Jejak Kata :

Gadis di Tepi Jendela

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Senin, 31 Desember 2012 | 05.27



why do you love me
so sweet and tenderly

Setiap saya memutar lagu lama dari Koes Plus, gadis itu selalu berdiri di tepi jendela. Belum pernah kami berpandangan. Matanya selalu menatap ke jauhnya, ke sepanjang sungai Cikapundung. Saya sering memperhatikannya. Juga selalu ada perasaan ingin mengenalnya. Tapi kamar kost saya dan kamar (kost?) dia terlalu jauh, dipisahkan sungai Cikapundung. Juga suara gemuruh sungai sangat mengganggu untuk bercakap-cakap.
Maka saya hanya bisa mengira-ngira. Di sepanjang sungai berair coklat ini, di sekitar alun-alun Bandung, rumah-rumah berderet, kamar-kamar bertingkat dibuat dan dikostkan. Kadang ada kamar yang permanen, tapi ada juga yang dibikin asal jadi. Semuanya memang laku. Di seputar alun-alun ini banyak pegawai kecil butuh penginapan. Penjaga toko, waitres, gadis penghitung angka bilyard, pegawai message, salon, wts kecil yang sering nongkrong di tempat dangdutan, semuanya mencari kost-kostan di seputar sini.
Saya termasuk di antara mereka. Sudah sebulan saya bekerja di toko kue. Dari gaji yang lumayan itu saya sisihkan untuk menyewa kamar. Sengaja saya memilih kamar yang dekat sungai. Dari kamar saya tinggal selangkah untuk duduk-duduk di dam aliran sungai. Sejak kecil saya memang menyenangi suasana alam. Meski Cikapundung banyak sampahnya, tapi malam hari indah dan menyenangkan.
Setiap pulang kerja, sekitar pukul 19.00, sebelum mandi saya selalu duduk-duduk di dam sambil merokok. Tape kecil saya hampir memutar lagu yang itu-itu saja, karena saya memang tidak punya kaset banyak. Saat itulah, ketika diputar lagu why do you love me, saya selalu melihat gadis itu berdiri di tepi jendela.
Bisa jadi ia adalah seorang penjaga toko atau gadis penghitung angka bilyard. Tapi melihat wajahnya yang rada mirip Cheche Kirani, mungkin saja ia adalah pegawai hotel berbintang. Bisa saja toh ada pegawai bergaji besar yang ingin kost di seputar sini. Sudah saya bilang, siang hari memandang Cikapundung memang kurang menyenangkan karena banyak sampah, tapi malam hari tetap menggetarkan. Apalagi jika bulan memberi suasana senyap. Cikapundung malam hari seperti mencekamnya gambar-gambar film Garin Nugroho.
Ah, tapi bekerja di manapun dia, apa perdulinya saya. Yang lebih membuat penasaran, mengapa ia hanya berdiri di tepi jendela bila diputar lagu yang itu-itu saja.



y do everything
you make me hapy

Bisa jadi lagu itu adalah kenangannya. Lagu yang selalu mengingatkan akan kisah cintanya dengan pacarnya yang telah pergi entah ke mana. Bukankah tidak ada yang lebih menggetarkan di dunia ini selain mengenang perasaan yang pernah singgah? Atau mungkin ia seorang penyanyi bar yang sedang menghapal lagu itu. Atau semuanya hanya kebetulan. Kebetulan ia ingin berdiri di tepi jendela dan saya kebetulan memutar lagu itu. Bukankah tidak ada yang mustahil?
Dugaan seperti itu sebenarnya tidak menjadi pikiran saya. Hidup saya sudah penuh dengan menduga-duga. Sampai sekali waktu, ketika saya sedang memandangnya, gadis itu tersenyum. Saya berkeliling mencari kamar-kamar lain yang terbuka dan penghuninya sedang menikmati Cikapundung malam hari. Tapi tidak ada kamar yang terbuka. Berarti gadis itu tersenyum kepada saya. Saya membalas senyumnya. Saya melambaikan tangan. Saya memberi isyarat bahwa saya ingin berkenalan. Tapi dia mengggeleng.
**
why do you love me
so sweet and tenderly

Setiap pulang kerja saya memutar lagu itu. Saya melambaikan tangan begitu melihat gadis itu dan mengharap ia tersenyum. Berkali-kali saya memberikan isyarat bahwa saya ingin kenalan. Pernah saya memata-matai penghuni rumah itu, tapi gadis itu belum pernah saya dapatkan di luar rumah. Sampai sekali waktu, sepulang kerja, saya menemukan sehelai kertas di bawah pintu.
Terima kasih kamu selalu memutarkan lagu kesenangan saya. Ttd. Santi.
Sejak itu saya yakin bahwa gadis itu memberikan respon kepada saya. Saya berpikir untuk sekali waktu datang ke tempat kostnya. Saya ingin mengenalnya lebih jauh.
Terlalu berlebihan kalau dibilang saya telah jatuh cinta kepadanya. Tapi wajahnya yang lembut, senyumnya yang menawan, rambutnya yang tergerai, mengingatkan saya kepada senja di sebuah taman. Di sana, bunga-bunga yang bermekaran membentuk siluet tersendiri. Seandainya waktu adalah selembar kertas, saya akan memotongnya saat senja dengan matahari jatuh di atas taman. Saya akan membawanya ke mana-mana. Saya akan menciumnya dalam-dalam seperti saya menghirup bunga sedap malam yang harumnya tak pernah membosankan.
Begitulah, gadis dalam bingkai jendela itu menjadi semacam suasana yang menggetarkan bagi saya. Saat matanya memandang ke jauhnya, saat senyumnya mekar menjadi satu-satunya bunga yang tumbuh di deretan rumah-rumah itu, saat rambutnya tergerai dan sebagian dimainkan angin; saya mendapatkan cekaman-cekaman yang mempesona seolah saya tahu dan memahami masa lalunya. Padahal pengetahuan saya tentang dia tak lebih dari menduga-duga. Atau mungkin perasaan itu timbul karena saya telah jatuh hati kepadanya. Ah, memalukan membicarakan cinta terhadap orang yang belum dikenal sama sekali.
Malam besoknya saya menemukan lagi selembar kertas di bawah pintu. Isinya pendek saja: Tahukah kamu bagaimana menyakitkannya dicintai oleh orang yang kita cintai?
Saya tidak bisa mengerti. Mengapa mesti menyakitkan dicintai oleh orang yang kita cintai. Malah semestinya kita bersyukur. Saya ingin menanyakan arti kalimat itu kepada gadis di tepi jendela yang saya kira si pengirim surat-surat itu. Tapi gadis itu tidak lagi memperhatikan saya. Berkali-kali saya meminta perhatiannya dengan gerakan-gerakan tangan, tapi ia tetap memandang ke sepanjang sungai Cikapundung. Sampai saya cape sendiri dan membiarkan suasana sunyi seperti malam-malam lainnya. Sayup-sayup saya dengar lagu itu.

why do you love me
so sweet and tenderly

Mungkin pernyataan itu ada kaitannya dengan lagu ini. Tapi saya kehabisan imajinasi untuk mengira-ngiranya. Apalagi sejak itu si gadis di tepi jendela tidak lagi mau memperhatikan saya. Dia asyik dengan dunianya sendiri, dunia yang dibentuk oleh kesenyapan malam, gemuruh sungai, angin yang menyisir, bulan yang pucat, suara kendaraan dari kejauhan, bunyi pedagang mie tek-tek, dsb.
Saya tidak bersemangat pulang begitu waktu kerja selesai. Saya merasa gadis di tepi jendela itu tidak lagi memberi respon kepada saya. Sampai sekali waktu, sepulang kerja, saya menemukan beberapa helai kertas di bawah pintu. Warnanya sedikit menguning. Saya pikir kertas itu adalah sobekan dari buku harian karena ada tanggal dan tahunnya. Hurupnya kecil-kecil, seperti yang hati-hati menuliskannya. Dengan perasaan ingin tahu saya cepat membacanya:
Usia saya 20 tahun sekarang. Saya tidak tamat SMP ketika datang ke Bandung. Orang tua saya petani miskin. Saya anak tertua dari delapan bersaudara. Saya bekerja di sebuah swalayan. Gaji saya tidak seberapa, apalagi sebagian besar dipakai sewa kamar dan mengirim ke kampung. Saya bosan menjalani hari-hari yang serba kekurangan. Sampai kemudian seorang teman mengajari bagaimana menikmati hidup di kota besar seperti Bandung. Susah payah saya belajar menikmati hidup seperti itu. Saya menikmatinya dengan uraian airmata dan kesakitan. Tubuh saya memang mulus tapi hati saya berdarah. Saya menjual segala yang saya punya, juga pemberian Tuhan itu.
Sampai sekali waktu seorang remaja, katanya baru semester satu kuliah, menyatakan cinta kepada saya. Saya tertawa karena kata-kata cinta adalah makanan sehari-hari buat saya. Tapi ketika dia memberi cinta dengan bahasa lain, saya terhenyak dan diingatkan kembali tentang kelembutan perasaan itu. Setiap hari dia menemui saya di tempat kerja. Setiap hari dia memberi saya puisi. Setiap hari dia ingin mengantarkan saya pulang. Setiap hari dia menyatakan ingin tahu tempat kost saya dan bertandang setiap malam Minggu.
Saya takjub ketika dengan tangan yang bergetar dia menggenggam tangan saya. Dia menciumnya dalam-dalam. Ah, diam-diam saya pun merindukan perasaan seperti itu. Tapi setiap pelanggan menjemput, saya diingatkan kembali bahwa cinta telah hilang dalam hidup saya. Karenanya saya tidak memberi respon kepada remaja itu, meski dengan hati yang menangis. Dalam keadaan seperti itu, tahukan bagaimana menyakitkannya dicintai oleh orang yang kita cintai? Saya memang sudah biasa menangis dalam hati. Saya memang tidak lagi percaya dengan mulut yang bilang cinta. tapi ketika remaja itu meninggal karena berkelahi dengan seorang langganan saya  yang menjemput, saya tidak tahan.
Selembar lainnya hanya berisi sebuah kalimat: Terima kasih, kamu telah mengingatkan saya tentang cinta, makhluk yang bertahun-tahun saya bunuh tapi tak pernah mati.
Saya pikir menarik juga ceritanya. Saya bergegas ke belakang untuk menemui gadis di tepi jendela itu. Tapi belum sempat saya menggerakkan tangan untuk bertanya, gadis itu melambaikan tangan dan pergi. Benarkah ini kisah gadis yang suka lagu why do you love me itu?
Besoknya saya mendatangi rumah di seberang sungai. Tapi tak seorang pun yang tahu tentang Santi. Penghuni kamar yang jendelanya menghadap sungai itu adalah Dewi, seorang pegawai diskotik yang pergi sore pulang pagi. Saya merasa seisi rumah itu menyembunyikan Santi. Karenanya setiap pagi saya menunggu di depan rumah itu. Sampai seorang tetangga memanggil saya.
“Kamar itu memang pernah ditempati Santi, seorang penjaga swalayan, tapi itu setahun lalu,” katanya. “Entah kenapa, dia melompat ke sungai dan meninggal. Sengaja cerita itu disembunyikan biar yang kost tidak takut. Di mana kamu kenal Santi?”
Saya bergegas pulang. Saya harus secepatnya pindah kost. Tapi saya masih sempat menuliskan sebuah kalimat di buku harian: Tahukah kamu bagaimana menyakitkannya dicintai oleh orang yang kita cintai? Saya tidak berharap hantu itu terlanjur membalas cinta saya.
***


MENGGAMBAR CINTA

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Sabtu, 29 Desember 2012 | 21.27


Cerpen ini dipublikasika HU Pikiran Rakyat, 3 Desember 2005
          
“Saya mau menggambar cinta!” kata Dodi ketika gurunya bertanya. Anak kelas satu Sekolah Dasar itu tidak mengalihkan perhatiannya dari kertas gambar yang sudah terisi setengahnya. Dia tidak perduli kepada gurunya yang berdiri di sampingnya. Juga tidak perduli kepada keramaian kelasnya. Dia terus mencoret-coret, mengganti spidol, membuka halaman baru bila dirasanya gambar yang satu telah selesai.
“Coba lihat gambar yang sudah jadi.” Pak guru yang berdiri di samping Dodi itu membungkukkan badannya. Dodi membuka buku gambarnya.
“Ini gambar sampah?”
“Bukan. Ini gambar cinta.”
Pak guru berkerut kening. Beberapa halaman buku gambar Dodi memang penuh dengan gambar sampah. Ada sampah yang bertebaran, menumpuk, atau yang menggunung, lengkap dengan lalat dan bau busuknya.
“Kok cinta seperti ini?”
“Memangnya cinta seperti apa?”
Dodi memang lain dari murid kelas satu lainnya. Setiap pelajaran menggambar, dia sangat antusias dan bisa menggambar berjam-jam. Kadang dia tidak mau dihentikan menggambar meski mata pelajaran itu sudah selesai. Lebih baik dia menangis daripada menurut kepada gurunya. Menangis memang dianggap wajar bagi murid kelas satu. Selain Dodi, murid lainnya pun bisa menangis karena pensilnya hilang atau bila pipis di celana.
Sejak percakapan di atas, pak guru menggambar itu semakin memperhatikan Dodi. Menurutnya, Dodi punya bakat besar dalam menggambar. Maka atas persetujuan kepala sekolah dan guru-guru lainnya, bila mata pelajaran menggambar tiba, khusus buat Dodi, waktunya bisa ditambah. Dodi senang dan tidak menangis lagi.
Dalam pengamatan guru menggambar setelah tiga bulan sekolah berjalan, daya menggambar Dodi memang luar biasa. Tapi yang digambar itu-itu saja, yaitu sampah. Memang sampah itu kemudian tidak saja menumpuk dan menggunung, tapi ada yang berbentuk binatang, manusia, gedung, jalan, atau apa saja. Dan setiap ditanya, Dodi selalu menjawab yang itu-itu juga.
“Ini gambar apa?”
“Gambar cinta.”
Pak guru menggambar itu tersenyum. Juga guru-guru lainnya yang sengaja melihat gambar Dodi. “Dasar anak kecil,” kata guru-guru itu. Tapi meski begitu, hasil menggambar Dodi yang sudah berbuku-buku itu dikumpulkan dan disimpan rapi oleh pak guru menggambar.
Dan ketika ada pengumuman perlombaan menggambar bagi murid-murid Sekolah Dasar tingkat nasional, gambar-gambar Dodi disertakan. Tidak meleset pengamatan pak guru menggambar, gambar Dodi memang mendapat penghargaan sebagai juara pertama dan favorit.
**
Bakat menggambar Dodi memang luar biasa. Tidak hanya di sekolah, di rumah pun Dodi hampir tidak bermain. Selain makan dan mandi, kerja Dodi hanya menggambar. Orangtuanya jelas khawatir, takut perkembangan anaknya salah. Maka disuruhnya Dodi bermain.
“Lho, setiap hari Dodi kan bermain, bermain dengan spidol dan warna-warna.” Selalu begitu jawaban Dodi. Lalu dia menggambar lagi, menghabiskan buku gambar yang masih tersisa. Dan bila orang tuanya tidak menyediakan buku gambar, Dodi akan menggambar di mana saja. Tembok, lantai, kursi, meja, pintu, jendela, kasur, bantal, lemari, panci, piring, gelas, printer, televisi, radio, dan benda apapun yang ada di rumah, akan penuh dengan gambar Dodi.
Puncak kekhawatiran orang tua Dodi terjadi ketika anaknya lulus SMU. Meski Dodi telah mendaftar ke FSRD ITB, orang tuanya memaksa Dodi untuk masuk ke Fakultas Ekonomi. Tentu saja Dodi protes. Tapi di hadapan orang tua yang otoriter dan menganggap masa depan adalah persoalan ekonomi belaka, apalah artinya kekuatan seorang anak?
Dodi memang kurang suka dengan mata pelajaran ekonomi. Tapi sebagai orang yang luar biasa, meski tidak menumpahkan seluruh perhatiannya, Dodi bisa menjadi sarjana ekonomi juga. Dan ketika orang tuanya menyuruh Dodi bekerja di instansi yang katanya tinggal masuk saja karena sudah ada chanel, Dodi menolak.
“Ibu dan Bapak sudah cukup memberikan bekal. Dodi ingin berusaha sendiri,” kata Dodi.
Dodi pun menghimpun para pemulung di kotanya. Sampah-sampah yang dihasilkan para pemulung itu didaur ulang menjadi berbagai kerajinan, hiasan, kebutuhan rumah tangga. Usaha Dodi banyak yang mendukung, termasuk oleh pemerintah. Artinya pemasukan bagi Dodi semakin banyak. Juga buat para pemulung yang lebih sejahtera dibanding sebelum dihimpun  Dodi.
Karena setiap hari bergaul dengan sampah, Dodi diingatkan kembali dengan kesenangannya sewaktu kecil. Pengurusan himpunannya yang sudah merambah ke kota-kota lainnya, diserahkan kepada stafnya. Dodi memang masih menjadi ketua, pemilik saham tunggal, memantau perkembangan dan memberikan nasihat-nasihat. Selebihnya dari pekerjaan yang ringan itu, waktu Dodi dihabiskan untuk menggambar, menggambar tentang cinta. Siang malam, selain tidur yang sedikit, kerja Dodi hanya menggambar.
“Apa tidak cape, Pak, tidak pernah istirahat?” tanya seorang stafnya yang tidak bisa mengerti dengan apa yang dilakukan Dodi.
“Lho, apa kamu tidak melihat bahwa saya selalu istirahat? Istirahat dengan kanvas, cat, dan warna-warna.”
Daya menggambar Dodi memang luar biasa sejak kecil. Gambar yang telah dihasilkannya bertebaran di rumahnya. Stafnya kemudian membeli pigura dan memasang gambar-gambar itu di rumah, kantor, dan di tempat-tempat lainnya yang khusus dibuat untuk menyimpan gambar-gambar Dodi.
Perusahaan Dodi yang menghimpun pekerja kelas bawah, yaitu para pemulung, sejak awal memang dikenal oleh kalangan pers. Maka ketika ada wartawan yang mengetahui Dodi menggambar begitu banyak, berita itu pun ditulis di koran. Tiga hari kemudian wartawan televisi, wartawan radio, wartawan kesenian, pengamat seni rupa, kurator galeri, berdatangan ke rumah Dodi. Mereka berdecak kagum begitu melihat gambar-gambar Dodi.
“Apa sebenarnya yang ingin Anda sampaikan dengan gambar-gambar ini?” tanya seorang wartawan.
“Hidup ini harus dibarengi dengan cinta. Karena tanpa itu, hidup kita hambar. Sesungguhnya, kita harus percaya, bahwa perjalanan hidup kita adalah pencarian terhadap cinta.”
“Jadi, gambar-gambar ini bertema cinta?”
“Ya, ini adalah gambar-gambar cinta.”
Para wartawan, pengamat seni rupa, kurator galeri, mengangguk-angguk. Sekali lagi mereka memperhatikan gambar-gambar yang tersebar di seluruh ruangan dan hanya bergambar sampah dalam bentuk dan warna yang beragam. Ada gambar sampah yang mewujud manusia menangis lengkap dengan kesedihannya yang dalam. Ada gambar sampah yang berbentuk gunung terbakar lengkap dengan kesumpekan dan kegersangannya. Ada gambar sampah yang menjadi gedung-gedung tinggi dan jalan-jalan besar lengkap dengan kehingaran dan panasnya. Dari semua gambar itu, yang hadir menangkap nuansa bau busuk dan suasana-suasana menjijikkan. Memang ini gambar-gambar sampah, rutuk mereka dalam hati.
“Kapan gambar sebanyak ini dipamerkan, Pak?” tanya wartawan.       
“Entahlah. Hidup saya adalah menggambar, bukan pameran.”
**
Bila dicermati secara seksama, gambar-gambar Dodi memperlihatkan perubahan yang terus menerus. Perubahan ini dirasakan Dodi karena berbagai kenyataan di masyarakat yang ditemui para pemulung memang berubah pula. Setiap apa yang didapatkan para pemulung memang dilaporkan kepada Dodi.
Suatu pagi, seperti biasa seminggu sekali, stafnya melapor kepada Dodi.
“Pak, sejak seminggu lalu ditemukan sampah-sampah yang lain dari biasanya. Di taman, tempat sampah, trotoar, ditemukan bayi-bayi manusia yang dibuang. Memang banyak yang sudah mati, tapi tidak sedikit yang masih hidup. Apa perlu dibuatkan panti asuhan untuk menampung bayi-bayi yang masih hidup itu?”
Dodi berkerut kening. Apa bayi-bayi itu pun sampah, setidaknya sampah cinta? Mengapa orang tidak perlu lagi bayi? Apa orang tidak perlu lagi cinta?
“Sekarang bayi-bayi yang masih hidup itu ditampung di faviliun kantor, Pak.”
“Tidak, jangan ditampung. Kita hanya menampung sampah. Bayi-bayi itu bukan sampah. Bunuh saja mereka dan kuburkan.”
“Lho! Dibunuh?”
“Biarkan bayi-bayi itu hanya mengenal cinta. Caranya, ya dengan dibunuh. Jangan biarkan mereka mengenal dunia yang serba bau sampah ini.”
Staf itu memang kaget. Tapi seperti di perusahaan lainnya, tanpa mesti banyak bertanya, dia melaksanakan tugas atasannya. Keputusan Dodi memang kontroversial. Koran-koran berhari-hari membicarakannya. Banyak yang mengutuk Dodi dan demonstrasi. Tapi lambat laun banyak yang mengerti dan berdecak kagum atas keberanian dan kecerdasan Dodi.
Berhari-hari Dodi melayani wartawan untuk wawancara dan menanggapi berita yang berkembang. Pikiran dan pekerjaannya tersita. Maka dia masih pening ketika suatu pagi stafnya melapor lagi.
Ada perkembangan baru, Pak, di wilayah pemulungan sampah kita. Para pemulung banyak mendapatkan pengemis di mana-mana. Di trotoar, jembatan penyeberangan, taman, pengemis-pengemis itu bergelimpangan menyerupai sampah. Kata koran, para pengemis itu datang dari berbagai pelosok. Mereka datang karena kelaparan. Negara kita memang lagi krisis segala-galanya, Pak. Pemerintah tidak bisa menindak pencurian minyak, hutan, tambang, dan koruptor kakap semakin terang-terangan karena dilindungi partai. Perusahaan kita mesti membayar ganti rugi banyak karena tidak sedikit para pemulung yang salah membacok. Maksudnya yang dibacok sampah, tapi ternyata para pengemis itu.”
Dodi menarik nafas panjang. Begitu pusing kepalanya direcoki oleh persoalan yang silih berganti.
“Apa para pengemis itu perlu dibunuh seperti bayi-bayi itu, Pak?”
“Jangan! Mereka sudah mengenal banyak hal selain cinta. Mereka tidak sama dengan bayi-bayi itu.”
“Lalu?”
“Hati-hati saja para pemulung bekerja. Jangan sampai para pengemis itu terbacok. Saya akan memikirkan dulu apa yang mesti kita perbuat dengan mereka.”
Staf itu pergi. Dia merapatkan keputusan pimpinan dengan staf lainnya dan memberikan penyuluhan kepada para pemulung. Sementara Dodi memikirkan, menimbang dan membolak-balik persoalan itu. Tapi sebelum dia memutuskan, seorang stafnya datang lagi.
“Dengan berhati-hati, produk sampah yang kita kumpulkan berkurang banyak, Pak. Selain itu ada perkembangan lain. Saat kita bingung menambah sampah, ternyata ditemukan sumber-sumber lain. Sampah ada di mana-mana. Tapi begitu mau mengangkutnya, kita salah terka. Banyak pemulung yang memasukkan sampah ke dalam karung dan sampah-sampah itu berteriak karena ternyata itu bukan sampah, itu adalah orang yang sedang beristirahat. Kita jadi kesulitan membedakan sampah dan yang bukan. Di suatu kota, perwakilan kita malah mesti mengganti gedung-gedung yang sempat dibongkar. Mereka awalnya menyewa bulldozer untuk membongkar sampah, ternyata itu bukan sampah, tapi gedung-gedung. Kita rugi besar, Pak, kalau keadaan ini berjalan terus.”
Dodi tidak bisa mengerti, apa yang telah terjadi dengan cinta? Dodi membayangkan ada semacam evolusi yang merubah siapa dan apa saja menjadi menyerupai sampah lengkap dengan bau busuk dan menjijikkannya. Apa saya tidak salah lihat, bisik Dodi saat diperhatikannya stafnya itu pun begitu sulit dibedakan dengan sampah. Dodi berpikir, apa dirinya pun sudah menyerupai sampah?
Tapi belum sempat Dodi melakukan apa-apa, wartawan berdatangan dan mengepungnya.
“Di masyarakat sedang terjadi perkembangan seperti yang Bapak gambarkan dalam ribuan gambar itu, Pak. Masyarakat perlu masukan moral. Gambar-gambar Bapak perlu dipamerkan, Pak. Kapan Bapak mau pameran?” tanya salah seorang wartawan.   
Dodi melepaskan diri dari kerumunan. “Saya mau pergi, kalian jangan menghalangi. Saya tidak perduli dengan pameran. Kalian ambil saja gambar-gambar itu. Saya sudah muak dengan gambar-gambar cinta! Saya akan menggambar sampah!” ***




PENCURI HATI


Pikiran Rakyat, 10 Mei 1998
Di PR judulnya PENCURI, cerpen ini juga ada di buku PENCURI HATI dengan judul yang sama.


Pencuri itu datang tengah malam dan mencuri hati Dewi. Gerimis turun memburamkan kaca jendela. Jarum jam berdetak-detak dalam tempo yang sama. Begitu bangun, Dewi merasa ada sesuatu yang hilang. Dilihatnya pencuri itu meloloskan diri begitu saja. Dewi berlari, mengetuk-ngetuk kamar orangtuanya.
“Ada apa?” tanya Bapak.
“Ada pencuri, Pak.”
Bapak dan Ibu memeriksa ruang tengah, dapur, kamar Dewi. Tidak ada barang yang hilang.
“Di mana pencurinya, Wi?”
“Sudah menghilang di kegelapan.”
“Yang dicurinya apa?”
“Hati Dewi.”
Bapak dan Ibu saling memandang.
“Pencurinya tampan?” tanya Ibu.
“Ya.”
“Seperti ksatria?”
“Ya.”
“Kamu jatuh cinta, Dewi.”
“Bukan hati itu, Ma, yang hilang.”
“Lalu?”
“Hati yang lain. Hati yang menjadikan Dewi kesepian. Hati yang menyudutkan Dewi setiap saat.”
Bapak dan Ibu saling memandang.
“Ah, tidak masuk akal, Wi.”
Absurd.”
“Sekarang tidurlah, masih lama menunggu pagi.”
Tapi Dewi tidak bisa tidur. Dewi merasa ada sesuatu yang hilang. Dewi merasa kesepian. Dewi menitikkan airmata. Dewi membayangkan, di luar rumah tentu masih banyak orang yang terjaga. Teman-temannya semakin tersesat di diskotik, sopir taksi berkumpul di depan tempat hiburan, anak-anak pengemis berkaparan berselimut karung, tukang mie rebus dan roti bakar meladeni yang begadang, satpam terkantuk-kantuk, seorang pengarang sedang mengetik dengan pikiran begitu gelisah, seorang mahasiswa sedang membaca dan resah melihat kenyataan di luar buku-bukunya, abang becak terkantuk-kantuk, pedagang mulai berdatangan ke pasar, seorang koruptor yang diadili sedang merencanakan untuk umroh atau menyusun skenario jawaban dengan pengacaranya atau memberi uang damai jaksa dan hakim.
**
Sebenarnya Dewi sudah lama melihat pencuri itu mendatanginya. Dia bisa datang ketika Dewi menonton iklan-iklan televisi, di layar film ketika Dian Sastro berciuman, di baju-baju mode terbaru yang tak menutupi perut yang dipamerkan dengan model gadis-gadis muda di pertokoan, di terminal ketika seorang pencopet cilik tertangkap dan dipukuli sampai mati, di alun-alun ketika Dewi melihat anak-anak pengemis berkaparan di tempat panas, di rumah ketika orangtuanya menasihati bahwa orang yang baik itu adalah yang cepat selesai kuliah dan cepat dapat kerja dan dapat uang yang banyak, di desa-desa ketika anak-anak busung lapar disumbang berkaleng-kaleng susu oleh petinggi negeri yang korup dengan sebaris wartawan yang siap meliput, di koran-koran ketika Dewi membaca ada polisi over dosis narkoba ada koruptor memimpin lembaga negara ada pencuri berdasi yang disebut-sebut sebagai petinggi negeri ada partai yang merantai ada pemerintah yang menyengsarakan rakyatnya ada jutaan anak-anak kekurangan gizi ada hakim yang tidak mau disuap dibunuh ada orang-orang miskin dipukuli ada rencana membangun tempat judi yang dilegalkan.
Dan malam itu, ketika pencuri itu datang mencuri hati Dewi, adalah saat klimaks dari pertemuan-pertemuan yang berlanjut itu.
Besoknya Dewi mencari pencuri itu. Dia ingin mengambil kembali hatinya. Dia tidak sanggup hidup tanpa hati. Dia tidak sanggup hidup tidak tenteram, selalu kesepian, sakit hati, menangis.
Di kampus Dewi bertanya kepada teman-temannya yang demonstran, kutu buku, modis, atau dosen-dosennya yang hanya membaca buku teks ketinggalan jaman. Tapi mereka tidak ada yang tahu dan mengerti.
“Pencuri apa?” tanya mereka.
“Hati.”
“Kamu jatuh cinta?”
“Bukan hati itu.”
“Lalu?”
“Hati yang lain. Hati yang menjadikan saya kesepian. Hati yang menyudutkan saya setiap saat.”
“Ah, tidak mengerti.”
Absurd.”
“Tidak masuk akal.”
Dewi menyusuri jalan dan bertanya kepada orang-orang. Tapi mereka mengangkat bahu, berkerut kening, menggeleng. Jadi mereka tidak ada yang tahu? tanya Dewi kepada dirinya sendiri. Di taman kota Dewi istirahat. Di taman yang rindang itu banyak orang berteduh. Matahari bersinar terik. Tukang es cendol dikerubungi buruh pabrik yang baru pulang. Seorang ibu pengemis memberi makan anaknya yang ditidurkan di rumput. Sepasang remaja duduk berduaan. Tukang parkir lari terbungkuk-bungkuk ketika ada sedan masuk.
Dewi membuka koran dan membaca berjuta-juta penganggur kebingungan di gang-gang kumuh di jalan-jalan di tempat-tempat sampah, kejahatan terjadi di mana-mana, korupsi menjadi sistem penggerak di lembaga negara di usaha swasta dan di tempat-tempat publik lainnya, perkelahian pelajar menewaskan ratusan pelajar seolah menjadi ekspresi untuk menyatakan eksistensi diri, jutaan orang pergi ke luar negeri menjadi babu dan jutaan lainnya diusir-usir di negeri orang.
Dewi merasa kesepian yang sangat. Dewi merasa dirinya telah terlepas dari kehidupan. Mungkin benar, pikirnya, kesempurnaan manusia adalah ketika merasa tidak sempurna. Tapi, apalah artinya merasa tidak sempurna kalau tanpa berbuat untuk menyempurnakannya? Karena itulah, Dewi perlu mencari kembali hatinya yang telah dicuri. Hati itulah yang menjadi penggerak untuk berbuat menyempurnakan kesempurnaan sebagai manusia.
“Saya tidak percaya!” kata seseorang. Dialah pencuri itu.
“Kamu pencuri hati itu, kan?”
“Ya.”
“Berikan kepadaku. Aku perlu hati untuk menyempurnakan diri sebagai manusia.”
“Saya tidak percaya! Hatimu saya curi karena kamu tidak butuh lagi hati. Hati hanya membuat hidupmu lebih terpojok, lebih hurt feeling, lebih kesunyian, lebih merasa tidak sempurna. Ingat-ingatlah, apa yang kamu perbuat ketika punya hati?”
Dewi merasa angin yang menyisir pipi begitu perih. Dewi ingat, dari mana pencuri itu berasal. Ya, ia datang ketika Dewi selalu merasa kesunyian, sakit hati, tidak berdaya, tidak sempurna sebagai manusia. Dan bukan, bukan hati itu yang menyebabkannya. Tapi ketakutan yang diterjemahkan sangat materialistik, seperti warna pergaulan selama ini. Ketakutan hidup tidak punya rumah, mobil, belanja di tempat mewah, berwisata. Ketakutan dikucilkan dari pergaulan. Ketakutan tersayat pisau kejujuran dan kebenaran. Ya, Dewi merasa telah begitu lama memandang keberhasilan hidup sebagai gemebyar cahaya material. Pikiran itulah yang mendatangkan pencuri yang kemudian mencuri hatinya itu.
Tapi, apa orang-orang tidak merasa kecurian? Dewi tidak mengerti. Angin yang menyisir pipi begitu perih. Di kejauhan, seseorang, mungkin gila, berterik: “Dasar gila! Masa saya dibilang gila! Apa tidak gila menuduh orang lain gila? Apa devinisi gila? Apa?….”
**
Tengah malam Dewi mendengar suara-suara berbisik di kamar orangtuanya. Dewi menghampiri dan menempelkan telinga ke pintu.
“Apa Dewi masih mencari hatinya?” Suara Bapak yang terdengar.
“Mungkin.”
“Kasihan.”
“Kanapa kasihan? Dia harus tahu bahwa hidup adalah sakit hati, sunyi, terpojok.”
“Mungkin dia mengira hanya dirinya yang kehilangan. Padahal nabi-nabi, telah merasakannya sejak berabad-abad yang lalu.”
Dewi merasa suasana rumah begitu mencekam. Bayangan dirinya terpantul di mana-mana. Kursi, meja, gorden, karpet, dinding, semua memantulkan dirinya. Dewi melihat seseorang yang pucat, gelisah, dan misterius, dari setiap bayangan yang terpantul itu. Mungkin benar, pikirnya, semua manusia bersedih ketika sendirian. Semua manusia merasa ada yang hilang dari dirinya. Gerimis yang mengetuk-ngetuk genting menciptakan sunyi tersendiri.
Sejak itu Dewi tidak pernah bertanya kepada siapapun tentang hatinya yang hilang. Dewi pura-pura tidak kehilangan sesuatu. Dewi pura-pura punya hati. **



KELUARGA HITAM

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Jumat, 28 Desember 2012 | 22.40

        Cerpen ini diambil dari buku Pohon Tumbuh Tidak Tergesa-gesa, penerbit Syaamil, 2003.         

             Suatu malam, satu keluarga donatur yang terdiri dari ayah, ibu dan empat orang anak, datang ke panti asuhan. Selain menyumbang makanan, pakaian dan sejumlah uang, mereka pun membawa seorang pendongeng untuk menghibur. Di depan anak-anak yatim piatu yang meyambutnya antusias, pendongeng itu berkisah.
**
Hari masih pagi ketika Si bangun. Sinar matahari hangat menerobos lewat kaca jendela yang gordennya terbuka sejak semalam. Lagu menghentak dari Green Day membuat kamar luas bercat pink itu meriah. Si merentangkan tangannya dan menguap. Komputer yang lupa dimatikan masih memperlihatkan Britney Spears dengan baju minim. Si tidak perduli. Itu sudah biasa. Tapi begitu jam dinding yang menunjukkan hampir pukul tujuh terlihat sekilas, Si melompat dari kasurnya dan segera menyambar handuk. Sekolah sebentar lagi masuk.
Di meja makan, sudah berkumpul ayah, ibu dan tiga orang kakaknya.
“Cepat sarapan, nanti telat!” kata So sedikit membentak.
Si mengambil roti dan segera memasukkannya ke mulut. Dua lembar roti lainnya dimasukkannya ke misting kecil. Segelas jus berwarna kuning diminumnya sampai tandas. Kakak-kakaknya, So, Su dan Sa, berdiri, pamitan dan mencium tangan ayah dan ibu. Mereka tahu bila si bungsu Si makan roti tergesa artinya dia akan menghabiskan sisanya di dalam mobil.
Di dalam mobil yang dikemudikan Mang Diman, So, Su dan Sa, bernyanyi mengikuti Westlife. Si memperhatikan orang-orang yang berjajar di pinggir jalan. Tidak hanya para pegawai, anak-anak berseragam sekolah pun masih ada. Tentunya mereka bangun kesiangan seperti dirinya, pikir Si. Tentunya mereka pun habis surfing semalaman menjelajah dunia aneh di situs-situs. Tentunya mereka pun tahu ada wanita-wanita telanjang, ada kebakaran hutan, ada pembantaian gajah, badak, harimau, dan manusia. Tentunya mereka pun ingin berteriak tapi tidak tahu caranya.
Tapi pagi itu, di dalam mobil yang membawanya ke sekolah, Si benar-benar berteriak. Kakak-kakaknya berhenti bernyanyi. Mang Diman menghentikan mobilnya.
“Ada apa?” bentak So.
“Ini!” Si menjulurkan tangannya. Roti yang sudah dimakannya sebagian, yang dibukanya sambil melamun, tidak hanya dilapisi selai, tapi juga ada bangkai cecak.
“Memangnya kenapa?” bentak Sa.
“Kenapa?”
“Ini mekanan enak dan istimewa, bodoh! Tidak setiap orang mendapatkannya!” Su merebut roti dari tangan Si dan memakannya.
Huakkh! Si muntah melihatnya.
“Memangnya yang kamu makan setiap hari apa? Kalau tidak selai cecak, yang rasanya sedikit asin itu selai kucing, yang rasanya sedikit asam itu selai tikus. Minuman berwarna kuning itu campuran airmata kera yang dibunuh perlahan-lahan dan susu kambing yang diperas sampai mati, yang berwarna merah itu darah harimau Sumatera yang hampir punah.”
Huakkh! Huakkh!
**
Si ternyata tidak hanya muntah-muntah di dalam mobil. Di halaman sekolah, di dalam kelas, di rumah, dia muntah-muntah setiap ingat apa yang telah dimakannya. Wajahnya pucat kekurangan cairan.
“Bawa saja ke dokter. Rawat beberapa hari sampai sehat betul,” kata ayah. Mang Diman segera dipanggil. So, Su dan Sa tertawa-tawa melihat adiknya digendong Mang Diman. Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalian jangan sok! Dulu juga seperti itu.” Ibu mencibir.
“Ini juga pelajaran, menerima sesuatu yang baru, yang tidak lajim, yang awalnya kita anggap menjijikkan, memang tidak gampang. Setelah terbiasa, kalian kan teringat terus bagaimana rasanya susu kucing yang anaknya dibunuh, airmata anjing yang tubuhnya disayat-sayat, lalu steak dagingnya, bakar harimau hidup-hidup. Itu baru kelas menengah, karena ada makanan lainnya yang kalian belum tahu.”
“Apa lagi, Yah?” tanya So, Su dan Sa serempak.
“Ada makanan yang membuat tubuh kita seperti tiwikrama menjadi raksasa, seperti Batara Kresna. Padahal itu baru kita membayangkannya dan menghirup baunya. Setelah tiwikrama, tentu kita bisa menikmati makanan itu sempurna.”
“Makanan seperti apa, Yah? Panggang jerapah Afrika yang dibaluri darah gajah? Atau hati singa gurun yang dimakan sambil mengisap candu?”
“Itu makanan kelas remaja. Nanti saja sekalian kalian mencicipinya.”
So, Su dan Sa bersorak.
Malamnya, di taman belakang rumah yang luasnya hektaran, ayah, ibu, So, Su dan Sa berkumpul. Ayah mengajak semuanya untuk berkonsentrasi membayangkan sesuatu, sesuatu yang dinikmati sepenuh hati, tanpa perasaan-perasaan mengganggu lainnya. Tiba-tiba tubuh ayah dan ibu membesar menyaingi gedung-gedung dan gunung-gunung. So, Su dan Sa juga membesar, tapi tidak seraksasa ayah dan ibu. Mereka sejajar, setinggu gunung  kecil. Mereka memang beru kali ini belajar tiwikrama.
“Nah, sekarang kita nikmati makanan istimewa ini!” Suara ayah menggelegar. Lalu dicomotnya sebuah gunung dan mengunyahnya. Suara pohon-pohon patah seperti kerupuk dimakan anak kecil. Ibu memilih gedung bertingkat puluhan untuk dikunyah. So, Su dan Sa terbengong-bengong.Tapi begitu mereka merenggut rumah bangunan tipe 21, mereka tahu bagaimana nikmatinya tembok keras, genting yang rangu dan sesuatu yang pecah basah sedikit berbau amis.
“Yang pecah basah seperti mata ayam kalau kita makan di pinggir jalan itu, mungkin manusia atau binatang yang tercomot,” kata ayah.
So tertawa sambil menggenggam sebuah kereta api.
“Kenapa tertawa?” tanya Su dan Sa berbarengan.
“Lihat!” So menunjuk sambil mengunyah lokomotif. Di bawah, orang-orang berlarian tidak tentu arah. Mereka bersembunyi di rumah-rumah, pohon-pohon, kardus atau apa saja yang sekiranya bisa menyembunyikan perasaan takutnya.
“Lihat! Bagaimana takutnya mereka ketika melihat tangan kita,” kata So, sesekali tangannya merubuhkan bangunan sehingga orang-orang berlarian. Su dan Sa mencobanya dan mereka pun tertawa-tawa.
“Yang lebih menyenangkan seperti ini,” kata ayah. Geretan besar dinyalakannya, ayah membakar gedung-gedung dan hutan-hutan. Orang-orang berlarian tidak berarah. Ayah, ibu, So, Su dan Sa tertawa-tawa. Sesekali So, Su atau Sa membunuh seseorang dengan tangannya atau kayu, seperti orang membunuh semut. Teman-teman orang terbunuh itu mencari tahu pelakunya dan mereka berkelahi dengan tersangka. Mereka saling membantai di hutan-hutan, kota, desa, pasar, di mana-mana.
“Sekarang tinggal santapan penutupnya. Tinggalkan saja mereka,” kata ibu. Ibu dan ayah membalikkan kursi. So, Su dan Sa mengikutinya. Mereka duduk-duduk sambil melihat wilayah lain. Ibu dan ayah merentangkan sebuah slang ke lautan lepas. Bergiliran mereka menyedot laut.
“Kenapa wilayah itu tidak kita makan atau bakar, Yah,” kata So.
“Ini wilayah miskin. Lihatlah, mereka siang malam bekerja. Mengerjakan apa saja. Bertani, berdagang, beternak, mengambil ikan. Tanah mereka pun subur, tanaman apapun tumbuh bagus, lautnya banyak ikan. Tapi mereka tetap miskin, tidak bisa mengelola kekayaannya, selalu bertengkar. Ini adalah bagian kesukaan ibu.”
“Rasakanlah dengan sepenuh hati, bagaimana nikmatnya menyedot laut sambil memandang kemiskinan,” kata ibu. So, Su dan Sa mendengarkan secara seksama. Lalu mereka mencoba menyedot laut merem-melek sambil melihat orang-orang bekerja keras siang malam, tanpa istirahat yang cukup, tapi mereka selalu miskin, selalu diintip pencurian, penodongan, perampasan, dan kejahatan lainnya.
“Dulu kita masih bisa bermain untuk wilayah itu. Tapi sekarang tidak lagi. Dulu, setiap wilayah itu maju menuju sejahtera, ibu dan ayah mengganggu tanaman mereka, memberi kesempatan orang-orang tertentu untuk mencuri, mengambil untung sendiri, berkelahi satu sama lain. Sekarang lingkaran kemiskinan, kebodohan dan ketamakan sudah hampir sempurna. Sistem kehidupan mereka sudah penuh dengan sogok-menyogok, curi-mencuri, jegal-menjegal. Kita tinggal menikmatinya. Mendengarkan sayup-sayup suara tangis menyedihkan, erangan kesakitan, jeritan frustrasi, teriakan kebingungan. Ini suara-suara yang indah, tidak seperti Westlife, Destiny’s Child, The Corrs, Dewa 19, Jamrud, Iwan Fals, atau penyanyi kacangan lainnya. Ini bagian yang memerlukan penghayatan tinggi untuk menikmatinya.” Ibu menerangkan panjang lebar. So menyedot lagi sambil merem-melek. Air laut, perahu, ikan-ikan, karang, mengalir ke dalam perut So yang semakin besar. Tapi dia tidak merasa kenyang. Su dan Sa tidak sabar menunggu giliran.
**
Seminggu kemudian Si dijemput dari rumah sakit. Wajah anak kelas satu SMP itu cerah. Dia tersenyum-senyum. Di rumah, ibu telah menyediakan makanan istimewa menyambut Si. Seminggu berikutnya, saat bersantai di taman belakang rumah malam-malam, setelah meraka tiwikrama, Si meminta semuanya tenang, dia akan membacakan puisi.
“Ini sebenarnya tugas sekolah. Sebelum dikumpulkan, saya akan membacakannya. Semoga kalian bisa menikmatinya.
Sembilan bahan pokok harganya melambung
Tapi ibu tidak khawatir. Karena kita bisa makan gunung
makan gedung makan tanah makan sungai makan sawah.
Ayah tertawa, karena sejak dulu ayah biasa minum laut
menghirup semen mengunyah karet sarapan padang berlapis aspal.
Coba bayangkan, bagaimana nikmatnya menyedot laut
sambil memandang keindahan kemiskinan, kata ibu merem-melek
Saya pun belajar makan cecak makan tikus makan kucing
memasak hutan mengunyah gedung menyemur sawah
Saya muntah-muntah. Saya dibawa ke dokter
yang selalu penuh pasien itu.
Tidak apa-apa, nanti juga biasa, kata dokter. Ayah tersenyum.
Sekian.”
Ayah, ibu, So, Su dan Sa bersorak.
**
“Di negeri dongeng mana cerita menyeramkan itu terjadi, Paman?” tanya seorang anak.
“Ini bukan cerita dongeng. Ini kisah nyata. Dan sekarang, kesukaan mereka adalah menghirup darah langsung dari leher sambil menikmati erangan korbannya. Makanya mereka  hampir setiap malam gentayangan, seperti vampir.”
Anak-anak yatim piatu itu bergidik. Tapi kemudian mereka berteriak melengking begitu melihat mata keluarga donatur yang terdiri dari ayah, ibu dan empat orang anak itu mengeluarkan sinar garang. Anak-anak yatim piatu itu berlarian tak berarah. Melihat ketakutan mereka, dari mulut keluarga donatur itu tumbuh taring.
**
Sumedang, 4 April 2001

Catatan:
Tiwikrama     = Berubah menjadi raksasa. Dalam cerita wayang, Batara Kresna dan 
                        Arjuna Sosrobahu bisa melakukan ini.
Dicomot        = Diambil dengan kelima jari tangan
Rangu            = Berbunyi nyaring saat dimakan, seperti kerupuk (Sunda)
Merem-melek = Menutup membuka mata untuk menikmati sesuatu.
















SENYUM YANG INDAH

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Kamis, 20 Desember 2012 | 07.35


Tabloid Nova, 12 Desember 1999

         Perempuan itu selalu tersenyum setiap saya memandangnya. Saya membalas senyumnya dengan hati bergetar. Tidak pernah saya berani menatapnya. Saya cepat membungkus nasi, membubuhinya dengan tempe atau tahu goreng, sambal, dan sedikit kuah. Perempuan itu tersenyum sekali lagi begitu menerima nasi bungkus, mengangguk sebagai ucapan terima kasih, lalu pergi entah ke mana.
Saya ikuti langkah kakinya yang tenang sampai menghilang di belokan. Beberapa jenak saya melamun, sampai pembeli berikut datang. “Sudah rutin, ya, perempuan itu mengambil jatah di sini?” Sering langganan warung saya bertanya seperti itu. Saya mengangguk dan tersenyum.
Saya memang terkesan dengan senyum perempuan itu. Senyum yang indah. Senyum yang diam-diam saya rindukan dari semua orang. Senyum yang tidak pernah saya dapatkan selama tiga puluh tahun merantau di Jakarta yang sibuk ini. Tapi begitu saya mendapatkannya dari perempuan itu, saya malah tidak bisa menikmatinya secara penuh. Hati saya selalu berdebar. Bila memandang matanya yang sejuk itu, mata saya jadi perih.
“Kamu ini aneh. Masak ada senyum seindah itu, sampai kamu ingat terus,” kata Kang Nanang, suami saya, ketika malamnya kami ngobrol.
“Saya tidak bohong, Kang. Rasanya bahagia bisa melihat senyum seindah itu. Tapi, kok, juga ada perasaan sedih. Entah oleh apa.”
Kang Nanang mencubit pipi dan memeluk saya erat-erat. Kalau sudah begitu saya tidak bisa cerita lagi.
**
Perempuan itu rutin datang ke warung saya selepas maghrib saat pembeli tidak ada. Dia berdiri di pinggir pintu. Kalaupun pembantu saya yang memergokinya, dia pasti bilang kepada saya. Saya memang menganjurkan seperti itu. Saya ingin setiap hari membungkuskan nasi buatnya dan melihat senyumnya.
Saat ini semakin banyak gelandangan di Jakarta. Para pengamen memenuhi bus kota dan perempatan jalan. Tidak perduli suaranya tidak memenuhi syarat. Saya pernah melihat ada yang masih balita membawa kecrekan, alat musik sederhana dari tutup botol minuman ringan yang dipaku di sebilah kayu, dan menyanyi dengan suara cadel. Para pengemis semakin berlomba menjual kesedihan dengan memamerkan cacat dan bayi yang menangis.
Udara kota memang makin menggerahkan. Sejak nilai tukar rupiah menurun tajam, yang diikuti naiknya semua harga dan bangkrutnya banyak perusahaan, napas semakin sesak. Apalagi koran selalu menulis, korupsi di tingkat atas sampai bawah, tidak pernah bisa diselesaikan. Begitu rakus manusia saat berhadapan dengan materi. Diam-diam saya takut mengalami hidup seperti itu. Hidup dengan hati yang membatu.
Pemerintah kemudian malah menaikkah harga dasar bbm (bahan bakar minyak), telepon dan listrik. Berbarengan semuanya. Sehingga harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Demonstrasi menentangnya terjadi di mana-mana, di kota besar dan kecil. Tapi presiden cukup menanggapinya dengan: “Kita harus hidup sederhana.” Ucapannya itu diberitakan koran-koran berbarengan dengan peringatan ulang tahun keluarga presiden yang menghabiskan empat milyar rupiah di hotel mewah, berbarengan dengan keluarga presiden dan wakilnya menonton kelompok musik menghabiskan ratusan juta rupiah. Begitu menyesakkannya hidup di negeri yang kacau, negeri dimana pemerintah dan wakil rakyatnya penuh borok.
Kerja keras dan keuletan rupanya tidak membawa hasil berarti. Setiap malam, saat menghitung penghasilan, saya selalu berkerut kening memisah-misah untuk belanja esok hari, menyimpan buat gaji dua pembantu, sewa tempat, bayar listrik, dan lain-lain. Ah, tapi ini barangkali masalah warung nasi kecil seperti yang saya kelola. Mungkin untuk kafe yang semakin menjamur dan harganya mahal itu tidak ada masalah seperti ini. Apalagi di hotel-hotel yang sekali makan saja bisa sampai berjuta-juta. Dengan dihibur artis-artis cantik, pelayan-pelayan cantik, sulap yang semakin populer, para eksekutif itu membayar sekali ‘makan malam’ seharga ratusan nasi bungkus. Makan, ternyata tidak lagi berarti memasukkan sesuatu ke dalam mulut. Tapi juga pesta, pengalaman, penghargaan, dan membekukan kepedulian terhadap sesama. Karena berbarengan dengan pesta-pesta itu, seperti diberitakan koran, gelandangan semakin banyak di kota-kota, dan di desa-desa tertentu diam-diam masyarakat makan tiwul.   
Sementara pelanggan saya hanya para pekerja yang seharinya tidak membawa uang banyak. Sopir mikrolet, tukang kredit, tukang bakso gerobak, mahasiswa perantauan dari keluarga pas-pasan, dan pegawai kecil yang sekali makan berusaha tidak lebih dari tiga ribu lima ratus rupiah. Untungnya memang tidak begitu banyak. Tapi dengan tekun mengumpulkan yang sedikit, hidup bisa dijalani. Dengan tenang. Dengan indah. Kadang dengan keharuan yang tidak jelas.
Saya memang sudah membiasakan diri sejak merantau dan membuka warung nasi untuk berbagi kepada gelandangan yang biasa mampir di depan warung. Dan di saat krisis ini, saat pengeluaran diperketat, pemberian jatah kecil untuk gelandangan tidak bisa saya kurangi, malah justru ditambah karena jumlah mereka juga bertambah.
Meski setiap gelandangan yang sering lewat di depan warung tahu bahwa saya rutin memberi makan alakadarnya, tapi tidak semua gelandangan memanfaatkannya. Mungkin yang kalah bersaing saat mengemis atau mencari sesuatu yang bisa dijual yang melakukannya. Sementara yang mendapat rejeki hari itu tidak mampir ke warung saya. Barangkali mereka tahu bahwa warung kecil saya akan bangkrut bila diminta terlalu banyak. Jatah alakadarnya itu dikhususkan bagi mereka yang tidak kuat menahan lapar hari itu.
**
Tidak ada yang saya harapkan dari beberapa orang gelandangan yang setiap hari saya beri sedikit nasi dan lauknya itu. Mereka tidak punya apa-apa. Ke mana-mana memakai baju yang itu-itu saja. Bagaimana mengharapkan bayaran dari mereka?
Mereka yang setiap lepas maghrib mampir itu memang tidak pernah bicara. Tapi mata mereka sudah merupakan jutaan kalimat yang mengharukan dan meminta pengertian. Mereka menatap makanan yang terpajang di dalam kaca, sampai saya atau siapa saja yang menunggu warung memergokinya dan membungkuskan nasi dan satu potong tahu atau tempe goreng.
Hanya kepada perempuan yang usianya saya rasa tak lebih dari 40 tahun, tapi kotor dan tampak tua itu, saya mengharapkan sesuatu. Saya menginginkan sebuah senyum yang indah darinya. Senyum yang selalu membuat saya bergetar, menangis, dan bersedih. Dan perempuan itu memang selalu tersenyum setiap mampir di depan warung saya.
**
Seperti gelandangan lainnya, perempuan itu juga tidak pernah bicara. Tapi lewat tatapan matanya dan senyumnya, kami sering berdialog. Kami membicarakan banyak hal. Saling mengadu. Dari setiap pertemuan, saya memunguti kisah hidupnya, menyusunnya bersama menjadi perhiasan yang tak ternilai bagi saya.
“Saya bahagia hidup seperti ini,” bisiknya sekali waktu. Saya mengangguk dan tersenyum tanda memahami. Saya pun membayangkan perjalanan seorang perempuan yang bertahun-tahun ditinggal pergi suaminya entah ke mana. Dia datang ke  Jakarta karena bingung. Di desa setiap orang membicarakannya. Dengan ijazah SMA dia menjalani hidupnya, melawan ketidakberdayaannya.
Tubuhnya memang tidak sempurna untuk menjadi seorang model. Dia tidak tinggi. Tapi wajahnya yang bersih dan ceria cukup menarik perhatian setiap orang. Saat menjadi karyawan sebuah swalayan, banyak lelaki menggodanya, dari teman kerja sampai pengunjung. Tapi dia tahu semuanya iseng. Dia mau kalau ada yang serius menikahinya. Tapi siapa yang mau serius dengan janda berusia tiga puluhan yang asal-usulnya pun tidak jelas?
Setelah swalayan tempatnya bekerja terbakar, bersama ribuan karyawan lainnya dia kehilangan pekerjaan tanpa pesangon. Mulailah dia menjalani hidup yang tragis. Dia mengerjakan apa saja seperti mencuci dan membantu memasak. Tapi itu tak cukup untuk hidup sederhana dan menyewa kamar kontrakan. Banyak memang kenalannya menawari kerja di tempat hiburan atau kafe. Tapi semua itu mesti dibarengi dengan tambahan servis genit sampai memenuhi ajakan kencan. Dia tidak mau melakukan itu. Dia melawan kesombongan Jakarta. Sampai nasibnya berubah besar ketika tiga orang pengunjung  tempatnya bekerja di karaoke – pekerjaan yang dia terima dengan keterpaksaan – memberinya minuman berobat, membawanya ke sebuah rumah dan memperkosanya.
“Tapi saya bahagia,” kata perempuan itu, yang meninggalkan pemerkosanya begitu saja, tidak mengambil uang yang diberikan kepadanya. “Saya bahagia bisa menolak siapa pun yang mengajak untuk menjual diri. Saya menikmati hidup, meski kenalan saya bilang saya sok dan kolot,” lanjut perempuan yang kemudian menggelandang dan diperkosa berkali-kali itu. “Saya sudah melawannya. Saya tidak merasa kalah. Saya bahagia. Saya ingin mati diam-diam, sambil tersenyum, sambil menikmati begitu indahnya lapar yang sangat.”
**
Semakin hari saya dengan perempuan gelandangan itu semakin akrab. Meski waktu bertemu hanya beberapa menit, tapi kami berdialog semakin panjang. Kami sama-sama yakin bahwa kebahagiaan ada dalam prinsip hidup, bukan dalam hasilnya. Karena itu, ketika banyak yang menyarankan agar warung saya diubah menjadi kafe dengan penunggu wanita-wanita muda yang cantik, saya menolaknya. Meski rincian penghasilan mereka gampang dimengerti.
“Saya ingin bahagia dan merasakan keindahan senyum perempuan gelandangan itu,” kata saya. Memang, setiap orang yang mendengar alasan saya, termasuk Kang Nanang, sulit mengerti. Berkali-kali saya menerangkannya, tapi mereka tetap menganggap saya mengada-ada. ***




PILIHAN

KEMBANG BAKUNG

“Menggigil tapi badannya panas, Bu,” kata Mang Karta menceritakan keadaan anaknya, Siti. “Sejak dua hari yang lalu panasnya, Bu.” “Ke...

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni