Jejak Kata :

DONGENG

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Sabtu, 15 Desember 2012 | 07.10

Pikiran Rakyat, dokumentasinya tidak punya, jadi tanggal dan gambarnya lagi nyari...
              
               Ada seorang raja, punya anak tujuh orang. Anak yang bungsu ingin diceritakan sebuah dongeng. Begini dongengnya….
**
Ada seorang raja, punya kekayaan melimpah. Setiap bulan upeti dari kerajaan taklukan mengalir. Ribuan perusahaan kerajaan setiap bulannya menghasilkan uang trilyunan rupiah. Tabungan tidak terhingga, batangan emas dan logam mulia lainnya tidak tertampung di bank dalam negeri. Bangunan-bangunan eksklusif dan prestisius dibuat. Patung terindah sedunia, menara tertinggi sedunia, lapangan terluas sedunia, dan banyak bangunan ter... lainnya.
Tapi sang raja tidak puas. Dia pikir, sebanyak apapun kekayaan bisa dengan sekejap menghilang. Setiap hari musuh mengincar di mana-mana. Musuh di dalam selimut, siapa tahu setiap pejabat negara punya niat menggulingkannya. Patih, menteri, senapati, bahkan prajurit, siapa yang bisa menebak isi hatinya? Siapa tahu ada di antara mereka yang diam-diam merencanakan menggulingkannya, merampas seluruh harta kekayaannya. Negara-negara tetangga, siapa tahu niat dan perencanaan mereka untuk menyerang diam-diam terus ada. Mereka menunggu kesempatan, menunggu ketepatan untuk menyerang, merebut tahta dan seluruh kekayaan, lalu menghempaskan raja beserta keluarga ke kemiskinan dan kesengsaraan.
Karena itu sang raja berkeinginan menjadi pemilik kekayaan abadi. Pemilik kekayaan abadi menurutnya adalah seseorang yang bisa membuat emas dari apapun. Dari kayu, tanah, daun, batu, dan apapun. Orang seperti itu tentunya tidak perlu takut dirampok, digulingkan dari kekuasaan, direbut seluruh kekayaannya. Karena dengan sebentar dia bisa membeli lagi apapun, membangun kembali kerajaan, merencanakan pembalasan yang lebih dahsyat.
Tapi kepada siapa belajar? Siapa yang bisa mengubah apapun menjadi emas? Atas saran seorang penasehat kepercayaannya, sang raja membangun sebuah peristirahatan yang khusus bagi orang-orang alim yang mengembara, orang suci, para guru sufi, para darwish. Bangunan yang berdiri kokoh di pinggir sungai itu terdiri dari dua pintu. Pintu depan untuk masuk, disambut dengan sebuah plang yang berbunyi:

“Selamat datang para darwish, orang suci, guru sufi, yang sedang mengembara. Silahkan beristirahat dan makanlah tiga kali sehari selama tiga hari. Semuanya disediakan dengan cuma-cuma.”

Sebelum pintu keluar, ada lagi plang yang berbunyi:

“Wahai orang-orang suci dan arif yang agung! Anda telah beristirahat dan makan dengan baik. Kini tolonglah kami jika Anda mampu. Jika Anda mampu mengubah apapun menjadi emas, tolong ubahlah apapun yang ada di bangunan ini menjadi emas.”  

Bertahun-tahun orang-orang berdatangan ke ibukota kerajaan. Ada yang sekedar singgah sehari dua hari. Ada juga yang sampai berminggu-minggu, menikmati keindahan pemandangan alam dan keramahan penduduk. Bangunan yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang suci itu selalu dipenuhi pengunjung. Banyak para pelancong dengan jubah yang panjang-panjang. Ada juga sang guru yang diikuti oleh puluhan murid-muridnya. Selama tiga hari tiga malam mereka menumpang di bangunan peristirahatan itu, minum dan makan gratis. Tapi belum juga ada yang mengaku bisa mengubah benda apapun menjadi emas.
“Siapa tahu orang suci yang sanggup mengubah apapun menjadi emas itu hanyalah mitos,” gumam sang raja suata senja. Beberapa jenak dia memperhatikan orang-orang yang singgah di peristirahatan yang diperuntukkan bagi orang-orang suci itu. Puluhan orang bersembahyang. Puluhan orang membaca kitab. Puluhan orang berzikir. Siapa di antara mereka yang benar-benar suci?
“Barangkali hanya mitos,” gumam sang raja sekali lagi sambil meninggalkan peristirahatan bagi orang-orang suci itu. Jalanan begitu ramai oleh pedagang dan pelancong yang terus berdatangan. Senja begitu cerah. Matahari menebarkan semburat jingga di langit Barat. Cahayanya menebar dipantulkan daun-daun dan air sungai yang berkelap-kelip.
“Sesungguhnya, sejak awal saya tidak yakin ada orang yang sanggup mengubah apapun menjadi emas. Kalau memang ada, kenapa dia sendiri tidak menjadi orang terkaya, menjadi raja, menjadi penguasa seluruh dunia ini. Memang tidak masuk akal ada orang seperti itu. Ah, saya benar-benar telah tertipu, percaya begitu saja kepada penasehat.”
Baru saja beberapa langkah meninggalkan pelataran peristirahatan itu, sang raja tersentak. Langkahnya berhenti begitu saja. Ada suara yang memanggil-manggilnya dari belakang. Tapi begitu dia berbalik, tidak ada seorang pun yang memperdulikannya. Orang-orang hanya memperhatikan kepentingannya masing-masing.
Begitu sang raja meneruskan langkahnya, suara itu bergaung lagi. “Anakku sang maharaja! Banyak hal yang tidak bisa dimengerti di dunia ini, kalau hanya menggunakan akal dan pikiran. Mahasuci Allah yang menyampaikan berbagai Rahasia sebagai keindahan. Tidak ada yang tidak mungkin, tidak ada yang tidak mungkin… bagi Allah.”
Tapi sang raja tidak memperdulikan lagi suara yang seperti berbisik itu. Suara yang sepertinya hanya dia yang mendengarnya. Karena para pengawalnya tidak seorang pun yang mendengarnya. Dia menyuruh para pengawalnya untuk mengundang para penasihat, dia akan memutuskan bahwa mulai besok peristirahatan bagi orang-orang suci itu harus ditutup.
Belum juga para penasihat itu berdatangan, belum juga bibirnya kering setelah memerintah, ada penjaga tempat peristirahatan bagi orang-orang suci itu yang datang berlari-lari.
“Lapor, Tuan Raja! Di peristirahatan ada seorang tua yang sedang menari dan menyanyi, katanya akan mengubah bangunan itu menjadi emas.”
Seperti ada magnet yang menariknya, seperti yang telah tahu apa yang akan dikatakan pengawal, sang raja melesat ke arah peristirahatan yang khusus dibangun untuk orang-orang suci. Di tengah-tengah bangunan itu seorang tua sedang menari. Tangannya bergerak pelan. Kepalanya bergerak pelan. Dari mulutnya sebuah senandung terus diulang.
“La ilaha illallah… Ya Allah! Ampunilah, dosa-dosaku, yang Kau mengetahuinya, lebih baik dariku. Ya Rabbi! Ampunilah, dosa yang dibuat, oleh mataku, ampunilah hambaMu, ampunilah kata-kataku, yang keji dan buruk, dan ampunilah ketidakmampuanku, menahan nafsuku. La ilaha illallah….” [i]*
Orang tua berjubah putih itu terus menari, berputar. Angin berhenti mendengar rintihannya. Orang-orang menahan napas. Sebagian ikut menggerakkan bagian badannya. Senyap begitu mencekam sampai ke bagian terdalam dari hati orang-orang. Sang raja begitu terpesona melihatnya. Matanya tidak berkedip. Napasnya ditarik pelan seolah sedikit suara pun takut mengganggu senandung mengiba itu. Kakinya bergetar seperti yang tidak sanggup menahan berat badannya. Dan di kedalaman hatinya, di kedalaman hatinya begitu bergejolak perasaan yang baru kali itu mengharubirunya.
Orang tua yang memancarkan cahaya dari tubuhnya itu terus menari dan merintih. Dari tubuhnya menetes keringat yang bercahaya berkilauan. Dari matanya mengalir air membasahi pipi, leher, jubahnya yang tidak lagi berkibar karena basah. Dari airmata dan keringat itulah ribuan cahaya kupu-kupu terbang menembus seluruh bagian dari bangunan itu. Seluruh bagian dari bangunan yang perlahan berubah warnanya menjadi kekuningan, menjadi keemasan. Orang tua itu pun ambruk, bersujud sambil menangis tersedu-sedu.
Orang-orang yang ada di sekitar situ menundukkan kepala. Dari mata mereka masih mengalir air pengakuan, pengakuan bahwa di kedalaman hatinya manusia hanyalah kumpulan kesedihan. Tidak ada yang hirau dengan bangunan tempat mereka berteduh yang seluruh bagiannya telah menjadi emas. Tidak ada yang hirau dengan perut yang telah berjam-jam tidak diisi makanan. Tidak ada yang hirau dengan tenggorokan yang kering karena telah berjam-jam tidak dialiri air. Tidak ada yang hirau dengan apapun. Sampai orang tua berjubah putih yang dari tubuhnya memancar cahaya itu berdiri dan berjalan pelan meninggalkan bangunan emas itu.

Sang raja tersentak begitu melihat orang tua berjubah putih yang mengubah bangunan menjadi emas itu sudah jauh darinya. Dia berlari dan menghadang di depannya.
“Terima kasih, Pak Tua. Saya baru yakin bahwa orang suci seperti Bapak memang ada. Tapi saat ini, saya tidak menginginkan emas sebetulnya. Karena kekayaan melimpah pastinya banyak yang merencanakan untuk merebutnya. Keinginan saya sesungguhnya adalah ingin bisa mengubah apapun menjadi emas dengan tangan saya sendiri. Kiranya Bapak bersedia mengangkat saya sebagai murid.”
Orang tua berjubah putih itu menarik napas panjang.
“Apa Bapak berkenan?”
“Boleh saja, anak muda! Tapi dengan syarat.”
“Apa syaratnya?”
“Engkau harus mengikutiku selama sepuluh tahun untuk belajar. Engkau harus menurut apapun yang aku perintahkan. Karenanya, tinggalkanlah kekuasaan dan harta kekayaan yang engkau punyai sekarang ini.”
Tanpa berpikir panjang, sang raja menyanggupinya. Pikirnya, apapun harus dikorbankan untuk belajar mengubah apapun menjadi emas. Seandainya dirinya sendiri yang sanggup mengubah apapun menjadi emas, selamanya tidak akan ada ketakutan. Kalau ada orang yang merebut, kalau ada kerajaan yang menjajah, tinggal rubah apapun menjadi emas dan dia menjadi kaya kembali.
Sore itu juga sang raja mengikuti orang tua berjubah putih itu. Setelah berjalan tanpa alas kaki jutaan kilo meter jauhnya, mendaki bukit menuruni lembah, setelah kaki luka-luka dan tidak bisa lagi digerakkan karena lelah, perintah pertama orang tua berjubah itu adalah untuk menyerahkan apapun kepada takdir.
“Mengubah apapun menjadi emas itu hal yang mustahil, tidak masuk akal, tidak bisa dimengerti oleh akal pikiran. Itu semua terjadi karena ada Tangan Takdir yang mengaturnya. Serahkanlah apapun kepada Tangan Takdir itu. Jangan mengeluh karena sakit atau lelah. Karena sesungguhnya, rasa sakit sesakit apapun adalah kenikmatan. Tangan Takdir mengubah rasa sakit dan lelah seperti apapun menjadi suatu keindahan. Yakinilah itu.”
Sang raja hampir berteriak mendengarnya. Sejak beberapa hari lalu dia sudah tidak kuat melangkah. Sakit dan lelah telah menguasai tubuhnya. Tapi tidak ada ijin untuk beristirahat. Dan sekarang, sakit dan lelah yang tidak terkira itu harus dinikmati. Rasa nikmat seperti apa yang ada dari kesakitan dan kelelahan?
“Lawanlah dan tundukkanlah segala napsu yang ada di tubuhmu. Sesungguhnya keindahan itu ada di keberserahdirian.”
Tapi sang raja telah pingsan.
Begitu siuman, sang raja mendapatkan dirinya seperti melayang. Tubuhnya serba ringan. Napasnya begitu lega. Dia pikir, dia telah disihir gurunya untuk kemudian diajarkan cara mengubah apapun menjadi emas. Tapi begitu ditanyakan kapan dimulainya pelajaran mengubah apapun menjadi emas itu, sang guru malah menjawab:
“Selama engkau tidak bisa menyerahkan diri kepada Tangan Takdir, tidak bisa berserah diri, engkau tidak akan bisa mengubah apapun menjadi emas. Sekarang mari kita berjalan lagi. Bumi ini begitu luas.”
Jutaan kilo meter mereka lalui lagi berhari-hari. Puluhan perkampungan disinggahi, puluhan jurang dituruni, puluhan sungai diseberangi. Kaki sang raja semakin membengkak. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka tergores ranting-ranting dan rerumputan liar. Tapi perjalanan sepertinya belum mau berhenti. Orang tua berjubah itu masih terus berjalan seperti melayang. Jubah putihnya menyapu tanah tapi tidak pernah kotor. Dari wajahnya mengucur keringat, keringat yang bercahaya berkilau-kilau. Luka goresan yang memenuhi tubuhnya dalam sekejap telah sembuh kembali.
“Guru, rasa sakit dan lelah tidak lagi saya keluhkan, tapi kapan pelajaran mengubah apapun menjadi emas itu dimulai?” kata sang raja saat mereka beristirahat di tepi sebuah telaga.
“Waktu kita masih lama. Sepuluh tahun engkau sanggup mengikutiku. Aku ingin engkau mengenal kekuatan-kekuatan lain dari alam ini. Soal mengubah apapun menjadi emas, itu gampang.”
“Kalau gampang, kenapa tidak dari sekarang diajarkan, biar saya bisa berlatih terus menerus.”
“Karena engkau belum tahu ada kekuatan yang lebih dahsyat, yaitu Cinta dan Rahmat Ilahi. Rahmat ini, alkemi Cinta ini, dapat memperlihatkan mukjizat, sebagaimana ia mengubah setan menjadi malaikat, pencuri licik menjadi polisi yang cakap.”[ii]
Perjalanan berikutnya mereka lalui berbulan-bulan. Di beberapa perkampungan mereka beristirahat beberapa hari. Sepanjang perjalanan mereka menolong apapun dan siapapun yang sekiranya patut ditolong. Membantu orang-orang desa memagari kebun agar tidak diserbu babi hutan, membuatkan perahu bagi nelayan miskin, menyembuhkan orang-orang yang sakit dengan ramu-ramuan dedaunan, biji-bijian, dan doa.
Sekali waktu mereka pun memelihara dua ekor burung pipit yang masih kecil-kecil, baru tumbuh bulu. Kedua burung yang masih belum bisa mencari makan sendiri itu sarangnya jatuh dari pohon. Induknya pasti mencari-cari tapi tidak menemukannya atau tidak berdaya untuk memindahkan kembali sarangnya ke atas pohon. Sang raja setiap hari mengunyah beras untuk diberikan kepada anak burung pipit yang selalu dibawa-bawanya. Suatu pagi, setelah memberi makan, sang raja melatih kedua anak burung itu terbang. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, anak burung yang telah tumbuh bulu itu terbang lebih tinggi, lebih tinggi, hinggap di ranting-ranting pohon, dan akhirnya terbang menjauh entah ke mana.
“Wah, mereka menghilang, mereka pasti tidak akan kembali,” kata sang raja dengan mata berkeliling mencari dua anak burung pipit peliharaannya.
“Artinya, mereka sudah bisa mandiri. Biarkanlah mereka menikmati dunianya. Bukankah maksudmu semula menolong burung itu sampai mereka bisa terbang?”
Sang raja mengangguk. Tapi ada sesuatu yang mengharukan di dalam hatinya.
“Kalau begitu alhamdulillah, bersyukurlah, engkau telah melaksanakan niat baikmu.”
Sang raja masih termangu. Matanya memandang jauh, memperhatikan pepohonan sampai ke jauhnya, sampai ke reranting kecilnya. Di dalam hatinya, meski hanya samar, ada harapan bisa melihat kembali kedua anak burung peliharaannya. Bukan, bukan untuk memeliharanya kembali, mengharapkan kesetiaan dari sepasang burung pipit itu. Tapi sekedar ingin mengucapkan kata-kata perpisahan melalui tatapan mata atau lambaian tangan.
“Kedua burung pipit itu pastinya mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Tapi mungkin bahasanya tidak dimengerti oleh kita. Jadi mari kita berangkat melanjutkan perjalanan.”
Sang raja mengikuti sang guru, tapi dengan langkah yang tidak bergairah.         
“Adakah engkau merasakan sesuatu?”
“Ya, tentu guru.”
“Sesuatu yang mengharukan, yang begitu menggetarkan, yang begitu indahnya?”
“Ya.”
“Katakanlah.”
Sang raja malah menatap gurunya yang menghentikan lagi langkahnya. Lalu menggeleng dan bilang, “Tidak bisa, Guru. Saya tidak bisa mengatakannya. Tapi saya merasakannya. Merasakan begitu indahnya selama ini bisa menyuapi kedua burung pipit itu, membuatnya kuat dan menikmati dunianya sebagai burung.” Sang raja menunduk. Dari ujung matanya menetes sebutir air bening.
“Engkau telah bisa membuat emas itu, Nak.” 

 **

“Akhirnya sang raja bisa menguasai ilmu merubah apapun menjadi emas?” tanya anak bungsu raja bersemangat. Pendongeng yang sedang memilah teh di gelas melirik tuannya. Dan katanya setelah meminum teh yang telah dingin itu.
 “Ya, tentu saja bisa. Dia mengikuti sang guru berzikir, menari, berpuisi, dan bebatuan yang ada di sekitarnya menjadi emas.”
“Tapi tentu dia tidak membangun gudang-gudang emas di kerajaannya.”
“Tepat sekali. Kenapa Tuan bisa menyimpulkan seperti itu?”
“Karena sang raja mulai merasakan ada yang lebih hebat dan indah dibanding hanya mengumpulkan sebanyak-banyaknya emas.”
Malam semakin sunyi. Pendongeng itu mengundurkan diri. Membetulkan selimut tuannya, dan mengucapkan selamat tidur. Tapi sampai subuh menjelang, sampai beratus malam kemudian, anak bungsu raja itu tidak bisa tidur. ****






[i] Sebuah lagu yang berjudul Ampunilah Saya dari kelompok musik Debu
[ii] Annemarie Schimmel dalam biografi Jalaluddin Rumi menulis: Rumi yakin sekali bahwa Rahamat Ilahi, Cinta, dapat melihatkan mukjizat, sebagaimana ia dapat mengubah setan menjadi malaikat, pencuri licik menjadi polisi cakap.



GUBUK DI PINGGIR KOLAM

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Kamis, 13 Desember 2012 | 12.05


Cerpen ini pernah dimuat HU Media Indonesia 24 Desember 2000.


dimuatkan majalah Horison edisi April 2001

Di bawah jendela tumbuh bunga sedap malam dan mawar. Setiap kali saya membuka jendela malam-malam untuk melihat bulan, harum sedap malam menyelusup ke dalam dada. Selalu begitu lama kami saling memandang, saling tersenyum. Kami memang saling merindukan setelah bertahun-tahun tidak saling perhatikan. Bulan memang ada setiap malam di langit, sedap malam dan mawar memang tumbuh di taman-taman, saya memang mengunjungi banyak tempat setiap hari; tapi kami selalau tak acuh, seolah tidak saling mengenal.
Sejak beberapa hari yang lalu, pertemuan yang mengharukan itu terjadi. Saya membuka jendela dan sedap malam yang tumbuh di bawah jendela memanggil-manggil dengan harumnya. Saya memandangnya, saling tersenyum. Diperhatikan seperti itu, mawar yang tumbuh di sebelah sedap malam, bergoyang-goyang memperlihatkan keindahan tubuhnya. Kata sedap malam, mawar memang centil dan sudah lama menanti pertemuan itu. Mawar tersipu malu. Saya tersenyum, geli, tapi juga terharu masih ada yang merindukan. Saat itulah bulan yang bulat penuh menyapa kami.
Setiap malam kami bertemu, bercakap-cakap tentang apa saja. Kami saling bergantian bercerita. Hanya bulan yang selalu enggan membuka mulut. Rupanya dia pemalu, pikir saya. Tapi setelah mawar yang centil menggodanya, bulan mau juga bercerita. Dia tidak pernah mengerti, katanya, mengapa setiap yang memandang selalu menganggapnya cantik dan abadi.
“Karena memang kamu cantik,” kata saya.
Bulan tersipu malu. Dan katanya, “Barangkali karena kita memang berada di alam yang berbeda, dipisahkan jarak yang jauh. Dan cantik, dan indah, adalah sesuatu yang jauh, sesuatu yang hanya ada di negeri impian, di negeri yang tidak bisa terjangkau. Coba seandainya saya bisa dipetik seperti mawar, saya pasti sudah dibudidayakan dan hanya indah semusim saja.”
“Tapi kan tetap indah.”
“Ya, indah, tapi cepat layu karena memang terjangkau.”
Mawar yang mendengarkan percakapan kami dan menyadari kesementaraannya, menunduk sedih. Sedap malam mengusap-usap kelopaknya, membesarkan hatinya. Saya dan bulan yang menyadari bahwa percakapan tadi telah membuat sedih mawar, ikut bersedih. Tapi kenapa mesti bersedih, karena kesementaraan adalah bagian dari hidup. Semuanya adalah fana, kecuali yang Abadi itu. Kenapa mesti bersedih kalau selama hidup telah memberikan keindahan yang dimiliki masing-masing.
Mawar tersenyum kembali. Kami menggodanya. Lalu percakapan pun beralih pada hal-hal yang menyenangkan, pengalaman yang lucu-lucu. Saat seperti itulah, kadang angin yang baru pulang dari pengembaraannya, ikut bercakap-cakap. Dia mengabarkan bahwa di wilayah-wilayah lain pertempuran terus berlangsung, penindasan dengan beragam warna dan corak menjadi peradaban umum. Kami selalu diam setelah mendengar berita seperti itu. Kami punya pikiran masing-masing dan cara bersedih yang berbeda.
Angin pamitan dan mengatakan kapan-kapan akan singgah. Kalau ingin tahu lebih banyak, kata angin, dia punya foto-foto dari wilayah-wilayah yang telah dikunjunginya. Setelah angin pergi, tidak ada lagi percakapan di antara kami. Bulan melambaikan tangan setelah memberitahukan dengan nada sedih bahwa sebentar lagi tanggal tua dan dia tidak bisa menemui secara sempurna. Saya pun menutup jendela setelah mengucapkan selamat malam kepada mawar dan sedap malam.
**
Pagi hari saya membuka jendela, menyapa matahari yang baru datang, dan duduk di pematang kolam. Ikan-ikan menyapa saya sambil menari-nari. Mereka selalu bergembira dalam keadaan bagaimanapun.
“Kami memang menguasai banyak tarian,” kata mereka sekali waktu. “Setiap saat kami menari. Kesedihan pun ada tariannya. Jadi tampaknya memang gembira terus, padahal tidak seperti itu.”
”Kamu pernah bersedih juga?”
“Namanya hidup, ya berpasangan.”
Tarian ikan-ikan itu semakin menjadi saat burung kutilang bernyanyi. Suaranya nyaring, kadang begitu bersedih, kadang begitu bersemangat. Saya memejamkan mata, menikmati nyanyian yang aneh dan asing itu. Saya seperti dibawa ke tempat yang begitu jauh, tempat yang memutuskan hubungan saya dengan apa saja. Di sana hanya ada saya sendirian, menari seperti ikan-ikan dengan gerakan-gerakan yang saya kehendaki sendiri, berteriak dengan tinggi-rendah suara semau saya. Inilah barangkali dunia keindahan itu, dunia kesedihan itu, dunia amarah itu, dunia kesunyian itu.
Saya menghentikan semua lamunan setelah burung kutilang menghentikan nyanyiannya. Burung itu terbang berkeliling, menyapa ranting, matahari, ikan-ikan, dan hinggap di samping saya.
“Ikut berjemur,” katanya.
Saya tersenyum tanda menyambutnya. “Suara kamu indah sekali,” kata saya. “Begitu ekspresif. Kamu rupanya bisa melepaskan seluruh beban hidup.”
“Beban bagaimana? Justru suara saya, hati saya, merupakan campur aduk dari beban hidup, akumulai dari pengalaman di bumi yang selalu bergolak ini.”
“Maksud saya, lepas dari berbagai tekanan.”
“Oh, saya kan  bukan burung di dalam sangkar.”
Saya memandang ke jauhnya. Lepas dari segala tekanan, apa bukan sesuatu yang berlebihan? Telah begitu lama rupanya hidup saya tidak mengalami hidup seperti itu. Hidup saya banyak terisi dengan kepentingan-kepentingan aneh yang kemudian dianggap biasa. Kenapa semuanya menjadi begitu terbalik tanpa disadari. Nyanyian burung kutilang yang semestinya hal biasa dalam hidup, menjadi begitu aneh dan asing.
“Begitu aneh dan asing nyanyian kamu,” kata saya.
“Lho, kok aneh? Setiap pagi kan saya bernyanyi?”
“Barangkali karena saya kurang memperhatikan. Barangkali karena seluruh indera saya telah rusak. Berbagai keperluan telah membuat telinga saya tidak mendengar semua suara, cukup yang merdu-merdu saja. Mata saya tidak bisa melihat semuanya, cukup yang indah-indah saja. Hidung saya tidak bisa menghirup semuanya, cukup yang harum-harum saja.”
“Apa bisa hidup ala robot seperti itu?”
Saya berkerut-kening. Apa selama ini pun saya bukan robot?
**
Tempat indah yang jauh ke mana-mana ini sebenarnya saya temukan tidak sengaja. Saya sedang mengadakan penelitian tentang binatang-binatang langka saat tersesat ke sini. Setelah beberapa jam mengikuti arah sungai, saya menemukan gubuk ini. Kecil tapi indah dan bersih. Halamannya luas dan banyak ditumbuhi bunga-bunga. Di depan gubuk ada kolam, juga tidak begitu besar. Ikan-ikannya selalu berenang setiap pagi.
Penghuni gubuk ini, seorang kakek, menyambut saya. Dia menyuguhkan air teh hangat dan harum. Makanannya bakar singkong dan gula aren. Lahap saya menyantap makanan yang telah lama tidak saya temukan itu. Setelah melepaskan lelah, saya mandi di pancuran dan merasa begitu segar.
“Tinggallah di sini sehari dua hari kalau masih lelah,” kata kakek itu. Saya pun tinggal. Malam-malam membuka jendela, menyapa mawar dan sedap malam, menyapa bulan, bercakap-cakap dengan mereka. Paginya melihat ikan-ikan menari sambil merasakan belaian matahari, menunggu burung kutilang bernyanyi. Agak siangnya mengambil segala keperluan sarapan di kebun, tidak begitu jauh dari kolam. Segala sayuran dan buah-buahan ada.
Setelah bertahun-tahun saya tinggal di pusat keramaian, di wilayah penipuan, penindasan, penodongan, di wilayah peperangan abdi: tempat ini seperti surga bagi saya. Saya jatuh cinta kepadanya.
“Bagaimana kalau saya tinggal agak lama di sini, Kek? Saya betah di sini,” kata saya.
Kakek tertawa. “Mau tinggal sampai kapan pun boleh. Kakek ini sudah tua, sebentar lagi mungkin tidak di sini lagi. Kakek tidak punya saudara atau siapapun.”
“Jadi, kalau tempat ini dibeli, Kakek mau melepaskannya?” Pikiran saya untuk membeli tempat ini tiba-tiba saja datang. Terbayang kalau tempat ini menjadi peristirahatan. Begitu indah, tanpa gangguan dari apapun dan siapapun; dari koran, dari televisi, dari orang-orang yang selalu kesusahan, dari para bandit, dari siapa saja.
“Tidak usah dibeli. Kalau mau tinggal, tinggal saja. Kakek kan sudah tua. Sebentar lagi mungkin....”
Kakek itu memang meninggal beberapa hari setelah saya tinggal. Saya menguburkannya di pinggir kolam. Tidak banyak yang saya ketahui tentangnya. Menurut ceritanya, bertahun-tahun dia tinggal di sini. Dulunya dia adalah seorang pengarang yang cukup terkenal. Karangannya tersebar di media massa, buku, dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.
“Tapi Kakek lelah. Bertahun-tahun Kakek menulis karena didesak keadaan. Bertahun-tahun dada ini hampir meledak. Akhirnya Kakek menemukan tempat ini, menyepi, melepaskan segala beban.”
**
Saya pun pernah berpikir untuk tinggal di sini selamanya. Merasakan yang indah-indah, bercakap dengan teman-teman yang saling mencintai, tanpa punya pikiran jelek, tanpa saling menyakiti. Tapi saat angin singgah, mengabarkan peristiwa-peristiwa dari tempat yang jauh, memperlihatkan foto-foto yang katanya tanpa disensor itu, seluruh tubuh ini serasa ditusuk-tusuk. Dada ini bergolak seperti mau pecah.
Malamnya saya tidak bisa tidur. Saya selalu bermimpi buruk. Dalam mimpi itu orang-orang berdatangan dari segala penjuru. Gubuk ini menjadi begitu ramai, begitu ribut, begitu polutif, begitu tanpa keramahan. Mereka adalah orang-orang yang kalah perang.
Mereka berteriak-teriak, memaki-maki saya sebagai orang yang tidak bertanggungjawab. Waktu itu saya tidak melihat teman-teman yang saling mencintai, mawar dan sedap malam, ikan-ikan, burung kutilang. Mungkin mereka telah dibunuh.
Diam-diam saya meloloskan diri, berjalan tanpa tujuan. Bahkan di tempat sesunyi ini pun ketentraman tidak abadi.Baru malam ini saya melihat bulan begitu pucat. ***

Bandung, 21 April 1998 / Rancakalong, 2000


PERJALANAN MENUJU CAHAYA

Cerpen ini pernah dimuat majalan Matra edisi Januari 2001, sayang dokumentasinya hilang....


 Orang itu lewat begitu saja di depan kami. Mulanya kami tak mengacuhkannya. Tapi setelah kelelahan karena terus-terusan bertikai tidak lagi tertuntaskan dengan mengekspresikan seluruh dendam dengan cara apapun, kami melihat orang itu seperti magnet yang mempunyai daya tarik tersendiri.
Kami tidak tahu daya tarik itu dari mana datangnya dan berupa apa. Melihatnya, pelan-pelan kami terdiam, merasakan tarikan nafas dan detak jantung dengan kenikmatan tersendiri seolah-olah itu semua adalah kenikmatan yang tidak pernah kami dapatkan. Mata kami tidak berkedip melihat orang yang berjalan pelan seolah melayang itu dengan perasaan ingin tahu yang besar apa sebenarnya yang menjadikan daya terik orang itu sehingga kami terhipnotis seperti anak kecil yang takjub dengan penemuan barunya.
Entah berapa kali orang itu pernah lewat di depan kami. Kami tidak ingat dan tidak tahu serta tidak berani menerka. Kami hanya tahu kali itulah orang itu lewat dan pesonanya mencuri perhatian kami hingga tidak ada lagi persoalan dalam hidup ini selain dia yang berjalan dengan tenang seperti melayang dan anggun.
Kami tidak tahu apakah pesona orang itu ada dalam cara berjalannya yang tenang atau pada kain putihnya yang menyapu tanah hingga jalan yang dilaluinya begitu bersih dan kainnya yang sepertinya paling lembut dari setiap kelembutan yang pernah kami tahu dan rasakann atau dari cahaya yang diam-diam kami lihat keluar dari tubuhnya dan menerangi jalan yang pernah dilaluinya serta jalan lurus yang akan dilaluinya.
Kami tidak bisa menerjemahkan ketertarikan kami itu kecuali keinginan yang sanggup memusatkan konsentrasi untuk membuat mata terus memperhatikannya dan nafas ditarik pelan sepenuh perasaan seolah membaui harum orang itu. Saat itulah kami yakin bahwa dalam hidup memang banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh logika, karena itulah kami tidak memfungsikan pikiran seperti biasanya saat kami menjalani hari-hari penuh persaingan dan permasalahan yang kompleks.
Saat itu kami seperti mumi yang tanpa gairah, berdiri begitu saja dan berjalan pelan-pelan mengikuti orang itu dengan mata tidak berkedip dan konsentrasi tidak terpecah. Padahal di dalam hati kami ada gairah yang entah untuk apa begitu bergejolak menerjang-nerjang seluruh elemen tubuh kami seperti ombak tidak berhenti membanting-banting perahu dengan hasrat yang kami sendiri tidak tahu dari mana datangnya dan apa namanya.
Kami yang entah berapa jumlahnya ini tiba-tiba saja sudah memenuhi jalan dan memanjang seperti marathon terpanjang yang pernah terjadi di belahan manapun. Kami mengikuti orang itu dengan gairah yang terus meninggi meski detik-detik terus mengalir seperti jarum menusuk-nusuk tubuh kami. Kami memang luka-luka, tapi rasa sakit ini kami rasakan sebagai kenikmatan tiada terperi sehingga seluruh elemen tubuh kami begitu berbahagia.
Kami tidak tahu sudah berapa lama berjalan karena waktu tidak lagi ada dalam catatan hidup kami. Kami hanya tahu bahwa berjalan yang semakin memanjangkan barisan ini adalah hidup kami yang sebenarnya yang kami impikan entah sejak kapan. Kami tidak ingin kehilangan hidup kami, karena kami tidak ingat apa-apa lagi dan memang tidak ingin ingat apa-apa selain berjalan terus-menerus sampai seluruh elemen tubuh ini tidak bisa lagi berjalan.
**
Cahaya yang dipancarkan orang itu semakin memukau kami. Cahaya yang entah keperakan atau keemasan atau apa warnanya itu menyebar ke seluruh penjuru, diterbangkan angin, hinggap di batu-batu dan pohon-pohon dan tembok-tembok dan seluruh benda yang ada di sekeliling kami dan menjadikan benda-benda itu memancarkan cahaya pantulan. Cahaya yang menyebar dibawa angin itu begitu harum dan  membuat kami bernafas pelan sekali seolah seluruh harum yang baru kami rasakan itu ingin masuk seluruhnya ke dalam rongga dada ini dan menyebar ke seluruh tubuh menjadi penggerak tangan dan kaki dan mulut dan seluruh elemen tubuh kami sampai pori-pori halusnya.
Memperhatikan barisan yang mahapanjang ini timbul rasa sayang di hati kami, rasa untuk saling memperhatikan dan menjaga dan memahami bahwa kenikmatan berjalan mengikuti orang berkain putih hanya ada dalam kedamaian. Maka kami pun saling tersenyum dan menerbangkan indahnya dibawa angin berputar-putar di antara kami. Saat kami menyadari bahwa pohon-pohon dan air yang mengalir di sepanjang sungai yang kami lalui dan tanah yang kami pijak mengabarkan keindahan yang sudah lama tidak kami rasakan, kami yakin bahwa bumi ini memang betul diciptakan karena cinta dan untuk cinta.*1
Di antara kami, jutaan pejalan yang terpesona dengan orang yang berkain putih itu, tidak ada yang bicara sepatah pun. Bukan karena kami bisu, tapi diam telah kami rasakan seperti jutaan kata-kata indah yang sanggup menggetarkan hati dan seluruh elemen tubuh ini. Kami menemukan bahwa diam adalah bahasa yang lebih kaya dengan makna, komunikatif, saling dipahami, bernuansa kasih sayang.
Kami pun seperti mendengar nyanyian tanpa suara yang dinyanyikan hati kami, seperti nyanyian yang dinyanyikan burung-burung yang kami temui sepanjang perjalanan. Siapapun yang kami temui menyapa kami dengan nyanyian yang kami rasakan begitu indah. Pepohonan melambai-lambai memanggil-manggil kami untuk mengikuti dunianya yang pelan tapi pasti. Kami pun merasakan pucuk yang berubah menjadi daun tua dan gugur ke tanah menjadi pupuk. Kami tidak terpesona dengan akhir perjalanan atau tujuan keindahan karena perjalananlah akhir dan tujuan sebuah perjalanan.
**
Di mana akhir sebuah perjalanan? Pertanyaan itu pelan-pelan hadir di hati kami saat di sebuah padang kami memperhatikan bulan yang begitu bulat dan besar, melayang-layang seperti memayungi kemanapun kami melangkah. Cahayanya menyebar memasuki apa saja yang kami lihat dan rasakan sehingga udara yang kami hirup bunga yang kami tatap dan jalan yang kami pijak suara yang kami dengar angin yang menyisir kulit tak lepas dari kelembutan cahayanya.
Kami  merasa orang yang berjalan seperti melayang yang dari tubuh dan pakaiannya memancar cahaya yang menjadi pemimpin kami dalam perjalanan tak bertujuan ini pun terpesona dengan kelembutan dan keanggunan bulan yang semakin membesar. Pelan-pelan kami mengerti, bukanlah bulan yang memayungi perjalanan kami tapi kami yang mengikuti perjalanan bulan. Kami naik gunung turun lembah memasuki kota-kota menyusuri desa-desa agar tidak tertinggal oleh bulan yang mencari-cari pagi. Karena kami ikuti ke manapun bulan melayang maka tidak ada siang dalam hidup kami. Setiap bulan menghampiri pagi kami sudah sampai di bawahnya sehingga pagi itupun menjadi malam kembali dan kami mulai lagi perjalanan sepanjang malam.
Berabad-abad kami berjalan dengan pertanyaan sama: di mana akhir sebuah perjalanan? Saat kami bertemu burung-burung yang kemalaman kami melihat mereka terburu-buru menuju sarangnya. Bahkan burung pun punya rumah, punya tempat beristirahat, punya akhir setelah perjalanan seharian tadi. Pertanyaan itu semakin lama semakin memenuhi pikiran kami sehingga kemudian kami merasa bahwa tangan pun kaki pun mata pun dan seluruh elemen tubuh kami ikut bertanya-tanya.
Awalnya kami saling memandang, saling bertanya lewat tatapan mata. Lama-lama kami berkomunikasi dengan seluruh gerak perjalanan kami sehingga perjalanan ini terganggu. Sambil menikmati bulan yang semakin cemerlang di langit tanpa bintang, kami berkesimpulan bahwa bulanlah tujuan perjalanan kami. Untuk meyakinkannya kami ramai-ramai bertanya lewat bahasa kami yang tanpa kata-kata dan suara ini kepada orang yang berjalan seperti melayang yang kain putihnya berkibar-kibar memancarkan cahaya ke sekelilingnya yang menarik kami mengikuti perjalan ini.
Orang yang berjalan seperti melayang itu seperti yang mengerti apa yang kami pertanyakan dan apa yang kami maui. Tapi dia tetap tidak perduli. Dia terus berjalan, seperti angin, entah ke mana. Saat keinginan kami untuk menuju bulan semakin berdebur-debur seperti ombak, orang yang berjalan seperti melayang itu memenuhi keinginan kami. Dia melayang meniti cahaya yang entah dipancarkan bulan atau tubuh atau kainnya yang berkibar-kibar. Kami pun ikut terbang, seperti jutaan kupu-kupu, dengan gairah yang lain, gairah yang baru kami rasakan kembali. Mata kami tidak lepas dari bulan yang tersenyum dan melambai dan memanggil-manggil kami dengan cahaya yang begitu indah. Barangkali bulan memang tempat berkumpulnya segala keindahan.
Semakin lama kami semakin jauh dari bumi. Kami hampir memasuki angkasa yang keluasannya tidak terkirakan karena baru kali itulah kami melihat dan merasakannya. Jutaan bintang dan benda-benda lainnya melayang-layang, seperti juga kami, entah menuju ke mana. Saat itulah kami merasa telah tersesat. Kami telah terperdaya oleh tujuan yang mempesona seperti bulan. Semestinya kami tidak terpesona dengan akhir perjalanan dan tujuan keindahan karena perjalananlah akhir sebuah perjalanan. Kami menangis dengan kedalaman yang tidak terkira sehingga seluruh elemen tubuh kami ikut menangis dan kami rasakan seluruh benda di angkasa ikut menangis dan teman-teman kami di bumi meratapi.
Awalnya airmata kami menyusuri pipi dan seluruh lekuk tubuh kami, lalu berjatuhan menjadi rintik yang semakin menderas. Dari airmata itulah diam-diam kami menyusun bumi, membuat jalan-jalan dan gedung-gedung dan benda-benda keperluan sehari-hari dan tempat-tempat peristirahatan.
Di angkasa bulan semakin membesar. Tapi kami tidak lagi perduli karena perhatian kami, pikiran kami, mata kami, telinga kami, dan seluruh indera kami tercurah ke bumi, tempat kenangan menandai ketersesatan dan kesedihan kami. ***
      
                                                           Bandung-Rancakalong, 15-2/21-12, 1999

Catatan:
1        =  Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menulis: Dengan cinta dan untuk cintalah langit serta bumi diciptakan. Kalimat itu berkali-kali melintas di pikiran saya saat membaca berbagai kerusuhan atau missunderstanding dan misscomunication di antara para petinggi negara.



PILIHAN

POHON TUMBUH TIDAK TERGESA-GESA

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni