sekitarnya menjadi emas.”
“Tapi tentu dia tidak membangun gudang-gudang emas di kerajaannya.”
“Tepat sekali. Kenapa Tuan bisa menyimpulkan seperti itu?”
“Karena sang raja mulai merasakan ada yang lebih hebat dan indah dibanding hanya mengumpulkan sebanyak-banyaknya emas.”
Malam semakin sunyi. Pendongeng itu mengundurkan diri. Membetulkan selimut tuannya, dan mengucapkan selamat tidur. Tapi sampai subuh menjelang, sampai beratus malam kemudian, anak bungsu raja itu tidak bisa tidur. ****






[i] Sebuah lagu yang berjudul Ampunilah Saya dari kelompok musik Debu
[ii] Annemarie Schimmel dalam biografi Jalaluddin Rumi menulis: Rumi yakin sekali bahwa Rahamat Ilahi, Cinta, dapat melihatkan mukjizat, sebagaimana ia dapat mengubah setan menjadi malaikat, pencuri licik menjadi polisi cakap.



Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni