Jejak Kata :

Puisi Pikiran Rakyat: MENCURI BULAN

Written By Mang Yus on Sabtu, 08 Oktober 2016 | 12.22

Puisi Yus R, Ismail

Pikiran Rakyat, 12 Mei 1998

Suatu malam, saat orang-orang tidur lelap,
saya mencuri bulan dan menyimpannya di kamar.
Saya memandanginya, melamuninya, menjadikannya
impian yang bercahaya. Saya mencari-cari kenikmatan
yang membentuk dunianya sendiri dari pendar-pendarnya.
Tapi yang saya temukan adalah ketidakpuasan.
Saya mesti mencari bulan lain dan mencurinya.
Maka saya mengikuti angin mengembara dari waktu ke waktu
sampai saya menyadari di langit siang matahari raib.
Saya pun mencari matahari sampai saya merasa tidak kehilangan.
Kata angin, orang-orang mencari bulan mencari bintang
mencari langit mencari biru mencari hutan mencari kota
mencari desa mencari bunga mencari lebah mencari madu
mencari-cari sampai merasa tidak kehilangan….

 

MENGASAH PISAU

Saya menemukan pisau tergeletak di pinggir jalan.
Saya mengasahnya dan menikmatinya sampai tubuh bergerak
sendiri. Tiba-tiba seluruh isi dunia begitu pantas
untuk diiris. Saya pun mengiris langit mengiris hutan mengiris angin.
Orang-orang menjerit dan menangis. Airmata mereka mengkristal
dan menjadi pisau di tangan mereka. Lalu semuanya berlomba
mengiris apa saja yang ditemui. Semuanya berdarah-darah.
Dari darah itulah kami, saya dan mereka, membangun gedung
membuat jalan membuat mobil membirukan laut menjahit baju
menulis puisi melukis potret mengelola negara….



Puisi Pikiran Rakyat: CATATAN BUAT HERMAWAN AKSAN

Puisi Yus R. Ismail

Pikiran Rakyat, tidak tercatat tahunnya....

Diam-diam kita dengar suara jengkrik
kita bayangkan putri-putri turun dari kayangan
melantunkan lagu tentang apa saja
Lalu kita menangkapnya dengan indra keenam
seperti airmata yang menetes dari mata seorang pencuri
saat anaknya mengaduh dan dokter menjauhinya

“Ada yang lain yang kita butuhkan, selain benda-benda,”
katamu menirukan gumaman malam yang kau tangkap
lewat borok para pengemis dan keluh para wts

Kita pun sepakat membuat gerimis
lewat do’a yang mekar dalam perenungan



CATATAN BUAT YUKIE H. RUSHDIE

Kita gantungkan pikiran di awan-awan
memandang tanah kelahiran, bumi yang hitam
karena kecemasan. Gerimis turun
bersama do’a yang kau gumamkan
dalam tik-tak mesin tik

“Lihat, dari apa budaya kita dibentuk?”
tanyamu. Dan aku mengedip-ngedipkan mata
kuikuti perjalananmu, terbang seperti gatotgaca
memandang cerita kita apa adanya, seperti hatiku
bergetar memandang senyum-senyum palsu


Puisi Pikiran Rakyat: MELUKIS PELANGI BERSAMA OPIN

Written By Mang Yus on Jumat, 07 Oktober 2016 | 10.54

Puisi Pikiran Rakyat
Pikiran Rakyat, 14 Februari 1997, masih puisi kenangan....


MELUKIS PELANGI BERSAMA OPIN

Hidup memang berwarna. Kita menandai setiap langkah
dengan goresan kuning hijau merah muda dan biru
Lalu menitipkannya kepada langit
tempat kita melukis dan menangis
Tidak ada lagi yang lebih indah selain kenangan, katamu
sambil menuliskan sebuah sajak tentang seorang gadis
bermata pelangi. Angin yang bermain di pucuk daun
mengingatkan kita akan bunga yang tumbuh
di taman atau di tempat sampah – sama saja

Sang petualang selalu membawa lukisannya ke mana ia pergi
setidaknya sebagai kejujuran, katamu, bahwa hidup
adalah kesenyapan dalam bentangan rahasia. Di dermaga
ribuan kapal berlabuh, mengabarkan bahwa setiap petualang
butuh rumah tempat melabuhkan segala resah dan lelah


1996 



HUJAN

Hujan menderas sampai ke hatiku
gelisahnya mengalir menjadi candu
bagi resah gang kumuh dan got mampet.
Suaranya begitu emosional memukul-mukul
gedung dan jalan dan berita-berita koran.
Kutahu hatimu telah kuyup dan menggigil
menahan kepala yang jadi layar televise

Di sekitarmu segala gerak dan suara
adalah penghianatan. Juga bunga yang mekar
setiap senja kau kira adalah mimpi
yang begitu sunyi. Ah, begitu menakutkan
ketika ketidakmampuan dimatangkan dendam

Di bawah hujan serombongan anak
menari meredam luka di hati.
Tapi di selatan badai menderu-deru
dan di tengah kota banjir menuntaskan resah

Rancakalong, Mei 1996

IDUL FITRI

Puisi Pikiran Rakyat
Puisi di Pikiran Rakyat, kalau tidak salah ini tahun 1995.


Seperti laut dengan birunya madu dengan manisnya
manusia tak bisa lepas dari hatinya.
Kesunyian kita sejak berabad-abad yang lalu
adalah airmata dari mataair keasingan.
Kesunyian kita adalah ketika hati
ditumbalkan untuk duniawi ketika luka
diwujudkan dengan tertawa ketika laut
dicuri birunya dan madu dibuang manisnya.

Karena itu, Tuhan, sejadahku memanjang
menjadi tikar bagi setiap alas tidur
Sujudku menjadi perih dan gelisah orang-orang
Pengakuanku yang paling dalam tidak hanya
menempel di masjid-masjid, tapi juga
menggigil di trotoar-trotoar dan gelisah
di diskotik dan terbungkam di forum-forum

Tuhan, di hari yang fitri ini, aku hanya bisa menangis
karena segala luka adalah penghianatan kami
seperti laut yang dicuri birunya dan madu
yang diasingkan manisnya

Rancakalong, Februari 1995


PILIHAN

KEMBANG BAKUNG

“Menggigil tapi badannya panas, Bu,” kata Mang Karta menceritakan keadaan anaknya, Siti. “Sejak dua hari yang lalu panasnya, Bu.” “Ke...

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni