Jejak Kata :

Cerpen Tentang "Menulis Cerpen"

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Rabu, 05 Juni 2013 | 11.41


Pangantar ke Alam Cerpen

Apa sebenarnya cerpen? Kalau ada pertanyaan seperti itu, jawabannya biasanya seperti ini: Cerpen adalah sebuah karangan fiksi, bukan peristiwa nyata. Panjangnya biasanya antara empat sampai delapan halaman, kira-kira 5.000 sampai 10.000 karakter. Dan seterusnya....”
Nah, sekarang kita jangan membicarakan cerpen seperti itu. Sepanjang sejarahnya, cerpen hidup di lembaran majalan atau koran harian. Tentu panjang pendeknya juga disesuaikan dengan kebutuhan atau kebijakan majalah atau koran itu. Meski tidak ada yang melarang menulis cerpen sepanjang seratus halaman atau hanya seperempat halaman.
Mau panjang atau pendek juga sebuah cerpen sebenarnya tidak masalah. Karena yang penting yang panjang harus terbayang-bayang yang pendek harus menyentuh hati dan pikiran. Nah, kalau sudah seperti itu, itu cerpen bisa dikatakan “berhasil”.
Begitu juga dengan persoalan, apakah cerpen itu boleh “mengada-ada” atau cerita biasa saja, boleh pengalaman sendiri atau tidak, boleh tokohnya banyak atau tidak, boleh peristiwanya selama sehari atau dua hari atau seminggu atau sebulah atau setahun atau lebih lama lagi.
Sudahlah, hal seperti itu sudah banyak dibahas. Saya lebih suka berkelana memandang dunia cerpen secara bebas. Jangan terikat oleh harus begini jangan begitu. Karenanya membahasnya juga jangan seperti yang biasa. Saya mencoba menulisnya dalam bentuk cerpen. Jadi beberapa cerpen tentang menulis cerpen.
Semoga mendapat kelancaran seperti yang dibayangkan. Amin


PEMBUANG SAMPAH

“Buanglah sampah pada tempatnya,” kata bapaknya ketika ia masih balita. Berpuluh-puluh tahun kemudian kalimat itu selalu berbisik-bisik di telinganya. Kadang seperti angin yang sudah terasa dari jauhnya, dari benua atau lautan atau pulau lain yang sempat disinggahinya, karena hakekat hidup bagi angin adalah mengembara. Kadang begitu lembut menyisir pipi, mengeringkan keringat saat ia beristirahat setelah bekerja seharian, atau menyusup ke seluruh tubuh saat dihirup dalam-dalam. Kadang seperti gerimis membasahi tanah kering atau menghijaukan daun yang seharian dikotori debu dan asap knalpot, atau meresapkan dingin ke pori-pori kepala saat ia sengaja membiarkan diri ditimpa gerimis.
Karena itu, ketika orang-orang sibuk melamar pekerjaan ke perusahaan-perusahaan besar, ia sudah yakin dengan pilihannya, sebagai pembuang sampah. Setiap hari ia mengumpulkan sampah-sampah yang berceceran di jalan-jalan di halaman perkantoran di lapangan di pasar dan di manapun. Ia mengumpulkan sampah-sampah itu di dalam gerobak, mengangkutnya ke pembuangan akhir, memilah-milah antara sampah yang bisa diurai dan yang tidak.
“Kenapa mau jadi pembuang sampah?” kata temannya suatu hari.
Ia tersenyum.
“Kenapa tidak jadi yang lain saja. Jadi wartawan, pegawai negeri, pedagang, atau apalah. Kenapa jadi pembuang sampah. Apa kau betah jadi pembuang sampah?”
Ia masih tersenyum. Dihirupnya udara dalam-dalam. Dirasakannya kelegaan masuk ke dalam pori-pori tubuhnya, ke elemen-elemen terkecil dari sel-selnya. Dan seperti hari-hari yang lalu, saat temannya mampir ke rumah sederhananya (temannya menyebut: gubuk), ia akan berujar: “Saya menikmati jadi pembuang sampah.”
**
Pukul 4 pagi ia bangun. Menyiapkan sarapan dan bekal untuk makan siang. Selesai sholat subuh ia pergi dengan menggusur gerobak sampahnya. Ia sebenarnya punya wilayah kerja tersendiri, seperti yang diperintahkan pemerintah kota. Tapi ia bisa pergi ke mana saja. Membersihkan sampah-sampah yang berserakan di jalanan di pasar di sungai di perkantoran di lapangan dan di tempat lainnya yang ia lalui. Kadang ia menangkap sampah yang dilemparkan orang dari dalam mobil dari jendela kantor dari dapur rumah dan dari manapun yang melemparkan sampah.
Orang-orang tidak pernah memperdulikannya. Seolah sudah suatu kewajaran; ketika mereka membuang sampah, maka harus ada yang memungut atau menangkap, dan mengangkutnya ke pembuangan akhir. Ia sendiri tidak pernah mengeluh dengan perilaku orang yang sembarangan membuang sampah. Dia akan memungut atau menangkap sampah yang dilemparkan, tanpa berkata sepatahpun. Kalaupun ada yang memperhatikan, ia hanya mengangguk dan tersenyum.
 Kadang ada ibu-ibu yang memberinya bungkusan. Ia akan mengucapkan terima kasih dan tersenyum. Biasanya, kalau tidak baju bekas, bungkusan itu adalah makanan. Ia akan memakai baju pemberian itu esok harinya, tanda terima kasih kepada pemberi. Kalaupun makanan yang sudah basi dan tidak layak lagi dimakan, ia akan membuangnya bersama sampah yang lain. Ia tidak merasa terganggu dengan itu.
Yang uring-uringan malah temannya yang datang hampir seminggu sekali ke rumah sederhana pembuang sampah itu.
“Mengapa sih begitu betah jadi pembuang sampah? Apa kamu tidak terhina saat orang-orang membuang sampah begitu saja, saat diberi baju bekas atau makanan sisa. Kemajuan sudah melesat sampai ke langit, tapi kamu masih betah jadi pembuang sampah. Bolehlah kalau kamu buta hurup, tanpa keterampilan apapun, dan tanpa modal sepeserpun. Tapi kamu teman sekolahku, berijazah, bisa bersaing.”
“Tapi saya dibayar untuk jadi pembuang sampah.”
“Dibayar? Apa yang kau dapatkan dari membuang sampah? Gubuk seperti ini, makanan kurang gizi yang mesti ditanak sendiri, dan tanpa fasilitas apapun.” 
“Bukan bayaran seperti itu.”
“Lalu?”
“Saya menikmati jadi pembuang sampah.”
Teman si pembuang sampah itu pergi begitu saja. Dia jengkel. Ditancapnya gas mobil dalam-dalam. Karena itu entah kunjungan yang ke berapa kalinya. Entah ajakan untuk jadi apa lagi setelah profesi wartawan, pedagang, pegawai negeri, marketing, public relation, selalu ditolak. Dia merasa memperhatikan temannya. Ingin mengangkat derajat temannya. Tapi yang diperhatikan tidak merespon yang semestinya. Tetap teguh menjadi pembuang sampah. Omong kosong seperti apa lagi seperti itu?   
**
Pembuang sampah itu sebenarnya maklum dengan kejengkelan temannya. Tapi pekerjaan harus dipilih. Dipilih yang memberi kenikmatan kepada diri sendiri. Waktu boleh melaju, peradaban boleh berubah, tapi kenikmatan selalu sama. Selalu muncul dari diri setiap individu. Individu yang jujur, yang pencinta, yang sabar, dan yang ikhlas.
Ia ingat bagaiman bapaknya mengajarkan menikmati hidup seperti itu. Setiap sore mereka berjalan-jalan, mengelilingi jalan-jalan di kota, masuk ke gang-gang dan perkampungan. Mereka membawa plastik besar, memunguti sampah yang berserakan dan membuangnya ketika mereka pulang.
“Akan selalu banyak sampah menumpuk dan bau busuk, tapi kita harus selalu mengerjakan ini. Meski hanya satu jengkal yang bisa kita bersihkan, tapi memberi kebaikan bagi kehidupan adalah kenikmatan,” kata bapaknya.
Waktu itu ia baru 5 tahun. Bapaknya biasa pergi pagi dan pulang menjelang sore. Setelah mandi dan makan sekedarnya, bapaknya akan mengajak ia berjalan-jalan. Ia tidak tahu apa pekerjaan bapaknya. Suatu malam ada mobil berhenti di depan rumah. Lima orang berseragam tentara menggedor pintu, membawa bapaknya dengan paksa. Dua minggu kemudian ada lagi mobil berhenti di depan rumah. Bapaknya terhuyung-huyung mencapai pintu. Ia terpana mendapatkan bapaknya sudah berubah. Wajahnya lebam, darah mengering di sekujur tubuhnya, luka menganga di mana-mana dan sebagian masih mengucurkan darah. Tapi bapaknya tersenyum.
“Bapak kenapa?”
“Disiksa.”
“Oleh siapa?”
“Oleh para pembuang sampah sembarangan.”
“Kenapa?”
Bapaknya tersenyum. Ia tidak bertanya lagi. Tapi hari-hari berikutnya, setelah bapaknya sembuh dan mengajaknya jalan-jalan dan memunguti sampah yang berserakan, ia mulai merasakan bagaimana menakjubkannya menjadi pembuang sampah. Bapaknya selalu tersenyum setiap memungut sampah yang begitu busuk. Kadang ia juga melihat air meleleh membasahi pipi bapaknya. Dan ia merasakan sore begitu lain dari biasanya. Angin berhembus menyelusup ke seluruh elemen tubuhnya, menggetarkan daun-daun syarafnya yang mulai memucuk. Cahaya matahari yang mulai menjingga menerobos celah pori-porinya, menerangi seluruh bagian tubuhnya, dan menjadikannya seperti bulan yang memantulkan cahaya begitu sempurna. 
Suatu malam bapaknya ada yang menjemput lagi dan tak pernah pulang lagi. Tapi ia tidak lagi mempertanyakannya. Ia membantu ibunya berjualan goreng-gorengan, bersekolah, dan sorenya melanjutkan kebiasaan berjalan-jalan sambil memunguti sampah tanpa berkata sepatah pun. Dan setelah ia dewasa, setelah ibunya meninggal, ia mendaftarkan diri bekerja di dinas kebersihan.
Temannya pernah datang sekali lagi. Dia mengajak si pembuang sampah bekerja di kantornya. Tapi ia tetap menolaknya.
“Atau kalau kau menginginkan sesuatu, bicaralah. Aku akan memberikannya,” kata temannya itu. Sebagai pekerja di sebuah BUMN yang karirnya melesat, dia memang bisa memberikan banyak fasilitas. Banyak orang yang datang kepadanya, mengajukan proposal, meminta dipercaya mengerjakan proyek-proyek tertentu, atau sekedar meminta sumbangan. Dan dia begitu prihatin ketika mendapatkan seorang sahabat terbaiknya, bekerja sebagai pembuang sampah. Begitulah awal dia selalu datang ke gubuk si pembuang sampah itu.
“Saya hanya menginginkan satu hal saja dari kamu, tolong jangan datang lagi ke sini.”
“Kenapa?”
“Sesungguhnya kamu membawa kebimbangan meski saya sudah begitu yakin dengan kenikmatan ini. Kita masih bisa berteman, justru kalau tidak saling mengusik.”
“Kamu tidak ingin sekedar bahan bangunan untuk membuat gubuk ini lebih permanen, atau televisi untuk hiburan, atau sedikit tabungan untuk menjamin hidupmu di masa depan, atau...”
Ia tersenyum.
“Atau kamu tidak punya keinginan lagi? Lihat di rumahku, mobil ada empat, pembantu siap melayani apa maunya kita, makanan bergizi tinggi, mau hiburan ke manapun tinggal pergi. Aku sudah menjadi eksekutif sekarang. Kalau aku bisa lebih dekat dengan menteri, tidak mustahil setahun lagi aku jadi direktur utama. Akan semakin banyak lagi uang, punya villa di Puncak, liburan ke mancanegara, rekening yang tidak terkirakan, dan wanita-wanita...”
“Saya sudah merasa cukup dengan ini. Bagaimana saya harus menerima pemberian orang yang masih kekurangan seperti kamu?”
Teman si pembuang sampah itu pergi begitu saja. Dia tidak mengerti, masih ada kelucuan hidup di zaman yang serba bersaing ketat ini. Dia mencoba menghilangkan ingatan kepada si pembuang sampah sahabatnya itu. Tapi sesekali, ketika berangkat ke kantor, dia masih melihat temannya itu berjalan dengan tenang sambil menggusur gerobak, memunguti sampah yang ditemuinya. Seringkali dia ingin menginjak rem, memanggil temannya itu sekedar untuk berbincang. Tapi yang terinjak biasanya gas. Dia semakin sering merasakan dikejar-kejar oleh sesuatu yang tidak jelas. Sesuatu yang mendorongnya untuk melakukan apapun. Dia merasa, karena frustrasi itulah dia datang ke tempat temannya yang menjadi pembuang sampah. ***

 Cisitu, 17 Maret 2002  

Pernah dimuat Republika, tanggalnya tidak ingat, dokumentasinya tidak punya


NAMAKU BUDIMAN

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Selasa, 04 Juni 2013 | 22.01

Pikiran Rakyat, 31 Januari 1993

Namaku Budiman. Sederhana dan enak didengar. Kata bapak, sengaja aku diberi nama itu biar menjadi manusia yang suci, suka menolong, memberikan penerangan bagi yang kegelapan, dan sejenisnya.
Dan apa yang diharapkan dari namaku itu sedikitnya sudah menjadi kenyataan, setidaknya anggapan masyarakat kampungku seperti yang diceritakan Nur lewat surat-suratnya. Dua bulan sekali aku selalu mengirim surat dan uang ke kampungku. Kalau kemudian Nur menyatakan ada kebutuhan lain, atau ada pesan dari warga kampung yang lainnya, lewat surat balasan tentunya, aku akan mengirimnya dua bulan berikutnya.
Dalam surat terbaru, Nur menyatakan bahwa Kang Dahlan yang aku bantu pembuatan mesjidnya dan Pak Dasli atas nama kelompok petani yang aku belikan semprotan hama, mengucapkan terima kasih. Mereka menanyakan kapan aku pulang, sekedar menengok kampung halaman. Aku tahu, permintaan itu bukan hanya datang dari Kang Dahlan dan Pak Dasli atas nama warga kampung, tapi terlebih adalah permintaan Nur, istriku, dan emak. Mungkin emak dan Nur telah bosan memintaku pulang sehingga permintaan warga kampung dijadikan alasan permintaannya.
Sebenarnya setiap Nur dan emak memintaku pulang lewat suratnya, aku selalu berniat pulang. Aku rindu Nur, istriku yang selama beberapa tahun tak pernah kutengok. Juga emak yang waktu aku kecil mengajariku ngaji dan selalu mendongeng setiap malam sampai aku tertidur di pangkuannya.
Masih ingat aku bagaimana emak bercerita tentang kancil yang cerdik dan buaya yang rakus, Sangkuriang yang sakti tapi mencintai ibunya secara salah dan Malinkundang yang tidak mengakui orangtuanya. Setiap mengingat masa-masa itu, baru aku rasakan, betapa sayangnya emak kepadaku. Demi aku, emak rela tidak kawin lagi, karena takut ayah tiri tidak menyayangiku. Padahal sejak ayah meninggal, aku tahu, banyak yang mendekati emak untuk dijadikan istrinya.
Tapi niat untuk pulang yang semula begitu menggebu, setelah tiba waktu pengiriman uang, selalu saja terhenti. Dan akhirnya aku hanya menulis surat yang menyatakan bahwa aku sehat-sehat saja dan tak sempat pulang, sibuk. Di akhir surat selalu aku tuliskan, siapa tahu dua bulan yang akan datang aku bisa pulang, aku rindu emak dan Nur.
Surat dan uang yang selalu aku kirim dua bulan sekali, dibawa oleh kurir kepercayaanku. Dia masih sekampung denganku. Namanya Junaedi.
Dari dialah aku banyak tahu perubahan di kampungku. Sawah-sawah dan kebun tumbuh subur. Setiap panen orang-orang menjual hasilnya ke kota kabupaten dan pulangnya mereka membawa kebutuhan sehari-hari. Beberapa keluarga, termasuk emak dan Nur, telah mempunya televisi. Jarak kampungku denga kota kabuten yang jauh, sehari penuh perjalanan, semakin dekat setelah jalan diperbaiki dan mobil hilir mudik ke sana. Setiap sore ibu-ibu melihat kuis atau telenovela. Malamnya, terutama malam Minggu, bapak-bapak melihat wayang golek di TVRI.
Menurut dia, kampungku telah berbeda jauh dengan waktu aku meninggalkannya. Waktu itu, kemarau panjang menyebabkan sawah dan ladang kekeringan. Persediaan makanan habis dan kelaparan mulai mewarnai kehidupan kampungku. Masih terbayang dalam benakku, kelaparan telah mengubah manusia menjadi binatang yang paling buas. Rebutan makanan yang tersisa seperti anjing diberi tulang belulang. Sebagian penduduk mulai makan makanan yang tidak biasa dimakan. Mereka manangkap kodok, ular, tikus, dan menebang pohon pisang untuk dimbil bonggolnya. Ayahku yang rela tidak makan demi aku dan emak, akhirnya meninggal.
Untungnya waktu itu bantuan dari kecamatan datang. Waktu orang-orang mengantarkan bantuan itu kembali ke kota kecamatan, aku ikut. Aku menjadi pembantu di salah satu keluarga pegawai kecamatan. Setelah setahun, aku pergi ke kota provinsi dan dengan gaji selama aku menjadi pembantu, aku dagang asongan di stopan, kemudian dagang bakso.
Dengan penghasilan yang aku kumpulkan, aku pulang kampung dan mendapat pujian dari warga kampung. Hal itu memang bisa aku pahami. Dari kampungku, mungkin baru aku seorang yang berani pergi jauh untuk mencari napkah dan pulang dengan mebawa keberhasilan. Sebagai orang yang berhasil, sudah tentu banyak yang ingin mengambil menantu kepadaku. Pilihanku jatuh kepada Nur, teman ngajiku sewaktu kecil dan mencari ikan-ikan mungil waktu sawah masih berair.
Setelah beberapa waktu menumpahkan kerinduan pada kampung halaman, aku kembali ke kota untuk mencari napkah. Banyak yang ingin ikut kepadaku, tapi aku katakan nantilah setelah aku berhasil. Aku hanya ditemani Junaedi, teman ngaji dan berlatih silat sewaktu kecil.
Setahun dua tahun pertama aku masih sempat pulang menengok Nur dan emak. Tapi setelah itu aku hanya bisa mengirim surat dan uang. Aku tak punya lagi keberanian untuk pulang.
“Emak dan Nur menanyakan, kenapa kau sudah setahun tak pulang-pulang?” kata Junaedi  sepulang dia mengirim uang ke kampung.
“Kamu bilang aku sibuk?”
“Ya, begitulah alasanku.”
Hanya segitu kami bercakap. Kami memang jadi jarang bicara banyak. Selain bertanya seperlunya, mengenai keadaan Nur, emak dan kampung, tak lagi ada yang mesti dibicarakan. Kami sama-sama kecewa dengan peristiwa demi peristiwa yang menjadikanku segan pulang kampung. Tapi semuanya mengalir apa adanya, tanpa kami merencanakannya.
Bermula dari perekonomian juga yang sanggup membakar napsuku. Waktu itu emak sakit. Aku perlu uang banyak untuk membayar perawatan emak di rumah sakit kota kabupaten. Uang tabunganku habis, karena setelah aku menikah dengan Nur, aku harus rutin mengirim uang. Aku tidak bisa lagi seperti dulu mengumpulkan uang sedikit-sedikit.    
Suatu malam, aku tak bisa membayar uang ‘keamanan’ yang biasa diminta oleh kelompok ‘penguasa’ daerah tempat aku mangkal. Aku bilang aku butuh uang banyak untuk mengobati emak yang sakit. Tapi para pemeras itu tak mau tahu. Roda dorongku ditendang sampai terguling. Mie bakso berserakan, mangkok banyak yang pecah, kompor menyala membakar rodaku karena minyaknya tumpah.
“Lihat tuh!” bentak si Cengos kepada pedagang-pedagang lainnya. “Nasib kalian tak akan berbeda dengan itu bila tak mau membayar uang keamanan! Ngerti?” Tiga orang temannya tersenyum sambil sesekali mengisap rokoknya.
Junaedi mencoba memadamkan api dengan air pencuci mangkok pedagang lain. Api itu padam. Tapi panasnya terlanjur membakar kehormatan dan napsuku. Aku hajar sekuatnya si Cengos sampai darah keluar dari hidung dan mulutnya. Tiga orang temannya mengepungku. Tapi semuanya bukan apa-apa bagiku yang sejak kecil telah dilatih silat dengan kekuatan luar dalam. Keempat pemeras itu babak belur dan pulang dengan merayap. Tapi napsuku masih belum reda, apalagi setelah melihat roda dorongku yang berantakan.
Malam berikutnya pemimpin keempat pemeras itu datang. Si Codet memandangku meremehkan, lalu meludah. Tentu saja napsuku yang masih menyala seperti yang diberi bensin. Si Codet aku terjang dengan jurus Harimau Menerkam Mangsa. Si Codet yang telah berpengalaman berkelahi itu akhirnya tak berkutik menghadapi gempuranku yang dibakar napsu. Dia babak belur. Hidungnya berdarah-darah, beberapa kali muntah waktu aku tendang perutnya. Anak buahnya tak ada yang berani melawanku.
Aku meminta uang pengganti roda dorong dan isinya. Dan untuk membeli harga diriku yang tersinggung, aku memeras mereka. Aku kirimkan uang hasil memeras itu untuk mengobati emak. Sejak itulah aku jadi pemeras para pemeras. Dan Junaedi kemudian jadi tangan kananku. Meski dia tak begitu setuju dengan pekerjaan baru itu, tapi dia tak punya kekuatan untuk menolak.
**
Namaku Budiman. Tapi kalau kalian datang ke sini, ke tempat kerjaku, jangan tanyakan nama itu. Anak buahku tak akan kenal nama itu, kecuali Junaedi yang kemudian suka dipanggil Edi Botak. Di sini aku biasa dipanggil si Badak. Kalau ada yang menodong, mencopet, katakanlah namaku, maka para penodong itu akan meminta maaf. Mereka adalah anak buahku yang setiap hari akan setor kepadaku.
Daerah kekuasaanku semakin luas setelah aku menumbangkan Joko Dodet, penguasa terminal, dan Herry Macan, penguasa pasar grosir. Hampir setengah kota sekarang aku kuasai. Aku disegani anak buahku. Tapi kekuasaanku seakan tak berarti setiap aku mendapat surat dari Nur dan emak.
Aku selalu tak bisa untuk melepaskan pekerjaan yang sekarang. Kembali menjadi pedagang bakso, artinya kembali diperas orang dan berpenghasilan seadanya. Dari mana aku mengirim uang yang banyak bagi Nur dan emak? Dari mana aku memberikan bantuan bagi warga desa yang membutuhkan sesuatu?
“Jadi pemeras mungkin yang terbaik bagi kita,” kata Junaedi suatu waktu. Aku mengangguk. Tapi aku yakin, Edi pun sama-sama tak yakin dengan pilihannya. Jadi pemeras telah membuatku segan untuk pulang ke kampung.
Dua tahun yang lalu, sewaktu Idul Fitri, aku pulang. Seluruh warga kampung menyalami dan mengagumiku. Di mesjid, setelah sholat, Pak Dahlan atas nama warga kampung, mengucapkan selamat kepadaku. Mereka bangga punya warga sehebat dan sedermawan aku.
Di rumah Nur keheranan ketika melihat tatto di tangan dan dadaku. Aku katakan saja bahwa itu jimat yang diberikan guruku di kota. Nur percaya dan tak lagi bertanya. Tapi rasa percayanya itu justru yang menyiksaku. Sore-sore berikutnya aku mendengarkan anak-anak membaca Al-Qur’an di mesjid. Di rumah, Nur dan emak setiap selesai sholat Maghrib, membaca juga ayat suci itu.
Aku rasanya telah dilemparkan ke dunia yang menyiksa dengan segala kelembutannya. Aku pergi kembali ke kota dan lama tak pulang. Setiap Nur mengirim surat yang menyuruhku pulang, aku selalu ingin pulang dan rindu suasana kampungku. Tapi begitu waktu pengiriman uang yang dua bulan sekali sudah dekat, perasaan tersiksa itu selalu menghantuiku. Aku tak yakin dapat menikmati suasana yang aku rindukan itu. Maka kalau sudah begitu, aku hanya bisa menulis surat dan menyatakan bahwa aku baik-baik saja dan rindu untuk pulang, tapi sibuk. ***


 Dimuat di HU Pikiran Rakyat, tanggalnya lupa


PILIHAN

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni