Jejak Kata :

MABUK BERSAMA BULAN

Written By Mang Yus on Jumat, 21 Oktober 2016 | 08.24


Puisi Yus R. Ismail

Koran Tempo, 6 Januari 2002


kembali jiwaku bergetar saat cahaya bulan
mengucurkan airmata ke cangkir-cangkir pengakuan
yang terbuat dari sisa-sisa perjalananku.
aku menenggaknya tanpa henti sampai kepala triping
bibir berzikir dan tanganku berubah jadi sayap kupu-kupu
yang selalu kutemui di taman-taman tempat aku mabuk.

aku terbang bersama ribuan kupu-kupu menembus langit
menghitung bintang. tapi mataku selalu pedih oleh ribuan cahaya
yang mengalir menjadi suangi-sungai. airmataku yang semakin deras
dan mengkristal kupahat menjadi perahu tempat ikan-ikan

menumpang menuju muara-muara Abadi.


KABUT SEPANJANG JALAN

akhirnya kita menyadari bahwa kita adalah angin
yang berjalan tanpa mengenal perhentian
karena perjalanan adalah kesunyian.
akhirnya kita menyadari bahwa kabut tak pernah lenyap
dengan sempurna. angin bertiup dari utara
kabut ke selatan ke timur ke barat.
akhirnya kita menyadari bahwa kita adalah kabut
maka matahari tak pernah sempurna kita rindukan
karena kesenyapan matahari-berkabut

menjadi lanskap tersendiri di kedalaman kesadaran 

SYAIR MENANGKAP NYAMUK

Written By Mang Yus on Kamis, 20 Oktober 2016 | 09.41

Puisi Yus R. Ismail

Koran Tempo, 6 Januari 2002

lalu diciptakan nyamuk sebagai isyarat
bahwa hidup adalah misteri
sepanjang usia kita menangkapnya untuk perhiasan
tapi nyamuk terbang dari kota ke desa dari hutan ke padang

diam-diam kita telah membikin genangan
memelihara jentik-jentik, melepas triliunan nyamuk
dari 99 nama, tapi kita selalu luput menangkap satu

maka sebagai pemburu kita terseok-seok
kelelahan memikul tombak dan golok.
di dataran tinggi tempat kita melepas lelah
begitu takjub kita merasakan hembusan rindu
tapi kesadaran telah jadi batu


TERBANG BERSAMA LALAT

dari sampah ke sampah kita terbang
menghitung bunga-bunga yang bermekaran
dari kekotorannya. tapi mataku
yang diharapkan jadi pupuk telah buta
aku tak bisa jadi dokter yang paham
bahwa penyakit dan lalat diciptakan dari cinta juta

dan angin begitu setia menerbangkan kebodohanku
dari waktu ke waktu, sampai segala perih dan airmata
yang kurajut jadi jala selalu bocor
untuk menangkap satu kepak isyaratMu


RAHASIA TELAGA

selain dari kenangan, kita  menemukan rahasia cinta
di telaga. sungguh, daun yang bergetar tertiup angina
hanya milik kedalaman hati. kata-kata telah mati
meski kita hanya punya kata-kata untuk menerjemahkan
segala kesenyapan yang dibawa angin

segala kerahasiaan ini telah kuserahkan kepadaNya
pemilik sekolah tempat kita belajar tertawa dan menangis
karena itu, seandainya sunyi adalah tasbih
akulah cekaman airmata zikir butir-butirnya.



SENDIRI LAGI 1

Written By Mang Yus on Rabu, 19 Oktober 2016 | 16.20

Puisu Yus R. Ismail
Pikiran Rakyat, 31 Januari1999

Bersama angin aku menjelajahi
kota dan desa
dan gunung dan laut.
Tapi aku lupa bahasa hembusan.
“Kamu tanpa perasaan!” kata angin.
Aku terkejut.
Barangkali aku telah menelantarkannya
“Kamu lebih suka kepada sunyi!” kata semilir.
Aku sedih, karena di gunung pun
pohon-pohon mencibir.
Menyusuri pantai aku berharap
mendapatkan biru
seperti dulu. Tapi badai
dan kapal-kapal begitu asing.

Sendiri lagi
Ditinggal sahabat
Begitu lelah

April 1998


SENDIRI LAGI 2

Bersama siapa lagi kaki melangkah
kalau jejak telah pergi.
Peta-peta perjalanan begitu asing.
Air dan api yang bermain
petak-umpet berlarian
ketika aku datang. Mereka bergabung
bersama tanah, komputer dan sungai
di halaman rumah hujan.
Hujan mengusirku dengan bazooka
ketika aku berteduh.
“Kamu bukan lagi bagian dari kami!” katanya.

Sendiri lagi. Tapi sendiri pun
barangkali tidak
karena diri telah kepincut
televisi yang manis dan seksi.

April 1998



SENDIRI LAGI 3

Barangkali aku berhianat
saat bersama angin memahat awan
aku lapar dan memakan mereka
Apa salah aku lapar?
Apa lapar punya kesalahan?


Bandung, April 1999 

RANTAI MAKANAN

Puisi Yus R. Ismail
Pikiran Rakyat, 31 Januari 1999

Lumut dimakan udang
tapi udang selalu lapar.
Udang dimakan ikan
tapi ikan selalu lapar.
Ikan dimakan kucing
tapi kucing selalu lapar.
Kucing dimakan saya
tapi saya selalu lapar.
Saya dimakan sunyi.
Semuanya dimakan sunyi.
Kata preesiden, kalau masih lapar
makan saja Negara.
Tapi saya selalu lapar
meski telah menyedot lautan airmata
mengunyah peta-peta dan bola dunia.
saya tak yakin akan kenyang
meski tata surya telah dimasak koki
untuk sarpan pagi.

Anak-anak gelandangan menertawakan saya
sambil bernyanyi riang:
“Kamu tak tahu, kalaparan
adalah kekenyangan kita.
Kelaparan dimakan kekenyangan
tapi kekenyangan selalu lapar….

Bandung, April 1998


DRAMATIS

Dari apa kau buat airmata
sehingga kaki menyeret lelah
begitu kekal?
Bukankah matahari mengajarkan
bahwa awal dan akhir tidak ada batasnya?
Bukankah bunga
memberi keindahan sekali berarti?
Ah, kaukah itu yang berjalan
tanpa tujuan
yang menangkap angin sebagai sunyi
Di mana muara airmata
saat hidup begitu mengharukan?

Bandung, April 1998


SURAT

Kepada yang terhormat sunyi
Apa kabar tahajud?
Begitu lama kita tak jumpa.
Sujudku
telah dikemas kalengan.
Aku berharap
sekali waktu kita menikmati bersama.
Tapi aku ragu karena rinduku
dicuri nyanyian
sehingga milikku
yang paling berharga itu
melayang-layang dari cd ke mikropun
ke kaset-kaset

Kepada yang terhormat sedih
Ajari aku bagaimana menyusun airmata
menjadi lautan sajadah
menjadi kenikmatan abadi itu

Bandung, April 1998


SEKOLAH

Di kota dan desa aku sekolah
Angin + laut = sunyi
Bu guru marah. Dari matanya
keluar mobil dan gedung.
“Cium saya!” perintahnya
Aku tak mau karena kata ibu
itu tak pantas.
Teman-temanku berebut menerkam
bu guru. Suaranya begitu ngeri
tapi kadang indah.
“Kamu tidak tertarik?”
kata bu guru yang melayang
mengitari langit, melahirkan televise,
listrik, kulkas, bioskop, hotel, dan apa saja.
Dadaku berdegup kencang. Ingin aku mencium
bibirnya yang sensual.
Tapi aku ingat Ibu,
Ibu, di mana Ibu? Pergi ke mana Ibu?


Bandung, April 1998 

JAMBU AIR PAK BASIR

Written By Mang Yus on Senin, 17 Oktober 2016 | 07.27

cerpen anak yosep rustandi
Solo Pos, 16 Oktober 2016

Rakey dan Doni melangkah lesu. Mereka sedang menyusuri jalan raya yang panas. Matahari sedang di puncak. Mereka pulang dari lapangan sepak bola. Sejak pagi mereka bermain di sana, karena hari ini adalah hari Minggu.
Bagaimanapun, sepanjang jalan di kompleks kita lebih nyaman, banyak pepohonannya,” kata Rakey. Doni mengangguk
Baru beberapa meter memasuki gerbang kompleks perumahan, Rakey dan Doni mendengar orang memanggil mereka. Di rumah ujung sebelah kanan, seorang bapak melambaikan tangan. Rakey dan Doni saling memandang, kemudian mereka menghampiri bapak itu.
“Kalian pasti ingin jambu air. Bapak punya pohonnya yang sedang berbuah lebat. Ayo, masuk karena pohonnya di halaman samping,” kata bapak itu.
Rakey dan Doni memasuki halaman rumah.  Rumahnya sama saja bentuk dan besarnya dengan rumah-rumah lainnya. Tapi karena letaknya di ujung jadi ada tanah lebih. Dan tentu yang membedakan dengan rumah-rumah lainnya, halaman rumah ini penuh dengan pepohonan. Ada pohon mangga, sirsak, nangka, jambu monyet, srikaya, dan yang sedang berbuah lebat adalah pohon jambu air.
Bapak itu mengambil baskom berisi penuh jambu air. Galah bambu untuk memetik jambu air masih tersandar di pohon. Sebagian buah jambu air berserakan di tanah.
“Bapak sudah petik sebagian. Silakan cicipi, kalian pasti kehausan,” kata bapak itu sambil menyimpan baskom di teras. Rakey dan Doni menelan ludah kering melihatnya. Mereka kemudian duduk di teras sambil makan jambu air. Wah, manis dan segarnya. Wajah Rakey dan Doni langung berseri.
“Kalian pasti bukan anak dari blok depan kompleks, soalnya Bapak jarang melihat kalian. Eh, siapa nama kalian?” tanya bapak itu lagi.
Rakey dan Doni hampir tersedak. Kemudian mereka menyebutkan nama masing-masing. Rakey bercerita, rumah mereka di kompleks blok paling belakang. Kalau mau ke sekolah kadang melewati gerbang depan kadang melewati jalan alternatif yang lebih dekat tapi mesti melewati persawahan.
Bapak itu namanya Basir Surya Sumantri. Tapi cukup dipanggil Pak Basir saja. Katanya, usia 9  tahun ketika keluarganya menempati rumah itu. Sekarang usia Pak Basir 46 tahun. Hobinya menanam pepohonan. Makanya sekeliling rumahnya penuh dengan pepohonan.  Saat matahari menyengat seperti sekarang, di rumah Pak Basir tidak terasa panas.
“Kalian harus tahu, pohon jambu air ini Bapak tanam ketika usia sepuluh tahun,” kata Pak Basir. Rakey dan Doni berdecak kagum. “Ya, seusia kalian sekaranglah.”
“Kok bisa-bisanya sejak kecil sudah menanam pohon, Pak?” tanya Doni penasaran.
“Pohon jambu air ini hadiah ulang tahun dari ayah Bapak. Setiap tahun bapak mendapatkan hadiah ulang tahun berupa pohon. Pohon mangga yang di depan itu, yang tinggi sekali, itu hadiah ulang tahun yang ke-11. Kalian pasti tahu pohon rambutan yang di dekat taman kompleks, itu Bapak yang menanam,” cerita Pak Basir.
“Iya tahu Pak, kan kalau sedang musim, Doni suka memetiknya juga,” kata Rakey sambil tertawa. Doni cemberut.
Pohon rambutan itu hadiah ulang tahun yang ke-12,” kenang Pak Basir. Sejak sebelum sekolah Bapak suka diajak ayah menanam pohon di tempat-tempat yang gersang. Dulu di sekitar kompleks ini banyak tanah gersang. Bapak menanamnya dengan berbagai pohon. Warga membantunya dengan menyediakan berbagai benih. Sekarang kalau berjalan bisa berteduh. Kalau musim berbuah, semua warga kebagian.
Sepanjang jalan di kompleks itu memang banyak pepohonan. Ada sirsak, mangga, sawo, rambutan, lengkeng, dan entah pohon apa lagi. Kompleks mereka itu malah pernah mendapat penghargaan dari walikota sebagai kompleks terhijau. Rakey dan Doni baru tahu kalau pepohonan itu yang menanamnya adalah Pak Basir.
“Menanam pohon itu begitu indah. Ada perasaan yang sulit diceritakan saat melihat pohon itu semakin tinggi, semakin besar, semakin kokoh. Apalagi saat ada orang berteduh atau anak-anak memetik buahnya,” kata Pak Basir dengan tatapan menerawang. “Ah, kalau sudah kenyang, kalian boleh bawa pulang sisanya. Kalian bolah ajak teman-teman memetik buah jambu air, tuh di pohon masih banyak.”
Rakey dan Doni pulang dengan wajah berseri. Dan tentu dengan perasaan baru. Perasaan menyesal mengingat mereka pernah mematah-matahkan ranting pohon yang masih kecil. ***

Puisi Pikiran Rakyat: DUNIA PEDAGANG

Written By Mang Yus on Minggu, 16 Oktober 2016 | 12.00

Puisi Yus R. Ismail

Pikiran Rakyat, 10 Oktober 1999

Lim siu berdagang ke seluruh dunia,
sepanjang usia, menawarkan segala.
Memang semakin laris tapi dagangannya tak pernah habis
“Masih ada kantor ada diskotik ada swalayan
ada bayi ada segala yang bisa dijual,” katanya.
Begitulah Lim, si pedagang yang tak punya apa-apa,
tak bisa merasakan angin berhembus matahari bersinar
laut berombak, karena semuanya sudah dilelang.
Lim selalu merasa kaya padahal tak punya apa-apa.
Sepanjang jalan, sepanjang usia, Lim menawarkan bumi
menawarkan air menawarkan hati.
“Masih ada lembaga HAM, partai politik,
LSM, kejaksaan, senjata gelap, ekstasi,
stok baru!” teriak Lim.
Kita tahu, yang ditawarkan Lim hanya rongsokan
hujan tanpa gigil, burung tanpa kicau,
bar tanpa minuman, badan tanpa jiwa.

Kita memang pernah menjadi pedagang
yang menjual segala tanpa membeli.

1999, Bandung


SEMINAR TENTANG NEGARA

“Organisasikan kejahatan,” kata sejarah
Maka aku belajar membunuh dan mencuri
dengan perasaan kebenaran dan keharuan
Tapi bank, hutan yang ditebang, bumi yang digali
hanya cukup untuk sarapan pagi.
Perutku terus keroncongan meminta isi.
“Kekenyangan adalah kematian,” kata seniorku.
Sebagai pengelola negara, aku belajar jadi multipora
yang melihat apapun tak lebih dari mangsa.

1999, Jakarta



DURI

Duri, namun duri, selalu menghalangi

Burung hantu bernyanyi sambil memandang bulan
dengan mata berkaca. “Ah, burung hantu tak sadar
padahal dia bisa melihat malam,” kata ular
yang melata menyusuri hari dengan keceriaan matahari pagi
Baginya duri seperti suara anak mengaji.
Waktu itu bintang sedang menangis karena sinarnya dicuri.
“Ah, bintang tak tahu bahwa setiap jiwa punya cahaya,”
kata kunang-kunang yang terbang menerobos kegelapan
seperti air yang setia mengalir ke lautan hati.

Di tempat lain, sebuah buku puisi memandang kisah lama
sambil mengisap ganja. Dia gelisah. “Apa memang ada
duri seperti nyanyi sunyi dan sakit seperti anak mengaji?”

1999, Bandung


PILIHAN

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni