Jejak Kata :

BODOH

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 07 Februari 2017 | 03.35

Orang-orang menyebutnya Si Iot. Entah kependekan dari ideot atau namanya memang seperti itu. Saya baru setahun belakangan ini mengetahui Iot ini menjadi bagian dari kampung saya, karena saya baru beberapa tahun tinggal di sini. Wajahnya yang mongoloid, berjalannya, ilernya yang kadang tidak bisa ditahan bibirnya, membuatnya khas dan gampang dikenali. Tapi yang selalu saya ingat adalah senyumnya. Mengatakan apapun orang, apakah bertanya atau mengejek atau mempermainkannya atau hanya ingin mengetahui pikirannya, Iot selalu tersenyum.
Suatu hari saya pulang menyusuri tepi hutan melalui jalan pesawahan. Di sebuah gubuk saya melihat Iot sedang memegang tali-tali yang dihubungkan dengan bebegig (orang-orangan sawah), kaleng-kaleng, dan potongan-potongan plastik dan koran. Ketika tali itu ditarik-tariknya maka bebegig dan potongan-potongan keretas itu bergerak, kaleng-kaleng berkelontangan nyaring. Dan burung-burung pun terbang menjauh. Katanya, itulah pekerjaan Iot hampir setiap hari, mengusir burung-burung yang mencuri bulir-bulir padi yang mulai menguning.
Saya ikut beristirahat di gubuknya. Saya minum air putih, tersenyum sambil menawarinya kue wafer. Serombongan burung pipit kemudian datang dan hinggap di rumpun-rumpun padi. Saya heran saat Iot mendiamkan burung-burung itu mematuki bulir-bulir padi. Setelah sekitar dua menit baru tali itu ditariknya dan burung-burung pun pergi. Kejadian serupa terjadi lagi beberapa saat kemudian. Saya pun bertanya dan Iot hanya tersenyum sambil mengangkat kue wafer pemberian saya dan menirukan burung-burung makan. Saya pun tersenyum, senyum terkejut dan berusaha mengerti.
Pulang melalui kebun-kebun ubi, saya teringat Forest Gump yang IQ-nya di bawah normal, dengan suara dan mimik wajah khas ia berujar yakin, “Bodoh itu bertindak bodoh....”. Saya mengulang kalimat itu seperti berzikir. Kalimat itulah yang menghentikan tangan saya saat melempar kucing yang mencuri ikan pindang.   “Bodoh itu bertindak bodoh... bodoh itu bertindak bodoh....” 

BERTAKWA-KAFIR-MUNAFIK-FASIK-ZOLIM

Anak saya yang baru kelas 4 SD begitu bersemangat khatam Al-Qur’an. Ketika berlibur ke pantai Pangandaran, saya baru tahu di penginapan bahwa anak saya membawa Al-Qur’an di tasnya. Dan dia memang membacanya sembarang waktu. Sebagai dukungan dan empati terhadapnya, saya membaca terjemah Al-Qur’an, asbabunnuzul ayat-ayatnya, tafsirnya minimal dari At-Tabari dan Ibnu Kasir, berusaha mencatatnya, dan tentu merenungkannya karena saya hanya membaca satu halaman satu hari.
Ayat-ayat awal surat Al-Baqarah banyak menyebut dan berkisah tentang manusia Bertakwa, Kafir, Munafik, Fasik, Zalim. Bertakwa adalah beriman kepada yang gaib, mengerjakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki. Kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah, rasul-rasulNya, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan hari Kiamat. Munafik yaitu orang yang di dalam hatinya ada penyakit ragu, tidak yakin akan kebenaran, dan tidak beriman. Fasik adalah orang yang melanggar ketentuan-ketentuan agama, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Zalim adalah orang yang melakukan perbuatan aniaya, yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
Yang mengerikan ketika menutup Al-Qur’an, pertanyaan itu bergaung di pikiran dan hati saya: masuk ke golongan mana dirimu? Masuk ke golongan mana perbuatanmu? Masuk ke golongan mana ucapanmu?....


TEMAN LAMA

Written By Keluarga Semilir on Senin, 06 Februari 2017 | 06.05

Pulang mengantar anak sekolah, di sudut alun-alun, saya bertemu teman lama. Teman yang sudah berpisah hampir tiga puluh  tahun lalu. Dia menyalami saya begitu hangat, mengguncang-guncang tangan saya. Lalu dia bercerita banyak hal: sekolahnya, merantaunya ke Jakarta dan kota-kota di Sumatera, keluarganya, ganti namanya yang menyebabkan saya tidak pernah melihatnya di akun medsos, dan keterkejutannya melihat saya (yang katanya sudah jauuuhh berubah) sedang baca koran di sudut alun-alun.
Hampir satu jam, sambil ditemani kopi dan roti, pembicaraan kami dikuasai olehnya. Setelah dia melambaikan tangan dari dalam bis jurusan Jakarta, saya tidak bisa melanjutkan membaca koran. Dulu, saya mengenal dia sebagai orang yang paling pendiam, punya kesulitan tersendiri untuk menyampaikan pendapat. Dan sampai sedetik sebelum bertemu dengannya, penilaian saya masih “tetap sama”. Begitu sulitnya menilai manusia. Penilaian kita seringkali “jalan di tempat”, sementara yang kita nilai sudah berubah entah kemana....  (4-2-2017)


PILIHAN

KEMBANG BAKUNG

“Menggigil tapi badannya panas, Bu,” kata Mang Karta menceritakan keadaan anaknya, Siti. “Sejak dua hari yang lalu panasnya, Bu.” “Ke...

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni