Jejak Kata :

KEMBANG BAKUNG

Written By Keluarga Semilir on Kamis, 28 September 2017 | 11.14

cerpen yus r. ismail

“Menggigil tapi badannya panas, Bu,” kata Mang Karta menceritakan keadaan anaknya, Siti. “Sejak dua hari yang lalu panasnya, Bu.”
“Kenapa tidak dibawa ke Puskesmas?”
“Katanya mau sama Ibu saja.” Mang Karta diam beberapa saat. “Maafkan anak saya, Bu, sudah semakin kurang ajar sama Ibu.”
Saya meneguk segelas air putih, mengambil tas stetoskop, mewadahi obat ke dalam plastik; lalu keluar rumah.
Bik Minah mencegat saya di pintu. “Katanya Ibu mau mandi, air hangatnya sudah siap,” katanya.
“Nanti saja, Bik, saya nengok Siti dulu,” kata saya. Lalu berangkat dengan Mang Karta.
Hari menjelang maghrib. Saya sebenarnya baru sampai setelah tiga hari ada keperluan ke kota. Yang dimaksud kota adalah Sumedang, ibu kota kabupaten, atau Bandung, ibu kota propinsi. Karena keperluan saya ke Bandung, sekalian saya mampir ke rumah Om Ardi, adik Ayah.
Pulang dari Bandung bukanlah perjalanan ringan bagi saya. Berdesakan di elf dari terminal Cicaheum, kadang berjam-jam ngetem di Cibiru. Sampai di Cadas Pangeran, dilanjutkan dengan angkutan umum sampai Ciwening. Terakhir naik ojek selama satu jam, melewati perkebunan penduduk, tepi hutan, dan jalan berbatu. Bila musim hujan tiba seperti sekarang, lebih sengsara lagi. Jalanan licin, motor bisa terpeleset di mana saja. Untungnya ada beberapa tukang ojek tetangga saya yang siap mengantar atau menjemput saya kapan saja, selalu hormat dan menjaga saya.
Badan Siti memang panas, 38.7 derajat celcius. Tapi anak itu seperti tidak merasakannya. Saya kasih parasetamol dan vitamin.
“Bu, jadi kita belajar bahasa Inggris itu?” tanyanya.
“Tentu dong, tapi Siti harus sembuh dulu,” jawab saya. “Pasti gara-gara hujan-hujanan lagi, ya?”
Siti tersenyum. “Besok juga sembuh, Bu,” katanya yakin.
**
Sampai di depan rumah hari sudah mulai gelap. Lampu depan sudah dinyalakan Bik Minah. Rumah sederhana, kecil, terlampau sederhana malah buat saya yang sejak kecil tinggal di perumahan elit di Jakarta. Rumah dinas buat dokter di kampung terpencil ini.
Kebun seluas sepuluh bata (140 meter per segi) di sebelah rumah, dibuat taman dengan bantuan Mang Karta dan tetangga lainnya. Sebuah gubuk bambu, panggung, berdiri cantik di tengah taman. Gubuk tempat anak-anak membaca buku dan belajar apa saja. Baru sebulan gubuk itu dibangun.
Siti yang mempunyai ide. Anak kurus itu membaca buku hampir setiap hari. Kebetulan saya mempunyai koleksi buku bacaan. Mulai dari cerita, dongeng, sampai ensiklopedia. Sejak kecil hobi saya membaca dan mengoleksi buku. Untuk teman sepi saja sebagian saya bawa ke sini.
“Seandainya Ibu punya taman, ada gubuk di tengahnya, kita bisa lebih leluasa membaca dan belajar ya, Bu,” kata Siti suatu kali. Mungkin dia merasa canggung saat datang untuk membaca buku saya kelihatan masih lelah.
Besoknya Siti datang lagi dengan laporan baru. “Bu, kata Abah saya, kalau Ibu ingin dibuatkan gubuk, boleh dipakai saja kebun di sebelah rumah ini,” katanya. “Kebun itu kan dititipkan ke Abah saya.”
Tiga hari kemudian, hari minggu, Mang Karta datang bersama tetangga lainnya. Mereka membersihkan kebun, membuat taman, membangun gubuk bambu. Anak-anak bergembira ikut membantu. Ibu-ibunya membuat nasi liwet. Sorenya sudah berdiri sebuah gubuk, taman yang tertata rapi meski tanamannya baru sedikit.
**
Duduk di gubuk panggung menjelang gelap, saya seperti menyusuri perjalanan yang menakjubkan. Sampai tiga tahun yang lalu ketika begitu gembiranya saya diantar Ayah dan Ibu menghadiri wisuda, tidak terbayangkan sedikit pun episode perjalanan hidup seperti ini.
“Jadi pegawai negeri itu lebih terjamin saat ini,” kata Ayah. Entah apa yang ada di pikiran Ayah saat itu. Karena Ayah sendiri adalah seorang pengusaha. Ibu yang menjadi pegawai negeri, guru di sebuah SMU. “Mendaftarlah ke Departemen Kesehatan, pengabdian ke pelosok tidak terlalu lama.”
Tapi waktu yang tidak terlalu lama itu telah membuat saya terpana. Seorang anak yang batuk menyambut saya di Puskesmas yang sangat sederhana. Batuk yang memercikkan setetes darah tbc.
Saya merasa ngeri waktu meraba dada anak yang kurus itu. Ngeri karena dada tulang berbungkus kulit itu menggambarkan lingkaran setan kemiskinan – kebodohan – kurang gizi. Nyatanya saya menghadapi lingkaran setan itu setiap hari.
**
Lembah Ciceuri sebenarnya bertanah subur. Sepertinya pohon apapun yang ditanam di sini akan tumbuh bagus. Katanya, mata air memancar di mana-mana. Dulu, sebelum pepohonan ditebang. Sebelum kebun-kebun penduduk berpindah tangan ke pemilik yang jarang datang. Sebelum hutan Ciceuri gundul karena dibuat peternakan ayam.
Orang-orang kota berebut membeli tanah di sini. Mungkin karena harganya sangat murah. Tanah seluas sepuluh hektar, dua puluh hektar, lalu dibatasi tembok tinggi atau pagar kawat. Pemiliknya hanya dikenal dengan nama sandinya, “pejabat di Bandung” atau “orang terkenal di Jakarta”.
Pepohonan besar ditebangi. Mata air semakin jarang. Penduduk asli kemudian menjadi petani penggarap atau pengurus kebun. Mereka tinggal di rumah-rumah sederhana, berjauhan, kadang hanya satu-dua rumah di kebun yang luas.
Cerita seperti itu tentu saya tidak mengalaminya. Karena ketika saya datang tiga tahun yang lalu, Lembah Ciceuri sudah gersang. Bila kemarau tiba, penduduk menghemat air. Bila musim hujan tiba, jalanan becek, licin, dan sunyi.
Tapi di dalam hati saya lebih sunyi lagi. Saya teringat suatu pagi di hari minggu, saat jalan-jalan menyusuri perkampungan, saya mampir ke sebuah rumah. Mereka sedang makan. Saya ikut makan. Saya harus mencoba akrab dengan mereka, membiasakan diri makan apa yang mereka makan. Saya begitu terpana saat suap pertama masuk ke mulut. Gigi saya berhenti mengunyah. Saya ingin muntah, tapi ditahan.
“Maaf, Bu, nasinya tidak pakai bumbu-bumbu,” kata Mak Esih sudah terus rasa. “Saya tidak mengira Ibu akan ikut makan, jadi beras raskin saya tanak biasa saja.”
Semalaman saya tidak bisa tidur. Hampir setiap hari mereka makan seperti itu. Bagaimana bisa kebutuhan gizi mereka cukup? Bagaimana dengan anak-anak? Mereka memelihara ayam, tapi menjelang musim hujan ayamnya mereka jual. Mereka tidak menganggap penting menanam sayuran di halaman.
**
Setelah dua tahun saya mengabdi di Puskesmas terpencil ini, Ayah dan Ibu menjemput.
“Saatnya sekarang kamu pulang. Meneruskan profesi atau spesialis. Masa depanmu ada di Jakarta atau kota besar lainnya,” kata Ayah.
Tapi saya menangis. Saya pulang ke Jakarta. Jakarta yang ramai. Jakarta yang padat. Tapi saya merasa kesepian. Ada sesuatu yang perih di dalam hati saat memandang anak-anak kecil menadahkan tangan di stopan-stopan, orang-orang mengais sampah di pembuangan akhir, orang-orang berdesakan sampai ada yang pingsan bahkan meninggal setiap orang kaya atau pejabat membagikan sembako gratis atau angpau. Saya seperti orang buta yang baru saja diberi keajaiban bisa melihat.
“Saya mau sekolah lagi, tapi mau kembali lagi ke Ciceuri,” kata saya.
“Kenapa?” Ayah seperti yang bingung. “Bagaimana kamu akan mendapat jodoh kalau kamu tetap di sana?”
Saya tersenyum. “Ah, Ayah, itu kan urusan Tuhan. Kita hanya wajib terbuka dan berusaha,” kata saya.
Ibu memeluk saya. “Ibu percaya, hati kamu begitu indah,” bisiknya. Airmatanya terasa membasahi pipi saya.
**
Hari minggu pagi Siti datang dengan membawa bibit bunga bakung.
“Ini bunga bakung hutan, Bu,” katanya. “Bunganya merah menyala, fink, ada juga yang putih. Orang sini biasa memakai bunga bakung ini sebagai pertanda musim hujan. Meski hujan sudah turun sekali-kali, tapi bila bunga bakung ini belum berbunga, orang sini tidak berani bertani.”
“Oh, jadi kemarin demam itu karena mencari bunga bakung hutan kehujanan, ya?”
Siti tersenyum. “Tapi nanti taman kita akan indah, Bu,” katanya. “Saya ingin pintar, Bu.”
Teman-teman Siti mulai berdatangan. Mereka menjinjing pepohanan, entah pohon apa. Mereka mencium tangan saya. Saling bercanda dengan yang lainnya.
Saya tersenyum. Tapi hati ini tetap merasa sepi. Saya seperti orang buta yang baru saja diberi keajaiban bisa melihat. ***
 Keterangan :
 Raskin = Beras miskin, beras dari pemerintah yang dibagikan untuk masyarakat miskin. Di RT/RW biasanya harus ditebus dengan harga sekiar 2-3 ribu rupiah per kilogram. Raskin seringkali berbau apek yang luar biasa. Memasaknya harus memakai bumbu pandan, salam, serai, biar bau apeknya berkurang.
Cerpen ini pernah dimuat tabloid Genie akhir April 2017
foto: dokumen pribadi. 

TATO

Written By Keluarga Semilir on Selasa, 26 September 2017 | 05.56

sumber gambar: wildtattooart.com

Cerpen ini dimuat Radar Malang 24 September 2017. KLIK di SINI bila ingin membacanya.

PEREMPUAN SUNYI dan SAUDARANYA

Written By Keluarga Semilir on Senin, 11 September 2017 | 05.35


Orang-orang menyebut saya Perempuan Sunyi. Mungkin karena keberadaan saya tidak ditandai dengan suara. Saya tidak berbicara, apalagi keras, apalagi berteriak. Sering ada yang bertamu ke rumah Nenek, setelah lama berbincang dengan Nenek atau Kakek, baru menyadari kehadiran saya di kursi pojok sedang membaca buku.
“Oh, itu Anelis cucu Ibu itu, ya?” tanya tamu sambil tersenyum kepada saya. Nenek selalu mengangguk menjawab pertanyaan seperti itu. Sang tamu kemudian menghampiri saya. “Oh, cantik sekali. Rambutnya begitu indah, matanya begitu cerlang.”
Nenek selalu tersenyum mendengarnya. Mungkin karena tahu, bila tidak ada Nenek, komentar tamu atau orang lain yang melihat saya itu sedikit ada penyimpangan. Mereka akan mengatakan seperti ini: “Kasihan sekali, cantik-cantik kok bisu, tuli dan lumpuh.”
Apapun komentar mereka, saya akan tersenyum. Ya, karena saya tidak bisa bicara. Sudah lama saya berlatih, setiap ingin bicara atau berteriak saya mengalihkannya dengan tersenyum. Karena suara yang keluar dari mulut saya hanya melenguh. Dan saya tidak menyukai suara lenguhan.
**

Kata Nenek, saya sudah bisu, tuli dan lumpuh sejak lahir. Meski begitu, ketika saya lahir ada suara tangis bayi yang keras. Suara tangis bayi yang membuat pendengarnya bersyukur. Tapi suara tangis itu bukan keluar dari mulut saya. Suara tangis itu kepunyaan saudara kembar saya, namanya Inalis.
Nenek selalu bilang, di antara kami berdua yang lebih mirip Ibu adalah saya. Ibu adalah perempuan yang cantik dengan  rambut indah bergelombang, mata cerlang bercahaya, dan senyum seperti bunga yang selalu mekar. Dan Ibu pun perempuan sunyi; bisu, tuli dan lumpuh.
Meski mengalami keterbelakangan mental, tubuh Ibu nyaris normal. Kulit kuning langsat seperti bercahaya, halus mengundang orang untuk membelainya. Ibu bisa berjalan mengesot, bisa melakukan apapun keperluannya sendiri. Mandi, ganti baju, mengambil makanan dari meja makan, Ibu bisa melakukannya. Ibu pernah sekolah, tapi hanya beberapa tahun. Entah kenapa Ibu tidak melanjutkan sekolah, Nenek tidak pernah bercerita.
Suatu hari sepulang bermain di teras belakang rumah, Ibu menangis. Melenguh-lenguh, lalu diam dengan airmata mengalir membasahi pipinya yang ranum. Tangis yang tidak biasa. Karena berhari-hari kemudian, berminggu-minggu kemudian, tangis itu tidak berhenti.
Nenek dan Kakek tentu saja bingung. Tapi kemudian Ibu melupakan tangisnya. Ibu sibuk lagi dengan keterampilan menyulamnya, keterampilan yang diajarkan Nenek sejak kecil. Apapun disulamnya. Taplak meja, sarung bantal, bajunya, hiasan dinding, dan apapun. Sebagian hasil sulaman Ibu dibagikan kepada saudara-saudara yang datang dan tetangga.
Tapi Nenek dan Kakek tidak berhenti bingungnya. Karena beberapa bulan kemudian Ibu tidak juga datang bulan. Waktu dibawa ke dokter, Ibu dinyatakan hamil. Waktu itu usia Ibu dua puluh tahun. Sampai saya dan Inalis lahir, Nenek dan Kakek tidak tahu siapa sebenarnya ayah kami. Ibu selalu menangis setiap ditanya. Ibu pun meninggal waktu melahirkan saya dan Inalis.
**

Kata orang, saya dan Inalis seperti pinang dibelah dua. Hanya yang membedakannya, Inalis lebih besar dan tinggi. Karena sejak kecil Inalis biasa bergerak, menari, menyanyi, dan bermain berlari-larian. Sementara saya hanya menemaninya dari pinggir halaman, tersenyum, bertepuk-tangan, dan ngesot untuk mengejarnya.
Inalis sangat menyayangi saya, seperti juga saya sangat menyayanginya. Inalis selalu membantu saya. Saya dipangkunya untuk dipindahkan dari lantai ke kursi atau tempat tidur. Saya digendongnya ketika ingin melihat pawai kendaraan hias saat perayaan hari kemerdekaan. Saya diberinya makanan dan mainan apapun yang dipunyainya.
Hanya saja Inalis tidak pernah bisa menguasai bibirnya. Bila sudah marah, bicaranya akan panjang, mengomel mengatai apapun yang tidak berhubungan dengan yang membuatnya marah.
Suatu hari saya tidak mau diajaknya bermain.
“Setiap hari saya pangku, saya gendong, saya beri apapun yang saya punya; eh balasannya penolakan hanya dajak bermain. Saudara seperti apa kamu itu?” kata Inalis dengan wajah sinis. “Dasar, anak tidak tahu diri. Sudah lumpuh, bisu dan tuli lagi!”
Inalis tidak tahu kepala saya pening sehingga saya tidak kuat bermain.       
Tentu saja saya terkejut. Saya tidak menyangka Inalis mengatakan kalimat-kalimat pedas seperti itu. Saya menangis saking sedihnya. Tapi Inalis malah seperti yang berbahagia, merasa puas, melihat airmata saya mengalir menyusuri pipi.
“Makanya kamu bicara! Jangan hanya ah-uh auh-ah, seperti monyet! Tahu diri, kamu itu manusia tidak berguna!” katanya semakin membuat airmata saya banjir.
Sejak itu saya tidak ingin bisa bicara seperti Inalis bicara. Keinginan yang sejak saya ingat dan sadar bahwa saya tidak bisa bicara seperti itu, berhenti begitu saja. Seperti sinar matahari yang tertutup awan dan hujan. Saya lalu lebih mempercayai tersenyum sebagai kata-kata. Itulah awalnya mengapa saya dikenal sebagai Perempuan Sunyi yang selalu tersenyum.
“Coba, kamu tahu apa arti senyum Perempuan Sunyi itu kali ini?” tanya seseorang kepada temannya saat melihat saya sedang menyulam di teras rumah. Saat itu senja turun dengan matahari jingga kekuningan.
“Mungkin dia bangga bisa membuat sulaman,” jawab temannya.
“Bukan. Dia pasti berbahagia begitu menyadari bahwa dirinya tidak bisa bicara.”
“Haha... masa karena bisu jadi bahagia?”
“Iya, karena dia tahu, banyak berkata-kata seringkali menutup orang untuk tersenyum.”
Mendengar percakapan seperti itu senyum di bibir saya semakin merekah.
**

Setelah kami dewasa, kata-kata seperti kutukan bagi Inalis. Dia sangat baik kepada siapapun. Tapi begitu sudah berselisih, mulutnya seperti senapan yang tidak akan berhenti sebelum ada peristiwa besar. Sekali waktu, saat Inalis sekolah SMP, teman akrabnya sendiri dikatakan pelit, bodoh, tidak tahu diri, kurang ajar, sengsara, buruk rupa, pecundang, dan entah apa lagi; hanya karena tidak memberinya pinjaman buku. Tentu saja temannya itu marah. Dia memutuskan hubungan pertemanannya.
Saya sendiri tidak sekolah. Nenek mengundang guru les ke rumah. Saya belajar membaca, berhitung, dan menggambar. Saya sangat senang membaca. Saya bisa belajar banyak hal dari bacaan. Ketika guru les saya harus meneruskan kuliah ke luar kota, saya tidak mau lagi belajar. Saya tidak mau guru baru. Lagipula, setelah bisa membaca, saya bisa belajar sendiri.
Lulus kuliah, bekerja, Inalis menikah dan berpisah rumah dengan Nenek dan Kakek. Saya diajaknya juga tinggal di rumah Inalis. Suaminya baik mengijinkan saya ikut tinggal dengan mereka. Lima tahun mereka berkeluarga tapi belum dikasih momongan juga. Sekali waktu Inalis dan suaminya berselisih. Seperti yang sudah-sudah, mulut Inalis seperti senjata yang tidak berhenti menembak.
“Dasar lelaki mandul, miskin, pecundang, tidak tahu diri, pemalas, pengangguran, dan....” Saya tidak hapal apa lagi yang dikatakan Inalis. Suaminya kemudian pergi. Beberapa hari kemudian datang surat cerai dari pengadilan.
Sebulan kemudian Inalis berselisih dengan tetangganya. Setahun kemudian Inalis dijauhi oleh semua tetangganya. Hidup Inalis seperti terasing. Hidup menyendiri di tengah keramaian. Bertemu dengan saya para tetangga itu menyapa dan tersenyum. Tapi begitu melihat Inalis, mereka seperti tidak saling mengenal.
Sekali waktu Inalis menangis. Ujung bibirnya robek berdarah. Awalnya hanya karena ada orang yang lewat tidak bilang permisi. Mulut Inalis lalu menjadi senjata lagi mengeluarkan perbendaharaan kata yang begitu tidak terbayangkan banyaknya. Setiap orang itu lewat, mulut Inalis menembaknya dengan jutaan kata-kata. Orang itu awalnya bingung. Tapi begitu tahu kata-kata sumpah serapah dan ejekan itu ditujukan kepadanya, orang itu memukul Inalis.
Inalis memeluk saya. “An, tahukah engkau, sejak dulu, sejak kita kecil, aku ingin sepertimu,” katanya sambil menangis. “Aku ingin bisu sepertimu.”
Saya tentu saja tersenyum sambil membelai rambutnya.    
**

Sekali waktu keinginan Inalis untuk bisu itu terkabul. Dia tidak bisa berteriak, menembak orang dengan kata-katanya yang tajam, bahkan melenguh pun tidak bisa. Saya memeluknya. “Bicaralah, In, bicaralah seperti biasa,” bisik saya. Tapi Inalis membisu.

Darah segar membasahi tangan saya saat tersentuh belati yang menancap di dada Inalis. 
**
Cerpen ini dimuat Media Indonesia 10 September 2017

"MASALAH PENGARANG" dan "MASALAH CALON PENGARANG"

Written By Keluarga Semilir on Rabu, 30 Agustus 2017 | 11.02


Seorang kenalan selalu bilang ingin belajar menulis cerpen. Kadang dia berbicara cerpen-cerpen sastra. Dia menyebut Seno Gumira Adjidarma, Agus Noor, Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, dan banyak lagi, lengkap dengan cerpen-cerpen mereka. Kadang dia berbicara cerpen-cerpen remaja, menyebut Asma Nadia dan banyak pengarang FLP (Forum Lingkar Pena) lengkap dengan karya mereka. Kadang dia bercerita cerpen-cerpen anak yang banyak dimuat majalan Bobo, Ummi, dan banyak lagi.
Saya seringkali hanya menjadi pendengar. Hanya sesekali menanggapi bila dirasa sangat perlu. Ya, karena awalnya saya sangat antusias menanggapi “keinginannya belajar menulis cerpen”. Tapi saya merasa bertepuk sebelah tangan. Dia mungkin tidak mempercayai saya meski tahu cerpen saya pernah dimuat banyak koran dan majalah. Jadi saya tidak berlanjut mengajaknya “belajar bersama” dan menghadapi “permasalahan pengarang” bersama.
Dia pernah bilang seperti ini: “Saya ingin mengikuti workshop profesional yang berbayar satu setengah juta rupiah,” katanya sambil memperlihatkan brosur. Pembicaranya di brosur itu ada Asma Nadia, Habiburahman, Tere Liye. “Ini profesional. Uang kan tidak akan membodohi,” katanya lagi.
Sebagai orang yang tidak pernah profesional seperti itu, tentu saja saya hanya tersenyum. Ada beberapa orang yang pernah belajar kepada saya. Bertemu secara tidak rutin, kadang kontak lewat medsos yang tidak berjadwal (kadang terhambat karena saya lagi banyak kerjaan kadang karena dia lagi males nulis). Beberapa kali karangannya dimuat majalah dan koran. Saya rasa dia sudah bisa melanjutkan sendiri. Kalaupun masih kontak, ya membahas “masalah pengarang” itu.


Kenalan saya yang ini, tidak seperti itu. Dia tidak ingin belajar bersama saya karena tidak profesional, bicara menggebu tentang banyak pengarang dan cerpennya, semangatnya begitu tinggi untuk menjadi pengarang. “Saya juga pasti bisa menulis seperti mereka!” katanya.
Tentu saya juga hanya tersenyum menanggapinya. Ya, karena aslinya dia sering menghindari “masalah pengarang”. Dia baru berkutat pada semangat “calon pengarang”. Setiap ditanyakan hasil karyanya, dia akan bicara panjang tentang banyak karya orang lain. Karyanya sendiri sepertinya memerlukan waktu berbulan-bulan untuk dituliskan. Dipikirkan harus sangat matang, dituliskan dengan direnungkan kalimat per kalimat. Jadi perlu waktu lama untuk menyelesaikan sebuah cerpen.
Itulah yang menjadikan saya seringkali hanya menjadi pendengar.
Sementara kenalan lain yang tertarik menulis cerpen, saya kasih tips awal: jadilah pencuri yang baik. Dia menulis cerpen anak. Katanya suka dengan sebuah cerpen tentang seorang anak yang menunggui padi yang mau dipanen. Dia pun menulis tentang anak yang mengawali menjadi pemerah susu sapi. Dengan proses “membaca”, lalu “menulis”, selalu ada cerpen untuk dibahas.
Begitulah, kadang banyak orang yang mengaku ingin belajar menulis tapi hanya sampai pada “masalah calon penulis”. Biasanya belajar ke sana ke situ ke sini, masuk perkumpulan ini-itu, ikut pelatihan ini-itu, tapi menyelesaikan satu tulisan pun butuh waktu berbulan-bulan. Lalu berkilah, “Produktif itu seperti pabrik, hanya menghasilkan karya yang kurang bermutu.”
Sementara “masalah penulis” itu ya bekerja keras membuat tulisan. Ngotot mempelajari cerpen yang ditulis orang lain, menganalisanya, dan menulis dengan caranya. Eksperimen dengan banyak hal juga kadang diperlukan. Setiap pribadi juga mengalami proses masing-masing. Bila menulis hanya satu-dua, bagaimana proses akan terjadi?
Apalagi bila mengingat bahwa menulis (terutama cerpen) bukanlah profesi yang ramah finansial, untuk saat ini, di sini, negeri Indonesia ini. Dari ribuan orang yang belajar menulis cerpen, mungkin hanya satu dua yang bisa lolos untuk menikmati dimuat media besar yang honorariumnya memuaskan (besar bayarannya, cepat dibayarkannya, dsb.) Karena sekarang ini mulai ada media besar yang untuk tembusnya begitu perlu kesabaran dan kerja keras, giliran dimuat honornya juga perlu diperjuangkan dengan menjadi debt-colektor dan itu pun belum tentu dibayarkan.
Ok. Sudah terlalu menyimpang. Nanti dilanjutkan “masalah pengarang” ini....
30-8-2017
   



SI KABAYAN DISEMANGATI ZAMAN

Written By Keluarga Semilir on Minggu, 13 Agustus 2017 | 23.45


humor klasik si kabayan

PEMESANAN HUB:
WA :  085220060628
BBM : 5CEFDB37

Si Kabayan adalah tokoh dongeng di daerah Pasundan, Jawa Barat. Dia hidup sejak zaman dongeng disampaikan secara lisan, sampai dongeng dituliskan atau direkam dalam media audio-visual. Untuk saat ini, rasanya tidak ada orang Sunda yang tidak tahu Si Kabayan. Bahkan karena dongeng Si Kabayan menyebar juga melalui bahasa Indonesia dalam media cetak dan media audio-visual, rasanya tokoh ini sudah dikenal lebih luas lagi.
Pertama kali saya mengenal Si Kabayan ketika orang-orang tua sering mendongengkan satu dua cerita di madrasah tempat mengaji. Atau dari Bapak (almarhum) yang pengucapan “el, da deet”-nya dalam episode “Si Kabayan Memancing Siput” tersimpan rapi dalam kenangan. Saya rasa setiap mereka mendongengkan Si Kabayan, ada tujuan untuk lebih “menghibur”. Para orang tua di madrasah bermaksud agar anak-anak tidak ngantuk, atau kecewa tercegat hujan ketika mau pulang. Bapak selalu berhasil memindahkan suasana isak tangis saya ke tertawa dengan ucapan “el, da deet” sambil mengangkat kaki.
Jadi dalam rekaman pikiran saya, Si Kabayan adalah tokoh dongeng untuk memancing tertawa. Baru kemudian saya tahu bahwa tertawa pun bermacam ragam. Achdiat K. Mihardja menulis serangkaian cerita Si Kabayan dalam buku Si Kabayan, Manusia Lucu dengan rasa “akademis”. Bagi Achdiat, cerita lucu haruslah berunsur ngageuhgeuykeun (mentertawan, baik berupa kritik sosial atau kritik diri). Karenanya dalam versi Achdiat, cerita Si Kabayan yang sudah klasik seperti dalam episode “Mencari Jalan Ke Surga” menjadi panjang dan penuh keterangan. Belum lagi cerita baru semisal Si Kabayan dan Sastra Kontekstual, Si Kabayan dan Filsafat Kerakusan, Si Kabayan Mau Melawat ke Luar Negeri.
Itu semua memberi kepercayaan kepada saya bahwa bagaimana ragam kelucuan dongeng Si Kabayan tergantung penuturnya. Si Kabayan pun bisa menjadi apa saja. Dia hidup di setiap zaman. Disemangati zamannya. Cerita-cerita yang tidak sesuai lagi ditinggalkan dan lambat laun hilang dari ingatan. Dalam buku yang terbit tahun 1920-an (penulisnya seorang Belanda, tapi saya lupa detailnya karena buku itu tidak tertemukan lagi), begitu banyak cerita Si Kabayan yang cawokah (jorok, mentertawakan tentang seksualitas). Lambat laun cerita seperti itu hilang, meski dalam kesenian tradisional seperti wayang golek humor cawokah menjadi ciri tersendiri dalang-dalang tertentu.
Mungkin karena berdasar karakter Si Kabayan seperti itu, Ajip Rosidi dalam pengantar cerita Si Kabayan Jadi Dukun karangan Moh. Ambri menyatakan: siapapun bisa menciptakan tokoh Si Kabayan, yang sifat-sifatnya dianggap sudah baku: kedul, teu boga kaera, cunihin, cilimit, hawek – tentunya sifat-sifat manusia yang tidak terpuji.
Sifat-sifat seperti itu saya rasa bermetamorfosa juga sesuai semangat zaman. Selain sifat Si Kabayan yang disebutkan di atas, semakin sering ditemukan Si Kabayan yang bijaksana, merdeka, dan cerdas. Dalam versi film, malah tergambarkan Si Kabayan yang lugu, jujur, dan baik hati. Sementara sifat cunihin, cilimit dan hawek, semakin menurun frekwensinya. Barangkali karena Si Kabayan pun berinteraksi dengan tokoh-tokoh jenaka lainnya seperti Nasruddin Hoja atau Abu Nawas. Dalam beberapa cerita mereka ada kesamaan. Seperti ketika Nasruddin Hoja ditanya, berapa banyak bintang di langit? Jawabannya, sama dengan bulu keledai di tubuhnya. Si Kabayan pun ada yang nanya seperti itu, “berapa banyak bintang di langit, tolong ikat tangan dengan air”. Jawaban Si Kabayan, “bintang di langit sama dengan pasir di pantai, sebelum mengikat tangan tolong buatkan dulu tali dari air itu.”. Seperti kita tahu, Nasruddin Hoja adalah tokoh jenaka yang lebih nyupi (bersifat sufi). Jadi sifat Si Kabayan pun bisa berubah terus menerus. Sifat abadinya hanyalah mengundang tertawa, bagaimanapun ragamnya.
Bagi saya, sifat cunihin, cilimit, hawek, kurang ajar (terutama terhadap mertua) Si Kabayan, menjadi termaafkan dengan sifat-sifat humor. Mungkin karena kita tahu dan percaya, humor adalah maqom tertinggi dari manusia yang senantiasa belajar manusiawi.
Tahun 2004 saya mengumpulkan dongeng-dongeng Si Kabayan dalam buku Si Kabayan Jadi Sufi (Pustaka Latifah). Di buku itu tidak semua dongeng klasik Si Kabayan yang dikumpulkan, karena saya menyatukannya dengan dongeng Si Kabayan "baru" yang benar-benar karangan saya. Tahun 2017 ini saya berkesempatan lagi mengumpulkan dongeng-dongeng Si Kabayan, maka saya memilih menuliskan kembali dongeng-dongeng yang klasiknya. Si Kabayan Memancing Siput, Si Kabayan Memetik Buah Nangka, Si Kabayan Ingin Diundang (dalam bahasa Sunda: Ngadeupaan Lincar), yang atau ada dalam buku Si Kabayan Jadi Sufi, ditambahkan dengan dongeng klasiknya yang dulu belum sempat dituliskan. Buku baru ini diterbitkan oleh Bhuana Ilmu Populer (Gramedia Grup). 
Tentu saja saya sangat berterima kepada banyak pihak yang memungkinkan saya ikut "mengingat" dan "merasakan" kelucuan Si Kabayan ini. Apa Abun Ismail (almarhum, semoga Allah swt merahmati) dan Mamah Pipin Sumirah (almarhumah, semoga Allah swt merahmati), yang pertama mengenalkan Si Kabayan kepada saya. Anak-anak saya (Semilir, Rofi, Rakey) yang selalu antusian didongengi Si Kabayan. Dan istri saya tercinta, Lina Herlina, yang sering menganggap saya sebagai Si Kabayan. Tentu semuanya terutama karena kesempata dan rahmat Allah swt.
Semoga ada manfaatnya.

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

Written By Mang Yus on Kamis, 10 Agustus 2017 | 00.46

kumpulan cerpen yus r. ismail

Buku kumpulan cerpen “Pohon Tumbuh Tidak Tergesa-gesa” ini diterbitkan oleh Syaamil tahun 2003. Berisi 16 cerpen yang semuanya pernah dimuat media cetak. Media cetak yang pernah memuat cerpen di buku ini adalah Media Indonesia, Republika, Kompas, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Matra, dan Horison. 

Cerpen-cerpen yang ada di buku ini adalah di antaranya:
1.      GUBUKDI PINGGIR KOLAM
2.      KELUARGA HITAM
5.      PUTERI BULAN
SENYUMYANG ABADI

Ada beberapa catatan mengenai buku/cerpen ini. Saya selalu bahagia membacanya, karena yang membuat  "catatan" ini adalah para remaja yang masih belasan tahun. Di antaranya seperti ini:

RESENSI "POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA"

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

CATATAN BUNDO: POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

PAK SUTAR DAN SEEKOR KUCING

cerpen esquire
majalah Esquire, Juli 2017

Pak Sutar adalah orang kaya. Rumahnya ada lima. Rumah pertama ditempati keluarganya, istri dan dua anaknya yang sudah remaja. Rumah kedua dan ketiga dikontrakkan, karena tadinya juga dibeli dengan tujuan investasi. Rumah keempat ditempati Empi, istri mudanya yang dinikahi secara siri. Rumah kelima dikosongkan, sekedar ditengok oleh Mang Engkos dan Bik Erum, suami istri yang bertugas membersihkan rumah itu setiap hari. Rumah kelima itulah yang biasa dipakai istirahat oleh Pak Sutar saat sedang ingin sendirian.
Seperti sekarang, sudah dua hari Pak Sutar beristirahat di rumah kosongnya. Ada masalah rumit yang sedang dihadapinya. Awalnya adalah kabar dari Rudi, staf di kantornya. “Pak, saya mendengar kabar, bakal ada audit mendadak mengenai proyek-proyek tahun ini,” kata Rudi. “Bila selamat proyek tahun ini, tahun-tahun lalu tidak akan diaudit. Tapi bila ada indikasi penyelewengan, proyek tahun-tahun sebelumnya juga bakal diaudit.”
Kabar itu yang membuat Pak Sutar gelisah. Menyesal bila sudah seperti itu. Tahun lalu sebenarnya sudah terpikir untuk berhenti. Sudah waktunya untuk bersih-bersih diri dari kelakuan seperti itu. Sudah kaya ini. Pemerintah kan dari Pusat sedang mendengungkan clean governement. Rapat-rapat atau acara yang diadakan instansi diusahakan jangan dilakukan di hotél.
Tapi setiap mengajukan proyek, disetujui, selalu sayang bila dilepaskan kepada pengusaha. Apalagi dari Pusat diharuskan menolak hadiah apapun dari pengusaha.
“Rudi tahu siapa pengawasnya?” kata Pak Sutar waktu itu.
“Katanya dari Pusat. Gampang sebenarnya bila ingin tahu, Pak. Tinggal tanya-tanya aja orang Pusat, tapi buat apa?”
“Tinggal ajak makan-makan, atau jalan-jalan seperti biasanya.”
“Sekarang tidak bisa seperti itu, Pak. Bila kita berlaku seperti itu, bisa-bisa langsung dicurigai. Pusat sekarang sedang mencari kambing hitam dari banyak perilaku korup instansi.”
Itu yang membuat gelisah Pak Sutar. Bila mau dihadapi seperti yang tidak berdosa, akhirnya pasti ketahuan. Sejak jadi Kabid Sejarah dan Kepurbakalaan, setiap mengajukan proyek sebenarnya buat dirinya sendiri. Tender akhirnya dimenangkan oleh perusahaannya. Perusahaan dirinya yang memakai nama dan alamat fiktif. Tidak susah nyari pengangguran yang datang ke kantor memakai kemeja bersih, suruh tanda tangan ini itu, pulangnya diajak makan-makan dan amplop satu juta. Apalagi proyek yang di bawah seratus juta rupiah yang tidak mesti tender dulu, lebih gampang mengakalinya.
Ya, dengan cara mengakali proyek seperti itu Pak Sutar bisa investasi di kebun dan sawah, rumah, pom bensin, saham trading, juga membiayai Empi yang boros dan selalu ingin up to date. Tapi Pak Sutar tidak bisa melepaskan Empi. Selain punya anak yang sedang lucu-lucunya, baru dua tahun, Empi cantik seperti pemain sinetron.
Terpikir oleh Pak Sutar, bila diaudit satu proyek, lalu dicari perusahaannya, pasti ketahuan fiktifnya. Bila diaudit proyek lainnya, proyek tahun-tahun yang lalu, pasti ketahuan caranya serupa. Sepertinya milyaran rupiah yang dituduhkan kepadanya. Bila masuk ke pengadilan langsung jadi tersangka, dipecat dari pns, investasi mungkin disita. Malunya pasti terbawa sampai kapan pun, mungkin juga sengsara lagi, mungkin Empi akan kabur, mungkin....  
**

Bila sedang beristirahat di rumah kosong, Pak Sutar lebih suka duduk-duduk di balkon loteng. Duduk di kursi malas yang sengaja dipesan dari Jepara. Memandang anak-anak bermain di pesawahan, ibu-ibu memetik kangkung, para petani membersihkan rumput-rumput liar di seputar rumpun padi, para pedagang yang lewat di jalan kecil pinggir sawah.
Bila melihat pemandangan seperti itu, kadang terpikir oleh Pak Sutar untuk bertaubat. Dia ingat kembali waktu kuliah dia termasuk aktivis masjid. Sholat lima waktu tidak pernah tertinggal. Hanya setelah kerja jadi pns, sholat mulai tercecer, apalagi setelah sesekali mengakali keperluan kantor, dan akhirnya ikut mengakali proyek. Sholat lima waktu hanya agar terlihat alim saja, apalagi kemudian dia umrah dan menunaikan ibadah haji.
Saat mendengar adzan magrib, perasaan ingin bertaubat itu datang lagi. Pak Sutar pun kemudian sholat. Selesai sholat lalu berdo’a.
“Ya Allah, saya rela rumah ini dijual, hasilnya dibagikan kepada panti-panti asuhan, asal gelisah saya cepat sirna. Saya tidak akan melakukan lagi perbuatan tercela mengakali proyek,” gumam Pak Sutar dalam do’anya.
**

Besoknya waktu Rudi mencegat di tempat parkir, Pak Sutar terkejut. “Pak, barusan saya mendengar lagi kabar, audit mendadak itu tidak jadi hari ini,” kata Rudi. “Auditnya ternyata acak. Yang kena audit dari Dinas kita adalah Bidang Pendidikan Luar Sekolah.”
Entah Pak Sutar terkejut karena senang, entah terkejut karena ingat do’anya. Pulang dari kantor masih ke rumah tempat istirahat itu. Dia merenung. Do’a saya ternyata dikobul, Tuhan ternyata sayang kepada saya, gumam Pak Sutar. Tapi menjual rumah ini dan hasilnya disedekahkan kepada panti-panti asuhan, apakah tidak akan sayang? Rumah ini harganya tidak akan kurang dari sembilan ratus juta rupiah. Harga beberapa tahu yang lalu itu. Kaya juga keterlaluan bila mesti sedekah sebesar itu, gumamnya lagi.
Pak Sutar sekarang gelisah dan berpikir keras bukan karena takut. Tapi gelisah karena hatinya pernah berdo’a. Kata kyai, yang seperti itu namanya nadar, dan nadar wajib dilakukan. Tapi kan belum bicara kepada siapapun, gumam Pak Sutar. Bila tidak dilakukan juga tidak apa-apa. Anggap saja niat baik yang tidak jadi dilakukan.
Begitu yang ada di pikiran Pak Sutar. Tapi setiap mau dilupakan, do’a itu muncul kembali. Hatinya tidak tenang bila nadar itu belum dilakukan. Namanya juga gumam di dalam hati, janji kepada diri sendiri, bagaimana melupakannya?
Saat sedang berpikir keras antara sayang bersedekah rumah dan merasa berhutang itulah Pak Sutar melihat kucing di atap rumahnya, lalu ke balkon, lalu melompat ke kaca nako yang terbuka. Pak Sutar tersenyum. Kucing itu peliharaannya. Pak Sutar sendiri yang membelinya setahun yang lalu. Tadinya kado buat ulang tahun anaknya, ternyata anak remajanya itu hanya senang beberapa minggu kepada kucing itu. Seterusnya dibawa ke rumah tempat istirahat itu, diurus oleh Mang Engkos. Pak Sutar lalu memanggil penunggu rumahnya itu.
“Mang, kucing yang berbulu kelabu itu kucing kita?” tanya Pak Sutar.
“Iya, kucing yang dulu dibawa Bapak itu,” jawab Mang Engkos. “Sama saya sering dilepas, Pak. Kasihan tidak ada temannya.”
“Masukkan lagi ke kandang, Mang. Jangan dilepas lagi, ya!:  
Pak Sutar lalu memasang iklan di koran: Dijual rumah, murah! Karena embel-embel murahnya itu, hari itu dipasang iklan hari itu juga ada yang datang.
“Inginnya berapa, Pak, rumah ini?” tanya seorang calon pembeli setelah melihat-lihat sekeliling rumah.
“Rumah ini sebenarnya murah. Murah sekali. Bapak beruntung dan Bapak tidak akan percaya awalnya,” kata Pak Sutar. “Harganya hanya lima juta rupiah.”
“Lima juta rupiah?” Calon pembeli itu terkejut. Beberapa saat dia tidak mengedipkan penglihatannya, tidak percaya dengan pendengarannya.
“Iya, lima juta rupiah. Tapi yang membeli rumah ini, wajib membeli kucing itu,” kata Pak Sutar sambil menunjuk kandang kucing. “Bagaimana tertarik?”
Calon pembeli rumah tersenyum. Dia cepat menduga, sepertinya ada apa-apanya dengan harga kucing itu. Makanya dia bertanya begitu tenang, “Berapa harga kucingnya?”
“Harga kucing tidak bisa ditawar, harganya sembilan ratus juta rupiah.”
Calon pembeli tertawa. Dia mengira Pak Sutar bercanda. Tapi setelah beberapa kali Pak Sutar meyakinkan bahwa harganya harus seperti itu, calon pembeli itu setuju. Ya, karena setelah dijumlah, harga rumah dan kucing itu masih tetap lebih murah dibanding rumah-rumah lainnya di perumahan itu.
Besoknya transaksi jual-beli dilaksanakan di hadapan notaris. Pulang dari notaris, Pak Sutar mampir ke panti asukan, lalu sedekah lima juta rupiah, seharga rumahnya. Keluar dari panti asuhan Pak Sutar senyum-senyum. Pak Sutar merasa dirinya pintar. Kata hatinya, hanya manusia pilihan yang bisa berkelit dari situasi rumit. Meski di dalam hati, di dalam hatinya yang paling dalam, Pak Sutar merasa bodoh lebih dari sebelumnya.
Di saku celana Pak Sutar ada buku tabungan yang saldonya sembilan ratus juta rupiah, hasil menjual kucingnya. Waktu jari-jari tangannya memegang buku tabungan, Pak Sutar tersenyum. Dia merasa tetap kaya. Tabungan ini tidak mesti disedekahkaan karena hasil menjual kucing. Meski di dalam hatinya, di dalam hatinya yang paling dalam, Pak Sutar merasa sengsara lebih dari sebelumnya. ***

Pamulihan, 13 Mei 2017

BEBEGIG

Written By Keluarga Semilir on Kamis, 03 Agustus 2017 | 11.58

bebegig
Suara Ntb, 29-7-2017

Tidak banyak orang yang tahu lelaki berusia dua puluh tahun itu. Dia tinggal bersama neneknya di sebuah gubuk di ujung kampung Gulamping. Setiap hari dia pergi ke sawah seorang diri. Berangkat pukul tujuh pagi dan pulang setelah senja. Berjalannya tidak sempurna karena kakinya yang pengkor. Tangannya yang kanan selalu di depan dada karena kengkong. Punggungnya menggendong tas kumal berisi perbekalan; nasi bungkus kecil dan botol air.

RANGGON PANYAWANGAN

Written By Mang Yus on Selasa, 18 Juli 2017 | 20.13

carpon yus r. ismail

Tribun Jabar, 23-25 Mei 2017

Bada solat subuh di masjid téh henteu terus balik ka imah. Hayoh ngadon ngajanteng ngawaskeun saung ranggon luhureun perumahan. Enya ogé masih poék, katingali belegbeg saung mah. Kamari beurang ningali téh basa ngaliwat tas meuli pulsa di warung Ceu Imih. Masih weweg jeung tambah nyari da puguh tihang awi jeung bilikna dipérnis, enya ogé diadegkeunna 20 taun katukang. Meureun awi jeung kaina anu bobo geus sababaraha kali diayuman. Di hareupna ditulisan: SANGGAR SENI RANGGON PANYAWANGAN. Duka saha anu nambahanana, da baheula mah ngaranna cukup RANGGON PANYAWANGAN.
Disebut ranggon saenyana mah henteu matut, da puguh saung téh kolongna henteu pati jangkung. Ngan lantaran diadegkeunna di lahan luhureun perumahan, jadi ti handap mah asa luhur. Atuh Pa RW jeung Kang Dodo mupakat méré ngaran ka éta saung Ranggon Panyawangan. Puguh atuh lamun geus nyawang pasawahan, pakebonan, pakampungan, solokan tengah sawah, asa jararauh panineungan. Henteu kungsi aya anu protés ku ngaran Ranggon Panyawangan. Barina ogé keur naon ngamasalahkeun anu henteu perlu.
Dua puluh taun katukang basa mimiti diadegkeun, ranggon téh asal ngadeg jeung saayana lain bohong. Harita kuring kakara kelas 3 SMP. Lantaran barudak henteu boga tempat ulin matuh, Kang Dodo anu jadi Ketua Karang Taruna ngumaha lahan luhureun perumahan ka Pa RW. Ari pék ku urut dépéloper dihempékeun asal dipaké keur umum. Der wé diadegkeun ku saréréa. Barudak karang taruna marilu ngakutan awi ti sisi leuweung, awéwéna nyieun konsumsi. Bapa-bapa anu garawé atawa daragang, pasosoré jeung poé minggu mah marantuan. Awi mah ngabadeg di sisi leuweung, rék ngala sakumaha ogé dihempékkeun ku Pa Kuwu.
Henteu kungsi saminggu ranggon téh ngadeg. Poé minggu, bari sakalian kerja-bakti di sabudeureun perumahan, maké numpeng sagala. Unggal gang, aya 13 gang di perumahan téh, ibu-ibuna narumpeng. Pukul sapuluhan, tumpeng aya welasna ngajajar di tengah ranggon. Pa RW pidato, dituluykeun ku Ustad Abu Hasan ngadu’a, der wé balakécrakan. Puguh di jero tumpeng téh sagala aya. Daging hayam, endog, témpé, tahu, kumeli. Tapi ari anu paporit mah angger asin, sambel jeung jéngkol.
**

Aya Ranggon Panyawangan téh keur perumahan kuring mah hiji berkah. Ti saprak Ranggon Panyawangan ngadeg, sakabéh warga perumahan jadi boga tempat pikeun ngumpul. Urang gang kahiji nepi ka gang katiluwelas, jadi alakrab. Barudak sakola, baralik sakola téh ukur saelol ka imahna mah, ukur neundeun tas jeung dahar, tuluyna mah ulin di Ranggon Panyawangan. Sakapeung aya anu henteu dahar-dahar acan, da henteu kungsi lila indungna gogorowokan ngagentraan nitah dahar jeung ganti baju. Sagala kaulinan diayakeun di buruan ranggon da enya lega. Ucing-ucingan, pris-prisan, ngadu kaléci, sapintrong, diulinkeun kumaha raména. Lamun aya indung anu gégéréwékan nyaram arulin di buruan da puguh panas, arulinna téh terus di jero ranggon. Beklen, congklak, dam-daman, catur, atawa lamun manggih kartu garapléh nurutan kolot.
Adan asar barudak bubar da arék ngaji di masjid. Kuruncul barudak rumaja, awéwé lalaki, ngariung sagala diobrolkeun. Tuluyna mah gigitaran bari nyanyi asal ngahaleuang. Lagu anu biasana dihaleuangkeun lamun henteu lagu heubeul anu babari konci gripna, lagu Sunda atawa dangdut. Sakapeung sok aya anu nyanyi lagu-lagu Barat, tapi sok eureun sorangan sabada disurakan da puguh kekecapanna ogé henteu matut, Inggris pérsi Leuweung Tiis téa.
Rumaja anu gigitaran mah terus nyambung siligenti nepi ka peuting. Minangka reureuhna téh kapotong magrib. Aya anu terus ka masjid ngadangu adan magrib téh, aya ogé anu balik heula ngadon dahar. Tapi ku sakitu ogé kolot-kolot téh ngarasa reugreug. Henteu hariwang barudakna kalibet narkoba, pésta oplosan, atawa tawuran. Ongkoh deui Kang Dodo salaku Ketua Karang Taruna, rada leket kana solatna. Enya ogé kitu, barudak awéwé anu milu ngariung di Ranggon Panyawangan jam salapan ogé biasana disarusulan ku adina atawa ku indungna.
Lamun malem minggu, ibu-ibu jeung bapa-bapa karaokéan, tangtu bari ngaliwet. Peuting séjénna aya ogé jadwal cianjuran jeung tembang. Barudak rumaja diajar nyalung sabada aya anu nyumbang calung.
**

Entong ngabayangkeun perumahan Leuweung Tiis Endah siga perumahan di Jakarta atawa Bandung atawa di kota kabupatén. Ieu mah perumahan gagal sisi Leuweung Tiis. Barudak rumaja mah biasana nyarebut LTE, ngarah gaya cenah, singketan tina Leuweung Tiis Endah.
Tadina LTE diadegkeun pikeun pagawé pabrik stik. Tapi saacan LTE anggeus, pabrik stikna bangkrut. Atuh imah di LTE téh karosong. Depeloperna henteu nuluykeun, da moal pipayueun cenah perumahan sisi leuweung mah. Taun 1980 mimiti ngadegna LTE téh, pangeusina bisa diitung ku ramo, cenah sagang téh ukur saurang dua urang. Taun 2000-an mah kaasup gegek, aya tilu ratus imahna anu kaeusi. Puguh harga imahna murah pisan, ukur 4-5 juta. Anu garawé di Bandung atawa Cicaléngka, kapaksa unjam-injeum da harga imah masih murah téa. Ayeuna maké aya anu nawarkeun 30-40 juta. Anu ngeusian waé imah kosong aya nepi ka ayeuna. Imah kosong anu henteu puguh nu bogana da henteu embol-embol, terusna dikontrakeun lima ratus rébu nepi ka sajuta sataunna ku tatanggana.
Lamun hayang ningali masarakat miskin di Indonésia, perumahan LTE bisa jadi contona. Umumna imah témbok batako henteu dipelur, hateup asbés henteu dilalangitan, kitu ti mimiti dieusianana ogé. Umumna kolot-kolot téh garawéna dagang ngampar, ngojég, tukang bas jeung ladénna, séles leuleutikan, gawé di bandar hui atawa di kebon, enya ogé aya saurang dua uang anu jadi guru atawa pns séjénna.
Unggal waktu aya hiji dua imah anu dirarapih, malah diréhab jadi agréng. Umumna imah pns anu gajihna terus naék, imahna ogé maju ka weweg. Anu kaplingna ditambahan jadi dua, malah jadi opat, ogé aya. Bumi Pa Lukman apan opat kapling, jadi siga karaton di antara imah-imah butut sabudeureunana. Imah séjénna aya anu terus diloténgkeun, dijieun garasina, jeung dipager jangkung. Enya ogé henteu karasa sirik atawa nudingna, lamun aya tamu heug tunyu-tanya imah-imah agréng téa jawabanna siga kieu: “Anu éta mah bogana pagawé pajak, anu itu mah pns-na di tempat baseuh, ari anu ieu pajabat di dinas kabupaten.”
**

Ari kuring, ti leuleutik ulin téh ampir unggal poé. Batur ulin jeung saha waé akur. Tapi sanggeus rumaja, sanggeus mindeng idek liher di Ranggon Panyawangan, anu disebut dalit téh jeung Jani, Hasan, Rido, Iwan, Putra. Unggal poé babarengan, dahar sapiring nginum sagelas téh lain babasan.
Enya ogé kitu, kakara yakin ayeuna, horéng sadalit-dalitna jeung sobat geuning henteu bisa neuleuman haté anu pangjerona mah. Nepi ka sakola SMK, Iwan mah di SMUN, hirup téh karasa resepna. Satamat SMK mimiti aya beungbeurat unggal ngariung di Ranggon Panyawangan téh. Gigitaran, ceuceuleuweungan, ngaliwet atawa meuleum sampeu, sakapeung eureun sakedapan. Aya anu dipikirkeun ku uteuk séwang-séwangan. Kuring sorangan masih kapikiran kekecapan Bapa, “Geus lima bulan lulus sakola téh. Nuluykeun sakola mah pimanaeun, néangan gawé atuh kaituh.”
Ngariung téh saukur jeung Rido, Jani, Putra katut Iwan. Hasan mah ti tilu bulan katukang gawé di Bandung. Ustad Abu Hasan ngajujurung ngalamar ka kantor-kantor. “Maneh mah kudu geus macakal. Adi maneh téh aya genep urang deui.  Jung, sugan waé aya milikna. Didu’akeun ku Abu,” saurna.
Kuring anu nganteur unggal isuk indit ka Bandung. Maké motor si kukut, bébék taun tujuh puluhan. Ider-ideran ngurilingan Bandung, unggal isuk nyorétan lowongan kerja dina koran, alhamdulillah aya anu narima jadi satpam. Enya ogé ari tempat gawéna mah henteu cop jeung haté, tempat bilyar apan sok kabéjakeun ogé tempat transaksi anu teu paruguh.
Sabulan ti harita Hasan nélépon, ménta kuring datang deui ka Bandung, ka tempat indekosna. Lantaran sorana aya ku miharep, henteu aya sari heureuy, kuring datang. “Tempat bilyar téh gening leuwih parah ti anu disangka. Di tukangeunana téh horéng kantor judi togel. Gawé téh jadi guligah. Solat waé henteu bisa, da puguh kalah diseungseurikeun ku kabéh babaturan. Leuheung diseungseurikeun, apan unggal rék solat téh dihalang-halang,” ceuk Hasan ngarahuh. Kuring henteu bisa kukumaha. Ras inget ka Ustad Abu Hasan, apan sakitu panatikna. Apan ka anu tahlil atawa muludan ogé nyebutna bid’ah da ngaaya-ayakeun anu euweuh.
Nasib Hasan téh terusna mah jadi rusiah kuring sabatur-batur. Basa katitipan duit ti Hasan pikeun kulawargana, kuring mah mikeunna ogé ka Ustad Abu Hasan bari tungkul. Tuluy ngaléos gagancangan. Teu karasa di juru panon aya anu ngalémbéréh.
Iwan anu terusna indit jauh bari mangtaun-taun cenah henteu balik. Iwan téh saenyana kuliah di Maranatha di Bandung. Tapi duka kumaha dongéngna, ujug-ujug ménta dianteur ka Ciamis. Horéng ka Ciamisna téh ngadon masantrén. Derekdek ngadongéngkeun, cenah geus lila hayang baruntak ka bapana téh. Ti leuleutik bapana anu tutunjuk kudu sakola ka dieu, kursus itu, nepi ka kuliah di Maranatha fakultas Ekonomi.
“Bapa mah anu kapikiranana ngan duit jeung duit. Sagalana kudu jadi duit. Urusan ahérat mah teu ngelemeng saeutik-eutik acan. Bapa teu apaleun beuki gedé mah barudakna ogé henteu sukaeun direjekian cara kitu. Enya, ti mana atuh Bapa bisa ngadegkeun imah agréng siga kitu, acan imah téh apan henteu hiji. Di Jogja tempat adi kuliah, apan meuli imah, itung-itung inpestasi cenah. Di Bandung mah puguh ti uing leutik ogé boga. Acan kebon jeung sawah aya 20 héktarna. Pimanaeun bisa sakitu lamun tina gajih wungkul. Uing téh hayang tobat, hayang ngaleungitkeun rejeki haram anu geus asup kana badan,” ceuk Iwan dua poé sanggeus cicing di pasantrén.
Bapana Iwan téh pejabat di instansi kabupatén anu ngadegkeun imah di opat kapling téa. Basa kuring balik nganteur Iwan, bapana nyarékan laklak dasar, atuh ditambahan kuring ogé dicarékan ku Amih. Lima taun ti harita, sanggeus bapana Iwan pangsiun, tuluyna geringan. Basa kuring kaparengan balik, tuluy ngalongok anjeunna, mani nangis ngadongéngkeun Iwan da cenah embung balik waé. Kuring nyusul ka Ciamis bari mapatahan, kakara Iwan daék ngalongok kulawargana.
Henteu lila sanggeus Iwan masantrén, Rido ogé indit ka Mataram, nuturkeun lanceukna anu geus taunan gawé di ditu. Padahal mah Rido geus gawé di laboratorium di Bandung. Masalahna, basa ngalamar Néng Wiwin, kolotna bet henteu satuju. “Abah daék ngalamar mojang mana waé, asal ulah ka dinya,” saur bapana Rido.
Bapa Rido téh kaasup ustad ogé, solatna biasa di madrasah anu perenahna di tungtung LTE, gang anu katiluwelas. Ari Umina Néng Wiwin, apan ngajar Iqro di masjid. Jadi sacara paham, Umi jeung Abina Néng Wiwin saperti Ustad Abu Hasan anu ngabid’ahkeun tahlil. Ari Ustad Najib, bapana Rido, apan anu osok mingpin tahlil. Enya sok kadangu aya pacogrégan di antara kolot ngeunaan tahlil jeung sajabana téh. Tapi nepi ka kasusna Rido, barudak mah henteu nganggap serieus.
Ari Rido jeung Néng Wiwin, bisa disebut aya haté kadua leutik ti SMP kénéh. Mimiti mah lamun aya Néng Wiwin ka Ranggon Panyawangan, kakara katémbong kurudungna ogé, anu gigitaran bari dangdutan téh sok langsung ngarobah laguna jadi kasidahan. Néng Wiwin saukur imut ngadanguna. Ari Néng Wiwin, ceuk sasaha ogé hésé nimukeun deui mojang anu geulis bawa ngajadi, henteu resep dipulas-polés tapi ku cai wudu ogé meureun leuwih cahayaan,  henteu weléh unggeuk, soméah, dipikaresep ku kolot-budak komo ku bujang sapantaranana mah. Sabada lulus ti pasantrén di Tanjungkerta, Sumedang, Néng Wiwin nuluykeun ka SMK bari ngajar ngaji ngabaturan umina di masjid.
Iwan ogé kungsi pok ka kuring, resep cenah ka Néng Wiwin. Tapi geus kapiheulaan Rido, jadi kajeun ngéléhan. Kuring ogé anu sok diajak Rido lamun hayang panggih jeung Néng Wiwin. Tapi ari geus panggih, lain ngobrol duaan. Ngobrolna téh kudu réaan di Ranggon Panyawangan. Lamun nganteurkeun balik ka bumi Néng Wiwin, leumpangna téh dijarakan dua métér.
Matak basa diulahkeun téh ku kolotna, Rido tuluy pundung. Kuring nganteur nepi ka stasion Bandung, da Rido ka Surabaya heula tumpak karéta api. Sataun ti harita Néng Wiwin dilamar ku ustad ti Garut. Ustad beunghar da cenah aktipis partéy bari jadi anggota DPRD.
Sababaraha bulan ti harita, Jani jeung Putra milu gawé ka Batam, ngadon masang tower. Tapi tuluyna henteu baralik deui, kalah ngadon dagang beuleum hui Cilembu di Batam. Kuring mah gawé di Malang, Jawa Timur, di kebon apel. Kabeneran dunungan téh leket pisan ibadahna. Lamun puasa téh loba karyawan anu diidinan mudik saacan munggah.
**

Diuk di Ranggon Panyawangan bari ngarumbaykeun suku, siga baheula keur rumaja, bari nyawang tingarudatna warna beureum di langit, asa jararauh panineungan. Waktu téh henteu karasa robahna. Keur di Malang mah tilu poé katukang asa henteu sakara-kara, keur di jalan dina karéta api ogé kitu, tapi sabada diuk di Ranggon Panyawangan asa aya anu leungit tina diri.
Ngarénjag téh basa geus carangcang tihang. Ti jalan aya anu ngagentraan. “Asép éta téh?” cenah. Henteu pati jelas pameunteu jeung dedeganana mah, tapi halimpuna mah asa wawuh. Mani ngaranjug barang turun tuluy nyampeurkeun. Néng Wiwin imut mani matak ngalenyap enya ogé masih reyem-reyem.
“Asép geuning tos di dieu?”
“Muhun, kaleresan kénging libur salami Romadon. Néng Wiwin gening tos mudik?”
“Henteu mudik, da tos lami ogé di dieu.”
“Oh, sadayana sareng si Akangna di dieu?”
“Ti kapungkur ogé da atosan. Mung sataun nikah téh. Abdi téh gening saukur ditikah siri, horéng didamelkeun anu katilu.”
“Terasna ka urang mana atuh?”
“Teu acan dugi ka ayeuna ogé,” cenah bari tungkul, terus amitan.
Haté ngalenyap. Anu leungit dina haté téh beuki nambahan. Apan ngan kuring di antara sobat-sobat anu nepi ka umur 35 taun masih ngabujang téh, da puguh dina haté téh saukur aya Néng Wiwin.
**
  

Pamulihan, 17 Mei 2017

PILIHAN

KEMBANG BAKUNG

“Menggigil tapi badannya panas, Bu,” kata Mang Karta menceritakan keadaan anaknya, Siti. “Sejak dua hari yang lalu panasnya, Bu.” “Ke...

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni