Jejak Kata :
Home » » Bulan di Taman

Bulan di Taman

Written By Dongeng Yus R. Ismail on Kamis, 13 Desember 2012 | 02.06


Sehabis bertengkar dengan istrinya, lelaki itu selalu datang ke taman di pinggir kota. Dia duduk di bangku kayu yang dipayungi kembang kertas. Matanya memandang bunga-bunga yang tumbuh tak beraturan. Sebagian mawar berbunga. Juga aster, melati, kacapiring, anggrek, dan bunga-bunga rumput yang tidak sengaja ditanam.
Bulan yang bercahaya penuh memberikan pesona tersendiri terhadap tanaman-tanaman yang tumbuh di taman itu. Bunga-bunga dan daun-daun yang tampak jelas dan yang jadi siluet, membentuk pemandangan tersendiri. Pemandangan yang membawa lelaki itu kepada masa lalunya, kepada kenangannya.
Di taman itu, lelaki itu memandang segalanya menjadi indah. Bunga-bunga, daun-daun dan bulan serta lampu merkuri di ujung sana adalah panorama yang tiada celanya. Pikirnya, tempat terindah bagi setiap manusia adalah di mana pikiran dan perasaannya tersangkut. Banyak orang yang sengaja pulang ke kampung halamannya, ke tempat mereka dibesarkan, setelah pengembaraannya yang panjang, karena di sana mereka mempunyai masa lalu, mempunyai kenangan, mempunyai keindahan.
Maka lelaki itu selalu datang ke taman di pinggir kota setelah ia bertengkar dengan istrinya. Di taman itu kenangannya memanjang. Tapi bukan masa lalu dengan istrinya yang baru saja menjadi lawan pertengkarannya. Setiap datang ke taman itu, dia selalu teringat kekasih pertamanya. Di taman pinggir kota itu mereka biasanya ngobrol setelah jalan-jalan atau nonton film, atau melihat pameran lukisan atau menyaksikan pertunjukan teater.
“Apa sebenarnya yang selalu dikejar oleh manusia dalam hidupnya?” Kekasihnya pernah bertanya begitu setelah mereka pulang menyaksikan pertunjukan teater di gedung kesenian yang tidak refresentatif itu.
“Keindahan,” jawab lelaki itu. Matanya tidak lepas dari bulan yang bersinar penuh.
“Seperti bulan?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Seperti memandang wajahmu.”
Kekasihnya yang berambut panjang itu, yang sedang memandang bulan, tersipu. Berhari-hari ia menunggu kata-kata seperti itu. Mata mereka beradu dan bercerita tentang bermacam-macam keindahan yang tidak mungkin tertuliskan dalam jilid-jilid novel. Di malam berbulan penuh itu, lelaki itu membacakan puisi yang telah lama dibuatnya.
Sampai larut malam mereka bercakap-cakap. Tentang apa saja. Tak bosan-bosan. Karena, apa pun itu, bila dirasuki dengan perasaan dan pikiran yang indah, akan menjadi indah. Apalagi tentang bunga-bunga yang sejak dulu telah dinyatakan sebagai lambang keindahan. Lelaki itu memetik setangkai mawar dan menyelipkannya di rambut kekasihnya.
Malam penuh keindahan itu sebenarnya hanya titik puncak saja dari perjalanan yang tidak pernah direncanakannya. Lelaki itu mengenal kekasihnya di perpustakaan ketika ia mengembalikan buku trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari.
“Buku ini telah ditunggu berhari-hari,” kata penjaga perpustakaan itu.
Dan sang penunggu ada di sebelah lelaki itu. Seorang gadis berambut panjang, bermata bulat, dan berkulit bersih, tersenyum ketika lelaki itu memandangnya. Mereka berkenalan. Setiap bertemu di perpustakaan yang mereka kunjungi secara teratur, pembicaraan seperti tak akan ada habisnya. Mulai tentang novel-novel yang telah mereka baca, sampai masalah-masalah sastra, juga sosial-politik yang mencuat di media massa, mereka bicarakan.
Sampai malam itu, ketika bulan bercahaya penuh, lelaki itu membacakan puisi yang telah lama dibuatnya di hadapan perempuan berambut panjang dan bermata bulat itu.
“Segalanya mengalir begitu saja, tanpa kita mampu merencanakannya,” kata lelaki itu. “Juga tentang perasaan-perasaanku yang membuat segalanya menjadi indah, asal bersamamu.”
Perempuan berambut panjang dan bermata bulat yang kemudian menjadi kekasih lelaki itu, menunduk malu. Tapi kemudian ia memandang bulan, menatap bunga-bunga, pohon-pohon, merasakan angin yang menyisir kulit wajahnya, menangkap segalanya yang ada di sekelilingnya menjadi indah dan menyenangkan.
Berhari-hari kemudian, pembicaraan mereka mulai mengarah kepada cita-cita, harapan-harapan, keinginan-keinginan.
“Apakah yang akan kita wujudkan dengan menikah juga adalah keindahan?” tanya perempuan berambut panjang itu suatu waktu.
“Ya.”
“Seperti bulan?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Seperti memandang wajahmu. Seperti melihatmu menimang anak kita kelak.”
**
Sebulan kemudian lelaki itu datang sendirian ke taman di pinggir kota itu. Dia duduk di bangku kayu yang dipayungi kembang kertas. Matanya menerawang memandang bunga-bunga, pohon-pohon, bulan, bintang. Pikirannya menerobos menembus ruang dan waktu. Lelaki itu menganggap benda-benda itu adalah teman-temannya, kekasih-kekasihnya, kenangannya yang indah dan menyedihkan.
Lelaki itu mengingat kembali ketika tiga minggu yang lalu teman kuliah kekasihnya datang kepadanya, memberitahukan bahwa kekasihnya yang berambut panjang itu hilang dalam ekspedisi penelitian di suatu gunung di Kalimantan. Koran-koran kemudian menulis, kekasihnya raib ditelah kelebatan rimba Kalimantan. Tim SAR yang melakukan pencarian tidak menemukan petunjuk apa-apa tentang kekasihnya. Apalagi tubuhnya yang masih hidup. Lelaki itu sering membayangkan keajaiban terjadi, kekasihnya ditemukan masih segar bugar. Tapi kejadian seperti itu tidak kunjung tiba.
Seminggu kemudian, di bangku kayu yang dipayungi kembang kertas, di taman pinggir kota, lelaki itu memahami bahwa kekasihnya yang hilang pun adalah keajaiban. Sesuatu yang misterius. Juga kisah cintanya tiba-tiba jadi begitu menakjubkan, begitu ajaib, begitu misterius. Ah cinta, pikirnya, adalah keajaiban yang tidak bisa dimengerti, keindahan yang menyedihkan, kesedihan yang indah.
Lelaki itu menjalani hidupnya seperti air, mengalir begitu saja, apa adanya. Dia tidak mengejar apa-apa yang disangkanya keindahan. Karena ia yakin, keindahan ada di dalam hatinya. Sebagai mahasiswa, ia hanya belajar, belajar sebagai ibadah. Setelah diwisuda, ia bekerja, bekerja sebagai ibadah. Dengan begitu, ia merasa bisa menangkap sesuatu yang indah. Dia yakin, segala sesuatunya akan mengalir begitu saja, tanpa ia mampu merencanakannya.
Juga ketika pertama kalinya ia tersenyum kepada perempuan teman sekerjanya yang kemudian menjadi istrinya, di dalam bus yang membawanya pulang ke tempat kost, ia tidak berpikir macam-macam. Percakapan mereka adalah percakapan biasa. Percakapan basa-basi sebagai orang yang baru dikenalkan oleh keadaan. Juga ketika hari-hari berikutnya mereka selalu pulang bersama dalam bus yang sama, lelaki itu tidak mempunyai pretensi apa-apa. Dia mencoba mempertahankan hidupnya yang seperti air, mengalir begitu saja.
Ketika perasaannya  menjadi lain saat ia pulang bersama perempuan itu, atau mengantar perempuan itu belanja, nonton film, ke salon, lelaki itu mencoba untuk mengalir, untuk jujur. Karena hanya dengan begitu, sesuatu yang indah dapat terasakan.
“Mungkin benar kata orang tua bahwa kasih sayang bisa tumbuh karena sering bertemu,” kata lelaki itu, di bangku yang dipayungi kembang kertas di taman pinggir kota, suatu malam. “Aku pun merasakan hal yang sama terhadapmu. Aku ingin mencintaimu dengan lembut.”
Perempuan yang sudah lama menunggu kata-kata seperti itu, menunduk malu. Tapi kemudian ia memandang bulan, menatap bunga-bunga, pohon-pohon, merasakan angin yang menyisir wajahnya. Mata mereka beradu dan saling tersenyum. Ah, tiba-tiba segalanya begitu indah, begitu menakjubkan, begitu misterius.
Dua bulan kemudian mereka menikah. Mereka mengontrak sebuah rumah. Menjalani kehidupan yang mereka inginkan, cita-citakan, mewujudkan harapa-harapan.
Lelaki itu mengecup kening istrinya suatu malam, memandangnya ketika tidur, menatapnya ketika istrinya menimang anak mereka. Sesekali mereka pun tidak bisa menghindari pertengkaran. “Itukah keindahan?” tanya lelaki itu kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba lelaki itu teringat kekasihnya yang pertama yang berambut panjang yang pernah bertanya, “Apa yang dikejar manusia dalam hidupnya?” Dan lelaki itu menjawab dengan pasti dan yakin, “Keindahan!” Lalu, keindahan itu seperti apa?
**
Sehabis bertengkar dengan istrinya, lelaki itu selalu datang ke taman di pinggir kota. Dia duduk di bangku kayu yang dipayungi kembang kertas. Matanya memandang bunga-bunga yang tumbuh tak beraturan. Sebagian mawar berbunga. Juga aster, melati, kacapiring, anggrek, dan bunga-bunga rumput yang tidak sengaja ditanam. Bulan bersinar penuh.
Pemandangan yang sebenarnya tidak begitu berubah sejak beberapa tahun yang lalu ketika lelaki itu pertama kali datang, tidak memberikan pesona tersendiri di hatinya. Keindahan yang dulu ditemukannya pada bulan, bunga-bunga, pohon-pohon, dan angin yang menyisir wajahnya, seperti lenyap. Hatinya tidak lagi memberikan tempat bagi perasaan seperti itu. Hatinya terlalu dipenuhi oleh berbagai persoalan yang memicu pertengkaran dengan istrinya.
“Mungkin benar bahwa keindahan itu seperti bulan,” gumam lelaki itu. “Bulan yang tidak terjangkau, hanya cita-cita, keinginan-keinginan, harapan-harapan. Ya, apalagi yang lebih indah selain harapan? Karena, harapan yang telah terwujud, ternyata tidak lagi indah.”
Lelaki itu ingat bagaimana ia dan istrinya dulu menangkap keinginan-keinginan, cita-cita, harapan-harapan, di taman ini di bangku kayu yang dipayungi kembang kertas. Bagaimana ia memandang segalanya begitu indah. Tapi setelah mereka menikah, bercinta, mempunyai anak, kenapa pertengkaran yang didapatinya?
**
Lelaki itu selalu membawa jalan-jalan anak gadisnya ke taman di pinggir kota dan duduk-duduk di bangku kayu yang dipayungi kembang kertas. Dia sering menceritakan kebaikan dan kecantikan istrinya yang telah melahirkan anak gadis itu, yang telah meninggal lima tahun lalu. Dan anak gadisnya sering juga menceritakan sekolahnya, teman-temannya, pacarnya yang ia temukan di plaza.
“Kenapa mesti selalu ke taman ini kita jalan-jalan, Pak?” tanya anak gadisnya suatu kali.
“Karena di taman ini Bapak selalu melihat ibumu yang selalu tersenyum dan cantik.”
“Di mana?”
“Lihatlah bunga-bunga, pohon-pohon, bulan, atau rasakan angin yang menyisir wajah, di situ ada ibumu.”
Anak gadisnya hanya mengangkat bahu. Dia tidak mengerti. Lelaki itu sadar, hanya ia  yang bisa mengerti semua ini. Dia paham, segala sesuatunya akan menjadi indah dan bermakna bila masih berupa harapan yang belum terjangkau dan bila telah menjadi kenangan (telah tiada). Keindahan dan makna itu hanya bisa terbaca lewat tempat atau benda-benda yang telah menyangkutkan pikiran dan perasaan. Bagi lelaki itu, tempat terindah adalah taman di pinggir kota itu.
“Kenapa mesti selalu ke taman ini kita jalan-jalan, Pak?” tanya anak gadisnya.
Lelaki itu memandang bulan tidak berkedip.
“Kenapa tidak ke plaza saja, Pak. Di sana lebih ramai, lebih indah, lebih mempesona, lebih menakjubkan. Lagipula, semua yang ada di sana mengingatkan aku akan pertemuan pertama dengan kekasihku.”
Lelaki itu menatap bunga-bunga sambil tersenyum.
***

                                               






Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Dongeng YusR.Ismail. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by Jendela Seni