Jejak Kata :

Cerpen Tribun Jabar: DEWI

Written By Mang Yus on Rabu, 31 Agustus 2016 | 09.23

Cerpen Tribun Jabar
Tribun Jabar, 20-12-2015

Saya berangkat berdua bersama Dewi ke kota kabupaten. Maksudnya mau mengikuti Pelatihan Kurikulum Bagi Guru Sasaran selama lima hari. “Lumayan, ada uang sakunya,” kata bapak Kepala Sekolah sambil tersenyum. Ya, saya dan Dewi adalah guru honor yang gaji sebulannya hanya dua ratus ribu rupiah. Makanya maklum saja kalau bapak Kepala Sekolah mengatakan ada uang saku sambil tersenyum.
Hari pertama, setelah istirahat dan makan, Dewi bilang mau ke toilet. Tapi sampai jam masuk pelatihan berikutnya Dewi tidak datang lagi. Tentu saja saya penasaran. Saya minta ijin ke toilet. Di toilet ternyata tidak ada siapa-siapa. Kemana Dewi?
Sambil mengikuti pelatihan saya terus bertanya kepada diri sendiri. Apakah Dewi pulang? Sejak awal dia selalu bilang malas sebenarnya mengikuti pelatihan ini. Tapi harus diakui, sayang juga melewatkan mendapatkan uang saku seratus ribu rupiah per hari dan seratus ribu rupiah pengganti ongkos. Seandainya Dewi pulang, tentu menjadi mubajir uang saku dan pengganti ongkos itu. Karena uang itu belum bisa diambil.
Atau Dewi jalan-jalan? Ada kemungkinan seperti itu. Kadang pikiran Dewi itu nakal. Pelatihan ini sebenarnya tidak dia perlukan. Dewi itu orang pintar. Membaca buku petunjuk pelaksanaan saja dia sudah mengerti apa yang mesti dilakukan dengan metode kurikulum terbaru itu. Jadi, daripada mendengarkan orang bicara apa yang sudah dimengertinya, dia lebih baik jalan-jalan. Tapi kenapa dia tidak memberitahu dan mengajak saya? Kemana dia jalan-jalan?
Karena sampai malam pun Dewi tidak pulang saya mulai cemas. Ibunya bicara khusus kepada saya sebelum kami berangkat.
“Tolong Dewi diperhatikan dan diperingati ya. Dewi itu kadang-kadang nakal,” kata ibunya Dewi.
Dengan begitu saja saya sudah merasa bertanggung jawab. Karenanya semalaman saya tidak bisa tidur. Pagi-pagi saya dibangunkan dengan suara-suara ribut di halaman. Kebetulan kamar tempat saya menginap paling depan, dekat dengan halaman depan. Saya melongokan kepala melalui jendela.
“Lima belas ribu saja dua bungkus ya, Bu. Saya beli empat bungkus deh,” kata seorang peserta pelatihan sambil menimang-nimang bungkusan ranginang.
“Saya juga mau beli empat bungkus buat oleh-oleh kalau boleh segitu, Bu,” kata yang lain.
Saya terpesona. Saat si ibu penjual oleh-oleh itu menengok kepada saya, beberapa jenak kami saling memandang. Wajah si ibu itu mirip Dewi. Begitu saya sadar saya langsung keluar kamar. Tapi si ibu penjual oleh-oleh itu sudah berlalu. Bakul bawaannya belum diikat selendang ketika dia berlari. Saya mengejarnya.
“Bu, Bu, mengapa berlari?” tanya saya sambil memotong langkahnya.
Si ibu terkejut.
“Mengapa Ibu berlari? Ibu tahu dimana Dewi?” tanya saya langsung ke tujuan.
Ibu itu menggeleng. “Tidak. Tidak tahu,” katanya gugup.
Tapi saya tahu, Ibu itu menyembunyikan sesuatu.
“Kalau begitu, saya ikut kepada Ibu. Saya harus menemukan Dewi.”
Ibu penjual ranginang itu tidak bisa menolak. Kami pun lalu berjalan beriringan. Rumahnya ternyata di pinggiran kota kabupaten. Melalui jalan desa yang berlubang-lubang, persawahan dan pinggiran sungai.
“Kenapa mesti mencari Dewi?” tanya si ibu.
“Karena saya bertanggung jawab kepada anak-anak...,” kata saya tidak melanjutkan kalimat. Ya, saya baru ingat, Dewi sangat dicintai murid-muridnya. Dewi itu pintar, menerangkan pelajaran gampang dimengerti murid-muridnya. Apa yang mesti saya bilang kepada anak-anak bila saya pulang tanpa Dewi?
“Bilang saja Dewi pergi bersama pacarnya.”
Saya terkejut. Saya jadi teringat pacar Dewi. Dewa namanya. Seorang lelaki yang tampan dan bertanggung jawab. Dia sangat mencintai Dewi. Seperti juga Dewi sangat mencintainya. Sebentar lagi mereka merencanakan menikah. Bagaimana jadinya percintaan mereka bila saya pulang tanpa Dewi?
“Takut ya?” tanya si ibu lagi.
“Oh, saya bukan takut. Tapi saya bertanggung jawab. Saya harus menemukan Dewi.”
“Tanggung jawab kepada orang lain? Ibunya Dewi, pacarnya, muridnya. Apa bila tidak ada mereka kamu tidak mencari Dewi?”
Saya termenung. Ya, harus diakui, saya tidak akan tenang bila saya tidak menemukan Dewi. Dewi adalah teman bermain sejak kecil. Kami tidak pernah berantem. Bila Dewi mempunyai makanan, katanya saya adalah yang paling diingatnya. Saya pun begitu. Bahkan saya berani bilang, barang apapun milik saya, setengahnya adalah milik Dewi.
Dewi itu pencinta lingkungan. Halaman rumahnya, depan dan belakang, penuh dengan bebungaan dan bibit tetumbuhan. Dewi akan menanam bibit tetumbuhan itu di tanah kosong mana pun. Saya adalah sahabatnya yang dengan senang hati menanam bibit tetumbuhan itu di pinggir jalan, bantaran sungai, atau pinggir hutan yang gersang. Harus diakui, saya bukan hanya mengantar, saya pun mendapatkan kepuasan yang indah setiap menanam bibit tetumbuhan itu. Tapi terus terang juga, saya tidak akan bisa melakukannya tanpa Dewi.
Dewi juga pencinta binatang. Mata Dewi akan berkaca-kaca bila melihat kucing liar yang kurus dan tubuhnya penuh luka atau anjing liar yang terduduk lemas kehausan dan kelaparan. Saya bisa membersihkan luka binatang dan mengeringkannya berkat Dewi. Jadi harus diakui, saya tidak bisa melakukannya tanpa Dewi.
Dewi adalah sosok yang bangga dengan hidup yang bersih. Berkali-kali hasil ujian pns ada kemungkinan Dewi itu masuk hitungan sebagai yang lulus. Sudah tiga orang yang mendatangi Dewi setelah ujian pns itu dilakukan. “Dewi itu sebenarnya bisa diterima, hasil ujiannya termasuk ke dalam kuota yang diterima,” kata orang itu. “Tapi kami tidak menjamin bila ada permainan di belakang. Jadi saya beritahukan, melalui jalan belakang, karena saya kasihan kepada Dewi, pertahankan posisinya dengan uang pengaturan. Hanya sekedarnya saja, untuk uang lelah yang mengatur. Dua puluh juta saja cukup, dibayarkan nanti setelah ada pengumuman. Dewi sendiri kan tahu, saat ini tarif jalan belakan untuk jadi pns sampai seratus juta rupiah.” Tapi Dewi tidak pernah mendengar penawaran seperti itu. Dia lebih memilih mengajar dengan uang honor dua ratus ribu rupiah saja. Sikap itulah yang membuat saya bangga kepadanya.
“Harus diakui, Dewi adalah segalanya bagi saya,” kata saya kepada ibu pedagang oleh-oleh itu. “Karenanya saya ikut ke sini. Karena saya tidak yakin Ibu tidak tahu apa-apa tentang Dewi. Bicaralah terus terang, Bu, ke mana Dewi pergi?”
Si ibu pedagang oleh-oleh itu balik terkejut. Beberapa jenak dia memandang saya.
“Ya, Dewi memang pernah ke sini. Tapi tidak lama. Hanya mampir. Selanjutnya dia pergi lagi.” Si ibu itu menarik napas panjang, seolah-olah berat mengatakannya. “Dia ingin mencari sesuatu yang selama ini dicarinya.”
“Apa yang dicarinya?” tanya saya cepat.
“Sebuah hiasan dinding. Hiasan degan huruf kaligrafi.”
Saya pun pergi ke kampung pengrajin kaligrafi. Sebuah perjalanan yang tidak mudah. Melalui tepi hutan, menyeberang sungai, menuruni jurang. Pantas saja si ibu penjual oleh-oleh itu menyarankan saya membawa nasi dan ikan sebagai bekal. Tapi saya menolaknya. Pikiran dan perasaan saya terlalu penuh oleh keinginan segera bertemu Dewi.
Di sebuah kampung saya terpesona dengan seorang wanita yang sedang menjemur kertas-kertas daur ulang. Rambutnya yang sepunggung teruray indah. Tatapan matanya sangat teduh. Senyumnya bersahabat. Itu semua milik Dewi. Dewi yang punya kelebihan seperti itu.
“Maaf numpang tanya,” kata saya. “Apa tahu dengan yang namanya Dewi?”
“Dewi yan rambutnya sepunggung dan selalu terurai indah?”
“Ya, betul sekali.”
“Dewi yang matanya begitu indah dihiasi dengan bulu-bulu mata yang lentik?”
“Ya, betul.”
“Dewi yang selalu tersenyum bersahabat?”
“Ya.”
“Kemarin dia memang ke sini. Dia memesan hiasan dinding kaligrafi. Tapi setelah selesai, dia pergi dan lupa membawa hiasan pesanannya.”
Saya memandang hiasan pesanannya. Pigura memanjang itu pinggirnya diukir indah. Warna emas peliturnya memantulkan cahaya gemerlap. Dan huruf kaligrafinya tertulis indah: “Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu”
Waktu itu juga saya pamitan. Perhiasan dinding bertuliskan huruf kaligrafi itu saya bawa. Saya harus secepatnya mencari Dewi. Dia akan senang bila tahu saya membawa pesanannya yang tertinggal. Tapi perjalanan pulang tidaklah mudah. Melalui jalan setapak di pinggir hutan, menyusuri pinggir sungai, menuruni jurang, jalan kampung berbatu yang seperti tanpa ujung. Saya baru ingat sudah beberapa hari selama mencari Dewi saya makan seadanya. Di pinggir sebuah desa saya terjatuh. Beberapa saat saya tidak ingat apa-apa.
Ketika siuman sudah banyak orang mengelilingi saya. Sayup-sayup saya mendengar seseorang berkata.
“Ini ada KTP-nya. Asalnya dari luar kota. Namanya Dewi....”
**

Pamulihan 8 Juli 2015


CARA MENGIRIM CERPEN KE TRIBUN JABAR

Cerpen Tribun Jabar

TRIBUN JABAR adalah sebuah harian yang terbit di Bandung. Tapi meski terbit di daerah, TRIBUN JABAR tidaklah bersifat kedaerahan. Banyak cerpenis dari pelosok seluruh Indonesia berlomba mengirimkan cerpennya ke TRIBUN JABAR. Makanya kalau kita perhatikan setiap minggunya, selalu bergiliran cerpenis dari berbagai daerah di Indonesia.
TRIBUN JABAR termasuk selektif dalam memilih cerpen. Mungkin karena redakturnya, Hermawan Aksan, adalah sastrawan yang sudah berpengalaman. Nah, bagaimana kalau kita ingin mengirim cerpen ke TRIBUN JABAR?
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah panjang halaman. Di TRIBUN JABAR halaman untuk cerpen berbagi dengan ulasan buku dan kolom dari wartawan (redaktur). Ruangan untuk cerpen sendiri sekitar 7.500 karakter (dengan spasi). Sekitar empat tahun lalu saat pertama saya mengirim cerpen ke TRIBUN JABAR, mendapat balasan seperti ini: Wah, belum dibaca pun ini cerpen tidak bisa dimuat, kepanjangan. Tentu saja, karena cerpen yang saya kirim waktu itu sekitar 12.000 karakter.

Syarat lainnya, buatlah cerpen sebagus mungkin (minimal menurut penulis masing-masing). Meski penulis hebat selalu berpendapat: cerpen bagus itu belum dituliskan; tapi kirimlah cerpen yang bagusnya nomor dua, tiga, dan seterusnya. Bagaimana standar cerpen yang bagus? Nah, bacalah sebanyak-banyaknya cerpen dan belajarlah secepat-cepatnya. Minimal pelajari cerpen-cerpen yang pernah dimuat TRIBUN JABAR. Googling... Googling... itu tahapan wajib untuk saat ini.
Bila sudah merasa ok, panjangnya sudah ok, tinggal kirim ke email : cerpen@tribunjabar.co.id , atau hermawan_aksan@yahoo.com. Empat tahun yang lalu cerpen saya dimuat TRIBUN JABAR sekitar tiga minggu setelah pengiriman. Setahun belakangan ini rata-rata dua bulan setelah pengiriman baru dimuat. Cerpen yang ditolak? Wah, jangan diceritain soal yang itu. Pasti setiap penulis punya daftar panjang naskah-naskahnya yang belum bisa dimuat atau ditolak itu. Jadi...
Saran saya, kirimlah terus, minimal satu cerpen setiap bulan. Pantau juga korannya, baca cerpen yang dimuatnya. Bila tidak memungkinkan, gabung di grup facebook Sastra Minggu atau Sastra Koran Majalah. Biasanya selalu ada informasi pemuatan cerpen di koran/majalah di grup itu. Kalau mau lihat langsung, buka saja: http://jabar.tribunnews.com. Hari Minggu sore, sekitar pukul 17.00 WIBB, biasanya TRIBUN JABAR sudah bisa dibaca e-pappernya.
Satu lagi informasi, mengenai honornya. TRIBUN JABAR termasuk media cetak terdepan dalam pembayaran honor. Seminggu setelah pemuatan, sekitar hari Selasa-Rabu, honor langsung ditransfer. Bila pertama kali cerpenmu dimuat, biasanya bagian keuangan akan menghubungi melalui telepon, meyakinkan nomor rekeningmu. Bila sudah berkali-kali dimuat, honor biasanya langsung ditransfer. Besarnya Rp 300.000.
Jadi, selamat mencoba....
Ini contoh cerpen-cerpen saya yang pernah dimuat TRIBUN JABAR:
1.       WASIAT MAMA
2.       SANGKURIANG
3.       ORANG GILA
4.       DONGENG BUNGA MAWAR
6.       AIRMATA AYAH
7.       SEBUTIR KURMA DI PIRING WALI
8.       LUKISAN
9.       DEWI

10.   SI PENGKOR
11. SIT-UNCUING

Cerpen Tribun Jabar: HARI PALING ANEH DALAM HIDUP SAYA

Written By Mang Yus on Selasa, 30 Agustus 2016 | 11.16

Tribun Jabar, 28-8-2016

Tidur saya tentu terganggu. Teriakan minta tolong itu melengking pluit kereta. Saya keluar dari gubuk. Di sekeliling, persawahan dan perkebunan, tidak ada yang mencurigakan. Orang-orang bekerja di sawah. Di sebelah kanan dua orang, di sebelah kiri empat orang, di depan lima orang, di belakang tiga orang.
“Toolllooongng...! Ammppuunn...! Toollooongng...!” teriak pluit kereta itu terdengar lagi.
Saya berlari ke arah kebun jagung. Teriakan itu semakin jelas. Saya terus berlari melewati kebun jagung, kebun singkong, dan akhirnya ke perkampungan.
“Toollooongng...! Ammppuunn...! Toolloongng...!” Suara melengking itu berasal dari seekor ular yang sedang dikepung dan dilempari anak-anak.
Tentu saja saya terpana. Orang-orang tidak ada yang terganggu dengan teriakan minta tolong itu. Pedagang bakso menunggu langganannya setelah memukul-mukul mangkoknya. Seorang ibu belanja sayuran di warung kecil. Petani mengangkut hasil panennya ke pinggir jalan. Seorang tukang kridit mengetuk rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya sejak pagi.
“Kamu itu mendengar, tapi tuli! Saya minta tolong dari tadi, badan sudah mau hancur, masih diam saja!” teriak ular yang kepayahan itu.
Saya segera menghampiri anak-anak dan membubarkannya. Setelah anak-anak pergi, saya berjongkok.
“Awalnya saya tidak tahu kamu yang meminta tolong,” kata saya sepelan angin semilir.
“Sudahlah, tolonglah saya sekarang. Saya haus dan badan penuh luka. Sakit dan perih,” rintih ular itu.
“Dari tadi saya mau nolong, tapi tidak tahu caranya, saya tidak mengenal dunia ular.”
“Bawa saya ke sungai di pinggir sawah itu dan segera celupkan ke air.”
Saya membawa ular belang itu dengan sebilah bambu bekas pagar rumah. Orang-orang hanya melirik, yang berpapasan hanya menghindar sedikit takut terkena ular yang sudah tidak berdaya itu. Rupanya ular belang sebesar ibu jari tidak menarik perhatian orang.
Setelah dicelupkan ke air, ular belang itu manarik napas panjang. Ekornya mulai bergerak. Lidah bercabangnya yang dari tadi menjulur sudah tenang di dalam mulutnya. “Saya kapok ke perkampungan manusia lagi,” keluhnya. “Manusia mudah main siksa siapapun yang tidak berkomunikasi dengannya.”
“Lagian, siapa yang suruh main ke perkampungan manusia?” bela saya. Ya, bagaimanapun saya ini kan manusia. Tidak bisa dong disalahkan begitu saja, apalagi hanya oleh seekor ular.
“Saya tidak main! Saya sedang mencari bayangan!” bentak ular itu.
“Bayangan? Maksudnya?”
“Ya, bayangan saya hilang waktu sedang berjemur di atas batu. Kata dongeng, bayangan saya itu dicuri manusia.”
Saya tertawa. “Lagian, siapa yang suruh percaya dengan dongeng?”
“Bangsa ular tidak punya sejarah! Adanya dongeng! Jadi dongeng adalah panduan!”
Saya mundur selangkah mendengar nada bentakan halilintar itu. Ular belang itu berdiri dan mendekati saya.
“Kamu mau apa? Mau matuk saya?” Saya mundur lagi selangkah. Ular itu pun maju lagi. “Saya tidak mencuri bayanganmu!”
“Kalian manusia sama saja, pembuat onar di bumi ini!”
Saat mundur selangkah lagi, kaki saya terantuk batu. Saya jatuh. Ular itu maju sampai dua puluh senti lagi di wajah saya. Tentu saya menyesal menolongnya. Saya memejamkan mata. Saya pasrah kalau dia.mematuk saya. Tapi yang terdengar suara gelisirnya. Waktu saya membuka mata, ular itu sudah masuk setengah badan ke dalam semak-semak.
Huh! Saya mengeluarkan napas berat.
**
Hari yang aneh. Tadi pagi saya pergi ke pabrik tempat saya bekerja. Langkah saya begitu berat. Saya tidak bawa apa-apa, tapi beban yang menindih dua puluh karung batu. Pabrik menuntut ini dan itu. Rumah kurang ini dan itu. Entah langkah ke berapa, beban itu mulai berkurang dan menghilang sama sekali. Tapi kaki saya melangkah ke arah yang tidak terkirakan sebelumnya.
Lima jam lebih saya berjalan tanpa berhenti. Memasuki keramaian kota, pinggir jalan tol, dan akhirnya ke perkampungan demi perkampungan. Akhirnya sampai ke sebuah gubuk di pinggir sawah. Saya beristirahat dan tertidur. Begitulah, tidur saya tidak lama karena terganggu teriakan ular belang kurang ajar itu.
Saya kembali ke arah gubuk mau meneruskan kembali tidur yang belum tuntas. Tapi baru tiga langkah ada yang memanggil saya.
“Hey hey hey...! Jangan marah jangan bingung. Kemarilah, kamu perlu mendengar kegembiraan saya.”
Saya berkeliling mencari yang bicara. Selembar daun flamboyan melambai-lambai. Sialan! Tadi ular, sekarang selembar daun? Sakit apa saya ini? Tapi kaki melangkah juga mendekati pohon flamboyan yang sedang berbunga itu.
“Jangan marah dong. Kalau kamu tidak tahu, jangan nebak-nebak semabarangan dong. Ular itu berterima kasih kepadamu. Kenapa kamu jengkel?” kata selembar daun itu.
“Ya iyalah, ular itu mengancam, lalu pergi begitu saja, tanpa mengatakan apapun. Brengsek itu namanya!”
“Begitulah cara ular berterima kasih.” Daun itu malah mengejek. “Ketahuan, sudah lama kamu tidak mendengar kami bicara. Lihat dong ke langit! Dunia ini luas! Bumi ini tidak hanya dihuni manusia!”
Saya memandang langit. Langit yang luas. Awan berarak. Matahari sembunyi. Kemana bulan? Kemana bintang? Angin terasa tapi tidak terlihat. Apa iya saya tidak memperhatikan mereka?
“Lihat dong, pohon padi merunduk diberati isi, pepohonan menari, air pergi mengembara, batu semedi dalam sunyi. Bicara dong dengan mereka. Dunia ini indah. Dunia ini mencerahkan.”
Saya tidak bicara sepatah pun.
“Dan saya sendiri, lihat begitu gembiranya saya, kamu tahu warna apa tubuh saya?”
“Kuning.”
“Haha... tubuh tua ini menyenangkan. Tinggal menunggu hempasan angin kencang, saya gugur ke bumi, menjadi busuk makanan cacing, dan tanah subur diserap akar menjadi tunas yang hijau yang segar yang muda yang....”
“Iya, kamu tidak usah bekerja, tidak usah mengumpulkan kekayaan!”
“Hoho... nyantai aja, Kawan. Kamu datang ke bumi ini tidak membawa apapun, kenapa pulang mesti membawa sesuatu? Kenapa mesti meninggalkan sesuatu? Cukup meninggalkan hati. Hati kita yang akan mewarnai dunia ini setelah kita pulang. Dan hati, seperti angin terasa tapi tidak terlihat. Dan hati, seperti matahari menghangatkan menerangi tapi tidak terlihat.”
“Ah, kalian itu bangsa nomer dua. Tetap saja kami manusia yang nomor satu.”
“Hohoho, sombong sekali. Ya, manusia bisa nomor satu, tapi bisa juga nomor terakhir. Hanya manusia yang tidak pernah kenyang. Lihat, para penjelajah pencari kekayaan yang kemudian menjajah itu adalah orang-orang kaya. Lihat, para pencuri besar itu adalah orang-orang kenyang. Lihat....”
Saya berbalik dan melangkah lagi menuju gubuk di pinggir sawah itu.
“Hohoho... lihat, saya gugur, saya gugur, saya melayang, hohoho. Dunia yang indah, dunia yang indah.”
Saya berbalik lagi, melihat daun gugur itu menari-nari di udara. Ketika saya meneruskan langkah, ada senyum yang tumbuh di hati saya.
**
Saat menuruni undakan dari perkebunan ke persawahan, saya mendengar suara-suara bercakap. Saya melihat ke sekeliling. O, rupanya para petani yang sedang memanen padi itu.
“Tuh, lihat orang yang turun dari kebun jagung itu. Dia yang ngomong sendiri, tersenyum sendiri itu,” kata yang seorang.
“Bukan ngomong sendiri. Dia itu bicara sama ular,” balas temannya.
“Ah, kata siapa?”
“Iya, tadi ada yang memergoki. Kemudian juga berbincang dengan pohon flamboyan.”
“Wow, apa katanya yang dibicarakannya?”
“Ya, tidak tahu.”
“Apa dia gila?”
“Sepertinya bukan. Dia itu sufi.”
“Sufi? Apaan tuh?”
“Orang yang ngaji diri, sehingga dia bisa bicara sama binatang, tetumbuhan, bebatuan, dan sama apapun yang ada di dunia ini.”
“Wow, keren.”
“Tapi sufi jarang menampakkan diri. Kalau betul dia seperti itu, kampung kita mendapat berkah kedatangan orang pintar.”
Perbincangan itu berhenti ketika saya semakin dekat. Mereka tersenyum dan mengangguk ketika saya berhenti di pinggir sawah.
“Kata burung pipit yang hinggap di pohon padi itu, kalau sedang bekerja jangan sambil ngomongin orang lain,” kata saya sambil tersenyum. “Oh iya, saya ini bukan sufi, hanya orang biasa yang tersesat.”
**
Di depan gubuk saya berdiri. Manarik napas panjang sambil memandang sekeliling. Dunia begitu indah, gumam saya sambil tersenyum. Saya harus pulang dan memperbaiki diri. Tapi sebelumnya tidur sebentar mengistirahatkan badan yang lelah.
Di depan pintu gubuk yang didorong saya terpana. Tempat tidur saya sudah ada yang menempati. Saya dekati orang itu, saya berjongkok, saya tatap wajah yang lelap itu. Saya semakin bingung. Orang itu adalah tubuh saya.
Entah berapa lama saya menatap wajah sendiri. Kemudian terdengar langkah kaki mendekat, langkah kaki yang banyak. Dan seseorang bicara, “Mumpung orang itu datang kemari, kita harus meminta berkatnya lewat air yang didoai. Orang sakit ingin sembuh, melahirkan lancar, pintar sekolah, berdagang laku, pasti gampang bagi orang pintar itu.”
Saya melihat ke luar gubuk, orang-orang berjalan beriringan, puluhan orang, sambil menjinjing air dalam botol. **
  
Pamulihan, 13 April 2016

Catatan:
Cerpen ini aslinya saya tulis dengan panjang 8.805 karakter. Tapi untuk kepentingan pemuatan media, saya mengeditnya. Waktu dimuat Tribun Jabar panjangnya menjadi 7.613 karakter. Karena begitulan, ketentuan tempat di Tribun Jabar sekitar 7.500 karakter. Di blog ini saya tayangkan yang versi pertama (belum diedit). Saya sendiri lebih menyukai versi yang ini.... 


PILIHAN

KEMBANG BAKUNG

“Menggigil tapi badannya panas, Bu,” kata Mang Karta menceritakan keadaan anaknya, Siti. “Sejak dua hari yang lalu panasnya, Bu.” “Ke...

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni