Jejak Kata :

DONGENG

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Senin, 25 April 2011 | 13.20


      
Subuh hari, saat orang-orang setengah mati, Gunung Teror meledak. Sepuluh desa hancur. Seratus kota terhalang debu. Sejuta orang luka-luka. Semilyar orang sakit mata.
Siapa yang meledakkan? Bukan apa-apa, karena bencana ini terjadi di Gunung Teror. Gunung yang dari namanya saja sudah khusus. Sepuluh tahun lalu, para teroris bersembunyi di situ. Seratus tahun lalu, para ekstrimis menggalang kekuatan di situ. Seabad yang lalu, para perampok menyembunyikan harta jarahan di situ.
Karena kekhususannya itu, tim keamanan segera diturunkan. Mereka menderap ke desa-desa, menyusuri sungai-sungai, bertenda di lereng-lereng. Beribu-ribu lembar pengumuman disebarkan dari helikopter, ditempel di papan-papan, memenuhi plang-plang: Wanted! Kambing Hitam.
Waktu itu kambing hitam memang tidak ditemukan di mana-mana. Kata intel yang menyamar jadi kelinci, kambing hitam sedang menyamar jadi harimau. Pasukan antihuru-hara, pasukan antiteroris, pasukan antijudi, pasukan antirusuh, dan pasukan anti-anti lainnya; dikerahkan untuk mengepung si raja hutan.
Harimau lodaya yang berbadan semampai itu terlacak ketika sedang berburu kijang. Dari semak-semak dia meloncat mengagetkan seekor kijang yang mau minum. Belum sempat pengejaran itu berhasil, pasukan anti-antian menyergap. Harimau tertangkap tidak berdaya. Kakinya diikat. Rahangnya ditendang. Perutnya dipukul.
“Saya bukan harimau! Lepaskan saya. Saya srigala yang sedang menyamar. Lepaskan saya!”
Harimau itu kemudian berubah wujud jadi srigala.
“Harimau yang asli mana?”
“Karena dicurigai sebagai kambing hitam, harimau menyamar jadi banteng. Karena takut dicurigai, banteng menyamar jadi buaya. Buaya menyamar jadi kuda. Kuda menyamar jadi burung. Burung menyamar jadi srigala. Nah, karena takut aku menyamar jadi harimau…”
”Lalu kambing hitamnya kemana?”
“Entah sekarang sedang menyamar jadi apa.”
Srigala yang menyamar jadi harimau itu dilepaskan. Tapi penangkapan kemudian terjadi di mana-mana. Burung merak disergap ketika sedang memamerkan ekornya. Ikan diciduk ketika sedang berenang-renang. Badak ditangkap ketika sedang menyeruduk anjing. Ular dijerat ketika sedang mengintip kodok. Tapi kambing hitam seolah tenggelam. Tidak ada di mana-mana.
Kata desas-desus, kambing hitam sedang menyamar jadi kecoa. Kecoa menyamar jadi tikus. Tikus menyamar jadi babi. Babi menyamar jadi Buldoser. Buldoser menyamar jadi angin. Angin menyamar jadi pohon. Pohon menyamar jadi matahari. Matahari menyamar jadi gajah. Gajah menyamar jadi semut. Semut menyamar jadi cacing. Cacing menyamar jadi ulat. Ulat menyamar jadi hiena. Hiena menyamar jadi jerapah. Jerapah menyamar jadi kura-kura. Kura-kura menyamar…. ****


SANG PENULIS

Pikiran Rakyat, tanggalnya kok tidak ada ya....

“Ajari aku menggunakan pena,” kata anak desa berkepala pitak itu. “Akan kutulis gemercik air, udara dingin, kabut senja, sampai daun gugur.”
Para mahasiswa yang sedang ber-kkn (kuliah kerja nyata) mengisahkan sejarah menulis, meniru-niru buku. Anak itu berkaca matanya ketika ingat begitu banyak yang belum tercatat di desanya. Barisan pohon, kebiasaan penduduk, suasana hujan, sunyi jengkrik; siapa yang pernah mengabadikannya? Atau tidak ada yang sanggup mengabadikan nyeri selain hati?
Mulailah dia menghitung bintang, mengukur jarak, merasa-rasakan angin menyisir sampai topan membadai. Sepuluh ribu pohon hilang tinggal tunggulnya, sehektar sawah mengering setiap bulannya, sebelas orang penduduk mendadak beringas cepat naik darah setiap harinya.
Di persimpangan jalan desa, anak itu dicegat serombongan orang. Wajahnya galak. Seperti anjing mau menyalak. Tapi pimpinannya, yang berjas dan menenteng notes, tersenyum ranum.
“Daripada menulis-nulis untuk catatan tidak berguna, lebih baik kerja buat perusahaan kami. Honornya besar, bisa beli barang sepasar,” kata sang pemimpin. Senyumnya selalu ranum. Si penulis tidak berkata-kata, karena kakinya yang diinjak luka-luka.
Mulailah dia menulis keseharian para majikan. Daftar belanjaan nyonya, kegiatan bapak, melaporkan kata-kata mereka, mengabarkan cuaca. Hidup penulis itu mewah. Serba melimpah. Tapi dia lelah. Hidupnya gelisah. Ada yang mendesak dituliskan, selain jumlah dan jarak dan batas. Masih ada nyeri, ada rindu, ada senyap.
Ketika tulisannya tentang partai-partai yang merantai diketahui majikannya, penulis itu diinterogasi. Apa maksud menulis itu? Dari siapa mendapat data? Jaringannya sama siapa? Komuniskah? Atau sekedar taktik politik?
Penulis itu sebenarnya ingin menjawab. Tapi dia menyerah, karena kakinya yang diinjak berdarah-darah. Rumahnya lalu digeladah. Buku-buku dan catatan-catatannya dibakar oleh ribuan orang yang berkobar. Si penulis melihatnya dari tempat pesakitan. Keningnya telah dicap: Teroris.
Dia menangis. Bukan karena nasibnya tragis. Akan dihukum mati. Tapi catatannya habis. Jadi tidak akan ada yang tahu: di kantor-kantor, di perusahaan-perusahaan, di rumah-rumah, di jalan-jalan, di hutan-hutan, di lautan, berjuta tikus sedang berpesta. Akan menenggelamkan negara.****


PILIHAN

KEMBANG BAKUNG

“Menggigil tapi badannya panas, Bu,” kata Mang Karta menceritakan keadaan anaknya, Siti. “Sejak dua hari yang lalu panasnya, Bu.” “Ke...

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni